Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Studi Perbandingan Hukum Menjamak dan Mengqashar Salat Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanafi Pada Era Modernitas Azhar, Fanny; Azhar, Sasqia; Ummah, Irdafadhilatul; Al Fatih, Muhammad; Siyono
Journal of Islamic Education and Law Vol. 1 No. 4 (2025): Journal of Islamic Education and Law
Publisher : Yayasan Nanggroe Aceh Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66155/5z2sza91

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta membandingkan ketentuan hukum menjamak dan mengqashar salat menurut Mazhab Syafi‘i dan Hanafi, serta melihat relevansinya pada konteks perjalanan dan mobilitas modern. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitik terhadap sumber-sumber fikih klasik maupun kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mazhab sepakat bahwa jama’ dan qashar merupakan rukhsah yang diberikan syariat guna meringankan musafir dalam menjalankan salat. Namun, terdapat perbedaan dalam implementasinya, seperti batas minimal jarak safar, ketentuan niat, kebolehan menjamak salat, serta batas waktu maksimal bermukim. Dalam konteks modernitas, mobilitas yang semakin tinggi akibat perkembangan teknologi transportasi menjadikan rukhsah jama’ dan qashar sangat relevan untuk menjaga pelaksanaan ibadah tanpa menimbulkan kesulitan berlebihan. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemahaman komprehensif terhadap perbedaan pendapat mazhab agar umat Islam dapat menerapkan rukhsah sesuai kondisi perjalanan yang dihadapi pada era modern.
PERBANDINGAN PANDANGAN MAZHAB TERHADAP PERAN PEREMPUAN DALAM KEPEMIMPINAN PUBLIK: KAJIAN FIKIH DAN PERSPEKTIF GENDER Yuli Setyawati; Laela Nur Cahyani; Naila Kayyisah Jannati; Wahyu Arif Dwi Setiawan; Siyono
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tiga hal utama yaitu perbedaan dan kesamaan pendapat para mazhab Islam tentang peran perempuan dalam menjadi pemimpin ruang publik, peran perspektif gender dalam membantu memahami situasi dengan lebih adil dan sesuai dengan konteks, serta bagaimana hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai acuan dalam membuat kebijakan dan praktik kepemimpinan yang mencakup semua lapisan masyarakat Muslim. Tujuan dari penelitian ini adalah memperluas pemahaman tentang hukum Islam terkait kepemimpinan perempuan dengan menggabungkan analisis dari mazhab klasik dan pendekatan gender, sehingga menghasilkan penjelasan hukum yang lebih luas dan mampu merespons perubahan sosial. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan menganalisis buku-buku fikih yang terpercaya serta artikel ilmiah modern yang relevan, baik dari bidang fikih maupun studi gender. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para mazhab, sebagian membatasi kepemimpinan perempuan berdasarkan pendekatan tekstual, sedangkan yang lain lebih terbuka dengan menempatkan maqasid syariah, kemaslahatan, dan keadilan sosial sebagai acuan utama. Memasukkan perspektif gender juga memperkuat argumen tentang kesetaraan dengan mengevaluasi kepemimpinan berdasarkan kemampuan, etika, dan profesionalisme. Kesimpulannya, penelitian ini mendorong reinterpretasi fikih yang lebih adaptif serta dapat menjadi dasar akademik bagi pengembangan kebijakan dan praktik kepemimpinan perempuan yang inklusif di komunitas Muslim.
METODOLOGI IJTIHAD DALAM EMPAT MAZHAB DAN RELEVENSINYA TERHADAP HUKUM ISLAM KONTEMPORER Winda Innayah, Lailatul; Rahmawati, Titin; Khairunnisa, Alfira; Farah Nazila, Shabrina; Siyono
Jurnal Al-Wasith : Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Al-Wasith: Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52802/wst.v10i2.1857

Abstract

Ijtihad is the main epistemological instrument in the development of Islamic law and functions as a mechanism for responding to new legal issues that are not explicitly regulated in primary textual sources. Historically, ijtihad has produced diverse legal methodologies through the four major Sunni schools of law: Hanafi, Maliki, Syafi‘i, and Hanbali, each of which developed distinctive approaches to legal derivation (istinbāṭ) influenced by their respective social and intellectual contexts. Previous studies emphasize the importance of collective ijtihad and the integration of maqasid syari‘ah in contemporary legal reasoning. This study aims to describe the methodologies of ijtihad within the four mazhab, analyze their similarities and differences, and examine their relevance in addressing contemporary Islamic legal issues. This research employs a qualitative approach based on library research, utilizing classical Islamic legal literature and contemporary academic journals.
Relevansi Pendekatan Mazhab dalam Hukum Islam Kontemporer: Tinjauan Literatur Hilma Aisya; Wildan Fikri Ansyah; Novilda Fitriningrum; Ummi Habibah; Siyono
ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora Vol. 4 No. 1 (2026): ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59246/aladalah.v4i1.1745

Abstract

This article examines the relevance of the madhhab approach in shaping contemporary Islamic law through a comprehensive literature review. Rapid developments in modern social, economic, and technological contexts require more adaptive legal methodologies, while the classical madhhabs remain essential for providing structured usul al-fiqh principles and methodological foundations. This study aims to evaluate the extent to which madhhabs still function as a methodological basis, how they interact with modern forms of ijtihad, and how contemporary scholars integrate classical heritage with present-day demands. Using a descriptive–thematic literature review method, data were collected from accredited journals, scholarly books, and contemporary fatwas. The findings indicate that the madhhab tradition remains relevant when interpreted dynamically and aligned with the objectives of Islamic law (maqāṣid al-sharī‘ah). Madhhabs continue to serve as analytical frameworks that can be combined with modern ijtihad, collective reasoning, and interdisciplinary approaches to address emerging issues such as digital finance, bioethics, and technological advancements. However, the study also identifies inherent historical limitations within the madhhab system, which necessitate methodological renewal to maintain practical relevance in contemporary legal challenges. Overall, the article highlights the importance of harmonizing classical tradition with contextual approaches as a foundation for developing modern Islamic legal epistemology.
Perbandingan Mazhab Tentang Bacaan Basmalah Dalam Shalat Dan Relevansinya Bagi Praktik Ibadah Di Indonesia Setyowati, Novita Dwi; Bachtiar, M. Azzam; Afidah, Tazkiyatul; Siyono
Journal of Islamic Education and Law Vol. 1 No. 4 (2025): Journal of Islamic Education and Law
Publisher : Yayasan Nanggroe Aceh Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66155/wjacp306

Abstract

Penelitian ini mengkaji perbedaan pandangan empat mazhab fiqh yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali mengenai status dan cara pembacaan basmalah dalam shalat, yang hingga kini masih menjadi bagian dari diskursus klasik dalam praktik ibadah umat Islam. Persoalan ini memiliki implikasi teologis dan yuridis karena berkaitan dengan pemahaman terhadap struktur Surah Al-Fatihah, keabsahan bacaan shalat, serta perbedaan metode istinbāṭ hukum di antara mazhab. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan landasan dalil, pendekatan metodologis, dan faktor historis yang melatarbelakangi perbedaan pendapat tersebut, serta menelaah relevansinya dalam praktik keagamaan di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan menelaah sumber-sumber fiqh klasik, kitab syarah, dan literatur kontemporer. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif untuk memetakan argumentasi dan titik temu antarmazhab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pandangan tentang basmalah berakar pada variasi qirā’āt, perbedaan riwayat hadis, dan penafsiran terhadap mushaf Utsmani. Mazhab Syafi’i memandang basmalah sebagai bagian dari Surah Al-Fatihah sehingga wajib dibaca dalam shalat, sedangkan mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali tidak memasukkannya sebagai ayat surah, meskipun mengakui basmalah sebagai ayat pemisah antar-surat. Perbedaan ini bersifat ijtihadiyyah dan tidak menafikan keabsahan praktik masing-masing mazhab. Dalam konteks Indonesia, keragaman praktik tersebut berjalan secara harmonis dan mencerminkan moderasi beragama.
Hukum Zakat Fitrah Menggunakan Uang Dalam Perspektif Empat Mazhab : Analisis Literatur Dan Perbedaan Pendapat Abdun Nafiq; Given Diah Arifika; Oktaviana Indriastuti; Muhammad Rifanuddin; Siyono
Journal of Islamic Education and Law Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Islamic Education and Law
Publisher : Yayasan Nanggroe Aceh Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66155/4sd82244

Abstract

Penelitian ini menyoroti tiga aspek utama, yaitu bagaimana empat mazhab memandang keabsahan pembayaran zakat al-fitr dalam bentuk uang, siapa saja penerima zakat menurut masing-masing mazhab, dan dampak perbedaan pendapat ini terhadap praktik zakat al-fitr di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dasar hukum, argumen, dan relevansi pendapat keempat mazhab fiqih dalam konteks masyarakat dan kebutuhan masyarakat saat ini. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber tertulis, seperti kitab-kitab fiqih klasik, jurnal akademik, fatwa-fatwa otoritatif, dan literatur ilmiah terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mazhab Hanafi memperbolehkan pembayaran zakat al-fitr dalam bentuk uang tunai, sementara mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali masih mewajibkan pembayaran dalam bentuk bahan pokok. Perbedaan ini mempengaruhi praktik modern, di mana pembayaran dalam bentuk uang tunai dianggap lebih praktis dan bermanfaat bagi mustahik, meskipun beberapa ulama masih menganggap distribusi makanan memiliki nilai sosial dan simbolis yang penting.
Perbandingan Pandangan Mazhab Syafi‘i dan Mazhab Hanafi Tentang Zakat Profesi dalam Konteks Modern Nisrina; Muanisa Azizah; Yulia Nur Fadillah; Afifatun Nisa'i Rohmaniyah; Siyono
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3171

Abstract

Penelitian ini mengkaji pandangan komparatif antara mazhab Syafi'i dan Hanafi terkait zakat profesional dalam konteks perkembangan ekonomi modern. Masalah ini muncul seiring dengan semakin beragamnya sumber penghasilan masyarakat, yang tidak lagi terbatas pada kepemilikan harta tradisional, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai status hukum zakat atas gaji, honorarium, dan penghasilan profesional lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dasar metodologis kedua mazhab dalam menentukan hukum zakat profesional dan menganalisis relevansinya dengan praktik zakat kontemporer, khususnya di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian perpustakaan dengan mengumpulkan dan menganalisis literatur fiqh klasik, karya akademik kontemporer, artikel jurnal, dan dokumen resmi lembaga terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mazhab Hanafi cenderung mewajibkan zakat atas penghasilan profesional dengan menganalogikannya kepada zakat harta (mal) selama memenuhi syarat nisab dan haul. Sementara itu, mazhab Syafi'i membatasi kewajiban zakat pada harta yang secara eksplisit disebutkan dalam teks, sehingga zakat profesional tidak diwajibkan kecuali dikategorikan sebagai tijarah (perdagangan). Studi ini menyimpulkan bahwa perbedaan antara kedua mazhab tersebut berasal dari metode istinbat dalam memahami konsep al-amwāl dan penggunaan qiyas. Temuan ini memperkuat dasar fiqh untuk penerapan zakat profesi di era modern.
TRADISI KEISLAMAN DALAM BINGKAI MAZHAB: STUDI KOMPARATIF MAROKO DAN INDONESIA BERDASARKAN KONTEN AKUN INSTAGRAM @AQSHOHAZIQ Azrel Pamula, Alma; Ayu Saputri, Isna; Mutsirotunnafisah; Ulfa, Lailatul; Siyono
Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 9 No. 2 (2025): Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52802/hjh.v9i2.1874

Abstract

This study examines how Islamic traditions in Morocco and Indonesia are represented through the Instagram account @aqshohaziq, and how these representations illustrate the interplay between madhhab, culture, and religious practices. Employing a qualitative descriptive-comparative approach, this research integrates digital ethnography and thematic content analysis to interpret photos, videos, captions, and user interactions related to religious rituals, Qur’anic literacy, and socio-religious structures. The findings indicate that Morocco embodies a highly institutionalized model of religiosity rooted in the Maliki madhhab, Sufi heritage, and state-centered authority, resulting in disciplined and uniform religious expressions. In contrast, Indonesia presents a more community-driven and culturally diverse religious landscape, shaped by the Syafi‘i madhhab and embedded local traditions. The study concludes that social media functions not merely as a documentation platform but also as a dynamic space where Islamic identities are negotiated and represented to a global audience. These insights enrich digital Islamic studies and comparative madhhab research by demonstrating how religious practices adapt, converge, and diverge across different cultural settings.
Religious Moderation in the Dynamics of Mazhaab Differences: A Literature Study in Islamic Education Ulfa Dwi Lestari; Khawa Isthoifiatal Mufidah; Dievan Alfiralza Supriyanto; Khairul Anam; Siyono
Aslama: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 4 (2025)
Publisher : Konsultan Jurnal Ilmiah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63738/aslama.v2i4.40

Abstract

The phenomenon of mazhaab differences among Muslims still faces various problems, such as discrimination and responses to diversity in the form of exclusive behavior among some Muslims. Research by the Setara Institute in 2023 shows that the level of intolerance among students is still high: 0.6% are exposed to violent extremist ideology, 5.0% are actively intolerant, and 24.2% are passively intolerant. This study discusses how religious moderation can be used as a framework and pedagogical approach to address sectarian differences in Islamic education. This study uses a literature review with a descriptive qualitative approach. Data analysis was conducted using an inductive approach, which draws conclusions based on an examination of various literature without using numbers or statistics, as is characteristic of qualitative research that emphasizes meaning and context. The results of the study show that religious moderation in Islamic education is an approach that emphasizes balance, tolerance, and social harmony amid diversity. Islamic education that adopts a multi-sectarian perspective and instills values of moderation can contribute to preventing radicalism, reducing excessive fanaticism, and strengthening social cohesion in the school environment. Religious Moderation, Mazhaab, Islamic Education.
STUDI KOMPARATIF METODE ISTINBATH MAZHAB SYAFI'I DAN HANAFI DALAM MASALAH MUAMALAH KONTEMPORER Lutfi Chakim; Naila Humnati Rosyidah; Syahidah Asma Amanina; Hariirotus Sa’diyyah; Siyono
Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Vol 7 No 2 (2026): Januari
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/iqtishaduna.v7i2.63307

Abstract

Abstrak Perkembangan muamalah kontemporer memunculkan bentuk transaksi baru yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam metodologi fikih klasik, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana metode istinbath Mazhab Syafi’i dan Hanafi dapat digunakan untuk menjawab problem ekonomi modern. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan metode istinbath kedua mazhab serta menilai relevansinya dalam isu kontemporer seperti transaksi digital, akad daring, dan aset digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan melalui analisis komparatif terhadap literatur ushul fikih klasik dan kajian kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mazhab sama-sama berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan qiyas, dengan Mazhab Syafi’i yang lebih tekstual dan ketat, sementara Mazhab Hanafi lebih rasional dan fleksibel melalui penerapan istihsan dan ‘urf. Perbedaan ini menghasilkan variasi penetapan hukum pada kasus digital seperti e-wallet, jual beli online, dan cryptocurrency. Penelitian ini menyarankan integrasi antara kehati-hatian metodologis Syafi’i dan fleksibilitas Hanafi sebagai dasar perumusan hukum muamalah modern yang adaptif serta sesuai prinsip syariah. Kata Kunci: Istinbath hukum, Mazhab Syafi’i, Mazhab Hanafi, Muamalah Kontemporer, Transaksi digital   Abstract Contemporary muamalah developments have given rise to new forms of transactions that are not fully accommodated in classical fiqh methodology, raising questions about how the istinbath methods of the Shafi'i and Hanafi schools of thought can be used to address modern economic problems. This study aims to identify the differences and similarities between the istinbath methods of the two schools of thought and assess their relevance to contemporary issues such as digital transactions, online contracts, and digital assets. The study uses a qualitative approach based on a literature review through a comparative analysis of classical usul fiqh literature and contemporary studies. The results show that both schools adhere to the Qur'an, Sunnah, ijma', and qiyas, with the Shafi'i school being more textual and strict, while the Hanafi school is more rational and flexible through the application of istihsan and 'urf. These differences result in variations in the determination of laws in digital cases such as e-wallets, online buying and selling, and cryptocurrency. This research suggests integrating the methodological caution of the Shafi'i school with the flexibility of the Hanafi school as the basis for formulating adaptive modern muamalah laws that are consistent with Shariah principles. Keywords: Legal istinbath, Mazhab Syafi’i, Mazhab Hanafi, Contemporary muamalah, Digital transactions