Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PERBANDINGAN PANDANGAN MAZHAB TERHADAP PERAN PEREMPUAN DALAM KEPEMIMPINAN PUBLIK: KAJIAN FIKIH DAN PERSPEKTIF GENDER Yuli Setyawati; Laela Nur Cahyani; Naila Kayyisah Jannati; Wahyu Arif Dwi Setiawan; Siyono
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tiga hal utama yaitu perbedaan dan kesamaan pendapat para mazhab Islam tentang peran perempuan dalam menjadi pemimpin ruang publik, peran perspektif gender dalam membantu memahami situasi dengan lebih adil dan sesuai dengan konteks, serta bagaimana hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai acuan dalam membuat kebijakan dan praktik kepemimpinan yang mencakup semua lapisan masyarakat Muslim. Tujuan dari penelitian ini adalah memperluas pemahaman tentang hukum Islam terkait kepemimpinan perempuan dengan menggabungkan analisis dari mazhab klasik dan pendekatan gender, sehingga menghasilkan penjelasan hukum yang lebih luas dan mampu merespons perubahan sosial. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research), yaitu dengan menganalisis buku-buku fikih yang terpercaya serta artikel ilmiah modern yang relevan, baik dari bidang fikih maupun studi gender. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para mazhab, sebagian membatasi kepemimpinan perempuan berdasarkan pendekatan tekstual, sedangkan yang lain lebih terbuka dengan menempatkan maqasid syariah, kemaslahatan, dan keadilan sosial sebagai acuan utama. Memasukkan perspektif gender juga memperkuat argumen tentang kesetaraan dengan mengevaluasi kepemimpinan berdasarkan kemampuan, etika, dan profesionalisme. Kesimpulannya, penelitian ini mendorong reinterpretasi fikih yang lebih adaptif serta dapat menjadi dasar akademik bagi pengembangan kebijakan dan praktik kepemimpinan perempuan yang inklusif di komunitas Muslim.
METODOLOGI IJTIHAD DALAM EMPAT MAZHAB DAN RELEVENSINYA TERHADAP HUKUM ISLAM KONTEMPORER Winda Innayah, Lailatul; Rahmawati, Titin; Khairunnisa, Alfira; Farah Nazila, Shabrina; Siyono
Jurnal Al-Wasith : Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Al-Wasith: Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52802/wst.v10i2.1857

Abstract

Ijtihad is the main epistemological instrument in the development of Islamic law and functions as a mechanism for responding to new legal issues that are not explicitly regulated in primary textual sources. Historically, ijtihad has produced diverse legal methodologies through the four major Sunni schools of law: Hanafi, Maliki, Syafi‘i, and Hanbali, each of which developed distinctive approaches to legal derivation (istinbāṭ) influenced by their respective social and intellectual contexts. Previous studies emphasize the importance of collective ijtihad and the integration of maqasid syari‘ah in contemporary legal reasoning. This study aims to describe the methodologies of ijtihad within the four mazhab, analyze their similarities and differences, and examine their relevance in addressing contemporary Islamic legal issues. This research employs a qualitative approach based on library research, utilizing classical Islamic legal literature and contemporary academic journals.
Perbandingan Pandangan Mazhab Syafi‘i dan Mazhab Hanafi Tentang Zakat Profesi dalam Konteks Modern Nisrina; Muanisa Azizah; Yulia Nur Fadillah; Afifatun Nisa'i Rohmaniyah; Siyono
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3171

Abstract

Penelitian ini mengkaji pandangan komparatif antara mazhab Syafi'i dan Hanafi terkait zakat profesional dalam konteks perkembangan ekonomi modern. Masalah ini muncul seiring dengan semakin beragamnya sumber penghasilan masyarakat, yang tidak lagi terbatas pada kepemilikan harta tradisional, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai status hukum zakat atas gaji, honorarium, dan penghasilan profesional lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dasar metodologis kedua mazhab dalam menentukan hukum zakat profesional dan menganalisis relevansinya dengan praktik zakat kontemporer, khususnya di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian perpustakaan dengan mengumpulkan dan menganalisis literatur fiqh klasik, karya akademik kontemporer, artikel jurnal, dan dokumen resmi lembaga terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mazhab Hanafi cenderung mewajibkan zakat atas penghasilan profesional dengan menganalogikannya kepada zakat harta (mal) selama memenuhi syarat nisab dan haul. Sementara itu, mazhab Syafi'i membatasi kewajiban zakat pada harta yang secara eksplisit disebutkan dalam teks, sehingga zakat profesional tidak diwajibkan kecuali dikategorikan sebagai tijarah (perdagangan). Studi ini menyimpulkan bahwa perbedaan antara kedua mazhab tersebut berasal dari metode istinbat dalam memahami konsep al-amwāl dan penggunaan qiyas. Temuan ini memperkuat dasar fiqh untuk penerapan zakat profesi di era modern.
TRADISI KEISLAMAN DALAM BINGKAI MAZHAB: STUDI KOMPARATIF MAROKO DAN INDONESIA BERDASARKAN KONTEN AKUN INSTAGRAM @AQSHOHAZIQ Azrel Pamula, Alma; Ayu Saputri, Isna; Mutsirotunnafisah; Ulfa, Lailatul; Siyono
Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 9 No. 2 (2025): Hujjah: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52802/hjh.v9i2.1874

Abstract

This study examines how Islamic traditions in Morocco and Indonesia are represented through the Instagram account @aqshohaziq, and how these representations illustrate the interplay between madhhab, culture, and religious practices. Employing a qualitative descriptive-comparative approach, this research integrates digital ethnography and thematic content analysis to interpret photos, videos, captions, and user interactions related to religious rituals, Qur’anic literacy, and socio-religious structures. The findings indicate that Morocco embodies a highly institutionalized model of religiosity rooted in the Maliki madhhab, Sufi heritage, and state-centered authority, resulting in disciplined and uniform religious expressions. In contrast, Indonesia presents a more community-driven and culturally diverse religious landscape, shaped by the Syafi‘i madhhab and embedded local traditions. The study concludes that social media functions not merely as a documentation platform but also as a dynamic space where Islamic identities are negotiated and represented to a global audience. These insights enrich digital Islamic studies and comparative madhhab research by demonstrating how religious practices adapt, converge, and diverge across different cultural settings.
STUDI KOMPARATIF METODE ISTINBATH MAZHAB SYAFI'I DAN HANAFI DALAM MASALAH MUAMALAH KONTEMPORER Lutfi Chakim; Naila Humnati Rosyidah; Syahidah Asma Amanina; Hariirotus Sa’diyyah; Siyono
Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Vol 7 No 2 (2026): Januari
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/iqtishaduna.v7i2.63307

Abstract

Abstrak Perkembangan muamalah kontemporer memunculkan bentuk transaksi baru yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam metodologi fikih klasik, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana metode istinbath Mazhab Syafi’i dan Hanafi dapat digunakan untuk menjawab problem ekonomi modern. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan metode istinbath kedua mazhab serta menilai relevansinya dalam isu kontemporer seperti transaksi digital, akad daring, dan aset digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan melalui analisis komparatif terhadap literatur ushul fikih klasik dan kajian kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mazhab sama-sama berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan qiyas, dengan Mazhab Syafi’i yang lebih tekstual dan ketat, sementara Mazhab Hanafi lebih rasional dan fleksibel melalui penerapan istihsan dan ‘urf. Perbedaan ini menghasilkan variasi penetapan hukum pada kasus digital seperti e-wallet, jual beli online, dan cryptocurrency. Penelitian ini menyarankan integrasi antara kehati-hatian metodologis Syafi’i dan fleksibilitas Hanafi sebagai dasar perumusan hukum muamalah modern yang adaptif serta sesuai prinsip syariah. Kata Kunci: Istinbath hukum, Mazhab Syafi’i, Mazhab Hanafi, Muamalah Kontemporer, Transaksi digital   Abstract Contemporary muamalah developments have given rise to new forms of transactions that are not fully accommodated in classical fiqh methodology, raising questions about how the istinbath methods of the Shafi'i and Hanafi schools of thought can be used to address modern economic problems. This study aims to identify the differences and similarities between the istinbath methods of the two schools of thought and assess their relevance to contemporary issues such as digital transactions, online contracts, and digital assets. The study uses a qualitative approach based on a literature review through a comparative analysis of classical usul fiqh literature and contemporary studies. The results show that both schools adhere to the Qur'an, Sunnah, ijma', and qiyas, with the Shafi'i school being more textual and strict, while the Hanafi school is more rational and flexible through the application of istihsan and 'urf. These differences result in variations in the determination of laws in digital cases such as e-wallets, online buying and selling, and cryptocurrency. This research suggests integrating the methodological caution of the Shafi'i school with the flexibility of the Hanafi school as the basis for formulating adaptive modern muamalah laws that are consistent with Shariah principles. Keywords: Legal istinbath, Mazhab Syafi’i, Mazhab Hanafi, Contemporary muamalah, Digital transactions  
STUDI KOMPARATIF: KONSEP ETIKA KEGURUAN DALAM MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK PERSPEKTIF MADZHAB SYAFI’I DAN MALIKI Soviyati; Muhammad Rizky; Mukhozzaroh Asy-syifa; Ferdian Aji Ifany; Siyono
Ilma Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal ILMA
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58569/ryh4qw08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan membandingkan konsep etika keguruan dalam perspektif Madzhab Syafi'i dan Madzhab Maliki serta relevansinya dalam membangun karakter peserta didik pada konteks pendidikan Islam masa kini. Latar belakang penelitian ini berangkat dari pentingnya guru sebagai teladan moral dan agen pembentukan karakter, terutama di tengah tantangan era digital yang membawa perubahan perilaku peserta didik. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi komparatif, melalui analisis teks keilmuan kedua madzhab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua madzhab tersebut memiliki dasar prinsip yang sama dalam menempatkan etika guru sebagai landasan pendidikan, namun memiliki penekanan yang berbeda. Madzhab Syafi'i menitikberatkan pada kehati-hatian dalam menuntut dan mengajarkan ilmu, keteladanan akhlak, serta hubungan guru-murid yang berlandaskan penghormatan terhadap ilmu. Sementara itu, Madzhab Maliki memberikan penekanan pada perilaku nyata dan konsistensi moral guru dalam praktik keseharian sebagai dasar keteladanan, dengan orientasi pada pembiasaan perilaku baik dalam proses pendidikan. Perbandingan keduanya menunjukkan bahwa integrasi prinsip moral, keteladanan, disiplin adab, dan konsistensi perilaku dapat menjadi model etika keguruan yang relevan untuk membangun karakter peserta didik secara komprehensif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai etika keguruan yang bersumber dari kedua madzhab dapat dijadikan referensi dalam merumuskan pedoman pembelajaran yang tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga pembentukan akhlak dan karakter peserta didik yang berkesinambungan. Kata Kunci: etika keguruan, karakter peserta didik, studi komparatif.  
Etika Bermedia Sosial dalam Perspektif Mazhab Fikih: Studi Komparatif Antara Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali Maritza Verda Tsary; Ramadhan Bayu Giriansyah; Eka Putri Febryani; Friend Jaya Sahaja; Siyono
Scientific Journal for Nation Building Vol. 2 No. 1 (2026): Scientific Journal for Nation Building
Publisher : Yayasan Nanggroe Aceh Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66155/m2anwg16

Abstract

The rapid development of digital media has significantly transformed patterns of communication, enabling instantaneous interaction without spatial or temporal limitations. However, this transformation has also generated ethical challenges, including the spread of misinformation, cyberbullying, hate speech, and violations of personal privacy, which increasingly undermine social harmony and moral responsibility. This article aims to analyze Islamic media ethics through the perspectives of the Shafi‘i and Hanbali schools of jurisprudence, focusing on communication, publication, and privacy in the digital sphere. Employing a qualitative normative approach, this study utilizes library research by examining classical fiqh texts, contemporary scholarly works, and relevant fatwas to construct a comparative analysis grounded in fiqh al-mu‘amalah and maqāṣid al-sharī‘ah. The findings reveal that both schools emphasize ethical communication rooted in truthfulness, protection of honor, and prevention of social harm. The Shafi‘i school prioritizes public welfare (maṣlaḥah ‘āmmah) and the prohibition of violating others’ rights through harmful speech or information disclosure, while the Hanbali school places stronger emphasis on tabayyun (verification), caution, and the avoidance of exposing private matters. Despite differences in emphasis, both schools converge on the obligation to prevent harm, safeguard dignity, and uphold moral responsibility in digital interactions. This study concludes that integrating Shafi‘i and Hanbali ethical frameworks provides a comprehensive Islamic model for ethical social media conduct, contributing to the development of normative Islamic discourse on digital ethics and offering practical guidance for contemporary Muslim societies.