Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Between Modernization and Marginalization: A Historical Analysis of Colonial Health Policies in Semarang and Their Postcolonial Legacy Endah Sri Hartatik; Wasino; Vivek Neelakantan; Sukarni Suryaningsih; Ken Widyawati; Ilham Nur Utomo; Fortuna Devi Putri Sina
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 2 (2025): Military History
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i2.14513

Abstract

Abstract:  This article examines the population health policies implemented in Semarang City, Indonesia, in the aftermath of the Dutch colonial Ethical Policy (1901). Employing a social determinant of health framework grounded in a decolonial perspective, the study explores how colonial era policies continue to shape contemporary health practices and reinforce structural health inequalities. Drawing on historical methods and analysis of primary and secondary sources from national archives, libraries, and documentation centers, the research finds that the Ethical Policy—despite its humanitarian rhetoric of "repaying a debt of honor"—primarily served to sustain labor productivity for colonial economic interests. Health interventions such as the control of cholera outbreaks, the development of sanitation infrastructure, and hospital construction in Semarang were disproportionately directed toward protecting European residents and maintaining urban spatial segregation. These colonial legacies are still evident today in unequal access to healthcare, the geographic clustering of diseases, and the continued marginalization of local health knowledge systems. The article underscores the importance of applying approaches rooted in decolonization to the study of health systems in postcolonial contexts and calls for the development of more inclusive, historically grounded, and socially just health policies in Indonesia. Abstrak: Artikel ini mengkaji kebijakan kesehatan penduduk yang diterapkan di Kota Semarang, Indonesia, setelah diberlakukannya Politik Etis Belanda (1901). Dengan menggunakan kerangka social determinants of health dari perspektif dekolonial, penelitian ini menelusuri bagaimana kebijakan era kolonial terus membentuk praktik kesehatan kontemporer dan memperkuat ketidaksetaraan struktural di bidang kesehatan. Berdasarkan metode sejarah serta analisis sumber primer dan sekunder dari arsip nasional, perpustakaan, dan pusat dokumentasi, penelitian menemukan bahwa Politik Etis—meskipun mengusung retorika kemanusiaan “membayar hutang budi”—pada dasarnya ditujukan untuk mempertahankan produktivitas tenaga kerja demi kepentingan ekonomi kolonial. Intervensi kesehatan seperti pengendalian wabah kolera, pembangunan infrastruktur sanitasi, dan pendirian rumah sakit di Semarang lebih banyak diarahkan untuk melindungi penduduk Eropa dan menjaga segregasi spasial perkotaan. Warisan kolonial ini masih terlihat hingga kini dalam ketidakmerataan akses layanan kesehatan, pengelompokan geografis penyakit, serta marginalisasi sistem pengetahuan kesehatan lokal. Artikel ini menekankan pentingnya pendekatan dekolonisasi dalam kajian sistem kesehatan di konteks pascakolonial dan menyerukan pengembangan kebijakan kesehatan yang lebih inklusif, berlandaskan sejarah, dan berkeadilan sosial di Indonesia.
Malaria Control and Medical Services in Cilacap Under Dutch Colonial Rule In the Early 20th Century Ilham Nur Utomo; Fauzan Syahru Ramadhan; Khairana Zata Nugroho; Desi Susanti
PURBAWIDYA Vol. 15 No. 1 (2026): Vol. 15(1) Juni 2026
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/purbawidya.2026.15821

Abstract

This study examines health problems and healthcare services in Cilacap Regency in relation to malaria outbreaks during the Dutch colonial period in the early 20th century. Cilacap was known as the largest port in southern Java yet faced numerous complex health problems. This study employs the historical method, which is categorized into four stages: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. In analyzing the research problems, biopower theory is used, which positions the role of the Dutch colonial government in controlling biological aspects and public health. The findings of this study indicate that the health of Cilacap Regency’s population was under threat from diseases, particularly malaria. Inadequate environmental conditions were one of the main factors in the spread of malaria. Furthermore, efforts to eradicate malaria through healthcare services remained limited. The Dutch colonial government’s health interventions were solely aimed at serving their economic interests. This made Cilacap Regency one of the areas with the lowest quality of public health despite the implementation of the Dutch Ethical Policy and economic activities at Cilacap Port.
PEMBANGUNAN DAN PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI DI REGENTSCHAP PEMALANG MASA KOLONIAL BELANDA Ilham Nur Utomo
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2025): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/zyt5gk06

Abstract

This article aims to uncover the background and dynamics of transportation infrastructure development in the Regentschap Pemalang during the Dutch colonial period. Transportation infrastructure is a vital element supporting community mobility. However, it has often been overlooked in Indonesian historiography, particularly in the context of hinterland regions such as the Regentschap Pemalang. This research employed historical research methods. The findings indicate that transportation infrastructure played a significant role in the social and economic dynamics of the Regentschap Pemalang. Transportation connected Pemalang with other regions, integrating it into the broader transportation network of Java Island. This strategic role underpinned the development and maintenance of transportation infrastructure, particularly land transportation. Roads and railway lines were types of infrastructure that frequently received attention from the colonial government. Nevertheless, such efforts did not always proceed smoothly due to financial constraints and economic disruptions caused by unstable economic conditions.
Abu ‘Ala Al-Maududi dan Gerakan Politik: Islamisme, Negara dan Kemerdekaan Pakistan Ahmad Fauzan Baihaqi Fauzan; Bryna Rizkinta; Ilham Nur Utomo; Desi Susanti; Muhammad Zulham
Himmah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer Vol 9 No 1 (2025): Himmah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer
Publisher : Universitas Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/jkik.v9i1.4110

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini membahas bagaimana Al-Maududi dan Jamaat Islami, yang dia dirikan, memainkan peran penting dalam membangun gagasan tentang kenegaraan Republik Islam Pakistan pasca merdeka dari kolonialisme Inggris dan berpisah dari India tahun 1947. Sebagai tokoh yang dipandang dari sudut pandang Barat, dianggap kontroversial karena sempat menolak pemisahan Pakistan dengan Negara induk India. Namun, setelah itu, Al-Maududi adalah orang yang paling aktif dalam mendukung pembentukan Republik Islam Pakistan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melihat bagaimana Al-Maududi dan Jamaat Islami berpartisipasi dalam gerakan politik untuk penegakan Negara Islam di Pakistan. Selain itu, mengkritik perspektif Barat yang menganggapnya sebagai figur separatis dalam gerakan Muslim India. Metode penulisan kali ini adalah dengan menggunakan metode sejarah kritis dengan tahapan heuristik, kritik sumber atau verifikasi, interpretasi dan historiografi. Dalam penelusuran sumber studi pustaka penulis menggunakan tulisan pikiran dari Al-Maududi dan Sejarawan yang gandrung dengan persoalan Islam di Asia Selatan. Penulisan ini menggunakan pendekatan sosio-politik, dan lebih mendalam untuk melihat sosok Abu ‘Ala Al-Maududi kami melihat secara holistik dalam fragmen Sejarah intelektualisme Islam. Sebagai intelektual organik Al-Maududi bersama Jemaat Islami berani menjadi oposisi melawan hasil pemilu 1937 serta bergerilya untuk terbentuknya Negara Islam di Barat India yang saat ini menjadi Pakistan. Dalam temuan beberapa riset, Al-Maududi dengan organisasinya Jema’at El-Islami dianggap kelanjutan dari Hassan Al-Banna melalui gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, namun ternyata banyak sekali perbedaan. Meskipun mendapat stigma radikal oleh Barat, namun gerakannya tidak sepenuhnya membenci barat. Dalam konsep doktrin Islam dan Negara yang digaungkan Al-Maududi yakni Teo-Demokrasi adalah bentuk pembaharuan dari Sekularisme Demokrasi Barat dan menurutnya adalah perlunya titik temu antara kedaulatan rakyat dengan nilai-nilai Ketuhanan Islam. Kata Kunci : Al-Maududi, Jamaat Islami, Pakistan