Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Analisis Otomatisasi Layanan TI Berbasis ITIL 4: Systematic Literature Review Aan Ansen Andryadi; Sandi Nazril; Rindu Nur Anfanti; Sukma; Dewi Agustiani; Adila Safari Nurrahman
Jurnal Sistem Informasi dan Teknologi Vol 6 No 2 (2026): Jurnal Sistem Informasi dan Teknologi (SINTEK)
Publisher : LPPM STMIK KUWERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56995/sintek.v6i2.271

Abstract

Tuntutan terhadap kecepatan dan keandalan layanan Teknologi Informasi (TI) di era digital mendorong organisasi beralih dari operasional manual menuju otomatisasi. Namun, implementasi tanpa tata kelola yang kuat kerap memicu hilangnya visibilitas evaluasi layanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara teoretis pemanfaatan otomatisasi terhadap peningkatan berkelanjutan pada proses manajemen layanan TI modern dengan kerangka ITIL 4 Service Value System (SVS). Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap literatur empiris publikasi 2020–2025. Hasil analisis menunjukkan bahwa otomatisasi cerdas melalui integrasi AI/ML dan Policy-as-Code secara fundamental mentransformasi instrumen Continual Improvement Register (CIR) menjadi ekosistem analitik yang prediktif. Implementasi otomatisasi terbukti mampu menurunkan Mean Time to Resolution (MTTR) hingga 45,8%, mempercepat lead time perubahan hingga 70%, serta memberikan penghematan biaya operasional sebesar 36%. Analisis lintas sektor menegaskan bahwa otomatisasi berperan sebagai mesin orkestrasi data yang menjembatani kesenjangan visibilitas antardivisi dan mencegah insiden berulang. Kesimpulannya, otomatisasi tidak sekadar menggantikan tugas manusia, melainkan bertindak sebagai penyuplai data esensial bagi ekosistem ITIL 4 SVS untuk menjamin perbaikan layanan TI yang terstruktur dan berkesinambungan.
Pemanfaatan Artificial Intelligence dan Machine Learning dalam Praktik Monitoring and Event Management Menurut Perspektif ITIL 4 Rival Maulana; Aan Ansen Andryadi; Febi Fitriyani; Dinda Nurasidah; Nazwa Albirri; Nazwa Fadillah
Jurnal Sistem Informasi, Teknik Informatika dan Teknologi Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2026): Edisi September 2026
Publisher : Utiliti Project Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformasi digital meningkatkan kompleksitas layanan TI dan menuntut tata kelola yang lebih adaptif. Monitoring and Event Management (MEM) merupakan praktik krusial dalam kerangka kerja ITIL 4 yang berfungsi mendeteksi perubahan status layanan secara sistematis. Namun, banyak organisasi masih menghadapi kendala berupa ketergantungan pada proses manual yang reaktif, minimnya standarisasi dokumentasi, serta lonjakan volume data peristiwa yang melampaui kapasitas analisis konvensional. Penelitian ini bertujuan mengkaji integrasi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (ML) dalam mengoptimalkan praktik MEM berdasarkan perspektif ITIL 4. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap publikasi ilmiah dari Scopus, IEEE Xplore, dan Google Scholar dalam rentang tahun 2019–2026, dengan kriteria inklusi yang berfokus pada implementasi ITIL 4, integrasi AI/ML dalam IT Service Management (ITSM), serta penerapan AIOps dalam deteksi anomali dan manajemen peristiwa. Sintesis literatur menunjukkan bahwa AI/ML mampu mentransformasi MEM dari pendekatan reaktif menjadi proaktif melalui deteksi anomali berbasis Large Language Model (LLM), algoritma Support Vector Machine (SVM) dan K-Nearest Neighbor (KNN), serta model Fuzzy Multicriteria Matrix untuk klasifikasi peristiwa berdasarkan tingkat kekritisan. Integrasi AI terbukti mempercepat respons insiden hingga 30% dan mereduksi beban kerja manual melalui virtual agent serta otomatisasi sistem ticketing. Temuan utama menegaskan bahwa efektivitas MEM sangat bergantung pada kualitas data dalam Configuration Management Database (CMDB) sebagai single source of truth yang diperkaya wawasan prediktif AI. Keselarasan antara teknologi cerdas, proses terstandarisasi berbasis ITIL 4, dan kompetensi sumber daya manusia menjadi kunci peningkatan kematangan operasional serta penguatan transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola layanan TI modern.
Explainable Artificial Intelligence-Based Early Warning System for Student Dropout Prediction Aan Ansen Andryadi; Samsan; Gilang Redzav Bagaswara
Journal of Computer Science, Artificial Intelligence and Communications Vol 3 No 1 (2026): May 2026
Publisher : Raskha Media Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64803/jocsaic.v3i1.177

Abstract

Student dropout remains one of the major challenges faced by higher education institutions because it negatively affects academic performance, institutional reputation, and educational sustainability. Early identification of students at risk of dropping out enables universities to implement timely interventions that improve student retention. Although machine learning models have demonstrated promising predictive performance, many of these approaches operate as black-box systems, limiting their transparency and practical adoption in educational decision-making. Therefore, this study proposes an Explainable Artificial Intelligence (XAI)-Based Early Warning System for student dropout prediction by integrating the XGBoost classification algorithm with SHapley Additive exPlanations (SHAP). The proposed framework consists of six stages: data collection, data preprocessing, feature engineering, machine learning model development, explainability analysis, and performance evaluation. To demonstrate the proposed methodology, a synthetic dataset representing higher education student records was utilized. The simulated experimental results showed that the proposed model achieved an Accuracy of 89.5%, Precision of 84.0%, Recall of 82.0%, F1-Score of 83.0%, and an ROC-AUC of 0.93. Furthermore, SHAP analysis identified Grade Point Average (GPA), Attendance Rate, Previous Semester GPA, Financial Status, and Learning Management System (LMS) activity as the most influential factors affecting student dropout prediction. By combining high predictive performance with interpretable explanations, the proposed Early Warning System provides transparent decision support for lecturers and academic advisors, facilitating data-driven interventions aimed at improving student retention in higher education institutions.
Tinjauan Konsep Value Co-creation dalam ITIL-4: Pergeseran Paradigma dari Penyerahan Layanan ke Penciptaan Nilai Bersama Aan Ansen Andryadi; Ridwan Zulkifli; Ade Hilman; Eva Nurholifah; Gina Pertiwi; Muhamad Rayhan Fadillah; Surya Padli
Media Informatika Vol 25 No 2 (2026)
Publisher : P3M STMIK LIKMI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37595/mediainfo.v25i2.526

Abstract

Dalam era disrupsi digital, manajemen layanan teknologi informasi (ITSM) diharapkan mampu memberikan nilai yang berkelanjutan, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan bisnis. Namun, pada kenyataannya, masih banyak organisasi yang terjebak pada paradigma tradisional yang kaku dan berpusat pada penyedia layanan (provider-centric), di mana pengguna hanya diposisikan sebagai penerima pasif. Hal ini memunculkan kesenjangan antara praktik penyampaian layanan konvensional dengan tuntutan kolaborasi aktif yang krusial di masa kini. Menjawab permasalahan tersebut, kerangka kerja ITIL 4 hadir dengan pergeseran paradigma yang berfokus pada konsep value co-creation (penciptaan nilai bersama). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji landasan teoritis dan menganalisis pergeseran paradigma dari service delivery menuju value co-creation tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif melalui metode Systematic Literature Review (SLR). Proses pengumpulan dan sintesis data dibantu menggunakan tools basis data akademik, yaitu Google Scholar, IEEE Xplore, dan ScienceDirect, dengan fokus pada literatur ilmiah yang diterbitkan dalam kurun waktu 2020 hingga 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ITIL 4—yang dijiwai oleh teori Service-Dominant Logic (S-D Logic)— berhasil mengubah peran pengguna menjadi mitra kolaboratif yang aktif. Melalui komponen Service Value System (SVS) dan Service Value Chain (SVC), ITIL 4 terbukti mampu mengintegrasikan seluruh pemangku kepentingan untuk berfokus pada pencapaian outcome bisnis, bukan sekadar output teknis. Kesimpulannya, transisi menuju value co-creation merupakan sebuah transformasi budaya manajerial fundamental yang memungkinkan organisasi TI menjadi lebih tangkas, responsif, dan berorientasi pada pelanggan, sehingga nilai layanan yang dihasilkan menjadi jauh lebih optimal.
PENERAPAN ALGORITMA NAIVE BAYES DALAM MEMPREDIKSI MINAT MAHASISWA BARU Ridwan Zulkifli; Aan Ansen Andryadi; Dila Siti Nurfadhilah; Lita Lestari Utami
Journal of Information System Management (JOISM) Vol. 7 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Universitas Amikom Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24076/joism.2026v7i2.2375

Abstract

Penentuan konsentrasi studi mahasiswa baru yang tidak tepat dapat berdampak pada rendahnya motivasi belajar dan meningkatnya risiko perpindahan konsentrasi. Penelitian ini bertujuan memprediksi minat konsentrasi studi mahasiswa baru menggunakan algoritma Naive Bayes. Penelitian dilakukan dengan pendekatan Knowledge Discovery in Database (KDD) yang meliputi pemilihan data, pra-pemrosesan, pembentukan dataset, serta pelatihan dan pengujian model. Data yang digunakan berupa riwayat akademik dan hasil survei preferensi mahasiswa baru tahun akademik 2024/2025 yang telah dianonimkan. Dataset dibagi menjadi 80% data latih dan 20% data uji. Evaluasi model dilakukan menggunakan metrik akurasi, presisi, recall, dan F1-score. Hasil pengujian menunjukkan akurasi sebesar 89% dengan nilai presisi dan recall di atas 85%. Hasil ini menunjukkan bahwa algoritma Naive Bayes efektif digunakan sebagai alat bantu rekomendasi konsentrasi studi mahasiswa baru.
Model Peningkatan Berkelanjutan ITIL 4 sebagai Strategi Adaptasi Organisasi terhadap Faktor Eksternal PESTLE Aan Ansen Andryadi; Samsan; Gilang Redzav Bagaswara; Mochamad Rizky Fauzan; Rega Agustiana; Muhammad Naufal
Jurnal Komputer Teknologi Informasi Sistem Komputer (JUKTISI) Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : LKP KARYA PRIMA KURSUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62712/juktisi.v5i2.1444

Abstract

Organisasi masa kini dihadapkan pada tuntutan untuk mampu beradaptasi dalam mengelola layanan teknologi informasi (TI) ditengah dinamika lingkungan makro yang bergerak cepat. Analisis PESTLE lazimnya dimanfaatkan untuk mengidentifikasi ancaman-ancaman dari luar organisasi, sementara ITIL 4 lewat pendekatan Continual Improvement lebih menitikberatkan pada pembenahan layanan secara internal. Namun demikian, penetapan kedua konsep tersebut kerap dilakukan secara terpisah, yang pada akhirnya memunculkan kesenjangan antara perencanaan strategis dan pelaksanaan teknis di lapangan. Riset ini ditujukan untuk menyusun sebuah model integrasi konseptual yang mempertautan PESTLE dengan Continual Improvement ITIL 4, dengan memanfaatkan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Sejumlah 27 artikel ilmiah yang terbit pada rentang 2019-2024 ditelaah guna membangun model dimaksud. Hasil sintesis memperlihatkan bahwa pemanfaatan indikator PESTLE sebagai pemicu (trigger) pada masing-masing fase pembenahan ITIL 4 dapat memperkokoh ketahanan operasional sekaligus mempercepat kesigapan dalam merespons gangguan (disrupsi). Simulasi yang diterapkan pada studi kasus modernisasi sistem katalog disebuah instansi pemerintah mengonfirmasi bahwa model ini berhasil mengubah tekanan regulasi maupun tren sosial menjadi langkah-langkah perbaikan teknis TI yang dapat diukur.
Identifikasi Best Practice Pengembangan Sistem Informasi Melalui Perbandingan Model SDLC: Tinjauan Literatur Aan Ansen Andryadi; Ridwan Zulkifli; Fikri Amrullah; Novia Nurul Puspita; Frinska Putra Pratama; Dhita Ayu Amalia; Syifa Aulya; Nadya Sri Agustina; Melati Nuraeni

Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v9i1.10583

Abstract

Abstrak - Pengembangan sistem informasi memerlukan metodologi yang tepat untuk memastikan perangkat lunak dapat dibangun secara efektif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Berbagai model Software Development Life Cycle (SDLC) seperti Waterfall, Agile, Spiral, dan Prototype telah banyak digunakan, namun setiap model memiliki karakteristik, kelebihan, serta keterbatasan yang berbeda sehingga tidak terdapat satu pendekatan yang bersifat universal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi best practice pengembangan sistem informasi melalui perbandingan keempat model SDLC menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Proses penelitian dilakukan melalui tahapan perencanaan, pencarian, seleksi, serta sintesis literatur dari berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Waterfall cocok untuk kebutuhan stabil dan terdokumentasi, Agile efektif pada lingkungan dinamis dan adaptif, Spiral sesuai untuk proyek kompleks dengan risiko tinggi, sedangkan Prototype membantu klarifikasi kebutuhan pengguna pada tahap awal. Temuan penelitian menegaskan bahwa keberhasilan proyek sangat dipengaruhi oleh kesesuaian antara karakteristik proyek dan model pengembangan yang digunakan. Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis sebagai panduan pemilihan metodologi SDLC guna meningkatkan keberhasilan pengembangan sistem informasi.Kata kunci: Software Development Life Cycle; SDLC; Waterfall; Agile; Spiral; Prototype; Systematic Literature Review; Pengembangan Sistem Informasi; Abstract - Information system development requires an appropriate methodology to ensure that software can be delivered effectively, efficiently, and aligned with user requirements. Various Software Development Life Cycle (SDLC) models, including Waterfall, Agile, Spiral, and Prototype, have been widely adopted; however, each model possesses distinct characteristics, strengths, and limitations, making no single approach universally applicable. This study aims to identify best practices in information system development by comparing these four SDLC models using a Systematic Literature Review (SLR) approach. The research process involves planning, searching, screening, and synthesizing relevant scientific literature. The results indicate that the Waterfall model is suitable for stable and well-defined requirements, Agile is effective in dynamic and adaptive environments, Spiral is appropriate for complex and high-risk projects, while the Prototype model facilitates early clarification of user requirements. The findings emphasize that project success largely depends on the alignment between project characteristics and the chosen development methodology. This study provides practical recommendations to support decision-making in selecting suitable SDLC approaches for improving the success of information system development projects.Keywords: Software Development Life Cycle; SDLC; Waterfall; Agile; Spiral; Prototype; Systematic Literature Review; Information System Development;
Analisis dan Desain Sistem Informasi Berbasis Low-Code dalam Konteks Digital Transformation Kampus Aan Ansen Andryadi; Ridwan Zulkifli; Ihsan Surya Jamil; Daffa Arfiyandi; Dzikri Alfaturrohman; Aziz Muhammad Labib; Ahmad Gojali Mansur; ⁠M Fisal Ramdan

Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v9i1.10465

Abstract

Abstrak - Transformasi digital di lingkungan kampus menuntut kecepatan adaptasi teknologi untuk mendukung proses akademik dan administrasi yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun purwarupa Sistem Informasi Kampus (SI-Kampus) yang terintegrasi menggunakan pendekatan Low-Code Development Platform (LCDP). Metode pengembangan yang digunakan adalah Agile Development yang memungkinkan iterasi cepat dan fleksibilitas terhadap perubahan kebutuhan pengguna. Hasil penelitian mencakup analisis alur bisnis, perancangan sistem menggunakan Unified Modeling Language (UML), dan implementasi modul akademik utama. Penerapan Low-Code terbukti mempercepat siklus pengembangan sistem hingga 40% dibandingkan metode konvensional, mendukung percepatan transformasi digital institusi pendidikan tinggi.Kata kunci : Agile; Low-Code Development; Sistem Informasi Kampus; Transformasi Digital; UML; Abstract - Digital transformation in the campus environment demands rapid technological adaptation to support efficient academic and administrative processes. This research aims to design and build an integrated Campus Information System (SI-Kampus) prototype using the Low-Code Development Platform (LCDP) approach. The development method used is Agile Development, which allows for rapid iteration and flexibility to meet changing user needs. The research results include business flow analysis, system design using the Unified Modeling Language (UML), and implementation of key academic modules. The implementation of Low-Code has been proven to accelerate the system development cycle by up to 40% compared to conventional methods, supporting the acceleration of the digital transformation of higher education institutions.Keywords: Agile; Campus Information Systems; Digital Transformation; Low-Code Development; UML;
Model Desain Sistem Informasi Inklusif Berbasis Human Centered Design untuk Mahasiswa Berkebutuhan Khusus Aan Ansen Andryadi; Ridwan Zulkifli; Ratnasari Ratnasari; Indra Indra; Hendra Purnama; Sri Afriliani; Hasna Maulani Mukarom; Awaluna Nurdilan Rahmadhita

Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jnkti.v9i1.10550

Abstract

Abstrak - Transformasi digital di perguruan tinggi menawarkan peluang untuk memperluas akses pendidikan, namun sering kali menyisakan hambatan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus (MBK) akibat desain sistem informasi yang tidak inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model desain sistem informasi akademik inklusif berbasis Human-Centered Design (HCD) yang mengintegrasikan standar aksesibilitas dan mekanisme kolaboratif antar pemangku kepentingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods (kualitatif dan kuantitatif) mengikuti siklus iteratif ISO 9241-210 yang dilaksanakan di tiga perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pengumpulan data melibatkan 60 responden yang terdiri dari MBK, dosen, dan staf Unit Layanan Disabilitas (ULD) melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi partisipatif, serta survei. Evaluasi teknis dilakukan menggunakan standar WCAG 2.1, sementara evaluasi kegunaan diukur menggunakan System Usability Scale (SUS) dan User Experience Questionnaire (UEQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan HCD berhasil mengidentifikasi empat kebutuhan utama: aksesibilitas adaptif, navigasi sederhana, integrasi layanan MBK-Dosen-ULD, dan kompatibilitas teknologi bantu. Prototipe yang dikembangkan mampu menurunkan temuan kritis aksesibilitas sebesar lebih dari 60% sesuai standar WCAG 2.1. Secara kuantitatif, terjadi peningkatan signifikan pada skor SUS dari 54,2 (kategori rendah) pada sistem lama menjadi 85 (kategori Excellent) pada prototipe, serta pencapaian kategori Excellent pada dimensi UEQ. Peningkatan kepuasan pengguna tercatat sebesar 40%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model desain berbasis HCD efektif dalam menciptakan ekosistem digital yang ramah disabilitas, mengurangi beban kognitif pengguna, serta memfasilitasi interaksi akademik yang lebih adil dan kolaboratif.Kata Kunci: Aksesibilitas Digital; Human-Centered Design (HCD); Mahasiswa Berkebutuhan Khusus; Pendidikan Tinggi; Sistem Informasi Inklusif; Abstract - Digital transformation in higher education offers opportunities to expand educational access, yet often creates barriers for students with special needs (MBK) due to non-inclusive information system designs. This study aims to develop an inclusive academic information system design model based on Human-Centered Design (HCD) that integrates accessibility standards and collaborative mechanisms among stakeholders. This research employed a mixed-methods approach following the iterative cycle of ISO 9241-210, conducted at three state universities in Central Java and Yogyakarta. Data collection involved 60 respondents comprising MBK, lecturers, and Disability Service Unit (ULD) staff through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), participatory observation, and surveys. Technical evaluation was conducted using WCAG 2.1 standards, while usability was measured using the System Usability Scale (SUS) and User Experience Questionnaire (UEQ). The results indicate that HCD implementation successfully identified four key needs: adaptive accessibility, simple navigation, MBK-Lecturer-ULD service integration, and assistive technology compatibility. The developed prototype reduced critical accessibility issues by over 60% according to WCAG 2.1 standards. Quantitatively, there was a significant increase in the SUS score from 54.2 (low category) in the legacy system to 85 (Excellent category) in the prototype, along with achieving an Excellent rating across UEQ dimensions. User satisfaction increased by 40%. This study concludes that the HCD-based design model is effective in creating a disability-friendly digital ecosystem, reducing user cognitive load, and facilitating fairer and more collaborative academic interactions.Keywords: Digital Accessibility; Higher Education; Human-Centered Design (HCD); Inclusive Information Systems Students with Special Needs;