Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemosisian Bahasa Tersangka dalam Interogasi Penyidikan: Analisis Appraisal Atas Stance dan Relasi Kuasa Deni Indrawan; Dedi Risaldi; Andi Karman
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2655

Abstract

Pendirian (distance) dalam percakapan penyidikan merupakan konstruksi linguistik yang mengungkap bagaimana tersangka memposisikan diri terhadap informasi, tuduhan, dan kerangka wacana yang dibangun oleh penyidik. Penelitian ini menganalisis pendirian tersangka dalam percakapan penyidikan tindak pidana umum melalui kerangka Appraisal System (Martin & White, 2005), khususnya subsistem engagement. Data penelitian bersumber dari transkrip percakapan penyidikan kasus penipuan dan penggelapan yang berlangsung di Ditreskrimum Polda Sulawesi Selatan pada 19 Oktober 2022. Sebanyak 27 penggunaan pendirian (distance) diidentifikasi dan diklasifikasikan ke dalam empat sistem pemosisian: menyangkal, menyatakan, menerima, dan merujuk. Temuan menunjukkan bahwa sistem pemosisian menerima mendominasi dengan 13 penggunaan, diikuti menyatakan (8), merujuk (4), dan menyangkal (2). Dominannya sistem menerima mengindikasikan bahwa tersangka menampilkan sikap kooperatif sekaligus submisif terhadap kerangka wacana penyidik, memperkuat teori asimetri interaksional dalam percakapan interogatif. Artikel ini menyimpulkan bahwa pendirian tersangka tidak hanya mencerminkan strategi linguistik, tetapi juga menunjukkan relasi kuasa, tekanan psikologis, dan persepsi risiko hukum yang melekat dalam percakapan penyidikan. Implikasi penelitian ini berkontribusi pada pengembangan standar etis interogasi, pelatihan linguistik forensik, serta penguatan perspektif keadilan prosedural dalam praktik penegakan hukum.
Improving Journalistic Literacy Through Mading Training At State Middle School 24 Makassar Tuti Wijayanti; Fadilah Neyarasmi; Nur Anita Syamsi Safitri; Muhammad Ihlasul Amal; Dedi Risaldi
Vokatek : Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 4: Issue 1 (April 2026)
Publisher : Sakura Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61255/vokatekjpm.v4i1.1073

Abstract

This community service program aimed to improve students’ journalistic literacy through wall magazine training at SMP Negeri 24 Makassar. The program employed a participatory approach with a practice-based learning model (learning by doing). The participants consisted of 65 people, including 50 student council members, 5 teacher supervisors, and 10 student teachers from the teaching practice program. The activities were carried out through several stages: preparation, training, mentoring, and evaluation. The training materials covered the basics of journalism, techniques for writing simple news reports and articles, editing, and wall magazine design. The results showed an improvement in students’ understanding of journalistic concepts, their ability to write simple journalistic works, creativity in presenting information, and participation and teamwork in groups. Based on the evaluation, 85% of students were able to write simple news reports using the 5W+1H elements, 80% were able to write articles systematically, and the average score of the wall magazine products reached 84, which was categorized as good. Thus, wall magazine training proved to be effective as a contextual learning medium for improving students’ journalistic literacy and strengthening the literacy culture in the school environment
Pemanfaatan Media Film Pendek dalam Pembelajaran Menyimak Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fadilah Neyarasmi; Muhammad Ihlasul Amal; Dedi Risaldi
INDONESIAN LANGUAGE TEACHING & LITERATURE JOURNAL Vol. 4 No. 1 (2026): Indonesian Language Teaching & Literature Journal
Publisher : Study Program of Indonesian Language Education, Faculty of Languages and Literature, Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/s6fjk963

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemanfaatan media film pendek dalam pembelajaran menyimak mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan mahasiswa yang mengikuti pembelajaran menyimak. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama pelaksanaan pembelajaran menyimak menggunakan film pendek “Ramadhan Pertama dengan Ayah” berdurasi 8 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan film pendek mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual. Mahasiswa menunjukkan fokus, partisipasi, dan antusiasme yang lebih tinggi selama kegiatan menyimak berlangsung. Unsur audiovisual dalam film pendek membantu mahasiswa memahami alur cerita, mengenali tokoh dan konflik, serta menafsirkan pesan moral secara lebih baik. Selain itu, aspek visual seperti ekspresi tokoh, gerak tubuh, dan situasi komunikasi mendukung pemahaman mahasiswa terhadap informasi lisan. Meskipun ditemukan beberapa kendala, seperti kualitas audio dan tempo dialog yang cepat, media film pendek secara umum efektif mendukung pemahaman dan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran menyimak.
CAMPUR RAGAM BAHASA PADA ANAK PENUTUR MAKASSAR DI ERA DIGITAL: KAJIAN PEMEROLEHAN BAHASA Dedi Risaldi; Deni Indrawan
Panrita: Jurnal Bahasa dan Sastra Daerah serta Pembelajarannya Vol 6, No 1 (2026): PANRITA: Jurnal Bahasa dan Sastra Daerah
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v6i1.85871

Abstract

language (L1) acquisition in early childhood and to describe the phenomenon of mixed language varieties in children's speech from a psycholinguistic perspective. The study used a qualitative descriptive method with a psycholinguistic approach, referring to Creswell's (2018) qualitative research framework which emphasizes naturalistic inquiry, purposive sampling, and interpretive analysis. The data source was a 3-year-old child who was exposed to digital content via YouTube for 2-3 hours per day. Data were collected through observation, recording, and field notes, then analyzed using data condensation, data presentation, and drawing and verifying conclusions. The results showed that exposure to digital content contributed to enriching the child's Indonesian vocabulary. However, the interaction between Makassar as the family language and Indonesian as digital input gave rise to the phenomenon of mixed language varieties. Two main patterns were found, namely insertion code-mixing and syntactic interference. These findings indicate that the child is in the early stages of bilingual language acquisition, where the two language systems are not yet fully separated.  This research positions digital media as a third linguistic agent in language acquisition, contributing to the emerging field of digital psycholinguistics. Abstrak:  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh paparan konten digital terhadap pemerolehan bahasa pertama (B1) pada anak usia dini serta mendeskripsikan fenomena campur ragam bahasa dalam tuturan anak dari perspektif psikolinguistik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikolinguistik, mengacu pada kerangka penelitian kualitatif Creswell (2018) yang menekankan inkuiri naturalistik, pengambilan sampel purposif, dan analisis interpretatif. Sumber data adalah seorang anak berusia 3 tahun yang terpapar konten digital melalui YouTube selama 2-3 jam per hari. Data dikumpulkan melalui observasi, rekam, dan catatan lapangan, kemudian dianalisis menggunakan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan serta verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan konten digital berkontribusi dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia pada anak. Namun, interaksi antara bahasa Makassar sebagai bahasa keluarga dan bahasa Indonesia sebagai input digital memunculkan fenomena campur ragam bahasa. Ditemukan dua pola utama, yaitu campur kode insersi dan interferensi sintaksis. Temuan ini menunjukkan bahwa anak berada pada tahap awal pemerolehan bahasa bilingual, di mana kedua sistem bahasa belum sepenuhnya terpisah. Penelitian ini menempatkan media digital sebagai agen kebahasaan ketiga dalam pemerolehan bahasa, berkontribusi pada bidang psikolinguistik digital yang sedang berkembang. Kata kunci: ragam bahasa; pemerolehan bahasa; era digital