Muhammad Rinzat Iriyansah
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

LEKSIKON FLORA DAN FAUNA DALAM LINGKUP HIDUP MASYARAKAT KAMPUNG NAGA ameliatul kholisoh; Siti Kurniasih; Novita Ramaddini; Siti Hanina; Najla Nur Alifah; Muhammad Rinzat Iriyansah; Odien Rosidin
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 02 (2025): Volume 11 No. 02 Juni 2025 In Press
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i02.6586

Abstract

Penelitian ini mengkaji leksikon flora dan fauna masyarakat Kampung Naga, Jawa Barat, yang mencerminkan hubungan budaya, bahasa, dan lingkungan. Metode kualitatif dengan wawancara mengungkapkan pengelolaan budidaya, pemanfaatan, dan aturan adat dalam konsumsi serta pengolahan hasil alam. Leksikon lokal mencerminkan pengetahuan ekologis dan nilai budaya yang berperan dalam tradisi dan upacara adat. Studi ini menunjukkan bagaimana bahasa dan budaya memelihara kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam dan identitas komunitas.
Referensi Persona dalam Novel Di Tanah Lada serta Implementasinya pada Modul Ajar di SMK: Personal Reference in the Novel Di Tanah Lada and Its Implementation in Teaching Modules for Vocational High Schools Syifa Mufada Khairunnisyah; Asep Muhyidin; Muhammad Rinzat Iriyansah
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.1934

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk referensi persona yang digunakan dalam novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie serta mendeskripsikan implementasinya pada modul ajar Bahasa Indonesia di SMK. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik dasar bagi unsur langsung dan teknik lanjutan berupa teknik ganti. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan 381 data referensi persona yang diklasifikasikan ke dalam enam kategori. Data tersebut meliputi 56 data referensi pronomina persona pertama tunggal, 18 data referensi pronomina persona pertama jamak, 38 data referensi pronomina persona kedua tunggal, 3 data referensi pronomina persona kedua jamak, 235 data referensi pronomina persona ketiga tunggal, dan 31 data referensi pronomina persona ketiga jamak. Hasil penelitian ini kemudian dimanfaatkan sebagai bahan penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia di SMK. Modul yang dikembangkan berfokus pada keterampilan menulis peserta didik. Dengan demikian, penelitian ini mendukung pembelajaran bahasa yang kontekstual, kreatif, relevan, aplikatif, dan berbasis teks sastra.
Kajian Etnolinguistik terhadap Mitos dan Kearifan Lokal Lingkungan dalam Menjaga Ekosistem serta Pencegahan Bencana Alam di Kampung Adat Jalawastu Muarif Husyandi; Fitri Novia Rahma; Eka Sri Pratiwi; Siti Muntapiroh; Muhammad Rinzat Iriyansah; Odien Rosidin
sarasvati Vol. 8 No. 1 (2026): JURNAL SARASVATI
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/sv.v8i1.5517

Abstract

This study examines the myths and local wisdom of the Jalawastu Traditional Village community through ethnolinguistic studies. The study aims to explain the forms of myths, taboos, oral traditions, and ecological values ​​contained in the culture of the Jalawastu community as an effort to protect the environment and prevent natural disasters. The method used in this study is descriptive qualitative with an ethnolinguistic approach. Research data were obtained through observation, interviews, and documentation of traditional leaders and the community of the Jalawastu Traditional Village in Brebes Regency, Central Java. The results show that the Jalawastu community possesses local knowledge that is passed down through generations through cultural language, as described below. The myth regarding the forbidden forest functions as a social control in maintaining forest sustainability and preventing environmental damage. The prohibition on wearing green clothing reflects a symbol of the community's respect for nature, which is considered to have a balance that must be maintained. The Ngasa ritual serves as a means to strengthen the harmonious relationship between humans, ancestors, and nature through the use of ritual language and cultural symbols. Oral traditions and the culture of mutual cooperation also play a role in passing on environmental conservation values ​​to the younger generation. Thus, the myths and local wisdom of the Jalawastu community serve not only as cultural heritage but also as a form of environmental preservation and disaster mitigation based on local culture.
Kesalahan Berbahasa dalam Tataran Morfologi Pada Laman Berita Daring Radar Banten Putri Nayla Syefira; Asep Muhyidin; Muhammad Rinzat Iriyansah
Asas: Jurnal Sastra Vol. 15 No. 1 (2026): Asas:Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ajs.v15i1.72069

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi yang terdapat pada laman berita daring Radar Banten. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Proses penghimpunan data dilakukan dengan menggunakan teknik simak bebas libat cakap teknik simak yang dikombinasikan dengan teknik catat. Selanjutnya, analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data model Miles and Huberman yang terbagi ke dalam 3 alur, yaitu pengumpulan data, reduksi data, dan penyajian data (display). Dari hasil analisis data, peneliti menemukan 38 jumlah data yang selanjutnya diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu (1) ditemukan sejumlah 22 data pada kategori penghilangan afiks, (2) ditemukan sejumlah 10 data pada kategori bunyi yang seharusnya luluh tidak diluluhkan, (3) ditemukan sejumlah 5 data penyingkatan morfem mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-, dan (4) ditemukan sejumlah 1 data pemakaian afiks yang tidak tepat ditemukan.
TRADISI KEMATIAN MASYARAKAT ADAT KAMPUNG JALAWASTU DENGAN PENDEKATAN FENOMENOLOGI Vidya Maharani Anannidra; Dhiah Fatma Pratiwi; Mufidatuz Zahro Aj-Jauharoh; Eka Dwi Sasmita Putri; Aulia Nur Afifah; Odin Rosidin; Muhammad Rinzat Iriyansah; Robita Ika Annisa
TANDA Vol 6 No 04 (2026): BAHASA DAN BUDAYA
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v6i04.2809

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang tradisi kematian yang masih dijaga oleh masyarakat adat Kampung Jalawastu sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Fokus dari penelitian ini mencakup proses pengurusan jenazah, tradisi kematian, aturan bentuk makam, serta tradisi sawer warung. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan teknik simak catat serta rekam terhadap masyarakat Kampung Adat Jalawastu. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memahami arti dan pengalaman masyarakat terkait tradisi kematian yang mereka laksanakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengurusan jenazah di Kampung Jalawastu mengikuti ajaran Islam, yang mencakup memandikan, mengafani, menyalati, dan menguburkan jenazah. Selain itu, masyarakat juga melaksanakan berbagai tradisi kematian seperti surtanah, telung dina, mitung dina, nyeket, nyatus, mendak, nyewu, dan nyadran sebagai penghormatan kepada leluhur serta doa untuk almarhum. Ketentuan adat juga tercermin dalam bentuk makam yang tidak diperbolehkan menggunakan semen, keramik, atau batu bata, hanya menggunakan batu alami dan kayu. Tradisi sawer warung yang dilaksanakan saat acara pemakaman juga masih dipelihara karena diyakini memiliki makna simbolis sebagai tolak bala dan bentuk penghormatan kepada tradisi leluhur. Tradisi-tradisi ini menunjukkan kuatnya nilai sosial, budaya, dan spiritual dalam kehidupan masyarakat di Kampung Jalawastu.
LEKSIKON ARSITEKTUR RUMAH ADAT KAMPUNG NAGA: KAJIAN ETNOSEMANTIK Hendri Gunawan; Vira Maulani; Prasasti Dwi Putri; Muhammad Rizki Periandi; Ayu Yulianti; Odien Rosidin; Muhammad Rinzat Iriyansah
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JANUARI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i1.1563

Abstract

Sundanese traditional houses have their own peculiarities in architecture and philosophical values that are very meaningful, such as the traditional house in Naga Village. Naga Village still maintains the typical Sundanese traditional architecture in its buildings, by having a very unique architecture. Thus, this study has the objectives to: (1) describe the traditional house of Kampung Naga, (2) describe the lexicon of tools and materials of traditional houses of Kampung Naga, and (3) describe the lexicon of the construction of traditional houses of Kampung Naga Village. This study uses a qualitative descriptive method to describe the findings of the architectural lexicon of traditional houses in Naga Village. Research data was obtained through observation, interview, documentation, and literature study methods. Furthermore, the data was analyzed using interpretation techniques by sorting out data according to the research subject in the form of traditional houses in Naga Village. The results of the study found that the traditional house of Kampung Naga was built in the form of a stage to adapt to the hilly geographical conditions and have high humidity. The shape and construction of the house are determined by customary rules, a certain time, and harmony with nature. In its construction, tools and materials are obtained from the surrounding nature. Traditional houses are built in cooperation by the community. However, there is a special craftsman named Dulah who has special skills. After conducting the analysis, the researcher found twelve lexicons of tools and materials of the Naga Village traditional house, including: bedog, tatah, palu kai, di-pen, bendo, and others . As for the lexicon of the building of the Naga Village traditional house, there are six lexicons consisting of golodog, goah, kolong, panggangsao, pawon, and suhunan.