Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Evaluating Indonesia's De-Radicalization Program: A Non-Punitive Approach to Countering Terrorism Syarif Saddam Rivanie; Dian Anggraece Sigit Parawansa; Toetik Rahayuningsih; Ulil Amri; Ismail Iskandar; Afif Muhni; Akhmad Afif Athaullah; Muhammad Chafidz Ali Wafa
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 24 No. 2 (2025): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v24i2.7135

Abstract

The most significant bombing incident in Indonesia was in Bali in 2002, resulting in the deaths of 202 individuals. After the bombing attack, Indonesia enacted Law Number 15 of 2003 about the Eradication of Criminal Acts of Terrorism. This Law exclusively governs criminal consequences, omitting other forms of penalties expressly targeting offenders of terrorism. The objective of this research is to identify alternative forms of sanctions that may be imposed on future perpetrators of terrorism. This research employs a normative methodology, utilizing both primary and secondary materials about legal rules concerning the eradication of terrorist criminal activities.Furthermore, it employs many legal methodologies, specifically the statutory and conceptual approaches. The findings indicated that deradicalization in Indonesia is critically necessary through the imposition of sanctions that must be enforced on terrorists in the future. Current deradicalization is not a punitive measure imposed on terrorists; instead, it seeks to eradicate their radical ideologies.  
DARI REPRESI KE KOLABORASI: PELUANG KEMITRAAN SIPIL DALAM HUBUNGAN NEGARA & OMS DI INDONESIA Viyani Annisa Permatasari Maasba; Ulil Amri; Wida Ramona Haryadi; Orin Gusta Andini
Jurnal Hukum Unsulbar Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Hukum Unsulbar
Publisher : Program Studi Hukum Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/j-law.v9i1.5854

Abstract

Negara merupakan entitas yang memiliki kuasa atas regulasi dan kebijakan, hingga mengontrol ruang sipil, di sisi lain organisasi masyarakat sipil berperan sebagai watchdog dalam mengawasi kebijakan publik agar lebih transparan dan akuntabel, termasuk melakukan advokasi dan pemberdayaan masyarakat terkait pemenuhan hak-hak dasarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan peluang bagi hubungan negara dan OMS untuk bertransformasi menuju pola yang lebih kolaboratif dengan negara. Dengan metode penelitian normatif, penelitian ini menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konsep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peluang kemitraan strategis dengan lembaga negara independen yang berperan penting dalam mengawasi pelayanan publik yang diakses oleh masyarakat, salah satunya adalah Ombudsman. Kesamaan tujuan Ombudsman dan OMS untuk memperkuat akuntabilitas pelayanan publik dan melindungi hak-hak masyarakat merupakan peluang kolaborasi yang harus dikembangkan. Ombudsman memiliki kewenangan formal dan legitimasi negara, sedangkan OMS memiliki kedekatan dengan masyarakat, data lapangan, dan kapasitas advokasi. Kolaborasi keduanya diharapkan dapat mengoptimalkan pengawasan layanan publik atas hak dasar masyarakat terpenuhi dan mendukung upaya pemberantasan korupsi di birokrasi pemerintah.
Calculating State Economic Losses Through GDP Indicators: Toward Severe Punishment Based on the Principle of Justice Ulil Amri; Amir Ilyas; M. Syukri Akub; Muhammad Mutawalli Mukhlis; Mohamed W. Abouyounes
Nusantara: Journal of Law Studies Vol. 5 No. 1 (2026): Nusantara: Journal of Law Studies
Publisher : PT. Islamic Research Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66325/nusantaralaw.v5i1.172

Abstract

Corruption causing state economic losses in Indonesia has become increasingly systemic and has generated substantial disparities in criminal sentencing over the last five years. These disparities are closely related to the absence of measurable sentencing standards and to inconsistent judicial interpretations of the calculation of state economic losses, despite the Constitutional Court’s requirement that such losses be concrete and quantifiable. This study aims to analyze state economic losses in corruption cases through the perspective of economic analysis of law and to formulate a justice-oriented framework for severe punishment based on Gross Domestic Product (GDP) indicators. This research employs a normative juridical method, drawing on statutory, conceptual, and case approaches. Legal materials were obtained from legislation, court decisions, legal doctrines, and relevant economic theories. The data were analyzed qualitatively using an economic analysis of law framework emphasizing proportionality, deterrence, efficiency, and protection of public welfare. The results of this study indicate that sentencing disparities primarily stem from the lack of standardized economic parameters for assessing the broader impact of corruption on national development and social welfare. The study finds that judicial consideration has generally focused only on direct financial losses, while indirect economic consequences, including opportunity costs, disruption of public services, decline in investment, and multiplier effects on economic growth, remain insufficiently addressed. The results further demonstrate that integrating explicit and implicit economic losses through GDP indicators provides a more objective and proportional basis for determining criminal sanctions. This study formulates a GDP-based sentencing matrix by measuring the ratio between total state economic losses and annual GDP as an indicator of macroeconomic harm. The study concludes that corruption causing extraordinary economic disruption justifies severe punishment, including life imprisonment and capital punishment, under the principle of justice. 
Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dalam Tindak Pidana Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Ulil Amri; Puspitasari Rusdi; Afif Muhni
SUPREMASI: Jurnal Pemikiran, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan Pengajarannya Volume 21, Nomor 1 (Januari 2026)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/supremasi.v21i1.82970

Abstract

Tindak Pidana Korupsi di Indonesia telah memposisikan korporasi sebagai pihak yang cukup sentral sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kerugian keuangan negara. Korporasi sebagai entitas baru dalam hukum pidana menyisakan pertanyaan mengenai konsep pertanggungjawaban dan stelsel pemidanaan korporasi dalam hukum pidana. Artikel ini membahas mengenai unsur kesalahan korporasi, sifat melawan hukum formil dan materil yang memenuhi perbuatan korporasi dan stelsel/model pemidanaan terhadap korporasi yang melakukan tindak pidana korupsi. Artikel ini memberikan penjelasan bahwa ahli yang berpandangan monistis melihat bahwa pemidanaan korporasi dapat dipertanggungjawabankan hanya dengan syarat bahwa perbuatannya harus memenuhi delik dalam undang-undang yang diperkuat oleh Teori Strict Liability. Sementara dalam pandangan dualistis, korporasi dapat dipidana dengan syarat minimal terpenuhinya unsur actus reus dan mens rea. Pendapat ini dikuatkan oleh teori vicarious liability, teori directing mind, teori identification, teori agregat, dan teori budaya korporasi. Terdapat tiga jenis model pemidanaan terhadap korporasi diantaranya pengurus sebagai pembuat, penguruslah yang bertanggungjawab, korporasi pembuat, pengurus yang bertanggungjawab, dan korporasi pembuat dan korporasi yang bertanggungjawab.
From Contractual Breach to Corporate Criminal Liability: Exploitation of Debtor Data by Account Officers in Indonesia Afif Muhni; Muhammad Basri; Syarif Saddam Rivanie; Nuriyah Fara Muthia; Ulil Amri
JUSTISI Vol. 12 No. 2 (2026): JUSTISI
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/js.v12i2.5298

Abstract

The aim of this study is to analyze criminal liability for data exploitation committed by an AO in order to establish corporate liability against the receiving bank. The method used in this study is a normative approach with legal and conceptual perspectives. This study analyzes the shift in the nature of illegality from a breach of contract to criminal data exploitation. The novelty of this study demonstrates that recipient banks, which derive economic benefits from such illegal data, qualify as Beneficial Owners subject to corporate criminal liability under the doctrine of Vicarious Liability. The results of this study indicate that the transfer of data without specific written consent constitutes a criminal offense under Article 65(2) of the Personal Data Protection Act. Conclusion This study recommends the establishment of criminal policies based on Economic Analysis of Law, applying cumulative sanctions: imprisonment for individuals and substantial administrative fines for corporations. This step is crucial to eliminate the economic incentives behind data crimes and ensure legal certainty in the digital banking environment.
Konsep Pertanggungjawaban Pidana Korporasi BUMN Dalam KUHP Nasional dan Undang-Undang BUMN Ulil Amri; I Kadek Sudiarsana; Kalen Sanata; Reza Pramasta Gegana
Judge : Jurnal Hukum Vol. 6 No. 04 (2025): Judge : Jurnal Hukum
Publisher : Cattleya Darmaya Fortuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54209/judge.v6i04.1755

Abstract

Pemisahan kekayaan negara dan BUMN telah membuka peluang untuk memidana BUMN sebagai entitas korporasi sebagaimana dalam KUHP Nasional dan UU BUMN Baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertanggungjawaban pidana BUMN dalam KUHP Nasional dan menganalisis bentuk harmonisasi konsep pertanggungjawaban pidana BUMN dalam KUHP Nasional dan UU No. 1 Tahun 2025. Tipe penelitian menggunakan tipe penelitian normatif menggunakan pendekatan konsep dan pendekatan perundang-undangan. Bahan hukum bersumber dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang dianalisis menggunakan analisis preskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) BUMN dapat dimintai pertanggungjawaban pidana berdasarkan Pasal 45 KUHP Nasional yang mengategorikan BUMN sebagai entitas yang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Hal ini juga selaras dengan teori pertanggungjawaban pidana korporasi diantaranya teori vicarious liability, teori directing mind, teori identifikasi dan teori pelaku fungsional, dan 2) UU No. 1 Tahun 2025 memisahkan BUMN dari negara (kekayaan negara) yang bertujuan untuk membuat demarkasi yang jelas antara tanggung jawab publik dan tanggung jawab korporasi. Pemisahan ini berarti kekayaan negara yang digunakan untuk penyertaan modal pada BUMN tidak lagi menjadi bagian dari APBN dan dikelola berdasarkan prinsip-prinsip perusahaan yang sehat, bukan lagi berdasarkan sistem APBN. Pemisahan entitas tersebut mempertegas posisi BUMN sebagai entitas yang dapat dimintai pertanggungjawaban secara pidana.