Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Myth of Beauty: The Efforts of The “Unej Cantik” Community to Achieve Ideal Beauty Thalia, Vena; Sair, Abdus; Elanda, Yelly; Alie, Azizah; Sholahudin, Umar
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol. 8 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisma.v8i1.8810

Abstract

This article analyzes the myth of beauty within the “UNEJ Cantik” community, focusing on its members' efforts to achieve the ideal concept of beauty. The research highlights the collective and horizontal interactions among community members in shaping beauty standards, a perspective that is less commonly discussed compared to studies emphasizing the role of individuals or influencers in establishing beauty norms. Using the netnography method, data were collected through observations and in-depth interviews with community members, comprising 10 core informants, 5 additional informants, and 2 account administrators. The findings reveal that the community's ideal beauty standards include glowing skin, a slim body, straight hair, and natural makeup. These standards are influenced by three main contexts: mass media (including social media), Dutch colonial heritage, and the local Pandhalungan culture. To achieve these standards, community members engage in various practices such as using skincare products, undergoing whitening injections, getting hair treatments, and getting eyelash extensions. This phenomenon reflects the tension between students' rational aspirations and the exploitation by the beauty market, as well as the clash between local values and global aesthetics. Thus, this study aims to foster critical awareness of the social pressures arising from the homogenization of modern beauty standards.
Wacana Childfree dan Ekspektasi Netizen: Studi Kasus Gita Savitri dan Cinta Laura dalam Konteks Budaya Indonesia: Discourse on Childfreedom and Netizen Expectations: A Case Study of Gita Savitri and Cinta Laura within the Indonesian Cultural Context Barakah, Fadlan; Elanda, Yelly; Evendi, Azhari; Fitri, Meila Riskia; Royandi, Eva
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i1.4323

Abstract

The phenomenon of childfree, or the choice not to have children, has garnered increasing attention in Indonesia, a country where religious and cultural norms strongly dictate childbearing as a duty. This study aims to examine how the lifestyle choice of being childfree is communicated and received within the Indonesian social context, through the discourse analysis of childfree narratives shared by two influencers, Gita Savitri and Cinta Laura, and the response from Indonesian netizens. Employing Foucault’s critical discourse analysis approach, this research explores the construction of discourse, power relations, and the dynamics of ideology within the discussion of childfree. The research methodology includes content analysis of social media and mass media related to the childfree statements of the two influencers and the reactions they receive. Findings reveal significant differences in the way Gita Savitri and Cinta Laura present their childfree choices and in the netizen responses, influenced by the extent to which their choices align with or challenge dominant social norms. The conclusion of this study underscores that the acceptance of childfree in Indonesia depends not only on the discourse content itself but also on how individuals interact with broader social and cultural structures. Abstrak Fenomena childfree, atau pilihan untuk tidak memiliki anak, mendapatkan perhatian yang meningkat di Indonesia, sebuah negara dengan kuatnya pengaruh norma agama dan budaya yang menganggap memiliki anak sebagai sebuah kewajiban. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana childfree sebagai pilihan hidup dikomunikasikan dan diterima dalam konteks sosial Indonesia, melalui analisis wacana childfree yang disampaikan oleh dua influencer, Gita Savitri dan Cinta Laura, dan respons netizen Indonesia terhadapnya. Menggunakan pendekatan analisis wacana kritis Foucault, studi ini mengeksplorasi konstruksi wacana, relasi kekuasaan, dan dinamika ideologi dalam diskusi childfree. Metode penelitian melibatkan analisis konten media sosial dan media massa yang berkaitan dengan pernyataan childfree kedua influencer dan respons yang mereka terima. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan dalam cara Gita Savitri dan Cinta Laura mempresentasikan pilihan childfree mereka dan perbedaan dalam respons netizen, yang dipengaruhi oleh sejauh mana pilihan mereka sejalan atau bertentangan dengan norma sosial dominan. Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa penerimaan childfree di Indonesia tidak hanya tergantung pada konten wacana itu sendiri tetapi juga pada bagaimana individu berinteraksi dengan struktur sosial dan budaya yang lebih luas.
Pemberdayaan Kader PKK dalam Penguatan Ketahanan Keluarga di Desa Tejoasri Kabupaten Lamongan Alie, Azizah; Elanda, Yelly; Sair, Abdus; Mulyani, Aprillia Dwi; Ludiana, Ameliya Defi; Arinta, Noor Laili Mardziana
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 16, No 1 (2025): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v16i1.20013

Abstract

Keluarga merupakan lembaga terkecil dalam masyarakat yang menjadi ruang untuk bersosialisasi dan mendapatkan nilai serta norma. Keluarga menjadi benteng pertama untuk menghadapi permasalahan sosial. Ketidakberfungsian dan ketidakberlangsungan keluarga akan berimplikasi pada masalah sosial yang luas di masyarakat. Maka dari itu penting untuk memperkuat ketahanan keluarga dengan menyiapkan keluarga dalam menghadapi tantangan, masalah dan ancaman baik yang datang dari dalam maupun dari luar keluarga. Selama ini program untuk mengurangi angka perceraian hanya dilakukan oleh pihak KUA saja padahal di sejumlah kota di Jawa Timur telah menempatkan penyelesaian masalah rumah tangga di tingkat desa melalui kehadiran PKK. Penting kiranya untuk membekali kader PKK mengenai ketahanan keluarga untuk mencegah terjadinya perceraian dan meningkatkan ketahanan keluarga khususnya di Desa Tejoasri Kabupaten Lamongan. Metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah PRA (Participatory Rural Appraisal) dimana melibatkan peran serta masyarakat atau mitra sasaran mulai dari perencanaan hingga tahap evaluasi. Dalam pelaksanaannya, tim pengabdi melakukan pelatihan dan FGD dengan kader PKK. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini yakni kader PKK dapat memahami pentingnya penguatan ketahanan  keluarga dan cara penyelesaian dalam rumah tangga. Selain itu, dari hasil pelatihan dan FGD menghasilkan rumusan tentang tantangan, program dan strategi dalam penguatan ketahanan keluarga di Desa Tejoasri Kabupaten Lamongan.
Transformasi Sosial dan Relasi Kuasa Dalam Praktik Kawin Tangkap (Paneta Mawinne) di Desa Mareda Kalada, Sumba Barat Daya: Social Transformation and Power Relations In The Practice Of Capture Marriage (Paneta Mawinne) In Mareda Kalada Village, Southwest Sumba Elanda, Yelly; Seha Aldjufrie, Syarifah; Alie, Azizah; Wahyudi, Ruslan
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol. 14 No. 2 (2025): Negotiating Tradition and Modernity
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v14i2.53779

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi sosial dan relasi kuasa yang terjadi dalam praktik kawin tangkap atau yang dikenal secara lokal sebagai paneta mawinne di Desa Mareda Kalada, Sumba Barat Daya. Paneta mawinne sebagai sebuah tradisi tidak bersifat statis, tetapi mengalami dinamika dan reinterpretasi seiring dengan perubahan zaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan 8 informan (mulai dari tetua adat, keluarga pelaku, korban, hingga aparat desa), serta studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi praktik paneta mawinne terjadi dalam tiga bentuk utama: (1) Pergeseran motif dari legitimasi adat ke motif ekonomi dan penyelesaian “aib” pra-nikah; (2) Penguatan dimensi kekerasan dan koersi fisik dibandingkan dengan simbolisme adat; (3) Peran agensi perempuan yang mulai muncul melalui perlawanan terbuka maupun diam-diam. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa relasi kuasa yang terbentuk dari praktik kawin tangkap sangat timpang, didominasi oleh laki-laki dan struktur patriarki adat yang menggunakan narasi “tradisi” untuk melanggengkan hegemoni. Namun demikian, hegemoni ini tidak bersifat absolut. Resistensi dari perempuan, intervensi hukum negara, dan tekanan dari organisasi sipil mulai menciptakan ruang negosiasi baru, meskipun masih sangat terbatas. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa paneta mawinne merupakan konstruksi sosial yang dinamis atau “medan pertarungan” antara kekuatan tradisi, kepentingan ekonomi-patriarkal, dan tuntutan modernitas akan hak asasi manusia serta kesetaraan gender.