Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Tindakan Menjaga Kebersihan Diri (Personal Hygiene) dengan Penggunaan Metode Mencegah, Menunda, Menghentikan Kehamilan (Kontrasepsi) pada Wanita Usia Subur dengan Kejadian Keputihan Lumastari Ajeng Wijayanti; Musdalifah; Nur Afifah Harahap; Sitti Hardiyanti; Leli
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2618

Abstract

Keputihan merupakan masalah kesehatan reproduksi yang umum terjadi pada wanita usia subur. Salah satu faktor pemicunya adalah kebersihan organ intim serta penggunaan alat kontrasepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tindakan menjaga kebersihan diri (personal higiene) dengan penggunaan metode kontrasepsi terhadap kejadian keputihan pada wanita usia subur. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner pada 100 wanita usia 20-35 tahun yang menggunakan kontrasepsi di Puskesmas X. Hasil menunjukkan bahwa kurangnya melakukan personal higiene serta penggunaan kontrasepsi tertentu seperti IUD berhubungan signifikan dengan meningkatnya kejadian keputihan. Penting untuk melakukan edukasi berkala mengenai kebersihan organ intim dan pemilihan kontrasepsi yang tepat untuk mengurangi risiko keputihan.
Perbandingan Penggunaan Telehealth dengan Konsultasi Tatap Muka dalam Asuhan Kebidanan Nur Afifah Harahap; Susanti; Fanni Astuti; Bayu Larasati Wulandari; Rahmaniyah R
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2894

Abstract

Inovasi digital di sektor kesehatan, khususnya telehealth, telah menjadi salah satu alternatif penting dalam pemberian layanan kebidanan, terutama selama pandemi COVID-19 dan di wilayah dengan keterbatasan akses fasilitas kesehatan. Namun, efektivitas dan kepuasan pasien terhadap telehealth dibandingkan dengan konsultasi tatap muka masih menjadi pertanyaan penting dalam praktik kebidanan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas dan tingkat kepuasan pasien terhadap penggunaan telehealth dengan konsultasi tatap muka dalam pelayanan asuhan kebidanan. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 120 ibu hamil dipilih secara purposive sampling, terdiri dari pengguna layanan telehealth dan konsultasi langsung di fasilitas kebidanan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur kualitas pelayanan dan kepuasan pasien. Analisis data dilakukan dengan uji paired t-test dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam dimensi kualitas informasi antara telehealth dan tatap muka (p=0,213). Namun, terdapat perbedaan signifikan pada dimensi kejelasan komunikasi (p=0,001), responsivitas (p=0,009), serta kepuasan umum (p=0,015), di mana konsultasi tatap muka lebih unggul. Di sisi lain, telehealth dinilai lebih efisien dalam aspek waktu dan aksesibilitas (p=0,000). Telehealth dapat menjadi alternatif yang layak untuk asuhan kebidanan terutama dalam kondisi tertentu seperti pandemi atau daerah terpencil. Namun, untuk aspek komunikasi interpersonal dan hubungan emosional, konsultasi tatap muka tetap lebih unggul. Kombinasi keduanya secara strategis dapat meningkatkan mutu dan jangkauan layanan kebidanan di masa depan.
Psychosocial Vulnerability of Children Due to Exposure to Extreme Weather: A Systematic Literature Review Achmad Rizki Azhari; Osep Yasier Almunsiri; Nur Afifah Harahap
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45858

Abstract

According to UNICEF, by 2050, an estimated 2.2 billion children will face the direct impacts of global warming, with heat stress identified as a key consequence. This article presents a global systematic literature review examining the psychosocial vulnerability of children exposed to extreme weather. Using a qualitative descriptive approach, relevant studies were identified through searches on ResearchGate, Google Scholar, and PubMed. The review focused on publications from 2020 to 2025 and ultimately included eight studies that met the inclusion criteria. A total of 62 articles were initially screened. The findings reveal that exposure to high temperatures significantly increases the risk of mental health issues in children, such as stress, sleep disturbances, depressive episodes, and post-traumatic stress disorder. These psychosocial effects highlight the urgent need to enhance the resilience of vulnerable children and their families, enabling them not only to cope with the effects of climate change but also to adapt to evolving environmental conditions. Strengthening social and emotional support systems is essential to mitigate the long-term psychological impact of climate-induced extreme weather on younger populations.
AMBIENT PM2.5 CONCENTRATION AND THE RISK OF HYPERTENSION IN ADULTS: A META-ANALYSIS STUDY Achmad Rizki Azhari; Maya Sari; Osep Yasier Almunsiri; Nur Afifah Harahap
Proceeding of Banten Internasional Conference on Health Advancement and Research Vol. 1 No. 1 (2026): Proceeding Banten International Conference on Health Advancement & Research (BI
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Long-term exposure to ambient fine particulate pollution (PM2.5) has been associated with cardiovascular diseases. Hypertension, a major risk factor for cardiovascular diseases, has also been hypothesized to be linked to PM2.5. Annual average PM2.5 concentrations were estimated for each community using satellite data. We applied two-level logistic regression models to examine the associations, and estimated hypertension burden attributable to ambient PM2.5.
Pemberdayaan Ibu Hamil melalui Program 1000 HPK sebagai Strategi Mewujudkan Generasi Sehat Bebas Stunting Yayah Rokayah; Nur Afifah Harahap; Siti Rusyanti
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i8.26604

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan masalah gizi kronis yang terjadi akibat kekurangan gizi dalam waktu lama, infeksi berulang, serta kurangnya pemahaman keluarga mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Upaya pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan karena status gizi ibu hamil sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan janin. Desa Pasar Keong, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak merupakan salah satu wilayah dengan permasalahan stunting yang masih cukup tinggi, yaitu terdapat 55 balita stunting dari total 407 balita. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut adalah masih terbatasnya pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil mengenai pentingnya Program 1.000 HPK dalam mencegah stunting. Oleh karena itu, dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pendampingan Program 1.000 HPK untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu hamil dalam upaya pencegahan stunting. Sasaran kegiatan ini adalah 20 ibu hamil di Desa Pasar Keong. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi edukasi kesehatan mengenai Program 1.000 HPK, demonstrasi penyusunan menu gizi seimbang dengan konsep Isi Piringku, pendampingan, serta pemantauan melalui kegiatan Posyandu yang melibatkan bidan desa dan tenaga kesehatan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan dan sikap, serta observasi terhadap perubahan perilaku ibu hamil. Sebelum diberikan edukasi, rata-rata nilai pengetahuan ibu hamil sebesar 60 dan nilai sikap sebesar 40. Setelah mengikuti kegiatan pendampingan, rata-rata nilai pengetahuan meningkat menjadi 90 dan nilai sikap meningkat menjadi 80. Selain itu, ibu hamil menunjukkan perubahan perilaku yang positif, ditandai dengan meningkatnya kemampuan dalam menerapkan pola makan bergizi seimbang menggunakan konsep Isi Piringku, melakukan pemantauan kehamilan secara rutin, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mempersiapkan pemberian ASI eksklusif, serta memahami pentingnya pemenuhan gizi ibu dan anak sebagai upaya pencegahan stunting. Ibu hamil juga mampu menjelaskan kembali materi edukasi, memilih bahan makanan bergizi, serta memanfaatkan metode food recall sebagai bagian dari pemantauan konsumsi makanan sehari-hari. Kegiatan pendampingan Program 1.000 HPK terbukti mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil dalam pencegahan stunting sehingga perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui dukungan tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah desa, dan lintas sektor sebagai upaya percepatan penurunan angka stunting di masyarakat. Kata Kunci: 1000 HPK, Ibu Hamil, Stunting, Pemberdayaan.ABSTRACT Stunting is a chronic nutritional problem caused by prolonged undernutrition, recurrent infections, and limited family awareness regarding the importance of adequate nutrition from pregnancy until a child reaches two years of age, commonly referred to as the First 1,000 Days of Life (1,000 HPK). Stunting prevention should begin during pregnancy because the nutritional status of pregnant women plays a crucial role in fetal growth and development. Pasar Keong Village, Cibadak District, Lebak Regency, is one of the areas with a relatively high prevalence of stunting, with 55 out of 407 children under five affected. One of the contributing factors is the limited knowledge, attitudes, and practices of pregnant women regarding the importance of the First 1,000 Days of Life Program in preventing stunting. Therefore, a community service program was implemented through mentoring based on the First 1,000 Days of Life (1,000 HPK) Program to improve pregnant women's knowledge, attitudes, and practices toward stunting prevention. The program targeted 20 pregnant women in Pasar Keong Village. The activities included health education on the First 1,000 Days of Life Program, demonstrations on preparing balanced nutritious meals using the My Plate concept, individualized mentoring, and monitoring through Integrated Health Service Posts (Posyandu) in collaboration with village midwives and other healthcare personnel. Program evaluation was conducted using pre-test and post-test assessments to measure changes in knowledge and attitudes, as well as observations of participants' behavioral changes. Before the educational intervention, the mean knowledge score of the pregnant women was 60, while the mean attitude score was 40. Following the mentoring program, the mean knowledge score increased to 90, and the mean attitude score improved to 80. In addition, positive behavioral changes were observed, as evidenced by the participants' increased ability to apply balanced nutrition using the My Plate concept, attend routine antenatal care visits, practice Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS), prepare for exclusive breastfeeding, and understand the importance of meeting maternal and child nutritional needs to prevent stunting. The participants were also able to explain the educational materials, select healthy food choices, and apply the food recall method to monitor their daily dietary intake. The mentoring program based on the First 1,000 Days of Life (1,000 HPK) successfully improved pregnant women's knowledge, attitudes, and practices regarding stunting prevention. Therefore, the program should be sustained through continuous support from healthcare workers, Posyandu cadres, village authorities, and cross-sector collaboration to accelerate stunting reduction at the community level. Keywords: 1000 HPK, Pregnant Women, Stunting, Empowerment.