Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

DETERMINASI KADAR TOTAL POLIFENOL TERLARUT, HESPERETIN DAN QUERCETIN PADA DAUN, KULIT DAN ISI BUAH Citrus aurantifolia (Christm & Panzer) Swingle Mahyuni, Siti
FITOFARMAKA | Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 6, No 1 (2016): Vol.6, No.1, Juni 2016
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.172 KB)

Abstract

Hesperitin dan quercetin adalah senyawa bioaktif golongan polifenol yang biasa terdapat tanaman genus Citrus sp. Hesperetin dan quercetin memiliki berbagai aktifitas farmakologis seperti antioksidan, antiinflamasi, antihipertensi dan mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Senyawa-senyawa tersebut tersebar pada berbagai bagian tanaman Citrus dengan kadar yang berbeda-beda, sehingga untuk proses ekstraksi yang optimal, perlu diketahui pola sebaran dan kadarnya pada bagian-bagian yang berbeda dari tanaman Citrus. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar total polifenol terlarut, hesperetin, dan quercetin pada daun, kulit buah, dan isi buah isi buah Citrus aurantifolia. Hasil pengukuran kadar total polifenol terlarut dengan standar i menunjukan bahwa kadar total polifenol terlarut paling tinggi terdapat pada kulit buah (6,954 mg/g berat basah) kemudian  daun (4,675 mg/g berat basah) dan isi buah (2,243 mg/g berat basah). Kadar hespertin dan quercetin yang diukur menggunakan sistem high performance liquid chomatograpy (HPLC) menunjukan pola sebaran yang berbeda. Kadar hesperetin tertinggi terdapat pada isi buah  58,43 (µg/g berat kering) kemudian kulit buah (32,49µg/g berat kering) namun tidak terdeteksi keberadaannya pada daun.  Sebaran senyawa quercetin menunjukan pola sebaliknya dimana kadar quercetin tertinggi terdapat pada kulit buah (112,47 µg/g berat kering) dan terendah terdapat pada isi buah (89,4947 µg/g berat kering) sementara pada daun buah terdapat quercetin dengan kadar (92,71 µg/g berat  kering). Dari hasil penelitian ini dapat  disimpulkan   hesperetin dan quercetin terakumulasi pada bagian yang berbeda  dari tanaman Citrus aurantifolia. Kata kunci: Citrus aurantifolia, hesperetin, quercetin, total polifenol terlarut 
KADAR SAPONIN DAN AKTIFITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN Filicium decipiens (Wight & Arn.) Thwaites TERHADAP Staphylococcus aureus, Escherichia coli DAN Cdanida albicans Mahyuni, Siti; Sofihidayati, Trirakhma
FITOFARMAKA | Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 8, No 2 (2018): Fitofarmaka Volume 8.2 2018
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.814 KB)

Abstract

Tanaman Filicium decipiens atau kiara sabun dikenal sebagai tanaman penghasil saponin yang merupakan golongan metabolit sekunder dengan toksisitas tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur kadar saponin dan menguji aktifitas antibakteri serta anti jamur dari ekstrak daun F. decipiens. Metode penelitian meliputi ekstraksi daun segar dan daun kering F. decipiens menggunakan metode soxhlet dengan defatisasi, pengukuran kadar saponin, pengujian aktifitas ekstrak (konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60%, 80%) terhadap bakteri Eschericia coli dan bakteri Staphylococcus aureus dan jamur Cdanida albicans dengan metode difusi agar Kirby-Bauer dan penentuan nilai lebar daerah hambat (LDH) dan konsentrasi hambat minimum (KHM). Hasil penelitian menunjukkan daun kiara payung memiliki kadar sapaonin cukup tinggi yaitu 125 mg/g (12.5%) pada daun segar dan 97 mg/g (9.7 %) dan pada daun kering. Ekstrak methanol kiara payung pada konsentrasi 80% juga menunjukkan aktifitas antibakteri terhadap S. aureus dengan diameter LDH mencapai 22.6 mm pada ekstrak daun segar dan 22 mm  pada ekstrak daun kering. Konsentrasi hambat minimum baik pada ekstrak daun segar maupun ekstrak daun kering adalah 14%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kiara payung memiliki kadar saponin yang cukup tinggi dan aktifitas antibakteri yang kuat sehingga berpotensi untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan antibiotik alami.Kata Kunci: Filicium decipiens, kiara payung, saponin, antibiotik alami
KADAR SAPONIN DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN Filicium decipiens (Wight & Arn.) Thwaites TERHADAP Staphylococcus aureus, Escherichia coli DAN Candida albicans Mahyuni, Siti; Sofihidayati, Trirakhma
FITOFARMAKA: Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 8, No 2 (2018): Fitofarmaka Volume 8 No. 2 Tahun 2018
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.814 KB) | DOI: 10.33751/jf.v8i2.1066

Abstract

Tanaman Filicium decipiens atau kiara sabun dikenal sebagai tanaman penghasil saponin yang merupakan golongan metabolit sekunder dengan toksisitas tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur kadar saponin dan menguji aktifitas antibakteri serta anti jamur dari ekstrak daun F. decipiens. Metode penelitian meliputi ekstraksi daun segar dan daun kering F. decipiens menggunakan metode soxhlet dengan defatisasi, pengukuran kadar saponin, pengujian aktifitas ekstrak (konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60%, 80%) terhadap bakteri Eschericia coli dan bakteri Staphylococcus aureus dan jamur Candida albicans dengan metode difusi agar Kirby-Bauer dan penentuan nilai lebar daerah hambat (LDH) dan konsentrasi hambat minimum (KHM). Hasil penelitian menunjukkan daun kiara payung memiliki kadar sapaonin cukup tinggi yaitu 125 mg/g (12.5%) pada daun segar dan 97 mg/g (9.7 %) dan pada daun kering. Ekstrak methanol kiara payung pada konsentrasi 80% juga menunjukkan aktifitas antibakteri terhadap S. aureus dengan diameter LDH mencapai 22.6 mm pada ekstrak daun segar dan 22 mm  pada ekstrak daun kering. Konsentrasi hambat minimum baik pada ekstrak daun segar maupun ekstrak daun kering adalah 14%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kiara payung memiliki kadar saponin yang cukup tinggi dan aktifitas antibakteri yang kuat sehingga berpotensi untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan antibiotik alami.
Identification of molecular bacterial isolate endofit bacteria Kasturi mango (Mangifera casturi Kosterm) leaves and analysis of antibacterial activity Usep Suhendar; Siti Mahyuni; Sogandi Sogandi
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 11 No. 1 (2021): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.886 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v11i1.294

Abstract

The increase in infectious diseases caused by pathogenic bacteria impacts the increase in the incidence of pathogenic bacteria to antibiotics. This study aimed to find candidates for the endophytic bacterial isolates of kasturi mango, which have antibacterial potential. After being tested against the pathogenic bacteria, Bacterial isolates showed potential activity using the disc diffusion method. The observations of five endophytic bacterial isolates from the leaves of Kasturi mango, namely L1, L2, L3, L4, and L5, showed that L2 was the most potential compared to other isolates. The formation of a clear zone indicates the inhibitory activity. Molecular identification was carried out by PCR amplification on the 16S rRNA gene. Furthermore, the L2 isolate was identified as Enterobacter cloacae with a 99% sequence similarity. Subsequent tests on several bacteria, including S. mutans ATCC 31987, S. aureus ATCC 25323, E. coli ATCC 25922 and Shigella dysenteriae ATCC 13313. All isolates showed an inhibition zone in the five bacteria.Keywords: Endophyte, Kasturi Mango, AntibacterialABSTRAKIdentifikasi molekuler isolat bakteri endofit daun mangga Kasturi (Mangifera casturi Kosterm) dan analisis aktivitas antibakteriMeningkatnya angka kejadian penyakit menular yang diakibatkan oleh bakteri patogen berdampak pada meningkatknya kemampuan resistensi bakteri patogen terhadap antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kandidat isolat bakteri endofit daun mangga kasturi yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Isolat bakteri yang telah diujikan terhadap bakteri patogen Propionibacterium acnes menunjukkan aktivitas potensial dengan menggunakan metode difusi cakram. Hasil pengamatan dari lima isolat bakteri endofit dari daun mangga kasturi yaitu L1, L2, L3, L4, dan L5 menunjukan L2 yang paling potensial dibandingkan isolat yang lain. Aktivitas penghambatan ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening. Identifikasi molekuler dilakukan dengan amplifikasi PCR pada gen 16S rRNA. Selanjutnya, isolat L2 diidentifikasi sebagai Enterobacter cloacae dengan kemiripan urutan 99%.  Pengujian berikutnya dilakukan terhadap beberapa bakteri diantaranya bakteri S. mutans ATCC 31987, S. aureus ATCC 25323, E. coli ATCC 25922 dan S. dysenteriae ATCC 13313. Semua isolat menujukkan adanya zona hambat pada kelima bakteri tersebut.Kata Kunci: Endofit, Mangga Kasturi, Antibakteri
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JAMUR ENDOFIT PADA UMBI TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schoot) Fitria Dewi Sulistiyono; Siti Mahyuni
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 9 No. 2 (2019): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.386 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v9i2.235

Abstract

Isolation and Identification of Endofit Fungus in Taro Tubers (Colocasia esculenta (L.) Schoot)Endophytic fungi are fungi the living and associated in plant tissue. Association the endophytic and host are mutualism. The ability of endophytic producing a secondary compound is an opportunity to be developed. The aims of this research is isolate and identify the types of endophytic fungi in tubers of taro. The methode used microscopis and macroscopis idetify. The result types of endophytic fungi in tubers of taro are Aspergillus, Sclerotium, Fusarium, Mucor and Rhizopus.Keyword: Taro, Idetify, Endophytic fungiABSTRAKMikroorganisme endofitik adalah mikroorganisme yang hidup dan berasosiasi di dalam jaringan tanaman inang. Asosiasi yang terjadi umumnya bersifat mutualisme. Kemampuan mikroorganisme endofitik memproduksi senyawa metabolit sekunder sesuai dengan tanaman inangnya merupakan peluang yang sangat baik. Pemanfaatan mikroorganisme endofit diharapkan dapat melestarikan tanaman inangnya yang membutuhkan waktu untuk tumbuh dan berkembang.  Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi dan mengidentifikasi jenis-jenis jamur endofit yang terdapat pada umbi talas. Metode yang digunakan adalah identifikasi secara mikroskopis dan makroskopis. Hasil identifikasi dengan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis diperoleh genus Aspergillus, , Sclerotium, Fusarium, Mucor, dan Rhizopus.Kata kunci : Talas, Identifikasi, Kapang endofit
DETERMINASI KADAR TOTAL POLIFENOL TERLARUT, HESPERETIN DAN QUERCETIN PADA DAUN, KULIT DAN ISI BUAH Citrus aurantifolia (Christm & Panzer) Swingle Siti Mahyuni
FITOFARMAKA: Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 6, No 1 (2016): Fitofarmaka Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.172 KB) | DOI: 10.33751/jf.v6i1.749

Abstract

Hesperitin dan quercetin adalah senyawa bioaktif golongan polifenol yang biasa terdapat tanaman genus Citrus sp. Hesperetin dan quercetin memiliki berbagai aktifitas farmakologis seperti antioksidan, antiinflamasi, antihipertensi dan mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Senyawa-senyawa tersebut tersebar pada berbagai bagian tanaman Citrus dengan kadar yang berbeda-beda, sehingga untuk proses ekstraksi yang optimal, perlu diketahui pola sebaran dan kadarnya pada bagian-bagian yang berbeda dari tanaman Citrus. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar total polifenol terlarut, hesperetin, dan quercetin pada daun, kulit buah, dan isi buah isi buah Citrus aurantifolia. Hasil pengukuran kadar total polifenol terlarut dengan standar i menunjukan bahwa kadar total polifenol terlarut paling tinggi terdapat pada kulit buah (6,954 mg/g berat basah) kemudian daun (4,675 mg/g berat basah) dan isi buah (2,243 mg/g berat basah). Kadar hespertin dan quercetin yang diukur menggunakan sistem high performance liquid chomatograpy (HPLC) menunjukan pola sebaran yang berbeda. Kadar hesperetin tertinggi terdapat pada isi buah 58,43 (g/g berat kering) kemudian kulit buah (32,49g/g berat kering) namun tidak terdeteksi keberadaannya pada daun. Sebaran senyawa quercetin menunjukan pola sebaliknya dimana kadar quercetin tertinggi terdapat pada kulit buah (112,47 g/g berat kering) dan terendah terdapat pada isi buah (89,4947 g/g berat kering) sementara pada daun buah terdapat quercetin dengan kadar (92,71 g/g berat kering). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan hesperetin dan quercetin terakumulasi pada bagian yang berbeda dari tanaman Citrus aurantifolia.Kata kunci: Citrus aurantifolia, hesperetin, quercetin, total polifenol terlarut
KADAR SAPONIN DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN Filicium decipiens (Wight & Arn.) Thwaites TERHADAP Staphylococcus aureus, Escherichia coli DAN Candida albicans Siti Mahyuni; Trirakhma Sofihidayati
FITOFARMAKA: Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 8, No 2 (2018): FITOFARMAKA | Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.129 KB) | DOI: 10.33751/jf.v8i2.1571

Abstract

Tanaman Filicium decipiens atau kiara sabun dikenal sebagai tanaman penghasil saponin yang merupakan golongan metabolit sekunder dengan toksisitas tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur kadar saponin dan menguji aktifitas antibakteri serta anti jamur dari ekstrak daun F. decipiens. Metode penelitian meliputi ekstraksi daun segar dan daun kering F. decipiens menggunakan metode soxhlet dengan defatisasi, pengukuran kadar saponin, pengujian aktifitas ekstrak (konsentrasi 10%, 20%, 40%, 60%, 80%) terhadap bakteri Eschericia coli dan bakteri Staphylococcus aureus dan jamur Candida albicans dengan metode difusi agar Kirby-Bauer dan penentuan nilai lebar daerah hambat (LDH) dan konsentrasi hambat minimum (KHM). Hasil penelitian menunjukkan daun kiara payung memiliki kadar sapaonin cukup tinggi yaitu 125 mg/g (12,5%) pada daun segar dan 97 mg/g (9,7 %) dan pada daun kering. Ekstrak methanol kiara payung pada konsentrasi 80% juga menunjukkan aktifitas antibakteri terhadap S. aureus dengan diameter LDH mencapai 22,6 mm pada ekstrak daun segar dan 22 mm  pada ekstrak daun kering. Konsentrasi hambat minimum baik pada ekstrak daun segar maupun ekstrak daun kering adalah 14%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kiara payung memiliki kadar saponin yang cukup tinggi dan aktifitas antibakteri yang kuat sehingga berpotensi untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan antibiotik alami.
UJI DAYA HAMBAT SEDIAAN SABUN CAIR EKSTRAK DAUN PALA (Myristica fragrans houtt) TERHADAP Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus Atika Pratiwi; Ella Noorlaela; Siti Mahyuni
EKOLOGIA Vol 19, No 2 (2019): EKOLOGIA: JURNAL ILMIAH ILMU DASAR DAN LINGKUNGAN HIDUP
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.774 KB) | DOI: 10.33751/ekol.v19i2.1649

Abstract

Bacteria that cause acne include Staphylococcus aureus and Propionibacterium acnes. Nutmeg leaves are plants that contain antibacterial substances that can inhibit bacterial growth. The purpose of this study is to make soap preparations from nutmeg leaf extracts and find out the formula that is most effective in inhibiting the growth of P.acnes and Staphylococcus aureus bacteria. Nutmeg leaves were extracted using maceration method with 96% ethanol solvent. Liquid soap preparations are made in 4 formulas. Antibacterial activity test was carried out by the dilution method for MIC and disk diffusion methods to determine LDH liquid soap preparations. Based on the test of the antibacterial activity of 96% ethanol extract, nutmeg leaves have the ability to inhibit the growth of Staphylococcus aureus with a MIC value at a concentration of 0.5% and negative on Propionibacterium acnes. Liquid soap preparations in F1 (extract 2%) have LDH values of 9.87 ± 0.41 mm; F2 (extract 4%) has an LDH value of 10.50 ± 0.35 mm; F3 (extract 8%) has an LDH value of 10.70 ± 0.25 mm; F4 (extract 10%) has an LDH value of 11.87 ± 0.25 mm. The highest LDH value is F4 with a concentration of 10% extract, LDH F4 is a formula that has the most antibacterial activity approaching LDH positive control JF Sulfur which has an LDH value of 13.25 ± 0.25 mm
Edukasi metode cuci tangan dan sikat gigi untuk mencegah diare dan karies pada anak usia pra-sekolah Siti Mahyuni; Mindiya Fatmi; Wilda Nurhikmah
Abdimas Siliwangi Vol 6, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : IKIP SILIWANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/as.v6i1.14425

Abstract

Prevalensi kejadian diare dan karies gigi di Indonesia masih cukup tinggi terutama pada anak-anak usia pra sekolah. Diare bisa berujung kepada dehidrasi dengan konsekuensi yang fatal dan berpotensi merenggut nyawa penderita jika terjadi pada anak-anak. Karies pada anak akan menimbulkan rasa sakit yang berdampak pada keengganan anak untuk mengunyah makanan sehingga terjadi malnutrisi dan malposisi gigi tetap. Untuk mencegah kejadian diare dan karies gigi pada anak usia pra sekolah, perlu dilakukan edukasi dengan metode yang tepat, efektif dan mudah  diingat oleh anak usia pra sekolah. Metode yang digunakan pada kegiatan edukasi  “Edukasi Kebersihan Tangan dan Sikat Gigi Untuk Mencegah Diare dan Karies Pada Anak Usia Pra-Sekolah”  adalah ceramah dipadukan dengan pemutaran video demonstrasi dengan musik dan lagu, serta demostrasi langsung menggunakan bantuan alat peraga. Edukasi disampaikan disesuaikan dengan bahasa dan sikap yang sesuai psikologi anak usia pra sekolah sehingga menarik, tidak membosankan, mudah diingat, dan dapat dipraktekan secara rutin setelah kegiatan berakhir. Dari kegiatan ini didapatkan data terdapat cukup tinggi angka  kekeliruan dalam teknik menggosok gigi dan mencuci tangan sebesar masing-masing 42% dan 73%. Setelah kegiatan edukasi selesai, tingkat kekeliruan teknik menggosok gigi dan mencuci tangan berkurang manjadi masing-masing 96% dan 36%. Data hasil kegiatan juga menginformasikan bahwa 83% responden mendapatkan pengetahun  baru dan 92% responden menginginkan pengulangan kegiatan edukasi secara berkala. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan edukasi dapat mengurangi kekeliruan cara menggosok gigi dan mencuci tangan sehingga diharapkan dapat menurunkan angka karies gigi dan kejadian diare pada anak usia pra sekolah.
UJI DAYA HAMBAT SEDIAAN SABUN CAIR EKSTRAK DAUN PALA (Myristica fragrans houtt) TERHADAP Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus Atika Pratiwi; Ella Noorlaela; Siti Mahyuni
Ekologia: Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup Vol 19, No 2 (2019): Ekologia : Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/ekol.v19i2.1649

Abstract

Bacteria that cause acne include Staphylococcus aureus and Propionibacterium acnes. Nutmeg leaves are plants that contain antibacterial substances that can inhibit bacterial growth. The purpose of this study is to make soap preparations from nutmeg leaf extracts and find out the formula that is most effective in inhibiting the growth of P.acnes and Staphylococcus aureus bacteria. Nutmeg leaves were extracted using maceration method with 96% ethanol solvent. Liquid soap preparations are made in 4 formulas. Antibacterial activity test was carried out by the dilution method for MIC and disk diffusion methods to determine LDH liquid soap preparations. Based on the test of the antibacterial activity of 96% ethanol extract, nutmeg leaves have the ability to inhibit the growth of Staphylococcus aureus with a MIC value at a concentration of 0.5% and negative on Propionibacterium acnes. Liquid soap preparations in F1 (extract 2%) have LDH values of 9.87 ± 0.41 mm; F2 (extract 4%) has an LDH value of 10.50 ± 0.35 mm; F3 (extract 8%) has an LDH value of 10.70 ± 0.25 mm; F4 (extract 10%) has an LDH value of 11.87 ± 0.25 mm. The highest LDH value is F4 with a concentration of 10% extract, LDH F4 is a formula that has the most antibacterial activity approaching LDH positive control JF Sulfur which has an LDH value of 13.25 ± 0.25 mm