Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Edukasi Gizi Melalui Google Classroom Terhadap Pengetahuan, Sikap, Dan Motivasi Pencegahan Anemia Pada Siswi SMPN 1 Panjalu Kabupaten Ciamis Dewi Gustini; Suhat Suhat; Teguh Akbar B.; Budiman Budiman; Agus Riyanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.651

Abstract

Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan baik secara global maupun nasional. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 29,9% perempuan usia 15–49 tahun di dunia mengalami anemia, sementara di Indonesia anemia pada remaja putri mencapai 32%. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah melalui edukasi gizi yang efektif dan sesuai dengan karakteristik remaja, termasuk pemanfaatan media pembelajaran digital seperti Google Classroom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi melalui Google Classroom terhadap pengetahuan, sikap, dan motivasi pencegahan anemia pada siswi SMPN 1 Panjalu Kabupaten Ciamis. Penelitian ini menggunakan desain pre eksperimen dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 46 siswi yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan motivasi yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji wilcoxon  untuk variabel pengetahuan dan sikap. Variebl motivasi menggunakan uji t dependent. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata pengetahuan meningkat dari 14,09 menjadi 19,11, skor sikap meningkat dari 85,04 menjadi 89,54, dan skor motivasi meningkat dari 82,54 menjadi 88,74 setelah diberikan edukasi gizi. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, dan motivasi sebelum dan sesudah edukasi gizi (p-value < 0,05). Edukasi gizi melalui Google Classroom berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan motivasi pencegahan anemia pada siswi. Disarankan agar edukasi gizi berbasis digital dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh sekolah dan tenaga kesehatan sebagai upaya pencegahan anemia pada remaja.
Faktor Determinan Tekanan Darah pada Pekerja Bagian Produksi PT XY Plant Jakarta Putu Gede Oka Mahendra; Novie Elvinawaty Mauliku; Suhat Suhat; Agus Riyanto; Arif Susanto
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 7 No. 1 (2026): Januari - April 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.7.1.11-22.2026

Abstract

Tekanan darah tinggi menjadi faktor risiko penting penyakit kardiovaskular yang berdampak pada produktivitas pekerja. Pekerja bagian produksi PT XY Plant Jakarta memiliki karakteristik pekerjaan statis, repetitif, berorientasi target, serta sistem kerja Shift yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan tekanan darah, sehingga perlu dilakukan kajian khusus. Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan yang berhubungan dengan tekanan darah pada pekerja bagian produksi di PT XY Plant Jakarta. Penelitian ini menerapkan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional pada 81 pekerja bagian produksi melalui total sampling. Data dianalisis menggunakan uji korelasi pearson, korelasi spearman, t-test, ANOVA, serta regresi linier berganda untuk menentukan faktor dominan. Ada hubungan signifikan antara usia (p = 0,0001), jenis kelamin (p-value = 0,003), status gizi (p-value = 0,0001), durasi tidur (p=0,0001), masa kerja (p=0,0001), dan beban kerja fisik (p=0,0001) dengan tekanan darah. Analisis regresi linier berganda mengidentifikasi bahwa durasi tidur (B=-8,993), status gizi (B=0,600), dan masa kerja (B=0,562) merupakan faktor dominan yang mempengaruhi terhadap tekanan darah setelah dikontrol oleh variabel lainnya, dengan durasi tidur sebagai faktor yang paling berpengaruh. Durasi tidur merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi tekanan darah pekerja, di mana kurang tidur berhubungan dengan peningkatan tekanan darah. Oleh sebab itu, diperlukan pengaturan waktu kerja dan istirahat yang lebih optimal serta edukasi pentingnya tidur cukup dan gaya hidup sehat untuk menjaga tekanan darah dan produktivitas pekerja
Digital Queueing Innovation and Outpatient Service Quality: Integrating Technology Acceptance and SERVQUAL at a Military Hospital in Indonesia Alfina Mentari Salsabila; Suhat Suhat; Novie Elvinawaty Mauliku; Ayu Laili Rahmiyati
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 12 No. 2 (2026): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v12i2.1015

Abstract

Background: Long waiting times in outpatient services often reduce service quality. Digital solutions such as online queue systems, including Mobile JKN, are increasingly used to improve efficiency, but their impact on overall service quality remains unclear. Objective: This study aims to examine how effective an online queue system is in improving service quality at Dustira Hospital. Methods: A quantitative approach with a cross-sectional design was applied. Participants were selected through purposive sampling, resulting in a total of 379 respondents. Data were collected using structured questionnaires with Likert-scale responses to assess both the performance of the online queue system and perceived service quality. The independent variable refers to the effectiveness of the online queue system, evaluated using the Technology Acceptance Model (TAM), which includes perceived usefulness, perceived ease of use, behavioral intention, and actual system utilization. The dependent variable is service quality, measured through SERVQUAL dimensions: tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. Data analysis consisted of univariate statistics, Chi-square testing for bivariate analysis, and logistic regression for multivariate analysis. Results: Most respondents were adults aged 18–59 years, male, and had completed secondary education. Bivariate analysis showed a significant association between online queue system effectiveness and perceived service quality (p < 0.05). In the multivariate model, perceived ease of use emerged as the only significant predictor of service quality (p < 0.05; OR = 1.874), indicating that patients who perceived the system as easier to use were more likely to report better service quality. Conclusion: The implementation of an online queue system contributes positively to service quality at Dustira Hospital. Greater ease in system usage is associated with better perceived service quality among patients.
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja Melda Ria Tarihoran; Dyan Kunthi Nugrahaeni; Suhat Suhat; Novie E. Mauliku; Siti Nur Endah Hendayani
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v4i3.5135

Abstract

Risky sexual behavior among adolescents is a public health issue influenced by various factors. This study was motivated by the serious consequences of such behavior on adolescents' physical, mental, and social health, including unintended pregnancies and sexually transmitted infections. The aim of this study was to analyze the relationship between knowledge, attitudes, exposure to reproductive health information, social life, and parenting style with risky sexual behavior among adolescents. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample was selected using proportional random sampling from junior and senior high school students in Sukanagara Subdistrict, Cianjur Regency, totaling 334 respondents based on the Slovin formula. Data were collected using a questionnaire and analyzed through univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. Multivariate analysis revealed significant relationships between knowledge (p=0.019), attitudes (p=0.031), and gender (p=0.021) and risky sexual behavior. However, no significant associations were found with exposure to reproductive health information, parenting style, or social life. Knowledge was identified as the most dominant factor influencing risky sexual behavior among adolescents. It is recommended that reproductive health education for adolescents be enhanced through approaches that involve schools, families, and communities in order to reduce risky sexual behavior.
Analisis Perilaku Asuh Makan Usia 24-59 Bulan terhadap Kejadian Stunting di Puskesmas Tanjungrejo Kabupaten Kudus Naila Ainun Nisa; Novie E. Mauliku; Budiman Budiman; Ayu Laili Rahmiati; Suhat Suhat
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 4 (2025): Agustus 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v4i4.5802

Abstract

Stunted toddlers at Tanjungrejo Health Center increased 2024 to 259 toddlers, 79 stunted 24-59 months. Study aims analyze relationship parenting patterns and stunting 24-59 months at Tanjungrejo Health Center. Study design used case-control. Sample 50 mothers stunted as cases and 100 mothers healthy children as controls. Ratio 1:2 using simple random sampling. Data collection used questionnaire with univariate, bivariate, and multivariate analysis. Results is significant relationship maternal BMI (p=0.009), maternal anemia history (p=0.018), exclusive breastfeeding (p=0.001), meal frequency (p=0.000), meal duration (p=0.000), personal hygiene (p=0.000), maternal parenting (p=0.030) and toddler eating behavior (p=0.000) with incidence stunting. There no significant relationship maternal nutritional status (p=0.839), birth weight (p=0.756), history infection (p=0.839), and type food (p=0.089) with incidence stunting. Largest proportion stunted male aged 24-41 months and respondents aged <27 years with elementary/junior high school and unemployed compared proportion healthy toddlers. The most dominant factor was meal frequency, while food type and personal hygiene were confounding variables. It is recommended to hold healthy cooking demonstrations to implement meal schedules and develop further research on healthy eating behaviors.