Marthinus Yohanes Ruamba
Universitas Cenderawasih

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI LITERATUR KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS MAHASISWA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF FIELD INDEPENDENT DAN FIELD DEPENDENT Marthinus Yohanes Ruamba; Dwijayanto Dwijayanto; Scolastika Mariani
Wahana Pendidikan Vol 9, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/wa.v9i2.7866

Abstract

Matematika dipandang sebagai mata pelajaran yang sering ditemui pada berbagai tingkatan pendidikan. Matematika juga merupakan bidang studi penting yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan menghitung, mengukur dan memanfaatkan konsep-konsep matematika sehingga dapat diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari. Belajar matematika selamanya tidak sekedar berbicara tentang numeric (angka), tetapi lebih dari pada itu. Dalam menyelesaikan persoalan matematika hal mendasar yang perlu dipahami oleh setiap individu adalah kemampuan merepresentasi matematis. kemampuan reprsentasi dianggap sebagai pintu masuk dalam menyelesaikan persoalan-persoalan matematis yang rumit. Individu dianggap memiliki kemampuan representasi jika mampu memenuhi tiga indikator utama yakni representasi visual (simbol), representasi persamaan atau ekspresi matematis dan representasi verbal. Metode yang digunakan adalah kajian literatur (literature review) dimana dalam melakukan review mengikuti mengikuti tahapan-tahapan yaitu tahapan pengumpulan data, tahap reduksi data, melakukan display data, pembahasan hasil penelitian dan penarikan kesimpulan. Dalam penelitian ini review literatur dilakukan terhadap 20 artikel yang mungkin untuk menemukan pembahasan sesuai dengan judul penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan analisis yang dillakukan untuk mengetahui kemampuan representasi matematis ditinjau dari gaya kognitif field depeden dan field independen memperliahatkan bahwa individu dengan gaya kognitif tipe field depeden mampu memenuhi dua dari indikator representasi matematis sedangkan individu dengan gaya kognitif field independen mampu memenuhi ketiga indikator representasi matematis yaitu representasi visual, persamaan atau ekspresi matematis dan verbal. Kata Kunci: representasi matematis, gaya kongitif, field dependent, field independent
Persistent Hurdles: A Systematic Review of Limit Concept Misconceptions in Undergraduate Calculus Marthinus Yohanes Ruamba
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 3 (2025): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/plusminus.v5i3.3291

Abstract

Konsep limit berfungsi sebagai fondasi kritis untuk kalkulus dan analisis matematika, sekaligus menjadi titik transisi penting menuju pemikiran matematika yang abstrak dan formal. Namun, mahasiswa secara global menghadapi kesulitan yang signifikan dan berulang dalam memahami esensi konsep ini. Tinjauan literatur sistematis ini bertujuan untuk menyintesis bukti-bukti empiris guna mengidentifikasi jenis, pola, dan faktor penyebab miskonsepsi serta kesulitan yang dialami mahasiswa dalam memahami konsep limit. Pencarian sistematis dilakukan pada database Scopus, Web of Science, ERIC, dan Google Scholar untuk studi empiris yang diterbitkan antara tahun 2001 hingga 2024. Proses seleksi dan ekstraksi data mengikuti protokol PRISMA. Data dari studi yang included dianalisis menggunakan analisis tematik, yang menghasilkan 30 studi yang memenuhi kriteria kelayakan. Sintesis dari 30 studi mengungkapkan pola miskonsepsi yang persisten, terutama pemahaman limit sebagai proses dinamis yang tidak terselesaikan, penyamaan limit dengan nilai fungsi, serta kesulitan mendalam dengan representasi berganda dan definisi formal epsilon-delta. Faktor penyebabnya bersifat multidimensi, meliputi aspek kognitif (intuisi sehari-hari, pengetahuan prasyarat lemah), epistemologis (keyakinan instrumentalis tentang matematika), dan pedagogis (pengajaran yang terlalu prosedural). Miskonsepsi tentang limit bersifat kompleks, universal, dan persisten. Diperlukan pendekatan pengajaran yang secara eksplisit dirancang untuk mengkonfrontasi miskonsepsi ini, seperti penggunaan multipresentasi dan assessment diagnostik. Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan, khususnya dalam konteks Indonesia, untuk mengembangkan dan menguji efektivitas strategi intervensi yang spesifik. The concept of the limit serves as a critical foundation for calculus and mathematical analysis, while also representing a significant transitional point towards abstract and formal mathematical thinking. However, students globally encounter substantial and recurrent difficulties in grasping the essence of this concept. This systematic literature review aims to synthesize empirical evidence to identify the types, patterns, and causal factors of misconceptions and difficulties experienced by students in understanding the concept of limits. A systematic search was conducted across the Scopus, Web of Science, ERIC, and Google Scholar databases for empirical studies published between 2001 and 2024. The selection and data extraction process followed the PRISMA protocol. Data from the included studies were analyzed using thematic analysis, resulting in the inclusion of 30 studies that met the eligibility criteria. A synthesis of the 30 studies reveals persistent patterns of misconception, particularly the understanding of a limit as an unfinished dynamic process, the conflation of a limit with a function's value, and profound difficulties with multiple representations and the formal epsilon-delta definition. The causal factors are multidimensional, encompassing cognitive aspects (everyday intuition, weak prerequisite knowledge), epistemological aspects (instrumentalist beliefs about mathematics), and pedagogical aspects (overly procedural teaching). Misconceptions regarding limits are complex, universal, and persistent. Teaching approaches explicitly designed to confront these misconceptions are required, such as the use of multiple representations and diagnostic assessments. Further research is urgently needed, particularly within the Indonesian context, to develop and test the effectiveness of specific intervention strategies.