Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pelatihan Pembuatan Alat Peraga Jarimatika Materi Perkalian di Sekolah Dasar Wa Ode Nining Setiyawan; Rizal; La Sahija; Tely Darmawansyah; Karim; Hanisu; Ade Minarti
Termasyhur: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 4 (2025): TERMASYHUR: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Lambaga Jurnal dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/termasyhur.v3i4.8111

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini dilkukan di Sekolah Dasar yang berlangsung pada tanggal 20 Oktober sampai selesai. PKM ini bertujuan untuk meningkatkan kemauan guru-guru dalam membuat atau mengunakan media atau alat peraga dalam mengajarkan materi Matematika. Oleh karena itu, perlu diberikan pelatihan pembuatan alat peraga Jarimatika konsep perkalian di SD Negeri 53 Buton. Permasalahan dalam PKM ini adalah (1) urangnya kemauan guru dalam menggunakan alat peraga dalam mengajarkan materi konsep perkalian. (2) Kurangnya kemampuan guru dalam menentukan alat peraga atau meda yang bisa digunakan dalam mengajarkan matematika. (3) Keinginan sekolah/guru untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sangat tinggi, namun masih terkendala oleh beberapa faktor, seperti sulitnya untuk melaksanakan pelatihan dikarenakan pendanaan, terbatasnya kegiatan pelatihan pembuatan alat peraga jarimatika bagi guru-guru dan kepala sekolah di SD Negeri 53 Buton. PKM ini dilakukan dengan menggunakan metode perencanaan/persiapan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Hasil dari PKM ini yaitu Pelaksanaan kegiatan pelatihan penggunaan metode jarimatika untuk menanamkan konsep cara mudah menghitung perkalian berjalan dengan baik. Guru mampu dalam menggunakan metode jarimatika pada operasi perkalian. Hal ini terlihat pada saat mengikuti pembelajaran banyak guru yang paham dengan alat peraga Jarimatika untuk soal-soal perkalian dan antusias guru dalam menyelesaikan soal-soal perkalian dengan alat peraga Jarimatika.
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJRAN GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VII SMP NEGERI 8 BUTON Rizal Rizal; Wa Ode Nining Setiyawan
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i2.11532

Abstract

ABSTRACT Students’ low ability to re-explain learning materials and apply mathematical concepts to problem-solving indicates that their conceptual understanding in mathematics still needs improvement through innovative learning models. This study aimed to determine the effect of the Group Investigation (GI) learning model on the mathematical conceptual understanding ability of seventh-grade students at SMP Negeri 8 Buton. This research employed a quantitative approach with a quasi-experimental method using a pretest-posttest control group design. Data were collected through tests of mathematical conceptual understanding, observation, and documentation. The data were analyzed using the Shapiro–Wilk normality test and simple linear regression analysis to test the research hypothesis. The findings showed that the pretest and posttest data were normally distributed, with significance values of 0.055 and 0.616, respectively, which were greater than 0.05. The hypothesis testing revealed that the t_count value of 4.228 was higher than the t_table value of 2.052, with a significance value of 0.000 < 0.05, indicating that the Group Investigation learning model had a significant effect on students’ mathematical conceptual understanding ability. The effect size of the Group Investigation learning model reached 39.8%, while the remaining 60.2% was influenced by other variables not examined in this study. Therefore, the Group Investigation learning model can be considered an effective alternative learning strategy to improve students’ mathematical conceptual understanding. ABSTRAK Rendahnya kemampuan siswa dalam menjelaskan kembali materi dan mengaplikasikan konsep matematika pada soal menunjukkan bahwa pemahaman konsep matematis siswa masih perlu ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran yang inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Group Investigation (GI) terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas VII SMP Negeri 8 Buton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) menggunakan desain pretest-posttest control group design. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan pemahaman konsep matematis, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji regresi linear sederhana untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data pretest dan posttest berdistribusi normal dengan nilai signifikansi masing-masing sebesar 0,055 dan 0,616 yang lebih besar dari 0,05. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai t_hitung sebesar 4,228 lebih besar dibandingkan t_tabel sebesar 2,052 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga model pembelajaran Group Investigation berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Besaran pengaruh model pembelajaran Group Investigation terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa mencapai 39,8%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, model pembelajaran Group Investigation dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa.
Profile of Mathematics Reasoning of Junior High School Students in Solving Mathematical Problems Based on Auditory Learning Style La Sahija; Rizal Rizal; Wa Ode Nining Setiyawan; Aufal Kausar
Journal of Teaching and Learning Mathematics Vol. 4 No. 1 (2026): Journal of Teaching and Learning Mathematics (July)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jtlm.v4i2.44752

Abstract

Mathematical reasoning is an important competency in junior high school mathematics learning, but learning and evaluation are still more focused on the final result than the student's thinking process. In addition, studies on the relationship between auditory learning styles and students' mathematical reasoning profiles are still limited, especially in revealing students' thinking processes in depth. This study aims to describe the mathematical reasoning profile of junior high school students based on auditory learning styles in solving mathematical problems. This study uses a descriptive qualitative approach with the subjects of six grade VII students of SMP Negeri 18 Buton, which consist of high, medium, and low hearing categories. Data were collected through learning style questionnaires, written tests, and semi-structured interviews, then analyzed using the Miles and Huberman models. The results showed that students in the high auditory category had more consistent reasoning skills in the aspects of making assumptions, mathematical manipulation, drawing conclusions, and checking the validity of arguments. Middle category students need verbal reinforcement at several stages, while lower category students experience difficulties in evaluative and argumentative aspects. This study emphasizes the importance of learning strategies based on verbal discussions, scaffolding, and multimodal assessments to optimally develop students' mathematical reasoning skills.
PENGUATAN KOMPETENSI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENINGKATKAN LITERASI DIGITAL BAGI MAHASISWA CALON GURU Ali Rahmat Unton; Masdiana Masdiana; Lismawati Sudiah; Karim Karim; Wa Ode Nining Setiyawan; Rizal Rizal; Marsel Marsel
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.10896

Abstract

ABSTRACT This community service activity aims to enhance prospective teachers’ understanding and ability to utilize information technology as a tool in the teaching and learning process. Additionally, this initiative aims to equip them with strong digital skills so they can integrate technology into innovative, creative, and effective teaching methods in the future when they become teachers in schools. Before using information technology, each participant was given a questionnaire to measure learning motivation (Pre-test) using a Likert scale: Strongly Agree, Agree, Somewhat Agree, Disagree, and Strongly Disagree. The questionnaire covered four aspects: 1) Perseverance in learning; 2) Interest and enthusiasm for learning; 3) Independence and participation; 4) Need for learning media. Based on the results obtained, it was found that before the activity was conducted, participants tended to answer “Strongly Agree” or “Agree.” This indicates that participants demonstrated low learning motivation due to the limitations of conventional methods. After the activity concluded, the questionnaire was administered again, and participants demonstrated very high enthusiasm for learning by utilizing information technology in the learning process and improving their digital literacy skills. ABSTRAK Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan para calon guru dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar. Selain itu, upaya ini bertujuan memberikan keterampilan digital yang baik kepada mereka agar mampu menggabungkan teknologi dalam metode mengajar yang inovatif, kreatif, dan efektif di masa depan ketika mereka menjadi guru di sekolah. Sebelum menggunakan teknologi informasi, setiap peserta diberikan angket untuk mengukur motivasi belajar (Pre-test) dengan skala Likert, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Kurang Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Angket tersebut mencakup empat aspek, yaitu: 1) Ketekunan dalam belajar; 2) Minat dan semangat belajar; 3) Kemandirian dan partisipasi; 4) Kebutuhan media pembelajaran. Berdasarkan hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa sebelum kegiatan dilaksanakan, peserta cenderung menjawab "Sangat Setuju" atau "Setuju". Artinya, peserta menunjukkan motivasi belajar yang rendah karena keterbatasan metode konvensional. Setelah kegiatan selesai, kembali diberikan angket dan peserta menunjukkan semangat belajar yang sangat tinggi dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kemampuan literasi digital mereka.
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA PADA MATERI POLYNOMIAL Rizal Rizal; Wa Ode Nining Setiyawan; La Sahija
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i1.8849

Abstract

ABSTRAK Pendidikan matematika memiliki peran strategis dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa sebagai bagian dari kompetensi abad ke-21, namun pada praktiknya kemampuan tersebut belum berkembang secara optimal. Matematika, khususnya materi aljabar seperti polinomial, menuntut siswa untuk menganalisis informasi, mengevaluasi strategi penyelesaian, serta menarik kesimpulan secara logis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa dalam pemecahan masalah matematika pada materi polinomial di kelas XI SMA Negeri 6 Baubau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Subjek penelitian dipilih secara purposive dari siswa kelas XI pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Teknik pengumpulan data meliputi tes tertulis berbasis indikator kemampuan berpikir kritis matematis dan dokumentasi hasil pekerjaan siswa. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa berada pada kategori sedang dengan persentase sebesar 70%, sementara kategori tinggi masih relatif rendah dan kategori rendah masih memerlukan perhatian khusus. Pada indikator interpretasi, siswa menunjukkan capaian yang cukup baik, namun pada indikator analisis, evaluasi, dan inferensi capaian siswa tergolong rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa siswa belum konsisten dalam mengorganisasi informasi, mengevaluasi ketepatan strategi, serta menarik kesimpulan secara logis dalam menyelesaikan masalah polinomial. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa belum optimal, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang lebih menekankan aktivitas pemecahan masalah dan penguatan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran aljabar. ABSTRACT Mathematics education plays a strategic role in developing students’ critical thinking skills as an essential component of 21st-century competencies; however, in practice, these skills have not been optimally developed. Mathematics learning, particularly algebraic topics such as polynomials, requires students to analyze information, evaluate solution strategies, and draw logical conclusions. This study aims to analyze students’ critical thinking skills in mathematical problem solving on polynomial material in Grade XI of SMA Negeri 6 Baubau. The research employed a qualitative approach with a descriptive design. The research subjects were Grade XI students selected purposively during the first semester of the 2025/2026 academic year. Data were collected through written tests designed based on indicators of mathematical critical thinking skills and supported by documentation of students’ work. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that the majority of students are in the moderate category of critical thinking ability, accounting for 70% of the participants, while the high category remains relatively low and the low category still requires special attention. In terms of indicators, students demonstrated adequate achievement in interpretation; however, low achievement was found in analysis, evaluation, and inference. These findings indicate that students have not been consistent in organizing information, critically evaluating solution strategies, and drawing logical conclusions when solving polynomial problems. It can be concluded that students’ mathematical critical thinking skills are not yet optimal, highlighting the need for learning strategies that emphasize problem-solving activities and the development of higher-order thinking skills in algebra instruction.
PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH KONTEKSTUAL DENGAN TEKNIK SCAFOLDING TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA Tely Darmawansyah; Rizal; Wa Ode Nining Setiyawan
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i2.10165

Abstract

ABSTRACT Students still experience difficulties in analyzing and solving mathematical problems, expressing ideas, understanding symbols and variables, and solving word problems. This study aims to analyze the effect of Contextual Structured Problem-Based Learning (PBMKTS) on improving the Mathematical Operation Ability (KOM) of eighth-grade students at SMP Negeri 11 Buton Pasarwajo in the 2024/2025 academic year. This research is an experimental study involving 112 students, with samples selected using purposive sampling and random sampling techniques. Data were collected through KOM tests in the form of pretest and posttest. The data were analyzed using descriptive and inferential statistics, namely the Paired Samples T-Test. The results of descriptive analysis indicate that the average students’ mathematical operation ability is still relatively low both before and after the treatment, although there is an improvement after the implementation of PBMKTS. Meanwhile, the inferential analysis shows that there is a significant effect of PBMKTS on improving students’ KOM. Therefore, PBMKTS can be considered an effective alternative learning approach to enhance students’ mathematical operation ability, although the results have not yet reached an optimal level. ABSTRAK Siswa masih mengalami kesulitan dalam menganalisis dan memecahkan masalah matematika, mengemukakan ide, memahami simbol dan variabel, serta menyelesaikan soal cerita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Kontekstual Terstruktur (PBMKTS) terhadap peningkatan Kemampuan Operasi Matematika (KOM) siswa kelas VIII di SMP Negeri 11 Buton Pasarwajo tahun ajaran 2024/2025. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan jumlah populasi sebanyak 112 siswa, dan pengambilan sampel dilakukan melalui teknik purposive sampling dan random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tes KOM berupa pretest dan posttest. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial, yaitu uji Paired Samples T-Test. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan operasi matematika siswa masih tergolong rendah baik sebelum maupun setelah perlakuan, namun mengalami peningkatan setelah diterapkan PBMKTS. Sementara itu, hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan PBMKTS terhadap peningkatan KOM siswa. Dengan demikian, PBMKTS dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan operasi matematika siswa meskipun hasil yang dicapai belum optimal.