Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pelatihan Pembuatan Alat Peraga Jarimatika Materi Perkalian di Sekolah Dasar Wa Ode Nining Setiyawan; Rizal; La Sahija; Tely Darmawansyah; Karim; Hanisu; Ade Minarti
Termasyhur: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 4 (2025): TERMASYHUR: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Lambaga Jurnal dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/termasyhur.v3i4.8111

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini dilkukan di Sekolah Dasar yang berlangsung pada tanggal 20 Oktober sampai selesai. PKM ini bertujuan untuk meningkatkan kemauan guru-guru dalam membuat atau mengunakan media atau alat peraga dalam mengajarkan materi Matematika. Oleh karena itu, perlu diberikan pelatihan pembuatan alat peraga Jarimatika konsep perkalian di SD Negeri 53 Buton. Permasalahan dalam PKM ini adalah (1) urangnya kemauan guru dalam menggunakan alat peraga dalam mengajarkan materi konsep perkalian. (2) Kurangnya kemampuan guru dalam menentukan alat peraga atau meda yang bisa digunakan dalam mengajarkan matematika. (3) Keinginan sekolah/guru untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sangat tinggi, namun masih terkendala oleh beberapa faktor, seperti sulitnya untuk melaksanakan pelatihan dikarenakan pendanaan, terbatasnya kegiatan pelatihan pembuatan alat peraga jarimatika bagi guru-guru dan kepala sekolah di SD Negeri 53 Buton. PKM ini dilakukan dengan menggunakan metode perencanaan/persiapan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi, serta refleksi. Hasil dari PKM ini yaitu Pelaksanaan kegiatan pelatihan penggunaan metode jarimatika untuk menanamkan konsep cara mudah menghitung perkalian berjalan dengan baik. Guru mampu dalam menggunakan metode jarimatika pada operasi perkalian. Hal ini terlihat pada saat mengikuti pembelajaran banyak guru yang paham dengan alat peraga Jarimatika untuk soal-soal perkalian dan antusias guru dalam menyelesaikan soal-soal perkalian dengan alat peraga Jarimatika.
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJRAN GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA KELAS VII SMP NEGERI 8 BUTON Rizal Rizal; Wa Ode Nining Setiyawan
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i2.11532

Abstract

ABSTRACT Students’ low ability to re-explain learning materials and apply mathematical concepts to problem-solving indicates that their conceptual understanding in mathematics still needs improvement through innovative learning models. This study aimed to determine the effect of the Group Investigation (GI) learning model on the mathematical conceptual understanding ability of seventh-grade students at SMP Negeri 8 Buton. This research employed a quantitative approach with a quasi-experimental method using a pretest-posttest control group design. Data were collected through tests of mathematical conceptual understanding, observation, and documentation. The data were analyzed using the Shapiro–Wilk normality test and simple linear regression analysis to test the research hypothesis. The findings showed that the pretest and posttest data were normally distributed, with significance values of 0.055 and 0.616, respectively, which were greater than 0.05. The hypothesis testing revealed that the t_count value of 4.228 was higher than the t_table value of 2.052, with a significance value of 0.000 < 0.05, indicating that the Group Investigation learning model had a significant effect on students’ mathematical conceptual understanding ability. The effect size of the Group Investigation learning model reached 39.8%, while the remaining 60.2% was influenced by other variables not examined in this study. Therefore, the Group Investigation learning model can be considered an effective alternative learning strategy to improve students’ mathematical conceptual understanding. ABSTRAK Rendahnya kemampuan siswa dalam menjelaskan kembali materi dan mengaplikasikan konsep matematika pada soal menunjukkan bahwa pemahaman konsep matematis siswa masih perlu ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran yang inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Group Investigation (GI) terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas VII SMP Negeri 8 Buton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) menggunakan desain pretest-posttest control group design. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan pemahaman konsep matematis, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji regresi linear sederhana untuk menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data pretest dan posttest berdistribusi normal dengan nilai signifikansi masing-masing sebesar 0,055 dan 0,616 yang lebih besar dari 0,05. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai t_hitung sebesar 4,228 lebih besar dibandingkan t_tabel sebesar 2,052 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga model pembelajaran Group Investigation berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Besaran pengaruh model pembelajaran Group Investigation terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa mencapai 39,8%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, model pembelajaran Group Investigation dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa.
Profile of Mathematics Reasoning of Junior High School Students in Solving Mathematical Problems Based on Auditory Learning Style La Sahija; Rizal Rizal; Wa Ode Nining Setiyawan; Aufal Kausar
Journal of Teaching and Learning Mathematics Vol. 4 No. 1 (2026): Journal of Teaching and Learning Mathematics (July)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jtlm.v4i2.44752

Abstract

Mathematical reasoning is an important competency in junior high school mathematics learning, but learning and evaluation are still more focused on the final result than the student's thinking process. In addition, studies on the relationship between auditory learning styles and students' mathematical reasoning profiles are still limited, especially in revealing students' thinking processes in depth. This study aims to describe the mathematical reasoning profile of junior high school students based on auditory learning styles in solving mathematical problems. This study uses a descriptive qualitative approach with the subjects of six grade VII students of SMP Negeri 18 Buton, which consist of high, medium, and low hearing categories. Data were collected through learning style questionnaires, written tests, and semi-structured interviews, then analyzed using the Miles and Huberman models. The results showed that students in the high auditory category had more consistent reasoning skills in the aspects of making assumptions, mathematical manipulation, drawing conclusions, and checking the validity of arguments. Middle category students need verbal reinforcement at several stages, while lower category students experience difficulties in evaluative and argumentative aspects. This study emphasizes the importance of learning strategies based on verbal discussions, scaffolding, and multimodal assessments to optimally develop students' mathematical reasoning skills.
PENGUATAN KOMPETENSI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENINGKATKAN LITERASI DIGITAL BAGI MAHASISWA CALON GURU Ali Rahmat Unton; Masdiana Masdiana; Lismawati Sudiah; Karim Karim; Wa Ode Nining Setiyawan; Rizal Rizal; Marsel Marsel
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i2.10896

Abstract

ABSTRACT This community service activity aims to enhance prospective teachers’ understanding and ability to utilize information technology as a tool in the teaching and learning process. Additionally, this initiative aims to equip them with strong digital skills so they can integrate technology into innovative, creative, and effective teaching methods in the future when they become teachers in schools. Before using information technology, each participant was given a questionnaire to measure learning motivation (Pre-test) using a Likert scale: Strongly Agree, Agree, Somewhat Agree, Disagree, and Strongly Disagree. The questionnaire covered four aspects: 1) Perseverance in learning; 2) Interest and enthusiasm for learning; 3) Independence and participation; 4) Need for learning media. Based on the results obtained, it was found that before the activity was conducted, participants tended to answer “Strongly Agree” or “Agree.” This indicates that participants demonstrated low learning motivation due to the limitations of conventional methods. After the activity concluded, the questionnaire was administered again, and participants demonstrated very high enthusiasm for learning by utilizing information technology in the learning process and improving their digital literacy skills. ABSTRAK Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan para calon guru dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar. Selain itu, upaya ini bertujuan memberikan keterampilan digital yang baik kepada mereka agar mampu menggabungkan teknologi dalam metode mengajar yang inovatif, kreatif, dan efektif di masa depan ketika mereka menjadi guru di sekolah. Sebelum menggunakan teknologi informasi, setiap peserta diberikan angket untuk mengukur motivasi belajar (Pre-test) dengan skala Likert, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Kurang Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Angket tersebut mencakup empat aspek, yaitu: 1) Ketekunan dalam belajar; 2) Minat dan semangat belajar; 3) Kemandirian dan partisipasi; 4) Kebutuhan media pembelajaran. Berdasarkan hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa sebelum kegiatan dilaksanakan, peserta cenderung menjawab "Sangat Setuju" atau "Setuju". Artinya, peserta menunjukkan motivasi belajar yang rendah karena keterbatasan metode konvensional. Setelah kegiatan selesai, kembali diberikan angket dan peserta menunjukkan semangat belajar yang sangat tinggi dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam proses pembelajaran serta meningkatkan kemampuan literasi digital mereka.