cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Temporomandibular Joint Disorder in Malocclusion Baiq S. M. Setiadi; Rasmi Rikmasari; Vita M. P. Novianti
e-GiGi Vol. 10 No. 2 (2022): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v10i2.44309

Abstract

Abstract: Malocclusion is considered as one of the causative factors of temporomandibular joint disorder. However, there are still pros and cons to the role of occlusion as a pathophysiological factor for temporomandibular joint disorders (TMD). This study aimed to review the literature on the extent to which research had been carried out related to TMD in patients with malocclusion published from 2012 to January 2022. The method used in collecting data was guided by PRISMA-Scr through the Pubmed NCBI and Sciencedirect databases with relevant keywords. The obtained literature was screened and assessed for feasibility. Detail of data extracted with Microsoft Excel software. Based on the search, a total of 21 kinds of literature were suitable with the inclusion category as study material. The included literature consisted of cross-sectional studies (n=6), case-control (n=4), cohort (n=3), retrospective study (n=3), systematic review (n=2), systematic review and meta-analysis (n=1), and review study (n=2). Most of the literature said that there was no significant relationship between variations in occlusion irregularities and TMD associated with various signs and symptoms of TMD as well as variations in temporomandibular joint (TMJ) anatomy. TMD was actually more influenced by habits, personality, and psychological conditions. Treatments for TMD patients, either surgical or orthodontic, had a positive effect but were not significant. In conclusion, there is no relationship between temporomandibular joint disorders and malocclusion. Keywords: temporomandibular joint disorder; malocclusion Abstrak: Maloklusi dianggap menjadi salah satu faktor penyebab gangguan sendi temporomandibula. Hingga kini, masih terdapat pro dan kontra peran oklusi sebagai faktor patofisiologi gangguan sendi temporomandibular (temporomandibular joint, TMJ). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji literatur penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan gangguan sendi temporomandibula (temporoman-dibular joint disorder, TMD) pada maloklusi yang dipublikasikan pada 2012 hingga Januari 2022. Metode pengumpulan data berpedoman pada PRISMA-Scr melalui database Pubmed NCBI dan Sciencedirect dengan kata kunci yang relevan. Literatur yang didapat diseleksi dan dilihat kelayakan-nya. Detail data diekstraksi dengan software Microsoft Excel. Hasil pencarian mendapatkan sebanyak 21 literatur memenuhi kategori inklusi sebagai bahan kajian, terdiri dari jenis studi cross-sectional (n=6), kasus kontrol (n=4), kohort (n=3), studi retrospektif (n=3), tinjauan sistematis (n=2), systematic review dan meta-analysis (n=1), serta studi review (n=2). Sebagian besar literatur menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara variasi tidak teraturnya oklusi terhadap TMD terkait dengan ragam tanda dan gejala TMD serta variasi anatomi TMJ (temporomandibular joint). Didapatkan TMD justru lebih dipengaruhi oleh kebiasaan, kepribadian, serta keadaan psikologis. Perawatan yang dilakukan pada penderita TMD, baik berupa bedah maupun perawatan ortodontik memiliki pengaruh yang cukup positif namun tidak bermakna. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan bermakna antara gangguan sendi temporomandibula dengan maloklusi. Kata kunci: gangguan sendi temporomandibular; maloklusi
Parental Knowledge about Caries Prevention in Children Aged 2-6 Years Old in Batam Tsamara N. Randhika; Andi Supriatna; Mutiara S. Suntana
e-GiGi Vol. 10 No. 2 (2022): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v10i2.44310

Abstract

Abstract: The incidence of caries in children is still very high in Indonesia. Parental knowledge can be assessed, among others, from the level of parental knowledge regarding caries prevention in children. The higher the level of parental knowledge, the better the parenting pattern, especially in educating children to maintain their healthy teeth and mouths. This study aimed to describe the parental level of knowledge regarding caries prevention in children aged 2-6 years in Batam, Indonesia based on education and occupation levels. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional design. This study was conducted by distributing questionnaires using google-form to eight kindergartens and social media. The results obtained 145 parents as respondents; 43 respondents had poor knowledge, 88 had moderate knowledge, and 14 had good knowledge. From the respondents with moderate knowledge, 80.7% had college education and 36.4% worked as private employees. In conclusion, the majority of parents with moderate level of knowledge about caries prevention in children aged 2-6 years in Batam were college educated and worked as private employees. Keywords: caries; level of knowledge; occupation; parental knowledge Abstrak: Angka kejadian karies pada anak masih sangat tinggi di Indonesia. Tingkat pengetahuan orang tua dapat dinilai antara lain dari tinggi rendahnya pengetahuan orang tua mengenai pencegahan karies pada anak. Semakin tinggi tingkat pengetahuan orang tua akan semakin baik pula pola asuh orang tua terutama dalam mendidik anak untuk menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan orang tua mengenai pencegahan karies pada anak usia 2-6 tahun di Kota Batam, Indonesia, berdasarkan tingkat pendi-dikan dan pekerjaan. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang yang bersifat data tetap, Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuisioner menggunakan google-form ke delapan Taman Kanak-kanak (TK) dan media sosial. Hasil penelitian mendapatkan jumlah responden sebanyak 145 orang tua. Tingkat pengetahuan kurang pada 43 responden; cukup, pada 88 responden; dan baik, pada 14 responden. Pada tingkat pengetahuan cukup, 80,7% responden berpendidikan perguruan tinggi dan 36,4% responden sebagai pegawai swasta. Simpulan penelitian ini ialah mayoritas orang tua dengan tingkat pengetahuan cukup mengenai pencegahan karies anak usia 2-6 tahun di Kota Batam mempunyai pendidikan perguruan tinggi dan bekerja sebagai pegawai swasta. Kata kunci: karies; orang tua; pekerjaan; tingkat pengetahuan orang tua
Perbedaan Pengetahuan Kontrol Plak Berdasarkan Jenis Kelamin Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani Andi Supriatna; Shanaya A. Anindyta; Marlin Himawati
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44374

Abstract

Abstract: Dental and oral diseases especially problems related to dental plaque are still commonly found in Indonesia. Therefore, plaque control is an effective way to treat and prevent these diseases. This study aimed to obtain the difference in knowledge regarding plaque control based on sex (male and female) among students of the dentistry profession of Universitas Jenderal Achmad Yani. This was an analytical and observational study with a cross sectional design. Samples were chosen using consecutive sampling technique. A non-specialized design of unpaired numerical categorical analysis was used in this study. The google form was used as instrument. Data were analysed using the unpaired T-test. The results showed that there were 116 dentistry profession students as respondents consisting of 32 males (27.6%) and 84 females (72.4%). Based on sex, the knowledge regarding plaque control showed that the average in male respondents was 21.50±7.030 and in female respondents was 22.82±5.928 (a p-value of 0.311). In conclusion, there is no difference in the knowledge of plaque control among male and female students of the dentistry profession of Universitas Jenderal Achmad Yani. Keywords: sex; knowledge of plaque control Abstrak Penyakit gigi dan mulut masih sering dikeluhkan oleh masyarakat Indonesia, salah satunya ialah plak gigi. Kontrol plak merupakan cara efektif mengobati dan mencegah penyakit lainnya pada rongga mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan mahasiswa profesi kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani mengenai kontrol plak gigi berdasarkan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang, dan menggunakan teknik consecutive sampling. Penelitian ini menggunakan non-specialized design of unpaired numerical categorical analysis. Instrumen penelitian menggunakan google form. Data penelitian dianalisis dengan uji T-tidak berpasangan. Hasil penelitian mendapatkan 116 mahasiswa profesi kedokteran gigi sebagai responden, terdiri dari 32 laki-laki (27,6%) dan 84 perempuan (72,4%). Perbandingan pengetahuan responden yaitu rerata pada laki-laki sebesar 21,50±7,030 dan pada perempuan sebesar 22,82±5,928 dengan nilai p=0,311. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan pengetahuan kontrol plak antara kedua jenis kelamin pada mahasiswa profesi kedokteran Gigi Universitas Jenderal Achmad Yani. Kata kunci: jenis kelamin; pengetahuan mengenai control plak
Hubungan Penggunaan Obat-obatan Antihipertensi dengan Terjadinya Xerostomia Keynes Y. Supit; Vonny N. S. Wowor; Christy N. Mintjelungan
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44376

Abstract

Abstract: The use of antihypertensive drugs in addition to controlling high blood pressure, but can also cause side effects inter alia xerostomia, a sign or symptom of dry mouth felt by a person. This study aimed to determine the relationship between the use of antihypertensive drugs with the occurrence of xerostomia. This was a literature review study using databases of Google Scholar, PubMed and ScienceDirect. Literatures were selected through inclusion and exclusion criteria and a critical appraisal was carried out. The results obtained five literatures. There was an effect of using antihypertensive drugs amlodipine and captopril on the occurrence of xerostomia, however, there was no significant difference in the amount of respondents’ saliva (p>0.05). Antihypertensive drugs amlodipine (93.33%) and captopril (83.33%) both caused a decrease in salivary flow rate. A small proportion (29%) of respondents using antihypertensive drugs experienced xerostomia. There was a higher prevalence of xerostomia in respondents using antihypertensive drugs compared to those who did not use antihypertensive drugs (p<0.05). From 100% of xerostomia patients, there were 38.46% taking antihypertensive drugs. In conclusion, there is a relationship between the use of anti-hypertensive drugs and the occurrence of xerostomia. Keywords: xerostomia; hypertension; antihypertensive drugs Abstrak: Penggunaan obat antihipertensi di samping dapat mengontrol tekanan darah tinggi, namun dapat juga menimbulkan efek samping, salah satunya ialah xerostomia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan obat–obatan antihipertensi dengan terjadinya xerostomia. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan database Google Scholar, PubMed dan ScienceDirect. Literatur diseleksi melalui kriteria inklusi dan eksklusi serta dilakukan critical appraisal sehingga diperoleh lima literatur. Hasil penelitian mendapatkan adanya pengaruh penggunaan obat antihipertensi amlodipin dan katopril terhadap terjadinya xerostomia, namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara jumlah saliva pada responden yang mengonsumsi obat amlodipin dan kaptopril. Pada responden yang menggunakan obat anti hipertensi amlodipin (93,33%) dan kaptopril (83,33%) terdapat laju aliran saliva yang menurun. Sebagian kecil responden (29%) pengguna obat antihipertensi mengalami xerostomia. Prevalensi xerostomia lebih tinggi pada responden pengguna obat antihipertensi dibandingkan yang tidak menggunakan obat antihipertensi (p<0,05). Dari 100% penderita xerostomia, terdapat 38,46% yang mengonsumsi obat antihipertensi. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara penggunaan obat anti hipertensi dengan terjadinya xerostomia. Kata kunci: xerostomia; hipertensi; obat antihipertensi
Evaluasi Kekasaran Permukaan Semen Ionomer Kaca pada Perendaman Susu UHT dan Susu Kedelai Nuroh Arifah; Dhyani Widhianingsih; Deviyanti Pratiwi
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44378

Abstract

Abstract: Glass ionomer cement (GIC) is a restorative material used in child dental care with anti-cariogenic properties and fluoride release. However, this GIC has some disadvantages, such as high solubility due to acid particles that can cause surface roughness. Children at a young age typically drink milk, such as Ultra High Temperature (UHT) milk or soy milk which may affect the restorative material. This study aimed to evaluate the surface roughness of GIC immersed in UHT milk, soy milk, and artificial saliva. This was an experimental laboratory study. Samples were GICs (GC Fuji VII, Japan) in a cylindrical shape with a diameter of 10 mm and a thickness of 2 mm. A total of 18 samples were divided into three groups, one group (n=6) was immersed in UHT milk, and the other two groups were immersed in soy milk and artificial saliva. The samples were tested using a surface roughness tester (Surtronic S-128) that was reviewed before and after immersion. The results showed that the surface roughness value of GIC was increased after being immersed in UHT milk (0.12±0.02), soy milk (0.12±0.06), and artificial saliva (0.06±0.03). The Kruskal Wallis test showed no significant difference in surface roughness of GICs immersed in the three groups. In conclusion, UHT milk and soy milk did not significantly affect the surface roughness of GICs.Keywords: glass ionomer cement; surface roughness; UHT milk; soy milk Abstrak: Semen ionomer kaca (SIK) merupakan bahan restorasi pada perawatan gigi anak yang memiliki sifat antikariogenik dan dapat melepaskan fluoride. SIK memiliki kekurangan yaitu mudah larut akibat paparan asam yang tinggi sehingga dapat menyebabkan terjadinya kekasaran permu-kaan. Usia anak tidak terlepas dari kebiasaan meminum susu seperti susu Ultra High Temperature (UHT) dan susu kedelai sehingga dapat memengaruhi bahan restorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kekasaran permukaan SIK pada perendaman dalam susu UHT, susu kedelai, dan saliva buatan. Metode penelitian ialah eksperimental laboratoris. Sampel yang digunakan ialah SIK (GC Fuji VII, Japan) berbentuk silindris dengan diameter 10 mm dan tebal 2 mm. Sebanyak 18 buah sampel dibagi menjadi tiga kelompok, setiap kelompok (n=6) direndam dalamsusu UHT, kelompok lain direndam dalam susu kedelai, dan saliva buatan. Kekasaran permukaan diukur dengan surface roughness tester (Surtronic S-128) sebelum dan setelah perendaman. Hasil penelitian mendapatkan peningkatan kekasaran permukaan SIK pada kelompok perendaman susu UHT (0,12±0,02), susu kedelai (0,12±0,06), dan saliva buatan (0,06±0,03). Uji Kruskal Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan kekasaran permukaan SIK yang bermakna pada ketiga kelompok. Simpulan penelitian ini ialah susu UHT dan susu kedelai tidak menyebabkan kekasaran permukaan SIK yang bermakna.Kata kunci: semen ionomer kaca; kekasaran permukaan; susu UHT; susu kedelai
Hubungan Tingkat Kebersihan Gigi Tiruan Penuh dengan Kejadian Denture Stomatitis Grant T. H. Mawei; Vonny N. S. Wowor; Christy N. Mintjelungan
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44383

Abstract

Abstract: Dentures can cause new problems for wearers especially individuals who do not under-stand to maintain the cleanliness of the dentures. In case of full denture, mucosal surface covered by the denture can easily be accumulated by plaques inter alia due to Candida albicans which can further cause denture stomatitis. This study aimed to determine the relationship between the level of complete denture hygiene and the incidence of denture stomatitis. This was a literature review study using the Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect databases of related topics. The results showed that statistically there was a relationship between denture hygiene and the incidence of denture stomatitis. There was a higher incidence of denture stomatitis in denture users with poor denture hygiene conditions. Poor denture hygiene as a local factor causing denture stomatitis. Numerically, most denture users who experienced denture stomatitis had poor denture hygiene. In conclusion, statistical and numerical tests showed that there is a relationship between the level of denture hygiene and denture stomatitis in full denture users. Keywords: denture hygiene level; complete denture wearers; denture stomatitis Abstrak: Pemakaian gigi tiruan dapat menimbulkan masalah bagi penggunanya terlebih pada individu yang kurang memahami pemeliharaan kebersihan gigi tiruan. Pada penggunaan gigi tiruan penuh, pada permukaan mukosa yang tertutup gigi tiruan dapat dengan mudah terjadi akumulasi plak antara lain oleh Candida Albicans yang dapat menyebabkan terjadinya denture stomatitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kebersihan gigi tiruan penuh dengan kejadian denture stomatitis. Jenis penelitian ialah suatu literature review yang menggunakan database Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect dengan topik yang terkait. Hasil uji statistik pada literatur yang digunakan mendapatkan adanya hubungan/pengaruh antara kebersihan gigi tiruan dengan kejadian denture stomatitis. Kejadian denture stomatitis lebih tinggi pada pengguna gigi tiruan dengan kondisi kebersihan gigi tiruan yang buruk. Kebersihan gigi tiruan yang buruk sebagai faktor lokal penyebab denture stomatitis. Secara numerik pada pengguna gigi tiruan yang mengalami denture stomatitis, sebagian besar memiliki kebersihan gigi tiruan yang buruk. Simpulan penelitian ini ialah uji statistik dan numerik memperlihatkan adanya hubungan antara tingkat kebersihan gigi tiruan dengan denture stomatitis pada pengguna gigi tiruan penuh. Kata kunci: tingkat kebersihan gigi tiruan; pengguna gigi tiruan penuh; denture stomatitis
Penatalaksanaan Kasus Black Triangle pada Gingiva Muhammad J. S. Hisyam; Juliatri Juliatri; Dinar A. Wicaksono
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44384

Abstract

Abstract: Black triangle could become a space for food retention, therefore, it affects gingival health, pronunciation, and appearance of a person, especially if it occurs between the anterior teeth. This condition can be caused by periodontal disease due to poor oral and dental hygiene, abnormal crown shape and morphology, root angulation due to improper bracket placement during orthodontic treatment and others. Black triangle cases are more common in adults than adolescents undergoing orthodontic treatment. This study aimed to determine the management of gingival black triangle cases. This was a literature review study using databases of Pubmed, ScienceDirect, and Google Scholar and the keyword was black triangle. The results obtained 10 articles relevant to the topic of discussion. There were eight articles about treatment of black triangle cases with a surgical approach and two articles using hyaluronic acid gel. However, the results of black triangle case treatment are still unpredictable, so, further studies are needed to obtain better treatments. To date, reconstruction of missing interdental papillae is still a challenge in modern aesthetic dentistry. In conclusion, the most common treatment for black triangle cases is surgical treatment and hyaluronic acid gel. Keywords: black triangle; gingiva Abstrak: Black triangle dapat menjadi tempat retensi makanan sehingga memengaruhi kesehatan gingiva, pengucapan, dan penampilan seseorang terutama bila terjadi antara gigi anterior. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh penyakit periodontal akibat kebersihan gigi dan mulut yang buruk, bentuk mahkota dan morfologi gigi yang abnormal, angulasi akar karena penempatan braket yang tidak tepat selama perawatan ortodontik dan lain-lain. Kasus black triangle lebih sering terjadi pada dewasa dibanding remaja yang menjalani perawatan ortodontik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penatalaksanaan kasus black triangle pada gingiva. Jenis penelitian ialah suatu literature review dengan menggunakan database Pubmed, ScienceDirect, dan Google Scholar dengan kata kunci black triangle. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel yang relevan dengan topik bahasan. Dari 10 artikel, terdapat delapan artikel yang melakukan perawatan kasus black triangle dengan pendekatan bedah dan dua artikel menggunakan gel asam hialuronat. Hasil perawatan kasus black triangle tidak dapat diprediksi, sehingga penting dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mendapat-kan hasil perawatan yang baik. Rekonstruksi hilangnya papila interdental merupakan tantangan dalam kedokteran gigi estetik modern. Simpulan penelitian ini ialah penatalaksanaan kasus black triangle pada gingiva yang paling umum dilakukan ialah pendekatan bedah dan penggunaan gel asam hialuronat. Kata kunci: black triangle; gingiva
Pengaruh Lama Perendaman Basis Gigi Tiruan Resin Asetal dalam Larutan Hidrogen Peroksida 3% sebagai Denture Cleanser terhadap Perlekatan Candida albicans Yoanne Imanuella; Titik Ismiyati; Intan Ruspita
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44387

Abstract

Abstract: Denture cleanser could control biofilm formation, however, it could also cause noticable changes to the surface denture base material, such as an increase in surface roughness and discoloration. This study aimed to evaluate the effect of immersion time of acetal resin denture base in H2O2 3% as denture cleanser on the attachment of Candida albicans. Samples were made of acetal resin in the form of disc with a diameter of 5 mm and height of 2 mm as many as 24 pieces which were divided into four groups as follows: six discs without treatment, six discs were immersed in H2O2 3% for 3.5 hours, six discs were immersed for 14 hours, and six discs were immersed for 42 hours. The number of Candida albicans colonies was calculated in units of CFU/ml. The results showed that there was an effect of H2O2 3% immersion time on the adhesion of Candida albicans in all immersion groups after being compared with the control group. The highest number of Candida albicans attachment was found on the group with 42 hours immersion time. In conclusion, the immersion time of acetal resin denture base in H2O2 3% for 3,5 hours had the lowest effect on the adhesion of Candida albicans compared to the duration of immersion for 14 and 42 hours. Keywords: acetal resin; denture cleanser; hydrogen peroxide 3%; Candida albicans Abstrak: Denture cleanser dapat mengontrol pembentukan biofilm, tetapi juga mengakibatkan perubahan yang terlihat pada permukaan basis gigi tiruan seperti peningkatan kekasaran permukaan dan perubahan warna. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh lama perendaman basis gigi tiruan resin asetal dalam H2O2 3% sebagai denture cleanser terhadap perlekatan Candida albicans. Sampel dibuat dari cakram resin asetal dengan diameter 5 mm dan tinggi 2 mm sebanyak 24 buah yang dibagi menjadi empat kelompok yaitu, 6 cakram tanpa perlakuan, 6 cakram direndam dalam H2O2 3% selama 3,5 jam, 6 cakram direndam selama 14 jam, dan 6 cakram direndam selama 42 jam. Jumlah Candida albicans dihitung dalam satuan CFU/ml unit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh lama perendaman dalam H2O2 3% terhadap perlekatan Candida albicans pada semua kelompok setelah dibandingkan dengan kelompok kontrol. Jumlah Candida albicans tertinggi ditemukan pada kelompok dengan lama perendaman selama 42 jam. Simpulan penelitian ini ialah lama perendaman basis gigi tiruan resin asetal dalam H2O2 3% selama 3,5 jam memiliki pengaruh paling rendah terhadap perlekatan Candida albicans dibandingkan dengan lama perendaman 14 jam dan 42 jam. Kata kunci: resin asetal; denture cleanser; hidrogen peroksida 3%; Candida albicans
Efektivitas Asuhan Keperawatan Gigi Keluarga terhadap Kesehatan Gigi dan Status Karies Anak Reca Reca; Intan Liana
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44389

Abstract

Abstract: Family dental health care is a series of activities provided by dental practitioners to help solving dental health problems. This study was aimed to assess family dental care effectiveness on changes in dental and oral health as well as caries index of children. This was a quasi-experimental study. There were 23 respondents of SDN 12 as the intervention group and 23 respondents of SDN 60 Banda Aceh as the control group, together with their parents. The intervention group was given dental health education and home visit while the control group was not. The results showed no significant difference in knowledge, attitudes, and actions of the children and parents as well as children's dental hygiene status (OHIS) and children's dental caries status (DMF-T) between groups before intervention. After the family dental nursing care was carried out, there were significant differences in knowledge, attitudes, and actions of the children and parents as well as OHIS and DMF-T at three months after the intervention. In conclusion, the knowledge, attitudes, actions of the children and parents as well as the OHIS and DFM-T status were improved after the family dental health care. Keywords: children; DMF-T, family dental health care, OHIS, parent Abstrak: Rangkaian kegiatan asuhan keperawatan gigi keluarga ditujukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan kesehatan gigi di dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menilai efektivitas asuhan keperawatan gigi keluarga terhadap perilaku, status kesehatan gigi anak dan indeks karies. Jenis penelitian ialah eksperimental semu. Sampel penelitian terdiri dari masing-masing 23 murid kelas lima SDN 12 (kelompok intervensi) dan SDN 60 Banda Aceh (kelompok kontrol), beserta orang tuanya. Kelompok intervensi diberikan asuhan kepera-watan gigi dan kunjungan rumah sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan tindakan. Hasil awal atau pra tindakan penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan rerata nilai pengetahuan, sikap, tindakan anak dan orang tuanya serta status kebersihan gigi anak (status OHIS anak) dan status karies gigi anak (status DMF-T anak) yang bermakna secara statistik baik terhadap kelompok intervensi maupun kontrol. Setelah dilakukan asuhan keperawatan gigi keluarga, terdapat perbedaan rerata nilai pengetahuan, sikap, tindakan anak dan orang tuanya serta status kebersihan gigi anak (status OHIS Anak) dan status karies gigi anak (status DMF-T Anak) sesaat setelah intervensi dan tiga bulan setelah intervensi yang bermakna secara statistik. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perubahan pengetahuan, sikap, tindakan anak dan orang tuanya serta status OHIS dan status DFM-T anak yang menjadi lebih baik dengan adanya asuhan keperawatan gigi keluarga. Kata kunci: anak; asuhan keperawatan gigi keluarga; DMF-T; OHIS; orang tua
Hiperplasia Papiler Palatum akibat Suction Cup pada Gigi Tiruan Lengkap (Laporan Kasus) Anita Anita
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44390

Abstract

Abstract: Suction cups are widely used on upper dentures with the aim of increasing retention, but if used continuously and for a long period of time they can cause papillary hyperplasia to holes in the palate. We reported a case of a 62-year-old female patient who came with complaints of loose upper and lower complete dentures, removed suction cup on the old maxillary denture, papillary hyperplasia on the anterior midline palate, and a small torus on the palate. In palpation, the papillary hyperplasia was firm, protruding with an uneven surface, but was not painful. New upper and lower complete dentures were made according to the stages in order to obtain dentures with maximum retention and stability. It was ensured that the new denture did not press the papillary hyperplasia area so as to provide an opportunity for the tissue to heal. The patient was advised to remove and clean the dentures at night and clean the palatal tissue with a soft brush. Follow up for the next three months was carried out to observe the palate condition and the dentures whether if relining was needed. In conclusion, suction cup is not recommended to increase denture retention, and in cases of residual ridge resorption, complete denture fabrication should be carried out by professionals. Keywords: suction cups; papillary hyperplasia; denture retention Abstrak: Suction cup banyak digunakan pada gigi tiruan atas dengan tujuan untuk menambah retensi, namun jika digunakan terus menerus dan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan hiperplasia papiler hingga terbentuknya lubang pada palatum. Kami melaporkan kasus seorang pasien wanita berusia 62 tahun dengan keluhan gigi tiruan lengkap atas dan bawahnya longgar, pada gigi tiruan lama rahang atas ditemukan suction cup yang sudah lepas karetnya, hiperplasia papiler pada daerah anterior midline palatum, serta torus palatinus kecil. Palpasi pada hiperplasia papiler terasa keras, menonjol dengan permukaan yang tidak rata, tetapi tidak terasa nyeri. Pasien dibuatkan gigi tiruan lengkap baru atas dan bawah, sesuai dengan tahapannya agar diperoleh gigi tiruan dengan retensi dan stabilitas yang maksimal. Gigi tiruan baru dipastikan tidak menekan daerah hiperplasia papiler sehingga memberikan kesempatan jaringan untuk penyembuhan. Pasien disarankan untuk melepas serta memberihkan gigi tiruannya pada malam hari dan membersihkan jaringan palatum dengan sikat halus. Dilakukan evaluasi selama tiga bulan, untuk memeriksa keadaan palatum dan mengobservasi gigi tiruan jika dibutuhkan tindakan relining. Simpulan penelitian ini ialah penggunaan suction cup tidak disarankan untuk menambah retensi gigi tiruan. Pembuatan gigi tiruan lengkap pada kasus resorpsi residual ridge sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional. Kata kunci: suction cup; hiperplasia papiler; retensi gigi tiruan