cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 593 Documents
Analisis Ukuran Lengkung Rahang Anak Usia 10-13 Tahun dan 14-16 Tahun di Wilayah Dataran Tinggi (Studi di Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember) Izzata Barid; Didin E. Indahyani; Sigiq E. Utami
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44391

Abstract

Abstract: The growth and development of the arch is influenced by genetics, race, and environment. Genetic factors are the important basic in growth and development while environmental factors in the form of geographical, socio-cultural and economic locations can interact with the genetic factors. This study aimed to analyze the size of the jaw arch of children aged 10-13 years and 14-16 years at the highland of Jelbuk District, Jember Regency. This was an analytical and observational study with a cross sectional design. Measurement of the jaw arch on the model was performed using the Raberin method. The results obtained 136 subjects consisting of 59 boys and 77 girls aged 10-16 years. All subjects were grouped into two age groups, 10-13 years and 14-16 years. The Mann-Whitney U test on the difference in jaw arch size between the ages of 10-13 years and 14-16 years showed that most of them had p-values of >0.05, which meant that there was no significant difference between the two age groups, except at L31 of mandibular male. In conclusion, there is no significant difference in the size of the jaw arch of children aged 10-13 years and 14-16 years at the highland of Jelbuk District, Jember Regency Keywords: highlands; the size of the jaw arch; growth spurts; socio-cultural; economy Abstrak: Pertumbuhan dan perkembangan lengkung rahang dipengaruhi oleh genetik, ras, dan lingkungan. Faktor genetik merupakan modal dasar dalam tumbuh kembang sedangkan faktor lingkungan berupa letak geografi, sosial budaya dan ekonomi dapat berinteraksi dengan faktor genetik. Penelitian ini bertujuan menganalisis ukuran lengkung rahang anak usia 10-13 tahun dan usia 14-16 tahun di wilayah dataran tinggi Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember. Jenis penelitian ini observasional analitik dengan desain potong lintang. Pengukuran lengkung rahang pada model menggunakan metode Raberin. Hasil penelitian mendapatkan 136 subjek yang terdiri dari 59 anak laki-laki dan 77 anak perempuan berusia 10-16 tahun. Keseluruhan subjek dikelompokkan menjadi dua kelompok usia yakni usia 10-13 tahun dan usia 14-16 tahun. Berdasarkan Mann-Whitney U Test pada uji beda ukuran lengkung rahang antara usia 10-13 tahun dengan 14-16 tahun sebagian besar menunjukkan nilai p>0,05 yang artinya tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua kelompok usia, kecuali pada L31 rahang bawah anak laki-laki. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan bermakna dalam ukuran lengkung rahang antara kelompok usia 10-13 tahun dan 14-16 tahun di wilayah dataran tinggi Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember. Kata kunci: dataran tinggi; ukuran lengkung rahang; growth spurt; sosial budaya; ekonomi
Hubungan Tingkat Kepedulian Orang Tua terhadap Status Oral Hygiene Anak Berkebutuhan Khusus Citra Lestari; Valendriyani Ningrum; Ika Andriani; Dwi Windu
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44202

Abstract

Abstract: Oral health problems among special needs children (SNC) is a priority and concern of all parties, both parents/caregivers, dentists and health policy makers both nationally and regionally as soon as possible. This study aimed to determine the relationship between the level of parental care and the oral hygiene of children at SLB Wacana Asih, Padang. This was an analytical and survey study with a cross-sectional design. Sampling was performed by using total sampling, consisting of parents of SNC and the SNC as many as 82 children. Data were analyzed using the Spearman Rank test with a significance level of p<0.05. The results showed that parent’s attention to the dental and oral hygiene of SNC was 53.66% in the good category and 46.445% in the moderate category. Furthermore, the results of the examination of the oral hygiene status of SNC showed various levels of status, as follows: good (45.1%), moderate (28%), and poor (26.8%). The statistical correlation test obtained a p-value of 0.000 which indicated that there was a significant relationship between parental care and the oral hygiene status of SNC with a correlation coefficient of r 0.699, which means a strong positive relationship. In conclusion, the higher the concern of parents, the better the oral hygiene status of special needs children. Keywords: parental care; oral hygiene; special needs children   Abstrak: Masalah kebersihan gigi dan mulut pada anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan prioritas yang perlu mendapat perhatian semua pihak yaitu orang tua, pengasuh, dokter gigi dan pengampu kebijakan kesehatan baik nasional maupun daerah sedini mungkin. Penelitian ini bertu-juan untuk mengetahui hubungan antara tingkat kepedulian orang tua dengan oral hygiene anak SLB Wacana Asih, Kota Padang. Jenis penelitian ialah survei analitik dengan desain potong lintang. Metode pengambilan sampel ialah total sampling yaitu orang tua dari ABK dan ABK sebanyak 82 anak. Data penelitian diuji menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepedulian orang tua tentang kebersihan gigi dan mulut ABK dengan kategori baik sebanyak 53,66%, sedangkan kategori cukup baik sebesar 46,445%. Hasil pemeriksaan status oral hygiene ABK menunjukkan berbagai level status yakni: baik (45,1%), sedang (28%) dan buruk (26,8%). Hasil uji korelasi mendapatkan p=0,000 yang menunjukkan hubungan bermakna anatara kepedulian orang tua dengan status oral hygiene ABK dengan nilai koefisien korelasi r 0.699 yang bermakna hubungan positif kuat. Simpulan penelitian ini ialah sema-kin tinggi kepedulian orang tua maka akan semakin baik status oral hygiene berkebutuhan khusus. Kata kunci: kepedulian orang tua; oral hygiene; anak berkebutuhan khusus  
Penurunan fungsi keadaan gigi dan mulut (oral hypofunction) terkait risiko sarkopenia pada lansia-Kajian Literatur Krista V. Siagian; Armasastra Bahar
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44523

Abstract

Abstrak: Kesehatan gigi dan mulut lanjut usia (lansia) mendapatkan perhatian dunia karena komponen penting dalam kesehatan umum. Konsep penurunan fungsi dan kesehatan tubuh sistemik terkait dengan penurunan fungsi keadaan gigi dan mulut (oral hypofunction) pada lansia baru diperkenalkan dan awalnya digagas oleh Asosiasi The National Center for Geriatrics and Gerontology di Jepang pada tahun 2014. Otot merupakan salah satu organ yang mengalami gangguan akibat penuaan. Sarkopenia merupakan sindroma penurunan massa, fungsi dan kekuatan otot yang progresif dan menyeluruh yang dapat terjadi pada lansia (lanjut usia) ≥ 60 tahun namun lebih awal lagi dapat terjadi. Beberapa studi telah melaporkan kaitan penurunan fungsi dan kesehatan rongga mulut (oral hypofunction) dengan risiko sarkopenia pada lansia. Metode: Tulisan ini merupakan kajian literatur jurnal internasional berbahasa Inggris dalam 10 tahun sebelum tahun 2022. Tujuan: Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan kaitan penurunan fungsi dan kesehatan gigi dan mulut (oral hypofunction) pada lansia dengan sarkopenia berdasarkan studi terdahulu. Kata kunci: Oral, oral hypofunction, sarkopenia, otot, kesehatan,gigi dan mulut, studi literatur ABSTRACT Background: Oral health related to aging in elderly is gaining global attention because it is an important component of general health. The concept of general fuctional decline via decrease oral function is pionneering by Japan Geriatrics and Gerontology Study Group in 2014. Muscles are one of the organs that are decline regarding with the aging process. Sarcopenia is a progressive and accelerated muscle loss syndrome in mass, function and strength, and this is a whole body process. It can occur in the elderly 60 years but also it can occur earlier in life. Several studies have reported the association of oral hypofunction and sarcopenia in elderly. Method:This literature review performed the internet database in 10 years before 2022,in International Journal in English. Aim: In this literature review, we aim to describe the available study of oral hypofunction and sarcopenia. Keywords: Oral, health, oral hypofunction, Sarcopenia, muscle, literature
Efek Ekstrak Daun Oregano (Origanum vulgare) terhadap Plat Resin Akrilik Heat-Cured yang Dikontaminasi Candida albicans dan Streptococcus mutans Silvia Naliani; Shelly Lelyana; Henry Y. Mandalas; Jason F. Laurence; Vinna K. Sugiaman; Jane A. V. Wibisono; Dian Lesmana
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44461

Abstract

Abstract: Long-term use of dentures with poor cleaning can cause denture stomatitis mainly due to Candida albicans and Streptococcus mutans. Oregano leaf (Origanum vulgare) which contains a variety of active components is believed to be an alternative of denture cleansers. This study aimed to determine the effect of oregano leaf extract on heat-cured acrylic resin plates contaminated with C. albicans and S. mutans. There were 27 heat-cured acrylic plates contaminated and soaked for 10 minutes in nine treatment groups, as follows: oregano leaf extract of 50 mg/ml, 25 mg/ml, 12.5 mg/ml, 6.25 mg/ml, 3,125 mg /ml, 1,562 mg/ml, and 0,781 mg/ml, distilled water as the negative control, Polident denture cleanser fresh (positive control for C. albicans) and chlorhexidine gluconate 0,2% (positive control for S. mutans). The colony number of C. albicans and the inhibition zones of S. mutans were counted. The results showed that the lowest number of C. albicans colony and the largest inhibition zone for S. mutans were at the concentration of 50 mg/ml oregano leaf extract. In conclusion, there was an effect of oregano leaf extract on acrylic resin plates contaminated with Candida albicans and Streptococcus mutans. Keywords: acrylic resin; denture stomatitis; Origanum vulgare; Candida albicans; Streptococcus mutans   Abstrak: Penggunaan gigi tiruan secara terus menerus dalam jangka panjang dengan pembersihan yang buruk dapat menyebabkan denture stomatitis terutama oleh Candida albicans dan Strepto-coccus mutans. Daun oregano (Origanum vulgare) yang mengandung beragam komponen aktif diyakini dapat menjadi alternatif pembersih gigi tiruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun oregano terhadap plat resin akrilik heat-cured yang dikontaminasi jamur C. albicans dan S. mutans. Terdapat 27 plat akrilik heat-cured yang dikontaminasi dan dilakukan perendaman selama 10 menit dalam sembilan kelompok perlakuan yaitu, konsentrasi ekstrak daun oregano 50 mg/ml, 25 mg/ml, 12,5 mg/ml, 6,25 mg/ml, 3,125 mg/ml, 1,562 mg/ml, 0,781 mg/ml, akuades (kontrol negatif), Polident Denture Cleanser Fresh (kontrol positif C. albicans), dan chlorhexidine gluconate 0,2% (kon-trol positif S. mutans). Jumlah koloni C. albicans dan zona hambat S. mutans dihitung. Hasil penelitian menunjukkan jumlah koloni C. albicans terkecil dan zona hambat S. mutans terbesar pada konsentrasi ekstrak daun oregano 50 mg/ml. Simpulan penelitian ini ialah terdapat pengaruh ekstrak daun oregano terhadap plat resin akrilik yang dikontaminasi Candida albicans dan Streptococcus mutans. Kata kunci: resin akrilik; denture stomatitis; Origanum vulgare; Candida albicans; Streptococcus mutans
Potensi Minyak Esensial Serai Terhadap Bakteri Patogen Periodontal Veronica S. Primasari; Caesaria F. Syaharani
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44465

Abstract

Abstract: Gingivitis and periodontitis are inflammatory conditions in the periodontal tissue caused by bacteria, immune responses, inflammatory reactions, and environmental factors. The primary factor of periodontal disease is the proliferation of pathogenic biofilms of the oral cavity. The major problem in the treatment of periodontal disease is antibiotic resistance which has increased during the last decade. Lemongrass oil is considered as a popular and important medicinal plant due to its antibacterial, antifungal, antioxidant, antiseptic, anti-inflammatory, analgesic, and antipyretic properties which can be used for alternative options. This study aimed to conduct an integrative literature study on lemongrass essential oil against periodontal pathogens. A total of ten journals from the Google Scholar and PubMed databases were analyzed. The contents of the journals were the antibacterial properties of lemongrass essential oil compared based on inhibition zone, MIC value, and MBC. The results revealed that lemongrass essential oil had strong antibacterial potential, with an average concentration of 1-2% to inhibit the bacteria Porphyromonas gingivalis, Aggregatibacter actinomycetemcomitans, and Prevotella intermedia which were Gram-negative bacteria and pathogenic to periodontal tissues. In conclusion, lemongrass essential oil is highly effective to inhibit the mentioned bacteria; therefore. it could be an alternative to avoid antibiotic resistance. Keywords: lemongrass essential oil; Porphyromonas gingivalis; Aggregatibacter actinomycetem-comitans; Prevotella intermedia   Abstrak: Penyakit periodontal, yaitu gingivitis dan periodontitis merupakan kondisi peradangan pada jaringan periodontal yang melibatkan interaksi antara bakteri, respon imun, reaksi inflamasi, dan faktor lingkungan. Penyebab utama penyakit periodontal yaitu proliferasi biofilm patogen rongga mulut. Masalah utama dalam pengobatan penyakit periodontal ialah resistensi antibiotik yang telah meningkat selama dekade terakhir ini. Minyak serai dianggap sebagai tanaman obat yang populer dan penting karena memiliki sifat antibakteri, antijamur, antioksidan, antiseptik, antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik yang dapat digunakan sebagai alternatif pilihan. Studi ini merupakan studi pustaka integratif tentang minyak esensial serai terhadap bakteri patogen periodontal dengan menganalisis 10 jurnal dari database Google Scholar dan PubMed. Materi yang dianalisis dari jurnal ialah sifat antibakteri minyak esensial serai dengan membandingkan berdasarkan zona hambat, nilai MIC, dan MBC. Hasil penelitian mengung-kapkan bahwa minyak esensial serai memiliki potensi antibakteri yang kuat, dengan rerata konsentrasi 1-2% untuk menghambat bakteri Porphyromonas gingivalis, Aggregatibacter actino-mycetemcomitans, dan Prevotella intermedia yang merupakan bakteri Gram negatif dan bersifat patogen terhadap jaringan periodontal. Simpulan penelitian ini ialah minyak esensial serai menghambat secara kuat ketiga jenis bakteri tersebut sehingga dapat menjadi alternatif untuk menghindari resistensi antibiotik. Kata kunci: minyak esensial serai; Porphyromonas gingivalis; Aggregatibacter actinomycetem-comitans; Prevotella intermedia
Perbedaan Ukuran Gigi Laki-laki dan Perempuan Suku Jawa dengan Maloklusi Kelas I Angle Berdasarkan Analisis Bolton Eko Prastyo; Basma R. Prakosa; Raden Aditya W. Wardana; Muhammad R. Arnol
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44205

Abstract

Abstract: Factors that cause differences in tooth size are inter alia gender, race, and the presence of dental anomalies whether in the forms of abnormalities in location, size, shape, or number of teeth which can cause dental malocclusion. This study aimed to determine whether there was a difference in tooth size of Javanese men and women who had Angle Class I malocclusion based on Bolton's analysis. This was an analytical and observational study. Samples consisted of 54 dental models with Angle Class I malocclusion of the Javanese ethnic group divided into two groups, namely 27 male dental models and 27 female dental models. The mesiodistal width of each tooth was calculated except for the second and third molars. The calculation of the anterior ratio and the overall ratio was based on the Bolton analysis formula. Each sample was calculated for the upper and lower jaws, and then the results of the calculations were processed and analyzed using the independent t-test. The anterior ratio of the female had a value of 79.8081±3.45013, the anterior ratio of the males had a value of 78.7763± 3.55517, the overall ratio of the females had a value of 92.5041±1.97414, and the overall ratio of the male had a value of 92.2807±2.61955. In conclusion, by Bolton analysis, there was no significant difference in tooth sizes between Javanese men and women who had Angle Class I malocclusion. Keywords: tooth size; Bolton analysis; Angle Class I malocclusion; Javanese   Abstrak: Perbedaan ukuran gigi disebabkan antara lain oleh jenis kelamin, ras, dan adanya anomali gigi berupa kelainan letak, ukuran, bentuk, dan jumlah gigi yang dapat mengakibatkan terjadinya maloklusi gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan ukuran gigi laki-laki dan perempuan suku Jawa yang mengalami maloklusi kelas I Angle berdasarkan analisis Bolton dengan menggunakan metode observasional analitik. Sampel berjumlah 54 model gigi dengan maloklusi kelas I Angle yang berasal dari suku Jawa, dibagi menjadi dua kelompok yaitu 27 model gigi laki-laki dan 27 model gigi perempuan. Model gigi yang didapat dilakukan perhitungan lebar mesiodistal setiap gigi kecuali gigi molar kedua dan molar ketiga. Perhitungan rasio anterior dan rasio keseluruhan berdasarkan rumus analisis Bolton. Setiap sampel dilakukan perhitungan rahang atas dan rahang bawah, kemudian hasil perhitungan diolah dan dianalisis menggunakan uji t-test independent. Rasio anterior perempuan memiliki nilai 79,8081±3,45013, rasio anterior laki-laki memiliki nilai 78,7763±3,55517, rasio keseluruhan perempuan memiliki nilai 92,5041±1,97414, dan rasio keselu-ruhan laki-laki memiliki nilai 92,2807±2,61955. Simpulan penelitian ini ialah dengan analisis Bolton, tidak terdapat perbedaan bermakna ukuran gigi antara laki-laki dan perempuan suku Jawa yang memiliki maloklusi Kelas I Angle. Kata kunci: ukuran gigi; analisis Bolton; maloklusi kelas I Angle; suku Jawa
Efektivitas Kombinasi Ibuprofen dan Parasetamol terhadap Kualitas Analgesia Pasca Odontektomi Molar Tiga Mohammad Gazali; Hadira Hadira; Ahmad Nur Islam; Andi Tajrin; Nilawati Nilawati
e-GiGi Vol. 11 No. 1 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i1.44438

Abstract

Abstract: Third molar odontectomy is a common oral and maxillofacial surgical procedure associated with local tissue injury with varying levels of postoperative pain. Acute pain management guidelines recommend multimodal treatment because its additive or synergistic effects between drugs can enhance analgesia which can be achieved at lower doses, therefore, potentially reduce the risk of side effects. This study aimed to discuss the effectiveness of the combination of ibuprofen and paracetamol on the quality of analgesia after third molar odontectomy. This was a literature review using PubMed and Google Scholar databases for original articles, case reports, and reviews, and the keywords were post odontectomy pain, multimodal analgesia, ibuprofen, and paracetamol. The results obtained seven literatures; six of them reported that the combination of ibuprofen and paracetamol in various dosages had a better analgesia effect and a faster onset than a single dose. In conclusion, the combination of para-cetamol and ibuprofen provides much better analgesic effect and faster onset than comparable doses of single agent or placebo in adults after third molar odontectomy. Keywords: odontectomy; pain; ibuprofen; paracetamol   Abstrak: Odontektomi molar tiga ialah tindakan bedah regio oral dan maksilofasial yang umum dilakukan dan terkait cedera jaringan lokal dengan berbagai tingkat nyeri pasca operasi. Pedoman manajemen nyeri akut merekomendasikan pengobatan multimodal karena efek aditif atau sinergis antar obat dapat meningkatkan analgesia yang efeknya dapat dicapai pada dosis lebih rendah dan berpotensi mengurangi risiko efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk membahas efektivitas kombinasi ibuprofen dan parasetamol terhadap kualitas analgesia pasca odontektomi molar tiga. Jenis penelitian ialah suatu literature review, dan pencarian menggunakan PubMed dan Google Scholar untuk artikel asli, laporan kasus, dan ulasan dengan kata kunci nyeri pasca odontektomi, analgesia multimodal, ibuprofen, dan parasetamol. Hasil penelitian mendapatkan  tujuh literatur, enam di antaranya melaporkan bahwa kombinasi ibuprofen dan parasetamol dalam berbagai varian dosis memiliki efek analgesia yang lebih baik dan onset yang lebih cepat dibanding dosis tunggal. Simpulan penelitian ini ialah kombinasi parasetamol dan ibuprofen memberikan efek analgesik yang lebih baik dan onset yang lebih cepat dibandingkan dengan dosis tunggal atau plasebo pada orang dewasa setelah odontektomi molar ketiga. Kata kunci: odontektomi;  nyeri; ibuprofen; parasetamol
Efektivitas Baking Soda terhadap Pengurangan Indeks Stain dan Plak Gigi Akibat Kebiasaan Menyirih Rawati Siregar; I Ketut Harapan; Netty J. Aritonang; Ni Made Yuliana
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.46057

Abstract

Abstract: Oral hygiene needs to be maintained to avoid dental and oral diseases and decreased self-confidence. Betel-chewing habit could affect dental and oral health inter alia the occurrence of stains and plaque on the teeth that make the teeth lose their aesthetics. One way that can be used to whiten the teeth is to use baking soda. This study aimed to analyze the effectiveness of baking soda solution in reducing stain and plaque index on the teeth. This was a pre and post-test randomized single blind control trial design. There were 60 women with the habit of betel-chewing as subjects at Gunung Tinggi Village, Pancur Batu District, Deli Serdang. All subjects were treated with 2.5% baking soda solution applied on the teeth. Analyses were carried out before and after treatment whether the stains and plaque index decreased or not. The results showed that the average of stain index before treatment was 2.18 and after treatment it decreased to 1.27. While the average plaque index before treatment was 1.28 and after treatment it decreased to 0.85. In conclusion, baking soda solution is effective in reducing the stain and dental plaque index in women having betel chewing habit at Gunung Tinggi Village, Pancur Batu District, Deli Serdang, Indonesia. Keywords: baking soda; betel-chewing habit; dental plaque; stain    Abstrak: Kebersihan rongga mulut perlu dijaga untuk menghindarkan penyakit gigi dan mulut dan penurunan kepercayaan diri seseorang. Kebiasaan menyirih memiliki pengaruh bagi kesehatan gigi dan mulut yaitu antara lain menimbulkan stain dan plak pada gigi yang membuat gigi kehilangan estetiknya. Salah satu cara untuk memutihkan gigi ialah menggunakan baking soda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas baking soda dalam menurunkan stain dan indeks plak pada gigi. Penelitian ini menggunakan rancangan pre dan post-test randomized single blind control trial. Perlakuan yang diberikan ialah pengolesan gigi dengan larutan baking soda 2,5%. Subyek penelitian ini ialah 60 orang wanita dengan kebiasaan menyirih di Desa Tanah Tinggi Kecamatan Pancur Batu Deli Serdang. Analisis dilakukan sebelum dan setelah perlakuan terhadap menurun tidaknya indeks stain dan plak pada gigi. Hasil penelitian memperlihatkan rerata indeks stain sebelum perlakuan sebesar 2,18 dan setelah perlakuan menurun menjadi 1,27. Rerata indeks plak pada gigi sebelum perlakuan sebesar 1,28 dan setelah perlakuan menurun menjadi 0,85. Simpulan penelitian ini ialah larutan baking soda efektif menurunkan indeks stain dan plak gigi pada wanita yang menyirih di desa Gunung Tinggi Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Kata kunci: baking soda; menyirih; plak gigi; stain
Efektivitas Antibakteri Fraksi Buah Merah (Pandanus conoideus Lam) sebagai Pembersih Gigi Tiruan Sebagian Lepasan terhadap Staphylococcus aureus Anggita U. C. Purba; Silvia Naliani; Vinna K. Sugiaman
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.44464

Abstract

Abstract: Staphylococcus aureus is a species of bacteria that causes denture stomatitis which is often found in removable denture wearers. Its management is carried out by eliminating pathogenic bacteria and cleaning dentures regularly. One of the natural ingredients that can be used in such condition is red fruit (Pandanus conoideus Lam) which has active compounds such as flavonoids, alkaloids, steroids and triterpenoids. These active compounds are known to have antibacterial activity. This study aimed to determine the effectiveness of red fruit fraction (Pandanus conoideus Lam) with n-Hexane and ethyl acetate as solvent against Staphylococcus aureus. The method used was the Kirby-Bauer disc diffusion method by testing various concentrations (100%, 90%, 80%, 50%, 25%, 12.5%, 6.25%, and 3.125%) and measuring the inhibition zone diameter by using a caliper. The results showed that the red fruit fraction with ethyl acetate solvent at a concentration of 100% had an average inhibition zone diameter of 8.80 mm classified as medium category, followed by 90% and 80% respectively. In conclusion, ethyl acetate fraction of red fruit (Pandanus conoideus Lam) is effective in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus. Keywords: Staphylococcus aureus; denture stomatitis; removable partial denture, red fruit fraction; inhibition zone   Abstrak: Staphylococcus aureus merupakan salah satu spesies bakteri penyebab denture stomatitis yang sering dijumpai pada pasien pengguna gigi tiruan lepasan. Penatalaksanaan dilakukan dengan mengeliminasi bakteri patogen dan rutin membersihkan gigi tiruan. Salah satu bahan alami yang dapat digunakan ialah buah merah (Pandanus conoideus Lam) yang mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, steroid, dan triterpenoid yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas fraksi buah merah (Pandanus conoideus Lam) dengan pelarut n-Heksana dan etil asetat terhadap Staphylococcus aureus. Metode yang digunakan ialah metode difusi cakram Kirby-Bauer dengan menguji berbagai konsentrasi fraksi buah merah (100%, 90%, 80%, 50%, 25%, 12,5%, 6,25%, dan 3,125%), dan pengukuran diameter zona hambat dilakukan menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi buah merah dengan pelarut etil asetat pada konsentrasi 100% memiliki rerata diameter zona hambat tertinggi sebesar 8,80 mm yang tergolong kategori sedang diikuti konsentrasi 90% dan 80%. Simpulan penelitian ini ialah fraksi etil asetat buah merah (Pandanus conoideus Lam) efektif dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Kata kunci: Staphylococcus aureus; denture stomatitis; gigi tiruan sebagian lepasan; fraksi buah merah; zona hambat
Effectiveness of Cetylpyridinium Chloride in Reducing the Growth of Bacteria that Cause Periodontal Disease Ernie M. Setiawatie; Rizka Valentina; Rihandhita S. Meiliana
e-GiGi Vol. 11 No. 2 (2023): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v11i2.44510

Abstract

Abstract: Periodontal disease is a common dental and oral health problem in the community which is usually caused by Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Porphyromonas gingivalis, and Streptococcus mutans. This study aimed to provide information about the cetylpyridinium chloride (CPC) which can inhibit the growth of bacteria that cause periodontal disease. This was a narrative review literature study sourced from Google Scholar, Science Direct, and Pubmed (MEDLINE) databases. The keywords used were CPC inhibition, antimicrobial agent, periodontal pathogen bacteria, periodontal disease, and mouthwash. The results obtained 31 articles with appropriate titles and three review articles. Cetylpyridinium chloride is a mouthwash containing a monocationic quaternary ammonium compound consisting of quaternary nitrogen with a positive charge. with a positive charge. The molecular formula of CPC was C12H38CIN, and the molecular weight was 340g/mol with the IUPAC name 1-hexadecylpyridinium chloride. Cetylpyridinium chloride could inhibit the growth of oral pathogenic bacteria by adsorbing negative charges from bacteria, increasing the permeability of bacterial cell walls, decreasing cell metabolism, damaging cell membranes, and reducing the attachment of bacteria to the tooth surface which could reduce the growth of bacterial cells as the cause of periodontal disease. In conclusion, cetylpyridinium chloride is a potent antibacterial agent suitable used as a mouthwash to prevent periodontal disease. Keywords: cetylpyridinium chloride inhibition; antimicrobial agent; periodontal pathogen bacteria; periodontal disease; mouthwash