cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-GIGI
ISSN : 2338199X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 574 Documents
Status Periodontal Anak Usia 8-12 Tahun di Sekolah Dasar Negeri 126 Manado Mantiri, Amanda N. P.; Wowor, Vonny N. S.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.21207

Abstract

Abstract: Periodontal disease is a serious chronic infection that involves the destruction of tooth supporting tissues, including gum, periodontal ligaments, and alveolar bone. It is the second most common dental and oral disease suffered by people in the world after dental caries. According to WHO, age 12 years has been chosen as an age group of global indicators for international comparison and surveillance of disease trends. This study was aimed to obtain the periodontal status of students 8-12 years old at SD Negeri 126 Manado (elementary school). This was a descriptive study with a cross sectional design. Respondents were 76 students obtained by using purposive sampling technique. Data of gum examination of all subjects were obtained by using WHO CPI probe and flat dental mirror and were analyzed univariately and presented in distribution tables. The results showed that 7 students (9.2%) had healthy gums, meanwhile 69 students (90.8%) had unhealthy gums, consisting of 66 students (86.8%) with bleeding gums ≤50%, and 3 students (4%) with bleeding gums ≥51%. Conclusion: Most students in this study had bleeding gum ≤50%. Albeit, some students still had healthy gums.Keywords: students aged 8-12 years, periodontal status, gingival bleeding Abstrak: Penyakit periodontal adalah infeksi kronis serius yang melibatkan penghancuran jaringan pendukung gigi, termasuk gingiva, ligamen periodontal, dan tulang alveolar. Penyakit ini tergolong penyakit gigi dan mulut kedua terbanyak yang diderita masyarakat di dunia setelah karies gigi. Menurut WHO, usia 12 tahun dipilih sebagai kelompok usia indikator global untuk perbandingan internasional dan surveilans kecenderungan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status periodontal siswa usia 8-12 tahun di SD Negeri 126 Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah 76 siswa, diambil dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh berdasarkan pemeriksaan gingiva terhadap subyek menggunakan probe CPI WHO dan kaca mulut, kemudian diolah dengan cara analisis univariat serta disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 7 siswa (9,2%) memiliki gingiva sehat, dan 69 siswa (90,8%) yang tidak sehat terdiri dari 66 siswa (86,8%) mengalami perdarahan gingiva ≤50%, dan 3 siswa (4%) mengalami perdarahan gingiva ≥51%. Simpulan: Sebagian besar siswa usia 8-12 tahun di SD Negeri 126 Manado mengalami perdarahan gingival ≤50%. Walaupun demikian, sebagian kecil siswa masih memiliki gingiva yang sehat.Kata kunci: anak usia 8-12 tahun, status periodontal, perdarahan gingiva
UJI EFEK ANTI BAKTERI EKSTRAK BUNGA CENGKEH TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans SECARA IN VITRO Andries, Juvensius R.; Gunawan, Paulina N.; Supit, Aurelia
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5763

Abstract

Abstrak: Minyak cengkeh berguna sebagai antibakteri alami. Minyak esensial dari cengkeh mempunyai fungsi anestetik dan antimikrobial. Zat yang terkandung dalam cengkeh yang bernama eugenol dapat membunuh bakteri termasuk bakteri yang resisten terhadap antibiotika, salah satunya adalah bakteri Streptococcus mutans. Bakteri ini merupakan mikroorganisme penyebab utama terjadinya karies. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak cengkeh terhadap bakteri Streptococcus mutans secara in vitro. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan post test only control group design. Penelitian ini menggunakan bahan coba ekstrak cengkeh dengan konsentrasi 40%, 60%, dan 80%, Ciprofloxacin, aquades dengan pengulangan sebanyak lima kali. Data dikumpulkan dan dianalisis dengan one-way ANOVA dan post-hoc uji LSD ( = 0,05). Berdasarkan hasil uji statistik penelitian uji efek antibakteri ekstrak cengkeh terhadap bakteri streptococcus mutans secara in vitro, dapat disimpulkaan bahwa ekstrak cengkeh memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans secara in vitro. Hasil uji lanjut post-hoc uji LSD menunjukan daya hambat ekstrak cengkeh 40%, 60%, 80%, lebih kecil (p<0,05) dalam menghambat Streptococcus mutans secara in vitro dibandingkan Ciprofloxacin. Kata Kunci: Ekstrak cengkeh, Streptococcus mutans.   Abstract: Clove oil is useful as a natural antibacterial agent, essential oil of clove has anesthetic and antimicrobial effect. Substances contained in clove called eugenol can kill bacteria including antibiotic resistant bacteria, one of which is the bacteria Streptococcus mutans. This bacteria is a major cause for caries. The purpose of this study was to mengetahui clove extrack antibacterial effects againts Streptococcus mutans bacteria in vitro. This study is an experimental study using a post test only control group design. This research try using clove extract with a concentration of 40%, 60%, and 80%, Ciprofloxacin, aquades repetition five times. Data collected and analyzed by one-way ANOVA and post-hoc LSD test (α = 0.05). Based on the results of the statistical test to test the effects of anti-bacterial research clove extracts against Streptococcus mutans bacteria in vitro, can disimpulkaan that clove extracts have antibacterial effects in inhibiting the growth of Streptococcus mutans bacteria in vitro.further test result post-hoc LSD test shoved its inhibitory clove extract 40%, 60%, 80% smaller (p<0,05)in hibiting Streptococcus mutans in vitro compared Ciprofloxacin. Keywords: clove extract, Streptococcus mutans
Hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak dengan tingkat keparahan karies anak TK di Kota Tahuna Rompis, Christian; Pangemanan, Damajanty; Gunawan, Paulina
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.11483

Abstract

Abstract: Mother's knowledge about children dental health is very important. It could be observed from some aspects such as knowledge of the causes of dental health problems, children dental care, dietary, and time schedule to the dentist. Def-t index is a measurement of the severity of dental caries in children. This study aimed to determine the relationship of mother's knowledge about the dental health and dental caries severity of kindergarten children in the town of Tahuna. This was an analytical study with a cross-sectional design. There were 65 kindergarten children as samples. Data were collected by using a questionnaire and the def-t examination sheet. The results showed as follows: the mother's knowledge about the dental health of children of good category 93.8% and poor category 6.1%. The examination of the severity of dental caries resulted in 4.61% low severity category, 26.1% moderate severity category, 60% high severity category, and very high severity category 9.23%. The contingency coefficient correlation test showed a significance of 0.270 (> p = 0.05); therefore, the relationship was weak. Conclusion: There was no relationship between mother's knowledge about dental health of the children and caries severity of kindergarten children in the city of Tahuna.Keywords: def- t, severity of caries, knowledge of motherAbstrak: Pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak menjadi salah satu hal yang penting di era sekarang ini. Pengetahuan ibu mengenai kesehatan gigi anak dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu pengetahuan tentang penyebab masalah kesehatan gigi, akibat masalah kesehatan gigi, perawatan gigi anak, pengaturan makanan serta waktu memeriksakan gigi anak ke dokter gigi. Tingkat keparahan karies merupakan pengukuran seberapa parah karies gigi pada anak dengan menggunakan indeks def-t. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi terhadap tingkat keparahan karies anak TK di kota Tahuna. Jenis penelitan ini analitik dengan rancangan potong lintang. Jumlah sampel yang diambil dari beberapa TK di Kota Tahuna sebanyak 65 anak. Teknik pengumpulan data mengunakan kuesioner dan lembar pemeriksaan def-t. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak di Kota Tahuna kategori baik 93,8% sedangkan kategori buruk 6,1 %. Pemeriksaan tingkat keparahan karies gigi mendapatkan kategori keparahan rendah 4,61%, kategori keparahan sedang 26,1%, kategori keparahan tinggi 60%, dan kategori keparahan sangat tinggi 9,23%. Hasil analisis menggunakan uji korelasi koefisien kontingensi mendapatkan hasil signifikansi 0,270 (> p = 0,05), yang menunjukkan hubungan yang terjadi lemah. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak dengan tingkat keparahan karies anak TK di Kota Tahuna.Kata kunci : def- t, tingkat keparahan karies, pengetahuan ibu
Pengaruh berkumur larutan teh hijau dalam menurunkan akumulasi plak pada gigi anak usia 8-10 tahun Nubatonis, Nikhe D.; Gunawan, Paulina N.; Wuisan, Jane
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13925

Abstract

Abstract: Oral health is still a major problem in Indonesia. Ignorance towards oral health has lead to accumulation of dental plaques. Children aged 8-10 are susceptible to have dental caries because they like to consume rich-sugar foods. Moreeover, these children are in the process of teeth changes and the growth of new teeth. There are many methods to prevent plaque forming besides tooth brushing inter alia oral rinsing which can cover wider surfaces of the oral cavity. This study was aimed to determine the effect of oral rinsing with green tea solution on reducing dental plaque accumulation among children aged 8-10 years. This was a quasi-experimental study with a pre-test and post-test group design. Population of study was students of SDN 126 Manado aged 8-10 years old. Samples were obtained by using total sampling method. There were 32 participants divided into two groups: rinsing with green tea solution and rinsing with 0.2% chlorhexidine solution (control group). The paired t-test stated that the accumulation of plaque was decreased after rinsing with green tea solution significantly (p=0.001). Meanwhile, the t-independent test on green tea solution and chlorhexidine had different scores in reducing plaque accumulation (p=0.004). Conclusion: Oral rinsing with green tea solution could reduce plaque accumulation in students aged 8-10 years, however, the mean reduction of plaque accumulation after rinsing with green tea solution was less than after rinsing with 0.2% chlorhexidine solution. Keywords: dental plaque, green tea Abstrak: Masalah kesehatan gigi dan mulut masih menjadi perhatian di Indonesia. Salah satu penyebab ialah terabaikannya kesehatan gigi dan mulut yang mengakibatkan timbulnya akumulasi plak pada gigi. Usia 8-10 tahun sangat rentan terhadap karies karena anak senang mengonsumsi makanan yang mengandung gula. Pada usia ini diperlukan perawatan lebih intensif karena terjadi pergantian gigi dan tumbuhnya gigi baru. Pendekatan pencegahan yang dikenal selain menyikat gigi ialah dengan berkumur yang mencapai lebih banyak permukaan rongga mulut, sehingga efektivitas kontrol plak meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berkumur dengan larutan teh hijau dalam menurunkan akumulasi plak pada gigi anak berusia 8-10 tahun. Jenis penelitian ialah kuasi-eksperimental dengan pre-test dan post-test group design. Metode pengambilan sampel ialah total sampling Populasi penelitian ialah siswa SDN 126 Manado berusia 8-10 tahun dengan 32 orang responden yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan dengan larutan teh hijau, dan kelompok kontrol dengan chlorhexidine 0,2%.. Uji t-paired menyatakan antara sebelum dan sesudah berkumur larutan teh hijau terjadi penurunan akumulasi plak yang bermakna (p=0,001). Berdasarkan uji t-independent larutan teh hijau dan chlorhexidine memiliki penurunan akumulasi plak yang berbeda (p=0,004). Simpulan: Larutan teh hijau dapat menurunkan akumulasi plak pada siswa berusia 8-10 tahun. Rerata penurunan akumulasi plak gigi berkumur dengan larutan teh hijau lebih kecil daripada berkumur dengan chlorhexidine 0,2%.Kata kunci: plak gigi, teh hijau
GAMBARAN KEBOCORAN TEPI TUMPATAN PASCA RESTORASI RESIN KOMPOSIT PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI ANGKATAN 2005-2007 Mukuan, Theo; Abidjulu, Jemmy; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2625

Abstract

Abstract: Composite resin is one of the restoration material which has the advantage in aesthetic due to its colour. This make the composite resin as a material of choice, unfortunately most of patients who have received composite resin treatment doesn’t have a proper careness to its own restoration after treatment. Aim: to study how many people who use composite resin as restoration material and to study if the restoration has any leakage after treatment. Results: the study showed that women have more composite resin restoration than men. The leakage occurred to three different subject in this research which is the most leakage happened to 2007’s student, followed by 2006’s and 2005’s. Class one Black classification is the most restoration to be found in this study followed by class 4, class 5, class 3, and class 2. The leakage which found in this study mostly occurred to molar restorations, followed by premolars while incicivus was found to be the least. Keywords: resin, composite, leakage, restoration.   Abstrak: Resin komposit merupakan salah satu jenis bahan tumpatan yang memiliki keunggulan dalam bidang estetik karena merupakan bahan tumpatan yang sewarna dengan gigi. Hal ini menjadikan resin komposit sebagai bahan pilihan restorasi, namun banyak pasien yang telah mendapatkan perawatan restorasi resin komposit kurang memperhatikan tumpatan pasca restorasi tersebut. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan resin komposit sebagai bahan tumpatan gigi pada restorasi kavitas dan mengetahui apakah telah terjadi kebocoran tepi tumpatan resin komposit pada perawatan restorasi kavitas. Hasil penelitian: menunjukkan distribusi penggunaan komposit lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki. Terjadi kebocoran tumpatan pada subjek penelitian dari tiga angkatan yang berbeda yaitu terbanyak pada mahasiswa angkatan 2007 kemudian 2006 dan 2005. Tumpatan kavitas kelas I merupakan tumpatan yang paling banyak diikuti kelas 4, kelas 5, kelas 3, dan kelas 2. Kebocoran gigi yang ditemukan pada penelitian ini terjadi paling banyak pada gigi molar kemudian premolar sedangkan insisivus paling sedikit. Kata kunci: resin, komposit, kebocoran, restorasi.
PENGGUNAAN BAHAN TUMPATAN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PSPDG FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT PADA TAHUN 2014 Anang, Dewi Y.; Mariati, Ni Wayan; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8764

Abstract

Abstract: Resin composite has been known since the sixtieth generation and generally it is known as the dentists? cosmetic restorative material. Amalgam is the oldest restorative material and it is famous due to its mechanical strength, endurance, and less expensive. Glass ionomer cement is an isochromatic tooth dentifrice; its main component is liquid consisted of water and polyacid, and a kind of fluoroaluminosilicate glass powder. This study aimed to obtain the profile of patients using dental restorative composite at the RSGM Manado in 2014. This was a descriptive retrospective study. There were 400 dental samples from the medical record categorized according to gender, age, kinds of treatment, and occupation. The results showed that dental treatment with filling was most frequent among females (65%) compared to males (35%). Most of the subjects (70%) were 21-30 years old. Moreover, most of the subjects (62.5%) used amalgam as the restorative material.Keywords: restorative material, composite resin, amalgam, GICAbstrak: Resin komposit ialah tumpatan pada generasi ke 60-an, dan secara umum dikenal sebagai bahan tumpatan kosmetik dentis. Amalgam merupakan bahan restorasi tertua dan cukup terkenal di masyarakat luas oleh karena kekuatan, daya tahan, dan harganya yang relatif murah. Glass Ionomer Cement ialah bahan tambal sewarna gigi yang komponen utamanya terdiri dari likuid yang merupakan gabungan air dengan polyacid (Asam poliakrilat, maleat, itakonat, tartarat) dan bubuk berupa fluoroaluminosilicate glass. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pasien yang menggunakan tumpatan gigi di RSGM Unsrat pada tahun 2014. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif. Jumlah data penelitian yang didapat yaitu 400 sampel data dental dari rekam medik dan dikategorikan sesuai jenis kelamin, usia, jenis perawatan dan pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan perawatan dengan bahan tumpatan lebih sering dilakukan oleh pasien berjenis kelamin perempuan (65%) dibandingkan laki-laki (35%). Distribusi subyek terbanyak pada usia 21-30 tahun (70%). Sebagian besar (62,5%) menggunakan bahan tumpatan amalgam.Kata kunci: tumpatan, resin komposit, amalgam, GIC
Uji daya hambat ekstrak daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.) terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus secara in vitro Wenda, Yaromis; Wowor, Pemsi M.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15416

Abstract

Abstract: Currently, oral health requires comprehensive handling by dentists and other health professionals. Osteomyelitis is an infection that occurs in bone tissue and bone marrow of the jaw and/or cortical bones, predominantly caused by Staphylococcus aureus. Medicinal plants in Indonesia have been widely used as traditional medicine inter alia stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.). This stevia plant has components that are typical natural sweetener and stevioside which has the characteristics as antibacterial, antiviral, anti-inflammatory, antimicrobial, and antifungal, and other active substances including tannins, alkaloids, flavonoids, and phenol. This was an experimental laboratory study with the post test only group design. Subjects were Staphylococcus aureus bacteria. The results showed that stevia leaf extract had inhibition zone to Staphylococcus aureus growth of 10.32 mm which was categorized as strong according to Davis and Stout 1971. Conclusion: Stevia leaf extract (Stevia rebaudiana Berrtoni M.) had strong inhibition to Staphylococcus aureus.Keywords: osteomyelitis, stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.), Staphylococcus aureusAbstrak: Dewasa ini kesehatan gigi dan mulut memerlukan penanganan secara komperhensif oleh dokter gigi maupun tenaga kesehatan lainnya. Salah satu penyakit yang sering dijumpai yaitu osteomielitis pada jaringan tulang dan sum-sum tulang rahang dan/atau korteks tulang dengan penyebab utama ialah bakteri Staphylococcus aureus. Tanaman herbal di Indonesia telah banyak digunakan sebagai obat tradisional; salah satunya ialah tanaman stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.). Tanaman stevia memiliki komponen yang bersifat pemanis alami, stevioside yang berefek antibakteri, antivirus, antiinflamasi, antifungsi, dan antimikroba, serta zat aktif di antaranya ialah tannin, alkaloid, flavonoid, dan fenol. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorik dengan post test only group design. Subyek penelitian ialah bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ekstrak daun stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.) mempunyai rerata zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus sebesar 10,32 mm yang tergolong kuat menurut Davis dan Stout 1971. Simpulan: Ekstrak daun stevia (Stevia rebaudiana Berrtoni M.) memiliki daya hambat yang kuat terhadap bakteri Staphylococcus aureus.Kata kunci: osteomielitis, stevia (Stevia rebaudiana Bertoni M.), Staphylococcus aureus
PERANAN TRAUMA OKLUSI TERHADAP TERJADINYA PERIODONTITIS Tulak, Felizianty Oktria
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.3223

Abstract

Struktur periodontal yang sehat meliputi gingiva, sementum, ligamen periodontal dan tulang alveolar. Oklusi normal dan keteraturan gigi secara anatomis dan fungsional di lengkungan masing-masing penting untuk pengembangan dan pemeliharaan gigi yang sehat. Reaksi tulang dan ligamen tergantung pada besarnya, durasi dan arah tekanan. Trauma oklusi diketahui menyebabkan perubahan pada jaringan periodontal. Trauma dari oklusi dapat diklasifikasikan menjadi trauma primer dan sekunder. Trauma primer ialah tekanan oklusi yang mengenai periodontal sehat, contohnya termasuk restorasi yang terlalu tinggi, bruxism, ekstrusi ke ruang edentulous, dan pergerakan ortodontik. Trauma primer mengenai jaringan periodontal dalam satu arah (kekuatan ortodontik) atau sebagai jiggling force (gigi penyangga pada gigi tiruan). Trauma sekunder ialah tekanan oklusal yang mengenai periodontal yang telah rusak atau lemah. Trauma oklusi menyebabkan hipermobilitas pada gigi. Pada struktur periodontal, trauma oklusi berkontribusi lebih jauh dan lebih cepat menyebabkan inflamasi apikal dan kerusakan tulang. Resorpsi tulang merupakan adaptasi fisiologis dari ligamen periodontal dan tulang alveolar terhadap trauma oklusi. Trauma oklusi yang disertai inflamasi plak dapat meningkatkan perkembangan penyakit periodontal. Trauma dari oklusi saja tidak dapat menginduksi kerusakan jaringan periodontal. Tekanan oklusi merupakan kontributor potensial penyakit periodontal ketika tekanan ini menyebabkan trauma oklusi.Kata kunci : oklusi, trauma oklusi, periodontal, periodontitisAbstractThe healthy periodontal structures, including gingival, root cementum, periodontal ligament and alveolar bone. Normal occlusion and the regularity of the teeth in their respective arches were considered anatomically and functionally essential for the development and maintenance of a healthy dentition. The reaction of the bone and ligament depends on the magnitude, duration and direction of the forces. Trauma from occlusion is know to cause several change in the periodontal tissue. Trauma from occlusion can be classified as either primary or secondary. Primary trauma from occlusion is describe as an abnormal occlusion force acting upon a healthy periodontium, examples include high restorations, bruxism, drifting or extrusion into edentulous spaces, and orthodontic movement. Primary trauma may be exerted on the periodontal structures in one direction (orthodontic forces) or as ‘jiggling’ forces (abutment teeth in protesa). Secondary trauma from occlusion is an occlusal force acting on a reduced or weakened periodontium. In a healthy non-inflamed dentition, traumatic occlusion leads to hypermobility of teeth. In inflamed periodontal structures traumatic occlusion contributes to a further and faster spread of the inflammation apically and to more bone loss. Bone resorption in trauma occlusion should be interpreted as an adaptation of the ligament and bone to the altered functional requirements. In plaque-induced inflammation, trauma occlusion may enhance the disease progression. Trauma from occlusion alone cannot induce periodontal tissue breakdown. trauma occlusion is a potential contributors to the periodontal disease process when they cause occlusal traumatism.Keywords : occlusion, trauma of occlusion, periodontal, periodontitis
PENGARUH MENGONSUMSI NANAS (ANANAS COMOSUS) TERHADAP LAJU ALIRAN SALIVA PADA LANSIA PENDERITA XEROSTOMIA Lewapadang, Wanda; Tendean, Lydia E. N.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9837

Abstract

Abstract: Due to the improve,ment of quality of life, the number of elderly in Indonesia increases. In elderly, the organ function will decrease (degeneration of tissues and organs) either due to natural factors or diseases. One of the complaints associated to organ degeneration is dry mouth (xerostomia). Citric acid stimulation can increase salivary flow. High citric acid content is found in pineapple. This was a quasi-experimental study with a pretest posttest control group design. This study aimed to determine the effects of eating pineapple to the salivary flow in elderly patients with xerostomia in Panti Werdha Senja Cerah and Panti Werdha Damai Manado (nursing homes). There were 24 samples divided into two groups (experimental and control) obtained by using total sampling. The results showed that eating pineapple affected the salivary flow in elderly patients with xerostomia with a significant P value < 0.05.Keywords: xerostomia, salivary flow rate, pineapple fruitAbstrak: Seiring meningkatnya derajat kesehatan dan kesejahteraan penduduk, maka usia lanjut di Indonesia semakin bertambah. Semakin bertambahnya usia, fungsi organ tubuh akan semakin menurun (degenerasi organ) baik karena faktor alamiah maupun karena penyakit, salah satu hal yang terkait dengan degenerasi organ yaitu keluhan mulut kering (Xerostomia). Stimulasi asam sitrat merupakan salah satu cara untuk meningkatkan laju aliran saliva. Kandungan asam sitrat yang tinggi terdapat dalam buah nanas. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan rancangan pretest posttest control group design. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh mengonsumsi nanas terhadap laju aliran saliva pada lansia penderita xerostomia di Panti Werdha Senja Cerah dan Panti Werdha Damai Manado. Jumlah sampel yang diperoleh yaitu 24 orang, dibagi menjadi dua kelompok (ekperimental dan kontrol). Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu total sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh mengonsumsi nanas terhadap laju aliran saliva pada lansia penderita Xerostomia dengan nilai signifikansi p>0,05.Kata kunci: xerostomia, laju aliran saliva, buah nanas
Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Daun Gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans Rori, Benedicta N. D.; Khoman, Johanna A.; Supit, Aurelia S. R.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20200

Abstract

Abstract: The main problem in dental health is dental caries that occurs due to the fermentation by Streptococcus mutans bacteria. Gedi leaf (Abelmoschus manihot L. Medical) is one of the common plants in Northern Celebes that contains antimicrobial compounds namely flavonoid, alkaloid, steroid, and saponin; all of them have been proved to inhibit the growth of S. mutans. This study was aimed to determine the minimal inhibitory concentration (MIC) of gedi leaf extract (Abelmoschus manihot L. Medical) to S. mutans growth. This was a true experimental study with a randomized pretest-posttest control group design. The method used in this study was serial dilution method with turbidimetry and spectrophotometry. Samples of gedi leaves were obtained at Paal 2 Manado, and were extracted with maceration method using ethanol 96%. S. mutans bacteria were obtained from the pure bacterial stock at Microbiology Laboratory of Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Science University of Sam Ratulangi Manado. The turbidimetry test showed that the tube content became clearer at 25% of extract concentration. Moreover, the UV-Vis spectro-photometer showed a decrease of OD value for the first time at 25% of extract concentration. Conclusion: The minimal inhibitory concentration (MIC) of gedi leaf extract (Abelmoschus manihot L. Medical) to Streptococcus mutans growth was at concentration of 25%.Keywords: gedi leaf (Abelmoschus manihot L. Medical), Streptococcus mutans, MIC, dental caries Abstrak: Masalah utama dalam kesehatan gigi ialah karies gigi yang terbentuk karena proses peragian oleh bakteri Streptococcus mutans. Daun gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) merupakan salah satu tanaman khas daerah Sulawesi Utara yang mengandung senyawa antimikroba berupa flavonoid, alkaloid, steroid, dan saponin yang telah terbukti memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan S. mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) terhadap pertumbuhan S. mutans. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan pretest-posttest control group design. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode serial dilusi dengan pengujian turbidimetri dan spektrofotometri. Daun gedi diperoleh dari Kecamatan Paal 2 Manado, dan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri S. mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil pengujian turbidimetri memperlihatkan bahwa larutan dalam tabung terlihat mulai jernih pada konsentrasi ekstrak 25%. Pada pengujian spektrofotometer UV-Vis terlihat penurunan nilai OD pertama kali pada konsentrasi 25%. Simpulan: Konsentrasi hambat minimum ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans terdapat pada konsentrasi 25%.Kata kunci: daun gedi (Abelmoschus manihot L. Medik), Streptococcus mutans, KHM, karies

Page 7 of 58 | Total Record : 574