cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC" : 19 Documents clear
Pola Pemberian Antimikroba pada Pasien Sepsis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari - Juni 2019 Taroreh, Reinhard C.; Tambajong, Harold F.; Lalenoh, Diana Ch.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.26784

Abstract

Abstract: Sepsis is defined as organ dysfunction that threatens life due to disregulated response of vulnerable host to the infection agent. Antimicrobial therapy is one of the main therapies in the management of septic cases. Survival sepsis campaign guidelines in 2016 recommended antimicrobial administration in one hour after being diagnosed as sepsis. This study was aimed to determine the pattern of antimicrobial administration among septic patients in the Intensive Care Unit of RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This was an observational analytical study with a cross-sectional design. Samples were intensive care unit patients of RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado diagnosed as sepsis and its classification obtained from the Medical Record Installation data for the period of January to June 2019. The results showed a total of 35 septic patients consisting of 16 females (45.7%) and 19 males (54.3%). The time of antimicrobial administration ≤1 hour was found in 21 cases (60%). The most frequent antimicrobial administered was ceftriaxone in 13 cases (37.1%). The mortality rate after >48 hours was 13 cases (59%). In conclusion, most antimicrobial administration was in 1 hour after being diagnosed as sepsis and ceftriaxone was the most frequent antimicrobial given. Mortality rate after administration of antimicrobial was still high.Keywords: sepsis, ICU, antimicrobial, mortality rate Abstrak: Sepsis didefinisikan sebagai disfungsi organ yang mengancam nyawa akibat disregulasi respon penjamu terhadap infeksi. Terapi antimikroba merupakan salah satu terapi utama dalam penatalaksanaan kasus sepsis. Pedoman Survival Sepsis Campaign tahun 2016 menyatakan pemberian antimikroba yang direkomendasikan ialah satu jam setelah terdiagnosiss sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemberian antimikroba pada pasien sepsis di Intensive Care Unit RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien ICU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dengan diagnosis sepsis dan klasifikasinya, diperoleh dari data Bagian Instalasi Rekam Medik periode Januari-Juni 2019. Hasil penelitian mendapatkan total 35 pasien dengan diagnosis sepsis, terdiri dari 16 orang perempuan (45,7%) dan 19 orang laki-laki (54,3%). Waktu pemberian antimikroba ≤1 jam pada sebanyak 21 kasus (60%). Penggunaan antimikroba yang sering diberikan ialah ceftriaxone pada 13 kasus (37,1%). Angka kematian setelah >48 jam sebanyak 13 kasus (59%). Simpulan penelitian ini ialah sebagian besar pemberian antimikroba 1 jam setelah didiagnosis sepsis dengan ceftriaxone sebagai antimikroba yang paling sering diberikan. Angka kematian pasca pemberian antimikroba masih tinggi.Kata kunci: sepsis, ICU, antimikroba, angka kematian
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Silang pada Tindakan Ekstraksi Gigi di Poli Gigi Rumah Sakit Siloam Manado Gabriele, Rachel; Wowor, Vonny N. S.; Supit, Aurelia
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.23978

Abstract

Abstract: Prevention and control of cross infection is very important for dental health workers, especially in dental extraction because this action is directly related to blood and saliva. The risk of infection requires thorough attention of dental health workers. This study was aimed to determine the level of prevention and control of cross infection in dental extraction at Dental Clinic of Siloam Hospital Manado. This wass an observational descriptive study, with a total samples of 30 operators. The results showed that the prevention and control of cross infection before dental extraction performed was 61.71%; during dental extraction was 73.34%; and after dental extraction was 92.08%. Generally, the prevention and control of cross infection in dental extraction only achieved 75.71%. In conclusion, the prevention and control of cross infection in dental extraction at Siloam Hospital, Manado was still below maximum level.Keywords: prevention control of cross infection, dental extraction Abstrak: Pencegahan dan pengendalian infeksi silang merupakan hal yang sangat penting bagi tenaga kesehatan gigi, terlebih lagi pada ekstraksi gigi, karena tindakan ini berhubungan langsung dengan darah dan saliva. Risiko infeksi mengharuskan tenaga kesehatan gigi memerhatikan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi di poliklinik gigi Rumah Sakit Siloam Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional, dengan jumlah subyek sebanyak 30 operator. Hasil penelitian mendapatkan pencegahan dan pengendalian infeksi silang sebelum tindakan ekstraksi gigi dilakukan sebesar 61,71%; selama tindakan ekstraksi gigi sebesar 73,34%; dan setelah tindakan ekstraksi gigi sebesar 92,08%. Secara umum, pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi hanya dilakukan sebesar 75,71%. Simpulan penelitian ini ialah pencegahan dan pengendalian infeksi silang pada tindakan ekstraksi gigi di poliklinik gigi Rumah Sakit Siloam Manado belum maksimal.Kata kunci: pencegahan dan pengendalian infeksi silang, ekstraksi gigi
Perbedaan Tingkat Kecemasan Berdasarkan Jenis Kelamin pada Tindakan Penumpatan Gigi Paputungan, Fazriah F.; Gunawan, Paulina N.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Khoman, Johanna A.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.23879

Abstract

Abstract: Oral and dental treatment is considered to be scary that can causes anxiety. Gender is one of the factors that influence the anxiety due to restorative treatment especially in dental caries. This study was aimed to determine the difference in anxiety level based on gender in restorative treatment at RSGM Unsrat. This was an analytical study using a cross sectional design. Samples were obtained by using purposive sampling method. Levels of anxiety in males and females were measured by using questionnaire that had been tested for validity. The results showed 32 patients aged 18-65 years who received dental restorative treatment in year 2019 at RSGM Unsrat. Males were as many as females. The levels of anxiety due to the restorative treatment were as follows: not anxious (31.2%), mild (40.7%), moderate (28.1%), severe (0.0%), and very severe (0.0%). The unpaired t-test showed a p-value 0.000. In conclusion, there were differences in male and female anxiety levels due to restorative treatment at RSGM Unsrat; females were more anxious than males.Keywords: anxiety level, gender, restorative treatmentAbstrak: Pengobatan penyakit gigi dan mulut masih kurang diminati masyarakat karena dianggap menakutkan sehingga dapat menimbulkan kecemasan. Jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kecemasan pada penumpatan gigi yang digunakan terutama pada karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan berdasarkan jenis kelamin pada tindakan penumpatan gigi di RSGM Unsrat. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang dan menggunakan teknik purposive sampling. Tingkat kecemasan pada laki-laki dan perempuan diukur berdasarkan kuesioner pengukuran tingkat kecemasan yang telah teruji validitasnya. Pasien yang menerima tindakan penumpatan gigi di RSGM Unsrat berusia 18-65 tahun pada tahun 2019 berjumlah 32 orang dengan jumlah yang sama besar untuk kedua jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang mengalami kecemasan pada tindakan penumpatan gigi kategori tidak cemas (31,2%), ringan (40,7%), sedang (28,1%), berat (0,0%), dan sangat berat (0,0%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik uji t tidak berpasangan menunjukkan nilai p=0,000. Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara laki-laki dan perempuan pada tindakan penumpatan gigi di RSGM Unsrat. Kecemasan lebih banyak didapatkan pada perempuan.Kata kunci: tingkat kecemasan, jenis kelamin, penumpatan gigi
Hubungan Profil Lipid dan HbA1C dengan Kadar Alanin Aminotransferase pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Patulak, Fitriyanti; Pandelaki, Karel; Waleleng, Bradley J.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.26833

Abstract

Abstract: Elevated HbA1C in patients with T2DM will increases the risk of complications. Dyslipidemia is a common comorbidity in patients with T2DM. Uncontrolled T2DM patients and dyslipidemia have a high risk of chronic complications such as non alcoholic fatty liver disease (NAFLD) that causes liver cell damage. Alanine aminotransferase (ALT) test is typically used to detect liver cell damage. This study was aimed to obtain the relationship between lipid profile and HbA1c and ALT among T2DM patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive and analytical study with a cross sectional design using secondary data of T2DM patients at the Endocrine Polyclinic of Prof. R. D. Kandou Hospital Manado from January to September 2019. The results of the Spearman rank correlation test were, as follows: correlation between ALT and total cholesterol levels with p=0.625 and r=-0.080; correlation between ALT and HDL levels with p =0.302 and r=-0.167; correlation between ALT and LDL levels with p=0.625 and r=-0.080; correlation between ALT and triglyceride levels with p=0.964 and r=-0.007; and correlation between ALT and HbA1c levels with p=0.237 and r=-0.191. In conclusion, there were no significant relationships between lipid profile and HbA1c levels and ALT.Keywords: T2DM, HbA1c, ALT, lipid profile Abstrak: Peningkatan HbA1c pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) akan mening-katkan terjadinya risiko komplikasi. Dislipidemia merupakan komorbid yang umum ditemukan pada pasien DMT2. Penderita DMT2 yang tidak terkontrol disertai dislipidemia memiliki risiko tinggi untuk mendapatkan komplikasi kronik seperti non alcoholic fatty liver disease (NAFLD) yang mengakibatkan kerusakan sel hati. Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan untuk melihat adanya kerusakan pada sel hati yaitu alanin aminotransferase (ALT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara profil lipid dan HbA1c dengan kadar ALT pada pasien DMT2 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder pasien DMT2 yang datang berobat ke Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou pada bulan Januari-September 2019. Hasil uji korelasi Spearman rank menunjukkan nilai hubungan antara ALT dan kolesterol total kadar p=0,625 dan r=-0,080; nilai hubungan antara ALT dan kadar HDL p=0,302 dan r=-0,167; nilai hubungan antara ALT dan kadar LDL p=0,625 dan r=-0,080; nilai hubungan antara ALT dan kadar trigliserida p=0,964 dan r=-0,007; serta nilai hubungan antara ALT dan kadar HbA1C p=0,237 dan r=-0,191. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan antara profil lipid dan HbA1c dengan kadar ALT.Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, HbA1c, ALT, profil lipid
Gambaran Hiperbilirubinemia pada Bayi Aterm dan Prematur di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado Rompis, Yulke R. Y.; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Wilar, Rocky
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.2.2019.25558

Abstract

Abstract: Hyperbilirubinemia is an increase of blood bilirubin level due to physiological or non-physiologic factors, which is clinically characterized by jaundice. In neonates, their livers have not worked optimally, therefore, the process of glucuronidation of bilirubin does not occur optimally. This situation causes the predominance of unconjugated bilirubin in the blood. This study was aimed to obtain the profile of neonatal hyperbilirubinemia cases in the Pediatrics Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. We used medical record data of neonatal hiperbilirubinemia in aterm and premature neonates at the Pediatrics Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital during 2014-2015. The results showed that there were 54 cases, consisted of 32 males (59.3%) and 22 females (40.7%). Among aterm neonates, mean direct bilirubin was 3.97 mg/dL; mean indirect bilirubin was 11.76 mg/dL; and mean total bilirubin was 15.69 mg/dL. Meanwhile, among premature neonates, mean direct bilirubin was 0.87 mg/dL; mean indirect bilirubin was 12.48 mg/dL; and mean total bilirubin was 13.35 mg/dL. In conclusion, at the Pediatrics Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado neonatal hyperbilirubinemia was more common in aterm neonates compared to premature neonates. Moreover, it is more common in males than in females.Keywords: hyperbilirubinemia, bilirubin, aterm meonates, premature neonates Abstrak: Hiperbilirubinemia ialah terjadinya peningkatan kadar bilirubin dalam darah, baik oleh faktor fisiologi maupun non-fisiologi, yang secara klinis ditandai dengan ikterus. Pada neonatus, hati belum berfungsi secara optimal sehingga proses glukuronidasi bilirubin tidak terjadi secara maksimal yang menyebabkan dominasi bilirubin tak terkonjugasi dalam darah. Penelitian in bertujuan untuk mendapatkan gambaran hiperbilirubinemia pada bayi aterm dan prematur di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Data penelitian diperoleh dari rekam medik kejadian hiperbilirubinemia pada bayi aterm dan prematur di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode 2014-2015. Hasil penelitian mendapatkan 54 kasus dengan diagnosis hiperbilirubinemia yang memenuhi kriteria inklusi penelitian, terdiri dari 32 pasien berjenis kelamin laki-laki (59,3%) dan 22 berjenis kelamin perempuan (40,7%). Pada bayi aterm, rerata bilirubin direk sebesar 3,97 mg/dL; rerata bilirubin indirek 11,76 mg/dL; dan rerata bilirubin total 15,69 mg/dL. Pada bayi prematur, rerata bilirubin direk sebesar 0,87 mg/dL; rerata bilirubin indirek 12,48 mg/dL; dan rerata bilirubin total 13,35 mg/dL. Simpulan penelitian ini ialah kasus hiperbilirubinemia di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado lebih sering pada bayi aterm dibandingkan bayi prematur, dan lebih sering pada jenis kelamin laki-laki.Kata kunci: hiperbilirubinemia, bilirubin, bayi aterm, bayi prematur
Perbandingan Ketebalan Retina Sentral Pasien Hipertensi Esensial tanpa Penurunan Visus Dibanding Orang Normal Nursalim, Ade J.; Sumual, Vera; Sumanti, Eugeni
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.23977

Abstract

Abstract: One of the complications of hypertension is hypertensive retinopathy with a prevalence of 2-17% in patients with hypertension without diabetes. Application of optical coherence tomography (OCT) tool enables the clinician to simplify the pathophysiological process of hypertensive retinopathy. This study was aimed to compare the central retina thickness of essential hypertensive patients without decreased vision to of normal people. This was a prospective comparative study using a quantitative method. There were 56 eyes in the hypertension group and 71 eyes in the normal group. The t test showed that central retina thickness in hypertension group was 201.66 μm (SD ±38,870) meanwhile in the normal group was 249.59 μm (SD±19,245) (p=0.004). In conclusion, there was a significant difference in central retinal thickness between essential hypertensive patients and normal people. It is suggested that ophthalmologic examination should be performed on patients with essential hypertension even without decreased vision.Keywords: hypertension, decrease of vision, retinal thickness Abstrak: Salah satu komplikasi hipertensi yaitu retinopati hipertensi dengan prevalensi 2-17% pada penyandang hipertensi tanpa diabetes. Aplikasi alat optical coherence tomography (OCT) memungkinkan klinisi untuk meneliti lebih lanjut mengenai proses patofisiologi retinopati hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan ketebalan retina sentral pasien hipertensi esensial tanpa penurunan visus dibanding orang normal. Jenis penelitian ialah prospektif komparatif menggunakan metode kuantitatif. Hasil penelitian mendapatkan 56 mata untuk kelompok hipertensi dan 71 mata untuk kelompok normal yang memenuhi kriteria penelitian. Uji t menunjukkan terdapat perbedaan ketebalan retina sentral pada kelompok hipertensi dibanding kelompok normal. Rerata ketebalan retina pada kelompok hipertensi ialah 201,66 μm (SD±38,870) dibanding pada kelompok normal ialah 249,59 μm (SD±19,245) (p=0,004). Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan bermakna antara ketebalan retina sentral pasien hipertensi esensial tanpa penurunan visus dibanding orang normal. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata pada penyandang hipertensi esensial meskipun belum disertai keluhan penurunan tajam penglihatan.Kata kunci: hipertensi, penurunan visus, ketebalan retina
Profil pasien endoskopi gastrointestinal di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode Januari 2018 - Agustus 2019 Gunawan, Deborah F.; Waleleng, Bradley J.; Polii, Efata B. I.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.2.2019.26834

Abstract

Abstract: Along with the development of medical technology, endoscopy is mostly used in determination of the diagnosis and examination of gastrointestinal diseases. This study was aimed to determine the indications of gastrointestinal endoscopy, diagnoses of pre and post endoscopy, sex and age of patients undergoing endoscopy, and the prevalence of endoscopic patients from January 2018 to August 2019 at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive and retrospective study using data of Medical Record Installation at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. The results obtained 495 patients who were endoscopy performed on them. Males were predominant (59.8%) as well as age group of 50-59 years old (22.8%). The most frequent indication of endoscopy was dyspepsia/epigastric pain (68.5%). Moreover, EGD plus colonoscopy was the most common endoscopy performed. GERD (20.45%) had the highest percentage of pre endoscopy diagnosis meanwhile esophagitis Los Angeles Classification Grade A (28.8%) had the highest percentage of post endoscopy diagnosis. In conclusion, gastrointestinal endoscopy was performed more common on males, age group of 50-59 years, with indication of dyspepsia (epigastric pain), and in EGD plus colonoscopy. The most common diagnosis of pre endoscopy was GERD and of post endoscopy was esophagitis Los Angeles Classification Grade A.Keywords: gastrointestinal endoscopy Abstrak: Seiring dengan berkembangnya teknologi dibidang kesehatan, endoskopi yang merupakan salah satu cara penetapan diagnosis dan pemeriksaan gastrointestinal yang banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indikasi endoskopi gastrointestinal, diagnosis yang banyak ditemukan sebelum dan sesudah endoskopi, jenis kelamin, usia pasien yang dilakukan endoskopi, dan prevalensi jumlah pasien endoskopi periode Januari 2018 - Agustus 2019 di RSUP Prof. Dr. R. D Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder pasien di Instalasi Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan 495 pasien yang dilakukan pemeriksaan endoskopi selama periode tersebut, dengan 296 pasien (59,8%) yang berjenis kelamin laki-laki. usia terbanyak ialah 50-59 tahun (22,8%), indikasi endoskopi terbanyak ialah dispepsia (nyeri epigastrium) (68,5%), tindakan endoskopi terbanyak dilakukan ialah EGD + kolonoskopi (48,7%). Diagnosis sebelum tindakan terbanyak ialah GERD (20,45%), dan setelah dilakukan endoskopi ialah esofagitis klasifikasi Los Angeles Grade A (28,8%). Simpulan penelitian ini ialah pasien yang melakukan pemeriksaan endoskopi terbanyak berjenis kelamin laki-laki, kelompok usia 50-59 tahun, dengan indikasi dispepsia (nyeri epigastrium). EGD + kolonoskopi merupakan tindakan tersering diterima oleh pasien, diagnosis sebelum tindakan endoskopi ialah GERD, dan setelah dilakukan endoskopi ialah esofagitis klasifikasi Los Angeles Grade A.Kata kunci: endoskopi gastrointestinal
Perbedaan Derajat Ansietas antara Penyandang Hipertensi Belum Terkontrol dengan yang Terkontrol Sugeng, Cerelia E. C.; Moeis, Emma Sy.; Rambert, Glady I.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.2.2019.26283

Abstract

Abstract: Hypertension and anxiety are among the group of the most common chronic disease worldwide, and according to numerous studies they are oftentimes associated each other. Patients suffered from chronic illnesses, such as hypertension, may have negative emotion that increases the risk of mental disorders, most commonly anxiety disorder. This study was aimed to assess the difference of anxiety degree between uncontrolled and controlled hypertensive patients. This was an observational analytical study with a cross-sectional design. Subjects were divided into two groups: controlled and uncontrolled hypertensive patients. Measurement of blood pressure parameter was performed by using office blood pressure monitoring. Anxiety parameter was classified based on the scoring of the Generalized Anxiety Disorder Scale (GAD-7). Data were analyzed by using the Mann-Whitney test. Subjects consisted of 60 hypertensive patients (35 males and 25 females), aged 30-70 years (mean 56.48 years). There were 35 controlled hypertension patients and 22 uncontrolled hypertensive patients. The results showed that the difference in anxiety degree based on GAD-7 between controlled hypertensive and uncontrolled hypertensive groups obtained a p-value of 0.000. In conclusion, there was a significant difference in anxiety degree between uncontrolled and controlled hypertensive patients. Screening for anxiety among hypertensive patients is a simple and cost-effective tool that may improve outcomes.Keywords: anxiety, uncontrolled hypertension, controlled hypertension Abstrak: Hipertensi dan ansietas merupakan kelompok penyakit kronik yang paling umum di seluruh dunia. Berdasarkan banyak penelitian kedua penyakit ini saling berhubungan satu sama lain. Penyandang hipertensi mungkin memiliki emosi negatif yang meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental berupa ansietas. Ansietas dan dukungan sosial rendah akan menghambat proses penyembuhan terutama dalam mengontrol tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk menge-tahui apakah terdapat perbedaan derajat ansietas antara penyandang hipertensi belum terkontrol dengan hipertensi terkontrol. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Subyek penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok penyandang hipertensi belum terkontrol dan hipertensi terkontrol. Pengukuran parameter tekanan darah dilakukan dengan menggunakan alat Oscillometric digital dengan cara Office Blood Pressure Monitoring (OBPM). Parameter ansietas diklasifikasikan berdasarkan skala Generalized Anxiety Disorder Scale (GAD-7). Adanya perbedaan derajat ansietas antara kedua kelompok dinilai dengan uji Mann-Whitney. Subyek penelitian terdiri dari 60 penyandang hipertensi (35 laki-laki dan 25 perempuan) berusia 30-70 tahun (rerata 56,48 tahun). Terdapat 25 penyandang hipertensi yang belum terkontrol dan 35 penyandang hipertensi terkontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan derajat ansietas berdasarkan GAD-7 antara kedua kelompok (p=0,000). Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan bermakna dalam derajat ansietas antara penyandang hipertensi yang belum terkontrol dengan yang terkontrol. Skrining ansietas pada penyandang hipertensi merupakan modalitas penting dalam penatalaksanaan penyandang hipertensi.Kata kunci: ansietas, hipertensi belum terkontrol, hipertensi terkontrol
Analisis Kejadian Abrasi Kornea pada Pasien dengan Trikiasis Akibat Entropion Savitri, I Dewa Ayu P.; Supit, Wenny P.; Tumewu, Sigmund I. E.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.26875

Abstract

Abstract: Trichiasis is a condition of abnormal growth of eyelashes that results in scraping of the eyelashes on the corneal surface; therefore, ulceration or abrasion of the corneal can occur. One of the causes of trichiasis is entropion that can occur involutionally due to aging process. This study was aimed to obtain the correlation between incidence of corneal abrasion and trichiasis due to entropion. This was a prospective and analytical study. Subjects were elderly people at Panti Werdha Senja Cerah (nursing home) and elderly patients who visited the North Sulawesi Province Eye Hospital during September to November 2019. The result showed that there were 30 subjects with involutional entropion that reached the peak at interval of 75-79 years old. Elderly females were predominant as many as 20 people (67%). Corneal abrasion was found in 4 subjects (13%) with trichiasis due to entropion. The chi-square test of the correlation between trichiasis due to entropion and corneal abrasion obtain a p-value of 0.030 (p<0.05). In conclusion, there was a significant relationship between trichiasis due to entropion and the incidence of corneal abrasion.Keywords: corneal abrasion, trichiasis, entropion Abstrak: Trikiasis merupakan pertumbuhan abnormal dari bulu mata yang mengakibatkan penggesekan bulu mata pada kornea yang dapat mengakibatkan terjadinya ulserasi maupun abrasi kornea. Salah satu penyebab trikiasis ialah entropion, yang dapat terjadi secara involusional (senilis) akibat proses penuaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian abrasi kornea dan trikiasis akibat entropion. Penelitian ini dilakukan pada orang lanjut usia di Panti Werdha Senja Cerah Paniki dan pasien yang berkunjung di UPTD Rumah Sakit Mata Provinsi Sulawesi Utara periode September-November 2019. Jenis penelitian ialah analitik prospektif. Hasil penelitian mendapatkan 30 orang lanjut usia dengan entropion involusional disertai trikiasis. Insidensi entropion involusional mencapai puncaknya pada interval 75-79 tahun (26,27%) dan lebih banyak pada jenis kelamin perempuan (67%).. Kejadian abrasi kornea pada pasien dengan trikiasis akibat entropion sebanyak 4 orang (13%). Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara trikiasis akibat entropion dan terjadinya abrasi kornea mendapatkan nilai signifikansi sebesar 0,030 (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara trikiasis akibat entropion dan terjadinya abrasi kornea.Kata kunci: abrasi kornea, trikiasis, entropion
Hubungan antara Kebiasaan Merokok dengan Angka Kejadian Lesi yang Diduga Stomatitis Nikotina pada Masyarakat Desa Ongkaw Dua Tambunan, Miranda A.; Suling, Pieter L.; Mintjelungan, Christy N.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.23979

Abstract

Abstract: Nicotine stomatitis could be found among heavy smokers. This study was aimed to determine the relationship between smoking habits and the incidence of lesions suspected as nicotine stomatitis among villagers of Ongkaw Dua. This was an analytical study with a cross sectional design. Population consisted of 183 smokers aged >15 years at Desa Ongkaw Dua and the subjects were 65 smokers. The chi-square showed a p-value of 0.592 for the relationship between the duration of smoking and the occurence of lesion supspected as nicotine stomatitis. Moreover, the chi-square showed a p-value of 0.005 for the relationship between the number of cigarettes consumed per day and the occurence of lesion suspected as nicotine stomatitis. In conclusion, there was no relationship between the duration of smoking and the occurence of lesion suspected as nicotine stomatitis, but there was a significant relationship between the number of cigarettes consumed per day and the occurence of lesion suspected as nicotine stomatitis.Keywords: smoking habit, nicotine stomatitis Abstrak: Stomatitis nikotina dapat dijumpai pada perokok berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina pada masyarakat desa Ongkaw Dua. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ini yaitu 183 perokok berusia >15 tahun di Desa Ongkaw Dua dan yang menjadi subyek penelitian berjumlah 65 orang. Hasil uji chi-square terhadap hubungan lama merokok dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina mendapatkan p=0,592. Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara jumlah rokok yang dihisap setiap hari dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina mendapatkan p=0,005. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan antara lamanya merokok dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina, tetapi terdapat hubungan bermakna antara jumlah rokok yang dihisap setiap hari dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina.Kata kunci: kebiasaan merokok, stomatitis nikotina

Page 1 of 2 | Total Record : 19