cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Persepsi Mahasiswa terhadap Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi 2023 Dolot, Jecky F.; Wungouw, Herlina I. S.; Homenta, Heriyannis
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.54913

Abstract

Abstract: Objective Structured Clinical Examination (OSCE) is a case scenario-based assessment method expected to be carried out by medical students as a benchmark for their future professional readiness. This study aimed to identify medical students' perceptions about OSCE. This was a retrospective and descriptive study with a cross-sectional design, employing a questionnaire designed by Fisseha and Desalegn. The results showed that based on a total of 85 students who took the UKMPPD OSCE exam in August 2023, 71 respondents (87.65%) completed the questionnaire. Students expressed that the OSCE exam was one of the triggers for stress. The OSCE exam structure received the highest score in the statement regarding students' readiness to take the OSCE exam. Organization of OSCE exam also received the highest score in the statement related to the conducive location of the OSCE exam, free from disturbances. The validity and reliability of OSCE exam were rated highest in the statement that the conduct of the OSCE exam was considered fair, without regard to ethnicity, race, culture, and gender. In conclusion, students' perceptions of the OCSE exam are considered good, covering characteristics, structure, management, validity, and reliability of the OSCE exam. The implementation of the OSCE exam has been standardized according to the OSCE exam implementation standards. Keywords: student perception; OSCE examination; medical education   Abstrak: Objective Structured Clinical Examination (OSCE) merupakan salah satu metode penilaian berbasis skenario kasus yang diharapkan dapat dikerjakan oleh mahasiswa rumpun kesehatan sebagai tolok ukur kesiapan profesi, yang bertujuan untuk menguji mahasiswa dari segi keterampilan komuni-kasi, pengetahuan klinis serta keterampilan klinis lainnya. Diperlukan evaluasi bagi setiap metode penilaian pendidikan kedokteran, baik dari tenaga pendidik maupun peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi mahasiswa Fakultas Kedokteran terhadap ujian OSCE. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang, menggunakan kuesioner yang didesain oleh Fisseha dan Desalegn. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari total 85 mahasiswa yang mengikuti ujian UKMPPD OSCE periode agustus 2023, didapatkan sebanyak 71 (87,65%) responden yang mengisi kuesioner. Mahasiswa berpendapat ujian OSCE salah satu pemicu stres, struktur ujian OSCE baik dengan pernyataan skor terbanyak yaitu kesiapan mahasiswa mengikuti ujian OSCE, pengelolaan ujian OSCE baik dengan pernyataan skor terbanyak yaitu lokasi pelaksanaan ujian OSCE kondusif, dan bebas dari gangguan, validitas dan reliabilitas ujian OSCE baik dengan pernyataan skor terbanyak yaitu pelaksanaan ujian OSCE dinilai adil, tanpa memandang suku, ras, budaya, dan jenis kelamin. Simpulan penelitian ini ialah persepsi mahasiswa terhadap ujian OCSE dinilai baik meliputi karakteristik, struktur, pengelolaan, validitas dan reliabilitas ujian OSCE. Pelaksanaan ujian OSCE sudah terstandarisasi sesuai dengan standar pelaksanaan ujian OSCE. Kata kunci: persepsi mahasiswa; ujian OSCE; pendidikan kedokteran
Hubungan Gagal Jantung Iskemik dengan Jumlah Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner terhadap Lama Rawat Inap di Rumah Sakit Tandipanga, Mayprengki B.; Rampengan, Starry H.; Jim, Edmond L.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.54949

Abstract

Abstract: Heart failure is one of the cardiovascular diseases with high hospitalization and mortality rates. Ischemic heart failure is a type of heart failure that is caused by coronary heart disease. Risk factors for coronary heart disease include age, sex, family history, early menopause, smoking, hypertension, dyslipidemia, and diabetes mellitus. Length of Hospital Stay (LOS) is a matrix to measure the length of time a patient stays in the hospital. This study aimed to evaluate the relationship between ischemic heart failure and many risk factors for coronary heart disease on the length of stay at RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. This was an observational and analytical study with cohort studies with a retrospective approach during the period September 2021 – October 2023. The results showed that there were 112 cases with 70 samples that met the inclusion criteria and found 26 cases with a length of stay of >7 days and 44 cases with a length of stay of ≤7 days. Based on the bivariate analysis that has been performed on patients with ischemic heart failure who undergo hospitalization, it shows that there is no significant relationship between the number of risk factors for coronary heart disease and the longer length of hospitalization. In conclusion, there is no significant association between the number of risk factors for coronary heart disease and the longer length of stay in patients with ischemic heart failure. Keywords: ischemic heart failure; coronary heart disease risk factors; length of stay    Abstrak: Gagal jantung merupakan salah satu penyakit kardiovaskular dengan angka kematian dan perawatan di rumah sakit yang tinggi. Gagal jantung iskemik merupakan gagal jantung yang diakibatkan oleh penyakit jantung koroner. Faktor risiko penyakit jantung koroner antara lain, usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, menopause dini, merokok, hipertensi, dislipidemia, dan diabetes melitus. Lama rawat inap atau Length of Hospital Stay (LOS) merupakan matriks untuk mengukur lama waktu rawat inap pasien di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gagal jantung iskemik dengan Jumlah faktor risiko penyakit jantung koroner terhadap lama rawat inap di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan studi kohort dengan pendekatan restrospektif selama periode September 2021 - Oktober 2023. Hasil penelitian mendapatkan 112 kasus dengan 70 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan didapatkan 26 kasus dengan lama rawat >7 hari dan 44 kasus dengan lama rawat ≤7 hari. Berdasarkan analisis bivariat yang telah dilakukan pada pasien gagal jantung iskemik yang menjalani rawat inap menunjukkan bahwa tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara jumlah faktor risiko penyakit jantung koroner dengan lama rawat inap yang lebih lama. Simpulan penelitian ini ialah tidak didapatkan hubungan bermakna antara jumlah faktor risiko penyakit jantung koroner dengan lama rawat yang lebih lama pada pasien gagal jantung iskemik. Kata kunci: gagal jantung iskemik; faktor risiko penyakit jantung koroner; lama rawat inap
Medication Error Tahap Prescribing pada Resep Obat Narkotika di Instalasi Farmasi Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Minahasa Seran, Ester; Mambo, Christi D.; Masengi, Angelina S. R.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.55090

Abstract

Abstract: Medication errors can lead to inappropriate use of medication and harm to patients. Medication errors most commonly occur at the prescribing stage. This study aimed to evaluate medication errors during the prescribing stage in terms of the clinical completeness of prescriptions, specifically focusing on drug interactions. This was a retrospective study using secondary data of the Drugs.com and Medscape databases. Data were analyzed univariately. The results showed that the most prescribed narcotic drugs were fentanyl (70%) and codeine (30%). The most interacting types of drugs were fentanyl and ondansetron with a total of 58 events (22.9%) that had major severity according to the Drugs.com database. Meanwhile, according to the Medscape database, the type of drug with the most major interactions was Fentanyl - Propofol with 39 events (15.5%). Based on Drugs.com database, 109 interactions were found with major, 141 moderate, and three unknown severity. Based on Medscape database, there were 85 interactions with major severity, 45 moderate and 123 unknown. In conclusion, interaction between narcotic and non-narcotic drugs especially fentanyl showed high risk potential with major severity. Database of drug interaction is important to achieve safe decision of therapu and to prevent the occurrence of medication error.  Keywords: medication error; prescribing stage; narcotics; drug interaction   Abstrak: Medication error dapat menyebabkan penggunaan obat tidak tepat dan membahayakan pasien. Kesalahan pengobatan yang paling sering terjadi pada tahap prescribing atau penulisan resep obat.. Penelitian ini bertujuan untuk menilai medication error tahap prescribing berupa kelengkapan klinis resep yaitu interaksi obat. Jenis penelitian ialah retrospektif. Data sekunder diperoleh di Instalasi Farmasi salah satu rumah sakit swasta di Minahasa periode Januari – Juni 2023. Analisis data berdasarkan basis data Drugs.com dan Medscape menggunakan metode analisis univariat. Hasil penelitian mendapatkan bahwa jenis obat narkotika yang sering diresepkan ialah fentanyl (70%) dan codeine (30%). Jenis obat yang paling banyak berinteraksi menurut basis data Drugs.com ialah fentanyl dan ondansetron dengan jumlah kejadian sebanyak 58 (22,9%) dan tingkat keparahan major Menurut basis data Medscape jenis obat dengan interaksi major paling banyak ialah fentanyl – propofol sebanyak 39 kejadian (15,5%). Berdasarkan basis data Drugs.com didapatkan 109 interaksi dengan tingkat keparahan major, 141 moderate dan tiga tidak diketahui. Berdasarkan basis data Medscape didapatkan 85 interaksi dengan tingkat keparahan major, 45 moderate dan 123 tidak diketahui. Simpulan penelitian ini ialah interaksi obat narkotika dengan non-narkotika terutama fentanyl menunjukkan potensi risiko tinggi dengan tingkat keparahan major. Penggunaan basis data interaksi obat penting untuk keputusan terapi yang aman dan mencegah kejadian medication error. Kata kunci: medication error: tahap prescribing; narkotika; interaksi obat
Perbandingan Sistem Skoring Guy’s Stone Score dan S.T.O.N.E. Nephrolithometry Score dalam Memrediksi Stone Free Rate Lumangkun, Ridel M.; Arianto, Eko; Kambey, Stefan A. G. P.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.55367

Abstract

Abstract: Percutaneous nephrolithotomy (PCNL) is the primary surgical management for kidney stones larger than >20mm. The success of this procedure is assessed by monitoring the stone free rate (SFR). Currently, SFR can be predicted through validated scoring systems such as Guy’s stone score and S.T.O.N.E. nephrolithometry score. This study aimed to compare Guy’s stone score and S.T.O.N.E. nephrolithometry score in predicting SFR after PCNL at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Data collection was conducted through patients’ medical record data. Data analysis was performed using the Fisher’s Exact Test and the independent t-test through SPSS Statistic Version 26 for MacOS. The results showed that there was no statistically significant relationship between Guy’s Stone Score and SFR after PCNL (p=0.706). The S.T.O.N.E. nephrolithometry score also showed no significant relationship with SFR after PCNL (p=0.514). In conclusion, both Guy’s stone score and S.T.O.N.E. nephrolithometry score do not have significant impact on predicting stone free rate in patients with kidney stone at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Keywords: Guy’s stone score; S.T.O.N.E. nephrolithometry score; stone free rate    Abstrak: Percutaneous nephrolitotomy (PCNL) merupakan tatalaksana pembedahan utama batu ginjal berukuran >20mm. Tindakan ini dievaluasi dengan pemantauan stone free rate (SFR). Pada praktik klinis saat ini SFR dapat diprediksi melalui beberapa sistem skoring yang telah divalidasi seperti Guy’s stone score dan S.T.O.N.E. nephrolithometry score. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kedua sistem skoring tersebut dalam memrediksi SFR setelah tindakan PCNL di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang melalui evaluasi data rekam medik pasien. Uji statistik dilakukan dengan uji Fisher’s Exact Test dan independent t-test menggunakan program SPSS Statistic Version 26 for MacOS. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara sistem skoring Guy’s stone score dengan SFR setelah tindakan PCNL (p=0,706). Sistem skoring S.T.O.N.E. nephrolithometry score juga tidak menunjukan hubungan bermakna dengan SFR setelah tindakan PCNL (p=0,514). Simpulan penelitian ini ialah sistem skoring Guy’s Stone Score dan S.T.O.N.E. nephrolithometry score tidak memberikan pengaruh bermakna dalam memrediksi stone free rate pada pasien batu ginjal di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Kata kunci: Guy’s stone score; S.T.O.N.E. nephrolithometry score; stone free rate
Perbandingan Luaran Fungsi Pada Kasus Neglected Fraktur Leher Femur dan Early Treatment Menggunakan Harris Hip Score Oey, Friginia J. C.; Lengkong, Andriessanto C.; Arianto, Eko
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.55368

Abstract

Abstract:  Femoral neck fracture is a serious injury to the upper femur that is very common in the elderly population due to falls or trauma. To restore patient mobility, prompt and timely treatment is an important factor in the management of this condition. One of the methods used to measure the functional outcome of these patient is the Harris hip score (HHS). This study aimed to compare the results of HHS on the functional outcome of the neglected femoral neck fracture patients with those who received early treatment at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a retrospective, observational, and analytical study with a cross-sectional design using medical record data. Data were analyzed using the Fisher’s exact test through the SPSS Statistical Version program. There was no significant difference between the HHS of the neglected femoral neck fracture group and the group that received early treatment (p=0.14). In conclusion, there is no significant difference in the functional outcome of the patients in the early treatment and neglected groups. Keywords: neck femoral fracture; Harris hip score; neglected fracture; early treatment   Abstrak: Fraktur leher femur merupakan cedera serius pada tulang paha bagian atas yang sangat umum terjadi pada populasi lanjut usia akibat jatuh ataupun trauma. Dalam upaya untuk mengembalikan mobilitas pasien, penanganan yang diberikan dengan cepat dan tepat waktu menjadi faktor penting dalam manajemen kondisi ini. Salah satu metode yang digunakan untuk mengukur luaran fungsi panggul ialah Harris hip score (HHS). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil HHS pada luaran fungsional pasien fraktur leher femur yang neglected  dengan yang mendapatkan early treatment di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah  analitik observasional retrospektif dengan desain potong lintang menggunakan data rekam medik.. Analisis data dilakukan dengan Fisher’s exact test menggunakan program SPSS Statistic Version. Hasil penelitian mendapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara hasil HHS kelompok neglected dengan kelompok yang mendapatkan early treatment (p=0,14). Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbedaan bermakna pada luaran fungsional pasien kelompok early treatment dan neglected. Kata kunci:  fraktur leher femur; Harris hip score; fraktur neglected; early treatment
Faktor–faktor yang Memengaruhi Kejadian Epilepsi pada Anak dengan Riwayat Kejang Demam Peleh, Sicilia V.; Salendu, Praevilia; Umboh, Valentine
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.55381

Abstract

Abstract: Epilepsy is the fifth most common neurological disorder and it can affect anyone, especially children. It is allegedly caused by disturbance in the balance of neurons in the brain during the prenatal, perinatal and postnatal periods. One of the causes is febrile seizure. Risk factors for febrile seizures and epilepsy include neurological disorders, complex febrile seizures, family history of epilepsy, and repeated simple febrile seizures. This study aimed to determine the risk factors for epilepsy in children with a history of febrile seizure at Prof. Hospital. Dr. R. D. Kandou Manado. This was a retrospective and analytical study with cross-sectional design through evaluation of medical record data of pediatric patients. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that age, gender, and birth history did not have significant effects on epilepsy. However, genetic history had a significant influence (p=0.031), especially in males with a history of term birth at the age of 6-24 months. In conclusion, the incidence of epilepsy in children with a history of febrile seizures was found mainly in males born at term, aged 6-24 months, and genetic history factors had a significant influence on the incidence of epilepsy in children with a history of febrile seizures. Keywords: epilepsy; febrile convulsion; risk factors    Abstrak: Epilepsi dapat menyerang siapa saja, terutama anak-anak, dan merupakan kelainan neurologis paling umum kelima. Diduga penyakit ini disebabkan oleh gangguan keseimbangan neuron di otak pada masa prenatal, perinatal, dan postnatal. Salah satu penyebabnya ialah faktor kejang demam. Faktor risiko kejang demam terhadap epilepsi diantaranya, kelainan neurologis, kejang demam kompleks, riwayat epilepsi pada keluarga, dan kejang demam sederhana yang berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan faktor risiko kejadian epilepsi pada anak dengan riwayat kejang demam di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif dengan desain potong lintang melalui evaluasi data rekam medik pasien anak. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian mendapatkan bahwa usia, jenis kelamin, dan riwayat kelahiran tidak berpengaruh bermakna terhadap epilepsy, namun, riwayat genetik memiliki pengaruh bermakna (p=0,031), terutama pada anak laki-laki dengan riwayat kelahiran aterm di usia 6-24 bulan. Simpulan penelitian ini ialah kejadian epilepsi pada anak dengan riwayat kejang demam didapatkan terutama pada anak laki-laki yang lahir aterm, di usia 6-24 bulan, dan faktor riwayat genetik memiliki pengaruh bermakna terhadap kejadian epilepsi pada anak dengan riwayat kejang demam. Kata kunci: epilepsi; kejang demam; faktor risiko
Gambaran Hernia Inguinalis pada Anak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Lampus, Harsali F.; Lombok, Jaquelin E.; Rawung, Rangga B.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.55438

Abstract

Abstract: Inguinal hernias is one of the most common surgical cases in children, especially in the first year of life. This study aimed to find out the general description related to inguinal hernias in children, such as age, sex, birth history, main complaints, family history, complications, and management. This was a retrospective and descriptive study by analyzing medical record data of inguinal hernia pediatric patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital in the period of January 2021-June 2023. The results showed that the incidence of inguinal hernias in children according to medical record data was 40 patients. Variables with the highest percentages were age of 0-4 years (75%), male sex (90%), birth weight <2500 grams and gestation period <37 weeks, main complaint was a lump in the right groin (45%), no family history of inguinal hernia (87.5%), no complications (52.5%), and performed herniotomy (85%). In conclusion, inguinal hernia most often occurs in children of 0-4 years, male sex, birth weight less than 2500 grams, gestation period less than 27 weeks, a lump in the right groin as the main complaint, no family history with similar conditions, presenting without preoperative complications, and are treated with herniotomy. Keywords: inguinal hernia; children; indirect hernia; herniotomy    Abstrak: Hernia Inguinalis pada anak menjadi salah satu kasus bedah anak yang paling banyak dijumpai terlebih pada tahun pertama kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum terkait hernia inguinalis pada anak seperti usia, jenis kelamin, riwayat persalinan, keluhan utama, riwayat keluarga, komplikasi dan penatalaksanaan. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menganalisis data rekam medis pasien hernia inguinalis pada anak di RSUP Prof Kandou Manado periode Januari 2021-Juni 2023. Hasil penelitian mendapatkan angka kejadian hernia inguinalis pada anak menurut data rekam medis yaitu 40 pasien dengan usia terbanyak yaitu 0-4 tahun (75%), jenis kelamin terbanyak pada laki-laki (90%), lahir dengan berat badan <2500 gram (57,5%) dan masa gestasi <37 minggu (52,5%), dengan keluhan utama benjolan di lipat paha kanan (45%). Sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat keluarga dengan hernia inguinalis (87,5%), dirawat belum dengan komplikasi (52,5%), dan sudah dilakukan tindakan operatif herniotomi (85%). Simpuplan penelitian ini ialah hernia inguinalis paling sering terjadi pada kelompok usia anak 0-4 tahun, jenis kelamin laki- laki, berat badan lahir <2500 gram dan masa gestasi <27 minggu, keluhan utama benjolan di lipat paha kanan, tidak memiliki riwayat keluarga dengan keadaan serupa, datang tanpa komplikasi pre operatif, dan penatalaksanaan dengan tindakan operatif herniotomi. Kata kunci: hernia inguinalis; anak; hernia indirek; herniotomi
Karakteristik Bercak Kulit yang Dicurigai Pitiriasis Versikolor pada Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tuminting Manado Ngantung, Hana N. E. N.; Kapantow, Marlyn G.; Kairupan, Tara S.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.55439

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor is a disease caused by the Malassezia fungus with general symptoms in the form of hypopigmented, hyperpigmented, or erythematous spots. Pityriasis versicolor is often found, especially in tropical areas. This study aimed to determine the characteristics of skin spots suspected of pityriasis versicolor in inmates at the Class IIA Tuminting Manado Correctional Institution. This was a descriptive study with a cross-sectional design using quantitative methods. The results obtained 30 male inmates who had skin spots and were suspected of pityriasis versicolor. Skin lesions were most common in those aged 25-44 years (37%), level of education, namely high school (40%), the residential capacity of the inmates did not meet the requirements of 5.4 m2/person, hypopigmented lesions (90%), without complaints of pruritus (63%). The location of the lesions occurred in the body area (57%), combined areas (23%), and extremities (10%). Based on Wood's lamp and microscope examination, the overall examination results were negative (100%). In conclusion, skin spots suspected of pityriasis versicolor in inmates were negatively tested, therefore, it was confirmed as not pityriasis versicolor. Keywords: pityriasis versicolor; skin spots; penitentiary; Wood's lamp    Abstrak: Pitiriasis versikolor adalah penyakit yang timbul disebabkan oleh jamur Malassezia dengan gejala umum berupa bercak hipopigmentasi, hiperpigmentasi atau eritamatosa. Pitiriasis versikolor sering ditemukan terutama di daerah tropis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bercak kulit yang dicurigai pitiriasis versikolor pada warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tuminting Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan metode kuantitatif. Hasil penelitian mendapatkan 30 orang warga binaan laki-laki yang mempunyai bercak kulit dicurigai pitiriasis versikolor. Bercak kulit terbanyak ditemukan pada warga binaan usia 25-44 tahun  (37%), memiliki tingkat pendidikan SMA (40%), kapasitas hunian warga binaan tidak memenuhi syarat 5,4 m2/orang, warna lesi hipopigmentasi (90%), tidak ada keluhan pruritus (63%). Lokasi lesi terjadi pada area badan (57%), area kombinasi (23%), dan ekstremitas (10%). Berdasarkan pemeriksaan lampu Wood dan mikroskop, hasil pemeriksaan keseluruhan negatif (100%). Simpulan penelitian ini ialah bercak kulit dicurigai pitiriasis versikolor pada warga binaan dengan hasil pemeriksaan negatif sehingga dinyatakan bukan pitiriasis versikolor.  Kata kunci: pitiriasis versikolor; bercak kulit; lembaga pemasyarakatan; lampu Wood
Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes spp. di Kelurahan Rumoong Bawah Kecamatan Amurang Barat Kabupaten Minahasa Selatan Periode September-Desember Tahun 2023 Tatawi, Esterin F. A.; Bernadus, Janno B. B.; Sorisi, Angle M. H.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.55449

Abstract

Abstract: As an archipelago that has a tropical climate, Indonesia is also experiencing various climate changes, which can increase the frequency of disease transmission caused by mosquitoes as disease vectors. In addition, the vectors of dengue hemorrhagic fever (DHF) can be widely spread in residential areas as well as in public places due to population density, population mobility, and urbanization. This study aimed to determine the density of Aedes spp mosquito larvae in Kelurahan Rumoong Bawah Kecamatan Amurang Barat Kabupaten Minahasa Selatan. This was a descriptive and observational study with a cross-sectional design. Survey was conducted on 100 houses; 44 houses and 68 containers were found to be positive for larvae. From the identification, the percentage of Aedes aegypti larvae was 100%. Based on the indicators used to measure the level of larval density, the results were, as follows: of the house index (HI) was 44%, container index (CI) was 15.31%, Breteau index (BI) was 68%, and the flies free number (ABJ) was 56%. In conclusion, the density of Aedes aegypti mosquito larvae in Kelurahan Rumoong Bawah Kecamatan Amurang Barat Kabupaten Minahasa Selatan is at a high level of mosquito larvae density, with high risks of virus transmission and disease spread by vectors. Keywords: larva density; Aedes spp. mosquito larvae    Abstrak: Sebagai negara kepulauan yang memiliki iklim tropis Indonesia mengalami berbagai perubahan iklim, yang dapat meningkatkan frekuensi penularan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk sebagai vektor penyakit. Selain itu vektor penular DBD dapat tersebar luas baik di tempat pemukiman maupun di tempat umum karena faktor kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, dan urbanisasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kepadatan jentik nyamuk Aedes spp. di wilayah Kelurahan Rumoong Bawah Kecamatan Amurang Barat Kabupaten Minahasa Selatan. Jenis penelitian ialah observasional deskriptif dengan desain potong lintang. Survei dilakukan terhadap 100 rumah, dan didapatkan 44 rumah dan 68 kontainer yang positif jentik. Dari identifikasi diperoleh hasil persentase jentik Aedes aegypti ialah 100%. Berdasarkan indikator yang dipakai untuk mengukur tingkat kepadatan jentik didapatkan hasil house index (HI) sebesar 44%, container index (CI) sebesar 15,31%, Breteau index (BI) sebesar 68%, dan angka bebas jentik (ABJ) sebesar 56%. Simpulan penelitian ini ialah kepadatan jentik nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Rumoong Bawah, Kecamatan Amurang Barat, Kabupaten Minahasa Selatan berada pada tingkat kepadatan jentik nyamuk yang tinggi, dengan risiko transmisi virus dan penyebaran penyakit oleh vektor yang cukup tinggi. Kata kunci: kepadatan jentik; jentik nyamuk Aedes spp.
Evaluasi Penggunaan dan Potensi Interaksi Obat pada Pasien Gangguan Tiroid Mangaku, Albertian; Wiyono, Weny I.; Mpila, Deby A.
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.56453

Abstract

Abstract: Thyroid disorders are diseases that occur when the thyroid gland undergoes changes in shape (goiter or nodules) and function (hypothyroidism and hyperthyroidism). Rational drug use must be appropriate in terms of indication, patient, drug, and dose. Drug interactions are one of the issues that affect the success of therapy and have the potential to cause therapeutic failure. This study aimed to evaluate drug use and the potential for drug interactions in patients with thyroid disorders. This was a descriptive and observational study with retrospective data collection from medical records of 52 patients with thyroid disorders at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital who met the inclusion criteria. The results showed that the evaluation of drug use in patients with thyroid disorder according to the criteria: appropriate patient 100%, appropriate indication 100%, appropriate drug 95.15%, and appropriate dose 88.46%. There were two potential interactions with mild and moderate levels. In conclusion, drug use in patients with thyroid disorders is appropriate in terms of patient and indication, with minimal potential for drug interaction events. Keywords: thyroid disorders; drug use evaluation; drug interactions    Abstrak: Gangguan tiroid merupakan penyakit yang terjadi ketika kelenjar tiroid mengalami perubahan dalam bentuk (gondok atau nodul) dan fungsi (hipotiroid dan hipertiroid). Penggunaan obat yang rasional harus tepat dalam hal indikasi, tepat pasien, tepat obat dan tepat dosis. Interaksi obat menjadi salah satu masalah yang mempengaruhi keberhasilan terapi dan berpotensi menyebabkan kegagalan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi penggunaan obat dan potensi interaksi obat pada pasien gangguan tiroid. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan pengambilan data secara retrospektif terhadap 52 data rekam medik pasien gangguan tiroid di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mendapatkan evaluasi pengunaan obat yang terjadi pada pasien gangguan tiroid sesuai kriteria: tepat pasien 100%, tepat indikasi 100%, tepat obat 95,15%, dan tepat dosis 88,46%. Terdapat dua potensi dengan tingkat keparahan ringan dan sedang. Simpulan penelitian ini ialah penggunaan obat pada pasien gangguan tiroid sudah tepat pasien dan indikasi dengan minimnya potensi kejadian interaksi obat. Kata kunci: gangguan tiroid; evaluasi penggunaan obat;  interaksi obat