cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
PROFIL KASUS BUNUH DIRI DI KOTA MANADO PERIODE JANUARI-NOVEMBER 2015 Mantiri, Arthur D. B.; Kristanto, Erwin; Siwu, J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10964

Abstract

Abstract: Suicide has been seen as one final solution. For some people, suicide has become the one and only way towards a solution of the pressing problems of life. Life ending is an alternation to be free of life troubles. Nowadays, suicide has become a global problem. Each year there are more than 800,000 people who committed suicide and many others who tried to commit suicide. The results showed that the incidence of suicide in Manado was lower thhan the the other regions in Indonesia such as Bali and Mount Kidul. However, comparing to its surrounding areas Manado has a higher incidence. From all suicide cases in Manado, 100% chose hanging oneself as the most preferred method. Most cases were males aged 11-20 years and 31-40 years.Keywords: commit suicide, hanging Abstrak: Bunuh diri telah dipandang sebagai salah satu penyelesaian masalah. Bagi sebagian orang, bunuh diri telah menjadi satu - satunya jalan menuju solusi dari masalah hidup yang menekan. Mengakhiri hidup menjadi alternatif untuk bebas dari masalah hidup. Bunuh diri telah menjadi suatu masalah global. Tiap tahun lebih dari 800.000 orang yang melakukan tindakan bunuh diri dan masih banyak lagi yang mencoba untuk bunuh diri. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa angka kejadian bunuh diri di Manado lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia seperti Bali dan Gunung Kidul. Namun dibandingkan dengan daerah sekitarnya, Manado memiliki angka kejadian yang lebih tinggi. Dari semua kasus bunuh diri di Manado, 100% melakukan gantung diri. Pelaku bunuh diri terbanyak ialah laki-laki berusia 11-20 tahun dan 31-40 tahun. Kata kunci: bunuh diri, gantung diri
Hubungan Infeksi Hepatitis Virus C Kronik dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis Reguler Tjhie, Otto S.; Wantania, Frans; Palar, Stella
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i1.14699

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is a pathophysiologic process with diverse etiology, resulting in a progressive decline of renal function, and generally end up with kidney failure. CKD is a clinical condition characterized by the irreversible decline in kidney function requiring renal replacement therapy such as dialysis or kidney transplantation. This study was aimed to determine the relationship between chronic hepatitis C virus with the quality of life of patients with CKD who underwent regular hemodialysis. This was an observational analytical study with a cross sectional design. Samples were CKD patients undergoing hemodialysis who were infected with hepatitis C virus in chronic hemodialysis at Installation of Special Measures Section Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from October to December 2015. The results showed that there were 82 people as samples. Thirty-one (36.6%) of them were patients with CKD who were infected with chronis hepatitis C. Most samples were male as many as 54 patients (65.9%) and 18 of them were infected with chronic hepatitis C virus. The age group 39-47 years was the largest age group as many as 10 patients (33.33%). The analysis of the relationship of anti-HCV and quality of life was tested with a correlation coefficient point biserial (p=0.327). Conclusion: There were no relationship between chronic hepatitis C virus infectionand the quality of life in patients with chronic kidney disease undergoing regular hemodialysis.Keywords: CKD, chronic hepatitis C virus infection, quality of life Abstrak:Penyakit ginjal kronik(PGK) adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. PGK adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel yang memerlukan terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hepatitis virus C kronik dengan kualitas hidup pasien PGK yang menjalani hemodialisis reguler. Jenis penelitian ialah observational analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien PGK yang menjalani hemodialisis yang terinfeksi virus hepatitis C kronik di Instalasi Tindakan Khusus Hemodialisis Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Oktober-Desember 2015. Hasil penelitian mendapatkan jumlah sampel sebanyak 82 orang. Tiga puluh orang (36,6%) diantaranya ialah penderita PGK yang terinfeksi hepatitis C kronik. Jenis kelamin terbanyak ialah laki-laki sebanyak 54 penderita (65,9%) dan 18 diantaranya terinfeksi virus hepatitis C kronik. Kelompok usia 39-47 tahun merupakan kelompok usia terbanyak yaitu 10 orang (33,33%). Hasil analisis hubungan anti-HVC dan kualitas hidup yang diuji dengan koefisien korelasi point biserial mendapatkan niai p=0,327. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara infeksi virus hepatitis C kronik dan kualitas hidup pada pasien PGK yang menjalani hemodialisa regulerKata kunci: penyakit ginjal kronik, infeksi virus hepatitis C kronik, kualitas hidup
KECENDERUNGAN PENDERITA RETINOPATI DIABETIK Pengan, Venesia; Sumual, Harry J. G.; Rares, Laya M.
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5099

Abstract

Abstract: One of the complications of diabetes is microvascular complications of retinopathy in the eye is that if it continues to be a cause of blindness. The incidence of diabetic retinopathy continues to increase with the increase in people with diabetes with uncontrolled blood sugar. Blindness due to diabetic retinopathy is a health problem that look out world because of blindness will decrease the patient's quality of life and productivity which ultimately led to the social burden to society. The purpose of this study was to determine the tendency of patients with diabetic retinopathy. This is a descriptive study to examine the data of diabetic retinopathy patients in ophthamology community health center. It was found that the number of patients with diabetic retinopathy in 2012 is 34 people and in 2013 amounted to 44 people. An increasing number of people with diabetic retinopathy in 2013 amounted to 10 people or in a precentage of an increase in the number of patients is as much as 29.41%. Number of patients with diabetic retinopathy men in 2012 was 12 and in 2013 to 15 so as to increase by 25% and the number of women in 2012 was 22 and in 2013 was 29, an increase in patients is as much as 31.81%. Based on the group of age, the amount of patients in 2013 in the group of 20-40 years is 2 persons, 41-60 years amounted to 20 people, >60 amounted to 14 people, while in 2013 the number of people in the group of 20-40 years became 3 persons, 41-60 years to 30 people and >60 became 11 people. Increased number of patients with diabetic retinopathy in 2013 with the total of 10 persons and a precentage of 29.41%.Keywords: diabetic mellitus, diabetic retinopaty.     Abtrak: Salah satu komplikasi dari DM adalah komplikasi mikrovaskuler pada mata yaitu retinopati yang jika terus berlanjut akan menjadi penyebab kebutaan. Angka kejadian retinopati diabetik terus meningkat dengan peningkatan penyandang DM disertai gula darah tidak terkontrol. Kebutaan akibat retinopati diabetik ini menjadi masalah kesehatan yang diwaspadai dunia karena kebutaan akan menurunkan kualitas hidup dan produktivitas penderita yang akhirnya menimbulkan beban sosial bagi masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya kecenderungan penderita retinopati diabetik. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan meneliti data-data penderita retinopati diabetik di Balai Kesehatan Mata Masyarakat. Didapatkan bahwa jumlah penderita pasien retinopati diabetik pada tahun 2012 sebanyak 34 orang dan tahun 2013 berjumlah 44 orang. Peningkatan jumlah penderita retinopati diabetik di tahun 2013 berjumlah 10 orang atau dalam persentase terjadi peningkatan jumlah penderita sebanyak 29,41%. Jumlah penderita retinopati diabetik laki-laki pada tahun 2012 adalah 12 orang dan tahun 2013 menjadi 15 orang sehingga terjadi peningkatan sebanyak 25% dan jumlah perempuan pada tahun 2012 adalah 22 orang dan pada tahun 2013 adalah 29 orang, peningkatan penderita sebanyak 31,81%. Berdasarkan kelompok umur jumlah penderita pada tahun 2012 dengan kelompok umur 20-40 tahun berjumlah 2 orang, 41-60 tahun berjumlah 20 orang, >60 berjumlah 14 orang sedangkan pada tahun 2013 jumlah penderita dengan kelompok umur 20-40 tahun menjadi 3 orang, 41-60 tahun 30 orang dan>60 tahun menjadi 11 orang. Terjadi peningkatan jumlah penderita retinopati diabetik di tahun 2013 dengan jumlah 10 orang dengan presentase 29,41%. Kata kunci: diabetes melitus, retinopati diabetik.
Profil Penderita Morbus Hansen di Rawat Inap RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2016-2018 Makalew, Deivy A.; Kapantow, Grace M.; Pandaleke, Herry E. J.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27139

Abstract

Abstract: Morbus Hansen (MH) is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium leprae. World Health Organization data showed that in 2018, Indonesia was the third rank in the world with incidences of 17,017 cases. This study was aimed to determine the profile of MH patients at Irina F-Dermatovenereology of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a descriptive retrospective study by evaluating medical record files of MH patients hospitalized at Irina F-Dermatovenereology, Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from 2016 to 2018. The results showed that the distribution of MH patients in 2016-2018 was 14 patients, 20 patients, and 18 patients respectively. Most patients were in the age group of 25-34 years (38.46%). Males were more common than females (4.8:1). Most patients were from Manado. All patients had multibacillary (MB) type MH and ENL was the most common reaction (86.54%). The comorbidities were gastrointestinal disorders, electrolyte imbalance, and anemia. In conclusion, the number of hospitalized MH patients was slightly increased from 2016 to 2017 and then was decreased insignificantly in 2018. Most patients were male, in the age group of 25-34 years, came from Manado, multibacillary type MH, had ENL reaction and comorbidity of gastrointestinal disorders.Keywords: Morbus Hansen, hospitalized patients Abstrak: Morbus Hansen (MH) merupakan penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia dengan jumlah kasus baru mencapai 17.017 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penderita MH di Irina F Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialaht deskriptif retrospektif dengan cara mengevaluasi berkas rekam medis penderita MH yang dirawat inap di Irina F Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada periode 2016-2018. Hasil penelitian mendapatkan distribusi penderita MH pada tahun 2016 sebanyak 14 pasien, tahun 2017 sebanyak 20 pasien, dan tahun 2018 yaitu 18 pasien. Kelompok usia terbanyak ialah 25-34 tahun (38,46%). Penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan perem-puan (4,8:1). Penderita terbanyak berasal dari Kota Manado. Semua penderita memiliki MH tipe Multibasiler (MB). Reaksi ENL merupakan tipe reaksi yang terbanyak (86,54%). Penyakit penyerta yang banyak didapati ialah gangguan gastrointestinal, gangguan elektrolit dan anemia. Simpulan penelitian ini ialah penderita MH yang dirawat inap mengalami peningkatan dari tahun 2016 sampai 2017, sedikit menurun pada tahun 2018 namun tidak bermakna. Penderita yang terbanyak ialah kelompok usia 25-34 tahun, jenis kelamin laki-laki, asal Kota Manado, MH tipe Multibasiler (MB), reaksi tipe ENL, penyakit penyerta gangguan gastrointestinal.Kata kunci: Morbus Hansen, pasien rawat inap
Hubungan Higiene Personal terhadap Kejadian Pitiriasis Versikolor pada Mahasiswa Laki-laki Fakultas Kedokteran Unsrat Tumilaar, Jibrando; Suling, Pieter L.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23537

Abstract

Abstract: Pityriasis versikolor is a skin fungal infection that is quite common in Indonesia as a tropical country with a hot and humid climate, especially if the personal hygiene is not good enough. This study was aimed to evaluate the relationship between personal hygiene and the incidence of pityriasis versicolor among male students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. This was a descriptive analytical stuudy with a cross-sectional design. Subjects were 42 medical students of batch 2015-2018. Personal hygiene was determined by using questionnaires and diagnosis of pityriasis versicolor was confirmed based on clinical and Wood lamp examinations. The results showed that pityriasis versicolor was diagnosed in two subjects (4.8%). The Fisher’s exact test obtained a significancy value of 0.003 which indicated that there was a significant relationship between personal hygiene and pityriasis versicolor. Conclusion: There was a significant relationship between personal hygiene and the occurence of pityriasis versicolor. Poor personal hygiene was a risk factor of pityriasis versicolor.Keywords: pityriasis versicolor, personal hygiene, students Abstrak: Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur kulit yang cukup banyak ditemukan di Indonesia yang merupakan negara tropis beriklim panas dan lembab, apalagi bila higiene kurang sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui higiene personal terhadap kejadian pitiriasis versikolor pada mahasiswa laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah 42 mahasiswa Kedokteran Umum angkatan 2015-2018. Tingkat higiene personal diambil dari kuesioner dan diagnosis pitiriasis versikolor ditegakkam berdasarkan pemeriksaan klinis dan lampu Wood. Hasil penelitian memperlihatkan kejadian pitiriasis versikolor pada dua subyek penelitian (4,8%). Uji Fisher’s exact test mendapatkan nilai signifikansi 0,003 yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara higiene personal dan pitiriasis versikolor. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara higiene personal dan pitiriasis versikolor. Higiene personal yang buruk merupakan faktor risiko terjadinya pitiriasis versikolor.Kata kunci: pitiriasis versikolor, higiene personal, mahasiswa
Hubungan antara usia dengan kejadian kematian mendadak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Mei 2015 – April 2016 Supit, Gilbert; Tomuka, Djemi; Siwu, James
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14350

Abstract

Abstract: Sudden death could occur in any age even among people that look healthy. This study was aimed to determine the relationship between age and the incidence of sudden death. Total samples were 602 cases of sudden deaths consisted of 373 males and 229 females. The age ranges were 0-1 years (17 cases), 1-6 years (7 cases), 6-13 years (10 cases), 13-21 years (33 cases), 21-40 years (110 cases), 40-60 years (221 cases), and >60 years (204 cases). Data analysis showed an abnormal distribution and was continued with the Spearman correlation test (p=0.014). Conclusion: There was a relationship between age and the occurence of sudden deaths. Sudden deaths were most common among males and age range 40-60 years.Keywords: age, sudden death. Abstrak: Kematian mendadak dapat terjadi pada rentang usia yang tidak terduga bahkan pada orang yang tampak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia dengan kejadian kematian mendadak di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Sampel diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan 602 kasus kematian mendadak dengan 373 laki-laki dan 229 perempuan. Pada rentang usia 0-1 tahun berjumlah 17 kasus, usia 1-6 tahun berjumlah 7 kasus, usia 6-13 tahun berjumlah 10 kasus, usia 13-21 tahun berjumlah 33 kasus, usia 21-40 tahun berjumlah 110 kasus, usia 40-60 tahun 221 kasus, dan usia >60 tahun berjumlah 204 kasus. Analisis data mendapatkan data tidak terdistribusi normal dan dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman (p=0,014). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara usia dan kejadian kematian mendadak. Kematian mendadak tersering ditemukan pada jenis kelamin laki-laki dan kejadian tertinggi berada pada rentang usia 40-60 tahun. Kata kunci: usia, kematian mendadak.
GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENDERITA SINDROM KORONER AKUT Torry, Stivano R. V.; Panda, Lucia; Ongkowijaya, Jeffrey
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3611

Abstract

Abstract: Acute Coronary Syndrome (ACS) is an uncomfortable condition or other symptoms in the chest due to lack of oxygen consumption in myocardium. In 2004, WHO reported that myocard infarct is main cause of death in the world. There is a strong correlation of risk factor to incidence of acute coronary syndrome. Prevention of acute coronary syndrome case is needed by identifying the risk factor that contributes to the acute coronary syndrome to occur. The aim of this study is to investigate the risk factors of acute coronary syndrome. This study is a retrospective cross-sectional. Forty four cases defined as ACS were evaluated in this study, 32 cases were men and 12 cases were women. The majority of ACS cases were 46-55 years old. The risk factor were found were : hypertension were 37 cases, diabetes were 18 cases, raised cholesterol total level were 18 cases, raised LDL level were 32 cases, raised uric acid level were 13 cases, smoking habits were 11 cases. Only 1 cases were having cardiovascular disease history in family.In this study the majority risk factors were hypertension, diabetes, and raised cholesterol level. The highest number of risk factor is 7 risk factors, only 2 cases were having 2 risk factors Keywords: acute coronary syndrome, myocard infarct, risk factor   Abstrak: Sindrom koroner akut (SKA) adalah sebuah kondisi yang melibatkan ketidaknyamanan dada atau gejala lain yang disebabkan oleh kurangnya oksigen ke otot jantung (miokardium). Menurut laporan WHO, pada tahun 2004, penyakit infark miokard akut merupakan penyebab kematian utama di dunia.Sebuah studi menjelaskan hubungan yang kuat antara faktor risiko dengan kejadian sindrom koroner akut. Perlu upaya pengendalian kejadian SKA dengan mengidentifikasi faktor risiko yang berperan terhadap terjadinya SKA.Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor risiko penderita sindrom koroner akut ini menggunakan metode retrospektif dengan studi cross-sectional.Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 44 orang. Penderita laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan penderita perempuan. Kelompok usia terbanyak yang menderita SKA adalah 46-55 tahun. Terdapat 37 orang penderita yang memiliki tekanan darah di atas normal. Terdapat 18 orang memiliki kadar gula darah puasa meningkat. Kadar kolesterol total meningkat dimiliki oleh 18 orang penderita. Kadar kolesterol LDL meningkat dimiliki oleh 32 orang penderita. Kadar kolesterol HDL rendah dimiliki oleh 15 orang penderita. Tiga belas orang memiliki kadar asam urat tinggi. Sebelas orang memiliki riwayat merokok. Hanya 1 orang memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler dalam keluarga. Dapat disimpulkan bahwa faktor risiko utama pada penelitian ini adalah hipertensi, diabetes, dan peningkatan kadar kolesterol. Faktor risiko terbanyak adalah 7 faktor risiko yang dimiliki oleh 3 orang penderita. Hanya 2 orang penderita yang memiliki 2 faktor risiko. Kata kunci:sindrom koroner akut, infark miokard, faktor risiko
GAMBARAN KADAR KALSIUM WANITA MENOPAUSE DI PANTI WERDHA DAMAI MANADO Syahputra, Muchlis; Suparman, Eddy; Tendean, Hermie M. M.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11007

Abstract

Abstract: One health problem that needs serious attention in the elderly is osteoporosis, characterized by decreased bone density. Calcium is the main mineral of bone-forming. This study was aimed to obtain the calcium level among menopausal women at Panti Werdha Damai (senior housing) Manado. This was an observational study with a cross sectional design. Subjects were 30 menopausal women at Panti Werdha Damai Manado from November to Desember 2015. The results showed that most subjects were ≥ 65 years old (26 subjects; 86.67%) BMI ≥23.0 (15 subjects; 50%); with clinical osteoporosis symptoms (27 subjects; 90%). Among subjects aged ≥65 years, there was 1 subjects with low calcium level; 21 with normal calcium level; and 5 with high calcium level. Among subjects aged <65 years, there were 2 with normal calcium level and 1 with high calcium level; none with low calcium level. Most subjets (70%) had clinical osteoporosis symptoms. Conclusion: Most menopausal women at Panti Werdha Damai Manado had normal calcium level, however, most of them had shown clinical osteoporosis symptoms.Keywords: calcium, menopausal women Abstrak: Salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius pada lanjut usia ialah osteoporosis yang ditandai dengan penurunan kepadatan tulang. Kalsium merupakan mineral utama pembentuk tulang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kadar kalsium wanita menopause di Panti Werdha Damai Manado. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah 30 orang wanita menopause di Panti Werdha Damai Manado selama periode November-Desember 2015. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa subjek penelitian terbanyak berusia ≥65 tahun sebanyak 26 orang (86,67%), IMT ≥23,0 sebanyak 15 orang (50%), dengan gejala klinis osteoporosis sebanyak 27 orang (90%). Pada subjek berusia ≥65 tahun terdapat 1 orang dengan kadar kalsium rendah, 21 orang dengan kadar kalsium normal, dan 5 orang dengan kadar kalsium tinggi. Pada subjek berusia <65 tahun terdapat 2 orang dengan kadar kalsium normal dan 1 orang dengan kadar kalsium tinggi; tidak terdapat yang mempunyai kadar kalsium rendah. Sebagian besar subjek (70%) mempunyai gejala klinis osteoporosis. Simpulan: Sebagian besar wanita menopause di Panti Werdha Damai Manado mempunyai kadar kalsium normal. Walaupun demikian, sebagian besar telah menunjukkan gejala klinis osteoporosis. Kata kunci: kalsium, menopause
Prediksi Tingkat Risiko Penyakit Kardiovaskuler Aterosklerotik pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Emor, Engelin E.; Panda, Agnes L.; Pangemanan, Janry
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18284

Abstract

Abstract: Atherosclerotic cardiovascular disease is caused by the accumulation of plaque on the artery wall causing dysfunction of anatomical and hemodynamic system of the heart and blood flow. There are many risk factors that cause atherosclerotic cardiovascular disease which are divided into modifiable and unmodifiable risk factors. Prevention of this disease can be achieved with early detection, such as prediction the risk level of 10 years ahead of atherosclerotic cardiovascular disease by using the Framingham Risk Score (FRS). This study was aimed to obtain the risk level of atherosclerotic cardiovascular disease in patients at Internal Medicine Polyclinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado by using their medical records from September to October 2017. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 100 samples obtained by using conclusive sampling technique. Of the 100 patients, 42 (42%) patients had low risk, 27 (27%) patients had moderate risk, and 31 (31%) patients had high risk of atherosclerotic cardiovascular disease in 10 years ahead. Conclusion: In this study, the highest percentage was in patients with low risk, followed by patients with high risk, and moderate risk.Keywords: ASCVD, Framingham Risk Score, Risk of atherosclerotic cardiovascular sisease. Abstrak: Penyakit kardiovaskuler aterosklerotik adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya timbunan plak pada dinding arteri sehingga menyebabkan gangguan fungsional, anatomis serta sistem hemodinamis jantung dan pembuluh darah. Terdapat banyak faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit kardiovaskuler aterosklerotik yang dibagi menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan deteksi dini, salah satunya yaitu dengan memrediksi tingkat risiko 10 tahun kedepan terjadinya penyakit kardiovaskuler aterosklerotik dengan menggunakan Framingham Risk Score. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko penyakit kardiovaskuler ateroskerotik pada pasien di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan data rekam medik pasien Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode September - Oktober 2017. Sampel penelitian berjumlah 100 orang dengan teknik pengambilan conclusive sampling. Terdapat 42 pasien (42%) dengan tingkat risiko rendah, 27 pasien (27%) dengan risiko sedang, dan 31 pasien (31%) dengan risiko tinggi terkena penyakit kardiovaskuler aterosklerotik 10 tahun kedepan. Simpulan: Pada studi ini, persentase tertinggi ialah pasien dengan tingkat risiko rendah terjadinya penyakit kardiovaskuler aterosklerotik, diikuti tingkat risiko tinggi dan risiko sedang.Kata kunci: ASCVD, Framingham Risk Score, tingkat risiko penyakit kardiovaskuler aterosklerotik
LUARAN PEMBERIAN KLOMIFEN SITRAT BERUPA ANGKA KEBERHASILAN KEHAMILAN PADA WANITA SINDROM OVARIUM POLIKISTIK Syah, Irwan; Loho, Maria; Wagey, Freddt
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6508

Abstract

Abstract: Polycystic ovary syndrome is the most common endocrinopathy in woman of reproductive age with an incidence that causes infertility. Woman who want to have children recomended to use ovulation induction is clomiphene citrate. Expected with the use of clomiphene citrate as first choice therapy has significcant numbers so that the use of drugs is always preffered. Purpose of this research to determine the number of pregnancies in patient with polycystic ovary syndrome with clomiphene citrate. Method used a retrospective descriptive, data of patient who treatment polycystic ovary syndrome in Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado and practice clinical doctor conducted in the form medical therapy with clomiphene citrate. Polycystic ovary syndorme found 35 cases in the year 2012-2014 with 2 cases in Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado and 33 cases in practice clinical doctor. Conceive with clomiphene citrate therapy were 9 people. Available data show clomiphene citrate still as the first choice drug for ovulation induction of polycystic ovary syndrome.Keywords: polycystic ovary syndrome, clomiphene citrate, succsesful, pregnancyAbstrak: Sindrom ovarium polikistik merupakan salah satu endokrinopati paling umum pada wanita usia reproduksi dengan angka kejadian yang menyebabkan infertilitas. Wanita yang ingin mempunyai anak direkomendasikan untuk induksi ovulasi adalah klomifen sitrat. Diharapkan dengan pemberian klomifen sitrat sebagai terapi pilihan pertama mempunyai angka bermakna sehingga penggunaan obat selalu diutamakan. Tujuan Penilitian ini untuk mengetahui jumlah kehamilan pada penderita sindrom ovarium polikistik dengan terapi klomifen sitrat. Metode yang digunakan bersifat retrosepktif deskriptif, data penderita sindrom ovarium polikistik yang berobat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dan dokter praktek klinik yang dilakukan terapi berupa klomifen sitrat. Ditemukan 35 kasus sindrom ovarium polikistik dari tahun 2012-2014 dengan 2 kasus terdapat di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou dan 33 kasus di dokter praktek klinik. Berhasil hamil dengan terapi klomifen sitrat sebanyak 9 orang. Data yang ada menunjukan klomifen sitrat masih sebagai pilihan pertama obat induksi ovulasi bagi penderita sindrom ovarium polikistik.Kata kunci: sindrom ovarium polikistik, klomifen sitrat, keberhasilan, kehamilan

Page 23 of 108 | Total Record : 1074