cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
HUBUNGAN GERAKAN BERULANG LENGAN DENGAN TERJADINYA NYERI BAHU PADA PENATA RAMBUT DI SALON Lumunon, Steicy N.; Sengkey, Lidwina; Angliadi, Engeline
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i3.9419

Abstract

Abstract: Every human being has his/her own activity or job. Higher demand jobs need higher responsibilities of its workers. For instance, hair dressers have to do their job by using their arms with repetitive movements that can result in a shoulder pain. This study aimed to identify the relationship between repetitive hand movements and shoulder pain of salon hairdressers. This was an analytical observational study with a cross sectional design. There were 30 respondents obtained by using the purposive sampling method. The chi square test showed that there was no relationship between repetitive arm movements and shoulder pain among salon hairdressers viewed from the period of working and the pain level (P = 0.800) as well as viewed form the hairdresser’s height and pain level (P = 0.080). Conclusion: There was no significant relationship between the repetitive arm movements and shoulder pain among the salon hairdressers.Keywords: repetitive arm movement, shoulder pain, salon hair dresserAbstrak: Setiap individu tidak terlepas dari aktifitas ataupun pekerjaan. Semakin tinggi tuntutan pekerjaan semakin besar pula beban pekerjaaan dan aktifitas dari pekerja tersebut. Seperti halnya dengan penata rambut di salon harus melakukan pekerjaannya dengan menggunakan lengan secara berulang yang dapat menimbulkan keluhan nyeri bahu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hubungan gerakan berulang lengan dengan terjadinya nyeri bahu pada penata rambut di salon. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan potong lintang. Sejumlah 30 responden diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil uji Chi square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara gerakan berulang lengan dengan terjadinya nyeri bahu pada penata rambut di salon dilihat dari lama kerja responden dan tingkat nyeri (P = 0,800), serta tinggi badan responden dan tingkat nyeri (P = 0,800). Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara gerakan berulang lengan dan terjadinya nyeri bahu pada penata rambut di salon.Kata kunci: gerakan berulang lengan, nyeri bahu, peneta rambut di salon
Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian berat badan lahir rendah pada neonatus yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode Januari 2015-Juli 2016 Susilowati, Enny; Wilar, Rocky; Salendu, Praevilia
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14468

Abstract

Abstract: Infants with low birth weight is a complex issue and has contribution in the high rate of morbidity and mortality, disability, various disorders or inhibition of growth and cognitive development as well as other chronic diseases. This study was aimed to obtain the risk factors associated with low birth weight of neonates at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital in Manado from January 2015 to July 2016. This was a descriptive retrospective study with a field survey method. Samples were patients diagnosed as low birth weight neonatus treated at Department of Pediatrics of Prof Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January 2015 to July 2016. The results showed that based on maternal risk factors (age, parity, maternal infection, premature, multiple pregnancy and history of low birth weight neonates), fetal and placental (congenital abnormalities) factors, and environmental factors (smoker and drunk), the most frequent risk factor was prematurity. Conclusion: In this study, the most frequent risk factor of low birth weight infant was prematurity Keywords: low birth weight, rick factors, neonate Abstrak: Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan masalah yang sangat kompleks dan memberikan kontribusi dalam hal tingginya angka morbiditas dan mortalitas, kecacatan, gangguan atau terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan kognitif, serta penyakit kronis dikemudian hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang behubungan dengan kejadian BBLR pada neonatus yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2015-Juli 2016. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan metode survei lapangan. Sampel penelitian ialah pasien neonatus dengan BBLR yang dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan Januari 2015- Juli 2016. Hasil penelitian memperlihatkan berdasarkan faktor risiko ibu (usia, paritas, infeksi, kelahiran prematuritas, kehamilan ganda, dan riwayat BBLR sebelumnya), janin dan plasenta (kelainan bawaan), dan lingkungan (rokok dan akohol) didapatkan faktor risiko tersering ialah prematuritas. Simpulan: Dalam studi ini, faktor risiko tersering yang berhubungan dengan kejadian BBLR ialah prematuritas.Kata kunci: BBLR, faktor risiko, neonatus
GAMBARAN PENYAKIT SCHISTOSOMIASIS JAPONICUM DITINJAU DARI JARAK ANTARA RUMAH ANAK YANG TERINFEKSI DENGAN DANAU LINDU Vrisca, Visia
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3719

Abstract

Abstract: Schistosomiasis is a chronic parasitic disease caused by blood worms (Trematodes) from Schistosoma genus. Schistosomiasis is a tropical disease that is the third most powerful in the world, after malaria and worms. And this is a major source of morbidity and mortality for developing countries. This study aims to describe the Schistosomiasis japonicum disease in terms of the distance between infected children homes with Lake Lindu. This research is a descriptive, by collecting data of stool examination results in children aged ≤ 18 years, after it did an interview using questionnaires. Based on the results of interviews using questionnaires showed that the distance between infected children homes with Lake Lindu did not affect the prevalence of Schistosomiasis japonicum. Key words: Schistosomiasis japonica, Distance between infected children homes with Lake Lindu.     Abstrak: Schistosomiasis adalah penyakit infeksi parasit kronis yang disebabkan oleh cacing darah (Trematoda) dari genus Schistosoma. Schistosomiasis termasuk dalam penyakit tropis yang paling dahsyat ketiga di dunia setelah malaria dan penyakit cacing Dan ini menjadi sumber utama morbiditas dan mortalitas bagi negara-negara yang sedang berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyakit Schistosomiasis japonicum yang  ditinjau dari jarak antara rumah anak yang terinfeksi dengan Danau Lindu. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif, yaitu dengan mengumpulkan data-data hasil pemeriksaan feses pada anak-anak yang berusia ≤ 18 tahun, setelah itu melakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner. Berdasarkan hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner menunjukkan bahwa jarak antara rumah anak yang terinfeksi dengan Danau Lindu tidak mempengaruhi angka kejadian Schistosomiasis japonicum. Kata Kunci: Schistosomiasis japonicum, Jarak antara rumah anak yang terinfeksi dengan Danau Lindu.
Hubungan kebiasaan mandi di sungai dengan kejadian leukosituria pada anak di Kelurahan Karame Pai, Reifanli M.; Umboh, Adrian .; Wilar, Rocky .
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11688

Abstract

Abstract: Leukocyturia is the precense of leukocytes in urine. If the presence of leukocytes is in large quantities in the urine then it is called pyuria. Leukocyturia is one of the symptoms of Urinary Tract Infection (UTI) which is one of the most frequent health problems in children. Leukocyturia is caused by an inflammatory process in the urinary tract, and is an indicator of suspected UTI. Gram-negative bacteria, particularly Escherichia coli, is the leading cause of UTI (85-90%). The initial survey conducted at Karame village Singkil Manado assumed that the watershed in the area was contaminated by E. coli. This study aimed to determine the relationhip between bathing in the river with the incidence of leukocyturia in children. This was an observational analytical study with a cross sectional approach. Samples were obtained by using consecutive sampling method. The study was conducted at Karame village during November and December 2015. The results showed that there were 60 children aged 5-12 years as samples divided equally into groups of children with and without bathing habit in the river and had undergone urinalysis examination. There were 50 boys and 10 girls. Positive leukocyturia were found in 2 children (6.7%) bathed in the river and 2 children (6.7%) who did not bathe in the river. The Fisher exact test showed a P value = 0.694 (>0.05). Conclusion: There was no relationship between bathing in the river with the incidence of leukocyturia in children Keywords: bathing in the river, leukocyturia, urinalysis Abstrak: Leukosituria adalah terdapatnya leukosit di dalam urin. Bila terdapatnya leukosit dalam jumlah banyak dalam urin disebut pyuria. Leukosituria merupakan salah satu gejala Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi pada anak. Leukosituria terjadi karena proses inflamasi di saluran kemih dan merupakan indikator kecurigaan infeksi saluran kemih (ISK). Bakteri gram negatif, khususnya Eschericia Coli, merupakan penyebab utama ISK (85-90%). Survei awal yang dilakukan di Kelurahan Karame Kecamatan Singkil Kota Manado menduga bahwa daerah aliran sungai di daerah tersebut tercemar E. coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan mandi di sungai dengan kejadian leukosituria pada anak. Jenis penelitian ini analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel diperoleh dnegan metode consecutive sampling. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Karame selama bulan November - Desember 2015. Hasil penelitian memperlihatkan sampel 60 anak yang berusia 5-12 tahun terbagi sama banyak atas yang memiliki kebiasaan mandi di sungai dan yang tidak, dan dilakukan pemeriksaan urinalisis. Sampel terdiri dari 50 anak laki – laki dan 10 anak perempuan. Hasil pemeriksaan positif leukosituria ditemukan pada 2 anak (6,7%) yang mandi di sungai dan 2 anak (6,7%) yang tidak mandi di sungai. Hasil uji Fisher exact menunjukkan nilai P = 0,694 (>0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara mandi di sungai dengan kejadian leukosituria pada anak. Kata kunci: kebiasaan mandi di sungai, leukosituria, urinalisis
Otitis Media Supuratif Kronik di Poliklinik THT-KL RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari 2014 – Desember 2016 Pangemanan, Debora M.; Palandeng, Oraetlabora I.; Pelealu, Olivia C.P
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v6i1.19500

Abstract

Abstract: Chronic suppurative otitis media is an inflammatory process caused by mucoperiosteum infection in the middle ear cavity marked by tympanic membrane perforation. This study was aimeds to obtain the profile of chronic suppurative otitis media at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado form January 2014 to December 2016. This was a descriptive retrospective study using medical record data. The results showed that there were 78 cases diagnosed as chronic suppurative otitis media; 30 cases (38%) were 18-40 years old. There was no difference in number by gender. Location of this disease was more often unilateral. Otorrhea was the clinical symptom found in 87% of patients, followed by otalgia and hearing disturbance. Drug treatment was the most used treatment. Conclusion: Chronic suppurative otitis media was most common in age 18-40 years and there was no difference between sexes. Otorrhea was the most frequent clinical symptom. Most cases had unilateral otitis media and treated with medical treatment.Keywords: chronic suppurative otitis media, age, gender, clinical symptoms Abstrak: Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan proses peradangan yang disebabkan oleh infeksi mukoperiosteum dalam rongga telinga tengah yang ditandai oleh perforasi membran timpani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum penderita OMSK di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2014 – Desember 2016. Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis. Hasil penelitian mendapatkan 78 kasus dengan diagnosis OMSK, terbanyak didapatkan pada tahun 2016, diikuti tahun 2015 dan 2014. Kelompok usia 18-40 tahun yang terbanyak menderita OMSK, yaitu sebanyak 30 kasus (38%). Tidak ada perbedaan jumlah penderita berdasarkan jenis kelamin. Otore merupakan gejala klinik yang ditemukan pada 87% penderita, diikuti oleh otalgia dan pendengaran berkurang. Lokasi sering terjadi pada salah satu telinga. Penanganan medika mentosa ialah penanganan yang paling sering dilakukan. Simpulan: OMSK terbanyak didapatkan pada usia 18-40 tahun dan tidak terdapat perbedaan pada kedua jenis kelamin. Otore merupakan gejala klinik yang paling sering. Umumnya lokasi OMSK unilateral dan jenis penanganan tersering ialah medikamentosa.Kata kunci: otitis media supuratif kronik, usia, jenis kelamin, gejala klinik
PERBANDINGAN ANGKA KEJADIAN MIOPIA ANTARA MAHASISWA INFORMASIKA DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITASSAM RATULANGI MANADO Matheos, Merina; Rares, Laya M.; Saerang, J. S. M.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6821

Abstract

Abstract: The most obvious risk factors that lead to myopia is associated with a close-range activity, such as reading, writing, using the computer and playing video games. Along with the progress of the current students learning styles, students are required to seek as much information and the process of finding information easier by the existing technologies, which is the use of computers. Especially in student Informatics, computer is the main medium of learning. As with the system of Marine Science student that learn through field practice. On the other hand, commonly, students tend to perform activities at close range and supported by genetic factors that influence the incidence of myopia or nearsightedness. Objective: This study aims to determine differences in the incidence of myopia among the students of Informatics and Marine Sciences University of Sam Ratulangi. Methods: This study is analytical observational with cross-sectional approach by usingconsecutivesampling. Results: From the results of this study showed that there was no significant difference in the incidence of myopia among Informatics students and Marine Science students (P = 0.056) with the use of Z test. Conclusion:There was no significant difference in the incidence of myopia among Informatics students and Marine Science students.Keywords: myopia, students, informatics, marine sciencesAbstrak: Faktor risiko paling nyata yang menimbulkan miopia adalah berhubungan dengan aktivitas jarak dekat, seperti membaca, menulis, menggunakan komputer dan bermain video game. Seiring dengan kemajuan gaya belajar mahasiswa saat ini, mahasiswa dituntut untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dan proses mencari informasi semakin dipermudah dengan teknologi-teknologi yang ada, salah satunya adalah dengan penggunaan komputer. Khususnya pada mahasiswa Informatika, komputer merupakan media utama belajar. Lain halnya dengan mahasiswa Ilmu Kelautan yang sistim pembelajarannya melalui praktek lapangan. Di sisi lain, pada umumnya mahasiswa zaman sekarang cenderung melakukan aktifitas jarak dekat serta ditunjang dengan faktor keturunan yang berpengaruh dalam terjadinya kejadian miopia atau rabun jauh. Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan angka kejadian Miopia antara Mahasiswa Informatika dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado.Metode:Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional) dan cara pengambilan sampel menggunakan konsekutif sampling.Hasil: Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna kejadian miopia antara Mahasiswa Informatika dan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan (P=0,056) dimana menggunakan uji Z. Simpulan: Tidak ada perbedaan bermakna kejadian miopia antara Mahasiswa Informatika dan Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan.Kata kunci: miopia, mahasiswa, informatika, ilmu kelautan
Profil uretritis gonokokus dan non-gonokokus di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2012 Sambonu, Alson .; Niode, Nurdjannah J.; Pandeleke, Herry E.J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11879

Abstract

Abstract: Gonococcal urethritis (GU) is a sexually transmitted infection (STI) which is caused by Neisseria Gonorrhoeae bacteria. In GU, there is an urethral inflammation caused by negative Gram diplococcus ( its natural reservoir is human) and the symptoms are purulent discharge from external urethral orificium, burning sensation during urination, distal urethra itching, dysuria, vaginal or penile discharge, and erection pain. Non-Gonococcal Urethritis (NGU) is an urethral inflammation that is not caused by Gonococcal infection, but due to Chlamydia trachomatis and Ureaplasma urealyticum. The symptoms are penile discharge, burning sensation and pain during urination, and itching. This study aimed to obtain the profiles of gonococcal and non-gonococcal urethritis in Dermatovenereology Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado from January to December 2012. This was a retrospective descriptive study based on GU and NGU types, symptoms, sexual partner, occupation, and farmacological therapy. The results showed that of 74 STI cases there were 11 GU cases (14.9%) and 4 UNG cases (5.4%). Most of GU and NGU patients were 25-44 years (n = 10, 66.7%), with dysuria (n = 11, 73.3%), prostitute as sexual partner (n = 10, 66.7%), working as entrepreneur (n = 12, 80%), and farmacological therapy for GU is cefixime (n = 9, 81.8%) and for NGU is doxycyclin (n = 3, 75%). Keywords: gonococcal urethritis, non-gonococcal urethritis Abstrak: Uretritis gonore (UG) merupakan suatu penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae. Pada UG terjadi peradangan uretra oleh diplokokus Gram negatif yang reservoir alaminya ialah manusia dan ditandai adanya pus yang keluar dari orifisium uretra eksternum, rasa panas, gatal di bagian distal uretra, disuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah dalam urin, dan disertai rasa nyeri saat ereksi. Uretritis non Gonore (UNG) adalah suatu peradangan pada uretra yang bukan disebabkan oleh infeksi gonokokus seperti Chlamydia trachomatis dan Ureaplasma urealyticum dengan gejala seperti discharge dari penis, rasa terbakar atau sakit saat buang air kecil dan gatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil uretritis gonokokus dan non gonokokus di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2012. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif berdasarkan jenis penyakit UG dan UNG, umur, keluhan, pasangan seksual, pekerjaan, dan terapi farmakologis. Hasil penelitian menunjukkan dari 74 kasus IMS terdapat 11 kasus UG (14,9%) dan 4 kasus UNG (5,4%). Penderita UG dan UNG terbanyak pada kelompok umur 25-44 tahun (n = 10, 66,7%), dengan keluhan disuria (n = 11, 73,3%), pasangan seksual dengan WPS (n = 10, 66,7%), pekerjaan wiraswata (n = 12, 80%), serta terapi farmakalogis pada UG ialah cefixime (n = 9, 81,8%) dan pada UNG ialah doxycyclin (n = 3, 75%).Kata kunci: uretritis gonokokus, uretritis non gonokokus
Daftar Penyunting Penyunting, Daftar
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.1177

Abstract

Ketua Penyunting Sunny Wangko   Wakil Ketua Penyunting Sonny J. R. Kalangi   Penyunting Pelaksana Erwin Kristanto John J. Soucy Henoch Awaloei  Pengeset Gunawan Pratama  Pelaksana Tata Usaha Donny  Kaligis Joko Aryono
GAMBARAN KEJADIAN NYERI LUTUT DENGAN KECURIGAAN OSTEOARTRITIS LUTUT PADA PERAWAT DI POLIKLINIK RAWAT JALAN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Deu, Rita Purnama
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3859

Abstract

Abstract: Osteoarthritis (OA) is a degenerative joint disease associated with destruction of joint cartilages. OA can occur in all joints of the cervical, thoracal, and lumbar vertebrae, pelvis, knees, ankles, hands, and fingers. However, it is most commonly found in the knee joints because these joints bear heavier burden than the other joints. OA patients usually complain pain at the time of doing activities or if there is some load on the affected joint. On a more serious degree, there is continuous pain which disturbs the patient’s mobility. This study aimed to find the incidence knee osteoarthritis among nurses at outpatient treatment of Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital. This was a descriptive quantitative study. Sample consisted of 25 nurses. Data were obtained through interviews and questionnaires and then were analyzed by using SPSS. The results showed that the highest numbers of nurses (14 nurses, 56.0%) with suspected knee OA were in the age group of 51-60 years. There were as many as 23 female nurses (92.0%) with suspected knee OA. Based on BMI (Body Mass Index) most of the nurses (13 nurses, 52.0%) were obese I, meanwhile based on the degrees of knee pain most of the nurses (19 nurses, 76.0%) experienced mild pain. Based on the Lequesne index functions most samples (13 nurses, 52.0%) showed mild functional. Based on the usage of high heel shoes most of the female nurses (19 nurses, 76.0%) used high heel shoes. Conclusion: Most of the nurses at outpatient treatment of Prof. Dr. R.D.Kandou Hospital that were suspected of knee osteoarthritis were obese I, had associated mild pain, and showed mild functional tested with Lequesne index funtion. Moreover, most of the female nurses wore high heel shoes.Keywords: knee osteoarthritis , knee pain, Lequesne index parameters, BMT (Body Mass Index), VAS (Visual Analog Scale)Abstrak: Osteoartritis (OA) merupakan penyakit degenerative sendi yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. OA dapat mengenai semua persendian dari servikal, thorakal, dan lumbal, panggul, lutut, pergelangan kaki, tangan sampai ke jari-jari, tetapi paling sering ditemukan pada sendi lutut karena pada sendi ini terdapat pembebanan yang lebih besar. Pasien OA biasanya mengeluh nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada pembebanan pada sendi yang terkena. Pada derajat yang lebih berat, nyeri dapat dirasakan terus menerus sehingga sangat mengganggu mobilitas pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian nyeri lutut dengan kecurigaan OA lutut pada perawat di Poliklinik Rawat Jalan BLU RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado. Penelitian ini menggunakanpendekatan deskriptif kuantitatif. Sampel berjumlah 25 perawat. Data diperoleh melalui kuesioner dan wawancara yang kemudian dianalisis menggunakan SPSS. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perawat yang dicurigai OA lutut terbanyak pada kelompok umur 51-60 tahun sebanyak 14 perawat (56,0 %). Berdasarkan jenis kelamin perawat yang di curigai OA lutut terbanyak pada perempuan yaitu sebanyak 23 perawat (92,0 %). Berdasarkan IMT (Indeks Massa Tubuh) sebagian besar perawat ialah obes I yaitu 13 perawat (52,0 %). Berdasarkan derajat nyeri lutut sebagian besar mengalami nyeri ringan yaitu sebanyak 19 perawat (76,0 %). Berdasarkan indeks Lequesne sebagian besar fungsi fungsional ringan yaitu 13 perawat (52,0 %). Berdasarkan pemakaian sepatu tumit tinggi sebagian besar perawat perempuan menggunakan sepatu tumit tinggi yaitu sebanyak 19 perawat (76,0 %). Simpulan: Sebagian besar perawat di Poliklinik Rawat Jalan BLU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado yang dicurigai osteoartritis lutut termasuk obes I, disertai nyeri ringan, dan indeks Lequesne fungsional ringan. Sebagian besar perawat perempuan menggunakan sepatu tumit tinggi.Kata kunci : osteoartritis lutut, nyeri lutut, parameter indeks Lequesne, VAS (Visual Analog Scale)
Profil Trauma Tembus pada Mata di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Periode Januari 2016 – Juli 2018 Pantow, Immanuel H.; Sumual, Vera; Manoppo, Rillya D. P.
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v6i2.22121

Abstract

Abstract: Although eye trauma cases are oftenly found, they are actually preventable. The incidence of open eye trauma is around 3.6-3.8 in 100,000 people worldwide. This study was aimed to obtain the profile of penetrating trauma in the eye at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a retrospective analytical study using medical record data of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from January 2016 to July 2018. The results showed 124 patients with penetrating trauma in the eye. Penetrating trauma cases in the eyes were significantly higher in males compared to females which were found in 105 patients (87.67%). Based on age, most patients were in the early adult age category (26-35 years) as many as 28 patients (22.58%). Based on work, the most common patients were farmers as many as 25 patients (20.16%), followed by laborers as many as 18 patients (14.51%). Conclusion: Most cases of penetrating trauma in the eyes were males, aged 26-35 years, and worked as farmers.Keywords: incidence, penetrating eye trauma Abstrak: Trauma pada mata sering terjadi dan sebenarnya merupakan penyebab gangguan penglihatan yang dapat dicegah. Insidensi trauma mata terbuka sekitar 3.6-3.8 per 100.000 populasi di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kejadian trauma tembus pada mata di RSUP Prof.DR.R.D Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif dengan menggunakan data di Bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2016-Juli 2018. Hasil penelitian mendapatkan jumlah pasien trauma tembus pada mata sebanyak 124 orang. Kasus trauma tembus pada mata lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan yaitu 105 pasien (87,67%). Berdasarkan usia, trauma tembus pada mata terbanyak pada kategori dewasa awal (26-35 tahun) sebanyak 28 pasien (22,58%). Berdasarkan pekerjaan, trauma tembus pada mata terbanyak didapatkan pada petani sebanyak 25 pasien (20,16%) diikuti buruh sebanyak 18 pasien (14.51%). Simpulan: Trauma tembus pada mata terbanyak pada laki-laki, usia 26-35 tahun, didominasi pekerjaan sebagai petani.Kata kunci: angka kejadian, trauma tembus pada mata

Page 24 of 108 | Total Record : 1074