cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Gambaran kanker endometrium yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode 2013 – 2015 Tulumang, Jeinyver .; Loho, Maria F.; Mamengko, Linda M.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11690

Abstract

Abstract: Endometrial cancer is a malignant tumor of primary endometrial epithelium, usually with glandular differentiation and potentially involves the myometrium and spreads widely. It is also a common gynecologic cancer. The cause is not known for certain, but there are several factors causing this endometrial cancer. This study aimed to describe endometrial cancer treated at Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive retrospective study using data of endometrial cancer patient medical record. From the 36 cases of endometrial cancer, aged ≥51 was obtained as many as 24 people (66.67%), and this cancer increased in multiparous women and obesity; as many as 11 people (30.56%) had postmenopausal endometrial cancer. Most comorbidities were hypertension (13 cases, 36.11%) The most frequent type of endometrial cancers was endometrioid adenocarcinoma (19 cases, 52.78%). Treatments applied were medicamentous therapy, surgery and chemotherapy. The most frequent stage was stage II (8 cases, 22.23%).Keywords: endometrial cancer Abstrak: Kanker endometrium adalah tumor ganas epitel primer diendometrium, umumnya dengan diferensiasi glandular dan berpotensi mengenai miometrium dan menyebar jauh; juga merupakan kanker ginekologi yang sering terjadi. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kanker endometrium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kanker endometrium yang dirawat di RSUP Prof. dr. R.D. Kandou Manado. Jenis penelitian deskriptif retrospektif, dengan cara mengumpulkan data rekam medik pasien kanker endometrium. Dari 36 kasus kanker endometrium, didapatkan usia ≥51tahun sebanyak 24 orang (66,67%), meningkat pada wanita multipara dan obesitas, sebanyak 11 orang (30,56%) mengalami kanker endometrium pascamenopause. Penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi berjumlah 13 orang (36,11%). Jenis sel kanker terbanyak yaitu endometrioid adenokarsinoma berjumlah 19 orang (52,78%). Penanganan yang diberikan berupa terapi medikamentosa, operasi dan kemoterapi. Stadium terbanyak yaitu stadium II berjumlah 8 orang ( 22,23%).Kata kunci: kanker endometrium
Kesehatan Tenggorok pada Siswa Sekolah Dasar Inpres Kema 3 Kabupaten Minahasa Utara Likuayang, Pricilia G.L.; Pelealu, Olivia C.P.; Mengko, Steward K.
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.1.2018.19502

Abstract

Abstract: Tonsillitis is the inflammation of tonsil caused by bacteria, viruses, as well as infectious and non-infectious causes. Exposure of dust and air polution, some types of food, poor oral hygne, weather, and physical exhaustion become the predisposing factors of chronic tonsillitis. Long summer increases the number of dust particles which trigger the occurence of infection. This study was aimed to obtain the throat health status of students of SD Inpres Kema 3 (elementary school students) who lived in coastal areas. This was a descriptive prospective study by examining the students’ throats (size, surface, as well as tonsil and pharynx color). Subjects were 24 students of 6 th grade at SD Inpres Kema 3. The results showed that most of the subjects had pathological tonsil size. Moreover, some of them had granule hypertrophy. Conclusion: The throat health status of the students at SD Inpres Kema 3 was categorized as unfavorable.Key words: throat health statusAbstrak: Tonsilitis adalah radang tonsil yang disebabkan oleh bakteri, viru, dan penyebab infeksi maupun non-infeksi lainnya. Paparan debu dan polusi udara, beberapa jenis makanan, kebersihan mulut yang buruk, serta pengaruh cuaca dan kelelahan fisik menjadi faktor predisposisi dari tonsilitis kronik. Musim kemarau panjang yang mengakibatkan bertambahnya partikel debu di udara memicu terjadinya infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan tenggorok pada siswa SD Inpres Kema 3 yang tinggal di daerah pesisir pantai. Jenis penelitian ialah deskriptif prospektif dengan melihat gambaran tenggorok dari segi ukuran, permukaan dan warna tonsil serta faring. Subjek penelitian ialah siswa kelas VI SD Inpres Kema 3 yang berjumlah 24 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pemeriksaan ditemukan sebagian besar subyek penelitian memiliki ukuran tonsil yang patologik dan beberapa diantaranya memiliki granula hipertrofi. Simpulan: Kesehatan tenggorok siswa SD Inpres Kema 3 tergolong kurang baik.Kata kunci: kesehatan tenggorok
PROFIL DERMATITIS SEBOROIK DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI-DESEMBER 2012 Terroe, Ranita O.; Kapantow, Marlyn G.; Kandou, Renate T.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6823

Abstract

Abstract: Seborrheic dermatitis (SD) is a chronic, recurrent skin disease in areas which are abundant in sebaceous glands, with a prevalence of 3-5% worldwide. Though its pathogenesis is still unknown, SD is related to sebum overproduction and the fungus Malassezia. SD can be suffered by all kinds of ages, most commonly found in men. The skin lesions found are erythematous, yellowish, oily squamas with uncircumscribed border. Pitiriasis sika, also known as dandruff, is a mild type of SD often suffered by people.This research is a retrospective descriptive study based on the number of cases, gender, age, location of lesion, and type of medication. Results shown that out of 134 seborrheic dermatitis cases (3,3%), this disease is often suffered by the age group 45-65 years old (55,2%) and male (67,2%), with most lesions located on the face (53,7%) and with combined medication of corticosteroid + antifungal agent (62,7%).Keywords: seborrheic dermatitisAbstrak: Dermatitis seboroik (DS) adalah penyakit kulit kronis berulang pada area yang memiliki banyak kelenjar sebasea, dengan prevalensi 3-5% di dunia. Patogenesis DS belum diketahui, namun DS memiliki hubungan terhadap produksi sebum yang berlebih dan adanya jamur Malassezia.DS dapat diderita oleh semua golongan umur, biasanya lebih sering diderita laki-laki.Kelainan kulit DS berwujud ritema dan skuama berminyak dan agak kekuningan dengan batas kurang tegas.Pitiriasis sika, atau ketombe, adalah jenis ringan DS yang paling sering diderita.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif berdasarkan jumlah kasus, jenis kelamin, umur, lokasi lesi, dan jenis pengobatan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 134 kasus dermatitis seboroik (3,3%), penyakit ini sering terjadi pada kelompok umur 45-65 tahun (55,2%), jenis kelamin laki-laki (67,2%), lokasi lesi wajah (53,7%), dan pengobatan kombinasi topikal antara kortikosteroid + antijamur (62,7%).Kata kunci: dermatitis seboroik
Gambaran nyeri kepala primer pada mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Tandaju, Yafet; Runtuwene, Theresia .; Kembuan, Mieke A.H.N.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.12076

Abstract

Abstract: This study aimed to obtain the profile of primary headache among medical students batch 2013 in University of Sam Ratulangi Manado. This was a descriptive study. The headache description was assessed with questionnaires (Pain questionnaires PERDOSSI). There were 176 respondents consisted of 45 males and 131 females. The percentages of each headache type were as follows: tension-type 64%, migraine without aura 20%, migraine with aura 15%, and cluster headache 1%. The results showed that stress triggered 84% of headache cases. There were 73% of respondents who suffered from headache had family history of headache.Keywords: primary headache, types of headache Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran nyeri kepala primer pada mahasiswa kedokteran Universitas Negeri Sam Ratulangi angkatan 2013. Jenis penelitian ini deskriptif. Deskripsi nyeri kepala pada responden dinilai dengan kuesioner (kuesioner nyeri PERDOSSI ). Terdapat 176 responden, terdiri dari 45 responden laki-laki dan 131 responden perempuan. Persentase untuk setiap jenis sakit kepala ialah sebagai berikut: tipe tegang 64%, migraine tanpa aura 20%, migrain dengan aura 15%, dan nyeri kepala klaster 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres memicu 84% dari kasus nyeri kepala. Pada penelitian ini didapatkan 73% dari responden yang menderita serangan nyeri kepala memiliki riwayat keluarga sakit kepala.Kata kunci: nyeri kepala primer, jenis sakit kepala
HUBUNGAN ANTARA PENYAKIT ARTERI PERIFER DENGAN FAKTOR RISIKO KARDIOVASKULAR PADA PASIEN DM TIPE 2 Simatupang, Maria; Pandelaki, Karel; Panda, Agens L.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.1179

Abstract

Abtract: Peripheral arterial disease (PAD) is one of the complications that occurs in patients with type 2 diabetes mellitus due to the process of atherosclerosis. Age, hypertension, obesity, LDL cholesterol, and smoking are the cardiovascular risk factors that can be found in diabetes patients. Ankle brachial index (ABI) is a simple way to confirm the diagnosis of PAD. This study used a cross sectional design. The subjects numbered 100 patients with type 2 diabetes mellitus who were examined in the Metabolic Endocrine Clinic of Prof. Dr. R.D Kandou Hospital. Data of variables were based on the patients’ medical records, interviews about smoking, and blood pressures measured on ​​legs and arms in a supine position. A Chi-square test showed that there was a correlation between blood pressure and ABI values ​​(P = 0.049). Moreover, there was no correlation between risk factors of age (P = 0.144), obesity (P = 0.488), LDL cholesterol (P = 0.197), and smoking (P = 0.512) with ABI values. Multivariate analysis showed that there was a significant correlation between blood pressures and ABI values ​​(P = 0.037). Conclusion: From all the examined cardiovascular risks, the most correlated with the incidence of PAD in patients with type 2 diabetes mellitus was blood pressure. Keywords: cardiovascular risk factors, PAD, type 2 diabetes mellitus Abstrak: Penyakit Arteri Perifer (PAP) merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) akibat proses aterosklerosis. Usia, hipertensi, obesitas, kadar kolesterol LDL dan merokok merupakan faktor risiko kardiovaskular yang dapat ditemukan pada pasien diabetes. Ankle Brachial Index (ABI) merupakan cara sederhana untuk mendiagnosis PAP. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 pasien DMT2 yang melakukan pemeriksaan di Poliklinik Endokrin Metabolik RSUP Prof.Dr.R.D. Kandou Manado. Pengukuran variabel berdasarkan pada catatan rekam medik pasien, anamnesis riwayat merokok, dan pengukuran nilai tekanan darah kaki maupun tangan dalam posisi berbaring. Uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara tekanan darah dan nilai ABI (P = 0,049), sedangkan faktor risiko usia (P = 0,144), obesitas (P = 0,488), kolesterol LDL (P = 0,197) dan riwayat merokok (P = 0,512) tidak didapati adanya hubungan. Analisis multivariat, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat bermakna antara tekanan darah dengan nilai ABI (P = 0,037). Simpulan: Dari semua faktor risiko kardiovaskular yang di teliti, tekanan darah yang paling berhubungan dengan kejadian PAP pada pasien DMT2. Kata kunci: DMT2, faktor risiko kardiovaskular, PAP
Kematian akibat pembunuhan di Kota Manado yang masuk Bagian Forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014 Liempepas, Virginia F.; Mallo, Johannis F.; Mallo, Nola T. S.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10836

Abstract

Abstract: Death caused by murder is an unnatural death case, violates the human right, and should be more concerned by many people. WHO listed 475.000 homicides that occured in 2012 around the world. This study aimed to determine the profile of murder victims at Manado city in 2014 and to get data of homicides that handled by forensic department of RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in 2014. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained retrospectively from the Forensic Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital, urban and rural Police Station in Manado city. The results showed that the murdered cases that occured at Manado city in 2014 were 27 cases. The 17 cases listed were autopsied by the Forensic Department meanwhile the 10 cases were not. The most victims were adolescent’s aged 12-25 years, 14 cases, 25 of 27 victims are male. Most of the cases were caused by sharp force violence as many as 18 cases. Conclusion: There were 27 murder cases listed that occured at Manado in 2014. 17 cases autopsied and the rest were not. The most victims were adolescent, male and caused by sharp force violence.Keywords: murder, forensic, manadoAbstrak: Kasus kematian akibat pembunuhan merupakan suatu kasus kematian tidak wajar, pelanggaran HAM dan sudah sepatutnya menjadi perhatian banyak pihak. WHO mencatat terjadi 475.000 kasus pembunuhan di dunia tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil korban kejahatan pembunuhan di kota Manado tahun 2014 dan untuk mendapatkan data kasus pembunuhan yang masuk di bagian forensik RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan melakukan peninjauan data yang diambil secara retrospektif di bagian forensik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Malalayang, Polres dan Polsek Manado. Hasil penelitian memperlihatkan tercatat kasus pembunuhan yang terjadi di Manado selang tahun 2014 sebanyak 27 kasus. 17 kasus di autopsi di bagian forensik, sementara 10 lainnya tidak. Korban terbanyak ada pada kelompok usia remaja (12-25 tahun) 14 kasus, 25 dari 27 korban berjenis kelamin laki-laki. Dan untuk sebab kematian, didapatkan sebab kematian terbanyak 18 kasus pembunuhan dengan kekerasan tajam. Simpulan: Tercatat 27 kasus pembunuhan yang terjadi di kota Manado selama tahun 2014. Tujuh belas kasus dilakukan autopsi dan 10 lainnya tidak. Kelompok usia remaja dan jenis kelamin laki-laki lebih beresiko tinggi menjadi korban pembunuhan dan dengan sebab kematian akibat kekerasan tajam.Kata kunci: pembunuhan, forensik, Manado
Hubungan derajat merokok dengan kejadian infark miokard di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Wagiu, Mutiara B.; Pangemanan, Janry A.; Panda, Agnes L.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14555

Abstract

Abstract: Coronary heart disease (CHD) is a disorder of heart function caused by constriction of coronary blood vessels which can manifest as myocardial infarction. Acute myocardial infarction, which is known as “heart attack”, is the commonest cause of death in industrial countries. Smoking is one of the various causes of cardiovascular diseases and also the commonest cause of death around the world. According to epidemiologic studies data, there is a simultaneous increase of cigarette consumption and prevalence of myocardial infarction every year. This study was aimed to obtain the correlation between level of smoking and incidence of myocardial infarction at Prof. Dr. R. D Kandou Hospital Manado. This was an observational analytical study with a cross sectional design. Samples were myocardial infarction patients at inpatient wards in Prof. Dr. R. D Kandou Hospital Manado from January 2015 to October 2016 and non-infarction samples with smoking behavior. The Chi-Square test showed that there was a correlation between the level of smoking rated by Brinkman Index and myocardial infarction incidence (p=0.001). Conclusion: There was a correlation between level of smoking and incidence of myocardial infarction at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado.Keywords: smoking severity, myocardial infarction Abstrak: Penyakit jantung koroner (PJK) adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner yang dapat bermanifestasi sebagai infark miokard. Aktivitas merokok termasuk salah satu penyebab dari penyakit kardiovaskular dan merupakan penyebab paling umum kematian di seluruh dunia. Data studi penelitian epidemiologi memperlihatkan adanya peningkatan konsumsi rokok setiap tahunnya yang bersamaan dengan meningkatnya angka kejadian infark miokard. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat berat merokok dengan kejadian infark miokard di RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien penderita infark miokard di Ruang Rawat Inap RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado mulai dari bulan Januari 2015-Oktober 2016 serta sampel non infark dengan kebiasaan merokok. Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara derajat berat merokok, yang dinilai berdasarkan indeks Brinkman, dengan kejadian infark miokard (p=0,001). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara derajat merokok dengan kejadian infark miokard di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Kata kunci: berat merokok, infark miokard
PERBANDINGAN LAJU NADI PADA AKHIR INTUBASI YANG MENGGUNAKAN PREMEDIKASI FENTANIL ANTARA 1μg/kgBB DENGAN 2μg/kgBB PADA ANESTESIA UMUM Ibrahim, Kasman
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.4560

Abstract

Abstract : Endotracheal intubation is an act that many use in general anesthesia. This intubation can cause excessive sympathetic and sympathoadrenalreflex which can increase heart rate, blood pressure, pulse, and dysrhythmia. Fentanyl is one medicine that decrease the cardiovascular response. This research aims to determine the differences on pulse rate in giving the fentanyl 1μg/kgBB with 2μg/kgBB post intubation. This was a prospective analytic study, with a sample size of 30 patients, divided into two groups, each of 15 patient. Group I received 1μg/kgBB intravenously and group II fentanyl 2μg/kgBB intravenously. Pulse rate were recorded before and 1, 2, 3, 5 minutes after intubation. The data is analyzed with T-test significance level p < 0,15. The results showed that the mean of the pulse rate before intubation in group I 86,80 beats/minute, group II 91,73 beats/minute. One minute post intubation group I 98,40 beats/minute, group II 99,80 beats/minute. Two minutes post intubation group I 95,33 beats/minute, group II 93,27 beats/minute. Three minutes post intubation group I 89,93 beats/minute, group II 89,40 beats/minute. Five minutes post intubation group I 91,13 beats/minute, group II 85,27 beats/minute. Conclusion: Premedication fentanyl 2μg/kgBB intravenously is faster to stabilize the response to cardiovascular (pulse rate) in endotracheal intubation compared to 1μg/kgBB dose intravenously.Keywords : fentanyl, endotracheal intubation, pulse rateAbstrak : Intubasi endotrakeal merupakan tindakan yang banyak dilakukan pada anestesia umum. Tindakan intubasi ini sering menimbulkan refleks simpatis dan simpatoadrenal yang berlebihan yang dapat meningkatkan laju jantung, tekanan darah, nadi, dan disritmia.Fentanil merupakan salah satu obat untuk mengurangi respon kardiovaskular.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan laju nadi pada pemberian fentanil 1μg/kgBB dengan 2μg/kgBB pasca intubasi. Penelitian ini merupakan studi analitik prospektif, dengan jumlah sampel 30 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok, masing- masing 15 pasien. Kelompok I diberikan fentanil 1μg/kgBB intravena dan kelompok II fentanil 2μg/kgBB intravena. Laju nadi dicatat sebelum dan 1, 2, 3, 5 menit setelah intubasi. Data di analisis dengan T-test derajat kemaknaan p< 0,15. Hasil penelitian memperlihatkan nilai rata-rata laju nadi sebelum intubasi pada kelompok I 86,80 kali/menit, kelompok II 91,73 kali/menit. Satu menit pasca intubasi kelompok I 98,40 kali/menit, kelompok II 99,80 kali/menit.Dua menit pasca intubasi kelompok I 95,33 kali/menit, kelompok II 93,27 kali/menit.Tiga menit pasca intubasi kelompok I, 89,93 kali/menit kelompok II 89,40 kali/menit.Lima menit pasca intubasi kelompok I 91,13 kali/menit, kelompok II 85,27 kali/menit. Simpulan: Premedikasi fentanil 2μg/kgBB intravena lebih cepat menstabilkan respon terhadap kardiovaskuler (laju nadi) pada tindakan intubasi endotrakeal dibandingkan dosis 1μg/kgBB intravena.Kata kunci : fentanil, intubasi endotrakeal, laju nadi
Hubungan antara Kebiasaan Merokok dengan Angka Kejadian Lesi yang Diduga Stomatitis Nikotina pada Masyarakat Desa Ongkaw Dua Tambunan, Miranda A.; Suling, Pieter L.; Mintjelungan, Christy N.
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i2.23979

Abstract

Abstract: Nicotine stomatitis could be found among heavy smokers. This study was aimed to determine the relationship between smoking habits and the incidence of lesions suspected as nicotine stomatitis among villagers of Ongkaw Dua. This was an analytical study with a cross sectional design. Population consisted of 183 smokers aged >15 years at Desa Ongkaw Dua and the subjects were 65 smokers. The chi-square showed a p-value of 0.592 for the relationship between the duration of smoking and the occurence of lesion supspected as nicotine stomatitis. Moreover, the chi-square showed a p-value of 0.005 for the relationship between the number of cigarettes consumed per day and the occurence of lesion suspected as nicotine stomatitis. In conclusion, there was no relationship between the duration of smoking and the occurence of lesion suspected as nicotine stomatitis, but there was a significant relationship between the number of cigarettes consumed per day and the occurence of lesion suspected as nicotine stomatitis.Keywords: smoking habit, nicotine stomatitis Abstrak: Stomatitis nikotina dapat dijumpai pada perokok berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina pada masyarakat desa Ongkaw Dua. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ini yaitu 183 perokok berusia >15 tahun di Desa Ongkaw Dua dan yang menjadi subyek penelitian berjumlah 65 orang. Hasil uji chi-square terhadap hubungan lama merokok dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina mendapatkan p=0,592. Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara jumlah rokok yang dihisap setiap hari dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina mendapatkan p=0,005. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan antara lamanya merokok dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina, tetapi terdapat hubungan bermakna antara jumlah rokok yang dihisap setiap hari dengan angka kejadian lesi yang diduga stomatitis nikotina.Kata kunci: kebiasaan merokok, stomatitis nikotina
GAMBARAN ULTRASONOGRAFI BATU EMPEDU PADA PRIA & WANITA DI BAGIAN RADIOLOGI FK UNSRAT BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE OKTOBER 2012- OKTOBER 2014 Gagola, Patrick C. D.; Timban, Joan F. J.; Ali, Ramli Hadji
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7399

Abstract

Abstract: Gallstone is a disease which has symptoms as discovery of one or several hard as a stone masses contained in the gallbladder (cholecystolithiasis) or in the choledochus duct (choledocholithiasis). The examination which is often used in the diagnosis of gallstone is ultrasound imaging. Ultrasound can provide a clear picture if there is a stone located in the gall bladder, making it easier for doctor to determine the patient's diagnosis. The purpose of this study is to describe the ultrasound results gallstones in men and women in the Department of Radiology, Medical Faculty of Sam Ratulangi Univesity, General Hospital Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period from October 2012 to October 2014. This study is a retrospective descriptive study by using secondary data from medical records contained in the department of radiology general hospital Prof. Dr. R. D. Kandou Manado period from October 2012 to October 2014. Overall results of ultrasonography gallstones found 225 cases, with the highest incidence in the period from October 2013 to October 2014 as many as 149 cases (66.2%). People with gallstones by sex, most commonly found in women with 124 cases (55.1%). Most people with gallstones in the age group 46-55 years (26.2%). Patients who present with pain in the right upper abdominal area should certainly cause through ultrasound examination to help the diagnosis, ruling out the possibility of regional abnormalities in other organs and prevent worsen cause gallstones.Keywords: ultrasound gallstones, gallstonesAbstrak: Batu empedu merupakan suatu penyakit dengan gejala ditemukannya satu atau beberapa massa keras seperti batu yang terdapat di dalam kandung empedu (cholecystolithiasis) atau dalam duktus choledochus (choledocholithiasis). Pemeriksaan yang sering digunakan dalam penegakan diagnosis batu empedu adalah pemeriksaan imaging salah satunya adalah Ultrasonografi. Ultrasonografi dapat memberikan gambaran yang jelas apabila terdapat batu yang berlokasi di kandung empedu. Sehingga mempermudah dokter untuk menentukan diagnosis pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran hasil Ultrasonografi batu empedu pada pria & wanita di Bagian Radiologi FK UNSRAT/SMF Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Oktober 2012- Oktober 2014. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memanfaatkan data sekunder berupa catatan medik yang terdapat di Bagian Radiologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Oktober 2012- Oktober 2014. Keseluruhan hasil Ultrasonografi batu empedu ditemukan 225 kasus, dengan kejadian terbanyak pada periode Oktober 2013- Oktober 2014 sebanyak 149 kasus (66,2%). Penderita batu empedu berdasarkan jenis kelamin, paling banyak ditemukan pada wanita dengan 124 kasus (55,1%). Penderita batu empedu terbanyak pada kelompok umur 46 – 55 tahun (26,2%). Gagola, Timban, Hadji Ali: Gambaran ultrasonografi batu...rasa nyeri pada daerah perut kanan atas sebaiknya dipastikan penyebabnya melalui pemeriksaan Ultrasonografi untuk membantu mendiagnosis, menyingkirkan kemungkinan kelainan pada daerah organ lainnya dan mencegah memberatnya penyebab batu empedu.Kata kunci: ultrasonografi batu empedu, batu empedu

Page 34 of 108 | Total Record : 1074