cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Gambaran Fungsi Hati pada Sepsis Neonatorum di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Lorencia, .; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Umboh, Valentine
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v8i1.27188

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is a clinical syndrome that consists of nonspecific symptoms and infection signs, occuring with bacteremia in the first 28 days of life. SGOT and SGPT abnormalities as well as hypoalbuminemia can be found in neonatal sepsis patients. This study was aimed to obtain the overview of liver function especially SGOT, SGPT and albumin in neonatal sepsis patients at NICU of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a retrospective and descriptive study. Data were obtained from the patients’ medical records. The results showed that the percentage of sepsis patients that had mild increased SGOT level was 47.9%. Meanwhile, the SGPT level was more often normal (81.7%). Hypoalbuminemia was found in 54 patients (76.1%), more frequent in male infants (80.9%). Increased SGOT and SGPT levels were more frequent in male infants; 51.1% for mild increased SGOT and 12.8% for mild increased SGPT. In conclusion, among neonatal sepsis increased SGOT levels were more often in mild form meanwhile increased SGPT levels were rare. Increased SGOT and SGPT levels and decreased albumin levels were more common among male infants.Keywords: SGOT, SGPT, albumin, neonatal sepsis Abstrak: Sepsis neonatorum merupakan sindroma klinis yang terdiri dari gejala-gejala nonspesifik dan tanda-tanda infeksi, terjadi bersamaan dengan bakteremia pada 28 hari pertama kehidupan. Abnormalitas SGOT dan SGPT serta hipoalbuminemia dapat ditemukan pada pasien sepsis neonatorum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi hati secara khusus SGOT, SGPT, dan albumin pada pasien sepsis neonatorum di NICU RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik pasien sepsis neonatorum. Hasil penelitian mendapatkan persentase pasien sepsis yang mengalami peningkatan ringan kadar SGOT sebesar 47,9%. Kadar SGPT lebih sering ditemukan normal (81,7%). Hipoalbuminemia dijumpai pada 54 pasien (76,1%), lebih sering pada bayi laki-laki (80,9%). Peningkatan SGOT dan SGPT berdasarkan jenis kelamin lebih sering pada bayi laki-laki dan dalam bentuk peningkatan ringan yaitu sebesar 51,1% untuk SGOT dan 12,8% untuk SGPT. Simpulan penelitian ini ialah pada pasien sepsis neonatorum peningkatan kadar SGOT paling sering dalam bentuk peningkatan ringan sedangkan peningkatan kadar SGPT jarang didapatkan. Peningkatan ringan SGOT dan SGPT serta penurunan albumin lebih sering dijumpai pada bayi laki-laki.Kata kunci: SGOT, SGPT, albumin, sepsis neonatorum
TINGKAT KECEMASAN PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 5 AMBON DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL Walasary, Sammy A.; Dundu, Anita E.; Kaunang, Theresia
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7822

Abstract

Abstract: National examination is held to evaluate the competence of Indonesian students after they have finished any formal education level. There is a chance of growing number of students that fail in the examination. Therefore, it becomes an important issue that leads to anxiety among Indonesian students. This study aimed to obtain the anxiety level among SMAN 5 Ambon students facing the national examination. This was a descriptive cross-sectional study design using socio-demographic questionnaire and Hamilton anxiety rating scale (HARS). Most of respondents had mild (51.3%) and moderate (40%) level of anxiety. Conclusion: Anxiety was common among groups of students aged 17 and female.Keywords: anxiety, national examination, Hamilton anxiety rating scale(HARS)Abstrak:Ujian nasional bertujuan untuk menilai dan mengukur kompetensi peserta didik secara nasional dilaksanakan setelah mengikuti pembelajaran yang diberikan para guru pada pendidikan formal. Salah satu isu yang marak diperbincangkan ialah kekhawatiran tentang kemungkinan banyaknya siswa yang tidak lulus, hal ini akan memicu kecemasan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Ambon dalam menghadapi ujian nasional. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner data sosiodemografik dan Hamilton anxiety rating scale (HARS). Sebagian besar responden berada pada kategori kecemasan tingkat ringan (51,3%) dan sedang (40%) dalam menghadapi ujian nasional. Simpulan: Kecemasan paling banyak dialami kelompok umur 17 tahun dan jenis kelamin perempuan.Kata kunci: kecemasan, ujian nasional, Hamilton anxiety rating scale (HARS)
Gambaran cedera kepala yang menyebabkan kematian di Bagian Forensik dan Medikolegal RSUP Prof Dr. Awaloei, Astrid C.; Mallo, Nola T.S.; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14369

Abstract

Abstract: Traumatology is a study about wound or trauma and also its relation with violence. One of the many causes of death is head trauma that can cause trauma of either outer layer or inner layer of the head. In USA, there are around 1.7 million people that head injuries every year. More than 52,000 people were reported dead, 275,000 people were hospitalized, and almost 80% were treated and referred to emergency departments. Based on gender, males were more often had head injury than females. This study was aimed to obtain the profile of head injury that caused death at the Department of Forensic and Medicolegal Prof Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from June 2015 to July 2016. Samples were obtained by using total sampling method. The results showed that there were 4 cases in 2015 and 5 cases in 2016. The description of head injuries were skull base fracture, diffuse brain injury, intracerebral hematoma, and subdural hematoma. Males had a higher prevalence than females, most were aged 20-40 years.Keywords: head injury, death Abstrak: Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan kekerasaan. Salah satu dari banyak penyebab kematian ialah cedera kepala, yang dapat menyebabkan trauma pada kepala baik lapisan luar maupun dalam. Diperkirakan 1,7 juta orang di Amerika Serikat mengalami cedera kepala setiap tahunnya. Lebih dari 52.000 orang meninggal dunia, 275.000 dirawat di rumah sakit, dan hampir 80% dirawat dan dirujuk ke instalasi gawat darurat. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak mengalami cedera kepala dibandingkan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran cedera kepala yang menyebabkan kematian di Bagian Forensik dan Medikolegal RSUP Prof Dr. R. D. Kandou periode Juni 2015 - Juli 2016. Pada penelitian ini sampel diperoleh dengan metode total sampling. Hasil penelitian mendapatkan tercatat 4 kasus pada tahun 2015 dan 5 kasus pada tahun 2016. Gambaran cedera kepala yang menyebabkan kematian yaitu fraktur basis krani, cedera otak difus, hematoma intraserebral, dan hematoma subdural. Laki-laki memiliki prevalensi yang paling banyak terhadap kejadian kematian akibat cedera kepala dengan usia terbanyak 20-40 tahun. Kata kunci: cedera kepala, kematian
PERBANDINGAN PRODUKSI AIR MATA PADA PENGGUNA LENSA KONTAK DENGAN YANG TIDAK MENGGUNAKAN LENSA KONTAK Wakarie, Paulus Rocky; Rares, Laya
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3613

Abstract

Abstract: There are so many factor that can affect the healthiness of eye, and one of them is tears. However, there are many circumstancesthat can affect the production of tears and lead to discomfort in the eye and one of them is contact-lenswearing.The aim of this research is to know the difference of tear production between contact-lens wearer and non contact-lens wearer. The method of this research is cross sectional with characteristic observation. And the problems to identify is happen by it self without intervention from researcher. The samples is group 2010 – 2013 students of Medical Faculty of Sam Ratulangi University amount to 30 peoples (15 contact-lenswearer, 15 contact-lensnon-wearer) who take with random sampling.The results showmore female sample (24 sample)  than male (6 sample) with mean age 19.3 + 2. Comparisonof tear productionincontact-lens usersand non contact-lens user was not significant(p>0.05).From result we can conclude, difference of tear production between contact-lens wearer and non- contact-lens wearer is not significantly distinct. Keywords:contact-lens wear, tear production.    Abstrak: Banyak factor yang mempengaruhi kesehatan mata, salah satunya adalah air mata. Namun, banyak keadaan yang dapat mempengaruhi produksi dari air mata ini sehingga bisa menimbulkan keluhan-keluhan pengelihatan, salah satunya adalah pemakaian contact-lens.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan produksi air mata pada pengguna contact-lens dengan yang tidak menggunakan contact-lens. Metode penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan sifat observational dan masalah yang diteliti terjadi dengan sendirinya tanpa intervasi dari peneliti. Sampel penelitian adalah mahasiswa FK UNSRAT angkatan 2010-2013 berjumlah 30 orang dimana 15 orang merupakan pengguna contact-lens dan 15 orang lain tidak menggunakan contact-lens yang diambil secara acak sederhana.Hasil penelitian menunjukkan sampe wanita (24 sampel) lebih banyak dari sampel laki-laki (6 sampel) dengan rata-rata umur 19,4 + 2. Perbandingan produksi air mata pada pengguna contact-lens dengan yang tidak menggunakan contact-lens (p>0,05) tidak terlalu signifikan. Kesimpulan perbandingan produksi air mata pada pengguna contact-lens dengan yang tidak menggunakan contact-lens tidak terlalu signifikan. Kata kunci:penggunaan contact-lens, produksi air mata.
Komorbiditas pada anak gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) pada 20 Sekolah Dasar di Kota Manado Ratnasari, Niluh Dewi; Kaunang, Theresia M. D.; Dundu, Anita E.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11009

Abstract

Abstract: Attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD) is one of the main problems in psychiatry which is often found in children under age of 7 years. ADHD is associated with comorbidities which are: oppositional defiant disorder, conduction disorder, anxiety disorder, depression, and learning disability. This study was aimed to determine the comorbidities in ADHD children. This was a descriptive-quantitative study with a cross sectional design conducted 20 elementary schools in Manado from November 2015 to January 2016. Respondents were students of class 1 to class 6 elementary school aged 6-12 years obtained by using purposive sampling method. Instrument of this study was based on the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 (DSM-5). The results showed that of the total 5,725 students, there were 611 students that had been screened for ADHD and 143 students (23%) had comorbid of ADHD. Based on gender, there were 82 males (57.3%) and 61 females (42.7%); the highest percentage were age 11 years old (27.3%). The comorbidities were as follows: oppositional defiant disorder (65.7%), conduct disorder (17.5%), autism spectrum disorder (28.7%), anxiety disorder (22.4%), developmental coordination disorder (23.1%), depression disorder (23.1%), physical abuse (11.2%), and emotional abuse (53.8%). Conclusion: The most common comorbidity in children with ADHD at 20 elementary schools in Manado was oppositional defiant disorder.Keywords: comorbidity, ADHD, children, manado Abstrak: Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) merupakan salah satu masalah psikiatri utama yang sering ditemukan pada anak di bawah usia 7 tahun. GPPH memiliki keterkaitan dengan komorbiditas. Komorbiditas pada GPPH yang paling sering ialah gangguan menentang oposisional, gangguan konduksi, gangguan kecemasan, depresi, dan ketidakmampuan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komorbiditas pada anak GPPH. Jenis penelitian ialah deskriptif-kuantitatif dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 20 sekolah dasar di Kota Manado dari bulan November 2015 sampai Januari 2016. Responden diperoleh dengan metode purposive sampling yaitu siswa-siswi kelas 1 sampai kelas 6 sekolah dasar usia 6-12 tahun. Instrumen penelitian komorbiditas yang digunakan berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 (DSM-5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari keseluruhan 5.725 siswa, yang telah terskrinning GPPH berjumlah 611 siswa, dan 143 siswa (23%) mengalami komorbiditas pada GPPH. Berdasarkan jenis kelamin laki-laki 82 responden (57,3%) dan perempuan 61 responden (42,7%) terbanyak pada usia 11 tahun (27,3%). Hasil komorbiditas ialah sebagai berikut: gangguan perilaku menentang oposisional (65,7%), gangguan konduksi (17,5%), gangguan spektrum autisme (28,7%), gangguan kecemasan (22,4%), gangguan perkembangan koordinasi (23,1%), gangguan depresi (23,1%), gangguan kekerasan fisik (11,2%), dan gangguan kekerasan emosional (53,8%). Simpulan: Komorbiditas terbanyak pada anak dengan GPPH yang ditemukan pada 20 sekolah dasar di Kota Manado ialah gangguan menentang oposisional.Kata kunci: komorbiditas, GPPH, anak, Manado
Pola Kekerasan Senjata Api di Sulawesi Utara Periode 2012-2017 Djaafara, Fauziyyah N.S.E; Siwu, James F.; Kristanto, Erwin G.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18456

Abstract

Abstract: Injuries and deaths resulted from firearm violence are global public health issues. In Indonesia, many firearm violence cases are reported in areas with frequent conflicts. In North Sulawesi, especially in Manado City, reports of firearm violence have not been well documented. This study was aimed to determine the firearm violence pattern in North Sulawesi in the period of 2012-2017. This was andescriptive retrospective study. Data of gunshot wounds in North Sulawesi in the period of January 2012-July 2017 were obtained from visum et repertum of gunshot wound in death cases at the Department of Forensic and Medicolegal Prof. R. D. Kandou Hospital, medical records of patients in the Department of Surgery Prof. R. D. Kandou Hospital, and the Criminal Investigation Department of North Sulawesi Regional Police. There were 14 cases of gunshot wounds. All of the cases were males and dominated by productive age group. The highest number of gunshot cases occurred in Manado. From the visum et repertum and examinations, it was found that all cases had an entrance gunshot wound. Conclusion: In North Sulawesi, gunshot cases were found in males, most were in productive age, and had entrance gunshot wound.Keywords: firearms, gunshot wounds, North Sulawesi Abstrak: Cedera dan kematian akibat kekerasan senjata api menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat secara global. Di Indonesia, kasus kekerasan senjata api banyak dilaporkan di daerah yang sering mengalami konflik. Di Provinsi Sulawesi Utara, khususnya Kota Manado laporan mengenai angka kejadian kekerasan senjata api belum tercatat dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola kekerasan senjata api di Sulawesi Utara pada periode 2012-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Dari hasil pengumpulan data kasus luka tembak di Sulawesi Utara kurun waktu tersebut melalui penelusuran hasil visum et repertum pada kematian akibat luka tembak di Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. R. D Kandou, rekam medik pasien di Bagian Ilmu Bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, dan Bagian Reserse Kriminal Umum (Bareskrimum) Kepolisian Daerah Sulawesi Utara tercatat 14 kasus luka tembak yang terjadi di Sulawesi Utara. Secara keseluruhan kasus luka tembak terjadi pada laki-laki dan didominasi oleh kelompok usia produktif. Kasus penembakan terbanyak terjadi di Kota Manado. Dari hasil pemeriksaan dan visum et repertum, didapatkan hasil bahwa seluruh kasus merupakan gambaran luka tembak masuk. Simpulan: Di Sulawesi Utara, kasus luka tembak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki, umumnya usia produktif, dengan luka tembak masuk.Kata kunci: senjata api, luka tembak, Sulawesi Utara
POLA LUKA PADA KORBAN MATI AKIBAT SENJATA API DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK MEDIKOLEGAL FK UNSRAT - RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOUMANADO PERIODE JANUARI 2007-DESEMBER 2013 Umboh, Rilano V. S.; Mallo, Nola T. S.; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6511

Abstract

Abstract: The aim of this study was to find out the patterns of gunshot wounds on dead victims. The study was conducted from October to December 2014 at Forensic and Medicolegal Department, Medical Faculty of Sam Ratulangi University – General Hospital of Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. This was a retrospective descriptive study. The results showed that during the period of time from January 2007 to December 2013, there were two cases of gunshot wounds that met the criteria. The first case occured in July 2012 and the second case in November 2012. Both victims were males. The first victim was 25 years old and the second victim was 44 years old. The location of gunshot wound of the first victim was on his left chest while the second victim had gunshot wound on his left upper arm. The mechanisms of death of both victims were massive bleeding. Further studies with longer period of time that perform in other hospitals around Manado are suggested.Keywords: patterns of wound, gunshot, dead victimsAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola luka pada korban mati akibat senjata api.Jenis penelitian bersifat deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder. Penelitian dilakukan di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Medikolegal FK Unsrat – RSUP Prof. dr. R.D. Kandou Manado selama periode Oktober 2014 sampai dengan Desember 2014.Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode Januari 2007 sampai dengan Desember 2013 terdapat dua kasus luka tembak yang memenuhi kriteria. Kasus pertama terjadi pada Juli 2012 dan kasus kedua terjadi pada November 2012. Kedua korban berjenis kelamin laki-laki. Korban pertama berusia 25 tahun dan korban kedua berusia 44 tahun. Lokasi luka tembak korban pertama ada di bagian dada kiri sedangkan korban kedua ada di lengan atas kiri. Mekanisme kematian kedua korban adalah perdarahan masif. Disarankan penelitian lebih lanjut dengan periode yang diteliti lebih lama dan dilakukan di rumah sakit lainnya yang ada di sekitar Manado.Kata kunci: pola luka, senjata api, korban mati
GAMBARAN FUNGSI KOGNITIF DENGAN INA-MoCA DAN MMSE PADA PENDERITA POST-STROKE DI POLIKLINIK SARAF BLU RSUP KANDOU MANADO NOVEMBER - DESEMBER 2014 Wibowo, Martinus M.; Karema, Winifred; S, J. Maja. P.
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.3.2015.9421

Abstract

Abstract: In stroke patients there are damages of neurons resulting in disabilities of sensoric, motoric, and cognitive functions. Evaluation of cognitive function is needed to determine the level of functional ability that is useful in management and prognosis. This study aimed to obtain the cognitive function of post-stroke patients in Neurology Clinic Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado form November-December 2014 by using INA-MoCA and MMSE. This was a descriptive study with a cross sectional design. There were 35 patients as samples. The results showed that most of the patients were males (48.57%), age group 56-65 years old (37.1%), high school education (45.7%), and ischemic type stroke (97.1%). There were 97.1% of patients with INA-MoCA score <26. Moreover, there were 91.4% of patients with normal MMSE score, 5.7% probable, and 2.9% definite.Keywords: cognitive function disturbance, INA-MoCA, MMSE, post strokeAbstrak: Pada pasien stroke terjadi kerusakan sel-sel neuron yang dapat berakibat kecacatan fungsi sensoris, motoris, maupun kognitif. Evaluasi fungsi kognitif sangat diperlukan untuk menentukan tingkat kemampuan fungsional yang berguna untuk penanganan dan prognosis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran fungsi kognitif yang diperiksa dengan INA-MoCA dan MMSE pada penderita post-stroke di poliklinik saraf BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel berjumlah 35 pasien dengan karakteristik populasi paling banyak laki-laki 48,57%, kategori umur 56-65 tahun 37,1%, tingkat pendidikan SMA 45,7%, tipe stroke iskemik 97,1%. Pasien dengan skor INA-MoCA <26 sejumlah 97,1%. Dengan skor MMSE terdapat 91,4% pasien Normal, 5,7% Probable, dan 2,9% Definite.Kata kunci: gangguan fungsi kognitif, INA-MoCA, MMSE, post stroke
Hubungan tekanan intraocular dengan diabetes retinopati proliferatif Martua, Felix; Rares, Laya; Tongku, Yamin
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14470

Abstract

Abstrak: Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit tidak menular yang diderita lebih dari 170 juta orang di seluruh dunia, salah satu komplikasi dari DM adalah diabetes retinopati dimana salah satu bentuknya adalah proliferatif (PDR). Jika PDR tidak ditangani dengan cepat maka akan menimbulkan penurunan tajam penglihatan dan disertai peningkatan tekanan intraokular (TIO). Penelitian ini dilakukan untuk menemukan hubungan antara PDR dengan peningkatan TIO. Penelitian dilakukan dengan metode analitik retrospektif, dengan menggunakan data rekam medik dari pasien yang berobat di Poliklinik Mata RSUP Prof. R.D. Kandou Manado periode Januari 2015-September 2016. Data yang diambil antara lain status tekanan intraocular dan tanda vital pasien sebelum menerima tindakan terapi. Dari 24 data rekam medik pasien yang memenuhi kriteria didapat 15 pasien jenis kelamin perempuan (62,5%) dan 9 pasien jenis kelamin laki-laki (37,5%). Rentang usia paling banyak terkena PDR adalah 55-64 tahun sebanyak 10 orang (41,7%). Hasil analisis menggunakan metode analisis regresi dengan variabel dummy terdapat tingkat hubungan sebesar 29,7% yang berarti PDR sedikit berpengaruh pada TIO, dengan p=0,03 yang menunjukkan hubungan yang kurang signifikan antara PDR dan TIO (p<0,05). Simpulan: didapat hubungan yang kurang signifikan antara PDR dan TIO.Kata kunci: diabetes retinopati proliferatif, tekanan intraokular Abstract: Diabetes Mellitus (DM) is an uninfectious disease that affect more than 170 million persons worldwide. Diabetic retinopathy is one of the most common complication on people with diabetes, and Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR) is the most severe form of diabetic retinopathy. PDR will cause vision loss if not treated quickly and causing elevation of intraocular pressure (IOP). PDR and its association with elevation of IOP is the main focus of this study. This study was an analytic-retrospective, using the data from medical record of patients that visits Polyclinic of Opthalmology in Prof. R.D. Kandou Hospital from January 2015 until September 2016 period. Data used for this study is IOP, vision status, and vital sign, and the IOP was measured before patient taking any medication. From 24 samples were used for this study, 15 of them is females (62,5%), based on age span, most patients with PDR are between 55-64 y.o. by 10 people (41,7%). Analytic result using dummy variable shows PDR has little effect to IOP, by 29,7% and shows little signifancy (p=0,03; p<0,05). Conclusion: PDR has little significant correlation to IOP. Keywords: proliferative diabetic retinopathy, intraocular pressure
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN , PENGETAHUAN DAN STATUS GIZI DENGAN PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING Hutari, Sari
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3721

Abstract

Abstract: Knowledge is a domain that is essential for the formation of someone actions . Increased knowledge can lead to changes in perceptions and habits and believe of pulmonary tuberculosis patients in implementing treatment programs . This study was conducted to determine the relationship of knowledge in pulmonary tuberculosis patients with compliance tuberculosis treatment program. Objective: To determine the relationship between levels of education with OAT therapy . Knowing the relation with the nutritional status of OAT therapy . Knowing the relationship with the knowledge level of OAT therapy. Methods: This study use descriptive study with cross sectional analytic . The sample was pulmonary tuberculosis patients with a sample size of 30 people . Results and Conclusions : . From the results of research conducted using bivariate analysis can be seen in the presence of a significant positive value between body mass index ( BMI ) with albumin levels ( p = 0.045 ) where the higher BMI the more albumin levels is increase or conversely the lower the BMI the more albumin is decrease. Keywords: Education , Knowledge , nutritional status , treatment of Tuberculosis  Abstrak: Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Meningkatnya pengetahuan dapat menimbulkan perubahan persepsi dan kebiasaan serta kepercyaan penderita tuberculosis paru dalam melaksanakan program pengobatan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan pasien tuberculosis paru dengan kepatuhan penderita tuberculosis dalam program pengobatan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan terapi OAT. Mengetahui hubungan status gizidengan terapi OAT. Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan terapi OAT. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah pasien Tuberkulosis paru dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang. Hasil&Kesimpulan:. Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan analisis bivariat dapat dilihat adanya nilai positif yang signifikan antara indeks masa tubuh (IMT) dengan kadar albumin (p=0,045) di mana semakin tinggi IMT maka kadar albumin semakin naik atau sebaliknya semakin rendah IMT maka kadar albumin semakin turun.Kata Kunci: Pendidikan, Pengetahuan, status gizi, pengobatanTuberkulosis

Page 33 of 108 | Total Record : 1074