cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
PROFIL VERUKA VULGARIS DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2012 Jonathan, Julian; Kapantow, Grace M.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8606

Abstract

Abstract: Verruca vulgaris is a benign proliferation of the skin caused by human papilloma virus (HPV). Verruca vulgaris is found in all ages, especially in children. The HPVs are spread by direct contact. The predilection sites are mainly in the extensor part of the limb and sites with frequent trauma such as hands, fingers, and knees. This study aimed to determine the profile of verruca vulgaris in patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado General Hospital in 2012. This was a retrospective and descriptive study about gender, age, occupation, location of the lesion, and management. The results showed that there were 27 patients with verruca vulgaris (0.68%) out of 4,023 patients treated in the Dermatology Clinic at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado. There were 15 males (55,6%) out of 27 patients; 10 patients (37.04%) in the age group of 15-24 years; the most frequent occupation were student (9 patients; 33.33%); the locations of lesions at the upper extremity were found in 13 patients (48.16%); and the electrical surgical treatment was performed in all 27 patients (100%).Keywords: verruca vulgarisAbstrak: Veruka vulgaris adalah proliferasi jinak pada kulit yang disebabkan oleh human papilloma virus (HPV). Veruka vulgaris ditemukan pada semua usia tetapi lebih sering pada anak. Cara penyebaran virus ini melalui kontak langsung. Tempat predileksi terutama di ekstremitas bagian ekstensor dan tempat yang sering terjadi trauma seperti tangan, jari, dan lutut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil veruka vulgaris pada pasien yang dirawat di RSUP. Prof. Dr. R. D Kandou Manado pada tahun 2012. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif tentang jenis kelamin, umur, pekerjaan, lokasi lesi, dan penataksanaan. Hasil penelitian memperlihatkan 27 pasien dengan veruka vulgaris (0,68%) dari 4023 pasien yang dirawat di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP. Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Jenis kelamin laki-laki 15 pasien (55,6%), kelompok umur 15-24 tahun 10 pasien (37,04%), pekerjaan terbanyak ialah mahasiswa 9 pasien (33,33%), lokasi lesi yang sering terserang ialah ekstremitas atas 13 pasien (48,16%), dan penatalaksanaan yang diberikan ialah terapi bedah listrik 27 pasien (100%).Kata kunci: veruka vulgaris
Profil psoriasis di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2013 – Desember 2015 Boham, Michelle P.; Suling, Pieter L.; Pandaleke, Herry E.J.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14459

Abstract

Abstract: Psoriasis is a skin disease that belongs to erythrosquamous dermatosis, characterized by erythema and scaling. Psoriasis are usually localized on the elbows, knees, and scalp, however, it can spread to almost all areas of the body. Its causes are still not known for certain but it is suspected that this disease is related to genetic, immunological, and environmental factors. This study was aimed to obtain the profile of psoriasis in the Dermatovenereology Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January 2013 to December 2015. This was a retrospective descriptive study using the medical record data. The results showed that of 3573 new cases of skin diseases, 188 were classified as psoriasis (5.26%). The majority of psoriasis cases were males (57.98%), aged 45-64 years (50.53%), occupation as housewife (16.48%), and diagnosed as psoriasis vulgaris (80.85%). Psoriasis typically found in the head, body, and extremities was found in 73.94% of cases. The most common type of treatment was a combination of topical corticosteroid and oral antihistamine (68.62%).Keywords: psoriasis, erythrosquamous dermatosis Abstrak: Psoriasis merupakan salah satu jenis penyakit kulit yang termasuk dalam golongan dermatosis eritroskuamosa, ditandai dengan adanya eritema dan skuama. Letak psoriasis dapat terlokalisir, misalnya pada siku, lutut, kulit kepala, atau menyerang hampir 100% luas tubuhnya. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun diduga penyakit ini di[engaruhi oleh faktor genetik, imunologik, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil psoriasis di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2013 – Desember 2015. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik. Hasil penelitian menunjukkan dari 3573 kunjungan baru penyakit kulit, terdapat 188 kasus baru psoriasis (5,26%). Mayoritas kasus ialah laki-laki (57,98%), usia 45-64 tahun (50,53%), pekerjaan tersering ibu rumah tangga (16,48%), dan diagnosis sebagai psoriasis vulgaris (80,85%). Psoriasis paling banyak mengenai kepala, badan, dan ekstremitas (73,94%). Terapi yang paling sering digunakan ialah kombinasi kortikosteroid topikal dan antihistamin oral (68,62%). Kata kunci: psoriasis, dermatosis eritroskuamosa
PREVALENSI GANGGUAN PERILAKU PADA WANITA PEKERJA SEKS USIA REMAJA DI KOTA MANADO Jacqualine, Mercy Juliana
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3674

Abstract

Abstract: Introduction: Behavioral disorders are mental disorder which are often overlooked by many people. Whereas as a result of behavioral disorders would very dangerous if left unchecked. Adolescence is an particularly vulnerable age for developing conduct disorder. Adolescents who have behavioral disorders have tendency of engage in activities that deviate including againts parents, lying and stealing. These gestures are the types of behavioral disorders and impaired conduction opposed. Perversity is what that associated with behavioral disorders, especially for teenagers who work as female sex workers. Methods: This research is a descriptive cross-sectional study design. By using research instruments informed consent, mini-kid, and kuesioner. The results will be processed by univariate analysis. Fallowed by qualitative research by depth interviews with the subject. Result: Result found as many as 70% had a history of opposing interference, 36.6% had a history of mild behavioral disorders, and 30% had experienced a history of conduct disorder being. Key Words: Behavioral disturbances, interruption againts, adolescent, Mini-Kid.     Abstrak: Pendahuluan: Gangguan perilaku merupakan salah satu gangguan mental yang seringkali diabaikan oleh banyak orang. Padahal akibat dari gangguan perilaku akan sangat berbahaya jika terus dibiarkan. Usia remaja merupakan usia yang sangat rentan untuk terkena gangguan perilaku. Remaja yang mengalami gangguan perilaku memiliki kecendrungan untuk melakukan kegiatan yang menyimpang termasuk melawan orang tua, berbohong dan mencuri. Sikap-sikap tersebut merupakan jenis gangguan perilaku konduksi dan gangguan menentang. Perbuatan menyimpang inilah yang dikaitkan dengan gangguan perilaku terutama bagi remaja yang berprofesi sebagai wanita pekerja seks. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Dengan mengunakan instrumen penelitian mini-kid dan kuesioner. Hasil penelitian akan diolah dengan analisis univariat. Dilanjutkan dengan penelitian kualitaif berupa wawancara mendalam dengan 2 subjek, yang hasil penelitiannya akan disajikan dalam bentuk naratif. Hasil: Didapati sebanyak 70% WPS memiliki riwayat gangguan menentang, 36,6% mengalami riwayat gangguan tingkah laku ringan, dan 30% pernah mengalami riwayat gangguan tingkah laku sedang. Kata Kunci: Gangguan tingkah laku, gangguan menentang, remaja, Mini-KID
HUBUNGAN ANTARA KADAR GULA DARAH BAYI BARU LAHIR DENGAN IBU HAMIL YANG MENGALAMI OBESITAS Rumangkang, Bella; Wilar, Rocky; Pateda, Vivekenanda
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11037

Abstract

Abstract: Nowadays, obesity has gotten serious concerns because of the increasing number of sufferers including the number of obese people in pregnant women. The number of obese pregnant women has increased by approximately 18.5% to 38.3%. Obesity is a condition that indicates an imbalance between the height and the weight due to the fat tissue in the body resulting in weight excess beyond the ideal weight. The obesity is nearly always harmful to the mother and fetus, and it can come down to the infants. While in the womb, the fetus receives all the energy and glucose which are obtained from the mother. After the birth, the amount of glucose, that is stored in the baby's body in the form of liver and muscle glycogen, is only enough to supply the needs of the baby for a few hours, so the baby's blood sugar levels decreases and hypoglycemic occurs.Objectives: This research intends to determine correlation between the blood sugar levels of newborn babies and pregnant women who experience obesity.Material Methods: This research is a prospective analytical study conducted in pregnant women through direct data collection by measuring the weight and height, and the measurement of the blood sugar levels in the newborn babies in RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado, RS R.W Monginsidi Teling Manado, RSU Pancaran Kasih Manado, and Puskesmas Bahu Manado during the months of November 2015 to January 2016.Result: The study result of the 38 respondents found out that pregnant women who are obese to the obese category I as many as 30 people (78.9%), 5 people (13.2%) in obese II , and 3 people (7.9%) in obese III. The distribution according to the frequency of food consumption of mothers in which 36 of them (94.7%) with a frequency of ≥ 3x meals a day and 2 (5.3%) with a food frequency ≤ 3 times a day. The distribution according to the activity of the mother that the majority of mild activity as many as 31 people (81.6%), 4 people (10.5%) having tough activities, and 3 people (7.9%) having light activities. The distribution according to the mother's knowledge about obesity there were 14 people (36.8%) who knew about obesity and there were 24 people (63.2%) who did not know about obesity. According to the mother's knowledge on maternal blood sugar, they all (100%) knew. Based on the distribution according to the sex of a newborn babies, there were 23 male infants (60.5%) and 15 female infants (39.5%). According to the baby's weight distribution; there were 14 infants (36.8%) with a body weight between 3100 to 3500 grams, 13 infants (34.2%) with a body weight between 2,500 to 3,000 grams, and 11 infants (29%) by weight between 3600 to 4000 grams. The distribution according to the blood sugar levels that the majority of newborn infants with low blood sugar levels were between 15-20 mg / dL totaling 21 infants (55.3%), blood sugar levels between 26-30 mg / dL were 9 infants (23.7 %), while blood sugar levels between 21-25 mg / dL and 36-40 mg / dL obtained a similar number that is 4 infants (10.5%).Conclusion: The research result which was done has two different conclusions. Based on the theory, there was H1 which has relationship between all pregnant women who are obese and low blood sugar levels in the newborn babies. Based on the statistical test, there was H0 which has no significant correlation between blood sugar levels of newborn babies and mothers who are obese.Keywords: obesity, pregnant women, blood sugar levels, newborn babies, hypoglycemia.Abstrak: Saat ini obesitas mendapat perhatian yang serius karena jumlah penderitanya yang semakin meningkat termasuk jumlah penderita obesitas pada ibu hamil. Jumlah penderita obesitas pada ibu hamil meningkat sekitar 18,5% sampai dengan 38,3%. Obesitas merupakan keadaan yang menunjukkan ketidakseimbangan antara tinggi dan berat badan akibat jaringan lemak dalam tubuh sehingga terjadi kelebihan berat badan yang melampaui berat badan ideal. Obesitas hampir selalu berbahaya bagi ibu dan janinnya, dan dapat menurun pada bayi. Selama dalam kandungan, janin memperoleh semua energi dan glukosa yang didapat dari ibu. Setelah kelahiran, jumlah glukosa yang disimpan dalam tubuh bayi dalam bentuk glikogen hati dan otot hanya cukup untuk menyuplai kebutuhan bayi beberapa jam saja, sehingga kadar gula darah bayi menurun dan terjadi hipoglikemia.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar gula darah bayi baru lahir dengan ibu hamil yang mengalami obeistas.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi analitik prospektif yang dilakukan pada ibu hamil melalui pengambilan data secara langsung dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan dan pengukuran kadar gula darah pada bayi baru lahir di RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado, RS R.W Monginsidi Teling Manado, RSU Pancaran Kasih Manado, dan Puskesmas Bahu Manado selama bulan November sampai Januari 2016.Hasil: Hasil peneilitian dari 38 responden di dapatkan ibu hamil yang mengalami obesitas dengan kategori obese I sebanyak 30 orang (78,9%), obese II sebanyak 5 orang (13,2%), dan obese III sebanyak 3 orang (7,9%). Distribusi menurut frekuensi konsumsi makanan dari ibu diperoleh 36 orang (94,7%) dengan frekuensi makanan ≥ 3x sehari dan 2 orang (5,3%) dengan frekuensi makanan ≤ 3x sehari. Distribusi menurut aktivitas ibu bahwa mayoritas beraktivitas ringan sebanyak 31 orang (81,6%), aktivitas berat didapatkan 4 orang (10,5%) dan aktivitas ringan didapatkan 3 orang (7,9%). Distribusi menurut pengetahuan ibu tentang obesitas terdapat 14 orang (36,8%) yang mengetahui tentang obesitas dan terdapat 24 orang (63,2%) yang tidak mengetahui tentang obesitas. Menurut pengetahuan ibu tentang gula darah didapatkan semua ibu (100%) mengetahuinya. Berdasarkan distribusi menurut jenis kelamin bayi baru lahir didapatkan laki-laki berjumlah 23 bayi (60,5%) dan perempuan berjumlah 15 bayi (39,5%). Distribusi menurut berat badan bayi didapatkan 14 bayi (36,8%) dengan berat badan antara 3100 sampai 3500 gram, 13 bayi (34,2%) dengan berat badan antara 2500 sampai 3000 gram, dan 11 bayi (29%) dengan berat badan antara 3600 sampai 4000 gram. Distribusi menurut kadar gula darah bayi baru lahir bahwa mayoritas bayi dengan kadar gula darah terendah antara 15 – 20 mg/dL berjumlah 21 bayi (55,3%), kadar gula darah antara 26 – 30 mg/dL berjumlah 9 bayi (23,7%), sedangkan kadar gula darah antara 21 – 25 mg/dL dan 36 – 40 mg/dL diperoleh jumlah yang serupa yaitu 4 bayi (10,5%).Simpulan: Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh 2 simpulan yang berbeda. Berdasarkan teori, didapatkan H1 yaitu ada hubungan antara semua ibu hamil yang mengalami obesitas dengan kadar gula darah yang rendah pada bayi baru lahir. Berdasarkan uji statiska, didapatkan H0 yaitu tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar gula darah bayi baru lahir dengan ibu yang mengalami obesitas.Kata kunci: obesitas, ibu hamil, kadar gula darah, bayi baru lahir, hipoglikemia.
Analisis Faktor- Faktor yang Memengaruhi Depresi pada Ibu Kandung yang Memiliki Anak dengan Retardasi Mental di Sekolah Luar Biasa Yayasan Pembinaan Anak Cacat Manado Pratiwi, Dewi S.; Dundu, Anita E.; Kairupan, Bernabas H. R.
e-CliniC Vol 6, No 1 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.1.2018.18634

Abstract

Abstract: The first common reaction in parents who have a retarded child is shock, fear, sadness, disappointment, guilt, rejection or anger. These conditions could potentially lead to psychological problems that can cause depression. There are many factors that can influence depression in biological mothers who have children with mental retardation. This study was aimed to analyze the factors that could influence depression in biological mothers who had children with mental retardation at the Special School of Coaching Disabled Children Foundation Manado. This was a descriptive-analytical study with a cross-sectional design. Data were obtained by using Hamilton Depression Rate Scale (HDRS) questionnaire and socio-demographic questionnaire. There were 17 biological mothers as respondents. The results showed that 11 respondents suffered form depression; 6 respondents (35.3%) with mild depression and 5 respondents (29.4%) with moderate depression. Meanwhile, six respondents (35.3%) had no depression. The factors that could influence depression were as follows: age (P = 0.332), education (P = 0.335), occupation (P = 0.586), marital status, number of children (P = 0.905), gender of children (P = 0.966), and level of mental retardation of the children (P = 0.774). Conclusion: There was no relationship between depression and factors that could influence depression in biological mothers who had children with mental retardation.Keywords: depression, mother, child, mental retardation, HDRSAbstrak: Reaksi umum yang pertama kali terjadi pada orangtua yang memiliki anak dengan retardasi ialah rasa kaget, takut, sedih, kecewa, merasa bersalah, menolak atau marah-marah. Kondisi seperti ini berpotensi memunculkan masalah psikologis yang bisa menyebabkan depresi. Terdapat banyak faktor yang memengaruhi depresi pada ibu yang memiliki anak retardasi mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor -faktor yang dapat memengaruhi depresi pada ibu kandung yang memiliki anak retardasi mental di Sekolah Luar Biasa Yayasan Pembinaan Anak Cacat Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif-analitik dengan desain potong lintang. Data diperoleh melalui kuisioner Hamilton Depression Rate Scale (HDRS) dan kuisioner sosio-demografi. Responden penelitian berjumlah 17 orang ibu. Hasil penelitian menunjukkan ibu yang mempunyai anak retardasi mental mengalami depresi sebanyak 11 responden dengan 6 responden (35,3%) depresi ringan dan 5 responden (29,4%) depresi sedangkan yang tidak mengalami depresi sebanyak 6 orang (35,3%). Faktor-faktor yang dapat memengaruhi depresi pada ibu yaitu usia (P= 0,332), pendidikan terakhir (P=0,335), pekerjaan (P=0,586), status pernikahan, jumlah anak (P=0,905), jenis kelamin anak (P=0,966), dan tingkat retardasi mental anak (P=0,774). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara faktor-faktor yang memengaruhi depresi dengan depresi pada ibu.Kata kunci: depresi, ibu, anak, retardasi mental, HDR
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN SUSU FORMULA PADA BAYI YANG DIRAWAT DI RUANG NIFAS RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Susanto, Hery; Wilar, Rocky; Lestari, Hesti
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6758

Abstract

Abstract: Increased formula feeding was caused by lack of knowledge about the benefits of breastfeeding, low education, aggressive promotion of infant formula, and support from health care professionals. The are several cases where the infants given formula due to several conditions, like mother is unable to produce milk, small amount of milk production, absence of nipple appearance, post-op pain, pain during breastfeeding. The following study aims to determine what factors affecting Giving Infant Formula Milk Treated in Postpartum Room Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This study is a descriptive design with direct interview approach. The population in this research were all treated in the maternal postpartum Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Conclusion: The results obtained from 50 respondents show that 66% has a good knowledge about the benefits of breastfeeding, 66% says that health care professional support given infant formula, 100% says that their closest relatives support given breastfeeding, 34% is affected the promotion of infant formula, and 34% are women without complaints of breastfeeding hindrance factor. This study recommends that mothers / parents cooperate with health care professionals cooperation in order to increase the success rate of breastfeeding.Keywords: infant formula, breastfeedingAbstrak: Meningkatnya pemberian susu formula disebabkan pengetahuan kurang mengenai manfaat ASI, pendidikan yang rendah, agresifnya promosi susu formula, dukungan petugas kesehatan. Adapun bayi yang diberikan susu formula karena beberapa kondisi ibu yang mengeluh tidak keluarnya ASI, ASI kurang, puting tidak muncul, sakit bekas operasi, nyeri saat menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor Apa yang mempengaruhi Pemberian Susu Formula pada Bayi yang Dirawat di Ruang Nifas RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan wawancara langsung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu melahirkan dirawat di ruang nifas RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado. Kesimpulan: Hasil penelitian yang diperoleh dari 50 responden diketahui bahwa 66% pengetahuan baik mengenai manfaat ASI, 66% petugas kesehatan mendukung pemberian susu formula, 100% orang terdekat mendukung pemberian ASI, 34% terpengaruh promosi susu formula, 34% kondisi ibu dengan tanpa keluhan. Penelitian ini merekomendasikan agar ibu/orang tua dengan petugas kesehatan adanya kerjasama dalam keberhasilan pemberian ASI.Kata kunci: susu formula, ASI
Livor mortis pada keracunan insektisida golongan organofosfat di kelinci Thanos, Chrissy A. A.; Tomuka, Djemi; Mallo, Nola T. S.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10827

Abstract

Abstract: The objective of this study is to compare the time livor mortis formed, fixed, and colored on the control group and treated group. This was a true experimental study with a post-test only control group design. This study was conducted at the Forensic Laboratory Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from September to December 2015. Samples were 10 rabbits (Oryctolagus cuniculus) of 1250-2100 g, divided into two groups, the control group and the treated group. The treated group was exposed to diazinon as many as 3 ml in one treatment. Data were analyzed by using univariat analysis, subsequently tested using Independent t-Test. The results showed that there was no significant difference (p>0.05) on the time livor mortis formed and fixed between the control group and the treated group. There is a slight color difference of the livor mortis between control group (bluish-violet/purple) and treated group (purplish-red). Conclusion: There was no significant difference on the time of livor mortis formed and fixed between rabbits with and without organophosphate intoxication. There was a slight difference in color of livor mortis between rabbits with organophosphate intoxication (purplish-red) and the ones without intoxication (bluish-violet/purple).Keywords: livor mortis, intoxication, organophosphate, rabbitsAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan waktu terbentuk, waktu menetap dan warna livor mortis pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Jenis penelitian eksperimen murni (true experimental desain) dengan rancangan penelitian post test only control group design. Penelitian dilakukan di Laboratorium Forensik RSUP Prof. Dr. dr. R. D. Kandou Manado pada bulan September – Desember 2015. Sampel terdiri dari 10 ekor kelinci (Oryctolagus cuniculus) dengan berat badan 1250-2100g yang dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok perlakuan dilakukan pemaparan diazinon sebanyak 3 ml dalam satu kali pemberian. Data dianalisis dengan analisis univariat kemudian diuji dengan Independent t-Test. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) waktu terbentuk dan waktu menetap livor mortis antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Terdapat sedikit perbedaan warna livor mortis antara kelompok kontrol (biru keunguan) dan kelompok perlakuan (ungu kemerahan/livide). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna waktu terbentuk dan waktu menetap livor mortis antara kelinci dengan dan tanpa keracunan organofosfat. Terdapat sedikit perbedaan warna livor mortis antara kelinci dengan keracunan organofosfat (ungu kemerahan/livide) dan yang tanpa keracunan (biru keunguan).Kata kunci: livor mortis, keracunan, organofosfat, kelinci
Hubungan kadar asam lemak dengan fungsi hati pada remaja obes Pasaribu, Eca D.Y.; Warouw, Sarah M.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14494

Abstract

Abstract: Obesity has reached epidemic proportion globally. Obesity is the risk factors to various diseases and early death. Being obese in adolescents is highly risky to become obese in adults and potentially have metabolic diseases and degenerative diseases later. Early detection of the changes in liver function is crucial in obese adolescents. The prevelation of non-alcoholic fatty liver disease increase simultaneously as the increase of the number of obesity in children and adolescents. This study was aimed to obtain the correlation of fatty acid level and liver function in obese adolescents. This was an observational study with a cross sectional design. Population was male and female obese students aged 13-15 years in Tomohon. Anthopometry value, trygliceride level, and the serum marker of liver function (AST and ALT) were examined. The respondents fasted for 10 to 12 hours before the blood examination. There were 39 obese adolescents as samples. The result of the Pearson Correlation test showed a positive correlation between trygliceride level and AST level but not statistically significant (r=0.048, p=0.772) and a positive correlation between trygliceride level and ALT level but not statistically significant (r=0.068, p=0.679). Conclusion: There was a a positive correlation between the fatty acid level and the liver function in obese adolescents,however, it was not statistically significant.Keywords: obesity, adolescents, trygliceride, AST, ALT Abstract: Obesitas telah mencapai proporsi epidemik global. Obesitas merupakan predisposisi terhadap penyakit dan kematian dini akibat berbagai penyakit. Obesitas pada masa anak berisiko tinggi menjadi obesitas di masa dewasa dan berpotensi mengalami berbagai penyakit metabolik dan penyakit degeneratif di kemudian hari. Deteksi dini adanya perubahan fungsi hati penting dilakukan pada anak obes. Prevalensi penyakit perlemakan hati non alkoholik meningkat bersamaan dengan meningkatnya obesitas pada anak dan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar asam lemak dan fungsi hati pada remaja obes. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Populasi ialah siswa-siswi remaja obes berusia 13-15 tahun di Kota Tomohon. Dilakukan pengukuran antopometri, pemeriksaan trigliserida, dan serum penanda fungsi hati (AST dan ALT). Sampel penelitian berjumlah 39 remaja obes. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif antara kadar trigliserida dengan kadar AST namun tidak bermakna secara statistik (r=0,048, p=0,772) dan terdapat pula hubungan positif antara kadar trigliserida dengan ALT namun tidak bermakna secara statistik (r=0,068, p=0,679). Simpulan: Terdapat hubungan positif antara kadar asam lemak dengan fungsi hati pada remaja obes namun tidak bermakna secara statistik. Kata kunci: obesitas, remaja, trigliserida, AST, ALT
HUBUNGAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA ANAK SD KELAS 1 DI KECAMATAN WENANG KOTA MANADO Lalusu, Revina
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.4080

Abstract

Abstract: Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) is determined by attention disruption and higher level of impulsivity experienced by children which incorporates with the physical development and age. In order to scrutinize if children have carried ADHD, the disruptive symptoms have to be experienced and observed at least six (6) months to the observed children, which have led to academic progress and social disruption, and should be presented before age of 7. Objective/Purpose: This research aims to determine the relationship between ADHD with Hyperactivity and children’s academic achievement in Wenang district, Manado. Methods: Descriptive method combine with quantitative approach has been occupied and been used in January 2013 at the elementary schools in Wenang district, Manado. Results: Based on chi-square analysis, the output is x2count > x2table, and the p < 0,05. As a result, the H0 hypothesis is being rejected. It means there is a significant relationship between ADHD with academic achievement. Conclusion: Bond relationship between ADHD with academic achievement is presented cleary based on the research. The relationship occurs among 68 pupils who are studying in Wenang district 38 boys and 30 girls Key Words: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Academic Achievement     Abstrak: Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau GPPH ditandai oleh rentang perhatian yang buruk yang tidak sesuai dengan perkembangan atau ciri hiperaktivitas dan impulsifitas atau keduanya yang tidak sesuai dengan usia. Untuk memenuhi kriteria diagnostik gangguan harus ada sekurangnya 6 bulan, menyebabkan gangguan dalam fungsi akademik atau sosial dan terjadi sebelum usia 7 tahun.Tujuan: Penelitian ini betujuan untuk mengetahui hubungan antara gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas dengan prestasi belajar pada siswa kelas 1 di kecamatan Wenang kota Manado. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dilaksanakan pada bulan Januari tahun 2013 di sekolah dasar di kecamatan Wenang kota Manado. Hasil: Berdasarkan uji analisis chi square, diperoleh nilai X2hitung > X2tabel, dan nilai p < 0,05 maka berarti hipotesi H0 ditolak. Dapat disimpulkkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara GPPH dengan prestasi belajar. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas dengan prestasi belajar yakni berjumlah 38 anak laki-laki dan 30 anak perempuan. Dengan jumlah keseluruhan 68 anak sekolah dasar di kecamatan Wenang. Kata kunci: Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH), Prestasi Belajar
Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Code Blue System di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Dame, Randi B.; Kumaat, Lucky T.; Laihad, Mordekhai L.
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.2.2018.22176

Abstract

Abstract: Code blue system is an emergency system consisting of a code blue team that provides immediate relief to all patients with emergencies during respiratory arrest and/or cardiac arrest. The application of code blue aims to reduce mortality and increase the rate of return of spontaneous circulation (ROSC). To achieve the goal of implementing the blue system code, nurses as the code blue local team must have good level of knowledge and understanding of the code blue system. This study was aimed to determine the profile of nurses' knowledge about the code blue system at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design. Data of demography and measurement were obtained by using questionnaires. Respondents were 91 nurses who were in charge in medical ward of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The results showed that 27 nurses (29.67%) had high level category of knowledge about code blue systems; 23 nurses (25.28%) had fairly high level category; 24 nurses (26.37%) had low level category, and 17 (18.68%) nurses had very low level category. Conclusion: The majority of nurses at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado had high level category of knowledge about the code blue system.Keywords: knowledge level, code blue system, nurse Abstrak: Code blue system adalah sistem kegawatdaruratan yang terdiri dari tim code blue yang memberikan pertolongan segera pada semua pasien dengan kegawatdaruratan saat henti napas dan atau henti jantung. Penerapan code blue bertujuan untuk mengurangi angka mortalitas serta meningkatkan angka return of spontaneous circulation (ROSC) atau kembalinya sirkulasi spontan. Untuk mencapai tujuan dari penerapan code blue system, perawat sebagai salah satu responden tim code blue lokal harus memiliki tingkat pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang code blue system. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan perawat tentang code blue system di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Data demografi dan hasil pengukuran menggunakan alat ukur kuesioner. Responden penelitian ialah 91 perawat yang bertugas di irina-irina RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan sebanyak 27 perawat (29,67%) mempunyai tingkat pengetahuan tentang code blue system dengan kategori tinggi; 23 perawat (25,28%) dengan kategori cukup tinggi; 24 perawat (26,37%) dengan kategori rendah; dan 17 peerawat (18,68%) dengan kategori sangat rendah. Simpulan: Mayoritas perawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado mempunyai tingkat pengetahuan tentang code blue system pada kategori tinggiKata kunci: tingkat pengetahuan, code blue system, perawat

Page 36 of 108 | Total Record : 1074