cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
GAMBARAN FUNGSI EKSEKUTIF PADA PASIEN POST STROKE MENGGUNAKAN PEMERIKSAAN CLOCK DRAWING TEST (CDT) DI POLI NEUROLOGI RSUP PROF. DR. R. D KANDOU PERIODE NOVEMBER-DESEMBER 2014 Solang, Afrilya N.; S., Maja P.; Ngantung, Danny J.
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8437

Abstract

Abstract: Approximately 50-75% of stroke patients is estimated to have impaired cognitive function. One of the components of cognitive function impaired is executive function. Clock drawing test (CDT) is one of the screening tools that are used to determine the executive functions of the brain. This study aimed to obtain the description of executive function in post-stroke patients in Neurology Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a descriptive study using cross-sectional design. This study was carried out within a certain period between November to December 2014. The CDT showed 2 people were normal and 28 people were abnormal. Both male and female groups showed one person normal and 14 people abnormal. Based on the age group, 51-65 years old was the most vulnerable age with one normal person and 16 people were abnormal. Based on the education, most of them were in senior high school or equivalent with one person normal and 12 people were abnormal. Based on the jobs, retirees were the most vulnerable with 9 abnormal people. Based on the location of brain lesions, 17 people had lesions in the right hemisphere and 13 people had lesions in the left hemisphere. Based on the type of stroke, 29 people had ischemic stroke and 1 person had hemorrhagic stroke. Conclusion: Based on the CDT, the majority of respondents experienced impaired cognitive function, especially the executive function .Keywords: stroke, cognitive function, executive function, clock drawing testAbstrak: Sekitar 50-75% pasien dengan riwayat stroke diperkirakan mengalami gangguan fungsi kognitif; salah satunya ialah fungsi eksekutif. Tes menggambar jam adalah salah satu pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui fungsi eksekutif otak yang mengalami kemunduran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi eksekutif pada pasien post stroke di Poli Neurologi BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di antara bulan November dan Desember 2014. Sampel yang memenuhi kriteria yang berjumlah 30 orang (15 laki-laki dan 15 perempuan). Dari hasil pemeriksaan tes menggambar jam didapatkan 2 orang normal dan 28 orang abnormal. Dari jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuoan diperoleh 1 orang normal dan 14 lainnya abnormal. Dari golongan usia, terbanyak pada usia 51-65 tahun yaitu 1 orang normal dan 16 orang abnormal. Dari tingkat pendidikan, terbanyak pada tingkat SMA/Sederajat dengan 1 orang normal dan 12 orang abnormal. Dari pekerjaan, pensiunan merupakan yang terbanyak yaitu 9 orang abnormal. Dari letak lesi otak, 17 orang dengan letak lesi pada hemisfer kanan dan 13 orang yang mengalami lesi di daerah hemisfer kiri. Dari jenis stroke, lebih banyak yang mengalami stroke iskemik yaitu 29 orang dibandingkan yang mengalami stroke hemoragik yaitu 1 orang. Simpulan: Dari hasil pemeriksaan CDT, sebagian besar responden (93,3 %) mengalami gangguan kognitif lebih khusus gangguan eksekutif.Kata kunci: stroke, fungsi kognitif, fungsi eksekutif dan tes gambar jam.
Hubungan hematokrit dengan SGOT dan SGPT pada obesitas sentral Reak, Aryant D.; Wantania, Frans E.; Waleleng, Bradley J.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14402

Abstract

Abstract: Obesity is a multifactorial disease secondary to excessive accumulation of fat tissue which can harm the health condition. Obesity occurs when a large and number of fat cells growing in a person's body. The adverse effect of obesity is not only related to total body weight, but also to the distribution of fat deposits. Central or visceral obesity has a higher risk for some diseases compared to diffuse accumulation of fat in the subcutaneous tissue. Central obesity can increase the hematocrit, as well as SGOT and SGPT values. This study was aimed to determine the correlation of hematocrit with SGOT and SGPT in central obesity. This was an analytical study with a cross sectional design. Samples were selected by using consecutive sampling method. Laboratory examinations were performed in Prokita laboratory from September 2016 to November 2016. The results of Spearman correlation analysis on the correlation between hematocrit and SGOT showed an r value of 0.162 and a p value of 0.419. Meanwhile, the correlation between hematocrit and SGPT showed an r value of 0.118 and a p value of 0.558. Conclusion: There was no correlation between hematocrit and either SGOT or SGPT in central obesity.Keywords: central obesity, hematocrit, SGOT, SGPT Abstrak: Obesitas adalah suatu penyakit multifaktorial yang terjadi akibat akumulasi lemak jaringan berlebihan, sehingga dapat menggangu kesehatan. Efek merugikan obesitas tidak hanya berkaitan dengan berat badan total, tetapi juga distribusi simpanan lemak. Obesitas sentral atau visceral, memeliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk beberapa penyakit dibandingkan dengan kelebihan akumulasi lemak difus dijaringan subkutis. Pada obesitas sentral dapat terjadi peningkatan nilai hematokrit, SGOT, dan SGPT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hematokrit dengan SGOT dan SGPT pada obesitas sentral. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling. Pemeriksaan sampel dilakukan di laboratorium Prokita pada bulan September 2016 – November 2016. Hasil analisis korelasi Spearman pada hubungan hematokrit dengan SGOT mendapatkan nilai r = 0,162 dan p = 0,419 sednagkan hubungan hematokrit dengan SGPT mendapatkan nilai r = 0,118 dan p = 0,558. Simpulan: Tidak terdapat hubungan hematokrit dengan SGOT dan SGPT pada obesitas sentral. Kata kunci: obesitas sentral, hematokrit, SGOT, SGPT
HUBUNGAN NITRIT OKSIDA DENGAN RASIO ALBUMIN KREATININ URIN PADA SUBJEK PRIA PEROKOK USIA DEWASA MUDA Lagonggan, Risadianti
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3665

Abstract

Abstract: Nitric Oxide (NO) was the main factor of endothelial which involved in anti-atheroschlerotic. NO was formed in endothelial cell and used for smooth muscle cell relaxation. Cigar-smoking was one of the causes of endothelial dysfunction, by decreasing NO production causing cardiovascular disorder which could be detected through microalbuminuria marker that was urine albumin creatinine ratio (UACR). The aim of this study is to investigate the correlation between NO and UACR. Method of this study was analytical method with cross-sectional design. Samples were 30 young adult males which divided to two groups, smoker and non-smoker. The data of this study included the NO and UACR levels. Data then was analyzed using IBM SPSS. Conclusion: the result of the study showed that there was significant correlation between NO and UACR in young adult male smoker which obtained from bivariate analysis result (p = 0.034) with correlation coeffisient (r) = -0.3888 which means there was a negative correlation between dependent variables (UACR) and independent variables (NO) meaning thatthe lower the NO levels, the higher the UACR levels. Keyword: Nitric Oxide, UACR, Endothelial dysfunction, Smoke   Abstrak: Nitrit oksida (NO) merupakan faktor utama dari endotel yang terlibat dalam anti aterosklerotik. NO ini dibentuk di sel endotel dan berguna untuk relaksasi sel otot polos. Sel endotel ini dapat terganggu fungsinya yang salah satu penyebabnya disebabkan oleh rokok, dimana rokok merupakan salah satu faktor risiko mayor dari aterosklerosis. Disfungsi endotel ini dapat menurunkan produksi NO sehingga dapat memicu gangguan kardiovaskular yang dapat terdeteksi melalui petanda mikroalbuminuria yaitu dengan pemeriksaan rasio albumin kreatinin urin (RAKU). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana hubungan NO dengan RAKU. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik dengan menggunakan rancangan potong lintang. Sampel berjumlah 30 orang yang terbagi menjadi 15 perokok dan 15 non perokok. Data diperoleh melalui pemeriksaan kadar NO dan kadar RAKU. Data dianalisis dengan menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS). Simpulan: Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara NO dengan RAKU pada subjek pria perokok usia dewasa muda yang diperoleh dari hasil analisis bivariat (p = 0.034) dengan koefisien korelasi (r) = -0.3888 yang artinya adanya korelasi negatif yaitu terjadi hubungan negatifantara variabel terikat (RAKU) dengan variabel bebas (NO) dimana jika variabel terikat meningkat maka variabel bebas menurun. Kata Kunci: Nitrit Oksida, RAKU, Disfungsi endotel, Rokok.
POLA PASIEN TRAUMA DI INSTALASI RAWAT DARURAT BEDAH RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2013 Masloman, Anugrah H.; Rendy, Leo; Wowiling, P. A.V.; Sapan, Heber B.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11026

Abstract

Abstract: Trauma is the leading cause of death in the age group of young and productive in the world. The mortality rate can only be reduced through an optimal response given as early as possible on its victims. This research was conducted by using a retrospective descriptive method. The samples were all trauma patients in the surgical emergency department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. Based on research conducted found that the demographic patterns of trauma patients did not differ in terms of gender, age group, and the cause of trauma is still dominated by traffic accidents. It is largely a blunt trauma, with the highest injury site in the head and extremities.Keywords: Patient, Trauma, Pattern of traumaAbstrak: Trauma merupakan penyebab kematian utama pada kelompok usia muda dan produktif di seluruh dunia. Angka kematian ini hanya dapat diturunkan melalui upaya penanggulangan optimal yang diberikan sedini mungkin pada korbannya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif retrospektif. Sampel penelitian adalah semua pasien trauma di instalasi rawat darurat bedah RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa pola demografi pasien trauma tidak berbeda dalam hal jenis kelamin, kelompok usia, dan penyebab trauma yang masih didominasi oleh kecelakaan lalu lintas. Sebagian besar merupakan trauma tumpul dengan lokasi cedera terbanyak di kepala dan ekstremitas.Kata Kunci: Pasien, Trauma, Pola Trauma
Luaran Ibu dan Perinatal pada Kehamilan dengan Preeklampsia Berat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 1 Januari - 31 Desember 2016 Kalam, Chaerul; Wagey, Freddy W.; Mongan, Suzanna P.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18542

Abstract

Abstract: Maternal mortality in Indonesia is still dominated by three main causes: bleeding (30.3%), hypertension in pregnancy (27.1), and infection (7.3%). Hypertension in pregnancy is one of the main causes for maternal and perinatal mortality and morbidity. This tsudy was aimed to obtain maternal and perinatal outcomes in pregnancies with severe preeclampsia (sPE) at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January to December 2016. This was a descriptive retrospective study using patients’ medical record data. The results showed that the characteristics of pregnant woman with sPE included mother age 20-35 years old (69.2%), primigravida (50.8%), pregnancy interval ≥5 years (65.6%), preeclampsia history (25%), overweight (55.4%), and history of chronic hypertension (10.8%). The results of maternal outcomes included maternal mortality (1.5%), HELLP syndrome (4.6%), visual impairment (4.6%), eclampsia (6.2%), ICU care (1.5%), and sepsis (1.5%). The results of perinatal outcomes included perinatal mortality (4.6%), IUGR (6.2%), LBW (35.4%), asphyxia (7.7%), fetal distress (20%), and prematurity (26.2%). Conclusion: Maternal outcomes in pregnancy with sPE included mortality, HELLP syndrome, visual impairment, eclampsia, ICU care, sepsis meanwhile perinatal outcomes included perinatal mortality, IUGR, LBW, asphyxia, fetal distress, and prematurity.Keywords: sPE, maternal outcome, perinatal outcome Abstrak: Kematian ibu di Indonesia masih didominasi oleh tiga penyebab utama yaitu perdarahan (30,3%), hipertensi dalam kehamilan (27,1), dan infeksi (7,3%). Hipertensi dalam kehamilan merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada maternal dan perinatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luaran ibu dan perinatal pada kehamilan dengan preeklampsia berat (PEB) di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2016 - 31 Desember 2016. Jenis penelitian ialah retrospektif deskriptif menggunakan data rekam medik pasien PEB. Hasil penelitian pada kehamilan dengan PEB memperlihatkan karakteristik usia ibu 20-35 tahun (69,2%), primigravida (50,8%), jarak hamil ≥5 tahun (65,6%), riwayat preeklampsia (25%), overweight (55,4%), dan riwayat hipertensi kronis (10,8%). Luaran ibu meliputi mortalitas ibu (1,5%), sindrom HELLP (4,6%), gangguan penglihatan (4,6%), eklampsia (6,2%), rawat ICU (1,5%), dan sepsis (1,5%). Luaran perinatal meliputi mortalitas perinatal (4,6%), IUGR (6,2%), BBLR (35,4%), asfiksia (7,7%), gawat janin (20%) dan prematur (26,2%). Simpulan: Luaran ibu pada kehamilan dengan PEB berupa mortalitas, sindrom HELLP, gangguan penglihatan, eklampsia, rawat ICU, dan sepsis sedangkan luaran perinatal berupa mortalitas perinatal, IUGR, BBLR, asfiksia, gawat janin, dan prematur.Kata kunci: PEB, luaran ibu, luaran perinatal
HUBUNGAN KENDALI GULA DARAH DENGAN FAAL PARU PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI POLI ENDOKRIN RSUP Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO Kowaas, Meggy R.; Pandelaki, Karel; Wongkar, M. C. P.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6749

Abstract

Abstract: One of DM target organ is lung. DM can cause decreasing of lung capacity because the effect of hyperglycemic in a long period of time. The high level of HbA1c linked with fast progresivity of complication on microvascular. This research is aiming to find out the correlation of blood sugar control (HbA1c) with lung function (FEV1 / forced expiratory Volume in 1 second and FVC/ forced vital capacity). This research used cross-sectional design. The sample on this research total of 30 DM type-2 patients that came at Poli Endokrin RSUP Prof.Dr. R.D. Kandou Manado in the period of November to December 2014. Data registration was taken on medical record about the level of HbA1c and carried out measurement of the patient’s height and weight and followed by spirometry test. After that the correlation of blood sugar control with FVC and FEV1 was tested with using Pearson correlation test. Pearson correlation test shows that there was negatif and not significant correlation between HbA1c level with FEV1 (r=-0,251, p= 0,181) and HbA1c level with FCV (r=-0,079, p= 0,679), in spite of clinically there was decreasing of KVP on 5 DM patients. Conclusion: There’s no significant correlation between high level of HbA1c with FEV1 and FVC decreased.Keywords: HbA1c, FEV1, FVCAbstrak: Salah satu organ target dari DM adalah paru. Penurunan kapasitas paru bisa disebabkan pengaruh hiperglikemia dalam waktu yang lama. Kadar HbA1c yang tinggi dihubungkan dengan progreisfitas komplikasi yang cepat pada mikrovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kendali gula darah (HbA1c) dengan fungsi paru (VEP1/ volume ekspirasi paksa detik pertama dan KVP/ kapasitas vital paru). Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel peneltian ini berjumlah 30 orang pasien DM tipe 2 yang datang di Poli Endokrin RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode November sampai Desember 2014. Dilakukan pencatatan data dari rekam medis mengenai kadar HbA1c dan dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan pasien kemudian dilakukan uji spirometri. Hubungan kendali gula darah dengan KVP dan VEP1 diuji dengan menggunakan uji korelasi pearson. Uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dan tidak signifikan antara kadar HbA1c dengan VEP1 ( r= -0,251, p=0,181) dan kadar HbA1c dengan KVP (r = -0,079, p=0,679), meskipun secara klinis terdapat penurunan KVP pada 5 orang pasien DM. Ssimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara meningkatnya kadar HbA1c dengan penurunan VEP1 dan KVP.Kata kunci: HbA1c, VEP1, KVP
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS TIDUR DENGAN KEPARAHAN STROKE Sekeon, Sekplin A. S.; Kembuan, Mieke A. H. N.
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.3.2015.10445

Abstract

Abstract: Sleep problems are commonly found in stroke patients. The risk for stroke is higher in patients with sleep disorders. Sleep-awake disorders prevalence is 20-40% among stroke patients. Sleep quality could influence the level of severity of stroke. In Indonesia, there is limited publication about the influence of sleep quality to the severity of acute stroke. This study aimed to obtain the relationship between sleep quality before stroke and the severity of acute stroke. This was a cross-sectional study. All stroke patients treated in Neurological wards were selected with inclusion and exclusion criteria. Sleep quality was measured with Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Levels of severity of acute stroke were determined with NIHSS score. Univariate data were descriptively analysed. Bivariat data were conducted to compare sleep quality (good/poor) and level of severity (mild/moderate/severe). Chi square test was applied with a p<0.05 of significancy level. The results showed that of 102 patients, the average age was 59.4 year (SD 11.6), age range was 28-87 years old. Male patients were 55% of all cases. The average of GCS score was 13.31 (SD 2.6). Based on PSQI criteria, we found 21.8% of patients with good sleep quality and 78.2% with poor sleep quality. Based on NIHSS score we found 25.5% of patients with mild, 58.8% with moderate, and 15.7% with severe disability. The chi-square test showed a p value 0.762 (>0.05). Conclusion: There was no significant relationship between sleep quality and the severity of acute stroke.Keywords: sleep quality, NIHSS, acute strokeAbstrak: Stroke merupakan masalah besar bagi kesehatan masyarakat. Risiko terkena stroke lebih besar terjadi pada pasien dengan gangguan tidur. Prevalensi gangguan tidur-bangun dilaporkan sebesar 20-40% pada pasien yang terkena stroke. Kualitas tidur memengaruhi keparahan dan prognosis stroke. Di Indonesia, masih sedikit data yang dipublikasi mengenai pengaruh kualitas tidur terhadap keparahan stroke akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur sebelum stroke dengan tingkat keparahan stroke akut. Desain penelitian ini ialah potong lintang. Seluruh pasien yang dirawat di seluruh ruang Neurologi dijadikan subyek penelitian dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Kualitas tidur diukur dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Tingkat keparahan stroke akut dinilai dengan skor NIHSS. Metode statistik deskriptif dikerjakan pada data-data univariat. Analisis bivariat dilakukan untuk mendapatkan hubungan kualitas tidur (baik/buruk) dengan derajat defisit neurologi (ringan/sedang/berat). Digunakan uji Chi square dengan acuan signifikansi p<0.05. Hasil penelitian memperlihatkan rerata usia pasien 59,46 tahun (SD 11,6) dengan kisaran usia 28-87 tahun. Pasien laki-laki ditemukan sebesar 55%. Rerata GCS 13,31 (SD 2.6). Pada pengukuran kualitas tidur menurut kriteria PSQI didapatkan kualitas tidur baik sebesar 21,8% dan kualitas tidur buruk sebesar 78,2%. Berdasarkan derajat defisit neurologik menurut nilai NIHSS didapatkan defisit neurologik ringan sebesar 25,5%, sedang 58,8%, dan berat 15,.7%. Uji Chi-square menunjukkan nilai p 0,762 (>0.05). Simpulan: Tidak ditemukan hubungan bermakna antara kualitas tidur sebelum stroke dengan tingkat keparahan stroke akut.Kata kunci: kualitas tidur, NIHSS, stroke akut
Perbandingan kadar gula darah pasca pembedahan dengan anestesia umum dan anestesia spinal Lumanauw, Fabiola I.; Tambajong, Harold F.; Kambey, Barry I.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14484

Abstract

Abstract: Anesthesia and surgery could evoke stress response that can affect blood glucose levels. The purpose of this study is to compare the blood glucose levels after surgery with general anesthesia and spinal anesthesia. This was an analytic prospective observational research with cross-sectional design. Researched on 32 patients by consecutive random sampling who meet inclusion and exclusion criteria, then divided into two groups, namely the group undergoing surgery with general anesthesia and the group undergoing surgery with spinal anesthesia. Measurements of blood glucose levels was done in 1 hour before induction of premedication and 4 hours after surgery. The statistical analysis were done using Shapiro-Wilk Test to determine the normal distribution of samples, and independent t-test to compare blood glucose levels after surgery with general anesthesia and spinal anesthesia. The result showed there was significantly different between blood glucose levels after surgery with general anesthesia and spinal anesthesia (p-value = 0.006 or p <0.05). Mean of blood glucose level after surgery in general and spinal anesthesia were 96 mg/dl and 79,4 mg/dl. Conclusion: General anesthesia had more influence on the increase in blood glucose levels after surgery compared to spinal anesthesia.Keywords: stress response, blood glucose levels, general anesthesia, spinal anesthesia Abstrak: Anestesia dan pembedahan akan menyebabkan timbulnya respon stres yang dapat mempengaruhi kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar gula darah pasca pembedahan dengan anestesia umum dan anestesia spinal. Metode penelitian ini menggunakan desain observasional analitik prospektif dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilakukan terhadap 32 pasien yang didapatkan secara consecutive random sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, lalu dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok yang menjalani pembedahan dengan anestesia umum dan kelompok yang menjalani pembedahan dengan anestesia spinal. Pengukuran kadar gula darah dilakukan 2 kali, yaitu 1 jam sebelum induksi premedikasi dan 4 jam setelah pembedahan. Analisis statistik dilakukan dengan uji Shapiro-Wilk untuk mengetahui normalitas distribusi sampel, dan uji-t independen untuk membandingkan kadar gula darah pasca pembedahan dengan anestesia umum dan anestesia spinal. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kadar gula darah pasca pembedahan dengan anestesia umum dan anestesia spinal (nilai p = 0,006 atau p < 0,05). Rerata kadar gula darah pasca pembedahan dengan anestesia umum sebesar 96 mg/dl, sedangkan pada anestesia spinal sebesar 79,4 mg/dl. Simpulan: Anestesia umum lebih berpengaruh terhadap peningkatan kadar gula darah pasca pembedahan dibandingkan dengan anestesia spinal. Kata kunci : respon stres, kadar gula darah, anestesia umum, anestesia spinal
TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTERI TERHADAP BAHAYA ABORSI DI SMAN 1 MANADO Husain, Mohammad Reza
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3748

Abstract

Abstract: Until now, abortion remains a controversial issue in Indonesian society, especially for adolescents. In Southeast Asia, the WHO estimates that 4.2 million abortions performed each year, of which 2,500 of which ended in death. Abortion rate in Indonesia is estimated at 2.3 million per year. Around 750,000 of them committed by juveniles. Of that number, 70,000 carried by unmarried girls. The lack of knowledge about reproduction and the dangers often age abortion known, can lead teens try to do things that have not been previously known. Where their activity is often a risk activity, such as sexual activity in aadolescentsrelationship that causing pregnant can lead to acts of abortion. Objective: To determine the knowledge and attitudes of young women toward abortion. Methods: This study was conducted at SMAN 1 Manado, the determination of the sample will use a concecutive sampling method to distribute questionnaires which contains several questions about abortion and how to react, each question will be rated. Results: There were 95 female students respondents of grader XII.Conclusion: 53 respondents (55.8%) classified as having a good knowledge of the act of abortion. Also of attitude, 54 respondents (56.8%) addressing abortionas well. Keywords: abortion, teenage daughter.     Abstrak: Sampai saat ini abortus masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat Indonesia, terutama bagi para remaja. Diwilayah Asia Tenggara, WHO memperkirakan 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahun, dimana 2.500 di antaranya berakhir dengan kematian. Angka abortus di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta pertahun. Sekitar 750.000 diantaranya dilakukan oleh remaja. Dari jumlah itu, 70.000 dilakukan oleh remaja putri yang belum menikah. Minimnya pengetahuan tentang reproduksi dan bahaya dari abortus yang diketahui remaja, dapat mengakibatkan remaja mencoba-coba untuk melakukan hal-hal yang belum diketahui sebelumnya. Dimana aktivitas mereka seringkali merupakan aktivitas yang beresiko, misalnya aktivitas seksual dalam berpacaran yang dilakukan remaja dapat menyebabkan terjadinya hamil sampai melakukan tindakan abortus. Tujuan: Untuk mengetahui pengetahuan dan sikap remaja putrid terhadap abortus. Metode: Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Manado, penentuan besar Sampel akan menggunakan cara Concecutive Sampling dengan membagikan kuesioner yang berisi beberapa pertanyaan seputar abortus dan cara menyikapinya yang setiap pertanyaannya diberi nilai. Hasil: Didapatkan responden sebanyak 95 siswi kelas XII. Kesimpulan: 53 responden (55.8%) tergolong memiliki pengetahuan yang baik terhadap tindakan abortus. Begitu juga dari sikap, 54 responden (56,8%) menyikapi tindakan aborsi itu dengan baik. Kata kunci: Abortus, remaja puteri.
Gambaran Ketajaman Penglihatan terhadap Lama Penggunaan dan Jarak Pandang Gadget pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 9 Binsus Manado Richter, Randy; Rares, Laya M.; Najoan, Imelda H. M.
e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.6.2.2018.21993

Abstract

Abstract: Deterioration of visual acuity commonly occurs among students. This study was aimed to obtain the profile of visual acuity related to duration of gadget usage and distance between eye and the gadget among XII grade students of SMA Negeri 9 Binsus Manado (senior high school). This was a descriptive study. There were 105 students as subjects in this study; 34 of them (32.38%) had decreased visual acuity. There were 80 subjects (76.19%) that did not wear glasses, consisted of 27 males (25.72%) and 44 females (41.9%). Gadget usage for ≥2 hours was found in 99 subjects (94.29%). The most common visual length of using gadget was <30 cm which was found in 85 subjects (80.95%). At day-30, visual acuity examination did not reveal any significant improvement. Conclusion: In this study, most students had normal visus and the majority were females and age of 17 years. Most students used gadget for ≥2 hours, and the visual length of using gadget was <30 cm. There was no significant improvement of visual acuity after 30 days.Keywords: visual acuity, glasses, gadget Abstrak: Penurunan tingkat ketajaman penglihatan pada kalangan usia sekolah merupakan salah satu masalah yang paling sering terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran ketajaman penglihatan terhadap lama penggunaan dan jarak pandang gadget pada siswa kelas XII SMA Negeri 9 Binsus Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Hasil penelitian mendapatkan 105 siswa kelas XII SMA Negeri 9 Binsus sebagai subyek penelitian. Jumlah subyek yang mengalami penurunan visus ialah 34 siswa (32,38%). Siswa yang tidak memakai kacamata lebih banyak dibandingkan yang memakai kacamata dengan jumlah 80 siswa (76,19%), terdiri dari 27 laki-laki (25,72%) dan 44 perempuan (41,9%). Kasus lama penggunaan gadget yang terbanyak ialah ≥2 jam dengan jumlah 99 siswa (94,29%). Jarak pandang gadget yang terbanyak ialah <30 cm dengan jumlah 85 siswa (80,95%). Pada hari ke-30 penelitian, pemeriksaan ketajaman penglihatan tidak mendapatkan perubahan visus yang nyata. Simpulan: Sebagian besar siswa memiliki visus normal, didominasi oleh jenis kelamin perempuan dan usia 17 tahun. Umumnya lama penggunaan gadget ≥2 jam dengan jarak pandang gadget <30 cm. Tidak didapatkan perubahan visus yang nyata setelah 30 hari.Kata kunci: ketajaman penglihatan, kacamata, gadget

Page 38 of 108 | Total Record : 1074