cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Profil Persalinan dengan Plasenta Previa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2015 Pawa, Alif F.; Mewengkang, Maya; Suparman, Erna
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.14762

Abstract

Abstract: Placenta previa is a complication of pregnancy in which the placenta is located at the bottom of the uterus, partially or completely covering the cervix. This causes painless vaginal bleeding and some leads to bleeding. The bleeding may be intense enough to threaten mother’s life leading to labor immediately, either elective or emergency. This study was aimed to obtain the profile of labor with placenta previa at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado period 1 January 2015-31 December 2015. The results showed that of 27 cases, the most incidents were in the age group more than equal with 35 years (48.1%). The most parity was 2-4 (74.1%). The incidence of placenta previa with SC history was 25.9%. Based on types of the management, the highest was placenta previa that got expectative management (63%). Based on the classification, total placenta previa amounted to 88.9%. Based on gestational age, aterm was 55.6%. All labors with placenta previa used SCTP. The most indication of labor was inpartu (96.3%). The most labor complication was pre eclampsia (11.1%). Most of the babies were born alive (96.3%). Conclusion: Women who had placenta previa symptoms like bleeding without pain had to be immediately checked into hospitals or Obstetrics and Gynecology specialists to get the optimum management as soon as possible.Keywords: placenta previa, laborAbstrak: Plasenta previa adalah komplikasi kehamilan di mana plasenta terletak di bagian bawah rahim, sebagian atau seluruhnya menutupi leher rahim. Hal ini menyebabkan perdarahan vagina tanpa rasa sakit dan beberapa mengarah ke perdarahan. Perdarahan yang mungkin cukup besar untuk mengancam kehidupan ibu janin membuat persalinan segera, baik secara elektif maupun darurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persalinan dengan plasenta previa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2015. Hasil penelitian mendapatkan dari 27 kasus, didapatkan insiden terbanyak pada kelompok usia lebih dari dan sama dengan 35 tahun sebanyak 48,1 % kasus. Paritas terbanyak ialah paritas 2-4 sebanyak 74,1%. Kejadian plasenta previa dengan riwayat SC sebanyak 25,9%. Berdasarkan jenis tatalaksana, terbanyak pada plasenta previa yang mendapatkan tatalaksana ekspektatif sebanyak 63%. Berdasarkan klasifikasi, plasenta previa totalis sebanyak 88,9%. Berdasarkan usia kehamilan, aterm sebanyak 55,6%. Semua persalinan pada plasenta previa menggunakan cara SCTP. Indikasi persalinan terbanyak ialah inpartu sebanyak 96,3%. Penyulit persalinan terbanyak ialah preeklampsia dengan 11,1%. Luaran bayi terbanyak ialah lahir hidup sebanyak 96,3%. Simpulan: Wanita yang memiliki gejala plasenta previa seperti perdarahan tanpa nyeri harus segera memeriksakan ke rumah sakit atau dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi untuk mendapatkan penanganan optimal sesegera mungkin.Kata kunci: plasenta previa, persalinan
PERBANDINGAN PENGETAHUAN TENTANG MANAJEMEN DIABETES MELITUS PADA MAHASISWA TAHAP SARJANA DAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER (P3D) FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Rumbino, Agustinus Rihando; Pandelaki, Karel; Langi, Yuanita A.
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.2.2014.5194

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a health problem that increases the number of events globally. Medical doctor as the first line in the treatment of diabetes are required to have good knowledge about its management. Students of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi trained to become medical doctor were had good knowledge about management of diabetes melitus. The problem is what is the description of knowledge about DM management on undergraduate students and professional education programs of medical doctor (P3D) students. Objective: The study was to compared the level of knowledge about DM management among  undergraduate students  and P3D students of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. Method: This study is a descriptive analytical with quantitative approach involving 80 subjects  were selected based consecutive sampling and was answered the questionnaire about knowledge of DM management. Results: The subjects knowledge about DM management in undergraduate students from 40 subject result 1 subject (2.5%) are included in the category of good knowledge, 7 subject (17.5%) had moderate knowledge and 32 subjects (80%) are included of low knowledge. The subjects of  P3D students result 3 subjects (7.5%) including good knowledge category, 25 subjects (62.5%) were categorized moderate knowledge and 12 subjects (30%) is low knowledge category. Conclusion: Knowledge level about DM management undergraduate student is still low. P3D student knowledge level about diabetes management is classified as moderate. Knowledge level about diabetes management on P3D students is better than undergraduate students. Keywords: Knowledge, medical students, management of diabetes mellitus.   Abstrak: Diabetes Melitus (DM) merupakan masalah kesehatan yang angka kejadiannya meningkat secara global. Dokter umum sebagai lini pertama dalam penanganan DM dituntut untuk memiliki pengetahuan yang baik tentang manajemennya. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado yang dididik untuk menjadi dokter haruslah memiliki pemahaman yang baik tentang manajemen Diabetes Melitus. Permasalahannya adalah bagaimana gambaran pengetahuan mengenai manajemen DM pada mahasiswa tahap sarjana dan tahap program pendidikan profesi dokter (P3D). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat pengetahuan mengenai manajemen DM pada  mahasiswa tahap sarjana dan tahap P3D Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Metode: Penelitian ini bersifat analitik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif  melibatkan 80 responden yang menjawab kuesioner pengetahuan mengenai manajemen DM. Hasil: Dari 40 responden mahasiswa tahap sarjana 1 responden (2,5%) termasuk dalam kategori pengetahuan baik, 7 responden (17,5%) termasuk kategori sedang dan 32 reponden (80%) termasuk kategori rendah. Pada 40 responden mahasiswa tahap profesi (P3D) diketahui 3 responden (7,5%) termasuk kategori pengetahuan baik,  25 responden (62,5%) termasuk kategori sedang dan 12 responden (30%) adalah kategori pengetahuan rendah. Simpulan: Tingkat pengetahuan mahasiswa tahap sarjana mengenai manajemen DM masih rendah. Tingkat pengetahuan mahasiswa P3D mengenai manajemen DM masih tergolong sedang. Tingkat pengetahuan manajemen DM mahasiswa P3D lebih baik dibanding mahasiswa tahap sarjana. Kata kunci: Pengetahuan, mahasiswa kedokteran, manajemen diabetes melitus.
Hubungan Perilaku Sedentary dengan Indeks Massa Tubuh dan Tekanan Darah serta Denyut Jantung pada Pegawai Struktural dan Administrasi RSUD Provinsi Sulawesi Utara Walukouw, Caesario S. J.; Lampah, Christopher; Gessal, Joudy
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27357

Abstract

Abstract: Due to high technology, sedentary behavior develops worldwide. Some conse-quences that might arise due to sedentary behavior inter alia increases in body mass index, blood pressure, and heart rate. The prevalences of obesity and high blood pressure in North Sulawesi are the highest ones in Indonesia. This study was aimed to identify the relationship between sedentary behavior and body mass index (BMI), blood pressure as well as heart rate among structural and administrative employees of North Sulawesi Regional Hospital as subjects. This was an analytical and observational study with a cross sectional design. Direct observation was performed on all subjects. The results showed that there were 37 employees as subjects. There was a strong correlation between sedentary behavior and blood pressure (r=0.684); a negative and very weak correlation between sedentary behavior and BMI (r=-0.101); and a very strong correlation between sedentary behavior and heart rate (r=0.796). In conclusion, there were relationships between sedentary behavior and blood pressure as well as heart rate. Albeit, there was no relationship between sedentary behavior and body mass indexKeywords: sedentary behavior, body mass index, blood pressure, heart rate Abstrak: Dengan kemajuan teknologi maka perilaku sedentary makin meningkat di seluruh dunia. Beberapa akibat yang dapat terjadi akibat perilaku sedentary ialah meningkatnya indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, dan denyut jantung. Prevalensi obesitas dan tekanan darah tinggi di Sulawesi Utara ialah yang tertinggi di seluruh Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku sedentary dengan IMT, tekanan darah, serta denyut jantung pada pegawai struktural dan administrasi RSUD Provinsi Sulawesi Utara. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan langsung terhadap subyek penelitian yaitu pegawai struktural dan administrasi RSUD Provinsi Sulawesi Utara yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian mendapatkan korelasi kuat antara perilaku sedentary dengan tekanan darah (r=0,684); korelasi negatif yang sangat lemah antara perilaku sedentary dengan IMT (r=-0,101); dan korelasi sangat kuat antara perilaku sedentary dengan denyut jantung (r=0,796). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara perilaku sedentary dengan tekanan darah dan denyut jantung tetapi tidak terdapat hubungan antara perilaku sedentary dan indeks massa tubuhKata kunci: perilaku sedentary, indeks massa tubuh, tekanan darah, denyut jantung
PERBANDINGAN INSIDEN MUAL-MUNTAH PASCA PEMBERIAN ISOFLURAN DAN SEVOFLURAN PADA PASIEN BEDAH ORTOPEDI Novrianto, Erick; Laihad, Mordekai L.; Kumaat, Lucky T.
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8200

Abstract

Abstract: Nausea and vomiting are common side effects after surgery and anesthesia. Nausea and vomiting can lead to dehydration, electrolyte disturbances, longer staying in the hospital, strained sutures of surgical wound, as well as the increasing of the occurence of dehiscence, hypertension, bleeding under the skin flap, risk of pulmonary aspiration due to decreased airway reflexes, and gastric mucosal ulceration. This study aimed to compare the incidence of nausea and vomiting after administration of isoflurane and sevoflurane in orthopedic surgery patients. This was an observational analytic study. Samples were all patients who underwent orthopedic surgery using inhaled isoflurane or sevoflurane form November to December 2012 conducted in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. Samples were obtained by using simple random sampling. The results showed that of 10 samples, there were 3 people who had nausea-vomiting (PONV); 2 people were administered inhaled isoflurane and the other one sevoflurane. The P values in both groups of samples> 0.05. Conclusion: The incidence of nausea and vomiting between inhaled isoflurane and sevoflurane in orthopedic surgery were not significantly different. However, the sevoflurane group had a lower incidence than isoflurane.Keywords: PONV, isoflurane, sevoflurane, nausea, vomiting.Abstrak: Mual-muntah ialah efek samping yang sering ditemukan setelah tindakan operasi dan anestesi. Mual-muntah dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, waktu tinggal di rumah sakit lebih lama, jahitan luka operasi menjadi tegang, dan kemungkinan terjadi dehisensi, hipertensi, peningkatan perdarahan di bawah flap kulit, peningkatan resiko terjadinya aspirasi paru karena menurunnya refleks jalan nafas, dan ulserasi mukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan insiden mual-muntah pasca pemberian isofluran dan sevofluran pada pasien bedah ortopedi. Metode penelitian ialah observasional analitik. Sampel penelitian ialah seluruh pasien yang melakukan operasi ortopedi dengan menggunakan inhalasi isofluran dan sevofluran dalam periode November-Desember 2012 yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling.Hasil penelitian memperlihatkan dari sampel sebanyak 10 orang, jumlah yang mengalami mual-muntah (PONV) sebanyak 3 orang. Jumlah sampel yang mengalami mual-muntah pada inhalasi isofluran sebanyak 2 orang dan sevofluran sebanyak 1 orang. Nilai P pada kedua kelompok sampel >0,05. Simpulan: Perbandingan insiden mual-muntah antara kelompok pengguna isofluran dan sevofluran pada bedah ortopedi tidak berbeda bermakna, namun, kelompok sevofluran memiliki insiden lebih rendah dibanding isofluran.Kata kunci:PONV, isofluran, sevofluran, mual-muntah
Gambaran jenis kanker ovarium di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Januari 2013 - Desember 2015 Gea, Imanuel T.; Loho, Maria F.; Wagey, Freddy W.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14374

Abstract

Abstract: Ovarian cancer is a primary malignancy process of the ovary. This disease is commonly found in woman at post-menopausal age. The causes of ovarian cancer are still unclear. The majority of ovarian cancer are ephitelial cell originated from ovarian ephitelial cells. Another group is non-ephitelial cells that include germinal tumor cell and sex cord-stromal tumor cell. This study was aimed to describe types of ovarian cancer at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive retrospective study using data of ovarian cancer patients’ medical records. There were 95 patients with ovarium cancer in the medical records from January 2013 to December 2015. The majority cases were woman aged ≥51 years, BMI 18.5-24.9, and multipara (P≥1). Conclusion: Ephitelial cell ovarian cancer was the most dominant type followed by germinal cell ovarian cancer.Keywords: ovarian cancer Abstrak: Kanker ovarium adalah proses keganasan primer yang terjadi pada ovarium. Penyakit ini umumnya dijumpai pada wanita usia pasca menopause dengan penyebab belum jelas. Mayoritas kanker ovarium ialah jenis sel epitelial. Kelompok lainnya ialah non epitelial, termasuk di antaranya sel tumor germinal dan sel tumor sex cord-stromal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran jenis kanker ovarium di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Jenis penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik pasien kanker ovarium. Dari hasil penelitian didapatkan 95 orang penderita kanker ovarium periode Januari 2013-Desember 2015 yang memiliki rekam medik. Kejadian terbanyak pada wanita dengan usia ≥51 tahun, IMT 18,5-24,9, multipara (P≥1) dan stadium IIIC. Kanker ovarium epitelial merupakan jenis terbanyak, disusul dengan jenis germinal. Kata kunci: kanker ovarium
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG ASI EKSKLUSIF DI POLIKLINIK OBSTETRI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Rauf, Fauzia Tamara; Lengkong, Rudy A.; Mewengkang, Maya
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.3618

Abstract

Abstrak: Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi yang ideal untuk bayi, terutama pada umur 0 sampai 6 bulan. ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan dan/atau  mengganti dengan makanan atau minuman lain. Hasil riset kesehatan dasar tahun 2010 bayi yang diberikan ASI eksklusif sampai 6 bulan hanya 15,3%. Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2010 cakupan ASI eksklusifnya hanya sebesar 22,61%, yang masih terpaut jauh dari target nasional yaitu 80%. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap ibu hamil di Poliklinik Obstetri BLU RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado tentang pentingnya ASI eksklusif. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebesar 50 sampel ibu hamil. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan ibu dengan pengetahuan baik tentang ASI eksklusif ada sebanyak 38%, pengetahuan tidak baik ada 62%. sikap baik tentang ASI eksklusif sebanyak 46% dan sikap yang tidak baik 54%. Terdapat kelompok karakteristik yang paling banyak berpengetahuan baik dan berpengetahuan tidak baik terdapat pada kelompok yang sama (>30tahun, SLTA, Tidak bekerja). Sedangkan kelompok karakteristik yang paling banyak memiliki sikap baik dan sikap tidak baik terdapat pada kelompok yang sama juga (>30tahun, SLTA, Tidak bekerja). Kesimpulan: didapatkan paling banyak yang berpengetahuan tidak baik, dan sikap tidak baik. Namun, tidak dapat dilihat adanya pengaruh yang signifikan antara karakteristik umur, pendidikan, dan pekerjaan terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang ASI eksklusif pada penelitian ini oleh karena beberapa faktor. Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, ASI Eksklusi   Abstract: Breast milk is the best meal for babies because it contains ideal nutritions for babies, espesially for 0 to 6 months babies. Exclusive breast milk is the one the mothers give since they was born until 6 months old, without adding or replacing it with any other meals or drinks. The result of 2010 basic health study states that there were 15,3% babies given exclusive breast milk, while 22,61% of that number was in north celebes, which were far away from national target, 80%. The aim of this study is to describe the knowledge and attitude of pregnant women in obsgyn clinic in Kandou Hospital about how important exclusive breast milk is. This is a descriptive study using cross sectional approachment. This study has 50 samples of pregnant women, using quittionaire as instrument. Data analysis is done by univariet. Result shows 38% of pregnant women have good knowledge about exclusive breast milk and 62% have bad knowledge. Good attitude about exclusive breast milk reaches 46% while 54% has bad attitude. This study identified the group with good and bad knowledge were in the same group (<30 years old, senior high school, unemployee). At the same time, group with most number of good and bad attitude were also in the same group (<30 years old, senior high school, unemployee). Conclusion: This study results that bad knowledge and attitude have the highest percentage. However, it is unable to see the significant effect between age, education and occupation characteristic with the knowledge and attitude of pregnant women about exclusive breast milk in this study because of some factors. Keyword: Knowledge, Attitude, Exclusive Breast Milk.
PROFIL PSY-5 SCALES DARI MMPI-2 ADAPTASI INDONESIA PADA MAHASISWA SEMESTER 1 TA 2013/2014 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Raintama, Marsevino; Kandou, Lisbeth F. J.; Kairupan, Barnabas H. R.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11014

Abstract

Abstract: A college student is constantly facing problems from internal source as well as external source that can affect both academic and non-academic field. Those problems can disturb the student?s mental health. One of the methods to identify a person?s mental status is a personality test. This study used Personality Psychopathology Five (PSY-5) scales from the Indonesian adaptation of MMPI-2 to obtain the mental status of college students of 1st semester academic year of 2013/2014 Medical Faculty University of Sam Ratulangi. This was a descriptive study with a cross sectional survey. The results showed that of 101 respondents based on the socio-demographic the majority were females (72.28%), aged 18 years (88.12%), originated from Sulawesi Utara (64.36%), belonged to a tribe from out of Sulawesi (53.47%), had a sibling (33.67%), first child of the family (40.59%), and parents worked at the private sector. The distribution based on the academic characteristics of the respondents showed that the majority applied with the T2 and had high prestation index varied from ordinary to high (32.68% to 33.66%). Based on the distribution of Psy-5 scales of 101 respondents, there were some PSY-5 sub-scales that had high values as follows: AGGR (5.94%), PSYC (6.93%), DISC (7.92%), NEGE (12.87%), and INTR (16.83%). College students with high values of PSY-5 scales could show particular types of personality that varied in every PSY-5 sub-scales. It is suggested that students who had high scale values should be paid attention from the head of the faculty to prevent the occurence of mental disorders.Keywords: personality test, PSY-5 scales, MMPI-2, college students Abstrak: Mahasiswa cenderung berhadapan dengan masalah baik yang berasal dari sumber internal maupun eksternal, yang dapat memengaruhi prestasi bidang akademis maupun non-akademis. Setiap masalah tersebut dapat menimbulkan pengaruh pada kesehatan mental mahasiswa. Salah satu cara untuk mengidentifikasi status mental seseorang ialah dengan menggunakan tes kepribadian. Penelitian ini menggunakan Personality Psychopathology Five (PSY-5) scales dari MMPI-2 adaptasi Indonesia untuk mengetahui status mental dari mahasiswa semester 1 TA 2012/2013 FK UNSRAT. Jenis penelitian ialah deskriptif dan dilakukan survei secara potong lintang. Hasil penelitian memperlihatkan 101 responden berdasarkan sosio-demografik terbanyak ialah perempuan (72,28%), usia 18 tahun (88,12%), asal daerah Sulawesi Utara (64,36%), suku di luar Sulawesi (53,47%), jumlah bersaudara 2 orang (33,67%), anak pertama dalam keluarga (40,59%), dan pekerjaan orang tua sebagai pekerja swasta (43,56%). Distribusi berdasarkan karakteristik akademis didapatkan dari 101 responden terbanyak mengikuti jalur T2 dan memiliki nilai indeks prestasi SMA sedang dan baik (32,68% dan 33,66%). Simpulan: Pada distribusi skala Psy-5 dari 101 responden ditemukan beberapa sub skala PSY-5 yang tinggi antara lain AGGR (5,94%), PSYC (6,93%), DISC (7,92%), NEGE (12,87%), dan INTR (16,83%). Mahasiswa dengan skala PSY-5 yang tinggi didapati beberapa jenis kepribadian khas yang berbeda-beda pada tiap sub skala PSY-5. Bagi setiap mahasiswa yang menunjukkan profil skala yang tinggi seharusnya mendapat perhatian dari pimpinan fakultas untuk mencegah tmbulnya gangguan jiwa. Kata kunci: tes kepribadian, PSY-5 scales, MMPI-2, mahasiswa
Virus Hepatitis B Mutan Setyawan, Yuswanto
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18461

Abstract

Abstract: It is estimated that there are two billions people ever infected by hepatitis B virus (HBV) and there are around 350 milllions people suffering from chronic hepatitis B; 20-25% of them are going to develop chronic liver diorders and hepatocellular carcinoma (HCC). Development in vaccination programs and therapy of hepatitis B infection might trigger the genom mutation in part of viral adaptation to stress (mutant HBV). The characteristic of mutant HBV cases is negative results of anti-HBs and HBsAg, meanwhile other infection markers showed the occurence of HBV infection. Antigenic determinant mostly used to detect this infection is determinant “a” of HbsAg located in the position of 124-127. Changes in that location will disturb detection of HbsAg caused by decreased reactivity against several comercial kits, therefore, the sensitivity will decrease and be undected. Mutant HBV causes difficulty in patient detection and evaluation of blood donor. Besides that, mutation will influence the result of vaccination or therapy due to uneffectiveness of several managements.Keywords: hepatitis B infection, vaccination and therapy, mutant HBV Abstrak: Diperkirakan sekitar 2 milyar penduduk pernah terinfeksi virus hepatitis B (HBV) dan saat ini sekitar 350 juta penduduk sedang menderita infeksi hepatitis B kronis dan 20-25% diantaranya akan berkembang menjadi penyakit hati kronis serta karsinoma hepatoseluler (HCC). Berkembangnya program vaksinasi serta berbagai terapi untuk infeksi hepatitis B memungkinkan timbulnya mutasi pada genomnya sebagai bagian dari adaptasi virus terhadap tekanan (HBV mutan). Karakteristik untuk kasus HBV mutan ini ialah negatifnya anti-HBs dan HBsAg, sednagkan petanda infeksi yang lain menunjukkan adanya infeksi HBV. Determinan antigenik yang banyak digunakan untuk mendeteksinya ialah determinan “a” dari HbsAg yang terletak di posisi 124-127. Perubahan pada daerah tersebut akan mengganggu deteksi adanya HbsAg, karena berkurangnya reaktivitas terhadap berbagai kit komersial sehingga sensitivitasnya menjadi semakin menurun yang berakibat tak terdeteksi. HBV mutan menyebabkan kesulitan pada deteksi penderita serta penapisan donor darah. Selain itu adanya mutasi akan berpengaruh pada hasil vaksinasi atau terapi karena menyebabkan tidak efektifnya berbagai penanganan yang dilakukan.Kata kunci: infeksi virus hepatitis B, vaksinasi dan terapi, HBV mutan
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN DI RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO TENTANG INISIASI MENYUSU DINI Maanaiya, Fadhillawatie; Loho, Maria; Mamengko, Linda
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6516

Abstract

Abstract: Early Initiation of Breastfeeding (IMD) is the process of feeding the baby immediately after birth, which has important benefits such as support the sustainability of exclusive breastfeeding and potentially reduce IMR and MMR. Based on data by RISKESDAS 2013, the percentage of IMD implementation in Indonesia is only 34.5% and in North Sulawesi is only 29%. Midwives are recognized as professionals who work as female partners including help the mothers in initiating breastfeeding. Therefore midwives are expected to have a good knowledge and a positive attitude towards the IMD so the implementation may increase. This study aims to measure the knowledge and attitude of RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado midwives toward early initiation of breastfeeding in 2014. This is a cross-sectional study using questionnaire administered to midwives in RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. As a results from 62 respondents, 41 respondents (66.1%) had a good knowledge on IMD, 14 respondents (22.6%) with moderate knowledge, 7 respondents (11.3%) with poor knowledge and all respondents (100 %) had a positive attitude towards the IMD. Most of midwife with a good knowledge is those who with age 36-40 years, Bachelor of Midwifery (S-I) and has been working for 6-10 years old.Keywords: knowledge, attitude, midwife, early breastfeeding initiation, IMDAbstrak: Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, yang memiliki manfaat penting diantaranya yaitu menunjang keberlangsungan ASI ekslusif serta berpotensi menurunkan AKB dan AKI. Berdasarkan data oleh RISKESDAS 2013, persentase pelaksanaan IMD di Indonesia baru sebesar 34,5% dan di Sulawesi Utara baru sebesar 29%. Bidan diakui sebagai tenaga profesional yang bekerja sebagai mitra perempuan termasuk membantu ibu dalam memulai pemberian ASI. Oleh karena itu bidan diharapkan memiliki pengetahuan yang baik serta sikap yang positif terhadap IMD sehingga pelaksanaan IMD dapat meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan dan sikap bidan di RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tentang IMD tahun 2014. Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian cross-sectional menggunakan kuesioner kepada bidan di RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian dari 62 responden, didapatkan bahwa 41 responden (66,1%) telah memiliki pengetahuan yang baik tentang IMD, 14 responden (22,6%) berpengetahuan cukup, 7 responden (11,3%) berpengetahuan kurang serta seluruh responden (100%) memiliki sikap positif terhadap IMD. Mayoritas bidan yang berpengetahuan baik ialah bidan dengan umur 36-40 tahun, berpendidikan S-I Kebidanan dan lama kerja 6-10 tahun.Kata kunci: pengetahuan, sikap, bidan, inisiasi menyusu dini, IMD
PREVALENSI GLAUKOMA AKIBAT DIABETES MELITUS DI POLIKLINIK MATA RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Allorerung, Risky N.; Saerang, Josefien S. M.; Rares, Laya M.
e-CliniC Vol 3, No 3 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.3.2015.9507

Abstract

Abstract: Glaucoma is a common group of diseases characterized by optic neuropathy typically, related with loosing of a field visual of vision. A very high intraocular pressure is one of the primary risk factors. Glaucoma can be caused by systemic diseases or local diseases of the eye. One of the systemic disorders that can lead to glaucoma is diabetes mellitus (DM). This study aimed to obtain the prevalence of glaucoma caused by DM in the Eye Clinic Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January to December 2013. This was a descriptive retrospective study. The results showed that of 15 patients who got glaucoma caused by DM there were 10 (66.7%) females and 5 (33.3%) males. Based on age group, the mean age group of elderly which was also the most frequent one was 61-70 years with 7 patients (46.7%). The most frequent type of DM was type 2 with 14 patients (93.3%) meanwhile DM type only 1 patient (6.7%). There were 12 patients (80%) with uncontrolled DM who were more prone to suffer from glaucoma than the 3 patients (20%) with controlled DM.Keywords: glaucoma, diabetic of mellitusAbstrak: Glaukoma adalah kelompok penyakit yang ditandai oleh neuropati optik yang khas, serta berhubungan dengan hilangnya lapang pandangan penglihatan. Tekanan intraokuli yang sangat tinggi merupakan salah satu faktor resiko primer. Glaukoma dapat disebabkan oleh penyakit sistemik maupun penyakit lokal pada mata. Kondisi kelainan sistemik yang dapat memicu terjadinya glaukoma salah satunya ialah diabetes mellitus (DM). Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi glaukoma akibat DM di Poliklinik Ilmu Kesehatan Mata BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari - Desember 2013. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan dari 15 pasien mengalami glaukoma akibat DM yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yaitu 10 pasien (66,7%) sedangkan laki-laki 5 pasien (33,3%). Berdasarkan kelompok umur, rerata umur lansia dan yang paling banyak yaitu umur 61-70 sebanyak 7 pasien (46,7%). Dilihat dari Tipe DM, DM tipe 2 yang paling banyak yaitu 14 pasien (93,3%) dan DM tipe 1 hanya satu pasien (6,7%). DM tidak terkontrol ditemukan pada 12 pasien (80%) lebih mudah mengalami glaukoma di bandingkan diabetes terkontrol pada 3 pasien (20%).Kata kunci: glaukoma, diabetes melitus

Page 40 of 108 | Total Record : 1074