cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
HUBUNGAN KEBIASAAN MANDI DI SUNGAI DENGAN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK DI KELURAHAN SINDULANG 1 Rompis, Johnny; Kusumanarwasti, Chensilya; Umboh, Adrian
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.2.2013.3290

Abstract

Abstrak: Infeksi saluran kemih (ISK) pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi, dengan angka kejadian yang hanya sedikit lebih rendah dibandingkan ISPA dan infeksi digestif. Salah satu keadaan penting yang perlu diperhatikan pada gejala ISK adalah bakteriuria. Bakteriuria adalah suatu keadaan dimana bakteri dapat ditemukan didalam urin, tetapi keadaan ini tidak selalu berarti ISK. Bakteri gram negatif, khususnya Eschericia coli merupakan penyebab utama ISK (85-90%). Survei awal yang dilakukan peneliti di kelurahan Sindulang 1, kecamatan Tuminting, kota Manado, menduga bahwa sungai Tondano di daerah tersebut tercemar E.coli. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Penelitian dilakukan di kelurahan Sindulang 1, kecamatan Tuminting, kota Manado, selama bulan November sampai Desember 2012, dengan sampel adalah 60 anak yang berusia antara 5-12 tahun. Hasil penelitian yang diperoleh, terdapat 39 orang anak yang memiliki kebiasaan mandi di sungai dan 21orang anak tidak memiliki kebiasaan mandi disungai.  39 orang yang mandi di sungai, didapatkan 2 orang anak yang positif menderita ISK. Hasil statistik menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara mandi di sungai dengan kejadian ISK. Kata kunci: kebiasaan mandi di sungai, ISK, urinalisis     Abstract: Urinary tract infections (UTI) in children is one of the most common health problems, the incidence is only slightly lower than the respiratory and digestive infections. One of the most important conditions that need attention from some symptoms of UTI is bacteriuria. Bacteriuria is a condition in which bacteria can be found in the urine, but this situation does not always mean UTI. Gram-negative bacteria, especially Escherichia coli is the leading cause of UTI (85-90%). Preliminary survey conducted by researchers at the Sindulang 1 village, of the Tuminting district, of the city of Manado, suspect that the Tondano river is polluted by E.coli. This was an observational analytic study with cross-sectional approach. The study was conducted in the Sindulang 1 village, of the Tuminting district, of the city of Manado, during November and December 2012, the sample was 60 children aged between 5-12 years. The results obtained, there are 39 childrens who have a river bathing habit and 21 child doesn?t. 39 people who bathe in the river, got 2 children who were positive for UTI. Subjects suffering from UTI confirmed by performing urinalysis, where meaningful results if leukocytes is  ? 5 WBC/hpf. From the statistical showed that there is a significant relationship between bathing in the river with the incidence of UTI. Keywords: river bathing habits, UTI, urinalysis
GAMBARAN FUNGSI GINJAL PADA PENDERITA SINDROM KORONER AKUT Kristin, Albertha M.; Panda, A. Lucia; Pangemanan, Janry
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10962

Abstract

Abstract: Acute Coronary Syndrome (ACS) refers to a condition involving chest discomfort or other symptoms due to the lack of oxygen supply to the heart muscle due to coronary artery disorders. According to the 2008 World Health Organization (WHO) report, ACS  is the first cause of death in the world with 12.8% mortality. Many studies confirmed that ACS was correlated with various factors that aggravated the kidney function. The formation of atherosclerotic lesions will cause constriction of the blood vessels resulting in decreased blood flow to the kidneys which leads to a decrease in Glomerular Filtration Rate (GFR). This study aimed to obtain the description of kidney function in patients with ACS. This was a descriptive study with a cross sectional design using secondary data from medical records of patients as a reference. Samples were 73 ACS patients. Most of the patients were in the age group 51-60 years. There were more male patients than females. GFR decline in patients with Unstable Angina Pectoris (UAP) was 27.17%; the Non ST-segment Elevation Myocardial Infraction (NSTEMI) was 40.74%; and ST-segment Elevation Myocardial Infraction (STEMI) was 72.73%.  The co-morbidities were: Chronic Kidney Disease (CKD) 39.44%, hypertension 25.35% , diabetes 22.54%, and 12.68% as others. Conclusion: Most of the ACS patients were male, and the largest age group was 51-60 years. The most number of comorbidities was CKD and the largest decrease in GFR was in patients with STEMI. Keywords: renal function, glomerular filtration rate, ACS, CKD   Abstrak: Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan suatu kondisi yang melibatkan rasa tidak nyaman pada dada atau gejala lainnya oleh karena kurangnya pasokan oksigen ke otot jantung akibat gangguan pada arteri koroner. Menurut laporan WHO tahun 2008, SKA merupakan penyebab kematian pertama di dunia dengan mortalitas 12,8%. Telah banyak penelitian yang mengatakan bahwa SKA berkorelasi dengan berbagai faktor yang memperberat kerja ginjal. Terbentuknya lesi aterosklerosis akan menyebabkan terjadinya konstriksi pembuluh darah sehingga terjadi penurunan aliran darah ke ginjal yang menyebabkan terjadinya penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran fungsi ginjal pada penderita SKA. Metode penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder dari rekam medik pasien sebagai acuan. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 73 pasien. Penderita terbanyak pada kelompok usia 51-60 tahun, jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Penurunan LFG pada penderita Unstable Angina Pectoris (UAP) sebanyak 27,17%, Non ST-segment Elevation Myocardial Infraction (NSTEMI) 40,74% dan ST-segment Elevation Myocardial Infraction (STEMI) 72,73%. Penyakit penyerta pada kejadian SKA diantaranya Chronic Kidney Disease (CKD) sebanyak 39,44%, hipertensi 25,35%, diabetes 22,54% dan lain-lain 12,68%. Simpulan: Kelompok usia yang menderita SKA terbanyak adalah 51-60 tahun. Penderita SKA terbanyak berjenis kelamin laki-laki dan kelompok usia terbanyak ialah 51-60 tahun. Penyakit penyerta terbanyak ialah CKD dan penurunan LFG terbanyak pada penderita dengan STEMI.Kata kunci: fungsi ginjal, laju filtrasi glomerulus, sindrom koroner akut
Profil supplementary scales Minnesota multiphasic personality inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia pada komunitas public united not kingdom (punk) di kawasan Megamas Kota Manado Ab'ror, Rijal; Kairupan, Bernabas H.R.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14684

Abstract

Abstract: Society in general still views punk community negatively. It is caused by their dress and hair styles which were assumed as weird, therefore, they are considered dangerous for other citizens. This study was aimed to examine mental health status of members of punk community for detection of the presence of any mental disorders. This was a survey study with a cross-sectional design to determine the members of punk community mental status at Megamas area in Manado based on Supplementary Scales of Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) Indonesian adaptation. According to socio-demographic data the majority of 30 respondents were males (86.67%), age range 18-27 years old (86.67%), respondents’ parents worked as private sectors employees (50%), respondents worked in private sectors (70%), had three siblings (43.33%), lived in Manado (76.67%), senior high school graduates (83.33%), reason of joining punk community was freedom (63,33%). Supplementary scales of MMPI-2 distribution obtained high t-score to low t-score as follows: PK (83.33%), AAS (56.67%), MAC-R (46.67%), A (46.67%), MDS (43.33%), Ho (36.67%), Mt (30%), OH (6.67%), R (3.33%), Es (0%), Do (0%), Re (0%), APS (0%), GM (0%), and GF (0%). Conclusion: The supplementary scales of MMPI-2 Indonesian adaptation in punk community at Megamas area in Manado city obtained high t-scores in Post Traumatic Disorder, Addiction Acknowledge/Admission Scale, MacAndrew Alcoholism-Revised, Anxiety Scale, Marital Distress, and Hostility Scales.Keywords: profile, supplementary scales, MMPI-2 Indonesian adaptation, punk community Abstrak: Masyarakat umumnya masih memandang komunitas punk dengan pandangan negatif dikarenakan gaya berpakaian dan gaya rambut yang aneh serta dianggap sebagai komunitas yang berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan status kesehatan mental pada anggota komunitas punk untuk mendeteksi adanya gangguan mental. Jenis penelitian ialah survey dengan desain potong lintang untuk mengetahui status mental anggota komunitas punk di kawasan Megamas Kota Manado berdasarkan Supplementary Scales Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia. Berdasarkan sosio-demografi dari 30 responden, distribusi anggota komunitas punk terbanyak ialah laki-laki (86,67%), rentang usia 18-27 tahun (86,67%), pekerjaan orang tua responden di bidang swasta (50%), pekerjaan responden di bidang swasta (70%), memiliki jumlah saudara sebanyak tiga orang (43,33%), beralamat di Kota Manado (76,67%), pendidikan terakhir SMA (83,33%), dan alasan bergabung pada komunitas punk karena menginginkan kebebasan (63,33%). Hasil distribusi supplementary scales MMPI-2, mendapatkan skala dengan t-skor yang tinggi dengan persentase berturut-turut dari tinggi ke rendah yaitu: PK (83,33%), AAS (56,67%), MAC-R (46,67%), A (46,67%), MDS (43,33%), Ho (36,67%), Mt (30%), OH (6,67%), R (3,33%), Es (0%), Do (0%), Re(0%),APS (0%), GM (0%), dan GF (0%). Simpulan: Supplementary Scales Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia yang tinggi yaitu pada Post Traumatic Disorder, Addiction Acknowledge/Admission Scale, MacAndrew Alkhoholism-Revised, Anxiety Scale, Marital Distress dan Hostility Scales. Kata kunci: profil, supplementary scales, MMPI-2 adaptasi indonesia, komunitas punk
POLA TRAUMA TUMPUL TORAKS DI INSTALASI RAWAT DARURAT BEDAH RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI 2011 – JUNI 2012 Liwe, Novita; Limpeleh, H.; Monoarfa, A.
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.2.2014.5097

Abstract

Abstrak: Trauma merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia terutama di negara maju dan berkembang. Trauma tumpul toraks merupakan masalah umum, yang disebabkan baik oleh kecelakaan lalu lintas, terjatuh maupun pukulan keras. Untuk mendapatkan data trauma tumpul toraks di IRDB RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode juli 2011 ? juni 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bersifat retrospektif dengan mengambil semua data rekam medik pasien trauma tumpul toraks di IRDB RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode juli 2011 ? juni 2012. Jumlah kasus trauma tumpul toraks yaitu sebanyak 75 orang pasien trauma tumpul toraks dari 123 orang pasien trauma toraks, dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan kelompok umur mayoritas penderita trauma tumpul toraks pada umur 16-25 tahun dengan persentase 42,67%. Dan berdasarkan jenis kelamin sebagian besar penderita berjenis kelamin laki-laki dengan persentase 80% Dan penyebab trauma tumpul toraks terbanyak karena kecelakaan lalu lintas dengan persentase 85,33%. Trauma tumpul toraks di IRDB RSU. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode juli 2011 ? jui 2012 dengan mayoritas umur penderita 16-25 tahun, sebagian besar penderita yaitu berjenis kelamin laki-laki, dan penyebab sebagian besar trauma tumpul toraks adalah kecelakaan lalu lintas. Kata Kunci: Trauma, trauma tumpul toraks.
Hubungan Konsumsi Makanan Manis sebagai Faktor Risiko Terjadinya Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas pada Anak di 9 Sekolah Dasar Kota Manado Hidayat, Pearensia E. P.; Kaunang, Theresia M. D.; Dundu, Anita E.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27137

Abstract

Abstract: Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) is one of the most common psychiatric disorders in childhood and can be associated with sweetened food consumption. This study was aimed to determine the prevalence of ADHD children and the association between sweetened food consumption and children in nine elementary schools in Manado. This was an analytical study with a cross-sectional design. Samples were students of elementary schools that represented nine districts in Manado and were randomly selected using the multi-stage random sampling technique. The results showed that there wre 20.1% of elementary school students in Manado that had ADHD. Statistical analysis obtained a p-value of 0.000 (<0.05) and OR(CI 95%) = 23.61 (OR>1). In conclusion, the prevalence of ADHD children in Manado was still high and there was a positive correlation between sweetened food consumption as a risk factor of children with ADHD in elementary schools in Manado.Keywords: ADHD, sweetened food consumption, elementary school student Abstrak: Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) adalah salah satu gangguan psikiatri anak yang paling sering dan dihubungkan dengan konsumsi makanan manis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi GPPH pada anak dan hubungan konsumsi makanan manis sebagai faktor risiko terjadinya GPPH pada anak di sembilan sekolah dasar di Kota Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Sampel yang digunakan ialah siswa Sekolah Dasar yang mewakili sembilan Kecamatan di Kota Manado yang dipilih secara acak dengan teknik multi stage random sampling. Penelitian dilakukan dengan uji asosiasi Fisher Exact. Hasil penelitian mendapatkan 20,1% anak Sekolah Dasar di Kota Manado menyandang GPPH. Hasil analisis data mendapatkan nilai p=0,000 (<0,05) dan OR=23,61 (OR>1). Simpulan penelitian ini ialah angka kejadian GPPH di Manado cukup tinggi dan terdapat hubungan positif antara seringnya mengonsumsi makanan manis sebagai faktor risiko terjadinya GPPH pada anak.Kata kunci: GPPH, makanan manis, anak sekolah dasar
PROFIL VARISELA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R.D KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2012 Sondakh, Christa C.; Kandou, Renate T.; Kapantow, Grace M.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6760

Abstract

Abstract: Varicella or we also known as chicken pox is a primary acute infection disease by Varicella-Zoster Virus (VZV), that infected skin and mucosa, and clinical symptoms of polymorph skin disorder located in the central of the body. There are no differences between sex and race. Varicella often infected younger people in temperate climates. In tropic and sub-tropic climates, they often infected older people. The virus is transmitted by droplet infection from the nasopharynx. The infection happens 2 days before and 3-7 days after the onset of the rash. Vesicle fluid contains a large amount of virus, but completely dry scabs are not infectious. Varicella confers lasting immunity and second attacks are uncommon. The purpose of this study to evaluate patients profile of varicella in the dermatovenereology clinic of Prof. Dr R. D. Kandou Hospital Manado in January 2012 - December 2012. This retrospective descriptive study is based on the number of cases, age, sex, season, source of infection, and therapy. The results of this study showed that out of the 27 varicella cases (2.68%), the most frequent age group is 15-24 years old (33.3%), female as the most infected gender (59.3%), the often season is summer (55.6%), source of infection unknown (92,6%), and the most used therapy is combination therapy of antivirus and topical antibiotic or systemic antibiotic (55.6%).Keywords: varicella, chicken pox, varicella zoster virus.Abstrak : Varisela atau yang biasa kita kenal dengan cacar air atau chicken pox adalah penyakit infeksi akut primer oleh Virus Varisela-Zoster (VVZ) yang menyerang kulit dan mukosa, klinis terdapat gejala konstitusi, disertai kelainan kulit polimorf, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin maupun ras. Varisela lebih sering menyerang usia muda pada daerah beriklim sedang. Sedangkan pada daerah beriklim tropis dan sub tropis umumnya menyerang usia yang lebih tua. Penularan virus secara kontak langsung atau droplet melalui nasofaring. Penularan terjadi 2 hari sebelum dan 3-7 hari sesudah lesi kulit muncul. Vesikel yang berisi cairan mengandung banyak virus, sedangkan pada lesi yang mengering tidak menular. Orang yang pernah menderita varisela telah terbentuk kekebalan sehingga jarang terjadi serangan kedua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil varisela di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2012. . Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif berdasarkan jumlah kasus, umur, jenis kelamin, musim kejadian, sumber penularan, dan terapi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 27 kasus varisela (2,68%), terbanyak adalah kelompok umur 15-24 tahun (33,3%), jenis kelamin perempuan (59,3%), musim kejadian tersering adalah musim panas (55,6%), sumber penularan tidak diketahui (92,6%), dan terapi yang banyak digunakan adalah terapi kombinasi antivirus dan antibiotik topikal atau antibiotik sistemik (55,6%).Kata kunci : varisela, cacar air, chicken pox, virus varisela zoster.
Kecepatan rigor mortis pada intoksikasi insektisida golongan organofosfat pada kelinci Guanovora, Novianto; Mallo, Nola T. S.; Tomuka, Djemi
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10828

Abstract

Abstract: The objective of this study is to compare the time of rigor mortis formed between the control group and the treated group. This was a true experimental study with a post –test only control group design. This study was conducted at RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Forensic Laboratory Manado from September to November 2015. This research begins with caring of the rabbits (Oryctolagus cuniculus) weighting 1250 – 2100 g. were divided into two groups, control group and treated group. Treated group was exposed to diazinon 600 as many as 3 ml in one treatment. Data were analyzed by using univariat analysis, subsequently tested by using independent t-Test. The results showed that there was a significant difference (P <0.05) in the time of rigor mortis formed and disappeared between the two groups. Conclusion: The time of rigor mortis formed and then disappeared was shorter among rabbits with organopgosphate intoxication compared to the ones without intoxication. Further studies are needed using instrument to evaluate the rigor mortis.Keywords: rigor mortis, intoxication, organophosphateAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kecepatan rigor mortis pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Jenis penelitian eksperimental murni (true experimental desaign) dengan rancangan penelitian post test only control group desaign. Penelitian dilakukan dilaboratorium Forensik RSUP. Prof. Dr. dr. R. D. Kandou Manado pada bulan September – November 2015. Penelitian diawali dengan pemeliharaan kelinci (Oryctolagus Cuniculus ) dengan berat badan 1250 – 2100 g. Selanjutnya kelinci dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, kelompok yang dilakukan pemaparan Diazinon 600 sebanyak 3 ml dalam satu kali pemberian. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bemakna (P < 0,05) waktu terbentuk rigor mortis, kaku, kaku sempurna, dan mulai melemas antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Simpulan: Waktu terbentuk rigor mortis dan waktu mulai melemas lebih singkat pada kelinci dengan intoksikasi organofosfat dibandingkan yang tanpa intoksikasi. Disarankan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan alat ukur untuk menilai rigor mortis.Kata kunci: rigor mortis, intoksikasi, organofosfat
Kesehatan telinga pada masyarakat di komplek TNI LANUDAL Manado Supit, Gerry M.A.; Tumbel, R. E.C.; Tamus, Agustien Y.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14495

Abstract

Abstract: Ears are one of the important organs in the human body. Ears have two main functions: hearing function and equilibrium function. This study was aimed to obtain the ear health status of TNI LANUDAL society. This was an observational descriptive study with a cross sectional design. There were 36 respondents in this study. The results showed that there were 5 respondents with cerumen in the right ear and 6 respondents with cerumen in the left ear. There were also 5 respondents with secrete in the ear canal each. The result of the Weber test showed that there were 4 respondents with lateralization and the Rinne test showed that there was 1 respondent with negative rinne test. Conclusion: Most of the TNI LANUDAL society had good ear health.Keywords: ear health, health survey, ears examination. Abstrak: Telinga merupakan suatu organ yang sangat penting dalam tubuh manusia. Telinga mempunyai dua fungsi, yaitu: fungsi pendengaran dan fungsi keseimbangan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data kesehatan telinga pada masyarakat di kompleks TNI LANUDAL Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Responden penelitian sebanyak 36 orang. Hasil penelitian mendapatkan serumen pada liang telinga kanan sebanyak 5 responden dan pada liang telinga kiri sebanyak 6 responden. Didapatkan pula hasil sekret pada liang telinga kanan dan kiri masing-masing 5 responden. Pada pemeriksaan fungsi pendengaran dengan menggunakan tes Weber didapatkan 4 responden mengalami lateralisasi dan pada tes rinne didapatkan 1 responden dengan hasil negatif. Simpulan: Sebagian besar masyarakat di kompleks TNI LANUDAL mempunyai kesehatan telinga yang baik. Kata kunci: kesehatan telinga, survei kesehatan, pemeriksaan telinga.
HASIL AUTOPSI SEBAB KEMATIAN MENDADAK TAK TERDUGA DI BAGIAN FORENSIK BLU RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO TAHUN 2010-2012 Bhaskara, Dione S. M.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.1.2014.4397

Abstract

Abstract: According to WHO, sudden death is the death that occurred 24 hours after the symptom arise, but in some forensic cases, most of the death cases occurred in matter of minutes or might be seconds as the first symptom arise. Sudden deaths increase along the aging. Sudden deaths that caused by disease are often bring suspicion thus they need to be proven by doing the medicolegal autopsy, to which the result will be revealed. This research aims to determine the results of the autopsy cause of sudden unexpected death on forensic BLU department of RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in 2010-2012. This research is using retrospective descriptive method. Research population is all the alleged victims of sudden deaths in BLU. RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in 2010-2012. Sample is taken by total sampling method. There are 12 cases of sudden deaths, 4 of them are not qualified to be taken as sample because of incomplete data. The total of sudden deaths based on gender are 7 cases of Males (87.5%), and 1 case of Female (12.5%). Sudden death occurs more frequently in adult with 3 cases (37.5%) on 41-59 years old range. 3 cases on heart disease (37.5%), 2 cases on lung disease (25%), 1 case on lung cancer (12.5%), and the other 2 are unknown reason (25%). From this study, it is concluded that sudden deaths are more common to male in 41-59 years old range, and the most common cause of sudden death is cardiovascular system Keywords: Sudden deaths, autopsy, cardiovascular system.     Abstrak: Kematian mendadak menurut WHO adalah kematian yang terjadi pada 24 jam sejak gejala-gejala timbul, namun pada kasus-kasus forensik, sebagian besar kematian terjadi dalam hitungan menit atau bahkan detik sejala gejala pertama timbul. Kejadian kematian mendadak meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Kematian mendadak yang disebabkan oleh penyakit, sering mendatangkan kecurigaan sehingga perlu dibuktikan dengan dilakukannya autopsi medikolegal, yang hasilnya dapat menunjukkan sebab kematian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil autopsi sebab kematian mendadak tak terduga di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik BLU. RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2010-2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif. Populasi penelitian adalah seluruh korban dugaan mati mendadak di BLU. RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2010-2012. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Terdapat sebanyak 12 kasus kematian mendadak, 4 diantaranya tidak memenuhi syarat untuk dijadikan sampel karena datanya yang tidak lengkap. Jumlah kematian mendadak berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki sebanyak 7 kasus (87.5%) dan perempuan 1 kasus (12.5%). Kematian mendadak lebih banyak terjadi pada kelompok dewasa yaitu dengan usia 41-59 tahun sebanyak 3 kasus (37.5%). Kematian mendadak akibat penyakit jantung sebanyak 3 kasus (37.5%), penyakit paru sebanyak 2 kasus (25%), penyakit lainnya (tidak diketahui sebabnya) 2 kasus (25%), dan kanker paru hanya terdapat 1 kasus (12.5%). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa kematian mendadak terjadi lebih sering pada laki-laki, serta paling banyak dialami pada usia 41-59 tahun. Penyebab tersering kematian mendadak diakibatkan oleh sistem kardiovaskular. Kata Kunci: Kematian mendadak, autopsi, sistem kardiovaskular.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keterlambatan Kedatangan Pasien Stroke di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Barahama, Derrel V.; Tangkudung, Gilbert; Kembuan, Mieke A. H. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.1.2019.22177

Abstract

Abstract: Stroke is a global health problem. Ensuring the arrival of patients to the hospital to get medical treatment in a timely manner is vital in a stroke event. The late arrival of stroke patients at the hospital is the main reason for delayed medical treatment. Age, gender, education level, site of residence, distance of residence, and ambulance usage are some of the factors associated with the late arrival of stroke patients to the hospital. This study was aimed to determine the relationship between age, gender, educational status, distance of residence, residence site, as well as ambulance usage and the late arrival of stroke patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was an analytical retrospective study using patients’ medical record data. Samples were obtained by using purposive sampling technique with a minimum number of 226 samples. Data were analyzed by using the chi-square test which showed that of the 231 samples the P values were, as follows: age (P=0.711), gender (P=0.879), education level (P=0.010), residence site (P=0.303), distance of residence (P=0.458), and ambulance usage (P=0.469). Conclusion: There was a significant association between education level and the late arrival of stroke patients at Prof. R. D. Kandou Hospital Manado.Keywords: stroke, late arrivalAbstrak: Stroke merupakan masalah kesehatan global. Memastikan kedatangan pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis secara tepat waktu merupakan hal yang vital pada suatu kejadian stroke. Keterlambatan kedatangan pada pasien stroke sebelum tiba di rumah sakit merupakan alasan utama terjadinya keterlambatan penanganan medis pada kasus stroke. Usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jarak tempat tinggal, letak tempat tinggal dan pengguanaan ambulans merupakan beberapa faktor yang berhubungan dengan keterlambatan kedatangan pasien stroke ke rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, letak tempat tinggal, jarak tempat tinggal dan penggunaan ambulans dengan keterlambatan kedatangan pasien stroke di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif menggunakan data rekam medik pasien. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah minimal 226 sampel yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil uji chi-square dari 231 sampel mendapatkan nilai P sebagai berikut: usia (P=0,711), jenis kelamin (P=0,879), tingkat pendidikan (P=0,010), letak tempat tinggal (P=0,303), jarak tempat tinggal (P=0,458) dan penggunaan ambulans (P=0,469). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan keterlambatan kedatangan pasien stroke di RSUP Prof. R. D. Kandou ManadoKata kunci: stroke, keterlambatan kedatangan

Page 42 of 108 | Total Record : 1074