cover
Contact Name
Dionius Bismoko Mahamboro
Contact Email
jurnal-teologi@usd.ac.id
Phone
+62274-880957
Journal Mail Official
jurnal-teologi@usd.ac.id
Editorial Address
Faculty of Theology, Sanata Dharma University, Jogjakarta, Faculty of Theology, Sanata Dharma University PO Box 1194, Jl. Kaliurang Km. 7 Yogyakarta 55281 - INDONESIA Phone: +62 274 880957 Fax: +62 274 888418
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Teologi
ISSN : 23025476     EISSN : 25793934     DOI : 10.24071/jt
Core Subject : Religion, Education,
JURNAL TEOLOGI bertujuan menyampaikan hasil penelitian dalam bidang teologi kontekstual atau refleksi atas penghayatan iman untuk pengembangan iman dalam konteks Indonesia dan Asia di tengah keanekaragaman agama, budaya, dan persoalan konkret hidup berbangsa. Jurnal ini diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pelatihan Teologi Kontekstual, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan bekerjasama dengan Asosiasi Teolog Katolik Indonesia (AsTeKiA)
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 184 Documents
Teologi Kontekstual dalam Budaya Toraja: Yesus Kristus Lebih Agung dari Tomanurun Maeja, Jhon Daeng
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 02 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i02.8722

Abstract

Contextual theology is an attempt to contextualize Jesus Christ in different cultures. There have been various attempts to introduce Jesus into the culture. The problem is that caution needed in trying to introduce Jesus into culture. This study aims to explore the concept of Jesus Christ in Torajan culture. The research method used is a literature review. The result showed that Jesus Christ was greater than Tomanurun. Jesus Christ sacrified Himself to save all of the people. While Tomanurun who is believed in the creation story of the Torajan people only saved his people.AbstrakTeologi kontekstual merupakan upaya untuk mengkontekstualisasikan Yesus Kristus dalam berbagai budaya. Sudah ada berbagai usaha untuk memperkenalkan Yesus dalam budaya. Masalah yang muncul ialah diperlukan kehati-hatian dalam upaya untuk memperkenalkan Yesus dalam budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami konsep Yesus Kristus dalam budaya Toraja. Metode penelitian yang digunakan ialah kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yesus Kristus lebih agung dari Tomanurun. Yesus Kristus mengorbankan diri-Nya untuk menyelmatkan manusia. Sedangkan Tomanurun yang dipercaya dalam kisah penciptaan orang Toraja hanya menyelamatkan kaumnya.
Imago Dei dan Masa Depan Artificial Intelligence (AI): Mengeksplorasi Kemungkinan Kemiripan dengan Ciptaan Manusia Manullang, Michael Denny; Hariawan, Pebri
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 02 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i02.9853

Abstract

Artificial intelligence (AI) is rapidly advancing, impacting economy, education, healthcare, and spirituality. It mimics human cognition via learning, reasoning, communication, and problem-solving. Weak AI excels in narrow tasks; strong AI approaches general intelligence. In Christian theology, AI intersects with the Incarnation and imago Dei (Genesis 1:26–27), affirming human dignity through God’s image. This article uses a normative theological approach to argue that AI lacks an immortal soul, covenantal relationship with God, and intrinsic moral will—thus cannot bear imago Dei. Method: hermeneutics of key texts (Genesis 1:26–27, Psalm 8, John 4:24, Colossians 1:15), integration of Augustine, Aquinas, Rahner, Moltmann, and Pannenberg, plus descriptive-analytical review of AI in Indonesia. Findings: AI offers benefits (fintech, agriculture, Bible apps) but risks bias, dehumanization, and idolatry. Conclusion: AI extends human creativity but remains a tool, not imago Dei. Ethical, pastoral guidelines are urged for Indonesia.AbstrakKecerdasan buatan (AI) berkembang pesat, memengaruhi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan rohani. AI meniru kognisi manusia melalui pembelajaran, penalaran, komunikasi, dan pemecahan masalah. AI lemah unggul pada tugas sempit; AI kuat mendekati kecerdasan umum. Dalam teologi Kristen, AI beririsan dengan inkarnasi dan imago Dei (Kejadian 1:26–27), menegaskan martabat manusia. Artikel ini menggunakan pendekatan teologis-normatif untuk membuktikan AI tidak memiliki jiwa abadi, relasi perjanjian dengan Allah, dan kehendak moral intrinsik—sehingga bukan imago Dei. Metode: hermeneutika teks kunci, integrasi Augustine, Aquinas, Rahner, Moltmann, Pannenberg, dan analisis AI di Indonesia. Temuan: AI bermanfaat (fintech, pertanian, aplikasi Alkitab) tapi berisiko bias, dehumanisasi, dan penyembahan berhala. Kesimpulan: AI memperluas kreativitas manusia tapi tetap alat, bukan imago Dei. Pedoman etis-pastoral diperlukan di Indonesia.
Buah Anggur: Halal atau Haram? Berdasarkan Imamat 10: 8 – 11 dan Kehadirannya dalam Ekaristi Dola Sesar, Dominikus Mario; Setiyawan, Andreas Eerry; Kurniawan, Fransiskus Asisi Irwin Agung; Sitorus, Desima Erlinda Agnesia
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 02 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i02.12547

Abstract

Wine is one of the important elements in the Eucharistic Celebration. The Old Testament Scriptures specifically in the Book of Leviticus which contains the laws and rules of holy living, states that priests are forbidden to drink wine which can make them drunk and become unclean. Whereas in the New Testament World, Jesus used wine during the last supper, and gave a mandate to do so as a remembrance which became the basis for the celebration of the Eucharist as a symbol of the blood of Christ. The purpose of this paper is to describe and discuss the symbolic meaning and use of wine in Old Testament History and its implications in the Eucharist today. There are three main focuses that will be the points of discussion. Firstly, is wine unclean or lawful? What is the allegorical meaning and historicity of the use and prohibition of wine in Old Testament worship? Thirdly, how is the use of wine given a new meaning in the Eucharistic celebration today? This question is examined using the literature study method, through a qualitative and descriptive approach. As for the results found, it can be concluded that in the New Testament the meaning of wine is renewed in the light of faith with the presence of Jesus who uses the symbol of wine in His works, thus we interpret theologically the meaning of wine in the Eucharist is as a symbol of the blood of Christ that redeems humans.Abstrak Anggur merupakan salah satu unsur yang penting dalam Perayaan Ekaristi. Kitab Suci Perjanjian Lama secara khusus dalam Kitab Imamat yang memuat hukum-hukum dan aturan hidup suci, menyatakan bahwa para imam dilarang untuk meminum anggur yang dapat membuat mereka mabuk dan menjadi najis. Sedangkan dalam Dunia Perjanjian Baru, Yesus menggunakan anggur saat perjamuan malam terakhir, dan memberi amanah untuk melakukan hal demikian sebagai pengenangan yang menjadi dasar perayaan Ekaristi sebagai simbol darah Kristus. Adapun maksud penulisan ini adalah ingin mendeskripsikan dan membahas makna simbolik dan penggunaan anggur dalam Sejarah Perjanjian Lama dan implikasinya dalam Ekaristi saat ini. Ada tiga fokus utama yang akan menjadi poin pembahasan. Pertama, apakah anggur itu haram atau halal? Apa makna alegoris dan historisitas penggunaan dan pelarangan anggur dalam peribadatan Perjanjian lama? Ketiga, bagaimana penggunaan anggur dimaknai secara baru dalam perayaan Ekaristi saat ini? Pertanyaan ini dikaji dengan menggunakan metode studi Pustaka, melalui pendekatan kualitatif dan deskriptif. Adapun hasil yang ditemukan, dapat disimpulkan bahwa dalam Perjanjian Baru makna anggur diperbarui dalam terang iman dengan kehadiran Yesus yang menggunakan simbol anggur di dalam karya-karya-Nya, dengan demikian kita memaknai secara teologis pemaknaan anggur dalam Ekaristi merupakan sebagai simbol dari darah Kristus yang menebus manusia.
Peluang Evangelisasi di Media Sosial: Kajian Keterlibatan Pelajar Katolik di Yogyakarta Subali, Yohanes; Hermanto, Edyson; Aji, Marcelinus Wahyu Setyo
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 02 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i02.9505

Abstract

The development of technology and social media offers a significant opportunity for evangelization. Social media facilitates the formation of digital communities that support faith growth and spiritual involvement. This study examines the engagement of Catholic students in Yogyakarta in using social media as a means of mission. The hypothesis of this research is: Catholic students in Yogyakarta understand mission in a broader context, not only as a physical assignment but also as the dissemination of religious messages through digital platforms. The method used is a qualitative approach involving a literature review and a survey using Google Forms distributed to 120 Catholic students at the high school and university levels in Yogyakarta. This research aims to analyze the level of involvement of Catholic students in using social media for missionary activities. The results of this study are divided into three stages: (1) an explanation of the concept of mission and its development within the Catholic Church, (2) the Catholic Church's response to social media as a major opportunity for mission in the digital age, and (3) the presentation of research findings regarding Catholic students' perspectives on mission on social media. The findings indicate that social media is an effective tool for Catholic students in Yogyakarta to spread religious messages and encourage participation in the Church's missionary activities. This research contributes to the understanding of the role of social media in the Church's mission and offers practical insights for religious communities in the digital era.AbstrakPerkembangan teknologi dan media sosial menawarkan peluang besar untuk evangelisasi. Media sosial memfasilitasi pembentukan komunitas digital yang mendukung pertumbuhan iman dan keterlibatan spiritual. Penelitian ini mengkaji keterlibatan pelajar Katolik di Yogyakarta dalam menggunakan media sosial sebagai sarana misi. Hipotesis penelitian ini adalah: pelajar Katolik di Yogyakarta memahami misi dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya sebagai perutusan fisik tetapi juga sebagai penyebaran pesan-pesan keagamaan melalui platform digital. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan survei menggunakan Google Forms kepada 120 pelajar Katolik di tingkat SMA dan perguruan tinggi di Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keterlibatan pelajar Katolik dalam menggunakan media sosial untuk kegiatan misi. Hasil penelitian ini terbagi dalam tiga tahap: (1) penjelasan tentang konsep misi dan perkembangannya dalam Gereja Katolik, (2) tanggapan Gereja Katolik terhadap media sosial sebagai peluang besar dalam misi di era digital, dan (3) pemaparan hasil penelitian mengenai pandangan pelajar Katolik terhadap misi di media sosial. Temuan menunjukkan bahwa media sosial merupakan alat efektif bagi pelajar Katolik di Yogyakarta untuk menyebarkan pesan keagamaan dan mendorong partisipasi dalam kegiatan misi Gereja. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman peran media sosial dalam misi Gereja dan menawarkan wawasan praktis bagi komunitas religius di era digital.