cover
Contact Name
Dionius Bismoko Mahamboro
Contact Email
jurnal-teologi@usd.ac.id
Phone
+62274-880957
Journal Mail Official
jurnal-teologi@usd.ac.id
Editorial Address
Faculty of Theology, Sanata Dharma University, Jogjakarta, Faculty of Theology, Sanata Dharma University PO Box 1194, Jl. Kaliurang Km. 7 Yogyakarta 55281 - INDONESIA Phone: +62 274 880957 Fax: +62 274 888418
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Teologi
ISSN : 23025476     EISSN : 25793934     DOI : 10.24071/jt
Core Subject : Religion, Education,
JURNAL TEOLOGI bertujuan menyampaikan hasil penelitian dalam bidang teologi kontekstual atau refleksi atas penghayatan iman untuk pengembangan iman dalam konteks Indonesia dan Asia di tengah keanekaragaman agama, budaya, dan persoalan konkret hidup berbangsa. Jurnal ini diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pelatihan Teologi Kontekstual, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan bekerjasama dengan Asosiasi Teolog Katolik Indonesia (AsTeKiA)
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 184 Documents
Komparasi Konsep El-Shadday dan Jubata Panange Sebagai Konstruksi Teologi Feminis Bagi Suku Dayak Kanayatn David, Andre Vinsensius
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 13, No 02 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v13i02.6765

Abstract

Women's struggles due to patriarchal domination do not only occur in the Bible. This has also been felt by women throughout the ages, including in the Kanayatn Dayak culture. The interpretation and implementation of the sacred texts of the Bible are dominated by men, so that the space for women to reflect on themselves as imago-dei and the image of God in women is very narrow. Not infrequently women who are already rooted in patriarchal culture consider this to be normal and without needing improvement. By historcal-critisizm approach for understanding concept of El-Shadday and Ethnography-Thick Description for the concept of Jubata Panange as God with a female face, which is read cross-textually as an effort to present feminist theology with a new nuance, namely the cultural context of Dayak Kanayatn. Abstrak Pergumulan perempuan akibat dominasi patriarki tidak hanya terjadi di dalam Alkitab. Hal ini juga dirasakan oleh perempuan sepanjang zaman, termasuk dalam budaya Dayak Kanayatn. Penafsiran dan implementasi teks suci Kitab Suci didominasi oleh laki-laki, sehingga ruang bagi perempuan untuk merefleksikan dirinya sebagai imago-dei dan citra Tuhan dalam diri perempuan sangat sempit. Tak jarang perempuan yang sudah mengakar dalam budaya patriarki menganggap hal tersebut sebagai hal yang wajar dan tanpa perlu perbaikan. Dengan pendekatan kritik-historis untuk memahami konsep El-Shadday dan Deskripsi Tebal Etnografi terhadap konsep Jubata Panange hadirlah sebuah gambaran mengenai Allah sebagai Tuhan berwajah perempuan, yang dibaca secara lintas tekstual sebagai upaya menghadirkan teologi feminis dengan nuansa baru, yaitu konteks budaya Dayak Kanayatn.
Panduan Transenden Guna Mendorong Kesejahteraan Spiritual Melalui Pastoral Konseling Herman, Samuel; Senjaya, Styadi
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 13, No 02 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v13i02.7029

Abstract

Pastoral counseling plays a vital role in guiding and nurturing the congregation, employing a holistic approach grounded in Christian faith principles. Pastoral counseling not only serves as an advisor but also as a spiritual companion capable of addressing the emotional and behavioral aspects of the counselee. Balancing attention to both aspects, in line with pastoral theology, provides a solid foundation for a ministry committed to spiritual recovery, growth, and transformation. The use of the Bible as the primary guide requires wisdom in applying God's Word according to its context and meaning. Balancing present-day considerations with those of the past, and understanding sin, repentance, and forgiveness as fundamental to pastoral theology, form the basis of an effective counseling approach. The stages of counseling, the role of the counselor as a representative of Christ, and the wise use of the Bible create a solid foundation for effective counseling. This study employs a qualitative phenomenological method with literature review. Data analysis includes management, reading, description, interpretation, and representation. An inductive approach is used to formulate conclusions and predictions, supporting exploration in the context of pastoral counseling. Integrating psychology, humanities, and deep theology helps counselors understand the complexity of counselees holistically. Through critical evaluation and adaptation of the approach, pastoral counseling has a positive and sustainable impact on the spiritual growth and well-being of the congregation members. Pastoral counseling illustrates the church's commitment to guiding the congregation toward deep spiritual growth and well-being.
Tahapan Implementasi Sistem BIDUK dan Terwujudnya Pastoral Berbasis Data di Wilayah KAMS Suma, I Made Markus; Tandiangga, Patrio
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 13, No 02 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v13i02.6816

Abstract

Structured and integrated stages for implementing BIDUK (basis integrasi data umat keuskupan) as a digital system to count exactly the total number of people of God are indeed important. These stages can accelerate the realization of pastoral ministry based on data. Through these proper phases, the real progress of the implementation of BIDUK system could be monitored and evaluated by the parish priest and respective parish BIDUK team as well as by the diocesan Bishop as the shepherd of Archdiocese of Makassar. How many stages should be followed to accelerate the implementation of BIDUK system? This research is equipped by library research and enriched by real time data on BIDUK dashboard. This is an attempt to explore the stages of implementation of BIDUK system in Makassar diocese. Consistency and continuity in keeping with these stages are the key for the successful implementation BIDUK system to accelerate pastoral ministry based on data. AbstrakTahapan yang terstruktur dan terintegrasi dalam implementasi sistem BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) sebagai instrumen digital untuk melakukan pendataan umat menjadi sangat penting. Tahapan ini dapat mengakselerasi terwujudnya pastoral berbasis data. Selain itu, melalui tahapan ini perkembangan implementasi sistem BIDUK dapat dipantau dan dievaluasi oleh Pastor Paroki bersama Tim BIDUK Paroki dan juga oleh Uskup KAMS (Keuskupan Agung Makassar). Berapa tahapan yang perlu dilaksanakan agar terjadi akselerasi dalam implementasi sistem BIDUK di wilayah KAMS? Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode literature review dan dengan dukungan data real time pada dashboard BIDUK KAMS dan bertujuan mengeksplorasi tahapan implementasi sistem BIDUK. Konsistensi dan kontinuitas pada tahapan ini menjadi kunci keberhasilan implementasi sistem BIDUK untuk mengakselerasi terwujudnya pastoral berbasis data di wilayah KAMS.
Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Aksi Revitalisasi Budaya Masohi oleh Jemaat GPM Liliama Lewankoru, Meike Lely; Quartyamina, Cindy; -, Suwarto
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 13, No 02 (2024)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v13i02.7521

Abstract

Doing contextual theology means understanding and reflecting critically on the Christian faith through a certain context. This article aims to describe a contextual theological analysis at the level of a practical model for the revitalization of masohi culture by the GPM Lilama congregation so that the noble values contained in masohi culture continue to be lived out among the members of the GPM Liliama congregation. Masohi culture is a collaborative activity carried out in social and church life to complete a job. Masohi culture is full of noble values that contain and are in harmony with the essence of the gospel in them. Responding to the problematic situation that occurred, namely the shift in values from Masohi culture, directed the church to continue to reflect and seek purification or action to revitalize the values in Masohi culture itself. Based on this, the author conducted research with a contextual theological review of Stephan Bevans' praxis model. The praxis model understands theology as a product of continuous dialogue between two aspects of Christian life, namely ongoing action and reflection. The author conducted research using qualitative methods by understanding the phenomena that occur through analytical and complex images that can be presented in words, then providing a detailed view report. The research results show that the GPM Liliama congregation has contextual theology at the level of the practical model because it is proven that there is awareness of deviations in the action of shifting values in Masohi culture which is then reflected that this is not in accordance with the noble values in Masohi culture. This provides an opportunity for revitalization actions to be carried out so as to strengthen the identity of the noble values in Masohi culture which are visible in the life of the GPM Liliama congregation. Abstrak Berteologi secara kontekstual artinya memahami dan berefleksi secara kritis atas iman Kristiani melalui konteks tertentu. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan analisis teologi kontekstual pada tataran model praksis terhadap aksi revitalisasi budaya masohi oleh jemaat GPM Lilama sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya masohi terus dihidupi di tengah warga Jemaat GPM Liliama. Budaya masohi merupakan kegiatan bekerjasama yang dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat, maupun bergereja untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Menanggapi situasi problematika yang terjadi dalam penerapan budaya masohi di jemaat GPM Liliama, yakni: terjadinya pergeseran nilai-nilai dari budaya masohi, mengarahkan gereja untuk terus berefleksi dan mengupayakan pemurnian atau aksi revitalisasi terhadap nilai-nilai dalam budaya masohi itu sendiri. Berdasarkan hal ini, maka penulis melakukan penelitian dengan tinjauan teologi kontekstual model praksis Stephan Bevans. Selanjutnya, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi melalui gambaran yang analitis dan kompleks yang dapat disajikan dengan kata-kata, dan memberikan laporan pandangan secara rinci. Hasil penelitian menunjukan bahwa jemaat GPM Liliama telah melakukan refleksi terhadap aksi budaya masohi yang mengalami pergeseran nilai-nilai luhur. Oleh sebab itu, jemaat GPM Liliama mengupayakan aksi yang baru sebagai bentuk respons terhadap refleksi atas aksi yang sebelumnya. Sampai di sini, maka tampak bahwa jemaat GPM Liliama sudah berteologi kontekstual dalam tataran model praksis. Jemaat GPM Liliama menyadari akan penyimpangan pada aksi pergeseran nilai-nilai dalam budaya masohi dan kemudian melakukan aksi revitalisasi kembali, sehingga mengukuhkan identitas nilai-nilai luhur dalam budaya masohi yang tampak dalam kehidupan jemaat GPM Liliama.
Konsep Persaudaraan dalam Kasih pada 1 Yohanes 3:11-18 dan Kasih Persaudaraan pada Falsafah Dalihan Na Tolu Suku Batak Toba Wariki, Valentino; Lauw, Michael; Gracia, Yunias
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 01 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i01.7106

Abstract

Christianity understands love as a basic principle of life. In the philosophy of Dalihan Na Tolu and Letter 1 John 3:11-18 there is an essence that can be met. Therefore, the purpose of this article is to provide an understanding of brotherly love based on the perspective of the philosophy of Dalihan Na Tolu and the text of 1 John 3:11-18. In this article, the researcher uses a qualitative method with a literature study approach. The researcher also conducted an exegetical analysis to obtain the substance of love related to Dalihan Na Tolu. The results of this study indicate that Dalihan Na Tolu and 1 John 3:11-18 have something in common, namely the need to build love in brotherly relationships. If Dalihan Na Tolu shows the importance of building a life in love for fellow brothers, then letter 1 John 3:11-18 seeks to open the paradigm that every student must be seen as a sibling so that the application of love becomes more dynamic. The meeting point between the two is in the desire to apply brotherly love.
Realitas Jejaring Antara Pribadi dalam Budaya Dialog dan Moderasi Beragama Dihadapan Tantangan Informasi Palsu pada Era Digital Pute, Jimmi Pindan; -, Yosbekasa; Silaban, Tri Oktavia Hartati; Tinggi, Rosyeline
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 01 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i01.8431

Abstract

Penelitian ini akan menganalisis realitas jejaring antara manusia Kristen dalam konteks dialog moderasi beragama, khususnya terkait penyebaran informasi palsu pada era digital. Fokus utama penelitian adalah pada bagaimana jejaring digital memengaruhi interaksi antarmanusia Kristen dan bagaimana merespons informasi palsu yang dapat memengaruhi dialog keagamaan. Penelitian ini melibatkan analisis mendalam terhadap polarisasi dan ekstremisme beragama yang mungkin muncul akibat penyebaran informasi palsu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bagaimana tanggap umat Kristen dalam menyikapi berita palsu lewat jejaring sosial sebagai bentuk analisis dalam mengembangkan moderasi beragama. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskripti, studi kepustakaan, dan analisis lapangan. Penelitian yang dilakukan oleh Leman, Sokarno dan beberapa penulis lainnya mengemukakan bahwa teknologi digital acap kali dimanfaatkan sebagai bagian dari penyebaran berita palsu yang merugikan sebagai besar penduduk Indonesia, untuk itu teknologi digital mesti dikelolah sebagai bagian dari pemberitaan injil oleh misi gereja. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih baik tentang dinamika jejaring antara manusia Kristen dalam konteks dialog moderasi beragama, khususnya terkait dengan penyebaran informasi palsu. Implikasi dari temuan ini diharapkan dapat membantu pengembangan strategi dan pedoman praktis untuk mempromosikan dialog yang sehat dan moderasi beragama di era digital
Fenomena Perkawinan Tungku Cu di Manggarai dalam Terang KHK 1091 Sunardi, Dionisius; Endi, Yohanes; Syukur, Robertus; Wiparlo, Valerianus
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 01 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i01.6177

Abstract

Fokus utama tulisan ini adalah melihat fenomena pernikahan Tungku Cu di Manggarai dalam terang KHK 1091. Pernikahan Tungku Cu merupakan pernikahan yang terjadi dengan tetap memiliki hubungan darah, yaitu anak dari saudara dan anak dari saudari. Pernikahan sedarah ini bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik seperti yang tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik. Gereja Katolik secara tegas menolak terkait dengan pernikahan sesama saudara atau pernikahan dengan asal usul yang sama. Penulis menggunakan metode studi pustaka dan wawancara. Tulisan ini memberikan kontribusi terhadap kehidupan sosial dan kehidupan Gereja dengan adanya temuan baru terkait dengan fenomena pernikahan Tungku Cu di Manggarai dalam terang KHK 1091.  Adapun beberapa temuan dalam tulisan ini: pertama, cinta akan kedua pasangan menjadi alasan yang masuk akal dari sudut pandang Gereja dan dunia. Kedua, alasan belis (mahar) yang terlalu tinggi sehingga pernikahan antara keluarga dapat mengurangi belis. Ketiga, kedua pasangan telah hidup bersama dan memiliki anak. Keempat, Gereja Keuskupan Ruteng akan tetap memberi dispensasi terhadap fenomena Tungku Cu di manggarai berdasarkan KHK sebagai bentuk kemurahan hati Gereja, dengan tetap mempertimbangkan alasan yang logis dan alasan yang kuat. Kelima, dispensasi diberikan sebagai bentuk penghargaan Gereja terhadap budaya setempat.
Allah Sebagai The Wholeness: Relasi Integral Iman Katolik dan Sains Modern Menurut Ilia Delio Kelabur, Arnoldus Arif Sumara
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 01 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i01.7582

Abstract

Artikel ini bertujuan mengemukakan paradigma teologi kosmik Delio tentang Allah sebagai The Wholeness. Paradigma itu secara sederhana mengacu kepada kesadaran bahwa seseorang adalah bagian dari keseluruhan dan keseluruhan menjadi bagian dari orang itu. Dalam kesadaran itu, seseorang meyakini dan melihat Allah dalam alam semesta sebagai proses kehidupan yang dinamis, terbuka (unfolding life), dan kreatif. Metode yang dipakai dalam penulisan artikel ini adalah studi kepustakaan. Penulis mengkaji tulisan-tulisan Delio berupa buku dan artikel ilmiah. Delio melihat keserupaan spirit antara penemuan-penemuan sains dan iman Katolik. Penemuan-penemuan sains seperti kosmologi Einstein, teori khaos, dan teori evolusi memperlihatkan gambaran ruang-waktu yang bersifat dinamis, relasional, dan terbuka. Dalam iman Katolik, gambaran itu juga diperlihatkan dalam pemahaman tentang Kristus kosmik. Dalam Kristus, setiap makhluk saling berbagi dalam keterhubungan mereka dengan dimensi kehidupan kosmik. Oleh karena itu, Delio menyelidiki arti Kristus kosmik itu dalam Kitab Suci, Bapa-Bapa Gereja, dokumen Konsili Vatikan II, dan Ajaran Sosial Gereja (ASG).
Transformasi Diri Melalui Perjalanan Spiritual: Sebuah Pembacaan Lintas Tekstual Kisah Elia (1Raj 19:1-8 ) dan Arjuna (Wahyu Makutarama) Koconegoro, Thomas Aquinas; Tanureja, Indra
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 01 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i01.9508

Abstract

Artikel ini merupakan sebuah pembacaan lintas tekstual tentang perjalanan spiritual Elia, seorang nabi Israel kuno, dan Arjuna, pahlawan dalam Mahabharata. Kedua kisah tersebut menceritakan tentang pencarian makna di tengah krisis. Elia, setelah kemenangan atas para nabi Baal, melarikan diri ke padang gurun karena ancaman dari Ratu Izebel. Di sana, ia mengalami depresi dan keputusasaan, mempertanyakan makna hidupnya dan perannya sebagai nabi Tuhan. Namun, dalam pertemuan dengan Tuhan di Gunung Horeb, Elia menerima penghiburan dan penegasan kembali atas panggilannya. Arjuna, pada malam pertempuran besar melawan saudara-saudaranya sendiri, mengalami keraguan dan ketidakpastian. Ia melakukan perjalanan panjang untuk menerima Wahyu Makutarama. Tujuan artikel ini adalah mengindentifikasi dinamika perjalanan pencarian jati diri dalam konteks krisis eksistensial dan bagaimana para tokoh mengalami peneguhan dan jawaban atasnya. Metode yang digunakan adalah Kritik Performa Alkitab, Biblical Performance Criticism (BPC) dan pembacaan lintas tekstual. Perbandingan kedua teks membuka eksplorasi tema-tema serupa dan prinsip bersama dalam pencarian jati diri. Kedua cerita tersebut menunjukkan bagaimana keraguan dan kebingungan merupakan bagian alami dari pencarian makna, dan melalui perjumpaan dengan kekuatan yang Ilahi, para tokoh dapat menemukan kekuatan dan pencerahan untuk mengatasi tantangan dan mencapai tujuan hidupnya.
Infertilitas dan Adopsi Embrio dalam Bioetika Katolik Kusmaryanto, CB.
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 14, No 02 (2025)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v14i02.13431

Abstract

The number of infertile couples is growing up. The declining of fertility happens almost in all countries, both in developed countries and in underdeveloped countries. There are many causes of the declining: the success of birth control, changing in nutrition, changing in lifestyle, postponed of marriages, etc. Infertility can happen in man (husband) or in woman (wife) or in both.  We do not know for sure the number of infertile couples, but it is estimated that they are big number. The Catholic Church is called to help the infertile couples with the best solution in conformity with human dignity and can be accepted morally. One of the available solutions is embryo adoption, although it has some conflicting moral principles. Embryo adoption is chosen because we cannot let them to be aborted or killed.AbstrakJumlah pasangan keluarga usia subur yang mengalami infertilitas (tidak bisa mempunyai anak) semakin lama semakin banyak. Penurunan fertilitas terjadi di semua negara, baik di negara maju maupun di negara sedang berkembang atau negara miskin. Penyebab penurunan fertilitas ini ada banyak antara lain keberhasilan KB, perubahan pola makanan, perubahan gaya hidup, penundaan usia perkawinan dsb. Infertilitas bisa terkena pada pihak suami maupun pihak istri, atau bisa juga ke dua-duanya. Jumlah pasangan yang mengalami infertilitas ini kiranya cukup banyak. Gereja terpanggil untuk membantu keluarga yang infertil, tidak punya anak ini dengan cara yang bermartabat dan bisa diterima oleh moral Katolik. Cara yang tersedia sampai sekarang adalah adopsi embrio, walaupun cara itu juga tidak bebas konflik prinsip moral. Adopsi ini dipilih karena embrio tersisa itu tidak boleh dibunuh atau diaborsi.