cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Media Teknologi Hasil Perikanan
ISSN : 23374284     EISSN : 26847205     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Media Teknologi Hasil Perikanan adalah berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNSRAT. Media ini akan mempublikasikan hasil penelitian dan kajian pustaka terbaru dalam bidang Teknologi Hasil Perikanan, khususnya yang berhubungan dengan penerapan teknologi bagi peningkatan kualitas produk perikanan, pengembangan produk baru hasil perikanan, keamanan produk hasil perikanan,pemanfaatan limbah hasil perikanan serta topik lain yang berhubungan erat dengan pemanfaatan dan pengolahan hasil perikanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia.
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Analisa Proksimat pada Sipunculan (Sipunculus nudus) Segar di Perairan Desa Budo, Minahasa Utara: Proximate Analysis of Fresh Sipunculan (Sipunculus nudus) In The Waters of Budo Village North Minahasa Salawati, Abraham Imanuel; Montolalu, Roike Iwan; Mentang, Feny; Makapedua, Daisy Monica; Sanger, Grace; Bara, Robert A
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 12 No.1 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.12.1.2024.53528

Abstract

Natural resources abound in Indonesia, especially for its marine products. Fish and other fisheries products are valuable and commonly utilized commodities. Sipuncula is an additional valuable resource. The peanut worm, or Sipuncula (Sipunculus nudus), is a controversial biota that looks like a worm but is actually a sea cucumber. This study aims to provide information on sipunculan (Sipunculus nudus) and determine the nutritional content of the food in Budo Village. The plan for this investigation is to search at low tide in the sipunculan. 82% moisture content, 0.74% ash content, 12.8% protein, 1.56% fat, and 2.3% carbohydrate were the findings of this experiment. Keywords: Sipunculan, Fresh, Proximate, Budo Village   Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, terutama untuk hasil lautnya. Hasil perikanan seperti ikan termasuk dalam komoditi penting yang sering dimanfaatkan. Sumber daya lainnya yang dapat dimanfaatkan yaitu Sipuncula. Sipuncula (Sipunculus nudus) atau cacing kacang merupakan biota kontroversi memiliki bentuk seperti cacing dan juga teripang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kandungan gizi dari sipunculan yang ada di Desa Budo serta dapat memberikan informasi terhadap kandungan nutrisi sipunculan (Sipunculus nudus). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sipunculan dicari pada saat air surut. Hasil penelitian yang didapatkan dalam penelitian ini kadar air 82%, kadar abu 0,74%, Protein 12,8%, Lemak 1,56% dan Karbohidrat 2,3%. Kata kunci: Sipunculan, segar, Proksimat, Desa Budo
Kandungan Total Fenol dan Aktivitas Antioksidan Buah Mangrove Sonneratia alba yang Dikeringkan dalam Kabinet Dryer Dotulong, Verly; Mentang, Feny; Harikedua, Silvana Dinaintang; Damongilala, Lena Jeane
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 11 No. 2 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.11.2.2023.53748

Abstract

The purpose of this study was to determine the total phenol content and antioxidant activity of Sonneratia alba mangrove fruit dried at 50°C in a cabinet dryer with different extraction times. The method used in this study was exploratory, the data were analyzed descriptively, the treatment used was the extraction time of 5, 10 and 15 minutes in boiling water, the test parameters used were the total phenol content using the Folin-Ciocalteau method and antioxidant activity using the DPPH method (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). The results obtained were as follows: the highest total phenol value was found in the 10-minute extraction time treatment, namely 23.7851 mg GAE/g; the strongest antioxidant activity was found in the 10-minute extraction time, namely 5.25 ppm. From the data obtained, it can be concluded that the best treatment is the extraction time in boiling water for 10 minutes. Keywords:    Fruit, S. alba, boiling water extraction, total phenol, antioxidant activity Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan total fenol dan aktivitas antioksidan buah mangrove Sonneratia alba yang dikeringkan pada suhu 50°C di dalam kabinet dryer dengan lama ekstraksi yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat eksploratif, data dianalisis secara deskriptif, perlakuan yang digunakan adalah lama ekstraksi 5, 10 dan 15 menit dalam air mendidih, parameter uji yang digunakan adalah kandungan total fenol menggunakan metode Folin-Ciocalteau dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: nilai total fenol tertinggi ditemukan pada perlakukan lama ekstraksi 10 menit yaitu 23,7851 mg GAE/g; aktivitas antioksidan terkuat ditemukan pada lama ekstraksi 10 menit yaitu 5,25 ppm. Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa perlakuan yang terbaik adalah lama ekstraksi dalam air mendidih selama 10 menit. Kata kunci:  Buah S. alba, ekstrak air mendidih, total fenol aktivitas antioksidan.
Efek Penambahan Ekstrak Daun Tagalolo (Ficus Septica Burm. F) terhadap Kadar Histamin dan Total Bakteri Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) Kaunsui, Marledi; Masinambou, Charles; Saragih, Ella Dertina; Harikedua, Silvana D; Pandey, Engel; Wonggo, Djuhria; Montolalu, Lita; Makapedua, Daisy Monica
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.11.1.2023.54138

Abstract

Histamine is one of the important parameters in determining the quality of fish quality, especially in fishery products that will be exported. This study aims to determine the effect of adding tagalolo leaf water extract on histamine levels and total plate counts in fresh skipjack (Katsuwonus pelamis L). The results showed that tagalolo leaves have the potential to slow down the rate of histamine and bacterial development in fish Keyword: skipjack, histamine, tagalolo leaves, total plate count   Histamin merupakan salah satu parameter penting dalam penentuan kualitas mutu ikan terutama pada produk perikanan yang akan diekspor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan ekstrak air daun tagalolo terhadap kadar histamin dan angka lempeng total pada ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun tagalolo memiliki potensi untuk dapat memperlambat laju perkembangan histamin dan bakteri pada ikan. Kata kunci: ikan, histamine, daun tagalolo, angka lempeng total
Uji Aktivitas Antioksidan dan Karakterisasi Minyak Tulang Ikan Tindarung : Antioxidant Activity and Characterization of Fish Oil from Marlin Fish Bone Antasionasti, Irma; ABDULLAH, SURYA SUMANTRI; Siampa, Jainer Pasca; Jayanto, Imam
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 12 No.1 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.12.1.2024.54368

Abstract

Marlin fish (tindarung) is one of the fish produced in the waters of North Sulawesi. The process of processing tindarung fish produces fish bone waste which can be maximized for processing as fish oil. Fish oil contains essential fatty acids that the body cannot produce naturally. This research aimed to determine the antioxidant activity and characteristics of tindarung fish bone oil. Tindarung fish bone oil extraction was carried out using wet rendering method. Next, antioxidant activity was tested using DPPH method. Characterization was carried out using the titration method. Based on the results of the antioxidant activity test, tindarung fish bone oil has an antioxidant activity of 20,958 ± 2,736 µg/mL. Apart from that, tindarung fish bone oil has characteristics that meet the standards of the International Fish Meal and Oil Manufacturers Association, namely a density of 0.91 g/mL; peroxide value of 20 meq/kg; free fatty acids of 5.65%; and the iodine number is 7.25 mg/100 g. This shows that tindarung fish bone oil can be consumed regularly as a supplement to maintain health. Keywords: antioxidant activity, characterization, fish oil, marlin fish Ikan Tindarung merupakan salah satu ikan yang dihasilkan di perairan Sulawesi Utara. Proses pengolahan ikan tindarung menghasilkan limbah tulang ikan yang dapat dimaksimalkan pengolahannya sebagai minyak ikan. Minyak ikan mengandung asam lemak esensial yang tidak dapat diproduksi secara alami oleh tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan dan karakteristik dari minyak tulang ikan tindarung. Ekstraksi minyak tulang ikan tindarung dilakukan dengan menggunakan metode wet rendering. Selanjutnya, pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. karakterisasi dilakukan menggunakan metode titrasi. Berdasarkan hasil ujiaaktivitasantioksidan, minyak tulang ikan tindarung memiliki aktivitas antioksidan sebesar 20,958 ± 2,736 µg/mL.  selain itu, minyak tulang ikan tindarung memiliki karakteristik yang memenuhi standar International Fish Meal and Oil Manufacturers Association, yaitu massa jenis sebesar 0,91 g/mL; bilangan peroksida sebesar 20 meq/kg; asam lemak bebas sebesar 5,65%; dan bilangan iod sebesar 7,25 mg/100 g. Hal ini menunjukkan bahwa minyak tulang ikan tindarung dapat dikonsumsi secara teratur sebagai suplemen untuk menjaga kesehatan. Kata kunci: aktivitas antioksidan, karakterisasi, minyak ikan, tindarung
INNOVATION MACARONI PASTA OF BASED LUMI-LUMI FISH-ENDEMIC AND EFFECT OF BOILING METHOD PROCESS ON NUTRITIONAL CONTENT Safrida; Rahma, Cukri; Rinawati; Harahap, Laila Apriani Hasanah; Budijanto, Slamet; Kurniati , Yeni; Lubis, Friyuanita
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.12.2.2024.55095

Abstract

Meulaboh is located in the western part of Sumatra Island, West Aceh Regency, Aceh Province. Coastal areas in the Meulaboh have an endemic type of fish, lumi-lumi (Harpodon nehereus), which is known to contain various micronutrients and proteins. The study aimed to identify the best macaroni formulation based on good sensory acceptability, micronutrient content, nutritional value, and protein. The treatment used was a different concentration of Lumi-lumi fish meat on macaroni dough, namely: P1(15%), P2(20%), and P3(25%). The best macaroni formulation was determined using scoring analysis based on sensory parameters. The participants consisted of 30 untrained panelists.  Then the best products were tested for changes in nutritional content, soluble protein, and minerals, before and after boiling for 15 minutes using a paired t-test with alpha 5%. The study showed that the selected formulation was P1(15%), with the highest total score of 18. The results show the boiling process significantly increases the moisture, ash, and fat content, namely 71.70%, 1.67%, and 4.73%, respectively on the P1 (15%) product. Meanwhile, it reduces the crude protein, fiber, carbohydrate, and soluble protein content by 8.41%, 1.63%, 11.86%, and 16.8 ug/L. Then, it also reduces a number of minerals, namely calcium, magnesium, copper, zinc, and selenium. In conclusion, the macaroni formulation P1 is better based on consumer acceptance with color value 4.71(slightly-liked), aroma 4.28(indifferent), taste 4.21(indifferent), hardness 4.71(slightly-liked), elasticity 4.82(slightly-liked), and overall acceptance 4.51(slightly-liked). Kata kunci:  Harpodon nehereus, Lumi-lumi, Macaroni, Nutrition, Sensory   Meulaboh terletak di sebelah Barat Laut Pulau Sumatra, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh. Perairan di wilayah meulaboh memiliki jenis ikan endemik lumi-lumi (Harpodon nehereus) yang diketahui mengandung berbagai mikronutrien dan protein. Tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi formulasi makaroni terbaik berdasarkan daya terima sensori yang baik, dengan kandungan mikronutrien, nilai gizi, dan protein. Perlakuan penelitian yaitu konsentrasi daging ikan Lumi-lumi yang berbeda pada adonan makaroni meliputi: P1(15%), P2(20%), dan P3(25%). Formulasi makaroni terbaik ditentukan dengan analisis skoring berdasarkan parameter sensori. Peserta terdiri dari 30 panelis tidak terlatih. Kemudian produk terbaik diuji perubahan kandungan gizi, protein terlarut, dan mineral, sebelum dan setelah perebusan selama 15 menit menggunakan uji t berpasangan alpha 5%. Hasil penelitian menunjukkan formulasi terbaik adalah P1(15%) dengan total skoring tertinggi yaitu 18 skor. Kemudian proses perebusan meningkatkan kadar air, abu, dan lemak secara signifikan yaitu masing-masing sebesar 71,70%, 1,67%, dan 4,73% pada produk P1 (15%). Sementara proses perebusan menurunkan kandungan protein kasar, serat, karbohidrat, dan protein larut sebesar 8,41%, 1,63%, 11,86%, dan 16,8 ug/L. Kemudian, juga mengurangi sejumlah mineral yaitu kalsium, magnesium, tembaga, seng, dan selenium. Kesimpulannya formulasi makaroni P1 lebih baik berdasarkan penerimaan konsumen dengan nilai warna 4.71 (agak-suka), aroma 4.28 (normal), rasa 4.21 (normal), kekerasan 4.71 (agak-suka), kekenyalan 4.82 (agak-suka), dan penerimaan keseluruhan 4.51 (agak-suka). Kata kunci:  Harpodon nehereus, Lumi-lumi, Makaroni, Nutrisi, Sensori
OPTIMASI PRODUKSI SEMI REFINED CARRAGEENAN MELALUI PENDEKATAN PROSES EKSTRAKSI: Optimization of Semi-Refined Carrageenan Production through Extraction Process Samodra, Yudha; Nur Rokhmah, Laela; Prayitno
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.12.2.2024.56140

Abstract

Semi refined carrageenan (SRC) is a processed seawed from Eucheuma cottonii. This product widely used in industry. The objective of this experiment is to decribe the influence of four independent variables, there are concetration of of solvent (KOH), soaking, extraction temperature and extraction time with semi-refined carrageenan (SRC) gel stregth level and rendement level. The method used experiment to determin the optimal condition of each variables. The ectraction eucheuma cotonii with 35% moisture from Sumba used high milk reactivity procces (HMR). Semi-refined carrageenan produced then determined the level of gel strength and yield. The results showed soaking for 10 hours with extraction in 0,10% KOH solution (w/v), extraction temperature of 121,6°C for 5 minutes to give the gel strength of 320,04 g/cm2 to yiled 53,19%. Extraction time is longer provide a higher yiled strength but lower gel.  Carrageenan yield at 21,6°C with an extraction time of 25 minutes produced the highest value, 54,59%. Kata kunci:  carrageenan extratction; gel strength; semi refined carrageenan; yield   Semi-refined carrageenan (SRC) merupakan salah satu olahan rumput laut dari Eucheuma cottonii. Bentuk olahan demikian banyak dimanfaatkan berbagai industri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data pengaruh empat variabel bebas yaitu konsentrasi alkali (KOH dengan 3 variasi konsentrasi), waktu perendaman (3 variasi), suhu (5 variasi) dan waktu ekstraksi (6 variasi) terhadap tingkat kekuatan gel dan rendemen SRC yang dihasilkan. Metode yang digunakan adalah eksperimental untuk menentukan kondisi optimum masing-masing variabel .Proses ekstraksi dengan teknik  ekstraksi reaktivitas suhu tinggi (HMR, high milk reactivity) terhadap rumput laut Eucheuma cotonii dari Sumba mendapatkan kadar air sebesar 35%. Semi-refined carrageenan yang dihasilkan kemudian ditentukan tingkat kekuatan gel dan rendemennya. Hasil penelitian menunjukkan perendaman selama 10 jam dengan ekstraksi pada larutan KOH 0,10% (w/v), suhu ekstraksi 121,6°C selama 5 menit memberikan kekuatan gel sebesar 320,04 g/cm2. Dengan rendemen yang lebih rendah. Yield karagenan pada suhu 121,6°C dengan waktu ekstraksi selama 25 menit menghasilkan nilai tertinggi dari penelitian yaitu sebesar 54,5%. Kata kunci:  ekstrasi karaginan, kekuatan gel, semi refined carrageenan, rendemen
PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG IKAN KEMBUNG (Rastrelliger kanagurta) PADA TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschata) TERHADAP KARAKTERISTIK KUE SEMPRIT: The Impact of Substituting Indian Mackerel Fish (Rastrelliger kanagurta) Flour Fish with for Yellow Pumpkin (Cucurbita moschata) Flour on the Characteristics of Semprit Cake Ishak, Husnul Khatimah; Naiu, Asri Silvana; Mile, Lukman
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.12.2.2024.56361

Abstract

Semprit cookies are a type of dry cookies that are part of the bagged cookies type that are made using a syringe and are one of the snacks that are liked by people from children to adults. This study aims to analyze the characteristics of semprit cookies resulting from the substitution of mackerel flour (Rastrelliger kanagura) with pumpkin flour (Cucurbita moschata). The treatments used in the study were F0 (0 gr mackerel flour: 30 gr pumpkin flour), F1 (10 g mackerel flour: 20 g pumpkin flour), F2 (15 g mackerel flour: 15 g pumpkin flour), F3 (20 g mackerel flour: 10 g pumpkin flour). The parameters tested included water content, ash content, protein content, fat content, carbohydrate content by difference, fiber content and hedonic test. This study used a Completely Randomized Design (CRD) which was analyzed by ANOVA and further tested by Duncan. The results of the hedonic test were analyzed using Kruskal-wallis with K-Independent and further tested by Duncan. The results showed that semprit cake from the substitution of mackerel fish flour (Rastrelliger kanagurta) with pumpkin flour (Cucurbita moschata) had a significant effect (p<0.05) on all proximate parameters of semprit cake and organoleptic attributes of semprit cake, except texture. The addition of mackerel fish flour to the formula can increase protein content up to 12.09%, and fat content reaches 21.69%, but reduces carbohydrate content to 63.73%, water content 0.27%, ash content 1.58%, and fiber content 4.56%. Kata kunci:  Cucurbita, Indian mackerel flour, pumpkin flour, Rastrelliger, spritz cookies.   Kue semprit merupakan jenis kue kering yang termasuk bagian dari jenis bagged cookies yang dibuat menggunakan alat spuit dan menjadi salah satu cemilan yang disukai kalangan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kue semprit hasil substitusi tepung ikan kembung (Rastrelliger kanagura) pada tepung labu kuning (Cucurbita moschata). Perlakuan yang digunakan dalam penelitian yaitu F0 (tepung ikan kembung 0 g: tepung labu kuning 30g), F1 (tepung ikan kembung 10 g : tepung labu kuning 20 g), F2 (tepung ikan kembung 15 g : tepung labu kuning 15 g), F3 (tepung ikan kembung 20 g : tepung labu kuning 10 g). Parameter yang diuji meliputi kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat by difference, kadar serat dan uji hedonik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dianalisis dengan ANOVA dan diuji lanjut Duncan. Hasil uji hedonik dianalisis menggunakan Kruskal-wallis dengan K-Independent dan diuji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kue semprit hasil substitusi tepung ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) pada tepung labu kuning (Cucurbita moschata) memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap semua parameter proksimat kue semprit dan atribut organoleptik kue semprit, kecuali tekstur. Penambahan tepung ikan kembung pada formula dapat meningkatkan kadar protein hingga 12.09%, dan kadar lemak mencapai 21,69%, namun menurunkan kadar karbohidrat menjadi 63,73%, kadar air 0,27%, kadar abu 1,58%, dan kadar serat 4,56%. Kata kunci:  Cucurbita, tepung ikan kembung, tepung labu kuning, Rastrelliger, kue semprit
IDENTIFIKASI BAKTERI Escherichia coli PADA IKAN KERAPU (Epinephelus sp) SEGAR, AIR DAN ES PADA PEDAGANG PASAR BERSEHATI DI KOTA MANADO : Identification of Escherichia coli of Fresh Grouper Fish , Water and Ice Utilized in Fish Handling in Manado City Market Larawo, Junita Noni; Harikedua, Silvana D; Makapedua, Daisy; Mongi, Eunike; Damongilala, Lena Jeane; Pongoh, Jenki; Kaparang, Josefa Teti
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 12 No. 2 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.12.2.2024.57634

Abstract

E. coli bacteria is a common contaminant of fishery products. Improper handling, including the use of contaminated water and ice and exposure to unclean or polluted environments, can facilitate the transfer of bacteria to fish and other seafood products. In this instance, water is employed to remove impurities, including sand and mucus, and to inhibit bacterial growth. The use of ice is regarded as the most effective method for maintaining the quality of fresh fish during the marketing process. The results of microbiological tests are of great importance in determining the quality of fresh fish. The objective of this study was to identify the presence of E. coli bacteria in grouper fish, as well as in the water and ice utilized in fish handling at Bersehati market. The research method employed is descriptive research, whereby the state of fish handling in the field is first identified, samples are subsequently analyzed in a laboratory setting, and the data obtained is then interpreted. The APM value of E. coli in grouper fish exhibited a range of 23 APM/g to 93 APM/g. The water APM values ranged from 9.3 APM/mL to 43 APM/mL, while the ice APM values were 240 APM/mL. This indicates that some samples exceeded the microbial contamination limits set forth in the Indonesian’s standard for fish (less than 3 APM/g), water (less than 0 APM/mL), and ice (less than 3 APM/mL). Further biochemistry tests on the samples revealed negative E. coli results, despite the initial estimation and confirmation tests indicating a potential for E. coli contamination. However, the possibility of bacteria exhibiting similar properties to E. coli, namely Citrobacter, could not be ruled out Keywords:  Grouper Fish, Water, Ice, Escherichia coli, Biochemical Test   Bakteri E.coli merupakan salah satu bakteri yang umum ditemukan pada produk hasil perikanan, apabila penanganan yang dilakukan tidak tepat seperti  air dan es serta lingkungan yang tidak bersih atau tercemar. Dalam hal ini air digunakan untuk menghilangkan kotoran, pasir, lendir dan meminimalkan pertumbuhan bakteri dan penggunaan es dinilai sebagai teknik penanganan ikan segar yang paling tepat untuk dapat menjaga mutu ikan segar selama pemasaran. Uji mikrobiologis sangat penting artinya dalam penentuan mutu ikan segar. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi bakteri E.coli pada ikan kerapu serta air dan es yang digunakan pada penanganan ikan di pasar Bersehati. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif dengan mengidentifikasi keadaan penanganan ikan di lapangan dilanjutkan dengan menganalisis sampel di laboratorium dan menginterpretasikan data yang didapat. Nilai APM E. coli pada ikan kerapu berkisar antara 23 APM/g – 93 APM/g. Nilai APM air adalah 9,3 APM/mL-43 APM/mL, dan Nilai APM es 240 APM/mL. Hal ini menunjukan bahwa ada beberapa sampel melebihi batas cemaran mikroba sesuai SNI untuk ikan < 3 APM/g, untuk air <0 APM/mL, dan untuk es <3 APM/mL. Sampel yang diuji lanjutan dengan uji biokimia menunjukkan negatif E. coli walaupun saat uji perkiraan dan penegasan menunjukkan adanya kemungkinan cemaran E.coli namun kemungkinan adanya bakteri yang memiliki sifat yang sama dengan E.coli yaitu Citrobacter. Kata kunci:  Ikan kerapu, Air, Es, Escherichia coli, Uji Biokimia
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN PENERIMAAN KONSUMEN TERHADAP BAKSO SURIMI IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus var. sangkuriang) Febiwina, Febiwina; Diachanty, Seftylia; Irawan, Irman; Pamungkas, Bagus Fajar; Zuraida, Ita
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 12 No. 3 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fishball are processed fishery products that use mashed meat or surimi and mixed with tapioca flour as a thickener to improve the texture of the meatballs. This study aims to determine the physicochemical characteristics of catfish surimi fishtballs with the addition of tapioca flour and the best concentration of flour to produce meatballs that are liked by consumers. This research used surimi treatment of sangkuriang catfish and tapioca flour consisting of 100g surimi without tapioca flour (P0), 95g surimi : 5g tapioca flour (P1), 90g surimi : 10g tapioca flour (P2), 85g surimi : 15g tapioca flour (P3) and 80g surimi : 20g tapioca flour (P4). This research method used a completely randomized design (CRD) with chemical observations (moisture, ash, protein and fat content) physical (expressible moinsture content, color and folding test) and Kruskal-wallis observations for hedonic tests (taste, aroma, color and texture). The results showed that the ratio of catfish surimi and tapioca flour had a significant effect (p<0.05) on moisture content, ash content, protein, fat and expressible moinsture content, but did not have a significant effect (p>0.05) on the results of folding test and color of fishball. The addition of tapioca flour has a significant effect on the hedonic test on the parameters of taste, aroma, color and texture. 95g surimi : 5g tapioca flour (P1) is the best treatment with the average quality value on the parameters of taste, aroma, color, and texture is 7 (like).
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN PENERIMAAN KONSUMEN TERHADAP SOSIS IKAN LAYANG (Decapterus russelli) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG SAGU (Metroxylon sp.): Physicochemical Characteristics and Consumer Acceptance of Indian Scad Fish (Decapterus russelli) with Addition of Sago Starch (Metroxylon Sp.) Estinur; Zuraida, Ita; Andi Noor Asikin; Irman Irawan; Bagus Fajar Pamungkas
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 12 No. 3 (2024)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sausage is an emulsion product of fish meat which is added with fillers, binders and spices then put in an elliptical sleeve. The purpose of this study were to todetermine the physicochemical characteristics and consumer acceptance of Indian Scad (Decapterus russelli) sausage with the addition of sago flour Metroxylon sp. The research design used was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. The test parameters observed were proximate content, folding test, whiteness test, test expressible moisture content (EMC)and hedonic test. Data from the parameter test were analyzed for variability using ANOVA if the treatment had a significant effect followed by Duncan's test. The results showed that the physicochemical characteristics of Indian Scad sausage with the addition of sago flour were moisture content (40.02-42.58%), ash content (0.87-1.86%), fat content (0.05-0.14 %), protein content (9.89-13.51%) and carbohydrate content (41.90-49.16%). The degree of whiteness of the sausage ranged from 53.40-61.14%. The folding test has an average value of 5 which is included in the very elastic criteria (“AA”). The EMC value increased with the reduced concentration of fish meat and increased concentration of sago flour. The acceptance of Indian Scad sausage with the addition of sago flour that the panelists liked the most was at P4 (20%) with color 4.53 (rather like), aroma 5.17 (rather like), texture 5.67 (like), and taste 5.57 (like). Kata kunci:  sago flour, indian scad, physicochemical characteristics, consumer acceptence   Sosis merupakan produk emulsi daging ikan yang ditambahkan bahan pengisi, bahan pengikat dan bumbu-bumbu kemudian dimasukkan dalam selongsong berbentuk bulat panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dan penerimaan konsumen terhadap sosis ikan layang (Decapterus russelli) dengan penambahan tepung sagu Metroxylon sp. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan Parameter uji  yang diamati adalah proksimat, uji lipat, derajat putih, expressible moisture content (EMC) dan uji hedonik. Data dari uji parameter dianalisis keragamanya mengunakan ANOVA, jika perlakuan memberikan pengaruh nyata di lanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik fisikokimia sosis ikan layang dengan penambahan tepung sagu yaitu kadar air (40,02-42,58%), kadar abu (0,87-1,86%), kadar lemak (0,05-0,14%), kadar protein (9,89-13,51%) dan kadar karbohidrat (41,90-49,16%). Derajat putih sosis berkisar antara 53,40-61,14%. Uji lipat memiliki nilai rata-rata 5 masuk dalam kriteria sangat kenyal (“AA”). Nilai EMC makin mengalami peningkatan dengan berkurangnya konsentrasi daging ikan dan meningkatnya konsentrasi tepung sagu. Penerimaan sosis ikan layang dengan penambahan tepung sagu yang paling disukai panelis yaitu pada P4 (20%) dengan warna 4,53 (agak suka), aroma 5,17 (agak suka), tekstur 5,67 (suka), dan rasa 5,57 (suka). Kata kunci:  tepung sagu, ikan laying, karakteristik fisikokimia, penerimaan konsumen