cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Livestock and Animal Research
ISSN : 27215326     EISSN : 27217086     DOI : -
Core Subject : Health, Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 208 Documents
Hubungan Indeks Bentuk Telur dan Surface Area Telur terhadap Bobot Telur, Bobot Tetas, Persentase Bobot Tetas dan Mortalitas Embrio pada Itik Pengging tituk suselowati; Edy Kurnianto; Sri Kismiati
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 17, No 2 (2019): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4256.821 KB) | DOI: 10.20961/sainspet.v17i2.30212

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi bobot telur, bobot tetas, persentase bobot tetas dan mortalitas embrio berdasarkan ukuran indeks bentuk dan surface area telur itik Pengging. Penelitian menggunakan 1112 butir telur itik Pengging yang berasal dari 78 ekor jantan dan 772 ekor betina itik Pengging (nisbah perkawinan jantan : betina = 1:10). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari 3 kategori indeks bentuk telur atau surface area dengan 7 periode penetasan sebagai ulangan. Indeks bentuk adalah lonjong (68,78-78,93), normal (78,94-86,45) dan bulat (86,46-98,59) dan surface area adalah sempit (66,94-74,58 cm2), sedang (74,59-84,85 cm2) dan luas (84,86-110,70 cm2). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model klasifikasi satu arah dan regresi-korelasi antara indeks bentuk telur (X) dan surface area telur (Y). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara indeks bentuk telur dengan surface area telur, yang memiliki model persamaan regresi sederhana Y = 121,59998 – 0,50643X, R2 = 0,1376 dan berkorelasi negatif yaitu -0,37097. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa bobot telur, bobot tetas dan mortalitas total dipengaruhi oleh indeks bentuk telur maupun surface area telur (P<0,05). Mortalitas hari ke 8-25 tidak dipengaruhi oleh indeks bentuk telur, namun dipengaruhi oleh surface area telur (P<0,05). Persentase bobot tetas, mortalitas hari ke 1-7 dan hari ke 26-28 tidak dipengaruhi oleh indeks bentuk telur maupun surface area telur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah indeks bentuk telur lonjong serta surface area telur luas dipilih untuk mendapatkan bobot telur, bobot tetas dan persentase bobot tetas yang tinggi serta mortalitas embrio yang rendah pada itik Pengging. Kata Kunci: Itik Pengging, Indeks bentuk, Surface area, Regresi, Korelasi, Produktivitas
Sains Peternakan Vol. 17 (2) September 2019 Back Matter Chief Editor
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 17, No 2 (2019): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.722 KB) | DOI: 10.20961/sainspet.v17i2.40473

Abstract

Pengaruh Penggunaan Lidah Buaya (Aloe vera) dalam Ransum Terhadap Produktivitas Ayam Broiler Pejantan Prayogi Sunu; Zakaria Husein Abdurrahman
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 17, No 1 (2019): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.201 KB) | DOI: 10.20961/sainspet.v17i1.24348

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan lidah buaya (Aloe vera) dalam ransum terhadap produktivitas ayam broiler pejantan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola searah dilanjutkan dengan uji lanjut Duncans Multiple Range Test. Materi yang digunakan adalah 100 ekor DOC jantan yang dipelihara dalam 20 petak kandang yang terdiri dari 5 ekor ayam per unit percobaan. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu T0 = Ransum kontrol, T1 = ransum komersial dan lidah buaya 0,75 %, T2 = ransum komersial dan lidah buaya 1,5%, T3 = ransum komersial dan lidah buaya 2%. Peubah yang diteliti yaitu bobot badan, konsumsi ransum, dan Feed convertion ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian lidah buaya T3 sebanyak 2% dalam ransum berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan harian dan persentase karkas tetapi tidak berpengaruh meningkatkan konsumsi ransum  dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan konversi pakan (FCR) lebih baik karena nilainya lebih rendah dibandingkan dengan control.
Kualitas Fisik dan Organoleptik Bakso Berbahan Dasar Daging Ayam Broiler yang Diberi Pakan dengan Suplementasi Tepung Purslane (Portulaca oleraceae) Lilik Retna Kartikasari; Bayu Setya Hertanto; Ananda Septi Dwi Pamungkas; Inna Siswanti Saputri; Adi Magna Patriadi Nuhriawangsa
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 18, No 1 (2020): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.344 KB) | DOI: 10.20961/sainspet.v18i1.38738

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas fisik dan organoleptik bakso berbahan dasar daging ayam yang berasal dari ayam broiler yang diberi pakan dengan suplementasi tepung purslane sebagai sumber asam lemak omega-3. Materi penelitian menggunakan 30 sampel daging paha atas ayam broiler strain Cobb yang dipanen pada umur 42 hari dengan perlakuan ransum basal yang mengandung 1,5% minyak ikan sarden dan suplementasi tepung purslane dengan level yang berbeda. Perlakuan penelitian ini terdiri dari bakso daging ayam yang berasal dari ayam broiler yang diberi pakan dengan suplementasi tepung purslane 0% (P1);  6% (P2), 12% (P3), dan 18% (P4). Enam ekor ayam dari masing-masing perlakuan diproses menjadi karkas dan selanjutnya diambil daging paha atas (thigh) dikumpulkan untuk pembuatan bakso. Pengujian kualitas bakso meliputi pengujian kualitas fisik dan organoleptik. Data dianalisis menggunakan analisis variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan uji Tukey’s Test. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan daging ayam yang diberi pakan mengandung tepung purslane sampai level 18% tidak memberikan perbedaan terhadap kualitas fisik bakso (pH, daya ikat air, susut masak), kualitas organoleptik dan penerimaan konsumen, dibandingkan bakso dari daging ayam tanpa pemberian tepung purslane. Disimpulkan bahwa bakso yang mengandung daging ayam yang diberi pakan dengan suplementasi tepung purslane sampai level 18% dapat diaplikasikan pada pembuatan bakso tanpa merubah kualitas fisik dan organoleptik bakso.
PROFIL SALURAN PENCERNAAN ITIK TEGAL BETINA YANG DIBERI PAKAN TAMBAHAN KOMBINASI LIMBAH EKSTRAK DAUN PEPAYA DAN BAKTERI ASAM LAKTAT Ari Fandi; Rina Muryani; Edjeng Suprijatna
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 17, No 1 (2019): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.446 KB) | DOI: 10.20961/sainspet.v17i1.25120

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemanfaatan limbah ekstrak daun pepaya (EDP) yang dikombinasikan dengan bakteri asam laktat (BAL) sebagai pakan tambahan terhadap profil saluran pencernaan itik tegal. Penelitian ini menggunakan 96 itik tegal betina berumur 22 minggu dan diberi 4 macam perlakuan yang terdiri dari 4 ulangan pada tiap perlakuannya. Perlakuan pada pakan adalah T0 = Pakan basal, T1 = Pakan basal + 1% (EDP+BAL), T2 = Pakan basal + 2% (EDP+BAL), dan T3 = Pakan basal + 3% (EDP+BAL. Parameter yang diamati adalah bobot relatif hati, usus halus, ventrikulus serta panjang jejenum, ileum, duodenum dan sekum. Data yang diperoleh di analisis menggunakan analisis ragam. Hasil penelitian menunjukan penambahan EDP+BAL pada pakan tidak berpengaruh signifikan terhadap panjang dan bobot saluran pencernaan.
Kualitas Tampilan Vulva dan Tanda-Tanda Berahi pada Kambing Peranakan Etawah yang diberi Ekstrak Buah Parijoto (Medinilla speciosa) Dwi Wijayanti; Firgian Ardigurnita
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 18, No 1 (2020): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.033 KB) | DOI: 10.20961/sainspet.v18i1.34258

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat tampilan kondisi vulva dan tanda-tanda berahi pada kambing Peranakan Etawah yang diberi ekstrak buah Parijoto (Medinilla speciosa). Materi yang digunakan 16 ekor kambing Peranakan Etawah betina umur 1,5-2 tahun dengan bobot badan 80±0,57 kg. Parameter yang diambil yaitu panjang vulva (cm), lebar vulva (cm), sekreta lendir (skor 1 sampai skor 3), warna vulva (warna putih, merah muda dan merah), suhu vulva (oC) dan tanda-tanda berahi. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap, 4 perlakuan dan 4 ulangan (0 mg/ekor/bb, 150 mg/ekor/bb, 200 mg/ekor/bb dan 250 mg/ekor/bb). Hasil yang didapat yaitu kualitas tampilan vulva dari panjang dan lebar vulva tidak berbeda nyata (P>0,05) semua perlakuan sampai hari ke-21 pemberian ekstrak buah Parijoto hingga dosis 250 mg/ekor/bb masing-masing adalah 3,37±0,63 cm dan 1,25±0,25 cm. Sekreta lendir, warna vulva dan suhu vulva pada hari ke-21 pemberian ekstrak buah Parijoto dengan dosis 250 mg/ekor/bb menunjukkan sekreta lendir bening dalam jumlah banyak (2,75±0,50), vulva berwarna merah muda dengan suhu 38°C yang diikuti dengan munculnya tanda-tanda berahi untuk bersedia dinaiki pejantan mengalami kenaikan hingga 4 kali pada dosis 250 mg/ekor/bb. Kesimpulannya pemberian ekstrak buah Parijoto sampai level dosis 250 mg/ekor/bb dapat meningkatkan kualitas tampilan vulva dan betina bersedia dinaiki pejantan.
Uji In Vitro Antibakteri Ekstrak Bawang Putih sebagai Bahan Alami untuk Celup Puting Purwantiningsih, Theresia Ika; Rusae, Aloysius; Freitas, Zakarias
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 17, No 1 (2019): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.332 KB) | DOI: 10.20961/sainspet.v17i1.23940

Abstract

Mastitis merupakan salah satu penyakit yang menyerang sapi perah yang dapat menyebabkan penurunan kualitas dan produksi susu. Sebagian besar mastitis disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Eschrichia coli. Salah satu cara untuk meminimalisir mastitis adalah dengan melakukan celup puting setelah pemerahan. Umumnya celup puting menggunakan desinfektan yang menyebabkan residu di dalam susu. Penggunaan bahan alam menjadi alternatif untuk campuran larutan celup puting. Salah satu bahan alam yang bisa digunakan untuk larutan celup puting adalah bawang putih. Bawang putih mengandung allicin yang berfungsi sebagai antibakteri alami. Penelitian ini bertujuan untuk mencari bahan alternatif lain untuk celup puting. Uji in vitro antibakteri dilakukan untuk membuktikan bahwa bawang putih mempunyai kemampuan menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Uji statistik menunjukkan hasil yang signifikan. Larutan ekstrak bawang putih konsentrasi 25% dan 30% menampakkan hasil yang tidak berbeda dengan larutan antibakteri komersial. Sehingga larutan ekstrak bawang putih konsentrasi 25% dapat menggantikan larutan antibakteri komersial untuk celup puting.
Profil Protein Darah Sapi Perah Masa Transisi dengan Indigofera zollingeriana Sebagai Pengganti Konsentrat Serta Penambahan Mineral dalam Pakan Andika Hendy Permana; Iman Hernaman; Novi Mayasari
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 18, No 1 (2020): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.662 KB) | DOI: 10.20961/sainspet.v18i1.37981

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika profil protein (total protein, albumin dan globulin) plasma darah sapi perah pada masa transisi dengan Indigofera zollingeriana sebagai pengganti sebagian konsentrat serta penambahan mineral dalam pakan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dua puluh sapi perah Friesian Holstein (FH) dengan usia kebuntingan 7-8 bulan dibagi ke dalam empat perlakuan yaitu IZ0= 45% Rumput Gajah + 55% Konsentrat, IZ15= 45% Rumput Gajah + 40% Konsentrat + 15% Indigofera zollingeriana, IZ0M= 45% Rumput Gajah + 55% Konsentrat + 0,3 mg/Kg BK Se + 40 mg/kg BK Zn, IZ15M = 45% Rumput Gajah + 40% Konsentrat + 15% Indigofera zollingeriana + 0,3 mg/Kg BK Se + 40 mg/Kg BK Zn. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa sapi perah bunting yang diberikan Indigofera zolingeriana pada masa transisi menghasilkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai total protein, albumin dan globulin plasma darah sapi perah. Dinamika plasma albumin (-2, -1, 0, 1, 2) menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap perlakuan pada berbagai minggu relatif beranak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Indigofera zollingeriana dan penambahan mineral dalam ransum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap profil protein plasma darah (total protein, albumin, dan globulin) sapi perah pada masa transisi.