cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Identification of the Aquifer Occurrences in Sungai Raya and Its Surroundings, Bengkayang, West Kalimantan Cakrabuana, Wira; Fauzi, Rachman; Karunianto, Adhika Junara; Muhammad, Adi Gunawan; Widodo, Widodo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 3 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i3.417

Abstract

A hydrogeological study was carried out in Sungai Raya Village, Bengkayang Regency, West Kalimantan Province. The objectives of the study were to identify the occurrences of the aquifer in Sungai Raya, along with its type, depth, distribution, and quality. The methods used in this study were literature studies of geological data and geoelectrical measurement. Based on the literature study, it was known that the study area, from the oldest to the youngest, consists of andesite, granodiorite, diorite, quartz sand deposit, littoral deposit, and alluvial deposit. Based on the geoelectrical measurement, it resulted that most of the subsurface layers recorded by the instrument are alluvial deposit (characterized by their low-resistivity value) which is underlaid by the bodies of igneous rocks, i.e. diorite and andesite (characterized by its high-resistivity value). Based on the comprehensive analysis, there are two aquifers in the study area, they are alluvial deposit and quartz sand deposit. Both of them are unconfined aquifers. The aquifers can be found at the surface to the depth of ±100 m. It can be inferred that the aquifers relatively deepen to the north and east. The quartz sand deposit is a better aquifer since it has better sorting and more-open fabric than the alluvial deposit which provides the deposit a larger capacity for storing and transmitting groundwater.
Analisis Ancaman Banjir Bandang Sungai Sanduai dan Anggris Distrik Wasior Kabupaten Teluk Wondama Mamengko, David Victor; Samberi, Simson; Auri, Yan F.A.; Kusumo, Pribowo A.; Rohmala, Fajar K.; Hametang, Ananda R.Y.; Wurarah, Rully N.
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 3 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i3.448

Abstract

Banjir bandang Wasior dikategorikan sebagai aliran rombakan (debris flow ) yang dipicu oleh curah hujan tinggi, kondisi lereng ekstrem (70°) intensitas struktur geologi, jenis batuan, dan peningkatan aliran limpasan. Pemetaan zonasi tingkat ancaman banjir bandang merupakan salah satu upaya pengurangan ancaman banjir bandang. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) menjadi pendekatan penentuan bobot dan nilai tiap parameter, dan melalui analisis spasial yang digunakan dimaksudkan untuk menentukan tingkat ancaman banjir bandang. Zonasi tingkat ancaman risiko banjir bandang di Wasior khususnya di Sungai Sanduai dan Sungai Anggris diklasifikasikan berdasarkan empat tahapan, yaitu: analisis parameter kriteria; analisis AHP; reclassify dan kalkulasi data raster . Data primer berasal dari identifikasi titik ancaman gerakan tanah dan pemetaan drone sebagai informasi penggunaan lahan. Data sekunder diperoleh dari institusi wali data seperti Badan Geologi (bentuk lahan, litologi dan sesar), Badan Informasi Geospasial (kemiringan lereng, ketinggian, dan jarak dari sungai). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) kelas tingkat ancaman banjir bandang di Kecamatan Wasior, yaitu: tingkat ancaman tinggi berada di area-area pemukiman, infrastruktur, dan bantaran sungai di Sungai Sanduai dan Anggris; tingkat ancaman sedang terletak pada pinggiran Sungai Sanduai dan Anggris sebagai jejak longsoran dan sumber material banjir bandang; dan tingkat ancaman rendah berada pada wilayah dataran rendah. Luasan zona tingkat ancaman tinggi banjir mencapai 291,48 hektar, zona tingkat ancaman sedang sekitar 355,72 hektar dan zona tingkat ancaman rendah mencapai 4515,71 hektar. Kampung Moru, Kampung Wasior I, Kampung Wasior II, dan Kampung Maniwak merupakan kampung-kampung prioritas dalam pengelolaan pengurangan risiko bencana di Kabupaten Teluk Wondama.Kata kunci: Ancaman Banjir Bandang, Analytical Hierarchy Process, Sungai Anggris, Sungai Sanduai, Wasior
Dosis Radiasi Gamma Beragam Jenis Batuan di Wilayah Utara Pulau Bangka Irzon, Ronaldo; Kurnia, Kurnia; Rohiman, Asep; Yurnaldi, Dida; Kusworo, Aries
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 3 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i3.444

Abstract

Radioaktivitas dapat terjadi secara alami maupun disebabkan oleh aktifitas manusia. Salah satu radioaktivitas alami terdapat pada batuan yang bergantung kepada jenis dan komposisinya. Studi ini bermaksud untuk menjelaskan dosis radiasi beberapa jenis batuan yang teradapat di wilayah Pulau Bangka bagian utara. Perangkat Geiger–Müller counter tipe FH 40 G Multi-Purpose Digital Survey Meter dari Thermo dipergunakan untuk mengukur dosis radiasi batuan pada penelitian ini. Pengukuran pada setiap sampel dilakukan setidaknya tiga kali dan nilainya telah diolah secara statistik untuk menapatkan hasil yang valid. Jenis batuan dengan tingkat dosis radiasi tertinggi hingga terendah adalah granit, sedimen tersilisifikasi, sedimen, dan diabas dengan rerata 466 nSv/h, 116 nSv/h, 90 nSv/h, dan 74 nSv/h secara berurutan. Penelitian ini membuktikan bahwa granit adalah bahan bangunan utama yang digunakan oleh masyarakat Pulau Bangka meskipun batuan tersebut memiliki resiko radioaktif terbesar relatif terhadap jenis batuan lain.
Potensi Geologi dan Kegempaan untuk Pembangunan Jembatan Tol dan Ka di Lajur Transek Padalarang – Purwakarta Soehaimi, Dipl.Seis, Asdani; Setianegara, Robby; Baskoro, S.R. Sinung; Sopyan, Yayan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i2.409

Abstract

ABSTRAKTransek geologi Padalarang-Purwakarta sesuai SNI 1726:2019 dan SNI 2833:2016, menunjukan Padalarang dan sekitarnya terletak pada PGA=0,3-0,4g, PSA Ss 0,2 dt=0,6-0,7g dan PSA S1 1 dt=0,3-0,4g dan Purwakarta dan sekitarnya terletak pada PGA=0,25-0,3g, PSA Ss 0,2 dt =0,5-0,6g dan PSA S1 1 dt =0,25-0,3g, pada situs SB, dengan probabilitas 7% dala 75 tahun. Hasil penilaian  potensi bencana gempabumi lajur transek ini, menunjukan Padalarang dan Purwakarta pada kelas situs SC dan SD merupakan bagian dari  zona gempabumi D (SD1> 0,50g). Gaya Gempabumi Horizontal Statis (EQ)  pada kelas situs SC dan SD pada periode T=0,1 detik di Padalarang adalah 0,64 Wt dan 0,70 Wt dan di Purwakarta 0,68 Wt dan 0,70 Wt. Gaya Gempabumi Horizontal Statis (EQ) pada kelas situs SC dan SD untuk periode lebih besar atau sama dengan T0, dan lebih kecil atau sama dengan TS di Padalarang adalah 0,77 Wt dan 0,84 Wt dan di Purwakarta 0,84 Wt dan 0,84 Wt. Gaya Gempabumi Horizontal Statis (EQ) pada kelas situs SC dan SD untuk periode lebih besar dari TS untuk 2 detik di Padalarang adalah 0,28 Wt dan 0,32 Wt dan di Purwakarta 0,27 Wt dan 0,32 Wt.Indek potensi bencana gempabumi di lajur transek geologi Padalarang-Purwakarta ini, diharapkan dapat dijadikan data dasar penilaian potensi bencana dan risiko gempabumi untuk pembangunan infrastruktur jembatan KA dan Tol. Kata Kunci: Potensi Geologi, Bencana  dan Risiko Gempabumi ABSTRACTThe geological transect of Padalarang-Purwakarta according to SNI 1726:2019 and SNI 2833:2016, shows Padalarang and its surroundings are located at PGA=0.3-0.4g, PSA Ss 0.2 second=0.6-0.7g and PSA S1 1 second=0.3-0.4g and Purwakarta and its surroundings are located at PGA=0.25-0.3g, PSA Ss 0.2 second =0.5-0.6g and PSA S1 1 second =0.25-0.3g, at the SB site class, with a 7% probability at 75 years. The results of the the potential earthquake disasters assessment on this transect  show that Padalarang and Purwakarta in the SC and SD site classes are part of the D earthquake zone (SD1> 0.50g). Horizontal Static Earthquake Forces (EQ) on site class SC and SD at period T=0.1 second in Padalarang are 0.64 Wt and 0.70 Wt and 0.68 Wt and 0.70 Wt in Purwakarta. Horizontal Static Earthquake Forces (EQ) on site classes SC and SD for periods greater than or equal to T0, and less than or equal to TS in Padalarang are 0.77 Wt and 0.84 Wt and in Purwakarta 0.84 Wt and 0 ,84 Wt. Horizontal Static Earthquake Forces (EQ) on site class SC and SD for periods greater than TS for 2 seconds in Padalarang are 0.28 Wt and 0.32 Wt and in Purwakarta 0.27 Wt and 0.32 Wt.The index of the potential for earthquake disasters in the Padalarang-Purwakarta geological transect  is expected to be used as the basic data for assessing the potential for earthquake disasters risks for the construction of railway and toll bridge infrastructure. Keywords: Geological Potential,  Earthquake Disaster and Risk
Analytic Hierarchy Process pada Evaluasi Kejadian Longsor di Kecamatan Samigaluh Kulon Progo, D.I. Yogyakarta Apriani, Ani; Putra, Bayurohman Pangacella; Alfariji, Moh.; Habib, Juhair Al; Trisnaning, Paramitha Tedja
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i2.403

Abstract

ABSTRAK Kondisi geografis Indonesia yang heterogen dengan kemiringan cukup tinggi menjadi potensi terjadinya bencana tanah longsor. Meskipun tanah longsor terjadi juga karena faktor yang memicu seperti curah hujan dan tata guna lahan. Daerah yang kerap terjadi tanah longsor yaitu Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulon Progo. Menganalisa penyebab terjadinya tanah longsor di daerah tersebut menjadi penting dilakukan agar penanganan dan pengendalian dilakukan sedini mungkin. Faktor pengontrol yang dianalisa yaitu kelerengan, litologi, kerapatan vegetasi dan jenis tanah sedangkan faktor pemicu yaitu curah hujan dan tata guna lahan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar faktor pengontrol dan pemicu tersebut terhadap terjadinya tanah longsor di Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulon Progo. Penelitian melalui beberapa tahapan yaitu pengambilan data primer dilapangan dan data sekunder yang didapatkan dari peta rupa bumi Indonesia, peta geologi dan pengolahan citra landsat. Analisa data dilakukan secara kuantitatif menggunakan AHP (Analytical Hierarchy Process). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kelerengan menjadi penyebab terbesar terjadinya tanah longsor di Kecamatan Samigaluh yaitu 33,3%, curah hujan 22,8%, litologi 17%, tata guna lahan 11,8%, kerapatan vegetasi 8,8% dan jenis tanah 5,8%. Dengan diketahuinya penyebab terjadinya tanah longsor diharapkan masyarakat lebih berhati-hati dalam pemilihan lahan permukiman serta pemerintah dapat membuat kebijakan tentang pola tata ruang.Kata kunci: AHP, Kelerengan, Samigaluh,Tanah longsor ABSTRACT The heterogeneous geographical condition of Indonesia with a fairly high slope is a potential for landslide disasters. Although landslides also occur due to triggering factors such as rainfall and land use. Areas that often occur landslides are Samigaluh District, Kulon Progo Regency. Analyzing the causes of landslides in the area is important so that handling and control is carried out as early as possible. The analyzed controlling factors were slope, lithology, vegetation density and soil type, while the trigger factors were rainfall and land use. The purpose of this study was to determine how much the controlling and triggering factors for the occurrence of landslides in Samigaluh District, Kulon Progo Regency. The research went through several stages, namely primary data collection in the field and secondary data obtained from Indonesian topographic maps, geological maps and landsat image processing. Data analysis was carried out quantitatively using AHP (Analytical Hierarchy Process). The results showed that the slope factor was the biggest cause of landslides in Samigaluh District, namely 33.3%, rainfall 22.8%, lithology 17%, land use 11.8%, vegetation density 8.8% and soil type 5,8%. By knowing the causes of landslides, it is hoped that people will be more careful in choosing residential land and the government can make policies on spatial patterns. Keywords: AHP, Slopes, Samigaluh, Landslide
Simulasi Morfodinamika Longsor Kalisari, Kabupaten Magelang Berdasarkan Data LiDAR dan Model Numerik Samodra, Guruh
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i2.404

Abstract

ABSTRAK Simulasi morfodinamika longsor dapat digunakan untuk memprediksi proses dan hasil proses geomorfologi di masa mendatang. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan topografi Longsor Kalisari secara rinci dengan menggunakan UAV LiDAR dan memodelkan secara spasial morfodinamika Longsor Kalisari di masa mendatang khusunya jarak luncur, area yang mungkin terpapar, kecepatan, dan ketebalan material longsoran. Metode yang digunakan meliputi pemetaan topografi, estimasi volume material yang akan longsor (initial source), penentuan reologi, dan pemodelan spasial morfodinamika longsor. Model elevasi digital (DEM) yang terdiri atas model permukaan digital (DSM) dan model medan digital (DTM)dihasilkan dari fotogrametri Unmanned Aerial Vehicle (UAV) foto udara dan LiDAR. Penentuan volume longsor awal berdasarkan data geolistrik dan model medan digital. Reologi material longsor ditentukan berdasarkan uji laboratorium sampel tanah. Pemodelan spasial morfodinamika longsor menggunakan model numerik berbasis raster. Pemetaan topografi menggunakan UAV LiDAR sangat superior dibandingkan dengan menggunakan Structure-from-Motion (SfM) foto udara. Pemindaian dengan LiDAR dapat menghasilkan model medan dengan mengeliminasi kenampakan vegetasi. Kombinasi teknologi LiDAR dan pemodelan numerik dapat diandalkan untuk memprediksi morfodinamika Longsor Kalisari di masa mendatang. Hasil pemodelan morfodinamika dapat dikonversi menjadi peta kerawanan longsor yang dapat digunakan sebagai acuan perencanaan penggunaan lahan berbasis pengurangan risiko bencana longsor pada skala rinci.Kata kunci: geomorfologi, morfodinamika longsor, LiDAR, model numerik ABSTRACT Landslide morphodynamic analysis can be employed to predict geomorphological processes and landforms in the future. The objectives of the research are to map detailed topographical features of Kalisari Landslide using UAV LiDAR and to model its morphodynamic spatially including runout distance, inundated area, velocity and height of the material. Digital Elevation Model (DEM) consisting of Digital Surface Model (DSM) and Digital Terrain Models (DTM) were obtained from UAV photography and LiDAR. The volume of material was estimated from elecrical resistivity data and DTM. Rheology was estimated from the laboratory soil test. Landslide morphodynamics were generated from raster-based numerical model. Topographic mapping using LiDAR is more superior to that of UAV photogrammetry. LiDAR scanning can generate digital terrain model by eliminating vegetation. The combination of UAV LiDAR and numerical model can be well-implemented to predict the morphodynamic of future Kalisari Landslide. The results of the model can be directly converted to landslide susceptibility map which can be used as a reference for large scale/ detailed land use planning based on landslide disaster risk reduction. Keywords: geomorphology, landslide morphodynamic, LiDAR, numerical model
Perbandingan Perilaku Gempa Bumi Susulan Pidie Jaya (7 Desember 2016) dan Ambon (26 September 2019) Anwar, Samsul; Maulia, Faiza; Salwa, Nany
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i2.349

Abstract

Aceh dan Maluku merupakan dua wilayah yang terletak pada pertemuan lempeng tektonik dunia sehingga banyak mengalami kejadian gempa bumi. Gempa bumi utama pada umumnya diikuti oleh gempa bumi susulan dengan kekuatan dan intensitas yang berbeda-beda. Gempa bumi Pidie Jaya (Provinsi Aceh) pada tanggal 7 Desember 2016 memiliki kesamaan karakter dengan gempa bumi Ambon (Provinsi Maluku) pada tanggal 26 September 2019. Kedua gempa bumi tersebut memiliki magnitudo 6,5 dengan kedalaman yang dangkal (< 60 km). Meskipun kedua gempa bumi utama tersebut memiliki karakter yang sama, namun kerusakan dan korban jiwa yang diakibatkan keduanya berbeda sehingga perlu dilakukan perbandingan perilaku gempa bumi susulan di kedua wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perilaku gempa bumi susulan pasca gempa bumi utama di Pidie Jaya tahun 2016 dan Ambon tahun 2019. Penelitian ini menggunakan tiga fungsi lifetime analysis dalam menganalisis perilaku gempa bumi susulan, yaitu probability density function (PDF), reliabilitas, dan hazard. Data yang digunakan bersumber dari BMKG berupa selisih waktu terjadinya gempa bumi susulan terhadap gempa bumi utamanya. Melalui graphical analysis, diketahui bahwa data selisih waktu gempa bumi susulan Pidie Jaya mengikuti distribusi lognormal, sedangkan data selisih waktu gempa bumi susulan Ambon mengikuti distribusi weibull. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gempa bumi susulan Pidie Jaya berpeluang besar untuk terjadi dengan intensitas yang tinggi pada 2 hari pertama setelah gempa bumi utamanya, sedangkan gempa bumi susulan Ambon cenderung terjadi dengan intensitas yang lebih merata selama periode pengamatan. Hasil pengujian log rank test membuktikan adanya perbedaan yang signifikan antara kurva reliabilitas gempa bumi susulan di wilayah Pidie Jaya dan Ambon. AbstractAceh and Maluku are two areas located at the confluence of the world's tectonic plates so that they experience many earthquakes. Mainshocks are typically followed by aftershocks with different magnitudes and intensities. The Pidie Jaya (Aceh Province) earthquake on December 7, 2016, has similar character with the Ambon (Maluku Province) earthquake on September 26, 2019. Both earthquakes have magnitudes of 6.5 with a shallow depth (< 60 km). Although those earthquakes possessed a similar character, the damage and casualties caused were different, so it is necessary to compare the aftershocks behavior following the mainshock in those two regions. This study aims to compare the aftershocks behavior following the mainshock of Pidie Jaya in 2016 and Ambon in 2019. This study utilizes three lifetime analysis functions in analyzing the aftershocks behavior, namely the probability density function (PDF), reliability and hazard function. The data employed sourced from BMKG, namely the time difference between aftershocks and the mainshock. Through graphical analysis, it is known that the time difference data for Pidie Jaya aftershocks follows a lognormal distribution, while the time difference data for Ambon aftershocks follows a weibull distribution. The results showed that the Pidie Jaya aftershock had a high probability of occurring with high intensity in the first 2 days after the mainshock, while the Ambon aftershock tends to happen with more even intensity during the observed periods. The log rank test results prove there is a significant difference between the reliability curves of the aftershocks in the Pidie Jaya and Ambon regions.
Potensi Penurunan Tanah pada Endapan Danau Bandung Berdasarkan Karakteristik Sifat Keteknikan Lempung di Daerah Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung Widyaningrum, Risna; Muslim, Dicky; Mulyo, Agung; Buana, Taufiq Wira
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v13i2.355

Abstract

ABSTRAK Cekungan Bandung merupakan kawasan strategis nasional, dengan populasi penduduk cukup besar dan kegiatan pembangunan sangat massif. Cekungan Bandung merupakan dataran antarpegunungan yang diisi oleh endapan sedimen lempung, lanau, pasir yang dikatagorikan sebagai lempung endapan danau, yang dapat menimbulkan permasalahan penurunan muka tanah. Tulisan ini menyajikan gambaran karakteristik sifat lempung danau bawah permukaan yang dikaitkan dengan penurunan muka tanah yang ada di lokasi Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan yaitu pemboran inti disertai uji SPT, pengujian dissipasi dan pengujian laboratororium geologi teknik meliputi sifat fisik dan uji konsolidasi. Hasil analisa menunjukkan bahwa sifat fisik memperlihatkan distribusi butiran kandungan lempung 48.81 – 63,64% dan lanau 46,17 – 76,47% kadar air berkisar 33,84 - 98,76%, indeks plastis 11,11-61,68% dan indeks kompresi 0,1037 – 1,0818 yang diklasifikasikan sebagai tanah lempung plastisitas rendah hingga tinggi (CH/MH) dengan aktivitas tinggi. Karakter lempung bawah permukaan di Solokan Jeruk mempunyai nilai indeks kompresbilitas 0,4475-2,6320 dan konsolidasi 6,68 x 10-4-3,92 x 10-4. Pada kedalaman 12-40 m mengindikasikan adanya ancaman potensi penurunan muka tanah di masa mendatang.Kata kunci: Kabupaten Bandung, lempung, konsolidasi, penurunan tanahABSTRACT The Bandung Basin is a national strategic area, where the population is quite large and development activities are very massive. The Bandung Basin is an inter-mountainous plain filled by sedimentary deposits of clay, silt, sand which are categorized as lake sedimentary, which can cause land subsidence problems. This paper presents a description of the characteristics of the clay properties in relation to land subsidence in the area of Solokan Jeruk, Bandung Regency. The method used is core drilling with SPT test, dissipation test and engineering geology laboratory testing including physical properties and consolidation test. The results of the analysis showed that the physical properties showed the grain distribution of clay content of 48.81-63.64% and silt 46.17-76.47%, water content ranging from 33.84 to 98.76%, plastic index 11.11- 61.68% and compression index 0.1037-1.0818 which is classified as low to high plasticity clay (CH/MH) with high activity. The subsurface clay character in Selokan Jeruk has a compressibility index 0.4475 - 2.6320 and a consolidation value of 6.68 x 10-4 - 3.92 x 10-4. A depth of 12-40 m indicates a potential of land subsidence in the future. Keywords: Bandung Regency, clay, consolidation, land subsidence
Penilaian Bahaya Banjir Bandang Berdasarkan Skenario Genangan Menggunakan Analisis Spasial dan Pemodelan Hidrodinamik Sabriyati, S.Pd., M.Sc, Deni
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v14i1.428

Abstract

Banjir bandang merupakan salah satu bencana alam yang menyebabkan kerugian besar di Indonesia. Bencana ini berawal dari hujan berintensitas tinggi, terjadi dengan cepat dalam waktu relatif singkat. Simulasi kejadian banjir berdasarkan periode ulang dapat digunakan guna memprediksi potensi bahaya banjir. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan potensi bahaya banjir bandang berdasarkan scenario banjir pada periode ulang 2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun yang berlokasi di Sub-DAS Bt. Kuranji, Provinsi Sumatera Barat. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan memodelkan proses hidrodinamik menggunakan analisis SIG. Metode yang digunakan meliputi pemetaan morfometri DAS, estimasi MAP dan hujan rencana berdasarkan periode ulang (2, 5, 10, 20, 50 dan 100 tahun), memodelkan hidrodraf banjir dan pemodelan spasial genangan banjir. Data yang digunakan adalah data curah hujan 38 tahun, historical banjir bandang, Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), Peta Jenis Tanah, Peta Penggunaan Lahan, Peta Adminsitrasi Kota Padang, dan DEM IFSAR resolusi tinggi. Untuk mencapai tujian yang diinginkan, prosedur dalam pengolahan data yaitu: (1) analisis morfometri menggunakan HEC-GeoHMS; (2) analisis hidrologi untuk menghasilkan besaran MAP, nilai SCS-CN, dan hidrograf banjir bandang dari model HEC-HMS; (3) analisis hidrolika sebagai analisis 3D dan spasial untuk menghasilkan limpasan dari model HEC-RAS. Analisis hidrologi dilakukan pada periode ulang 2, 5, 10, 20, 50, dan 100 tahun, potensi banjir terbesar adalah periode ulang 100 tahun dengan waktu puncak (Tp) 3 jam dari saat mulai hujan dengan debit banjir yang dihasilkan adalah 725 m3 /dt. Besaran debit banjir merupakan data input untuk scenario genangan banjir pada analisis hidrolika yang menghasilkan luasan, kecepatan, dan kedalaman banjir. Berdasarkan tingkat kedalaman banjir yang dihasilkan, periode ulang banjir 100 tahun dapat melanda 20 kelurahan dengan luasan 296,8 Ha dan kedalaman aliran mencapai >1,5m. Pada periode ulang yang sama, berdasarkan tingkat kecepatan aliran yang dihasilkan, penelitian menunjukkan aliran tercepat mencapai >1 m/dt dengan luasan 35,1 Ha. Kata kunci: Bahaya Banji Bandang, GIS, HEC-HMS, HEC-RAS dan Pemodelan Hidrodinamik
Optimasi Kurva HVSR, Kemiringan Lereng dan Informasi Geologi untuk Pemetaan Vs30 dan Kerentanan Seismik Wilayah Likupang Cipta, Athanasius; Afif, Haunan; Pradipto, M Arifin J.; Solikhin, Akhmad; Omang, Amalfi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v14i1.463

Abstract

Teknik Nakamura adalah salahsatu pendekatan paling populer untumenghitung kerentanan seismik. Namun tentu saja ada keterbatasan dalam penerapan teknik ini, yang seringkali diabaikan oleh peneliti pemula. Teknik Nakamura disusun dengan asumsi kecepatan gelombang geser pada batuan dasar = 600 m/s sehingga harus ada pemilahan frekuensi alamiah pada rentang tertentu agar teknik ini menghasilkan estimasi kerentanan seismik yang andal. Selanjutnya, informasi geologi dan kelerangan sangat diperlukan dalam penentuan lokasi titik ukur mikrotremor. Pemilihan titik ukur mikrotremor yang tepat memungkinkan dilakukannya pembuatan formula regresi antara kerentanan seismik dengan parameter geologi dan kemiringan lereng. Penerapan teknik Nakamura dengan terhadap data HVSR dengan distribusi spasial yang mempertimbangkan informasi geologi dan kelerengan menghasilkan peta kerentanan seismik yang berdayaguna. Kata kunci: Teknik Nakamura, HVSR, kemiringan lereng, kerentanan seismik ABSTRACTOwing to its simplicity, Nakamura Technique is one of the most popular approach for estimating seismic vulnerability index. However, this technique contains some limitations in which undergraduate students and early career researchers frequently disobey. The technique was composed by assuming shear-wave velocity on bedrock equals to 600 m/s. Consequently, only natural frequencies in a certain range match well with the technnique. Furthermore, information regarding geological condition and slope should be highly considered in designing of acquisition sites of microvibration. The right choice of microtremor sites allows us to create regression formula relates seismic vulnerability index with geologic parameters and slope. Applying Nakamura technique to a set of well spatially distributed HVSR data resulting in a robust seismic vulnerability map. Key words : Nakamura Technique,HVSR, slope, seismic vulnerability