MUDRA Jurnal Seni Budaya
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles
16 Documents
Search results for
, issue
"Vol 35 No 2 (2020): Mei"
:
16 Documents
clear
Maskot Kota Yogyakarta
Paku Kusuma;
Dharsono Dharsono;
Dwi Marianto;
Guntur Guntur
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i2.1052
Maskot tidak sekedar bentuk yang tanpa makna, didalamnya terdapat nilai filosofis yang membawa pesan penting dari suatu cita-cita bersama. Sistem identitas menjadi penghubung antara kajian keberadaan maskot dan kebutuhan pencitraan suatu daerah. Setiap daerah, tentu saja memiliki keunikan yang membedakan dengan daerah lainnya; keunikan tersebut akan memberikan keuntungan tersendiri bagi entitas yang ada dalam ruang lingkupnya. Begitu pula untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, yang meskipun notabene telah menyandang predikat daerah istimewa akan tetapi perlu juga dipikirkan membangun identitas wilayahnya sebagai asosiasi penguatnya. Fokus dalam penelitian kualitatif ini akan menguak sejauh mana peran Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam proses pemikiran membuat “maskot†yang menunjukan keistimewaannya. Kajian penulisan dengan penekanan pandangan kebudayaan melalui UU keistimewaan D.I. Yogyakarta yang disandingkan dengan pemikiran mengenai pencitraan kota.
Peranan Moral Dalam Mengapresiasi Hasil Karya Seni
Ni Wayan Masyuni Sujayanthi
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i2.1053
Hasil karya khususnya dalam bidang seni merupakan hasil buah pikir dari manusia dengan mengolah rasa, cipta, dan karsa yang diwujudkan dalam bentuk karya seni, baik seni tari, seni karawitan, seni pedalangan dan seni musik yang dapat dinikmati oleh masyarakat, namun dalam mengapresiasi hasil karya seni seseorang seringkali dilakukan dengan memperbanyak hasil karya seni tanpa ijin dari pencipta. Berdasarkan fenomena tersebut maka fokus pembahasan dalam penelitian ini adalah bagaimana pentingnya peranan moral dalam mengapresiasi hasil karya seni ? dengan tujuan mampu memotivasi para seniman untuk menghasilkan karya seni yang kreatif dan inovatif tanpa terbebani dengan tindakan plagiat yang sering terjadi dalam masyarakat. Metode penelitan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggambarkan berdasarkan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat terkait dengan tindakan plagiat yang sering dilakukan terhadap hasil karya seni seseorang, sumber data diperoleh melalui observasi, dan wawancara kepada para seniman akademik khususnya di lingkungan Institut Seni Indonesia Denpasar. Hasil temuan adalah memberikan sosialisasi, seminar atau workshop kepada masyarakat tentang perlindungan hasil karya seni dan pentingnya peranan moral sehingga masyarakat dapat menyadari bahwa hasil karya seni seseorang patut dihargai sebagaimana telah diatur dalam peraturan perundang - undangan.
Seni Kerajinan Sarana Upacara Berbasis Upcycle Di Desa Kediri Tabanan
Ni Kadek Karuni;
I Wayan Mudra;
Mercu Mahadi
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i2.1054
Seni kerajinan sarana upacara yang memanfaatkan media koran bekas saat ini baru mulai berkembang dibeberapa daerah di Bali. Penggunaan koran bekas untuk menciptakan produk kerajinan merupakan suatu trobosan baru dari perajin dalam mengembangkan kreativitas menciptakan produk kerajinan yang lebih bervariatif. Pemikiran ini sesuai dengan konsep upcycle atau dalam proses perlakuannya disebut upcycling adalah proses pengubahan limbah bahan atau produk yang tidak berguna menjadi bahan baru atau produk dengan kualitas lebih baik untuk keberlanjutan dan profitabilitas. Tujuan penulisan ini adalah untuk menjelaskan tentang dinamika bentuk produk seni kerajinan sarana upacara berbasis upcycle yang dihasilkan oleh perajin di desa Kediri Tabanan serta proses kreatif perajin dalam menciptakan produk sarana upacara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teori pengambilan sampel porposive sampling, Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisa data secara kualitatif analitik. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa proses pembuatan produk sarana upacara ini menggunakan teknik pilin, penerapan dekorasi menggunakan teknik pilin dan tempel, finishing menggunakan teknik oles. Bentuk produk berupa : bokoran, tempat pemuspan, keben, Dulang, berbahan dasar koran bekas yang fungsinya sebagai wadah atau tempat sesajen. Produk yang dihasilkan merupakan produk kreatif yang ramah lingkungan. Kesimpulannya adalah proses membuatan produk kerajinan sarana upacara melalui proses pembentukan, pendekorasian dan tahap finishing. Pemanfaatan limbah koran untuk produk kerajinan sarana upacara merupakan suatu upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu pemanfaatan limbah koran sebagai bahan seni kerajinan dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai ekonomi perajin.
Tari Poang dan Tari Olang-olang Pertunjukan Ritual Masyarakat Sakai di Kabupaten Bengkalis, Riau
Asril Asril;
Novesar Jamarun;
Hamzah Hamzah;
Mansur Halilintar;
Trio Saputra
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i2.1056
Tari Poang merupakan tari ritual adat penyambutan tamu oleh masyarakat Sakai, khususnya Bathin Sobanga dari kelompok suku Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis. Tarian ini hanya ditampilkan dalam penyambutan tamu-tamu adat, pemerintahan, dan yang dianggap terhormat oleh masyarakat Sakai. Sementara tari Olang-olang merupakan tarian ritual masyarakat Sakai yang bersumber dari ritual pengobatan badike. Tari Olang-olang ditemui di berbagai kelompok bathin yang terdapat pada Bathin Solapan. Materi gerak tarian ini terinspirasi dari gerak-gerak elang terbang. Elang dijadikan sebagai hewan utama dalam kepercayaan masyarakat Sakai yang mampu terbang tinggi mengantarkan doa dan mantra mereka kepada Tuhan pada saat pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas Tari Poang dan Tari Olang-olang yang menjadi tari pertunjukan ritual masyarakat Sakai pada kelompok suku Bathin Solapan di Kabupaten Bengkalis. Penelitian ini merupakan studi kasus pertunjukan ritual pengobatan pada masyarakat Sakai. Pengamatan terhadap peristiwa ritual dan pertunjukan tarian ini sangat penting dilakukan untuk mendapat data yang valid, terkait dengan bentuk pertunjukan, ekspresi, dan suasana ritual.
Merangkai Nusantara Melalui Seni Wadantara
Ni Luh Sustiawati;
I Gede Oka Surya Negara;
Rano Sumarno;
Arthur Supardan Nalan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i2.1063
Merangkai Nusantara melalui Seni Wadantara merupakan Penelitian Penugasan dalam bentuk skema Konsorsium Riset Unggulan Peguruan Tinggi (KRU-PT) tahun 2019 s.d tahun 2021. Tujuan penelitian menghasilkan satu model seni pertunjukan yang mengkolaborasikan jenis kesenian dari multi etnis dalam satu kemasan seni pertunjukan wayang, drama, karawitan dan tari Nusantara dalam satu repertoar bernama Seni Wadantara. Dampak positif yang diperoleh adalah penguatan ideologi bangsa dan ekonomi melalui pengembangan seni pertunjukan panggung terkoneksi secara digital untuk memudahkan akses dan mutu pertunjukan. Desain penelitian yang digunakan adalah research and development, sedangkan desain manajemen produksinya melalui tiga tahapan yaitu tahap pra produksi, produksi dan pasca produksi. Dalam proses penciptaan berintikan ekplorasi, improvisasi, pembentukan. Teknik pengumpulan data digunakan wawancara, observasi, dokumentasi, angket, catatan lapangan.Teknik analisis data digunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan penyekoran, sedangkan data berupa komentar dan saran dianalisis secara kualitatif. Hasil Penelitian menunjukkan (1) hasil need assessment (a) bangsa Indonesia yang sedang memperkuat persatuan dan kesatuan dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia memerlukan dukungan untuk kebersamaan yang dilandasi oleh toleransi bermasyarakat yang dapat ditawarkan oleh seni pertunjukan dengan muatan budaya lokal sebagai ungkapan budaya Nusantara; (b) kesenian selalu tumbuh dan berkembang dan memerlukan adanya perubahan dalam memproduksi seni baru bersifat kolaborasi; (c) hadirnya revolusi industri 4.0 menjadi peluang dalam menciptakan seni pertunjukan secara kolaboratif antara tradisi dan kontemporer. (2) Seni pertunjukan Wadantara Satria Nusantara Mahawira dengan struktur tiga babak mengangkat lakon Sumpah Palapa Gajah Mada. (3) Hasil uji efekivitas terhadap produk seni pertunjukan Wadantara Satria Nusantara Mahawira melalui FGD dan Uji Lapangan Terbatas, responden yang berjumlah 50 orang sebagian besar menyatakan sangat baik.
Perubahan Spasial Rumah Tinggal Tradisional Bali Di Banjar Adat Selat Peken Bangli
I Kadek Sosiawan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 35 No 2 (2020): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v35i2.1065
Spasial menurut Habraken (1978), merupakan wadah aktivitas manusia secara fisik maupun psikis, yang aktivitasnya sangat ditentukan oleh pengetahuan sosial budaya pemiliknya. Hal ini menyiratkan bahwa perubahan kehidupan sosial budaya masyarakat berdampak pada perubahan tatanan spasial. Perkembangan kebudayaan Bali dari kebudayaan agraris menuju kebudayaan industri ditandai dengan perubahan nilai-nilai dan karakteristik kehidupan masyarakat seperti: perubahan kehidupan komunal menjadi individual, sifat-sifat kooperatif menjadi progresif, cara berpikir intuitif menjadi rasional, analitis dan posesif, hidup sederhana menjadi komplek (Robi Sularto, 1974;14). Banjar Adat Selat Peken merupakan banjar tradisional yang awalnya hidup dalam masyarakat agraris. Kemudian berubah kearah hidup non-agraris sejalan dengan perkembangan kebudayaan Bali. Masyarakat kini menekuni profesi-profesi baru dibidang industri dan jasa yang disertai dengan perubahan cara pandang dan cara kehidupan masa kini menyebabkan adanya perubahan spasial rumah tinggal tradisionalnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan spasial rumah tinggal tradisional di Banjar Adat Selat Peken menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara dengan tokoh masyarakat, pemilik hunian, untuk mengetahui pola aktivitas masyarakat dan sistem sosial budaya. Observasi lapangan dilakukan dengan mengamati secara langsung tata letak, orientasi, hierarki, dan transparansi rumah tinggal atas terjadinya perubahan tata letak bangunan serta perubahan bangunan untuk menampung kegiatan-kegiatan dengan fungsi baru seperti garase, gudang, warung, dan tempat bekerja. Pemanfaatan bangunan kosong sebagai tempat tinggal bagi kelompok keluarga baru berdampak terciptanya perubahan orientasi tata letak bangunan, transparansi, serta hierarki rumah tinggal tradisional Bali di Banjar Adat Selat Peken.