cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
+62361-227316
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Mudra Jurnal Seni Budaya Institut Seni Indonesia Denpasar Jalan Nusa Indah Denpasar 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
MUDRA Jurnal Seni Budaya
ISSN : 08543461     EISSN : 25410407     DOI : https://doi.org/10.31091/mudra.v37i4.2084
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles 496 Documents
Fungsi Dan Makna Simbolik Kesenian Jaranan Jur Ngasinan Desa Sukorejo Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar Dwi Zahrotul Mufrihah
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.337

Abstract

Jaranan Jur Ngasinan merupakan kesenian yang tumbuh dan berkembang di Desa Sukorejo Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. Kesenian Jaranan Jur Ngasinan memiliki keunikan dalam hal fungsi yang disesuaikan dengan kepercayaan masyarakat pendukungnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti mengajukan beberapa rumusan masalah yakni bagaimana fungsi dan makna yang terkandung dalam Kesenian Jaranan Jur Ngasinan Desa Sukorejo Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan fungsi dan makna simbolik Kesenian Jur Ngasinan Desa Sukorejo Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. Data diperoleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Peneliti memfokuskan pada isu atau persoalan, kemudian memilih satu kasus terbatas untuk mengilustrasikan persoalan. Subjek pada penelitian ini Tari Tayung Raci, terdapat didalamnya yaitu isi kesenian dari pertunjukan dan pelaku seni. Hasil penelitian antara lain fungsi Jaranan Jur Ngasinan sebagai sarana ritual, presentasi estetis, sebagai pengikat solidaritas kelompok masyarakat, dan sebagai media pelestarian budaya. Kedua, makna kesenian Jaranan Jur Ngasinan Desa Sukorejo Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar terdapat pada nama “Jur”, gerak, musik, tata rias dan busana, property, dan pola lantai. Dari penjelasan itu dapat disimpulkan bahwa Jaranan Jur Ngasinan memiliki berbagai fungsi dan memiliki makna simbolik tentang prajurit yang juga terkait dengan nilai-nilai budaya masyarakat di sekitar sana.Jaranan  Jur Ngasinan is an art which grow and develop on Sukorejo village, Sutojayan sub-distric, Biltar regency. This art has uniqueness in function which compromise to supporting community’s. Based on that background, the researcher make some research questions there are how are function and meaning which are contained in Jaranan Jur Ngasinan art, Sukorejo Village, Sutojoyan Subdistrict, Blitar Regency. There are special purposes from this research for described the function and symbolic meaning of Jaranan Jur Ngasinan art, Sukorejo Village, Sutojoyan Subdistrict, Blitar Regency. Data obtained by researcher by using qualitative approach of case study. Researchers focused on the issue, then choose one limited case to illustrate the issue. The subject of this research is the Tayung Raci Dance, which contains the contents of art from performers and performers of art The result which gained by researcher. First Jaranan Jur Ngasinan have function as  ritual facility, presentation of the beauty, a fastener of solidarity community, and media cultural preservation. Second, meaning of Jaranan Jur Ngasinan Sukorejo Village, Sutojayan Subdistrict, Blitar Regency are an honest meaning which is come from the name "Jur", motion, music, makeup and clothes, property, and floor patterns. From that explanations can be concluded that Jaranan Jur Ngasinan have various function and have symbolic meaning about soldier which also related to values of society culture around there.
Fenomena Upacara Yadnya Dan Judi Tajen Dalam Penciptaan Karya Seni Rupa I Wayan Suardana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.347

Abstract

Bagi masyarakat Hindu, melaksanakan upacara yadnya merupakan bagaian yang tak terpisahkan, baik yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara atas nama pribadi, kelompok dadya, maupun desa pakraman. Masyarakat melaksanakan upacara dengan perasaan tulus iklas, murni dan suci sebagai ucapan terimakasih pada Yang Kuasa atas segala rahmatNYA. Suatu hal yang sangat memprihatinkan adalah pelaksanaan upacara yang murni, suci, tulus iklas, dengan tampilan yang sangat artistik, tidak selalu diikuti dengan suasana religius karena upacara tersebut sering dimanfaatkan untuk menunjukan stratifikasi kehidupan sosial di masyarakat, sehingga sering dalam ritual seremonial lebih utama dari religiusnya. Selain itu banyak ritual selalu dibarengi dengan judi tajen yang dimaknai sebagai tabuh rah. Sebuah fenomena, antara ritual yang suci selalu bergandengan dengan gengsi dan judi yang maksiat. Hal ini disebabkan karena pemahaman masyarakat tentang upacara yadnya,  tabuh rah dan tajen sangat kurang. Upacara pun tak terhindar dari situasi paradoksal, berada dalam suatu posisi yang sangat sulit, karena upacara yang sangat religius selalu dibarengi dengan gengsi dan  judi yang maksiat.  Tujuan penciptaan ini adalah untuk memberi pemahaman pada masyarakat bahwa upacara yadnya harus dilaksanakan dengan hati yang tulus iklas dan tidak boleh diikuti dengan judi.  Hasil penciptaan ini diharapkan dapat dijadikan studi komparatif bagi seniman dan  mahasiswa dalam penciptaan karya seni lebih lanjut.Religious ceremonies are inseparable part of being Balinese Hindus, either those related to personal yadnya rites, dadya groups, or  desa pakraman. Various ritual facilities are attractively and beautifully displayed, expressing the beauty of those offerings as well as sincere, pure and sacred feeling. What concerns us most is that the supposedly sacred rituals that are held with sincere and pure feelings are not always meant to be purely religious activities. It could be because such rituals are held to show off social status; therefore ceremonial aspects are more dominant than the religious ones. In fact, more often than not, tajen cockfights accompany the rituals construed as tabuh rah: a phenomenon that combines sacred rituals with a show off and immoral gambling. The reason has been the lack in understanding of the rituals: tabuh rah and tajen.  Here lies a difficult paradox: the sacred religious rites have always been accompanied by a show off and immoral cockfight as gambling. The creation of this sculpture work is intended to give bettors (or bobotohs) an understanding that the rituals should be held with sincerity and not using them for gambling. The creation is expected to serve the purpose of comparative studies on further creation sculptural works.
Onomatopoea sebagai Pembuka Signifikasi Teks dalam Komik Tintin Petualangan Tintin Penerbangan 714 ke Sidney versi Terjemahan Bahasa Indonesia Deny Tri Ardianto; Dwi Susanto; Sayid Mataram
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.349

Abstract

Komik Tintin memperlihatkan onomatopoea yang dimanfaatkan untuk memperjelas makna. Onomatopoea memberikan “celah” sebagai pembuka makna teks dengan melihat gagasan yang lain dalam teks. Pembacaan yang dilakukan atas onomatopoea adalah pembacaan dekonstruksi. Masalah utama dari hal itu adalah apakah makna dalam teks dengan mendasarkan pada bagian terpinggir dari teks seperti onomatopoea. Objek material dari tulisan ini komik terjemahan dari Tintin edisi Petualangan Tintin Penerbangan 714 ke Sidney. Objek formalnya adalah makna dari teks Tintin. Data yang digunakan adalah onomatopoea dalam teks, gagasan yang muncul dari teks, isi cerita dan lain-lain. Teknik interpretasi data dilakukan dengan mendasarkan pada prosedur pembacaan dekonstruksi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa onomatopoea menjadi pembuka makna teks melalui serangkaian oposisi seperti onomatopoea versus narasi teks, onomatopoea versus visual, dan narasi teks versus visual. Onomatopoea mengikat sekuen sebelum dan sesudahnya dan meluruhkan narasi teks serta visual yang “tidak penting” disekitar onomatopoea. Gagasan interteks yang muncul adalah melanjutkan proyek rasionalisme, bias kolonial dan keunggulan ras, serta meluruhnya gagasaan tersebut melalui kritik atas materialisme. Hal itu ditunjukkan melalui teks-teks petualangan, konflik ideologis, hingga hero yang super seperti pada era Romantisme Eropa.Tintin comic utilizes onomatopoeia to clarify meaning. Onomatopoeia gives a "window" as an opening to the meaning intended in the text by relating to other context in it. Onomatopoeia reading is a deconstructive reading. The main problem of this type of reading is whether the meaning in the text is based on the marginalized part of the text such as onomatopoeia. The material object of this paper is a comic translation of Tintin's Adventure entitled Tintin Flight 417 to Sidney. The formal object of this paper is the meaning of the text in the comic. The data of this research are onomatopoeia in the text, ideas that arise from the text, and the content of the story. Data interpretation technique was conducted according to deconstruction reading procedure. The results show that onomatopoeia clarify the meaning of the text through a series of oppositions such as onomatopoeia versus text narrative, onomatopoeia versus visual, and text narrative versus visual. Onomatopoeia binds the previous and following sequences and sheds the "unecessary" visuals and narrative texts around it. The intertextual ideas that arise are issues related to rationalism, colonial bias and racial superiority, and the dissolve of those ideas due to criticisms of materialism. These are shown through the texts of adventure, ideological conflict, and super hero characteristics like commonly presented in the era of European Romance.
Celeng Ngelumbar Metafor Penambangan Eksploitatif Pasir I Wayan Setem; Pande Made Sukerta; Sardono W Kusomo; Dwi M Marianto
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.350

Abstract

Aktivitas penambangan eksploitatif pasir di Kecamatan Selat telah memicu peningkatan pertumbuhan sektor ekonomi, namun masyarakat tampaknya tidak pernah sadar dengan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Fenomena penambangan eksploitatif pasir tersebut menjadi thema dan subject matter kekaryaan. Dari pengamatan mendalam pengkarya mendapat pemahaman dan insight yang menjadi pemicu proses kreatif. Problimatikanya dinyatakan ke dalam bentuk bahasa rupa menggunakan metode penyangatan/hiperbola. Untuk mewujudkan kekaryaan mengunakan metode pendekatan dan langkah-langkah kreatif melalui tahapan terstruktur, spontan dan intuitif. Metode ini telah menghasilkan elaborasi yang unik dari semua komponen imajirial sehingga melahirkan gagasan dan metafor yang kreatif. Karya-karya dibuat atau digagas di studio dan pindahkan ke, atau dirangkai di sekitar wilayah areal penambangan. Hubungan antara lokasi presentasi dan masyarakat mampu menjadi sebuah kekuatan tersendiri karena sesuai dengan konteks persoalan. Target kekaryaan tidak hanya sebagai ekspresi individual yang terbatas pada persoalan estetika namun menjadi cara atau alat untuk menyebrangkan (mengkampanyekan) isu lingkungan. Penciptaan seni adalah sebagai modus yang mampu untuk menginspirasi masyarakat agar tergugah secara kolektif maupun individual untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian eco-system.The exploitative sand mining in Selat District contributed to the economic growth; however, the local people were never aware that it had caused the environment to be degraded. The phenomenon of the exploitative sand mining is used as the theme and subject matter of an art creation. From what was observed by the artist, an insight into something contributed to a creative process. The problem was reflected in the form of language using the method of hyperbole. The art creation was created using the structured, spontaneous and intuitive creative steps and method which led to a unique elaboration of all the imaginary components and a creative metaphor and concept. The creation was designed in a studio before it was moved to or arranged around the mining area. The relation between the location of presentation and people could become a specific strength as it was in accordance with the context of the subject matter. The target of the art work did not only constitute an individual expression which was limited to the matter of common aesthetics but it was also used as the way of and the tool for transmitting (campaigning) an environmental issue. The art creation could be used to inspire people, as individuals and groups, to participate in the attempt made to preserve the eco-system
Rekontekstualisasi Estetika Hindu ‘Rasa’ Dalam Desain Arsitektural I Kadek Dwi Noorwatha
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.351

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas proses rekontekstualisasi estetika Hindu ‘rasa’ dalam desain arsitektural kekinian. Metodenya adalah kajian perpustakaan (library research) dengan pendekatan hermeneutik dalam menginterpretasikan objek penelitian berupa teks estetika Hindu, maupun komparasinya dengan keilmuan desain arsitektural. Literatur utamanya mengacu ke Kitab Natyashastra oleh Bharata Muni dan proses rekonstekstualisasinya menggunakan analogi dramaturgikal (Attoe, 1979) dan manifestasi ‘rasa’ ke seni visual dan arsitektur (Shetty dan Bhoosan, 2017) dan (Verma dan Gupta, 2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa estetika Hindu khususnya teori ‘rasa’ relevan dikembangkan ke dalam keilmuan desain arsitektural kekinian. Relevansi tersebut bukan semata kesesuaian istilah semata, namun juga kesesuaian dengan materi pokok kelimuan desain arsitektural seperti bentuk, penciptaan spasial, konteks arsitektural sebagai tuntutan desain arsitektural kekinian.This paper aims to discuss the process of recontextualization of Hindu aesthetics 'taste' in contemporary architectural design. The method is library research with hermeneutic approach on interpreting the Hinduism aesthetics text, as well as comparation with the science of architectural design. Its main literature refers to the Book of Natyashastra by Bharata Muni and its recontextualization process using dramaturgical analogies (Attoe, 1979) and  the manifestations of the ‘rasa’ to the visual and architectural arts (Shetty and Bhoosan, 2017) and (Verma and Gupta, 2015). The results show that 'rasa' theory of Hindu aesthetics is relevant to developed into the contemporary architectural design. Relevance is not merely the conformity of the term alone, but also in conformity with the subject matter of architectural design such as science, form, spatial creation, architectural contexts as the present architectural design demands.
Karya Cipta Pertunjukan Wayang Perjuangan Sebagai Penguatan Pendidikan Bela Negara . Sunardi; . Kuwato; . Sudarsono
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.363

Abstract

Tulisan ini mengungkap tentang pertunjukan wayang perjuangan sebagai penguatan pendidikan bela negara bagi masyarakat Indonesia. Dua persoalan penting yang dibahas yakni: (1) bentuk karya cipta pertunjukan wayang perjuangan; dan (2) fungsi pertunjukan wayang perjuangan bagi masyarakat Indonesia. Bentuk karya cipta pertunjukan wayang perjuangan dikaji dengan konsep estetika wayang, adapun fungsi pertunjukan dikupas dengan teori fungsi kesenian. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa karya cipta pertunjukan wayang perjuangan dibangun berdasarkan beberapa unsur, di antaranya seniman, garap lakon wayang, dan boneka wayang. Pada sisi lain, pertunjukan wayang perjuangan memiliki fungsi sebagai penguatan pendidikan bela negara bagi masyarakat Indonesia.This paper reveals the wayang perjuangan performances as the strengthening of state defense education for the people of Indonesia. Two important issues are discussed, namely: (1) the form of wayang perjuangan performance; and (2) the function of wayang perjuangan for the Indonesian people. The form of wayang perjuangan studied with the aesthetic concept of wayang, while the performance function is analyzed with the theory of art function. The results of the discussion show that the works of wayang perjuangan are built based on several elements, among them artists, working on wayang plays, and puppets. On the other hand, the wayang perjuangan performance has a function as the strengthening of state defense education for the people of Indonesia. 
Nilai-nilai Filosofis Didaktis, Humanistis, dan Spiritual dalam Kesenian Tradisional Macapat Masyarakat Bali I Made Suarta
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.364

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai filosofis didaktis, humanistis, dan spritual yang terkandung di dalam kesenian tradisional macapat pada masyarakat Bali. Telaah kesenian tradisional macapat dapat dikatakan sebagai aktivitas kebudayaan yang mempunyai fokus penting untuk mengetahui identitas masyarakat, partisipasi, serta eksistensi suatu peradaban masyarakat. Pada dasarnya, tembang macapat tidak berbicara dengan dirinya sendiri dan menyuarakan dirinya sendiri. Ia berhadapan dan menyuarakan kompleksitas kehidupan kultural masyarakat Bali. Oleh karena itu, macapat mengandung nilai-nilai filosofis (didaktis, humanistis, dan spiritual) di dalamnya, sehingga menjadikannya sebagai wacana sosial dan terlibat secara tidak langsung dalam dinamika interaksi sosio-kultural pada masyarakat Bali. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif yang beranjak dari pendekatan fungsional terhadap seni bersastra tradisional Bali. Sumber data dalam penelitian diklasifikasikan menjadi dua, yaitu sumber data primer (sumber data yang berasal langsung dari subjek) dan skunder (sumber data berasal dari buku/ teks/ kitab/ literature). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan studi kepustakaan. Langkah analisis data ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode ini dilakukan dengan menggunakan beberapa langkah operasional, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Ketiga tahapan tersebut saling berinteraksi dan memiliki koneksi, berawal dari pengumpulan data dan berakhir pada penarikan simpulan. Nilai didaktis yang terdapat di dalam tembang macapat mengajarakan manusia tentang pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk menjadi manusia yang bermoral dan beretika. Ajaran humanis dalam tembang macapat memberikan pedoman dan petunjuk kepada manusia bahwa menjalani kehidupan di dunia harus selalu mematuhi norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Gotong royong, persaudaraan, persahabatan, dan kerukunan adalah nilai-nilai humanisme yang terdapat dalam tembang macapat. Nilai-nilai spiritual yang terdapat dalam tembang macapat adalah mengajarkan manusia untuk selalu melaksanakan ajaran agama untuk mendapatkan keseimbangan sekala dan niskala.This study aims to understand the didactic, humanistic, and spiritual philosophical values embodied in the traditional art of macapat in Balinese society. The study of traditional arts macapat can be regarded as a cultural activity that has an important focus to know the identity of society, participation, and the existence of a civilization society. Basically, tembang macapat not speak to himself and voice himself. He confronts and voices the complexity of Balinese cultural life. Therefore, macapat contains philosophical (didactic, humanistic, and spiritual) values in it, thus making it a social discourse and indirectly involved in the dynamics of socio-cultural interaction in Balinese society. This research uses descriptive qualitative research design that moved from the functional approach to traditional Balinese literature. Sources of data in the study are classified into two, namely primary data sources (source data derived directly from subject) and secondary (source data comes from books / text / books / literature). Data collection methods used are observation and literature study. Step analysis of this data is done by using descriptive qualitative method. This method is done by using some operational steps, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. These three stages interact and have a connection, starting from data collection and ending in drawing conclusions. The didactic value contained in the tembang macapat teaches people the importance of education and science to become moral and ethical human beings. Humanist teachings in tembang macapat provide guidance and guidance to humans that live life in the world must always adhere to the norms prevailing in society. Gotong royong, brotherhood, friendship, and harmony are the values of humanism contained in tembang macapat. Spiritual values contained in the tembang macapat is to teach people to always implement the teachings of religion to get the balance sekala and niskala.
Davedan Show Di Amphi Theatre Nusa Dua Bali Ni Made Ruastiti; Ni Wayan Parmi; Ni Nyoman Manik Suryani; I Nyoman Sudiana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.365

Abstract

Artikel ini disusun dari hasil penelitian yang bertujuan untuk dapat memahami pertunjukan Davedan Show di Amphi Theatre Nusa Dua Bali. Penelitian ini dilakukan karena adanya ketimpangan antara asumsi dan kenyataan di lapangan. Pada umumnya wisatawan yang datang ke Bali hanya senang dan antusias menonton seni pertunjukan pariwisata berbasis seni budaya lokal saja. Tetapi kenyataan ini berbeda. Walaupun Davedan Show tidak dibangun dari seni budaya lokal saja, tetapi kenyataannya wisatawan sangat senang menonton pertunjukan tersebut. Pertanyaannya: bagaimanakah bentuk pertunjukan Davedan Show tersebut?; mengapa wisatawan senang menonton pertunjukan itu?; apa implikasinya bagi pelaku, masyarakat, dan industri pariwisata di Nusa Dua, Bali?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, khususnya implementatif partisipatoris yang mengutamakan kerjasama antara periset dengan para informan terkait. Sumber data penelitian ini adalah pertunjukan Davedan itu sendiri, pihak manajemen, para penari, penonton, hasil-hasil penelitian yang telah ada sebelumnya. Seluruh data yang telah dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, FGD, dan studi kepustakaan itu dianalisis secara kritis dengan menggunakan teori estetika postmodern, teori praktik, dan teori relasi kuasa pengetahuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Davedan Show disajikan dalam bentuk oratorium. Hal itu dapat dilihat dari cara penyajian, koreografi, dan iringan pertunjukannya. Davedan Show yang menampilkan tema Treasure of The Archipelago, membuka gerbang petualangan baru itu diiringi musik rekaman etnik Nusantara secara medley, berkelanjutan dengan struktur pertunjukan: seni budaya Bali, Sumatra, Sunda, Solo, Kalimantan, dan seni budaya Papua; (2) Davedan Show banyak diminati wisatawan manca negara karena penciptaan pertunjukan itu dilatari oleh ideologi pasar, ideologi estetika, dan ideologi budaya Nusantara; (3) Hingga kini Davedan Show berkembang secara berkelanjutan di Nusa Dua Bali karena berimplikasi positif pada ekonomi para pihak terkait, pengayaan bagi seni pertunjukan daerah setempat, dan identitas bagi kawasan wisata Nusa Dua, Bali.This article was compiled from the research results that aimed to understand the Davedan Show at Amphi Theater Nusa Dua, Bali. This research was conducted due to the imbalance between the assumption and the reality in real life. Generally, tourists visiting Bali are more excited and enthusiastic to watch the tourism performing arts that are based on local traditional art and culture. However, the reality is different. The questions are: how is the form of the Davedan show?; why do the tourists enjoy watching the show ?; what are the implications for the performer, the society, and the tourism industry in Nusa Dua, Bali?. This research applied qualitative research methods, especially the participative implementation that prioritized cooperation between the researchers and the related informants. The data sources of the research were the Davedan show, management, dancers, audiences, and similar research results produced by previous researchers. All data that had been collected by observation, interview, FGD, and literature study were then analyzed with aesthetic postmodern theory, theory of practice, and theory of power relationship. The results showed that: (1) Davedan Show was presented with the concept of a new presentation in the tourism performing arts in Bali. It could be seen from the material, the form, the way of presentation, and the management of the show. Davedan Show, presenting the theme of Treasure of the Archipelago and opening the new adventure gate, was accompanied by ethnic music recordings of the archipelago in a medley then continued with the performance structures of: Balinese, Sumatran, Sundanese, Solo, Borneo and Papuan art and culture; (2) Davedan Show attracted many foreign tourists because the show was based on the existence of market, aesthetic, and cultural ideologies of the archipelago; (3) Currently, Davedan Show has developed in Nusa Dua, Bali sustainably because of its positive implications to the economics aspect of the stakeholders, the enrichment of Balinese performing arts, and the identity of Nusa Dua tourism area of Bali.
Multinarasi Relief Yeh Pulu Basis Penciptaan Seni Lukis Kontemporer I Wayan Adnyana; A.A Rai Remawa; Ni Luh Desi In Diana Sari
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.372

Abstract

Kajian ini merupakan skema penelitian terapan, yang bertujuan untuk mengungkap konsep multinarasi relief Yeh Pulu, Bedulu, Gianyar, Bali, sebagai basis penciptaan seni lukis kontemporer. Secara metodologis penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan: penelitian lapangan (kajian atas narasi relief) berdasar perspektif ikonologi Panofsky (1971), dan berikutnya penelitian eksperimen terkait penciptaan seni lukis kontemporer berdasar perspektif ‘art practice as a research’ (Sullivan, 2005) yang menunjuk pada tiga tahapan: eksperimen medium, bahasa visual, dan penyusunan konteks yang relevan. Berdasar kajian ikonologi, terutama tahap analisis ikonografi, ditemukan bahwa narasi relief Yeh Pulu bersifat multinarasi, yakni pahatan relief yang memiliki beragam jenis tema cerita, seperti praktik pertanian, berburu, meditasi, pesta, asmara, dan lain-lain. Kemudian konsep multinarasi dalam penciptaan seni lukis kontemporer, menjadi: (a) secara medium menggunakan multiteknik dan medium; (b) bahasa visual, menghadirkan berbagai adegan secara berulang, terpadu dan bahkan terkesan saling berlawanan; (c) konteks yang relevan, dengan memasukan ikon tokok-toko pahlawan dunia pop, seperti superman, superwomen, dan lain-lain. Secara ikonologis, bangunan visual yang mempertemukan adegan multinarasi relief Yeh Pulu dengan narasi kepahlawanan dunia pop, menjadi semakin menguatkan konsep multinarasi dalam membangun pesan kepahlawanan dunia sehari-hari dalam karya seni lukis kontemporer semakin berhasil. Penelitian ini melibatkan: Anak Agung Rai Remawa (pengumpul data), dan  Ni Luh Desi In Diana Sari (fotografi dan layout).This paper serves as an applied research scheme which aims to reveal the concept of multiple narratives of Yeh Pulu Relief, located in Bedulu, Bali, as the basis for the creation of contemporary painting. Methodologically speaking, this study was conducted in two stages: a field research (a field study on the relief narratives) based on Panofsky’s perspective on iconology (1971), and an experimental research on the creation of contemporary painting based on the perspective of ‘art practice as a research’ (Sullivan, 2005) which consists of three stages: medium experimentation, visual language depiction, and relevant context preparation. Based on the study of iconology, particularly the stage of iconographic analysis, it was found that Yeh Pulu relief contains multiple narratives in that the sculptural relief has various narrative themes, such as farming, hunting, meditation, feast, romance, and others. The concept of multiple narratives in the creation of contemporary painting has led to: (a) the use of multiple techniques and media; (b) visual language depiction by presenting the scenes repeatedly, where they are clashed one against another and create a contradictory impression; (c) presentation of relevant contexts by incorporating iconic superheroes of the popular world, such as Superman, Superwoman, and others. In terms of the iconology, the visual build that brings together the Yeh Pulu relief’s multiple-narrative scenes with the narratives of the popular superheroes reinforces the notion that the concept of multiple narratives in constructing the message of everyday-world heroism in contemporary painting will achieve more success. The contributors of this research also include Anak Agung Rai Remawa (as a data collector) and Ni Luh Desi In Diana Sari (as a photographer and layout designer).
The Representation Of Javanese Women In Damar Kurung Painting – Gresik Aniendya Christianna
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 3 (2018): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i3.376

Abstract

Damar Kurung is one of the typical cultural products of Gresik that has recorded Gresik’s civilization. Damar Kurung is a bamboo-framed paper lantern that has existed since Hindu-Buddhist times. This research is a qualitative research with a descriptive approach. The purpose of this research is to understand the meaning of the symbol in Damar Kurung’s decorative that are painted by Masmundari. At the same time to identify the gender roles of Javanese women. The results of this study are (1) Javanese women do not reject face makeup, because using makeup is a manifestation of women’s respect and acceptance in dealing with social norms; (2) Javanese women formulate their identity through a procession of traditional ceremonial preparations that are mostly carried out ‘behind’ (in the kitchen).Damar Kurung merupakan salah satu produk budaya khas Gresik yang telah merekam peradaban masyarakat Gresik. Damar Kurung adalah lampion kertas berangka bambu ini sudah ada sejak zaman Hindu-Budha. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Tujuan dari penelitian ini untuk memahami makna simbol di damar kurung yang dilukis oleh Masmundari. Sekaligus untuk mengidentifikasi peran gender perempuan Jawa. Hasil dari penelitian ini adalah (1) perempuan Jawa tidak menolak riasan wajah, karena menggunakan riasan adalah perwujudan penghormatan dan penerimaan perempuan dalam menghadapi norma sosial;(2) perempuan Jawa merumuskan identitasnya melalui prosesi persiapan upacara adat yang banyak dilakukan ‘dibelakang’ (di dapur).

Page 10 of 50 | Total Record : 496