cover
Contact Name
Agus Eka Aprianta
Contact Email
penerbitan@isi-dps.ac.id
Phone
+62361-227316
Journal Mail Official
penerbitan@isi-dps.ac.id
Editorial Address
Mudra Jurnal Seni Budaya Institut Seni Indonesia Denpasar Jalan Nusa Indah Denpasar 80235
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
MUDRA Jurnal Seni Budaya
ISSN : 08543461     EISSN : 25410407     DOI : https://doi.org/10.31091/mudra.v37i4.2084
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles 496 Documents
Perubahan Dan Keberlanjutan Tari Balanse Madam Di Lingkungan Masyarakat Nias Padang Novina Yeni Fatrina; Yan Stevenson
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.318

Abstract

Tulisan berjudul “Perubahan dan Keberlanjutan Tari Balanse Madam di Lingkungan Masyarakat Nias Padang“ bertujuan untuk mengungkapkan perubahan  tari Balanse Madam serta menganalisis keberlanjutannya. Tari Balanse Madam merupakan tarian kelompok yang terdiri dari pasangan penari laki-laki dan perempuan yang sudah menikah. Penampilannya diiringi secara live dengan alat musik barat seperti biola, gitar, tamburin, akordeon, dan set drum. Namun setelah banyak para pelaku seninya yang meninggal dunia, sehingga tari Balanse Madam mengalami perubahan. Perubahan terjadi pada penarinya, tidak harus orang yang sudah berumahtangga lagi, sedangkan musik iringannya no use life music. Analisa perubahan tari Balanse Madam diamati dari  tahun 1995 sampai tahun 2017.   Metode penelitian deskripsi kualitatif dengan pendekatan interaksi dan interpretasi analisis digunakan untuk mengungkapkan permasalahan tersebut. Pelacakan dilakukan dengan melihat dan menganalisa perubahan tari Balanse Madam pada perkembangan elemen pembentuk komposisi tarinya dari tahun 1995 sampai tahun 2017. Penelitian perubahan dan keberlanjutan tari Balanse Madam di lingkungan masyarakat Nias Padang dianalisis dengan menggunakan teori ketahanan budaya yang dikemukakan oleh Edi Sedyawati dan teori elemen pembentuk komposisi yang digunakan oleh R.M. Soedarsono. Hasil penelitian menunjukan bahwa seiring dengan berjalannya waktu, berbagai hal mempengaruhi kondisi tari Balanse Madam, sehingga terjadi perubahan pada beberapa elemen pembentuk tari Balanse Madam. Adapun perubahan tersebut adalah (1) penari terdiri orang-orang yang masih remaja; (2) musik iringan mengalami perubahan irama dan terkadang diiringi musik rekaman. Pemakaian penari remaja dan musik rekaman merupakan salah satu bentuk keberlanjutan tari Balanse Madam. Inilah yang membuat tari Balanse Madam masih tetap bertahan dalam kehidupan masyarakat Nias Padang.The article entitled "The Change and Sustainability of Balanse Madam Dance in the Nias Padang Community" aims to reveal Balanse Madam dance changes and to analyze its sustainability. After many of its supporting artists died, many changes occurred in Balanse Madam dance, both in terms of dancers as well as the music of the accompaniment. Qualitative description research method with the approach of interaction and interpretation analysis was used to reveal this problem. The tracking was done by way of viewing and analyzing Balanse Madam dance changes on the development of forming elements in dance compositions from 1995 to present. The study of change and sustainability of Balanse Madam dance in Nias Padang society was analyzed by using culture endurance theory proposed by Edi Sedyawati and the theory of composition forming elements used by R.M. Soedarsono. The study  results showed that over time, various things affect the condition of Balanse Madam dance, resulting in changes in some elements of Balanse Madam dance formation. The changes are (1) the dancers, who used to be housewives, can now be performed by the dancers that are still teenagers; (2) music accompaniment, used to be played directly by musicians, but now can be accompanied by music recordings. The use of teen dancer and music recordings are a form of sustainability carried out in Balanse Madam dance.
Inovasi Desain Kemasan Ayam Betutu Sebagai Ikon Oleh – Oleh Khas Bali di Kota Denpasar Ni Luh Desi In Diana Sari; Ni Ketut Pande Sarjani
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.319

Abstract

Tujuan khusus yang ingin dicapai pada tahap ke-dua penelitian ini adalah studi pembuatan desain terdiri dari : 1). Studi grafis kemasan (studi bahan, studi bentuk, studi warna, studi huruf dan teks; 2). Pembuatan alternatif desain kemasan kuliner ayam betutu, 3). Perwujudan prototype alternatif desain kemasan kuliner ayam betutu. Konsep yang dipilih adalah nuansa tradisional Bali dengan mengacu pada kriteria desain menurut Dameria (2014;53), terdiri dari Stands Out (menonjol), Contents (isi), Distinctive (unik), Suitable (sesuai) yang telah ditetapkan pada penelitian tahun pertama. Wujud desain kemasan pada tahapan perancangan dibuat ke dalam dua alternatif desain. Bahan yang digunakan kertas food grade, melalui tiga tahapan yaitu; 1). Tahapan ide 2). Tahapan desain terdiri dari perancangann kemasan, elemen grafis kemasan pada panel display utama (PDU). Kemudian dilanjutkan ke tahap 3). Feasibility Phase yang merupakan tahapan pembuatan prototype menggunakan bahan dan peralatan yang mirip dengan kondisi aktual desain kemasan kuliner Ayam Betutu. Hasil yang diperoleh adalah prototype desain kemasan berbahan dasar kertas untuk mengemas kuliner Ayam Betutu.Specific objectives to be achieved in this second phase of research is a design study that consists of: 1). researching graphic packaging (material studies, form studies, color studies, study letters and text, 2). Making alternative design culinary packaging for Ayam Betutu, 3). Embodiments prototype alternative design culinary of Ayam Betutu packaging. The selected concept has a traditional Balinese feel, with reference to design criteria consisting of Stands Out, Contents, Distinctive and Suitable that have been established in the first year of research. The form of packaging at the design stage is made into two design alternatives. Material used food grade paper. Two alternative designs are designed through three stages: 1). Stage Idea 2). Stages of design consisting of packaging design, graphic packaging elements on the main display panel. Then proceed to stage 3). Feasibility Phase which is the stage of making prototype using materials and equipment that is similar to the actual condition of culinary packaging design  of Ayam Betutu. The results to be obtained is a prototype packaging design to pack the culinary Ayam Betutu.
Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur Dengan Pendekatan Teori Semiotik Devanny Gumulya; Liony Amanda
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.320

Abstract

Lampu Gentur merupakan lampu asli kota Cianjur. Keberadaan lampu ini sudah ada sejak 1920. Seiring dengan berkembangnya jaman, bahan pembuatan lampu Gentur digantikan dengan bahan kuningan dan juga kaca yang berwarna-warni. Namun sayangnya hal tersebut tidak diiringi dengan perkembangan desainnya. Desain lampu Gentur dari dulu hingga sekarang hanya mencontoh dari lampu-lampu lain, khususnya bentuk klasik Kolonial Belanda dan Timur Tengah. Hal ini sangat disayangkan karena membuat Lampu Gentur tidak memiliki ciri khasnya tersendiri padahal para pengrajin sangat terampil membuat lampu yang berbahan baku kuningan dan kaca ini. Dilatarbelakangi kurangnya identitas desain lampu gentur, maka paper ini mencoba menghubungkan teori semiotic dalam perancangan ini menghubungkan simbol budaya Cianjur yaitu ayam pelung dan lampu gentur. Tujuan dari penulisan paper ini adalah pencarian identitas desain lampu gentur dengan pendekatan teori semiotic, diharapkan paper ini dapat memberikan model bagi desainer, bagaimana mendesain produk yang beridentitas budaya lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan teori semiotic pada proses desain. Hasil yang didapatkan adalah desain lampu gentur baru dengan mengambil ayam pelung sebagai inspirasi.Gentur lamps are one of Cianjur’s finest crafts. These lamps have been produced since 1920. At first, Gentur lamps were made based on the initiative of the Santri (Islamic priest) to make lighting by imitating Dutch people’s lamps that they used in their houses. Unfortunately, from the 1920s until now, Gentur Lamp designs haven’t developed much in terms of identity, always imitating what’s available in the market. On the other hand, Cianjur people are very skillfull in the craft skill of lamp making. From this lack of design identity background, this paper tries to elucidate the design identity of Gentur lamps by using semiotic theory, by connecting the cultural symbology of Cianjur, pelung chicken with gentur lamps. The purpose of this paper is to probe into design identity in Gentur lamp production by way of semiotics theoretical approach. In doing so, this paper postulates a cultural product design model that is meant to provide designers valuable reference material for designing successfully in a cross-cultural product modality. The final result being the new gentur lamp design with Pelung chicken as design inspiration.
Wacana “Ajeg Bali” Pada Seni Kerajinan Sarana Upacara Di Gianyar Bali Ni Kadek Karuni; I Wayan Suardana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.321

Abstract

Dalam usaha  mengantisipasi tergerusnya seni budaya Bali yang adiluhung, Bali post dan Bali TV meluncurkan wacana “Ajeg Bali” yang artinya menjaga dan melestarikan identitas budaya Bali agar tidak jatuh di bawah hegemoni budaya global. Penelitian ini ingin mengungkap peranan wacana Ajeg Bali dalam meningkatkan seni kerajinan sarana upacara, dan perubahan sikap hidup masyarakat dalam melakukan upacara adat dan agama. Hal ini perlu diketahui agar konsep Ajeg Bali sesuai dengan tujuan dan sasaran yang dikehendaki.  Oleh karena itu, diperlukan pendekatan estetika dan sosiologi, yang dipergunakan untuk menganalisis karya seni dan perubahan sosial kehidupan masyarakat dengan adanya wacana Ajeg Bali. Metode  penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis deskriptif analitik. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa Wacana Ajeg Bali berperan sangat besar dalam pengembangan seni kerajinan sarana upacara yang ada di Gianyar Bali. Wacana ajeg Bali ini diaktualisasikan dengan meningkatkan berbagai aktivitas upacara adat dan agama serta aktif  melakukan persembahyangan  ke berbagai Pura yang tersebar luas di seluruh Pulau Bali, yang disebut dengan “Rekreasi Religius” Meningkatnya aktivitas upacara dan rekreasi religius, memerlukan berbagai sarana upacara dengan tampilan yang indah dan menarik. Para perajin melihat peluang ini sangat pontensial dan mulai mengembangkan kreativitasnya untuk menciptakan sarana upacara yang baru dengan tetap memiliki identitas Bali. Di berbagai wilayah Kabupaten Gianyar mulai banyak tersebar seni kerajinan sarana upacara seperti di kecamatan Tegallalang, Payangan, Sukawati, dan Tampaksiring. Banyaknya aktivitas upacara adat dan agama, dan tingginya keinginan masyarakat untuk memiliki sarana upacara dengan berbagai bentuk dan jenis, memberi motivasi yang tinggi pada perajin untuk menciptakan sarana upacara yang lebih unik dan menarik.In an effort to anticipate the decrease of Balinese art culture, adiluhung, Bali Post and Bali TV have published a discourse of “Ajeg Bali”which means to protect and to preserve Balinese culture from falling victim to global  hegemony.  This research has been conducted as a means of knowing the influence discourse of  “Ajeg Bali”has in increasing the art crafts of ceremonial facilities, and the changes in society's attitude in performing tradition and religious ceremony as well. These are paramount to knowing whether the concept of “Ajeg Bali”is appropriate to the goal and target stated. That is why, an aesthetic and sociological  approach is required to analyze the art works and social life changes of the society by means of discourse in “Ajeg Bali”. The research method used in this study was qualitative method by analytic description.The result of this study shows that the discourse of “Ajeg Bali”plays an important role in developing the art crafts of ceremonial facilities in Gianyar Bali. It is promoted through intensifying of various events such as traditional and religious ceremonies as well as ritual of prayers held in temples spread out over Bali known as “Religious Recreation”. This increase in activities of ceremony and religious recreation has led to an increasing demand for artistic and attractive facilities for various ceremonies. Craftsmen see this as a promising opportunity and begin to improve their creative process in producing new ceremonial facilities that retain Balinese identity. In Gianyar Regency, there are many craft centers producing ceremonial facilities that have begun to grow, such as those in subdistricts of Tegallallang, Sukawati, Tampaksiring, and Blahbatuh. The rise of activities of tradition and religious ceremony and the high of society willing to have ceremony facilities with various shape and type, has given high motivation to craftsmen to produce more unique and interesting ceremonial facilities. In an effort to anticipate the decrease of Balinese art culture, adiluhung, Bali Post and Bali TV have published a discourse of “Ajeg Bali”which means to protect and to preserve Balinese culture from falling victim to global  hegemony.  This research has been conducted as a means of knowing the influence discourse of  “Ajeg Bali”has in increasing the art crafts of ceremonial facilities, and the changes in society's attitude in performing tradition and religious ceremony as well. These are paramount to knowing whether the concept of “Ajeg Bali”is appropriate to the goal and target stated. That is why, an aesthetic and sociological  approach is required to analyze the art works and social life changes of the society by means of discourse in “Ajeg Bali”. The research method used in this study was qualitative method by analytic description.The result of this study shows that the discourse of “Ajeg Bali”plays an important role in developing the art crafts of ceremonial facilities in Gianyar Bali. It is promoted through intensifying of various events such as traditional and religious ceremonies as well as ritual of prayers held in temples spread out over Bali known as “Religious Recreation”. This increase in activities of ceremony and religious recreation has led to an increasing demand for artistic and attractive facilities for various ceremonies. Craftsmen see this as a promising opportunity and begin to improve their creative process in producing new ceremonial facilities that retain Balinese identity. In Gianyar Regency, there are many craft centers producing ceremonial facilities that have begun to grow, such as those in subdistricts of Tegallallang, Sukawati, Tampaksiring, and Blahbatuh. The rise of activities of tradition and religious ceremony and the high of society willing to have ceremony facilities with various shape and type, has given high motivation to craftsmen to produce more unique and interesting ceremonial facilities.
Pengembangan Desain Pembelajaran Seni Tari Di Sekolah Dasar Berbasis Localgenius Knowledge Berpendekatan Integrated Learning Ni Luh Sustiawati; Ni Ketut Suryatini; Anak Agung Ayu Mayun Artati
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.322

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan desain pembelajaran seni tari di sekolah dasar dengan memanfaatkan sumber-sumber pengetahuan keunggulan budaya daerah (localgenius knowledge) Bali. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang produknya diharapkan dapat memfasilitasi proses pembelajaran seni tari berpendekatan pembelajaran terpadu (integrated learning). Tahapan pengembangan desain pembelajaran, yaitu (1) pendesainan strategi pengorganisasian isi pelajaran dan strategi penyampaian isi pelajaran serta strategi pengelolaan pelaksanaan pembelajaran; (2) pengujian desain pembelajaran melalui tiga tahap, yakni tahap pertama uji pakar dan pengguna/user (guru); tahap kedua uji publik melalui lokakarya (focus group discussion) dan uji coba tahap ke tiga melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Untuk keperluan pengumpulan data digunakan angket, lembar observasi, catatan lapangan, pedoman wawancara. Sesuai dengan tahapan pengembangan, diperoleh hasil sebagai berikut: Pertama, teori yang digunakan untuk mengembangkan desain pengorganisasian isi pelajaran, penyampaian isi pelajaran dan pengelolaan pelaksanaan pembelajaran adalah Model Kemp, Model Elaborasi, dan Component Display Theory. Untuk uji coba produk digunakan model Borg & Gall. Kedua, desain pembelajaran seni tari berbasis localgenius knowledge berpendekatan integrated learning yang telah ditinjau dan diuji coba oleh pakar, user, seniman, guru, siswa mendapat respon yang sangat positif dan ada dalam kualifikasi sangat layak. Sedangkan uji coba melalui penelitian tindakan kelas (PTK) pada siklus Idan siklus II terkatagori baik.This research aims at resulting dance teaching and learning design in elementary schools by applying the sources of Bali’s local genius knowledge. Research types is development research which provides a product which able to facilitate the process of dance teaching and learning design based on integrated learning approach. The stages of teaching and learning design development consists of; (1) the making of content organization, content delivering and teaching and learning management strategies; (2) Evaluation of teaching and learning design, which can be divided into; 1st stage is expert and user (teachers) evaluation; 2nd stages is public evaluation through focus group discussion and 3rd stage is class research. The data was collected in the form of quisioners, observations sheets, field notes and interviews guideline. Based on development stages, the results can be concluded as below: firstly, the theories which are applied to develop dance teaching and learning design of teaching, delivering and management contents are Kemp and Elaboration Models, and Component Display Theory. During the product evaluation stage the teories applied is Borg & Gall model. Secondly, teaching and learning design based on local genius using integrated learning approach has been reviewing and evaluating by experts, users, artist and students obtain positive response in excellence quality. Meanwhile, evaluation through callas activity on cycles I and II is categorized good.
Seni Lukis Sebagai Refleksi Ketidakberdayaan dan Keterpinggiran Cokek Sarnadi Adam
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.323

Abstract

Penelitian ini didorong oleh kerinduan peneliti pada Tari Cokek  sebagai bagian dari lingkungan budaya pada masa silam untuk menjadi inspirasi seni lukis. Setelah dilakukan studi literatur, observasi, wawancara dan pendokumentasian, ditemukan fakta, bahwa masyarakat pendukung Cokek telah semakin menurun, sehingga kesenian ini tidak berdaya untuk mempertahankan eksistensinya, ditandai dengan terpinggirnya Cokek dari pusat Jakarta ke Tangerang. Para pelaku Cokek mengalami dilema atau berada dalam pilihan yang sulit: untuk bertahan, penanggap telah semakin langka, sedangkan untuk beralih profesi mereka tidak memiliki keahlian lain karena kecintaannya pada Cokek. Dilema tersebut, khususnya pada problem ketidakberdayaan dan keterpinggiran Cokek, menjadi sumber inspirasi utama untuk menciptakan 7 (tujuh) lukisan pasca penelitian. Adapun metode penciptaannya meliputi: eksplorasi ide, bentuk, dan teknik. Hasilnya, sebagai temuan penciptaan, adalah seni lukis dekoratif nostalgis, ialah seni lukis bercorak dekoratif yang mengaktualisasikan rasa rindu dan rasa iba pada Cokek sebagai bagian dari budaya Betawi masa silam yang kini semakin menghilang.This research is motivated by the longing of researchers at Cokek Dance as part of the cultural environment in the past to become an inspiration of painting. After the study of literature, observation, interviews and documentation, it was found that Cokek's supporting societies had declined, so that this art tradition was powerless to maintain its existence, marked by the marginalization of Cokek from central Jakarta to Tangerang. Cokek actors are in a dilemma or are in a difficult choice: to survive, the responders have become scarce, while to switch professions they have no other skills because of their love of Cokek. The dilemma, particularly on the powerlessness and marginalization of Cokek, became the main source of inspiration for creating 7 (seven) post-research paintings. The method of creation includes: the exploration of ideas, forms, and techniques. The result, as the invention of creation, is a nostalgic decorative art, is a decorative patterned painting that actualizes the longing and pity of Cokek as part of Betawi culture which is now disappearing.
Angsel-Angsel dalam Gong Kebyar I Ketut Yasa
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.324

Abstract

Gong Kebyar dewasa ini merupakan salah satu jenis gamelan Bali   memiliki kedudukan yang sangat kuat atau dominan di antara perangkat gamelan Bali lainnya. Adapun angsel adalah bagian dari garap gending yang berupa garap khusus yang biasanya sebagai variasi atau tekanan untuk menghidupkan suasana garapan, juga bisa sebagai tanda peralihan, tanda berhenti sesaat ataupun tanda selesai (suwud). Hasil penelitian menunjukkan, bahwa di dalam Gong Kebyar ada beberapa jenis angsel, sembilan di antaranya yaitu 1) angsel Kempli, (2) angsel Kempul, (3) angsel Kemong, (4) angsel Gong, (5) angsel Tugak, (6) angsel Sigug/Ngandang, (7) angsel Bawak/Pendek, (8) angsel Lantang/Dawe/Panjang, dan (9) angsel Suwud/selesai. Motif angsel dapat dikelompokkan menjadi 11 kelompok menurut panjang pendeknya angsel berdasarkan ketukan-ketukan atau tabuhan Kajar yang terkandung dalam angsel itu sendiri. Ke 11 kelompok tersebut adalah dari kelompok satu birama sampai kelompok 12 birama. Terakhir fungsi angsel  terutama  dalam  kelompok  gending  dapat  dikelompokkan  menjadi  dua yakni kelompok gending petegak dan gending iringan tari.Gong Kebyar today holds a position as one of the dominant types of Balinese gamelan, standing out amongst other Balinese gamelan devices.  Angsel is a part of garap gending in the form of a special work that is usually presented as a variation or tension to liven up the atmosphere of garapan.  It can also take form as a sign of transition, a moment of pause or a sign of completion (suwud). The result of this research shows that in Gong Kebyar, there are several types of angsel, nine of which are (1) angsel Kempli, (2) angsel Kempul, (3) angsel Kemong, (4) angsel Gong, (5) angsel Tugak, (6) angsel Sigug / Ngandang, (7)   Bawak/ short, (8) Angsel Lantang / Dawe / Long, and (9) angsel Suwud / finish. The motifs of the angsel can be grouped into 11 groups according to the shortness or length of the angsel based on the taps or the beat of the Kajar contained within the angsel itself. The 11 groups are from the group of one bar to the group of 12 bars. Lastly, the function of the angsel, especially in the group of gending can be grouped into two, namely pategak gending and dance accompaniment gending.
Nilai Pendidikan Karakter Dalam Ragam Gerak Tari Srimpi Pandelori Gita Purwaning Tyas
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.329

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna ragam gerak nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam ragam gerak tari Srimpi Pandelori gaya Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan naratif dengan latar di KHP Kridha Mardhawa Kraton Yogyakarta. Informan penelitian yaitu beberapa pengajar tari Srimpi Pandelori di Kawedanan Hageng Punakawan  Kridha Mardhawa, objek penelitiannya adalah ragam gerak tari Srimpi Pandelori. Sumber data penelitian diperoleh dari sumber data primer hasil observasi ragam gerak melalui latihan tari Srimpi Pandelori di Bangsal Kasatriyan dan pentas tari Srimpi Pandelori di Bangsal Srimanganti, sumber data sekunder yang diperoleh melalui pengumpulan data dokumentasi yang berupa foto dan video tari Srimpi Pandelori,  serta buku tentang tari Srimpi. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari srimpi pandelori mengandung makna dan nilai pendidikan karakter yang tercermin dalam  beberapa ragam gerak diantaranya yaitu ragam gerak sembahan yang terdapat pada awal dan akhir tarian, tasikan kengser, ulap-ulap, sudukan, ecen, aben sikut, dan nglayang. Makna ragam gerak  tersebut terdiri dari makna: 1) tentang kesyukuran terhadap Tuhan yang Maha Esa, 2) tentang menghargai diri sendiri, 3) kehati-hatian diri atau sikap waspada, dan 4) tentang kebaikan dan keburukan. Tari srimpi pandelori juga mengandung nilai pendidikan , nilai pendidikan  yang terkandung dalam tari srimpi pandelori adalah 1) nilai pendidikan  religi, 2) nilai pendidikan  sopan santun, 3) nilai pendidikan  tanggung jawab, 4) nilai pendidikan  etika, dan 5) nilai pendidikan  kepribadian.This research was aimed to reveal the meaning of movement style and the educational value contained in Srimpi Pandelori dance. This research was qualitative research by using the narrative approach. This research was a qualitative research by using narrative approach. The setting of this research was in Kawedanan Hageng Punakawwan Kridha Mardhawa. The informans of this research were the teachers in Kawedanan Hageng Punakaewan Kridha Mardhawa. Meanwhile, the object of this research was Srimpi Pandelori dance. The primary data for this research was obtained from the observation of various gestures in Srimpi Pandelori dance practiced in Kasatriyan Bangsal and Srimpi Pandelori dance performance in Bangsal Srimanganti. The secondary data were obtained from documents in the form of photo and video, as well as a handbook about Srimpi dance. The data were collected through observation, interview, and documentation. The analysis techniques consisted of data reduction, presentation of data, and conclusions. The result of the research showed that Srimpi Pandelori dance contained meaning and values reflected in some of the various movements including the beginning and the end of dance namely, tasikan kengser, ulap-ulap, sudukan, ecen, aben sikut, and nglayang. The meaning of the movements in Srimpi Pandelori dance included : 1) gratituded God the  Almighty, 2) self-esteem, 3) self-caution or awareness, and 4) goodness and badness. In addition Srimpi Pandelori dance also had  educational value about 1) religion, 2) moral, 3) responsibility, 4) ethics, and 5) personality.
Wayfinding Sign pada Ruang Pameran Tetap di Museum Nasional Indonesia – Jakarta Heru Budi Kusuma
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.331

Abstract

Wayfinding atau orientasi topografi, merupakan kemampuan menentukan lokasi, menemukan tempat dalam fasilitas gedung. Sebagai media penunjuk arah, Wayfinding Sign yang diterapkan pada ruang pameran tetap belum memenuhi kebutuhan yang dapat memberikan informasi yang cukup, mengenai arah mana yang harus dituju untuk mencapai area tertentu, warna-warna yang tercantum dalam panel informasi pun tidak memberikan arti tertentu. Permasalahan pada Wayfinding Sign pada ruang pameran tetap yang dianalisis meliputi: Ukuran; dimensi tanda yang proporsional terhadap luas area dimana tanda tersebut berada,sehingga memungkinkan tanda tersebut dapat mudah terlihat. Warna; berkaitan dengan warna pada tanda telah sesuai peruntukannya dan memperhatikan warna disekitar tanda berada. Kontras; berkaitan dengan estetika tanda yang dominan terhadap kondisi disekitar tanda sehingga tanda tampak eksistensinya. Intensitas; berkaitan terhadap sesuatu yang dapat memberikan stimulus sehingga menarik perhatian terhadap tanda. Posisi ; berkaitan dengan perletakan tanda yang memperhatikan jangkauan penglihatan pengunjung yang mengarah ketempat tanda tersebut berada. Untuk memfokuskan penelitian dan menemukan hubungan antara satu data dengan data yang lain, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data hasil observasi, pengukuran, deskripsi, dan analisis data dengan teknik Triangulasi Data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Directional Sign; menggunakan tanda ‘warna’ yang tidak ada hubungannya dengan lokasi lantai ruang pameran dan nuansa warna ruangan yang ditunjukan, dan terdapat sign yang menginformasikan arah yang tidak tepat. Informational Sign; tanda yang memberikan informasi tentang materi koleksi yang didisplay dalam ruang pameran tetap, sudah sesuai dan efektif. Identificational Sign; perletakannya yang tidak tepat sehingga menggangu kenyamanan pengunjung dalam membaca informasinya dan membuat posisi membaca yang tidak sehat dan aman.Wayfinding or topographic orientation, is the ability to determine the location, find a place in a building facility. As a signpost, Wayfinding Sign that is applied to the exhibition space still does not meet the needs that can provide enough information, on which direction should be addressed to reach a certain area, the colors contained in the information panel did not give a certain meaning. Problems with Wayfinding Sign on fixed exhibition space analyzed include: Size; dimensional marks proportional to the area in which they are located, allowing them to be easily visible. Color; related to the color on the mark has been appropriate designation and pay attention to the color around the mark resides. Contrast; related to the aesthetics of the dominant sign to the condition around the sign so that the sign appears its existence. Intensity; relates to something that can provide a stimulus that draws attention to the mark. Position; relating to the marking placement that takes into account the visibility of the visitor leading to where the mark is located. To focus the research and find the relationship between one data with other data, then this research using qualitative research method. Data result of observation, measurement, description, and data analysis with Data Triangulation technique obtained conclusion as follows: Directional Sign; using a 'color' sign that has nothing to do with the floor location of the exhibit hall and the color tone of the room shown, and there is a sign that informs the improper direction. Informational Sign; a sign that provides information about the collection material displayed in a fixed exhibit space, is appropriate and effective. Identificational Sign; inappropriate placement so as to interfere with the comfort of visitors in reading the information and create an unhealthy and safe reading position.
Inovasi Aplikasi Media Pembelajaran Tari Bali Berbasis Android Ni Made Dian Widiastuti
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.336

Abstract

Tari Bali sebagai seni yang cukup populer di masyarakat dengan jumlah peminat untuk mempelajarinya terus bertambah. Bertambahnya peminat tidak diimbangi dengan jumlah media yang ada untuk membantu proses pembelajarannya, mengingat bahwa belajar tari Bali tidak mudah dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda pada setiap tariannya dan waktu yang diperlukan tidak sedikit. Bagi masyarakat modern yang dinamis tidak semua orang memiliki waktu khusus untuk belajar tari di sanggar, sehingga diperlukan teknologi atau media pembelajaran yang praktis sebagai alternatif dalam belajar tari Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) spesifikasi produk aplikasi media pembelajaran tari Bali berbasis android, (2) proses pengembangan media pembelajaran tari Bali berbasis android dengan mengambil materi tari Cendrawasih. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dengan model pengembangan yang digunakan sebagai acuan yaitu model Four-D oleh Thiagarajan (1974). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam proses penelitian ini adalah dengan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) produk yang dikembangkan berupa aplikasi pembelajaran tari Cendrawasih yang disajikan kedalam smartphone berbasis android dengan sajian materi secara bertahap mulai dari deskripsi, ragam gerak tari, hingga kuis (2) proses pengembangannya yang telah dilakukan saat ini menggunakan tahapan define, design, develop. Kegiatan define dengan menentukan masalah yang terjadi, design merancang materi ataupun tampilan media, dan develop adalah mewujudkan hasil rancangan kedalam bentuk nyata.Balinese Dance is popular art in the community with the number of enthusiasts to learn it continues to grow. Increased interest is not matched by the amount of media available to aid the learning process, considering that learning Balinese dance is not easy with different difficulty levels in each dance and the time required is not small. For the dynamic modern society not everyone has a special time to learn dance in the studio, so it takes technology or practical learning media as an alternative in learning Balinese dance. This study aims to describe (1) the specification of application of Balinese dance-based dance learning media, (2) the process of developing Balinese dance based learning media by taking Cendrawasih dance material. This research uses research and development method or Research and Development (R & D) with the development model used as a reference that is Four-D model by Thiagarajan (1974). Data collection techniques used in this research process is by observation and interview. The result of research shows that (1) the product developed in the form of Cendrawasih dance learning application which is presented into android based smartphone with gradual material presentation starting from description, dance variety, to quiz (2) development process which has been done now using define stage, design, develop. Activities define by determining the problem that occurs, design material or media display, and develop is to realize the results of the design into the real form.

Page 9 of 50 | Total Record : 496