MUDRA Jurnal Seni Budaya
AIMS The journal presents as a medium to share knowledge and understanding art, culture, and design in the area of regional, national, and international levels. In accordance with the meaning of the word “Mudra”, which is a spiritual gesture and energy indicator, it is hoped that the journal will be able to vibrate the breath of art knowledge to its audience, both academics, and professionals. The journal accommodates articles from research, creation, and study of art, culture, and design without limiting authors from a variety of disciplinary/interdisciplinary approaches such as art criticism, art anthropology, history, aesthetics, sociology, art education, and other contextual approaches. SCOPE MUDRA, as the Journal of art and culture, is dedicated as a scientific dialectic vehicle that accommodates quality original articles covering the development of knowledge about art, ideas, concepts, phenomena originating from the results of scientific research, creation, presentation of fine arts, performing arts and new media from researchers, artists, academics, and students covering areas of study: Performing Arts: dance, puppetry, ethnomusicology, music, theater,performing arts education, performing arts management Fine Arts: fine arts, sculpture, craft art, fine arts education,fine arts management, including new media arts Design: interior design, graphic communication design, fashion design,product design, accessories and/or jewelry design Recording Media : photography, film, television, documentary, video art, animation,game Culture : linguistic, architecture, verbal tradition, as well as other communal tradition The object of research is explored in a variety of topics that are unique, relevant, and contextual with environmental and sustainability aspects, local wisdom, humanity and safety factors. In addition to that, the topic of research needs to be original, creative, innovative, excellence, and competitive.
Articles
496 Documents
Seni Perekaman Lagu 0 Tao Toba dan Pulo Samosir Karya Nahum Situmorang dengan Menggunakan Instrumental Akustik pada Jack's One Studio
Emmi Simangunsong;
Junita Batubara;
Sombama Tambunan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 1 (2016): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (8684.277 KB)
|
DOI: 10.31091/mudra.v31i1.249
Artikel ini menjelaskan mengenai proses recording Di Jack's One Studio terhadap dua buah lagu tradisional Batak Toba yaitu 0 Tao Toba dan Pulo Samosir Karya Nahum Situmoraug. Ada beberapa tahapau yang digunakan instruktur Jack's One Studio dalam recording musik instrumental akustik pada saat perekaman yaitu: Composing, Arrangging, Recording, Mixing, dan Mastering. Ini juga tidak hanya untuk deskrip tetapi menemukan dan mengetahui konsep dan aplikasi dalam pengerjaau perekaman dengan menggunakan musik program komputer khususnya untuk instrumental akustik.
Tradisi Khabanti Kantola sebagai Model Pendidikan Karakter Terintegrasi Kurikulum Lokal dalam Pendidikan Seni Budaya di Sekolah Menengah Kabupaten Mona
La Taena;
La Ode Ali Basri;
La Ode Balawa;
- Rasiah
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31 No 1 (2016): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6693.538 KB)
|
DOI: 10.31091/mudra.v31i1.250
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan peran tradisi kabhanti kantola dalam pendidikan karakter yang dapat dimanfaatkan secara terintegrasi dalam mata pelajaran seni budaya (lokal) di sekolah menengah di Kabupaten Muna. Kabhanti kantola merupakan sebuah tradisi yang berfungsi sebagai sarana komunikasi dan hiburan dalam masyarakat Muna dengan pola nyanyian berbalas pantun (folksong) yang diwariskan secara turun-temurun. Lokasi penelitian adalah tiga kecamatan di kabupaten Muna yaitu, Kecamatan Katobu, Kecamatan Watuputih, dan Kecamatan Tongkuno. Data dikumpulkan melalui teknik observasi pementasan, teknik rekam, transkripsi, terjemahan, dan interpretasi, data kemudian dianalisis secara qualitatif-interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna dan nilai yang muncul dalam teks-teks Kabhanti kantola mengandung berbagai ajaran, nasehat, dan kritik-kritik yang membangun, membimbing, dan mengarahkan karakter masyarakat pendukungnya Nilai-nilai itu diantaranya adalah menumbuhkan rasa kebersamaan, ajaran mengenai etika dalam pergaulan, bakti kepada orang tua, pentingnya kemapanan ekonomi sebelum berkeluarga, dan larangan terhadap judi. Kritik, araban, dan pesan seperti ini dimaksud kan untuk menciptakan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, serta mempertahankan nilai-nilai moralitas yang diyakini benar oleh masyarakat Muna. Pendidikan karakter terintegrasi dalam pendidikan seni budaya yang berbasis budaya lokal sangat penting diterapkan di sekolah Menengah di Kabupaten Muna.
Implementasi Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Menggambar Realis pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Ponorogo
Belinda Dewi Regina
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v33i2.256
Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Ponorogo merupakan salah satu sekolah di Ponorogo yang mana mengajarkan gambar realis dalam mata pelajaran Seni Budaya. Berdasarkan wawancara dengan guru dan beberapa siswa bahwa prestasi belajar menggambar realis cenderung lebih rendah dibandingkan materi pelajaran Seni Budaya yang lain seperti menggambar kartun. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku anak yang selalu membuat kesal para guru saat pembelajaran berlangsung. Sebagian besar siswa tidak tertarik terhadap pembelajaran ini disebabkan rasa jenuh dan kurangnya kemampuan mereka dalam menggambar. Melihat fenomena seperti yang dipaparkan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian “Implementasi Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Menggambar Realis pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Ponorogoâ€. Tujuan penelitian ini (1) Mendiskripsikan proses Implementasi Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Menggambar Realis pada Siswa SMPN 1Ponorogo. (2) Mendiskripsikan seberapa besar perbedaan penggunaan metode Eksperimen dengan metode pembelajaran sebelumnya untuk meningkatkan prestasi belajar menggambar realis pada siswa SMPN 1 Ponorogo. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara, angket dan studi dokumentasi. Dengan jumlah siswa kelas VIII B 25 siswa yang terdiri dari 17 putri dan 8 putra, metode eksperimen menggunakan siklus I dan siklus II, didapatkan nilai rata-rata siklus I : 81,8, dan siklus II : 85,6. Dengan menggunakan metode eksperimen membuktikan adanya peningkatan nilai sebanyak 3,8. Dalam hal ini peneliti menemukan bahwa dengan menggunakan metode eksperimen untuk pembelajaran menggambar realis dapat meningkatkan prestasi belajar dibandingkan metode yang digunakan sebelumnya yaitu metode diskusi.State Junior High School 1 Ponorogo is one of the schools in Ponorogo that teaches realist images in Arts and Culture subjects. Based on interviews with teachers and some students that learning achievement of realist drawing tends to be lower than other subjects of Arts and Culture such as drawing cartoons. This is indicated by the behavior of children who always upset the teachers while learning takes place. Most students are not interested in this learning due to their saturation and lack of ability in drawing. Seeing the phenomenon as described above, researchers are interested to conduct research "Implementation of Experimental Methods to Increase Achievement of Realist Drawing Learning at Junior High School Students 1 Ponorogo". The purpose of this research (1) to describe the process of Implementation of Experimental Method to Increase Achievement of Realistic Drawing Learning on Junior High School Students 1 Ponorogo. (2) to describe how much difference of experiment method use with previous learning method to improve learning achievement of realist drawing on students of SMPN 1 Ponorogo. This research is a Classroom Action Research with qualitative descriptive approach. Data collection techniques are conducted through observation, interviews, questionnaires and documentation studies. With the number of students of class VIII B 25 students consisting of 17 daughters and 8 sons, the experimental method using cycle I and cycle II, obtained the average value of cycle I : 81.8, and cycle II : 85.6. Using the experimental method proves an increase in value of 3.8. In this case the researchers found that by using the experimental method for realist drawing learning can improve learning achievement than the method used previously is the method of free copyrights.
Pemuliaan Tanaman Padi melalui Pertunjukan Wayang Kulit dalam Upacara Bersih Desa di Geneng, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah
Sutiyono Sutiyono;
. Rumiwiharsih;
Bambang Suharjana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v33i2.267
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pemuliaan tanaman padi melalui pertunjukan wayang kulit lakon Dewi Sri dalam upacara Bersih Desa. Pendekatan penelitian yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Geneng, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah dari bulan Mei  hingga September 2017. Sebagai subjek penelitian adalah masyarakat petani Desa Geneng, sesepuh Desa Geneng, dalang wayang kulit, pengrawit, jurukunci makam, penjual makanan, dan peziarah. Cara pengumpulan data ditempuh dengan: observasi, dokumentasi, studi pustaka, dan wawancara. Data penelitian dianalisis dengan tahapan: koleksi data, reduksi data, pemeriksaan data, dan penarikan kesimpulan. Untuk mengetahui keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa: (1) Tata cara pemuliaan tanaman padi adalah dengan mengadakan upacara Bersih Desa meliputi pembersihan manusia dan lingkungan secara  fisik dan batin di Desa geneng yang disertai doa berssama, (2) Tata cara pemuliaan tanaman padi adalah dengan mempresentasiknan Lakon Dewi Sri dalam pertunjukan wayang kulit, yang mengisahkan bahwa kehidupan manusia sangat tergantung pada kehidupan Dewi Sri yang memberi kesejahteraan umat manusia.This study aims to describe the form of rice plant breeding through shadow puppet performing art in Bersih Desa ritual. The research approach used is qualitative approach. The research was conducted in Geneng, Trucuk, Klaten, Central Java from May to September 2017. As the research subjects were farmers of Geneng Village, Geneng village elders, puppeteer puppeteers, pengrawit, jurukunci graves, food vendors, and pilgrims. Data collection is done by: observation, documentation, literature study, and interview. Research data is analyzed by stages: data collection, data reduction, data examination, and conclusion. To know the validity of data is done with triangulation. The expected result of this research is the form of rice plant breeding through wayang kulit kulit play Dewi Sri in Clean Village ceremony is a cultural activity consisting of: (1) Procedure of rice plant breeding is to conduct a physical and mental cleansing ceremony in Geneng Village accompanied by a prayer together, (2) The procedure of rice plant breeding is by presenting Dewi Sri in the wayang kulit show, which tells us that human life is very dependent on the life of Dewi Sri giving the welfare of mankind.
Tradisi Ziarah Makam Bathara Katong (Tinjauan Deskripsi Akulturasi Budaya)
Amirul Nur Wahid;
. Sumarlam;
Slamet Subiyantoro
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v33i2.289
Masyarakat Jawa, tak terkecuali masyarakat Ponorogo seringkali memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dilakukakan. Kebiasaan-kebiasaan ini diwariskan secara turun temurun hingga menjadi sebuah tradisi. Tradisi ziarah makam Bathara Katong merupakan salah satunya. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Ponorogo dan sekitarnya sejak zaman dahulu. Bathara Katong merupakan tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam. Pada saat itu terjadi transisi antara agama lama dan baru dari segala aspek. Transisi inilah yang menjadikan akulturasi budaya diantara kedua hal tersebut. Akulturasi budaya ini juga merambah bidang kesenian di area sekitar makam, misalnya munculnya kesenian Jemblung yang merupakan akulturasi antara dua kebudayaan menjadi satu. Selain kesenian, akulturasi juga dapat ditemukan di arsitektur bangunan-bangunan, proses ziarah, serta benda-benda yang dibawa oleh peziarah makam Bathara Katong. Nama Bathara Katong sendiri sebenarnya merupakan sebuah akulturasi kebudayaan. Hanya saja dikarenakan mengikuti perkembangan zaman, tradisi ini juga mengalami perubahan-perubahan dalam akulturasinya. Artikel ini akan mencoba mengupas hal tersebut.Javanese are no exception Ponorogo people have certain habits. This habit is passed down from generation to generation and then becomes a tradition. The pilgrimage tradition of Bathara Katong's tomb is one of them. This tradition is done by the people of Ponorogo and its surroundings since antiquity. Bathara Katong is a central figure in the spread of Islam in Ponorogo. There was a transition between old and new cultures from various aspects. This transition is considered to be the cause of cultural acculturation. Acculturation of this culture also penetrated the field of art in the area around the tomb, for example the emergence of art Jemblung which is the acculturation between two cultures into one. In addition to art, acculturation can also be found in the architecture of the building, the process of pilgrimage, and the objects brought by the pilgrims of the tomb of Bathara Katong. The name Bathara Katong itself is actually an example of cultural acculturation. Just because it follows the times, this tradition has also changed. This article will try to explore it.
Perancangan Souvenir Beridentitas Tradisi Telingaan Aruu Khas Suku Dayak
Wyna Herdiana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v33i2.309
Suku Dayak merupakan salah satu suku yang terdapat di Kalimantan yang memiliki kebudayaan â€Telingaan Aruu†yang sangat khas. Tradisi tersebut merupakan tradisi yang diteruskan secara turun temurun kepada para wanita suku Dayak. Namun, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan karena anggapan bahwa tradisi tersebut sudah ketinggalan jaman. Oleh karena itu perlu ada pengenalan mengenai kebudayaan tersebut kepada masyarakat umum, agar generasi muda tetap mengetahui adanya tradisi tersebut di Indonesia. Hal inilah yang membuka peluang untuk dibuatnya perhiasan sebagai salah satu bentuk souvenir khas suku Dayak. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah 1). Pembuatan alternatif desain perhiasan yang mengangkat kebudayaan â€Telingaan Aruu†yang akan dijadikan sebagai souvenir khas Suku Dayak, tradisi tersebut merupakan tradisi khas suku Dayak yang sudah mulai punah; 2) Perwujudan prototype dari alternatif desain. Konsep desain yang digunakan adalah Massive Jewelry with Telingaan Aruu Tradition Typical of Dayak Tribe yaitu kata kunci Massive diambil karena perhiasan dibuat dalam ukuran cukup besar yang eyecatching, perhiasan besar mengandung makna bahwa kesanggupan dalam menahan derita suku Dayak cukup besar. Metode yang digunakan adalah dengan analisis aspek teknis dan aspek estetis dengan stilasi dan deformasi bentuk. Hasil yang diperoleh adalah pembuatan souvenir berupa perhiasan dengan bahan dasar perak dan terdiri dari beberapa jenis perhiasan, yaitu gelang, kalung, anting-anting, dan cincin.Dayak tribe is one of many tribes in Kalimantan with a distinctive tradition of “Telingaan Aruuâ€. This tradition is passed through many generations of Dayak women. However, this tradition is now facing the threat of extinction. Therefore, there was a strong need to brought back the tradition to the wider public as a keepsake for many generations about to come. By this ground, there was an opportunity to design a Dayak tribe inspired souvenir with a form of jewelry. Accordingly, this research has two aims: 1) to create some design alternatives with “Telingaan Aru†as the main inspiration for Dayak tribe souvenir, in order to save the tradition from extinction; 2) to create the prototype from the design alternatives. The design concept is “Massive Jewelry with Telingaan Aruu Tradition Typical of Dayak Tribeâ€. “Massive†itself was chosen to be the keyword as the jewelry will be designed with eyecatching massive size, in which this massive size also has the meaning of willingness to withstand all the suffer in Dayak tribe life. The research will utilize the technical and esthetical aspects analysis method with stylation and deformation. Furthermore, this research resulted in a Dayak tribe souvenir in a form of jewelry such as bracelet, necklace, earrings, and ring; with silver as the main material.
Desain Ilustrasi Foto Pada Baju Kaos Dengan Media Fotografi Digital Pendukung Pariwisata Budaya Di Pura Tanah Lot Dan Taman Ayun
I Made Saryana;
Anis Raharjo;
Amoga Lelo Octaviano
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v33i1.313
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan industri kreatif dengan menerapkan fotografi digital melalui pengembangan produk instan dengan desain ilustrasi foto pada baju kaos. Pemilihan Obyek wisata Pura Tanah Lot Tabanan dan Pura Taman Ayun Badung Bali, dijadikan obyek penelitian karena obyek wisata tersebut selalu ramai dikunjungi wisatawan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi pustaka. Data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara dianalisis dengan menggunakan metode penciptaan seni, sehingga hasil análisis dapat dijadikan pedoman atau konsep dasar dalam pengembangan produk sovenir baju kaos. Penelitian ini dilakukan dengan (1) Mengidentifikasi berbagai jenis sovenir baju kaos yang dijual pada kawasan obyek wisata Tanah Lot Tabanan dan Pura Taman Ayun Badung Bali, baik dari bahan, desain ilustrasinya serta teknik pembuatannya. (2) Menganalisis harga, tingkat penjualan, serta bahan, desain ilustrasinya dan teknik pembuatannya.  (3). Melakukan eksperimen desain ilustrasi foto dengan fotografi digital dan pengolahan melalui komputer. (4) Pembuatan ilustrasi foto dan menerapkannya dengan fotografi dan sablon digital pada baju kaos.This research started with observation of several tourism destinations in Bali such as Tanah Lot in Tabanan and Taman Ayun Badung. The observation is that by taking pictures of tourists and then selling it on photo printed paper, profit margins are minimized. Furthermore, selling t-shirts as souvenirs on which the design is lacking in representation of the location show restricted and minimized monetization capabilities. Based on these observations, the researcher intends to conduct research while creating an innovative product which is capable of representing the aforementioned locations. Through implementation of digital photography and patternization modalities, designed photos can instantaneously be printed on the t-shirt, and automatically it may be worn by tourists. This technique can prove to have drastic impact upon the profit margins of vendors in comparison to conventional modalities. The aim of the research is to develop creative industry by applying digital photography through the development of instant product through creative design on t-shirts. The option to choose Tanah Lot and Taman Ayun temples because these toruism objects are of the most favorite tourism destinations steadily receive visitation from many tourists from all around the world. This research focuses on (1) The identification of T-shirts as souvenirs sold in Tanah Lot temple in Tabanan and Taman Ayun temple in Badung, based on fabric, lllustration design and the production techniques. (2) Price analysis, seeling rank, fabric, illustration design and production techniques; (3) To conduct experimental photography llustration design through digital photography and computer-driven image processing; (4) The production of photo llustration and digital patterns on t-shirts. Data collection is taken based on observation, interviews and library research. The data is analyzed using art creation method therefore it can be used as guidance or a basic concept in developing t-shirts as souvenirs
Rekontruksi Nilai-Nilai Konsep Tritangtu Sunda Sebagai Metode Penciptaan Teater Ke Dalam Bentuk Teater Kontemporer
Tatang Rusmana
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v33i1.314
Konsep filosofi Tritangtu Sunda, sebagai falsafah hidup masyarakat Sunda di Kabupaten Bandung. memiliki tiga makna penting tentang pembagian dunia, tiga dunia itu yakni Buana Nyungcung (Dunia Atas, simbolnya; Langit, Air, dan Perempuan), Buana Larang (Dunia Bawah, simbolnya; Bumi, Tanah, dan Laki-laki), dan Buana Pancatengah (Dunia Tengah, simbolnya; Batu, Manusia, Laki-laki dan Perempuan). Tritangtu Sunda merupakan perspektif penyatuan tiga dunia dalam kehidupan masyarakat petani. Penyatuan tersebut yaitu perkawinan Buana Nyungcung dengan Buana Larang, dan Buana Pancatengah-lah yang menyatukannya. Konsep Tritangtu Sunda berpengaruh terhadap seni tutur Wawacan yang lazim ditampilkan ke dalam Seni Beluk. Wawacan inilah yang ikut membentuk pikiran kolektif masyarakat Sunda. Wawacan yang menjadi sumber penelitian disertasi ini adalah “Wawacan Nata Sukma†yang ditulis anonim oleh masyarakat Banjaran, Kabupaten Bandung tahun 1833 M (abad ke-19) dalam masa “tanam paksa†untuk menanam kopi di Pangalengan. Tritangtu Sunda akan difungsikan sebagai perangkat penciptaan seni teater berbasis teater kontemporer (terutama penyutradaraan). Penelitian menggunakan penajaman teori resepsi Isser, untuk mengaktualisasikan karya dengan cara yang berbeda, karena tidak ada tafsir tunggal yang benar (Culler, 2003). Pendekatan lain pendapat George Land dari teori transformasi, diartikan sebagai sebuah kreasi baru atau perubahan ke bentuk yang baru baik secara fungsi maupun strukturnya. “To transformâ€, berarti mengkreasikan yang baru yang belum pernah ada sebelumnya, transformasi juga bisa berarti perubahan “polapikirâ€. Perangkat penelitian menggunakan metoda yang disarankan Schechner (2002 dan 2004) dan metode mise en scene yang dirumuskan oleh Patrice Pavis. The concept of the Sunda Tritangtu philosophy, is the life philosophy of the Sundanese community including in Bandung regency. Derived from this philosophy are three important meanings of the division of the world, the three worlds are Buana Nyungcung (Upper world, its symbols: Heavens, Water, and Woman), Buana Larang (Underworld, symbols; Earth, Land and Man), and Buana Pancatengah (Middle world, symbol: Stone, Man, Man and Woman). The Sundanese Tritangtu is the perspective of the unification of the three aforementioned worlds in peasant life. The union is the marriage of Buana Nyungcung with Buana Larang, and Buana Pancatengah is the one that unites it. The concept of the Sundanese Tritangtu influences the art of Wawacan speech that is commonly integrated into the art of Beluk. Wawacan is a contributing factor in what helped shape the collective minds of the Sundanese people. Wawacan, which is the source of this dissertation research, is "Wawacan Nata Sukmaâ€, written anonymously by Banjaran society, Regency of Bandung in 1833 AD (19th century) during "Cultuurstelsel" to grow coffee in Pangalengan. Sunda Tritangtu functions as a tool for the creation of theater based contemporary theater modalities (especially directing). This research uses Isser's reception theory, to actualize the work in different ways. There is no single correct interpretation (Culler, 2003). Another approach of George Land's opinion of the theory of transformation, defined as a new creation or change to a new form both in function and structure. "To transform", means creating a new one that has never existed before, transformation can also mean a change of "mindset". The research used Schechner's method (2004 and 2004) and the mise en scene method formulated by Patrice Pavis.
Konsep Garapan Dan Kreativitas Seni Teater “Rumah Dalam Diriâ€
- Yusril
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v33i1.315
Karya seni teater “Rumah Dalam Diri†memuat persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan personal manusia dalam waktu kapan saja. Fenomena-fenomena sosial dan budaya seperti arus globalisasi yang tidak terbendung membuat pintu-pintu terpaksa dibuka dan mempersilahkan budaya global itu untuk masuk. Pemakaian pintu menyimbolkan ruang yang seharusnya tertutup dan terbuka apabila dikehendaki oleh pemilik pintu itu sendiri. Akan tetapi ruang tidak lagi menjadi milik personal namun telah menjadi milik komunal yang menyebabkan siapapun berhak untuk membuka dan menutupnya. Artinya pintu-pintu telah terbuka untuk banyak negara. “Aku†dan “kami†telah bertukar menjadi “kitaâ€. Tidak ada lagi ruang personal yang menyimpan persoalan-persoalan pribadi yang seharusnya bukan milik bersama. Namun kenyataannya, semua orang merasa memiliki apa yang dimiliki orang lain. Persoalan orang lain juga harus menjadi persoalan kita. Hal ini merupakan pemaksaan terhadap sesuatu yang semestinya tidak menjadi beban kita.Theater entitled “Rumah dalam Diri†contains problems happened in human’s personal environment in anytime. Social and cultural phenomena such as globalization that’s unstoppable result on doors that must be opened and then allow that global culture to enter. The use of door symbolizes room that’s supposed to be closed and opened whenever the door owner wants it to be opened or closed. However, room is no longer personal possession, it has become communal possession that causes anyone has a right to open and close the door. It means that doors have been opened for many countries. I and We has changed into We. There is no longer personal room that keeps personal problems that does necessarily not belong to communal possession. In fact, everybody feels that she has a right to possess everything’s owned by others. Someone else’s problem must become ours. This is a coercion toward something that’s necessarily not our problems.
Desain Kemasan Buah Pasca Panen Dengan Fungsi Higroskopis Melalui Pemanfaatan Komposit Limbah Kayu
Dudy Wiyancoko;
Imam Damar Djati;
Slamet Riyadi;
Bismo Jelantik
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31091/mudra.v33i1.317
Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan hasil pemanfaatan material ramah lingkungan untuk pengembangan desain kemaÂsan buah, khususnya kemasan dari tahap pasca-panen hingga pasar pengecer. Studi kasusnya adalah kemasan buah mangga gedong gincu di beberapa wilayah di Jawa Barat. Sedangkan material ramah lingkungan yang dimanfaatÂkan adalah tatal kayu yang mudah didapat sebagai limbah proses pengerjaan produk perkayuan. Hasil dari eksperiÂmentasi penelitian ini adalah: (1) Tatal kayu memiliki fungsi higroskopis, yakni kemampuan untuk menyerap moleÂkul air dan mampu menjadi material kemasan yang menahan buah agar tidak cepat busuk; (2) Desain kemasan buah yang dihasilkan dari bahan tatal kayu dapat dikembangkan sebagai wadah buah higroskopis dan kemasan buah secara moduler sehingga mudah untuk dibuat, dibawa, ditumpuk, dan digunakan oleh konsumen dengan tampilan yang dibuat menarik.This research aims to explain the potential and application of biodegradable material in fruit packaging design, specifically those prepared for post-harvest stage to the retail market. As a case study is packaging of mango ‘gedong gincu’ which is an excellent product of fruit farming in some regencies in West Java. Biodegradable material in this research is the use of wood shavings as a waste material obtained from woodworking process. The results of experimentation from this research are: (1) Wood shavings have hygroscopic function, that is having ability to absorb water molecules so the packaged fruit is not easy to rot; (2) The design of fruit packaging made from wood shavings can be developed as a hygroscopic fruit container and a modular packaging that is easy to make, deliver, stack, and used by the consumer with a good appearance.  Â