cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
KALANGWAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni Pertunjukan Kalangwan merangkum berbagai topik seni pertunjukkan, baik yang menyangkut konsepsi, gagasan, fenomena maupun kajian. Kalangwan memang diniatkan sebagai penyebar informasi seni pertunjukan sebab itu dari jurnal ini kita memperoleh dan memtik banyak hal tentang seni pertunjukan dan permasalahannya
Arjuna Subject : -
Articles 62 Documents
Perlindungan Hukum Terhadap Alat Musik Tradisional Bali Masyuni Sujayanthi, Ni Wayan; Arya Putraka, Agus Ngurah
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.449 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v4i2.558

Abstract

Keanekaragaman seni dan budaya di Indonesia menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki oleh bangsa ini, begitu halnya di Bali dimana seni dan budaya sudah dikenal sampai kemancanegara. Salah satunya adalah seni karawitan dimana alat musik tradisional Bali sudah banyak terdapat di negara lain dan sudah banyak dipelajari oleh bangsa lain, hal ini menimbulkan kekhawatiran terjadinya pengklaiman oleh negara lain sehingga dipandang perlu melalui penelitian ini yang bertujuan untuk menganalisis keurgensian pemberian perlindungan hukum terhadap alat musik tradisional Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dimana sumber data berupa data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan metode kuisioner, wawancara, dan studi pustaka kemudian diolah dan disajikan secara deskriptif dengan menarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini memberikan gambaran penting atau tidaknya pemberian perlindungan hukum terhadap alat musik tradisional Bali menurut para pendapat masyarakat yang berkecimpung di dunia seni karawitan Bali.The diversity of arts and cultures in Indonesia become one of the wealth owned by this nation, so as in Bali where art and culture have been well-known all over the world. One of them is karawitan art where the traditional Balinese musical instruments have been widely available in other countries and have been studied by other nations, it evokes the occurrence of claims by other countries, therefore it is necessary that through this research which aims at analyzing the urgency of providing legal protection to Balinese traditional musical instruments. The research method applied is qualitative research where the data sources are in the form of primary data and secondary data. The data collection was conducted by questionnaire method, interview, and literature study then processed and presented descriptively by drawing conclusions. The results of this study provide description on whether or not the provision of legal protection to Balinese traditional musical instruments according to the opinions of the people who are engaged in the art world of Balinese karawitan. 
Cak Ganjur: Sebuah Komposisi Musik Vokal Gabungan Cak Dan Balaganjur Antara, I Made Bayu; Sudirga, I Komang; Santosa, Hendra
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.059 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v4i2.495

Abstract

Cak Ganjur adalah sebuah judul komposisi musik vokal  yang menggabungkan musik Cak dan Balaganjur. Dalam proses penciptaannya, dilatarbelakangi oleh ketertarikan untuk mengangkat sebuah peristiwa pada ketertarikan pada keunikan yang dimiliki oleh gamelan Balaganjur, dan bagaimana menuangkannya dalam bentuk vokal, gerakan, dan tepukan tangan tanpa menggunakan alat, untuk menimbulkan nuansa baru yang mirip dengan pertunjukan kecak. Tujuan penciptaan komposisi Cak Ganjur adalah untuk mengeksplorasi lebih dalam pengalaman empiris dengan menggabungkan vokal Kecak dengan gamelan Balaganjur. Komposisi Cak Ganjur disusun melalui tiga tahapan penciptaan yaitu tahap penjajagan, dimulai dengan menjajagi berbagai literatur yang berkaitan dengan Kecak dan Balaganjur, dan melakukan pemilihan, analisis, dan pengolahan dari rekaman audio maupun audio visual sangat penting untuk dilakukan demi mencari inspirasi yang akan dikutip kembali dengan warna dan pengolahan secara baru. Penggarapan tidak mengabaikan hasil karya seniman yang sudah ada dan menarik kemungkinan dari segi motif dan pola garap musikal yang sudah ada sebelumnya, baik yang berkaitan dengan bentuk maupun suasana yang diinginkan. Kemudian tahap percobaan yang dimulai dengan cara menuangkan inspirasi gending yang akan digunakan dalam garapan ini secara bertahap dengan cara menuliskannya melalui notasi. Selanjutnya adalah tahap pembentukan yaitu merangkai dan menghubungkan motif-motif untuk selanjutnya dibentuk menjadi suatu keutuhan komposisi.Cak Ganjur is a title of vocal music composition that combines Cak and Balaganjur music. In the process of its creation, it was motivated by an interest to elevate an event to an interest in the uniqueness of Balaganjur gamelan, and how to pour it in vocals, movements, and applause without using tools, to create new nuances similar to kecak performances. The purpose of Cak Ganjur’s composition creation is to explore more deeply the empirical experience by combining Kecak vocals with the Balaganjur gamelan. The composition of Cak Ganjur is composed through three stages of creation, namely the assessment stage, beginning with exploring the various literatures related to Kecak and Balaganjur, and performing the selection, analysis and processing of audio and audio recording is very important to do in order to seek inspiration to be cited again with color and processing in a new way. Cultivation does not neglect the work of existing artists and draws possibilities in terms of motives and patterns of musical work that already existed, both related to the shape and the desired atmosphere. Then the experimental stage that begins with how to pour the gending inspiration that will be used in this gradually by way of writing it through notation. Next is the formation stage of assembling and connecting the motifs to be further formed into a whole composition. 
Tari Rejang Pusung Di Desa Pakraman Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem Sekar Arini, Ni Luh Ayu; Arshiniwati, Ni Made; -, Suminto
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4 No 2 (2018): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.119 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v4i2.559

Abstract

Tari Rejang Pusung merupakan tarian sakral yang ada di Desa Pakraman Geriana Kauh, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Keunikan yang dimiliki terletak pada pemilihan penari, kesederhanaan gerak dan hiasan kepala yang berbahan dasar kulit jeruk jeruti. Melihat keunikan yang dimiliki maka dipandang perlu untuk didokumentasikan dan diteliti. Namun faktanya, tulisan mengenai pementasan tari Rejang Pusung yang kaitannya dengan upacara Ngusaba Goreng masih sangat minim. Dengan demikian penelitian ini dianggap penting untuk dilakukan. Adapun dua pokok permasalahan yang dikaji, yakni mengenai bentuk dan fungsi tari Rejang Pusung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi tari Rejang Pusung sehingga manfaat dari hasil penelitian ini dapat dijadikan arsip desa yang bisa dibaca oleh generasi penerus agar kelestariannya tetap terjaga. Dalam pembahasannya menggunakan sumber tertulis serta dua buah teori yakni teori estetika dan teori fungsional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, studi kepustakaan, studi dokumentasi, sehingga didapat hasil sebagai berikut. Tari Rejang Pusung dibawakan dalam bentuk tari kelompok dengan ciri khas terdapat pada rambut penari yang dipusung dan ditarikan oleh gadis yang masih belia. Tari ini dipentaskan di Pura Puseh, Pura Pajenengan, Pura Dalem, dan Pura Dadia yang diiringi oleh kolaborasi baleganjur, kenyong dan gambang. Tari Rejang Pusung memiliki dua fungsi yakni fungsi primer dan sekunder. Fungsi primer yakni sebagai sarana ritual, sebagai hiburan diri dan sebagai presentasi estetis. Untuk fungsi sekundernya adalah sebagai pengikat silidaritas sekelompok masyarakat, sebagai media komunikasi massa, sebagai media terapi, dan sebagai media meditasi.Rejang Pusung dance is a sacred dance in Pakraman Geriana Kauh village, Selat district, Karangasem regency. Its unigueness lies in the selection of dancers, the simplicity of mation and headdress based on orange peel of jeruti. Seing the uniqueness that is owned then it is deemed necessary to be documented and researched. But in writing about Rejang Pusung dance performances that are related to the Ngusaba Goreng ceremony still very minimal. This research is considered important to do. As for the two subject matter studied, mamely about the from and function of Rejang Pusung dance. This research aims to determine the shape and function of Rejang Pusung dance. So that the benefits of the result of this research can be used as village archives that can be read by the next generation tomaintain its sustainability. In the discussion using written sources and two theories namely the theory of aesthetics and functional theory. This research uses qualitative research methods with data collection technigues used those are, observation, interview, study bibliography, study documentation, so obtained the following results. Rejang Pusung dance perpormed in the form of dance group with a characteristic found in the hair of dancers carried and danced by young children. This dance is performed at Puseh temple, Pajenengan temple, Dalem temple, and Dadia temple accompanied by collaboration of baleganjur, kenyong and gambang. Rejang Pusung dance has two function namely primary function and secondary function. The primary function is as a means of ritual, as a self-entertainment and as an aesthetic presentation for its secondary function is as a binder of solidarity of community groups as a medium of mass communication as a medium of therapy and as a medium of meditation. 
Patra Dalung, Sebuah Komposisi Karawitan Bali Yang Lahir Dari Fenomena Sosial Di Desa Dalung Putra Adnyana, Made; Yudarta, I Gede; Santosa, Hendra
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.203 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.670

Abstract

Garapan ini bertujuan untuk mentranspormasikan dinamika perubahan dari masyarakat di Desa Dalung menjadi sebuah karya seni karawitan Bali dengan mengangkat kearifan lokal Desa Dalung. Suasana kehidupan sosial di Desa Dalung dituangkan dalam sebuah karya seni karawitan dengan memadukan dua gamelan yaitu gamelan Semaradhana dan gamelan Selonding, melalui pengolahan unsur-unsur karawitan, diharapkan garapan ini dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan karawitan dalam bentuk teknik, komposisi, ornamentasi dan unsur-unsur pengembangannya. Situasi Desa Dalung tempo dulu dan kini penata gambarkan melalui bagian-bagian, yang masing-masing bagian memiliki karakter suasana yang berbeda. Suasana yang terungkap di desa Dalung diimplikasikan melalui dinamika, nada, tempo, dan unsur-unsur musikal lainnya. Tahapan penyusunan komposisi terdiri dari: (1) Kleteg, (2) Pangrancana, (3) Nuasen, (4) Makalin, (5) Ngadungin, (6) Ngerarasin, dan (7) Ngalangin. Struktur garapan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu pangawit, pangawak, dan pangecet dengan karakternya masing-masing. Komposisi karawitan “Patra Dalung” diwujudkan dalam bentuk musik karawitan inovatif, yang masih menggunakan pola-pola tradisidengan mendapat pengayaan dan pengembangan, baik dari ornamentasi, unsur musikalitas. Pembagian garapan dimaksudkan agar mempermudah penata dalam penggarapan, penghayatan setiap bagian dari struktur garapan, karena setiap bagian menampilkan suasana yang berbeda-beda, sebagai penggambaran perubahan atau transformasi yang terjadi di Desa Dalung.
Gamelan Palawasan Di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat Weka Sajjana, I Nengah; Yudarta, I Gede; Muryana, I Ketut
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1325.565 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.727

Abstract

Gamelan Palawasan adalah salah satu ensambel tradisional yang hidup dan berkembang pada kalangan masyarakat Bali di Lombok. Gamelan ini memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Bali di Lombok yang berkaitan dengan pelaksaan ritual keagamaan. Berbagai jenis ritual keagamaan yang di iringi oleh gamelan palawasan diantaranya upacara Dewa Yadnya (Pujiawali), Pitra Yadnya (ngaben), Rsi Yadnya, Manusa Yadnya (perkawinan), dan Bhuta Yadnya.Gamelan palawasan yang ada di Dusun Peninjoan ini mempunyai keunikan dimana dipakai untuk mengiringi tarian sakral yaitu Tari Rejang Lilit dan Abuang.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan memakai teori Estetika, teori Organologi, dan teori Fungsi seni yang didukung dengan studi perpustakaan dan informasi-informasi yang diperoleh dari narasumber. Penelitian gamelan Palawasan sekaa gong Werdhi Mandala Peninjoan dengan topik gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat dengan mengangkat beberapa permasalahan diantaranya : a) bentuk instrumen gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat. b) komposisi tabuh gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat. c) fungsi gamelan Palawasan di Dusun Peninjoan Desa Golong Kecamatan Narmada, Lombok Barat. fungsi dari gamelan Palawasan ini dibagi menjadi dua yaitu fungsi primer dan sekunder. Fungsi primernya adalah sebagai pengiring suatu upacara keagamaan baik dari upacara Dewa Yadnya, Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya. Sedangkan fungsi sekundernya adalah sebagai wadah atau tempat untuk melestarikan seni dan budaya yang ada di Lombok.
Greng Sebuah Estetika Dalam Kerampakan Antara Gamelan dan Vokal Saptono, Saptono; Haryanto, Tri; Hendro, Dru
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.167 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.728

Abstract

ISI Denpasar sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berkiprah dalam berbagai cabang seni tentunya memiliki tanggung jawab didalam meningkatkan mutu pelestarian, pengembangan, dan penciptaan seni budaya yang unggul yang berakar dari kearifan lokal nilai-nilai budaya nusantara, termasuk salah satunya seni karawitan. Hal tersebut tercermin pula dalam visi dan misi ISI Denpasar yang telah terpampang dan bisa dilihat diberbagai sudut kampus. Melalui seni, lembaga ISI Denpasar ikut andil dalam menjaga keseimbangan hidup di dalam memperkokoh jati diri bangsa dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan demikian mendorong peneliti dalam penciptaan karya seni karawitan Greng, yaitu garap gamelan ageng untuk memberikan keseimbangan nilai-nilai kearifan lokal budaya nusantara di ISI Denpasar dengan mengacu pada sajian garap tradisi karawitan Jawa. Konsep garap yang ditawarkan adalan penataan dalam karawitan mandiri. Penataan yaitu menyusun gending-gending yang telah ada dari berbagai ragam bentuk, laras, dan pathet. Kebaruan dalam penataan adalah pengolahan garap transisi dari berbagai ragam dan karakter gending yang telah ada, diolah dengan teknik yang mengedepankan tapsir (interpretasi) garap balungan dan garap vokal yang dalam sajiannya menjadi satu garapan yang utuh. Wujud atau bentuk pada dasrnya merupakan pemicu untuk menggugah perhatian terhadap isi yang dikandungnya, yang pada gilirannya telah menyatu ke dalam struktur. Jadi wujud atau bentuk garapan merupakan sarana untuk menuangkan isi sebagai bentuk ungkap pengalaman jiwa yang wigati. Djelantik menjelaskan bentuk (wujud) yang dimaksud kenyataan yang nampak secara konkrit di depan kita (dapat dipresepsi dengan mata dan telinga), dan juga kenyataan yang tidak nampak secara konkrit di depan kita, tetapi secara abstrak wujud dapat dibayangkan. Humardani menyebutkan bahwa bentuk di dalam sajian karya seni adalah wadah yang dapat diamati sebagai sarana untuk menuangkan isi mengenai nilai-nilai atau pengalaman jiwa yang wigati.
Kajian Rekonstruksi Tari Legong Raja Cina Di Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar Sebuah Proses Kreatif Andra Krisna Susanti, Ni Nyoman; Seramasara, I Gusti Ngurah; Arshiniwati, Ni Made
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2524.89 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.729

Abstract

Tari Legong Raja Cina merupakan tari klasik Bali hasil rekonstruksi tahun 2012 yang memiliki tingkat kerumitan gerak dan ekpresi yang sangat kompleks. Tari ini merupakan hasil penuangan gagasan tentang cerita legendaris mengenai kisah asmara Raja Bali (Jaya Pangus) dengan Putri Cina (Kang Cing Wie). Proses rekonstruksi dilakukan oleh I Gusti Ngurah Serama Semadi di Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar dan dipentaskan pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke XXXIV tahun 2012. Rekonstruksi tari ini mengandung proses kreatif tinggi dalam menuangkan gerak-gerak tari yang memadukan dua budaya berbeda. Penelitian berjudul Kajian Rekonstruksi Tari Legong Raja Cina di Puri Taman Saba, Blahbatuh, Gianyar Sebuah Proses Kreatif ini dipandang penting untuk dilakukan dengan mengangkat tiga masalah yang dikaji, yaitu (1) Bagaimana proses kreatif rekonstruksi Tari Legong Raja Cina; (2) Bagaimana bentuk Tari Legong Raja Cina hasil dari rekonstruksi; dan (3) Nilai apa saja yang dikandung oleh Tari Legong Raja Cina. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang ditinjau dari kajian seni pertunjukan dengan menggunakan teknik observasi partisipsi, wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Teori yang digunakan untuk membedah tiga masalah di atas adalah teori proses kreatif oleh Alma M. Hawkins, teori estetika yang ditulis oleh Djelantik, dan teori struktural fungsional oleh Talcot Parson. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) proses kreatif rekonstruksi Tari Legong Raja Cina dapat dilihat melalui tiga tahapan yaitu tahap eksplorasi, tahap improvisasi dan tahap pembentukan. (2) Tari Legong Raja Cina berbentuk palegongan yang didasari oleh struktur, tema, gerak, pola lantai, tata rias, tata busana, iringan, tempat pementasan dan penampilan. (3) Nilai yang terkandung di dalamnya adalah nilai estetika, nilai akulturasi, nilai kesetiaan, dan nilai percintaan.
Pertunjukan Wayang Kulit Bali Dari Ritual Ke Komersialisasi Marajaya, I Made
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.634 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.730

Abstract

Di era global seperti sekarang ini, telah terjadi fenomena baru dalam kancah seni pertunjukan wayang kulit Bali, dimana antara beberapa jenis pertunjukan mulai tradisi, kreasi, kreasi baru, inovatif, dan eksperimental saling merebut hati sanubari para penggemarnya. Sampai saat ini, pertunjukan wayang kulit tradisi, kreasi, dan kreasi baru masih dapat ditonton ketika ada kegiatan ritual upacara keagamaan. Sebuah fenomena menarik yang terjadi selama satu dasa warsa belakangan ini yaitu berupa ruwatan wayang Sapuh Leger massal yang melibatkan 5000 orang yang khusus lahir pada wuku wayang. Sementara itu pertunjukan wayang kulit inovatif dapat ditonton dalam berbagai konteks baik untuk upacara keagamaan maupun sebagai pertunjukan komersial. Dalam konteks komersial pertunjukan wayang Kulit Cenk Blonk bergabung dengan perusahan Kopi ABC, Susu Frisian Flag, Sepeda Motor Yamaha, Obat Antangin JRG, dan lain-lain. Sementara Wayang Kulit Joblar bekerjasama dengan perusahan Sarimi, Kopi ABC, Kopi Luwak, Yamaha, Honda, Yakul, Obat Antangin, Bodrek, sepeda smash, dan lain-lain. Di samping pertunjukan wayang kulit komersial untuk promosi barang dan jasa, selama tiga dekade terakhir ini pertunjukan wayang kulit juga dipentaskan dalam konteks pariwisata. Pertunjukan wayang kulit yang durasinya kurang dari 60 menit ini dikemas sebagai entertainment di sebuah usaha pariwisata yaitu di Oka Kartini Bungalow Ubud dengan dalang I Wayan Deres dan di Kerta Accommodation Ubud dengan dalang I Made Sukadana (Made Gender). I Wayan Peter dari jalan Nangka Denpasar juga pernah melakukan pertunjukan wayang kulit untuk wisata di era 1990-an di beberapa hotel di wilayah Legian dan Kuta Badung. Sementara I Made Wibawa dari Dukuh Pulu Tabanan kerap melakukan pementasan wayang kulit untuk wisata di seputaran hotel yang ada di Nusa Dua Badung.
Pariwisata Dan Budaya Kreatif : Sebuah Studi Tentang Tari Kecak Di Bali Pira Erawati, Ni Made
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.808 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.731

Abstract

Perkembangan periwisata telah menyebabkan terjadinya transformasi budaya dari budaya agraris menuju pada budaya industri. Proses transformasi budaya itu juga terjadi dalam bidang seni pertunjukan, sehingga muncul kreativitas seni yang dapat dijadikan konsumsi wisata. Pariwisata menjadi arena utuk memperjual belikan kesenian. Dengan memahami perkembangan Pariwisata sebagai arena ekonomi, maka tulisan ini bertujuan untuk mengetahui munculnya tari Kecak, merupakan sebuah budaya kreatif orang Bali dalam menyikapi kebutuhan wisatawan. Perkembangan Pariwisata telah menyebabkan munculnya kemasan tari Sanghyang menjadi tari Kecak sebagai budaya kreatif. Kondisi itu telah memunculkan berbagai permasalahan yang berimplikasi terhadap terjadi pemalsuan seni sakral sebagai seni tradisional yang melekat dengan upacara keagamaan (pseudo tradisional ritual art). Untuk menganalisis permasalahan tersebut dalam tulisan ini digunakan metode perpustakaan dan analisis perubahan sosial budaya. Perubahan sosial budaya tak akan dapat dielakkan sebagai dampak Pariwisata, sehingga terjadi komersialisasi budaya yang berimplikasi pada munculnya berbagai kreativitas. Munculnya berbagai kreativitas yang bersumber pada budaya tradisi, telah menyebabkan kaburnya antara seni sakral dengan seni profan.
Waluku Sebagai Acuan Dalam Garapan Karawitan Bali Aguswin Pradnyantika, I Gede; Sudiana, I Nyoman; Haryanto, Tri
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 1 (2019): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.019 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i1.732

Abstract

Rasi bintang atau konstelasi adalah sekelompok bintang yang tampak berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus dalam ruang tiga dimensi, kebanyakan bintang yang terlihat tidak memiliki hubungan satu dengan lainnya, tetapi dapat terlihat seperti berkelompok pada langit malam. Di dalam ilmu Astronomi, telah ditetapkan 88 buah rasi bintang yang dipisahkan sesuai wilayah dari tiap-tiap rasi bintang tersebut di langit. Dari tahun ke tahun, rasi bintang tidak pernah bergeser dari posisinya di langit. Bahkan hingga waktu berabad-abad tahun rasi bintang tetap berada pada posisinya di langit. Hanya saja akibat rotasi dan revolusi bumi terhadap matahari lah yang menyebabkan rasi bintang terlihat bergeser dari waktu ke waktu. Rasi bintang yang dinamai Waluku/Orion, yang artinya adalah pemburu, rasi bintang ini didedikasikan bagi Orion, putera Neptune, seorang pemburu terbaik di dunia. Orion ini mudah dikenali dengan adanya 3 bintang kembar yang berjajar membentuk sabuk Orion (Orion Belt). Satu lagi yang menarik, dari rasi orion, yaitu adanya bintang Bellatrix dan Betelgeuse pada konstelasinya. Waluku ini penata pakai sebagai judul karya yang menggunakan medium gamelan Semar Pagulingan. Karya seni karawitan Waluku merupakan komposisi musik inovatif yang merupakan aktualisasi dari ide penata tentang rasa keindahan dan imajinasi terhadap bentuk dan pola dari rasi Waluku. Karya ini merupakan pengembangan dari unsur-unsur musikal seperti melodi, tempo, ritme, dinamika, dan harmoni sebagai cerminan dari rasa indah pada pola rasi bintang Waluku. Rasi Bintang memiliki keteraturan system, dimana Rasi Bintang tidak pernah bergeser dari posisinya di langit. Rasi bintang waluku ini adalah terbentuk dari tiga bintang kembar, yang membentuk pola-pola sehingga mudah dibedakan dan dibayangkan dengan rasi bintang lainnya. Rasi bintang waluku ini menginspirasi penata untuk mewujudkannya kedalam sebuah karya musik inovatif, penata berimajinasi merangkai Rasi bintang waluku itu dalam tiga bagian karya musik inovatif.