cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
KALANGWAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Seni Pertunjukan Kalangwan merangkum berbagai topik seni pertunjukkan, baik yang menyangkut konsepsi, gagasan, fenomena maupun kajian. Kalangwan memang diniatkan sebagai penyebar informasi seni pertunjukan sebab itu dari jurnal ini kita memperoleh dan memtik banyak hal tentang seni pertunjukan dan permasalahannya
Arjuna Subject : -
Articles 62 Documents
Pelatihan Gender Wayang Pada Generasi Muda Bali Untuk Melawan Dampak Negatif Kemajuan Teknologi I Made Bayu Puser, Bhumi; Santosa, Hendra
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 2 (2019): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.084 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v5i2.777

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui membuat upaya dalam menanggulangi dampak negatif kemajuan teknologi terhadap generasi muda Bali khususnya anak-anak melalui pelatihan Gender Waynag. Seperti yang kita ketahui bahwa kemajuan teknologi di samping memiliki sisi positif juga menimbulkan dampak negative terhadap generasi muda Bali. Metode penelitian, yang dipergunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan datanya melalui metode observasi partisipan dan interview. Observasi partisipan dilakukan karena penulis merupakan tenaga pengajar karawitan dan teknik interview dilakukan tanya jawab terhadap orang tua anggota sanggar yang mengalami masalah tersebut pada anak mereka. Setelah melakukan beberapa kali pelatihan ternyata memberikan hasil yang cukup memuaskan. Hasilnya dapat diamati dengan penurunan aktivitas penggunaan gawai terhadap beberapa anak yang sebelumnya mengalami kecanduan penggunaan gawai berlebihan seperti game online. Dampak positif lainnya adalah anak lebih mampu mengembangkan imajinasi dalam hal positif dalam konteks seni. Selain itu anak memiliki banyak teman dan berinteraksi dengan teman yang memiliki berbagai macam karakter yang berbeda, menambah pengetahuan dalam bidang seni, dan mampu menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri pada anak. Dengan demikian pelatihan gender wayang dapat digunakan sebagai tameng terhadap generasi muda Bali dalam melawan dampak negatif kemajuan teknologi. Pada akhirnya dampak positif pelatihan gender wayang tidak lepas dari upaya menanamkan pendidikan karakter khususnya terhadap generasi muda Bali.
Analisis Metode Penciptaan Gending Gesuri Karya I Wayan Beratha Putra, I Wayan Diana
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 2 (2019): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.732 KB)

Abstract

Metode mencipta karya musik khususnya karawitan Bali yang dijadikan panduan penciptaan secara teoritis masih sangat sedikit. Konsep penciptaan gending karawitan diperlukan sebagai acuan dalam menciptakan komposisi gending karawitan Bali dengan arah yang jelas. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian dengan Analisis Metode Penciptaan Gending Gesuri Karya I Wayan Beratha. Proses Analisis Metode Penciptaan Gending Gesuri Karya I Wayan Beratha diawali dengan menggali data dari studi kepustakaan berupa pemahaman lewat buku pengetahuan karawitan dan wawancara dengan narasumber ahli khususnya para composer karawitan yang handal. Setelah mendapatkan data dari studi kepustakaan dan hasil wawancara, maka data akan diolah untuk menemukan formulasi penciptaan gending Gesuri yang kemudian menjadi panduan dalam menciptakan karya musik selanjutnya. Melaui analisis metode penciptaan ini dijelaskan mengenai tata cara mengolah nada menjadi melodi, pengolahan tempo dan dinamika serta penyusunan struktur gending
Penciptaan Karya Seni Garap Pekeliran Padat Sang Guru Sejati Hendro, Dru; Saptono, Saptono; Haryanto, Tri
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 2 (2019): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.7 KB)

Abstract

Konsep garap pakeliran padat dengan judul Sang Guru Sejati ini diambil dari sebuah lakon Dewa Ruci yang merupakan lakon carangan wayang Jawa sudah populer, yakni ketika Bima berguru kepada Begawan Drona tentang ilmu Kesempurnaan diri Manunggalinng Kawula Gusti. Sang Guru Sejati merupakan sebutan kepada Guru Drona dan juga karena Bima telah menemukan jati dirinya ketika bertemu dengan Dewa Ruci. Sedangkan tema yang diangkat dalam garapan ini adalah “Kepatuhan Seorang Murid Kepada Seorang Guru”. Hal ini akan terungkap bagaimana Bima selalu patuh dengan segala ucapan dan tugas dari guru pembimbingnya dan dengan tekad yang tulus dan kuat kemudian mengambil resiko dalam tugas tersebut dan dapat mencapai tataran penghayatan Ketuhanan yang tinggi (makrifat) dengan bertemunya Bima dengan Sang Dewa Ruci. Kerangka garis besar dari perwujudan lakon yang terkait dengan tema di atas digambarkan dalam beberapa tahapan, yaitu tahap menggambarkan Bima memutuskan untuk berguru kepada Drona, sampai pada tahapan terakhir berhasil menemukan Tirta Pawitra yaitu Bima bertemu dengan Dewa Ruci. Metode penggarapan karya menggunakan lima tahapan, yaitu tahap persiapan atau pra perancangan, eksplorasi ide gagasan, penggalian referensi. Tahap perancangan, hasil analisis fenomena dituangkan dalam ide. Tahap perwujudan karya wujud karya dan evaluasi wujud yang ada. Tahap penyempuranaan, dan Tahap penyajian, pementasan karya yang sudah jadi pada penonton. Dari garapan ini pula memacu untuk membangun imajinasi dan kreativitas penggarap dalam pengembangan berkarya. Disamping itu penggarap lebih leluasa dalam mengembangan ide kreatifnya tanpa ada sebuah lkatan yang membelenggu. Rasa dramatik dan ide tetatrikal dapat membangun suasana yang diinginkan sesuai dengan lakon yang diangkat.
Kecerdasan Budaya Dalam Seni Pertunjukan Nusantara Yulinis, Yulinis
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 2 (2019): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.293 KB)

Abstract

Tujuan dari penulisan ini adalah melihat perkembangan seni nusantara terutama tari yang berkaitan dengan sejarah pemikiran senimannya. Kecerdasan seniman tradisi dalam mengolah gerak budaya menjadikan karya seni mereka selalu aktual disetiap zaman yang dilaluinya. Sebuah karya lahir merupakan gerakan estetik yang melibatkan budaya, agama dan juga sejarah tempat karya itu dilahirkan. Warisan budaya dan agama, tradisi, dan komunitas serta konflik-konflik yang tejadi pada masa lalu merupakan wilayah yang sering menjadi inspirasi seniman dalam melahirkan karya-karyanya yang monumental. Teknologi boleh berkembang dengan pesat, globalisasi boleh merambah apa saja di dunia ini, tetapi persoalan seni tradisi nusantara merupakan wacana yang bisa beradaptasi dengan perubahan-perubahan tersebut. Sampai hari ini seni tradisi nusantara terus berlanjut tanpa harus kehilangan maknanya. Seniman-seniman yang secara individu telah mencapai taraf yang tinggi di bidang sosial, ekonomi, dan lain-lain, tetapi pada suatu kesempatan mereka tetap menari untuk sosial, ibadah dan, untuk kesenangan batin dan untuk pengabdiannya sebagai manusia yang terikat dengan alam semesta.
Kajian Konsep Komposisi Musik Ulah Egar Karya Agus Teja Sentosa Jacky Ariesta, I Made; Seramasara, I Gusti Ngurah; Suartaya, I Kadek
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 2 (2019): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2348.071 KB)

Abstract

Komposisi musik Ulah Egar adalah komposisi yang diciptakan oleh Agus Teja Sentosa pada tahun 2016. Komposisi musik ini memiliki keunikan tersendiri, karena walaupun menggunakan instrumen seruling untuk membawakan melodi pokok, tetapi tetap bisa menggambarkan rasa semangat dan gembira. Hal tersebut dikarenakan pada komposisi musik ini, menggunakan teknik penggabungan bukan hanya dari segi instrumentasi saja, namun terdapat penggabungan style musik, sehingga dapat memberikan aransemen baru pada komposisi musik ini. Selain itu jarang ditemukan musik instrumental seruling yang menggambarkan rasa bersemangat. Melalui fenomena tersebut, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep komposisi musik Ulah Egar karya Agus Teja Sentosa. Tujuan umum penelitian ini yaitu untuk menganalisis konsep, sedangkan tujuan khusus yaitu untuk mengetahui konsep, komposisi musik Ulah Egar. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan diskografi. Teori yang digunakan untuk mengupas permasalahan yaitu teori komposisi musik dan teori hibriditas. Kemudian sumber data primer diperoleh dari hasil wawancara, pengamatan, diskografi, sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber buku, jurnal, artikel, dan internet. Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi musik Ulah Egar menggunakan konsep hibriditas, karena adanya penggabungan idiom musikal tradisi Bali, tradisi Cina dan idiom musikal barat, yang digabungkan, sehingga dari penggabungan tersebut menghasilkan produk budaya baru, salah satunya adalah bentuk komposisi musik yang hibriditas.
Gamelan Gambang Kwanji Sempidi Kajian Sejarah, Musikalitas dan Fungsi Mariyana, I Nyoman; Arya Sugiartha, I Gede; Yudarta, I Gede
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5 No 2 (2019): Desember
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1338.211 KB)

Abstract

Gamelan Gambang adalah salah satu gamelan Bali yang tergolong langka. Gamelan Gambang Kwanji Sempidi merupakan salah satu jenis gamelan klasik di Kabupaten Badung yang memakai laras pelog tujuh nada dengan instrumentasi dan musikalitas yang khas serta fungsi yang menarik. Gamelan Gambang ini berbeda dengan Gambang-Gambang lainnya yang ada di Badung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, musikalitas, dan fungsi gamelan Gambang Kwanji Sempidi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mempergunakan jenis metode penelitian deskriptif kualitatif dan pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, discografi, dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori difusi, etnomusikologi, kognitif, dan teori relegi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diketahui bahwa Gamelan Gambang termuat dalam berbagai karya sastra, dimulai sejak abad IX-XIV dengan diketemukannya relief Gambang pada Candi Penataran, relief Candi Borobudur abad IX (tahun 824 masehi), zaman kerajaan Bali Kuno (Abad XIV-XIX), Raja Gelgel (abad XIV-XIX) dan cerita raja-raja yang memerintah di Bali seperti Dalem Waturenggong (1460-1550 M). Gamelan Gambang yang ada di Desa Adat Kwanji, merupakan warisan leluhur yang keberadaannya diakui dan diayomi oleh Desa Adat Kwanji dengan nama sekaa Gambang “”Candra Metu”. Gambang Kwanji Sempidi adalah Gambang Kuno, warisan leluhur yang diterima oleh keturunan Kak Sri (1880), diwarisi kepada keturunannya, kerabatnya, hingga masyarakat yang menekuninya. Musikalitas gamelan Gambang Kwanji Sempidi dilihat dari instrumentasi yang terdiri dari dua tungguh instrumen gangsa Gambang dan empat tungguh instrumen Gambang. Tujuh nada pokok dalam Gambang terdiri nada adalah o I O A e u a (dong Ding Dong Dang deng dung dang). Dalam instrumen Gambang terdapat dua instrumen Gambang yang memiliki susunan nada yang sama yakni Gambang pengenter dan pemetit. Jarak nada tiap instrumennya diatur dengan mempertimbangkan aspek harmoni Kord, Kwint, dan Oktaf nada. Pola ritme sangat jelas terdengar dan terlihat pada teknik pukulan nyading dari pola ritme 2/4 menuju ke pola ritme ¾. Instrumen penyelat mempunyai tugas sebagai pengatur dinamika lagu yang dimainkan. Istilah modulasi disebut dengan istilah sengkeran, yang ada pada gending Labdha dan Manukaba. Teknik yang dijumpai pada Gambang Kwanji Sempidi seperti kekenyongan, tutul/ nultul, nyelangkit, dan nyelag. Gending-gending Gambang yang dimainkan pada saat ngaben memberikan pengaruh psikologis. Fungsi Gambang pada upacara ngaben di Desa Kwanji Sempidi adalah sebagai kesenian wali. Guna menjaga eksistensinya, gamelan Gambang Kwanji kerap kali digunakan sebagai musik prosesi pada upacara ngaben khususnya saat memandikan jenazah. Gamelan Gambang ditabuh sebagai pengantar roh orang yang meninggal menuju sunia loka.
Konsep Catur Purusartha Dalam Gerak Tari Rejang Sakral Lanang Di Desa Mayong, Buleleng, Bali I Made, Rianta; Santosa, Hendra; I Ketut, Sariada
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 6 No 1 (2020): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/kalangwan.v6i1.815

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedah Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng dari konsep gerak tarinya. Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong pada gerak tarinya berkonsepkan catur purusartha di dalamnya yang dapat dilihat dari empat gerakan pokok dalam tarian yang diulang dari awal hingga akhir tarian. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui konsep catur purusartha dalam gerak Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong. Metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian kualitattif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi terus terang, metode wawancara dan studi kepustakaan. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa gerakan yang terdapat di dalam Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong berbeda dengan Tari Rejang pada umumnya karena gerak-gerak yang terdapat dalam Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong hanya terdiri dari empat gerakan yang selalu dipergunakan secara berulang-ulang dari awal tarian hingga akhir tarian, sehingga struktur gerak Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong menggunakan struktur tunggal di dalamnya dan gerakan Tari Rejang Sakral Lanang di Desa Mayong memiliki konsep catur purusartha di dalam gerakannya. Konsep inilah yang membedakan gerak Tari Rejang Sakral Lanang dengan Tari Rejang pada umumnya. Penelitian gerak Tari Rejang Sakral Lanang menggunakan teori semiotika berdasarkan pendapat Ferdinand de Saussure yaitu penanda dan petanda. Adapun empat gerakan yang terdapat dalam tarian meliputi: agem, nengkleng, nindak dan nutup sebagai penanda dan petanda adalah bagian-bagian dari konsep catur purusartha yang terdiri dari dharma, artha, kama dan moksa.
Tari Kreasi Cangak Congak Liza Anggara Dewi, Ni Made; Astini, Siluh Made; Mawan, I Gede
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 6 No 1 (2020): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cerita Tantri berbingkai dongeng adalah cerita yang kaya akan nilai pendidikan moral. Salah satunya Pedanda Baka atau burung cangak yang tamak yang merupakan sumber ide dari penciptaan tari kreasi, dengan tujuan menampilkan sebuah tari yang juga kaya akan nilai pendidikan. Menggunakan metode penciptaan seni yang terdiri atas eksplorasi, improvisasi dan pembentukan. Tahapan penciptaan seni tari, digunakan untuk membantu menjabarkan secara detail tentang proses kreatif pada penciptaan Tari Kreasi Cangak Congak yang dibawakan oleh 3 orang penari putri dengan mengambil karakter putri keras. Tari kreasi cangak congak ini diiringi oleh gamelan Semarpegulingan, karena mampu memberikan suasana dan aksentuasi gerak seekor burung cangak yang berkarakter tenang dan bijaksana. Struktur tari ini terdiri dari empat bagian, yaitu: Bagian pepeson menggambarkan gerak gerik burung cangak. Bagian pengawak menggambarkan suasana di kolam dengan menampilkan karakter burung cangak yang berpura-pura menjadi seorang yang bijaksana dan karakter ikan penghuni kolam yang terpedaya. Bagian pengecet menggambarkan burung cangak memangsa mangsanya dengan cara dibawa terbang satu persatu. Bagian pekaad menggambarkan kepiting yang dari awal tidak percaya kepada kebaikan burung cangak dibawa terbang oleh burung cangak ke atas bukit, akan tetapi ia melihat tulang belulang dari kejauhan sehingga membuat kepiting marah dan berakhir burung cangak mati. Penyajian dari Tari Cangak Congak ini didukung oleh media penunjang seperti, tata rias panggung dan busana, musik pengiring tari, panggung dan tata lampu.
Siwa Nada : Ensiklopedi Musik Dunia -, Wardizal; Garwa, I Ketut
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 6 No 1 (2020): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini merupakan inti sari dari penelitian penulis tentang gamelan Siwa Nada: Sebuah barungan gamelan baru ciptaan I Wayan Sinti. Secara subtantif, hal yang ingin dikemukakan dalam tulisan ini adalah, proses kreatif I Wayan Sinti dalam menciptakan gamelan Siwa Nada; sebuah bentuk barungan gamelan baru yang berfungsi sebagai ensiklopedi musik dunia. Data dan fakta dalam tulisan ini, secara keseluruhan didasarkan pada hasil wawancara yang penulis lakukan dengan I Wayan Sinti sebagai narasumber utama dalam penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa gagasan dan pemikiran I Wayan Sinti dalam menciptakan gamelan Siwa Nada lebih didasarkan kepada proses kreatif inovatif untuk menunjang proses kreativitas dalam berkesenian. Secara subtantif, barungan gamelam Siwa Nada berbentuk bilah dan terbuat dari bambu, kayu dan kerawang. Sinti mempunyai simbol-simbol tersendiri terhadap gamelan Siwa Nada yang diciptakan, baik penamaan instrumen maupun sistem penulisan notasi dan tangga nada.
Pengantar Karya Komposisi Tabuh Kreasi Pepanggulan Amande Widya Supriyadnyana, Pande Gede; Mustika, Pande Gede; Muryana, Ketut
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 6 No 1 (2020): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amande merupakan sebuah komposisi tabuh kreasi pepanggulan yang tercipta dari hasil adopsi bunyi pukulan palu serta hiasan-hiasan yang terdapat dalam kerajinan tangan bokor yang dilakukan oleh masyarakat Pande di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng. Terciptanya Amande bertujuan untuk menuangkan daya kreativitas pada potensi seni yang ada. Adapun manfaat yang didapatkan melalui penciptaan karya seni ini tidak lain untuk menambah pengalaman serta wawasan menciptakan karya seni. Proses kreativitas yang digunakan dalam menciptakan Amande yaitu penjajagan (eksplorasi), percobaan (improvisasi), dan tahap pembentukan (forming). Struktur, komposisi ini dibagi menjadi tiga bagian (kawitan, pengawak, dan pengecet). Bagian kawitan mendeskripsikan proses awal dari sebuah bentuk bokor sendiri. Pengawak adalah bagian kelanjutan proses awal yaitu proses menghiasi dengan ukiran. Pengecet merupakan bagian akhir yang mendeskripsikan bagian bokor tahap terakhir yakni nyikat memakai air keras serta menggunakan buah asam untuk membuat bokor itu lebih bersih. Komposisi ini didukung oleh 34 orang penabuh termasuk penata dengan menggunakan gamelan Gong Kebyar.