cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
AGRIKAN Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan
ISSN : 19796072     EISSN : 26210193     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Bidang kajian dimuat meliputi agribisnis, teknologi budidaya, sumberdaya perikanan, kelautan, sosial ekonomi kelautan dan perikanan, bioteknologi perikanan. Sejak tahun 2017 mulai diterbitkan secara elektronik kerjasama Pusat Studi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna Raha.
Arjuna Subject : -
Articles 826 Documents
The trials of seaweed Caulerpa racemosa cultivation using the off-bottom culture at The Kastela Waters, Ternate Island Districht, Ternate City Koda, Dr. M. Irfan; Samadan, Gamal M.; Malan, Sudirto; Subur, Riyadi
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 14, No 1 (2021)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.14.1.80-83

Abstract

Seaweed of Caulerpa racemosa  has bright prospects for cultivation. In North Maluku province in general, the cultivation of seaweed Caulerpa sp has never been developed, even though the waters of North Maluku have enormous potential, because this type of seaweed is scattered in various marine waters in North Maluku. One of the efforts that needs to be done is to carry out this type of seaweed cultivation in an optimal and sustainable manner.The seaweed Caulerpa racemosa cultivation unit used in this study was the off-bottom method measuring 5 m x 10 m. This size can contain 5 stretch ropes/risers with a length of 10 m and a distance of 1 m between the stretch ropes/risers. Each stretch / riser line contains about 45 seed clump points with a distance between clumps of 15 cm. The observation procedure for the growth of Caulerpa racemosa seaweed was carried out by weighing the seaweed seeds in each stretch/riser rope. The weight of seed that is weighed is the weight of seeds at the time of planting and the weight of seaweed at harvest.The results showed that the average growth rate of  seaweed Caulerpa racemosa was varied for each rope. In ris 1 rope, the average absolute weight growth reached 100.88 grams, ropes 113.33 grams, ris rope 3, 88.00 grams, rope ris 4, 116.00 grams, and rope ris 5, amounting to 113, 33 grams. In general, the highest growth in absolute weight was found in the fourth rope, which was 116.00 grams.
Organoleptic Test of Smoke Cob Fish (Euthynnus affinis) Using Efhilink Fishing Equipment and A Simple Cabinet Type of Smoking Time Suwarsih, Suwarsih; Joesidawati, Marita Ika
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 13, No 2 (2020)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.13.2.301-309

Abstract

The purpose of this study was to determine how long the tuna smoking process takes and how long the quality of smoked fish lasts by conducting an organoleptic test. The material of this research is the organoleptic test of smoked tuna quality with the Efhilink fish fumigant and the simple cabinet type on smoking time. The method used in this study is an experimental method that is by using corn clams as fuel for smoking cobs. The conclusion of the different treatment of the Efhilink and the simple cabinet type with the analysis results can be seen that the fumigation process that is the fastest produced by the Efhilink rack 1 type fumigator is 56 minutes. This is because the working process of the Efhilink type smoker changes the shape of the smoke produced into liquid smoke by connecting the smoke pipe with the condenser so that the temperature of the Efhilink device can be hotter than the Simple Cabinet-type fumigator, besides that the position of rack 1 is very close to the smoke source. . Whereas the longest smoking process produced by a Simple Cabinet Type 3 rack smoking device is 325 minutes or 5 hours 25 minutes this is due to the working process of the Simple Cabinet Type smoking device which emits the smoke produced through the top funnel, so that the heat produced is lower. than the Efhilink-type fumigator. In addition, the position of shelf 3 is very far from the smoke source. Meanwhile, the best organoleptic test value was produced on day 3 of the two tools. Based on the results of the study, it is suggested that the fumigation process uses the Efhilink smoke device.
Ukuran pertama kali matang gonad udang Penaeus merguiensis De Man (1988) di Laut Arafura pada Distrik Naukenjerai Kabupaten Merauke Edy H. P. Melmambbessy
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.4.2.75-81

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ukuran pertama kali matang gonad udang Penaeus merguiensis di Distrik Naukenjerai Kabupaten Merauke. Sedangkan kegunaannya adalah sebagai bahan informasi ilmiah untuk kepentingan pengelolaan perikanan udang secara berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah metode survei, lokasi penelitian : Distrik Naukenjerai Kabupaten Merauke. Penelitian berlangsung pada bulan Maret – Mei 2011. Analisa data meliputi : perkembangan gonad, ukuran pertama kali matang gonad dan struktur ukuran panjang karapas. Hasil penelitian yang diperoleh adalah  (1) ukuran pertama kali matang gonad udang Penaeus merguiensis di perairan Distrik Naukenjerai, berada pada kisaran panjang karapas 64,44 mm untuk jantan  dan 58,37mm - 60,26 mm untuk betina. Untuk bobot, udang Penaeus merguiensis mencapai ukuran pertama matang gonad  pada kisaran 31,24 gr  untuk jantan dan 16,93 gr – 17,66 gr untuk betina. (2) ukuran udang yang tertangkap didominasi oleh ukuran yang belum matang gonad, yaitu udang dengan panjang karapas 26,5 mm. Untuk kepentingan pengelolaan perikanan udang Penaeus merguiensis  di perairan laut Arafura pada Distrik Naukenjerai, maka diperlukan upaya pengaturan ukuran mata jaring dari 10 mm menjadi 25,40 mm dan sosialisasi aturan dan pengawasan di lapangan.
Nisbah kelamin dan ukuran pertama matang gonad kerang lumpur (Anodontia edentula, Linnaeus 1758) di pesisir Lambiku, Kecamatan Napabalano Kabupaten Muna Rochmady Rochmady; Sharifuddin Bin Andy Omar; Lodewyck S Tandipayuk
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.6.1.1-9

Abstract

Penelitian dilakukan di pesisir Lambiku dengan tujuan untuk menganalisis nisbah kelamin dan ukuran pertama matang gonad kerang lumpur. Data dianalisis untuk mengetahui nisbah kelamin dan ukuran pertama matang gonad kerang lumpur Pulau Tobea dengan menggunakan analisis chisquare (χ2) dan Metode Spearmen-Karber (Udupa, 1986). Hasil analisis nisbah kelamin dengan menggunakan chi-square berdasarkan stasiun pengambilan sampel, waktu pengambilan dan tingkat kematangan gonad (TKG) menunjukkan nisbah kelamin jantan kerang lumpur cenderung sebanding dengan jenis kelamin betina. Hal ini ditunjukkan dengan nilai chi-square hitung=chi-square tabel baik berdasarkan waktu pengambilan sampel (0,6770), berdasarkan tingkat kematangan gonad (TKG) (2,7462), berdasarkan stasiun pengamatan (3,3673). Ukuran pertama matang gonad kerang lumpur, jenis kelamin jantan mencapai ukuran rata-rata panjang cangkang sebesar 55,03 mm, pada kisaran panjang cangkang sebesar 54,47-55,60 mm. Untuk jenis kelamin betina mencapai ukuran pertama matang gonad dengan rata-rata panjang cangkang sebesar 54,93 mm, pada kisaran panjang cangkang sebesar 54,48-55,38 mm. Kerang lumpur di pesisir Lambiku, ukuran pertama matang gonad sebenarnya untuk jenis kelamin jantan mencapai ukuran panjang cangkang sebesar 50,2 mm dan jenis kelamin betina mencapai ukuran panjang cangkang sebesar 51,0 mm.
Evaluasi aspek teknis terhadap kegiatan penangkapan ikan kakap merah (Lutjanus sp) dan pengembangannya di sekitar perairan Sinjai Teluk Bone Erika Lukman
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.6.1.22-28

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kegiatan penangkapan ikan Kakap (Lutjanus) di sekitar perairan Sinjai Teluk Bone dan kemungkinan pengembangannya berdasarkan kelimpahan sumberdaya dan performa alat tangkap Pancing Tangan, Jaring Insang Tetap, dan Bubu. Pengambilan sampel diambil secara keseluruhan dengan jumlah responden sebanyak 30 nelayan yang menangkap ikan kakap. Analisis untuk aspek teknis menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif yang didasarkan pada kriteria-kriteria teknis dengan menggunakan pendapat responden, Berdasarkan hasil penelitian, Usaha penangkapan ikan kakap dengan menggunakan alat tangkap pancing tangan, dan jaring insang tidak mengganggu kelestarian lingkungan dan sumberdaya perairan sehingga usaha penangkapan ikan kakap dengan alat tangkap jaring insang dan pancing tangan telah efektif dan efisien dilakukan. Berdasarkan tinjauan dari aspek teknis, alat tangkap terbaik untuk dikembangkan di perairan Sinjai Teluk Bone untuk penangkapan ikan kakap adalah alat tangkap pancing tangan.
Development of Tilapia (Oreochromis niloticus) cultivation in Talaga Paca North Halmahera Regency Eteke, Charlly Natalia
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 14, No 2 (2021)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.14.2.476-481

Abstract

Lake Talaga Paca is one of the lakes in North Halmahera regency used for various purpouse by the community around. The utilizing of lake water for household purposes, transportation and fish cultivation with KJA or KJT. This study aim to determine the strategy of development of the tilapia (Oreochromis niloticus) in Talaga Paca. The method used in this research was descriptive research with data collection techniques used interviews and observations. To formulate a development strategy, based on the results of internal and external factor identification which is then tabulated in the form of IFAS matrix and EFAS matrix, next use the SWOT matrix. The result of water quality measurements are still in a good range. The result of the SWOT analysis results in four strategies that can be used for the development of tilapia fish (Oreochromis niloticus) ie land optimization cultivation area in Talaga Paca becomes more productive and sustainable, improving the ability of cultivators through training and coaching related to the good aquaculture practice and training of fish feed making to tackle the high problem of fish feed prices, agreement between the Cultivators and the community to maintain security at cultivation site.
Ekosistem padang lamun (Manfaat, Fungsi dan Rehabilitasi) Umar Tangke
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.3.1.9-29

Abstract

Ekosistem  pesisir  umumnya  terdiri  atas  3  komponen  penyusun  yaitu  lamun, terumbu  karang  serta  mangrove.  Bersama-sama  ketiga  ekosistem  tersebut    membuat  wilayah    pesisir    menjadi    daerah    yang  relatif  sangat  subur  dan  produktif.    Komunitas  Lamun sangat berperan  penting  pada  fungsi-fungsi  biologis  dan  fisik  dari  lingkungan  pesisir.    Pola zonasi  padang    lamun    adalah    gambaran    yang    berupa    rangkaian/model  lingkungan  dengan    dasar    kondisi    ekologis    yang    sama    pada    padang  lamun.    Aktivitas  manusia  di sekitar  pesisir  dapat  berupa  pertanian,  peternakan  dan  pelabuhan  tradisional  serta pemukiman  penduduk. Oleh karena aktivitas  manusia  yang  tidak  memperhatikan  lingkungan pesisir    akan        mengakibatkan        perubahan        komunitas        lamun        sebagai    penunjang    ekosistem  pesisir.    Banyak      kegiatan      pembangunan      di   wilayah   pesisir   telah   mengorbankan ekosistem  padang  lamun,  seperti  kegiatan    reklamasi    untuk    pembangunan    kawasan  industri    atau  pelabuhan    ternyata    menurut    data    yang  diperoleh      telah      terjadi   pengurangan      terhadap  luasan      kawasan      padang      lamun,      Sehingga pertumbuhan,  produksi  ataupun  biomasanya  akan  mengalami  penyusutan. Di  sisi  lain  masih  kurang  upaya  yang  kita  berikan  untuk  menyelamatkan ekosistem  ini.  Meskipun  data    mengenai    kerusakan    ekosistem    padang  lamun  tidak  tersedia  tetapi  faktanya sudah banyak mengalami degradasi akibat aktivitas di darat.  Sebagai  sumber  daya  pesisir,  ekosistem  padang  lamun    memiliki    multi    fungsi  untuk  menunjang  sistem  kehidupan  dan berperan  penting  dalam  dinamika  pesisir  dan  laut,    terutama    perikanan  pantai    sehingga    pemeliharaan    dan    rehabilitasi    ekosistem  lamun   merupakan      salah      satu      alasan      untuk      tetap      mempertahankan   keberadaan ekosistem  tersebut.
Produktivitas dan Rendemen Kayu Gergajian Pada Perusahaan IUIPHHK PT. Katingan Timber Celebes Ningsie Indahsuray Uar
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.9.1.16-22

Abstract

Kayu gergajian merupakan bahan baku untuk memproduksi berbagai jenis sortimen, ketersediaannya sangat berperan dalam Produktifitas serta kelancaran produksi guna pencapaian target yang direncanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Mengetahui persediaan bahan baku kayu bulat dan kayu gergajiaan pada perusahaan IUIPHHK PT. Katinga Timber Celebes (2) Mengetahui Produktivitas Kayu gergajian pada Perusahaan IUIPHHK PT. Katingan Timber Celebes (3) Mengetahui Rendemen dan Limbah Kayu gergajian Perusahaan IUIPHHK PT. Katingan Timber Celebes. Metode yang digunakan dalam penelitian kuantatif dan mengunakan analisis Regresi linieer sederhana, Berdasarkan data penerimaan bahan baku kayu gergajian, maka dapat disusun nilai trend penerimaan bahan baku kayu gergajian. Dari perhitungan penerimaan bahan baku kayu gergajian didapatkan nilai stok awal per 3 tahun dibagi dengan tiga puluh enam bulan mendapatka hasil 30.3081. Hubungan searah atau positif yang terjadi ditunjukan oleh nilai koefisien korelasi penerimaan bahan baku kayu gergajian tersebut. Persediaan bahan baku kayu bulat pada PT.KTC sebanyak 1.967,01 M3 dimana pasokan tertinggi terjadi pada tahun 2016 sebesar 641,78 M3, dan penerimaan kayu olahan gergajian sebanyak 1.091,09 M3 dimana input terbesar pada tahun 2014 sebesar 719.6105 hal ini menujukan produktifitas pada PT. KTC tidak stabil atau tidak memenuhi target yang ada. Rata-rata produktivitas industri kayu gergajian pada PT. Katingan Timber Celebes di Kecamatan Fena Leisela Desa Wamlana Kabupaten Buru sebesar 30,31 M3/Bulan selama 3 tahun atau 1,17 M3 /hari dan Rata-rata rendemen sebesar 58,18 % per 3 tahun, rata-rata limbah industri kayu gergajiaan sebesar 44,86%.
Jenis-jenis alga coklat potensial di perairan pantai Desa Hutumuri Pulau Ambon Inem Ode; Jahra Wasahua
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing LLC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.7.2.39-45

Abstract

Pemanfaatan alga untuk berbagai keperluan industri sangat tergantung pada senyawa penting di dalamnya, sifat fisik, dan sifat kimia senyawa tersebut. Phaeophyceae (alga coklat) mengandung  alginat, protein, vitamin C, tannin, iodine, phenol sebagai obat gondok, anti bakteri dan tumor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis alga coklat potensial di perairan pantai desa Hutumuri, Pulau Ambon. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan pemanfaatannya alga coklat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2014. Pengambilan sampel alga coklat dilakukan dengan cara koleksi bebas pada saat surut, pada saat pengambilan sampel diamati secara visual kondisi substrat tempat tumbuh alga coklat. Pada saat pengambilan sampel alga coklat juga dilakukan pengukuran parameter lingkungan fisika-kimia perairan di beberapa titik yang mewakili lokasi penelitian yang meliputi suhu, salinitas, pH, kecepatan arus, Nitrat dan Phospat. Dari hasil sampling dan determinasi alga coklat di perairan pantai Hutumuri ditemukan tujuh jenis alga coklat. Enam diantaranya teridentifikasi sampai tingkat spesies yakni Sargassum crassifolium, Sargassum vulgare, Sargassum cinereum, Hormophysa cuneiformis, Turbinaria ornata, Padina Australis dan satu jenis tidak teridentifikasi. Keenam jenis alga coklat yang ditemukan memiliki potensi sebagai sumber alginat, obat-obatan, bioindikator logam berat, sumber makanan dan pupuk.
Modeling energy consumption role on the productivity of coastal community-based fishery business activities in the small islands region Somnaikubun, Glenty Benoni Aminadap
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 14, No 1 (2021)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.14.1.1-9

Abstract

The geographic condition of the archipelago and the inter-regional connectivity within the Kei Islands is still minimal due to the support of infrastructure and natural conditions, causing the sustainability of coastal area-based businesses, particularly capturing fisheries and mariculture fisheries are potentially be disrupted. This research aims to analyze the factors that hamper the productivity of fishing businesses in coastal areas concerning energy consumption and availability to support the business being run. This research used the PLS method, where data were collected from February 2019 to August 2020 in 40 villages with 414 respondents. The results show that consumption has a significant and positive relationship to access and availability on fisheries business productivity. This study also shows that various flow patterns and relationship patterns between variables can affect fisheries business productivity. The implications of this result can be an input for policymakers in this region to better support and maintain the availability of energy to maintain the sustainability of the business productivity of coastal communities in this region.