cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
PURWARUPA Jurnal Arsitektur
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 239 Documents
KAJIAN KONSEP KAMPUNG VERTIKAL PADA KAMPUNG ADMIRALTY SINGAPURA Alfan Sutantio; Lutfi Prayogi
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 5, No 1 (2021): Purwarupa Vol 5 No 1 Maret 2021
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Singapura merupakan negara yang maju dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Banyaknya pendatang baru ke Singapura dengan beragam etnis membuat lahan untuk mencari tempat hunian tinggal semakin sedikit dan padat. Hunian vertikal seperti rusun menjadi solusi untuk mengatasi kepadatan penduduk tersebut dengan biaya murah. Tetapi sebuah hunian vertikal belum mampu mengatasi persoalan mengenai sebuah kultur budaya “kampung” yang dibawa oleh pendatang yang memang berasal dari sebuah kampung. Kampung vertikal ada untuk mencoba mengatasi permasalahan mengenai sebuah kepadatan penduduk sekaligus mewadahi kultur kampung yang kental dengan kebersamaannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji kesesuaian bangunan Kampung Admiralty dengan konsep kampung vertikal. Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif deduktif untuk menjelaskan berbagai hal tentang kampung vertikal dengan kajian teoritis sebagai pengarahnya. Hasil penelitian yang didapat berupa penjelasan kesesuaian bangunan Kampung Admiralty dengan konsep kampung vertikal. Kata Kunci: Budaya Sosial, Hunian, Kampung, Kampung Vertikal.  ABSTRACT. Singapore is a developed country with a high population density. The large number of new arrivals to Singapore with various ethnicities has made the land to find a place to live less and denser. Vertical housing such as flat is a solution to overcome this population density at a low cost. However, a vertical residence has not been able to solve the problem of a "village" culture brought by migrants who do come from a village. The vertical village exists to try to solve the problem of a population density as well as to accommodate the village culture that is thick with its togetherness. The purpose of this study was to assess the suitability of the Admiralty Village building with the vertical village concept. The research method uses descriptive qualitative deductive research methods to explain various things about the vertical village with theoretical studies as a guide. The results obtained are in the form of an explanation of the suitability of the Admiralty Village building with the concept of a vertical village. Keywords: Social Culture, Residential, Village, Vertical Village.
PENERAPAN KONSEP STRUKTUR "V" SEBAGAI ELEMEN ESTETIKA PADA GEDUNG TEATER DI BANDUNG edi maryanto; lily mauliani; anggana fitri satwikasari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 4, No 2 (2020): Purwarupa Vol 4 No 2 September 2020
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kota Bandung Merupakan Kota yang menjunjung tinggi nilai kebudayaan dan adat istiadatnya. Perkembangan Kota Bandung berjalan dengan dinamis dalam setiap tahunnya, Perkembangan tersebut tidak lepas dari adanya jiwa seni dan budaya dari masyarakatnya yang sangat dilestarikan. Berbagai Kesenian yang ada di Bandung membuat Kota Bandung lebih hidup dan dikenal di kancah domestik maupun Internasional. Penerapan struktur “V” sebagai elemen estetika pada gedung teater ini di maksudkan untuk mewadahi pertunjukan kesenian yang sudah berskala besar dan internasional. Konsep yang memadukan Struktur sebagai elemen estetik akan melengkapi keindahan bentuk bangunan. Metode pengumpulan data dalam perencanaan dan perancangan ini adalah dengan studi literatur, studi preseden dan wawancara. Penerapan struktur sebagai elemen estetika pada gedung teater di bandung terlihat pada sistem struktur “V” yang berfungsi sebagai penyangga bangunan utama dengan material kombinasi beton dan baja, dikarenakan fungsi kegiatan yang dilakukan membutuhkan ruangan yang bebas kolom (bentang lebar) sehingga akses lebih optimal. Kata kunci : Bandung, Pagelaran, Seni Teater, Kesenian, Budaya ABSTRACT. The city of Bandung is a city that upholds cultural values and customs. The development of the city of Bandung runs dynamically in each year, these developments can not be separated from the existence of the spirit of art and culture of the people who are very preserved. Various arts in Bandung make the city of Bandung more alive and known on the domestic and international scene. The application of the structure "V" as an aesthetic element in the theater is intended to accommodate large-scale and international art performances. Concepts that combine structure as an aesthetic element will complement the beauty of the shape of the building. The method of data collection in planning and designing is by studying literature, precedent studies and interviews. The application of the structure as an aesthetic element in the theater building in Bandung is seen in the "V" structural system which serves as a buffer for the main building with concrete and steel combination materials, because the activities carried out require a column-free room (wide span) so that access is more optimal. Keywords: Bandung, Performances, Theater Arts, Arts, Culture
EFFECTIVENESS OF CYCLONE TUNNELS AS TOILET VENTILATOR FOR GREEN ARCHITECTURE GUNAWAN GUNAWAN; Fibria Conytin Nugrahini
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 4, No 2 (2020): Purwarupa Vol 4 No 2 September 2020
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract.Highest usage of energy to the air condition will be ever accompanied by the increasing of Glass house Gas productivity, owning flimsy impact of Ozone coat in Atmosphere. Really this phenomenon in future will be more concern, the important thing in city area that loaded high rise building. For that to all architects along with their stakeholder who required doing the effort accompanied with variety of innovation and also creation that based on action of energy economically. Existence of Structure System of Core at laminated building of many floors (high rise building) where the shape was looked like flue roof boosting to follow height of building, can be processed and dimulty functioned as component of natural evaporation system by giving addition some elements among others, mow (duct) vertical - horizontal, room or funnel for cross section of temporary air, baling-baling (cyclone) and grill. With this natural evaporation method, the assumption can do to transfer of air at least at restroom or toilet area at high rise. Functionalism of core was as flue of natural evaporation meant as adding effort on exchequer of Green Architecture. Keyword: economical of energy, gas of glass house, green architecture AbstrakSemakin tingginya penggunaan energi untuk pengkondisian udara, akan senantiasa diiringi oleh  meningkatnya produktivitas Gas Rumah Kaca, yang memiliki dampak menipisnya lapisan Ozon di Atmosfir. Sungguh fenomena ini kedepan akan semakin  memprihatinkan, utamanya di kawasan perkotaan yang sarat bangunan tinggi. Untuk itu bagi para arsitek beserta steakholder-nya perlu melakukan upaya yang diiringi dengan ragam inovasi serta kreasi  yang berbasis pada tindakan hemat energi. Keberadaan Sistem Struktur Core pada bangunan berlapis lantai banyak ( high rise building) dimana bentuknya telah menyerupai bumbung cerobong yang menjulang mengikuti ketinggian bangunan, dapat diolah dan dimulti fungsikan sebagai komponen Sistem penghawaan alamiah dengan memberikan tambahan beberapa elemen diantaranya, selumbung (duct)  vertikal – horizontal, ruang atau corong penampung udara sementara, bailng-baling (cyclone) dan kisi-kisi (grill). Dengan metoda penghawaan alamiah ini, diasumsi dapat melakukan pertukaran udara sedikitnya pada area lantai dasar untuk gedung empat lantai keatas. Fungsionalisasi core sebagai cerobong penghawaan alamiah dimaksudkan sebagai upaya penambah perbendaharaan Green Architecture. Kata kunci: Arsitektur hijau, Gas rumah kaca, Hemat energi
KAJIAN KONSEP HEALING THERAPEUTIC ARCHITECTURE PADA FASILITAS PENDIDIKAN ANAK-ANAK LUAR BIASA STUDI KASUS: YPAC JAKARTA Nur Fadlilah; Finta Lissimia
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 5, No 1 (2021): Purwarupa Vol 5 No 1 Maret 2021
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Anak-anak luar biasa adalah satu bagian dari masyarakat yang membutuhkan lingkungan yang didesain dengan konsep healing therapeutic tersebut karena keluarbiasaan yang mereka miliki dalam hal pemikiran, psikologis, dan interaksi sosial. Hal tersebut menuntut adanya fasilitas pendidikan yang memadai untuk meningkatkan potensi anak-anak luar biasa dan membantu mereka mengubah keluarbiasaan yang mereka miliki menjadi kepercayaan diri untuk menghasilkan karya-karya yang berguna bagi masyarakat. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berusaha mengkaji konsep healing therapeutic pada fasilitas pendidikan anak-anak luar biasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan studi literatur dan observasi lapangan. Studi kasus yang diambil meliputi bangunan YPAC Jakarta. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan prinsip desain healing therapeutic (Chrysikou) dipadukan dengan prinsip media therapeutic (Holowitz), menghasilkan kajian bahwa: YPAC Jakarta menerapkan konsep healing therapeutic meliputi care in community, design fo domesticity, sosial valorization, integrated with nature, dan therapeutic media.akan tetapi belum sempurna dikarenakan prinsip material alami yang kurang memenuhi. Kata Kunci: healing, therapeutic, fasilitas, pendidikan, anak-anak luar biasa ABSTRACT. Extraordinary children are a part of society who need an environment designed with the concept of healing therapeutic because of the extraordinary they have in terms of thought, psychology, and social interactions. This requires adequate educational facilities to increase the potential of extraordinary children and help them turn their extraordinaryness into self-confidence to produce useful works for the community. Based on this background, this study seeks to examine the concept of healing therapeutic in educational facilities for special children. The method used in this research is descriptive qualitative method. The data collection method is done by using literature study and field observation. The case studies taken include the YPAC Jakarta building. The analysis was conducted using a healing therapeutic (Chrysikou) design principle approach combined with the principles of therapeutic media (Holowitz), resulting in a study that: YPAC Jakarta applies the concept of healing therapeutic including care in community, design for domesticity, social valorization, integrated with nature, and therapeutic media .will but not perfect due to the inadequate principle of natural materials.Keywords: healing, therapeutic, facilities, education, extraordinary children
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR PERILAKU PADA STASIUN KERETA API ANTAR KOTA Studi Kasus Stasiun Bandung, Stasiun Gambir, dan Stasiun Pasar Senen Shabika Amany Putri; Finta Lissimia
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 4, No 2 (2020): Purwarupa Vol 4 No 2 September 2020
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kereta Api merupakan moda transportasi darat berbasis jalan rel. Penggunanya memiliki karakteristik yang berbeda-beda dari berbagai lapisan daerah di Indonesia dan dengan perilaku-perilaku yang berbeda pula. Pada bangunan Stasiun hubungan antar pengguna dan bangunan harus terjalin dengan baik. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk menghasilkan gambaran lengkap baik dalam bentuk verbal atau numerikal, menyajikan informasi dasar akan suatu hubungan, dan menciptakan seperangkat kategori. Penelitian ini mengeksplorasi dan mengklarifikasi mengenai suatu fenomena atau keadaan lapangan, dengan jalan mendeskripsikan fenomena untuk menghasilkan gambaran Arsitektur Perilaku pada Stasiun Antar Kota Pasar Senen, Gambir, dan Bandung. Setelah melakukan analisis menggunakan faktor-faktor dalam arsitektur perilaku terhadap stasiun kereta api. Desain pada bangunan stasiun yang dibuat pasti berbeda pada studi kasus yang dibahas. Pada bangunan Stasiun Bandung sirkulasi di dalam bangunan dibuat dengan baik, hanya saja luas dari sirkulasi yang ada kurang memadai, dilihat dari aktivitas stasiun yang padat. Karena hal tersebut membuat pengguna Stasiun Bandung sadar akan keadaan tersebut dan memilih untuk menyesuaikan diri terhadap fasilitas yang disediakan. Berbeda dengan Stasiun Bandung, Stasiun Gambir dan Pasar senen justru sebaliknya. Pada Stasiun Gambir dan Pasar senen fasilitas di stasiun lebih menyesuaikan pada pengguna. Seperti di Stasiun Gambir, pengelola akan melakukan perubahan kebijakan berupa penggunaan pintu utara dan selatan. Karena awalnya pintu selatan hanya digunakan untuk kereta kelas bisnis dan eksekutif dan pintu utara untuk kereta ekonomi. Namun kini kedua pintu dapat diakses untuk kedua jenis kelas. Sedangkan di Stasiun Pasar Senen yang menjadi yang selalu dipadati penumpang terutama saat menjelang idul fitri. Stasiun Pasar Senen baru-baru ini meluaskan ruang tunggu pada area cek tiket dan beberapa renovasi untuk melebarkan ruang loket, serta ruang cetak tiket. Ini menunjukan adanya penyesuaian desain bangunan terhadap perilaku pengguna. Kata Kunci: arsitektur, perilaku, stasiun, kereta api ABSTRACT. After conducting an analysis using factors in the behavioural architecture of the train station. The design of the station building made must be different in the case studies discussed. In the Bandung Station building, the circulation inside the building is well made, it's just that the area of the existing circulation is inadequate, seen from the dense activity of the station. Because this makes Bandung Station users aware of the situation and chooses to adjust to the facilities provided. In contrast to Bandung Station, Gambir Station and Pasar Senen are the opposite. At Gambir Station and Pasar Senen, the facilities at the station are more suitable for the user. Like at Gambir Station, the manager will make policy changes in the form of using the north and south gates. Because initially the south door was only used for business and executive class trains and the north door for economy trains. But now both doors are accessible for both class types. Meanwhile, at Pasar Senen Station, which is always packed with passengers, especially just before Eid. Pasar Senen Station has recently expanded the waiting room at the ticket check area and made several renovations to expand the counter rooms, as well as the ticket printing room. This shows that there are building design adjustments to user behaviour. Keywords: journal, architecture, behaviour, stations, trains 
KAJIAN KONSEP HEALING ENVIRONMENT PADA BANGUNAN PERKANTORAN GEDUNG KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM Indra Pradana; Finta Lissimia
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 5, No 1 (2021): Purwarupa Vol 5 No 1 Maret 2021
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kantor merupakan bagian organisasi yang menjadi pusat bagi kegiatan administrasi dan pengendalian kegiatan pengolahan data atau informasi. Lingkungan dan keadaan kantor memiliki pengaruh pada pemikiran, perasaan, serta perilaku para pegawai. Healing environment merupakan suatu desain lingkungan penyembuhan yang memadukan antara unsur alam, indra dan psikologis. Unsur alam dapat dirasakan melalui indra, indra dapat membantu melihat, mendengar dan merasakan keindahan alam yang didesain, yang secara tidak langsung mempengaruhi psikologis, sehingga pegawai akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan keamanan dalam diri mereka. Faktor fisik yang perlu diaplikasikan dari konsep ini adalah pencahayaan, penghawaan, aroma, taman dan ruang luar, alam pada ruang dalam, kebisingan ketenangan dan musik, tata ruang, suasana yang seperti rumah, seni sebagai selingan positif, dan warna. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami penerapan prinsip-prinsip dan faktor fisik healing environment pada Gedung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Implementasi kesepuluh faktor fisik healing environment pada Gedung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menghasilkan desain yang dapat memberikan dampak positif pada kesehatan dan psikologis pegawai serta menciptakan lingkungan kantor yang sehat, aman, nyaman, dan menyenangkan.Kata Kunci: kantor, healing environment, unsur, faktor fisik.
Arsitektur Modern pada Bangunan Pusat Dakwah Islam Bisnis dan Olahraga yang berbasis Syariah Sella Siti Ainul Jannah; Anisa Anisa; Yeptadian Sari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 4, No 2 (2020): Purwarupa Vol 4 No 2 September 2020
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pusat Dakwah Islam, Bisnis dan Olahraga sebagai wadah dalam pengembangan dan pemberdayaan umat Islam serta mempererat kembali Ukuwah Islamiyah organisasi-organisasi Islam. Pusat Dakwah Islam ini dilengkapi dengan Bangunan komersial bisnis dan olahraga sebagai salah satu media dakwah, guna menjadikan daya tarik bagi umat muslim untuk datang ke Pusat Dakwah Islam. Sebuah bangunan yang memiliki fungsi berbeda dengan lokasi yang sama menjadikan bangunan tersebut harus dapat mewadahi segala kegiatan yang berbeda pula . Pendekatan Arsitektur modern dengan ciri efisiensi, flkesible dan fungsional akan diterapkan pada Bangunan Pusat Dakwah Islam. Penelitian ini akan membahas analisis apa saja yang diperlukan dalam merencanakan Bangunan Pusat Dakwah Islam yang berbasis syariah dengan pendekatan Arsitektur Modern. Metode analisis menggunakan kajian literatur dan studi preseden untuk menyusun konsep-kosep perancangan. Faktor terbesar dalam pengaruh Arsitektur modern adalah bentuk fasade yang sederhana serta, terdapat unsur vertikal dan horizontal serta penggunaan Material Kaca yang mengeskpose kegiatan didalam bangunan akan coba diterapkan pada bangunan Pusat Dakwah Islam. Selain itu efisiensi desain ruang serta kemudahan aksesibilitas akan diterapkan pada bangunan ini. Kata Kunci : Modern, Pusat Dakwah, Syariah ABSTRACT. The Center for Islamic Da'wah, Business and Sports as a forum for the development and empowerment of Muslims and re-strengthening the Islamic Education of Islamic organizations. The Islamic Da'wah Center is equipped with commercial business and sports buildings as one of the propaganda media, to make it attractive for Muslims to come to the Islamic Da'wah Center. A building that has a different function with the same location makes the building must accommodate all the different activities. The modern architecture approach with efficiency, flexibility and functional characteristics will be applied to the Islamic Da'wah Center Building. This study will discuss what analysis is needed in planning a sharia-based Islamic Da'wah Center Building with a Modern Architecture approach. Analysis methods use literature and object study to draw up design concepts. The biggest factor in the influence of modern architecture is a simple facade form, there are vertical and horizontal elements and the use of glass materials that pose an activity in the building will try to be applied to the Islamic Da'wah Center building. In addition, the efficiency of space design and ease of accessibility will be applied to this building. Keywords: Modern, Da'wah Center, Syariah
ANALISA APLIKASI KONSEP ARSITEKTUR BIOKLIMATIK PADA ASRAMA HAJI, RUMAH SUSUN, DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (Studi Kasus : Asrama Haji Embarkasih Medan, Rumah Susun Kayu Putih, dan SMK N1 Percut Sei Tuan) Ilham Mulya; Bayu Arwan; Ramadhansyah Hsb; Cut Nuraini; Saufa Yardha Moerni
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 4, No 2 (2020): Purwarupa Vol 4 No 2 September 2020
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Rendahnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap fasilitas sosial (fasos) disebuah kota / provinsi yang menjadi tujuan masyarakat dalam berbagai urusan pelayanan administrasi, kependudukan dan pendidikan, adalah masalah yang perlu dikaji dalam penelitian ini, dalam kasus ini peneliti memilih Asrama Haji Embarkasih Medan, Rusunawa kayu Putih dan SMK N1 Percut Sei Tuan sebagai objek penelitian, Dimana ketiga objek tersebut banyak melakukan aktivitas  didalam ruangan dan memiliki tingkat mobilitas yang padat pada kawasan bangunan tersebut, Sudah semestinya sebagai negara beriklim tropis kita menjadikan eco-building sebagai solusi dari kebutuhan tersebut agar tidak sepenuhnya bergantung terhadap energi buatan untuk setiap operasional bangunan, peneliti menggunakan pendekatan prinsip arsitektur bioklimatik dalam menganalisa objek penelitian untuk mengetahui penyebab rendahnya kepuasan masyarakat terhadap fasos yang ada. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsep arsitektur pada bangunan fasos tersebut. Metode analisis kualitatif yang dilakukan menggunakan teori-teori yang relevan dengan penelitian, yang menghasilkan kesimpulan penggunaan arsitektur bioklimatik pada ketiga fasos tersebut melalui beberapa indikator. Kata kunci : bioklimatik, prinsip arsitektur bioklimatik, fasilitas sosial. ABSTRACT. The low level of community satisfaction with social facilities (fasos) in a city / province which is the goal of the community in various administrative, population and education services, is a problem that needs to be examined in this study, in this case the researchers chose the Hajj Embarkasih Medan, Rusunawa Kayu Putih and SMK N1 Percut Sei Tuan as research objects, where the three objects carry out a lot of indoor activity and have a high level of mobility in the building area. As a tropical country, we should use eco-building as a solution to these needs so as not to depend entirely on artificial energy for each building operation, researchers used the principle approach of bioclimatic architecture in analyzing the research object to determine the cause of the low level of community satisfaction with existing social facilities. This research was conducted to determine the architectural concept of the social facilities, the qualitative analysis method was using the relevant theorys to the research, wich resulted in conclusion on the used of bioclimatic architecture in that three social facilities through several indicators Kata kunci : bioklimatik, theprinciples of bioclimatic architecture, social facilities.
KAJIAN PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR PERILAKU PADA FASILITAS SEKOLAH LUAR BIASA NEGERI 07 JAKARTA Melaty Istiqomah Hakim; Finta Lissimia
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 5, No 1 (2021): Purwarupa Vol 5 No 1 Maret 2021
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketersediaan fasilitas sangat mempengaruhi jalannya kegiatan siswa disekolah, sesuai dengan aturan yang ada bahwasanya setiap anak memiliki hak pendidikan yang setara dengan usianya, sama hal nya dengan anak berkebutuhan khusus yang memiliki hak untuk bersekolah dan memiliki fasilitas yang memadai. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kaitan antara perilaku anak berkebutuhan khusus dengan fasilitas sekolah luar biasa yang meliputi, Ruang, Furniture, dan Lansekap. Pendekatan penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan sumber data melalui kajian literatur dan beberapa jurnal yang ada. Penelitian ini berkonsentrasi kepada kebutuhan dan perkembangan anak berkebutuhan khusus pada saat di sekolah Penggunaan material, warna, dan kapasitas ruang sangat mempengaruhi konsentrasi pendidikan anak di sekolah luar biasa. Fasilitas ruang yang disediakan oleh sekolah ini cukup lengkap untuk mengakomodasi anak berkebutuhan khusus, untuk Furniture setiap ruang memang terkesan monoton dan kurang menarik, dan untuk fasilitas ruang terbuka hanya tersedia lapangan yang terlihat kurang menstimulus perilaku anak berkebutuhan khusus dari aspek kebutuhan perkembangan dan terapi. Penderita kebutuhan khusus juga sebaiknya diberikan wadah seluas-luasnya guna mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki, seperti salah satu tujuan dari sekolah untuk anak berkebutuhan khusus yaitu untuk meningkatkan rasa kemandirian anak tersebut. Kata Kunci: Anak berkebutuhan khusus, Arsitektur Perilaku, Ruang, Furniture, Lansekap
KAJIAN PENERAPAN ARSITEKTUR PERILAKU PADA BANGUNAN PASAR IKAN DI MUARA BARU Rivan Bryan Tirta; Finta Lissimia
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol 4, No 2 (2020): Purwarupa Vol 4 No 2 September 2020
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fator-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan ruang oleh pedagang dan pembeli yang meliputi atribut perilaku Sosialitas (sociality), Adaptabilitas (Adaptability), Aktivitas (activity), Aksesibilitas (accessibility), Kontrol (Teritorialitas). Pendekatan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data para pedagang dan pembeli pasar. Terdapat tiga langkah dalam penelitian ini. Penelitian ini berkonsentrasi pada aktivitas antara pedagang dan pembeli yang terjadi diantara bangunan inti dengan luar bangunan, aktivitas terbanyak terjadi pada saat jual beli dan drop barang yang bertepatan pada area luar bangunan inti, tempat ini didominasi oleh para pedagang dan pembeli luar daerah tersebut yang mempengaruhi Atribut Perilaku. Aspek sosialitas pada Pasar Ikan Muara Baru menentukan kenyamanan pengguna pasar. Aspek adaptabilitas pada Pasar Muara Baru dinilai dari empat adaptabilitas karir  yaitu kepedulian karir, pengendalian karir, keingintahuan karir, dan keyakinan karir. Pasar Muara Baru memerlukan  fasilitas penunjang sirkulasi dalam bangunan yang akan memenuhi dua faktor yang belum terpenuhi yaitu: kemudahan, keselamatan dan kegunaan. Sarana dan prasarana yang tersedia meliputi listrik, air bersih, sanitasi air hujan dan limbah, drainage, pengelolaan sampah, pengelolaan barang pedagang, jaringan telepon, dan ruang gudang. Tingkat teritorialitas menunjukkan empat tingakatan transaksi jual beli. Kata Kunci: Pasar Ikan, Arsitektur Perilaku, Atribut Perilaku, Pasar Ikan Muara Baru ABSTRACT. The purpose of this study was to determine the factors that influence Fator utilization of space by merchants and buyers that include behavioral attributes of socialit), adaptability, activity, accessibility, kontrol (territoriality).The research approach is descriptive qualitative with data sources of market traders and buyers. There are three steps in this research. This study concentrates on the activities between traders and buyers that occur between the core building and the outside of the building, the most activity occurs at the time of buying and selling and dropping of goods which coincide in the area outside the core building, this place is dominated by traders and buyers outside the area which affect the behavior attributes. Sociality aspects in Muara Baru Fish Market determines the user's convenience market. The adaptability aspect of the Muara Baru Market is assessed from four career adaptabilities, namely career awareness, career control, career curiosity, and career confidence. Muara Baru Market requires circulation support facilities in buildings that will fulfill two unfulfilled factors, namely: convenience, safety and usability. The facilities and infrastructure available include electricity, clean water, sanitation for rainwater and waste, drainage, waste management, management of merchant goods, telephone networks and warehouse space. The territorial level shows the four levels of buying and selling transactions. Keywords: Fish market, behavioral architecture, behavioral attributes, Muara Baru Fish Market