cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
PURWARUPA Jurnal Arsitektur
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
RUMAH BETANG DAN ARSITEKTUR EKOLOGI LAHAN BASAH: SIMBIOSIS TRADISI DAN KEBERLANJUTAN Aulia Niken Dhea Prameswari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Rumah Betang merupakan rumah panjang tradisional masyarakat Dayak di Kalimantan yang berkembang sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan lahan basah. Arsitektur vernakular ini mencerminkan kemampuan masyarakat lokal dalam merespons karakteristik alam, seperti banjir musiman, tingkat kelembapan yang tinggi, serta iklim tropis yang panas dan lembap. Adaptasi tersebut terlihat melalui penerapan struktur panggung, penggunaan material lokal yang tahan terhadap kondisi lingkungan, serta pengaturan ruang komunal yang mendukung kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi prinsip-prinsip arsitektur yang terdapat pada Rumah Betang serta menganalisis keterkaitannya dengan konsep arsitektur ekologi pada kawasan lahan basah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan pada beberapa rumah Betang di Kalimantan Tengah, wawancara dengan masyarakat setempat, serta studi literatur terkait arsitektur vernakular dan ekologi lahan basah. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan interpretatif untuk memahami hubungan antara aspek budaya, sistem konstruksi bangunan, dan keberlanjutan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rumah Betang memiliki sejumlah prinsip desain yang selaras dengan pendekatan arsitektur ekologis, seperti penerapan struktur panggung sebagai strategi adaptasi terhadap banjir, pemanfaatan ventilasi alami untuk meningkatkan kenyamanan termal, serta penggunaan material lokal yang mendukung keberlanjutan lingkungan. Selain itu, tata ruang komunal pada rumah Betang juga mencerminkan keberlanjutan sosial dalam kehidupan masyarakat Dayak. Temuan ini menunjukkan adanya keterkaitan antara nilai-nilai budaya lokal dengan prinsip keberlanjutan dalam praktik arsitektur vernakular, sehingga kearifan lokal yang tercermin dalam arsitektur Rumah Betang berpotensi menjadi referensi dalam pengembangan desain arsitektur kontemporer yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan lahan basah.   Kata Kunci: Rumah Betang, arsitektur vernakular, lahan basah, arsitektur ekologi, adaptasi lingkungan.   ABSTRACT. The Betang House is a traditional longhouse of the Dayak community in Kalimantan that developed as a response to the characteristics of wetland environments. This vernacular architecture reflects the local community’s ability to adapt to natural conditions such as seasonal flooding, high humidity levels, and tropical climate conditions. These adaptations are evident in the use of elevated stilt structures, the utilization of locally sourced materials that are resistant to environmental conditions, and a communal spatial organization that supports the social life of the community. This study aims to identify the architectural principles embodied in the Betang House and to analyze their relationship with ecological architectural approaches in wetland areas. The research employs a qualitative approach through field observations of several Betang Houses in Central Kalimantan, interviews with local communities, and literature studies related to vernacular architecture and wetland ecology. The collected data were analyzed descriptively and interpretatively to understand the relationship between cultural aspects, construction systems, and environmental sustainability. The results indicate that the Betang House embodies several design principles that align with ecological architecture concepts, including the use of elevated structures as a strategy for flood adaptation, natural ventilation systems that enhance thermal comfort, and the use of local materials that support environmental sustainability. In addition, the communal spatial arrangement of the Betang House reflects social sustainability within Dayak society. These findings demonstrate a strong relationship between local cultural values and sustainability principles within vernacular architectural practices, suggesting that the local wisdom embedded in the Betang House can serve as an important reference for developing contemporary architectural designs that are more adaptive to wetland environmental condition.   Keywords: Betang House, Kalimantan Vernacular Architecture, Wetland Ecological Architecture, Environmental Adaptation.
Kajian Konsep Techno Architecture Pada Jakarta International Stadium Fariz Amin Shobri; Jundi Jundullah Afgani
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan arsitektur kontemporer yang semakin terintegrasi dengan teknologi mendorong lahirnya konsep techno architecture sebagai kelanjutan dari arsitektur industri dan high-tech. Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan techno architecture pada Jakarta International Stadium melalui analisis sistem struktur, material, dan teknologi bangunan dengan metode kualitatif deskriptif naratif berbasis studi literatur dan studi kasus. Dengan metode penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif naratif hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep ini diwujudkan melalui penggunaan struktur bentang lebar baja, sistem atap adaptif dan bergerak, material berteknologi tinggi seperti ETFE dan PTFE, serta integrasi sistem mekanikal dan digital yang diekspose sebagai bagian dari ekspresi arsitektur, yang secara keseluruhan meningkatkan efisiensi struktural, fleksibilitas ruang, dan kinerja bangunan, sehingga menegaskan techno architecture sebagai pendekatan desain yang rasional dan relevan dalam menjawab tuntutan fungsional, keberlanjutan, dan adaptabilitas bangunan olahraga. Kata Kunci: Arsitektur Tekno, Teknologi Digital, Stadion, Jakarta ABSTRACT. The development of contemporary architecture, increasingly integrated with technology, has given rise to the concept of techno architecture as a continuation of industrial and high-tech architecture. This study aims to examine the application of techno architecture to the Jakarta International Stadium through an analysis of the building's structural systems, materials, and technology using qualitative, descriptive narrative methods based on literature reviews and case studies. Using qualitative research methods and a descriptive narrative approach, the results show that this concept is realized through the use of wide-span steel structures, adaptive and movable roof systems, high-tech materials such as ETFE and PTFE, and the integration of mechanical and digital systems exposed as part of the architectural expression. Overall, this enhances structural efficiency, spatial flexibility, and building performance, thus confirming techno architecture as a rational and relevant design approach in addressing the functional, sustainable, and adaptable demands of sports buildings.   Keywords: Techno Architecture, Digital Technology, Stadium, Jakarta
KAJIAN KONSEP HEALING ENVIRONMENT PADA PUSAT KESEHATAN MENTAL STUDI KASUS: DE KORBEEL AND DE PATIO CHILD AND YOUTH PSYCHIATRIC HOSPITAL Danyah Sami Ali Bin Ghanem; Yeptadian Sari
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kesehatan mental merupakan aspek penting dalam kesejahteraan manusia dan memerlukan lingkungan perawatan yang mampu mendukung proses pemulihan secara fisik dan psikologis. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan konsep Healing Environment pada fasilitas kesehatan mental melalui studi kasus De Korbeel and De Patio Child and Youth Psychiatric Hospital di Belgia. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan studi literatur dan analisis desain bangunan berdasarkan delapan prinsip Healing Environment, meliputi pencahayaan, skema warna, pemandangan alam, aroma, penghawaan, kontrol kebisingan, pengalaman ruang, dan penggunaan material alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh prinsip tersebut diterapkan secara konsisten dan saling terintegrasi, sehingga menciptakan lingkungan yang mendukung kenyamanan, stabilitas psikologis, serta proses penyembuhan pasien anak dan remaja. Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan Healing Environment memiliki peran penting dalam perancangan fasilitas kesehatan mental yang berorientasi pada kesejahteraan dan pemulihan psikologis.   Kata Kunci: Desain Terapeutik, Kualitas Hidup, Lingkungan Penyembuhan, Pusat Kesehatan, Ruang Bebas Stres   ABSTRACT. Mental health is an essential aspect of human well-being and requires a care environment that supports physical and psychological recovery. This study aims to analyze the application of the Healing Environment concept in a mental health facility through a case study of De Korbeel and De Patio Child and Youth Psychiatric Hospital in Belgium. The research uses a qualitative descriptive method through literature review and architectural design analysis based on eight Healing Environment principles, including lighting, color scheme, views of nature, aroma, ventilation, noise control, spatial experience, and the use of natural materials. The results show that all principles are applied consistently and in an integrated manner, creating an environment that supports comfort, psychological stability, and the healing process of children and adolescent patients. This study confirms that the Healing Environment plays an important role in the design of mental health facilities oriented toward well-being and psychological recovery.   Keywords: Therapeutic Design, quality of life, Healing Environment, health center, stress-free spaces