cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
PURWARUPA Jurnal Arsitektur
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR ANALOGI PADA BANGUNAN TEATER IMAX KEONG MAS dafa raditya; Ashadi Ashadi
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 9 No. 02 (2025): Purwarupa Vol 9 No 2 September 2025
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Teater adalah suatu bentuk seni pertunjukan yang melibatkan pertunjukan langsung oleh aktor atau aktris, sering kali di depan penonton. Ini mencakup berbagai genre, gaya, dan format, termasuk drama, musikal, opera, balet, dan pertunjukan eksperimental. Produksi teater biasanya melibatkan berbagai elemen seperti akting, dialog, musik, tari, set, kostum, dan pencahayaan untuk menciptakan pengalaman yang kohesif dan mendalam bagi penonton. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam perancangan teater adalah konsep arsitektur analogi. Konsep arsitektur analogi  seringkali digunakan arsitek sebagai bahan konsep untuk merancang karya nya. Tidak hanya melihat dari sudut estetika, penerapan konsep arsitektur analogi ini juga diharapkan dapat menarik perhatian tersendiri sebagai sebuah bangunan. Tujuan dari penelitian kajian konsep arsitektur analogi pada bangunan fasilitas kesenian adalah mengidentifikasi dan memahami apa itu konsep analogi dan bagaimana penerapan konsep analogi itu sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif, dengan melakukan observasi dan literatur. Prinsip pada konsep arsitektur analogi ini tidak secara instan mengikuti atau meniru bentuk yang dianalogikan. Ketiga prinsip diatas merupakan  kunci dalam menerapkan  konsep arsitektur analogi pada bangunan teater. Prinsip pertama ialah kemiripan visual, dimana pada prinsip ini dijelaskan bahwa bentuk bangunan memiliki kesamaan pada bentuk atau secara keseluruhan visual tidak memiliki perbedaan dengan bentuk yang dianalogikan. Kata Kunci: Teater, Arsitektur Analogi, Teater IMAX Taman Mini   ABSTRACT. Theater is a form of performing arts that involves live performances by actors or actresses, often in front of an audience. It spans a wide range of genres, styles, and formats, including drama, musicals, opera, ballet, and experimental performances. Theatrical productions typically involve various elements such as acting, dialogue, music, dance, sets, costumes, and lighting to create a cohesive and immersive experience for the audience. One approach used in theater design is the concept of analogous architecture. The concept of analogous architecture is often used by architects as conceptual material to design their work. Not only looking from an aesthetic point of view, it is hoped that the application of this analogous architectural concept will also attract attention as a building. The aim of research to study the concept of analogous architecture in arts facility buildings is to identify and understand what the concept of analogy is and how to apply the concept of analogy itself. The method used in this research is descriptive qualitative, using observations and literature. The principle of this analogous architectural concept is not to immediately follow or imitate the analogous form. The three principles above are key in applying the concept of analogous architecture to theater buildings. The first principle is visual similarity, where in this principle it is explained that the shape of the building has the same shape or overall visually has no difference with the analogous shape. Keywords: Theater, Analogy Architecture, Taman Mini IMAX Theater
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR EKSPRESIONISME PADA 7 BANGUNAN DI JAKARTA ART CENTER (TAMAN ISMAIL MARZUKI) ALYA TABITHA LATUPONO; Wafirul Aqli
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Ekspresionisme adalah konsep yang berawal dari perkembangan seni, khususnya seni rupa. Berasal dari kata ’ekspresi’ yang mengacu pada suatu emosi melalui karya seni, termasuk dengan karya seni bangunan atau dalam ranah arsitektur. Konsep arsitektur ekspresionisme bertujuan untuk menggali lebih dalam suatu ekspresi yang terkandung dalam suatu bangunan melalui fasad bangunan, ruang-ruang dan material yang digunakan dalam studi kasus 7 bangunan di Jakarta Art Center (Taman Ismail Marzuki). Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan deksriptif, penelitian ini mengacu pada data primer dan data sekunder. Sehingga, hasil analisis yang didapatkan pada art center diantaranya memiliki konsep dasar yang menyesuaikan kebutuhan bangunan, bentuk-bentuk yang tidak monoton, permainan warna dan material dalam menciptakan ruang, dan penggunaan material konstruktif pada bangunan. Kata Kunci: arsitektur, art center, ekspresionime, seni   ABSTRACT. Expressionism is a concept that originates from the development of art, particularly visual arts. It comes from the word 'expression' which refers to conveying an emotion through art, including architectural works. The concept of expressionist architecture aims to delve deeper into the expressions contained within a building through its facade, spaces, and the materials used, as examined in the case study of an art center building. Using qualitative methods and a descriptive approach, this research relies on primary and secondary data. Thus, the analysis results obtained for the art center include a foundational concept that adapts to the building's needs, non-monotonous forms, the play of colors and materials in creating space, and the use of constructive materials in the building. Keywords: architecture, art center, expressionism, art
PUSAT PERBELANJAAN DI KABUPATEN KOLAKA DENGAN PENEKANAN ARSITEKTUR HEMAT ENERGI Pebriana Pebriana; La Pande Jurumai; Elvina Sari Taufiq
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kabupaten Kolaka berfungsi sebagai pintu masuk antara Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan, serta dikenal sebagai pusat kegiatan ekonomi dengan pertumbuhan pesat, terutama di sektor perdagangan. Penelitian ini bertujuan merencanakan pusat perbelanjaan di Kolaka dengan menerapkan arsitektur hemat energi untuk mendukung aktivitas masyarakat. Metode yang digunakan adalah kualitatif, mencakup analisis masalah, pengumpulan, dan analisis data primer serta sekunder yang relevan, serta studi literatur dan observasi. Penerapan arsitektur hemat energi difokuskan pada pengurangan penggunaan energi tanpa mengubah fungsi bangunan, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih efisien dan berkelanjutan.   Kata Kunci: pusat perbelanjaan, hemat energi, Kolaka   ABSTRACT. Kolaka Regency serves as an entry point between Southeast Sulawesi and South Sulawesi and is known as an economic center with rapid growth, particularly in the trade sector. This research aims to plan a shopping center in Kolaka by applying energy-efficient architecture to support community activities. The method used is qualitative, encompassing problem analysis, collection, and analysis of relevant primary and secondary data, as well as literature studies and observations. The application of energy-efficient architecture focuses on reducing energy consumption without altering the building's function, thereby creating a more efficient and sustainable environment.   Keywords: Shopping center, Energy-efficient, Kolaka 
KAJIAN ARSITEKTUR REGIONALISME PADA ISLAMIC CENTER BEKASI Raudatul Jannah; Anisa Anisa
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Arsitektur regionalisme merupakan pendekatan desain yang mengutamakan hubungan erat antara arsitektur dan konteks lokal, baik dari segi budaya, lingkungan, maupun nilai-nilai sosial. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan bangunan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mencerminkan identitas lokal dan harmoni dengan lingkungan sekitarnya. Islamic center Bekasi merupakan pusat keagaman dan budaya yang mengintegrasikan prinsi-prinsip arsitektur regionalisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan prinsip-prinsip arsitektur regionalisme pada islamic center Bekasi, khususnya dalam penggunaan mataerial lokal, teknologi modern, adaptasi terhadap iklim setempat, refleksi budaya lokal, keseimbangan antara elemen tradisional dan modern, serta dominasi visual dan penggunaan elemen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui dokumentasi, observasi, dan kajian literatur. Hasil peneliitan menunjukkan bahwa islamic center bekasi menerapkan prinsip arsitektur regionalisme melalui penggunaan material lokal seperti genteng tanah liat, keramik, kayu dan batu bata merah, serta desain atap miring dan ventilasi silang untuk adaptasi iklim. Unsur Betawi dan Sunda tercermin dalam bentuk atap, dengan keseimbangan elemen tradisional dan modern melalui penggunaan baatu bata mengilap dan besi. Bangunan ini mencerminkan pelestarian budaya lokal melalui pendekatan arsitektur kontekstual dan berkelanjutan.   Kata Kunci: Arsitektur Regionalisme, Islamic Center Bekasi, Material Lokal, Refleksi Budaya Lokal, Adaptasi Iklim   ABSTRACT. Regionalism architecture is a design approach tha emphasizes the close relation between architecture and the context local, in terms of culture, environment, and social values. This approach aims to create buildings that are not only functional, but also reflect local identity and harmony with the surrounding environment. The bekasi islamic center is a center of diversity and culture that integrates the principles of regionalism architecture. This research aims to examine the application of regionalism architectural principles in the bekasi islamic center, particularly in the use of local mataerials, modern technology, adaptation to the local climate, reflection of local culture, balance between traditional and modern elements, and visual dominace and use of elements. This study employed a qualitative descriptive method through documentation, observation, and literature review. The findings indicate that Islamic Center Bekasi applies the principle of regionalist architecture through the use of local roof design and cross ventilation for climate adaption. Betawi and Sundanese elements are reflected in the roof form, with a balance between traditional and modern elements shown through the use of galzed bricks and steel. The building reflects the preservation of local culture through a contextual and sustainable architectural approach.   Keywords: Regionalism Architecture, Bekasi Islamic Center, Local Material, Local Cultural Reflection, Climate Adaption.
KAJIAN KONSEP ARSITEKTUR PERILAKU PADA BANGUNAN PONDOK PESANTREN AL-ITQON JAKARTA Adna Sobri; Ratna Dewi Nur'aini
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pondok pesantren berperan penting dalam membentuk karakter dan nilai keagamaan santri melalui lingkungan yang mendukung pembelajaran, ibadah dan interaksi sosial. Namun seringkali penataan ruang di pesantren tidak mempertimbangkan kebutuhan perilaku dan kenyamanan santri. Pendekatan arsitektur perilaku menawarkan solusi dengan menciptakan desain yang berorientasi pada perilaku manusia, menyesuaikan dengan kebutuhan, aktivitas, dan gaya hidup pengguna. Penelitian ini mengkaji penerapan prinsip arsitektur perilaku di Pondok Pesantren Al-Itqon, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi dan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain ruang pesantren memenuhi prinsip arsitektur perilaku, seperti zonasi yang jelas, ventilasi dan pencahayaan alami yang optimal, serta fleksibilitas ruang untuk berbagai aktivitas. Namun demikian, masih perlu dilakukan peningkatan kapasitas ruang dan penataan furnitur untuk meningkatkan kenyamanan dan efisiensi. Secara keseluruhan, desain berbasis arsitektur perilaku terbukti mendukung rutinitas santri dan menciptakan lingkungan yang fungsional, estetis, dan nyaman.   Kata Kunci: arsitektur perilaku, desain ruang, kenyamanan santri, pesantren, zonasi.   ABSTRACT. Islamic boarding schools play an important role in shaping the character and religious values ​​of students through an environment that supports learning, worship and social interaction. However, often the spatial planning in Islamic boarding schools does not take into account the behavioral and comfort needs of students. The behavioral architecture approach offers solutions by creating designs that are oriented to human behavior, adapting to user needs, activities and lifestyles. This research examines the application of behavioral architecture principles at the Al-Itqon Islamic Boarding School, using qualitative descriptive methods through observation and analysis. The results show that the Islamic boarding school room design meets the principles of behavioral architecture, such as clear zoning, optimal ventilation and natural lighting, as well as space flexibility for various activities. However, there is still a need to increase space capacity and furniture arrangement to increase comfort and efficiency. Overall, design based on behavioral architecture is proven to support students' routines and create a functional, aesthetic and comfortable environment.   Keywords: behavioral architecture, space design, student comfort, Islamic boarding schools, zoning.
Kajian Adaptasi Konsep Garden City Pada Kawasan Kota Baru Summarecon Bekasi Ghulam Akhmad Al Faqi; Ari Widyati Purwantiasning
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Konsep Garden City adalah sebuah rancangan kawasan kota yang menggabungkan elemen perkotaan dan pedesaan untuk meningkatkan kualitas hidup. Konsep ini sudah lama dicetuskan oleh Ebenezer Howard dan bahkan masih memiliki nilai yang relevan untuk diterapkan di masa kini. Saat ini, penerapan konsep tersebut menghadapi tantangan yang cukup sulit akibat semakin terbatasnya lahan di kawasan perkotaan, termasuk di kota-kota baru, seperti Kawasan kota baru Summarecon Bekasi. Pemahaman terhadap konsep ini kerap membuatnya tampak kurang relevan. Namun, inti yang dapat diambil dari konsep tersebut adalah bagaimana prinsip-prinsipnya dapat diadaptasi untuk diterapkan di Kawasan Kota Baru. Penelitian ini mengkaji konsep Garden City dalam Kawasan Kota Baru Summarecon Bekasi dan mengkaji kesesuaian prinsip Garden City dalam beradaptasi pada Kawasan Kota Baru, khusunya di Kawasan Kota Baru Summarecon Bekasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi prinsip-prinsip dalam konsep Garden City di Kawasan Kota Baru Summarecon Bekasi serta menganalisis tingkat kesesuaiannya dengan kondisi kawasan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan data yang diperoleh melalui observasi langsung, pencarian daring, serta analisis dokumen literatur terkait. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip Garden City mampu beradaptasi dengan kondisi lokal dan kebutuhan kawasan di masa kini, serta tetap relevan untuk diterapkan di Kota Baru Summarecon Bekasi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menjaga kualitas kehidupan kota sekaligus menjadi panduan untuk mengembangkan Kawasan Kota Baru yang lebih berkualitas.   Kata Kunci: Garden City, Kawasan Kota Baru, Relevansi Konsep   ABSTRACT. The Garden City concept is a city area design that combines urban and rural elements to improve the quality of life. This concept was initiated long ago by Ebenezer Howard and still has relevant value to be applied today. Currently, the implementation of this concept faces quite difficult challenges due to the increasingly limited land in urban areas, including in new towns, such as the Summarecon Bekasi New Town Area. Understanding this concept often makes it seem less relevant. However, the core that can be taken from the concept is how its principles can be adapted to be applied in the New Town Area. This study examines the Garden City concept in the Summarecon Bekasi New Town Area and examines the suitability of the Garden City principles in adapting to the New Town Area, especially in the Summarecon Bekasi New Town Area. This study aims to identify the principles in the Garden City concept in the Summarecon Bekasi New Town Area and analyze the level of suitability with the conditions of the area. This study uses a descriptive qualitative approach, with data obtained through direct observation, online searches, and analysis of related literature documents. The collected data were then analyzed qualitatively. The results of the study show that the principles of Garden City are able to adapt to local conditions and current regional needs, and remain relevant to be applied in Summarecon Bekasi New Town Area. This study is expected to contribute to maintaining the quality of city life as well as being a guide to developing a higher quality New Town Area.   Keywords: Garden City, New Town Area, Concept Relevance
Pengaruh Aktivitas Wisata Danau Laut Tawar Terhadap Kawasan Sekitarnya Dedi Hantono; Ari Widyati Purwantiasning; Lutfi Prayogi; Ulinata Ulinata; Izzat Fadhlur Rahman; Ilham Pane
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kota Takengon terletak di dataran tinggi Gayo dan merupakan ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Kota ini terbentuk di sebelah barat Danau Laut Tawar yang merupakan objek wisata sehingga memiliki daya tarik untuk dikunjungi dan berpotensi menjadi identitas kota tersebut. Aktivitas wisata dan ruang kota saling memberi hubungan timbal balik  yang menuntut kebutuhan dari aktvitas wisata tersebut. Trancik menjelaskan space (ruang) akan berubah menjadi place (tempat) jika mempunyai arti bagi lingkungan yang berasal dari budaya daerahnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengaruh aktivitas wisata danau Laut Tawar terhadap tata ruang kota Takengon. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan studi literatur dan observasi sebagai metode pengumpulan data. Kesimpulan dari penelitian ini adalah aktivitas wisata di danau Laut Tawar memengaruhi tata ruang kota dalam bentuk akomodasi yang ditemui di tepi danau maupun di area permukiman sekitarnya. Kata Kunci: Wisata, Takengon, Danau Laut Tawar, Ruang Kota   ABSTRACT. Takengon City is located in the Gayo Highlands and is the capital of Central Aceh Regency. The city was formed to the west of Lake Laut Tawar, a tourist attraction, making it a popular destination and potentially a key city identity. Tourism activities and urban space provide a reciprocal relationship, necessitating the needs of these activities. Trancik explains that space becomes a place if it has meaning for the environment, stemming from the local culture. This study aims to understand the influence of tourism activities at Lake Laut Tawar on the urban planning of Takengon. The method used in this study is a descriptive qualitative method, with literature review and observation as data collection methods. The conclusion of this study is that tourism activities at Lake Laut Tawar influence urban planning in the form of accommodations found on the lakeshore and in the surrounding residential areas. Keywords: Tourism, Takengon, Lake Laut Tawar, Urban Space
Hunian dan Kesehatan Mental Wanita: Analisis Persepsi terhadap Elemen Healing Architecture Berbasis Pancaindra Yeptadian Sari; Ari Widyati Purwantiasning; Dedi Hantono; Rahmatyas Aditantri; Ahila Shofiqoh
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 9 No. 02 (2025): Purwarupa Vol 9 No 2 September 2025
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Hunian tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan psikologis penghuninya, terutama wanita dewasa yang menjalani peran ganda sebagai ibu, istri, dan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi wanita terhadap elemen-elemen healing architecture dalam hunian berbasis pendekatan pancaindra. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, dengan data diperoleh melalui kuesioner terhadap 38 responden wanita. Analisis dilakukan dengan menghitung rata-rata dan standar deviasi setiap indikator, serta pemetaan hasil ke dalam Diagram Kartesius. Hasil menunjukkan bahwa indikator seperti pencahayaan alami, sirkulasi udara, warna dinding yang menenangkan, dan jendela dengan pemandangan luar menempati posisi prioritas tertinggi. Sementara elemen seperti ruang privat untuk menyendiri menunjukkan preferensi personal yang kuat meskipun nilai rata-ratanya tidak tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa desain hunian yang mendukung kesehatan mental wanita memerlukan pendekatan yang lebih peka terhadap pengalaman sensorik dan kebutuhan psikologis yang bersifat kontekstual. ABSTRACT. Housing serves not only as a physical shelter but also plays a crucial role in maintaining the psychological well-being of its occupants, particularly adult women who simultaneously take on roles as mothers, wives, and professionals. This study aims to analyze women’s perceptions of healing architecture elements in residential design through a multisensory approach. The research employs a descriptive quantitative method, using questionnaire data from 38 female respondents. The data were analyzed through mean and standard deviation calculations, followed by a Cartesian diagram mapping. The findings reveal that indicators such as natural lighting, air circulation, calming wall colors, and windows with outdoor views are perceived as top priorities. Meanwhile, the need for private space for solitude emerged as a strong personal preference, despite its lower average score. These results indicate that residential design that supports women’s mental health requires a more sensitive approach to sensory experiences and context-based psychological needs.  
JEJAK ARSITEKTUR VERNAKULAR PADA MASJID-MASJID TUA BERSEJARAH DI JAKARTA: Studi Kasus: Masjid Almukarromah Kampung Bandan, Masjid Luar Batang, Masjid Angke, Masjid Al Arif, dan Masjid Al Ansor Anisa Anisa; Irma Nurjannah; Jundi Jundullah Afgani; Wafirul Aqli
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Masjid-masjid tua bersejarah di Jakarta adalah bangunan peribadatan dan juga bukti perkembangan Masyarakat multikultural yang berada di sekitar Pelabuhan. Penelitian ini mengambil kasus pada lima masjid tua bersejarah di Jakarta untuk menggali jejak arsitektur vernakular yang terkandung di dalamnya. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan untuk mengeksplorasi bagaimana bentuk bangunan, material, tata ruang, dan ornamen berkembang dari pengetahuan lokal dan adaptif terhadap budaya, sosial, dan iklim setempat. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kelima masjid tersebut memiliki ciri vernakular, seperti atap limas atau tumpang yang merespons iklim tropis, penggunaan material lokal seperti kayu dan bata, serta detail sambungan kayu tradisional. Tata ruang terbuka dengan serambi luas mendukung fungsi sosial-keagamaan dan interaksi komunitas. Setiap masjid memiliki konteks unik, Masjid Almukarromah Kampung Bandan berada di sekitar komunitas pelabuhan dengan tradisi maritimnya; Masjid Luar Batang menjadi pusat ziarah yang menarik peziarah dari berbagai daerah; Masjid Angke yang menjadi saksi pengaruh Melayu, Arab, dan Bugis dalam bentuk bangunannya; sedangkan Masjid Al Arif dan Masjid Al Ansor mempertahankan skala kampung dengan suasana sosial yang akrab. Kata kunci: Arsitektur Vernakular, Masjid Tua, Jakarta, Warisan Budaya, Islam Urban   ABSTRACT. Jakarta's historic old mosques are both places of worship and evidence of the development of a multicultural society around the port. This study examines five historic old mosques in Jakarta to explore the traces of vernacular architecture they contain. A qualitative approach using case studies was used to explore how building forms, materials, spatial layouts, and ornaments evolved from local knowledge and adapted to the local culture, society, and climate. The findings of this study indicate that all five mosques share vernacular characteristics, such as pyramidal or overlapping roofs that respond to the tropical climate, the use of local materials such as wood and brick, and traditional wood joinery details. Open layouts with spacious verandas support socio-religious functions and community interaction. Each mosque has a unique context: the Almukarromah Mosque in Kampung Bandan is located around a port community with its maritime traditions; the Luar Batang Mosque serves as a pilgrimage center that attracts pilgrims from various regions; the Angke Mosque bears witness to Malay, Arab, and Bugis influences in its architectural form; while the Al Arif Mosque and Al Ansor Mosque maintain a kampung scale with a friendly social atmosphere.  Keywords: Vernacular Architecture, Old Mosque, Jakarta, Cultural Heritage, Urban Islam
PERUBAHAN STRUKTUR RUANG KAWASAN DUKUH ATAS JAKARTA DALAM KERANGKA MORFOLOGI KOTA DAN TATA KELOLA PERKOTAAN Lutfi Prayogi
PURWARUPA Jurnal Arsitektur Vol. 10 No. 01 (2026): Purwarupa Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Arsitektur UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kawasan Dukuh Atas di Jakarta telah mengalami transformasi signifikan dalam dua dekade terakhir, dari simpul transportasi konvensional menjadi kawasan transit terintegrasi dengan karakter ruang publik yang kuat. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi perubahan struktur ruang kawasan ini menggunakan pendekatan morfologi kota, menggabungkan mazhab Conzen (Inggris) dan géographie historique urbaine (Prancis), serta kerangka analisis tata kelola perkotaan. Penelitian dilakukan secara kualitatif-deskriptif dengan analisis spasial historis, observasi lapangan, serta studi dokumen proyek dan kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi morfologi Dukuh Atas berlangsung dalam empat fase (2004–2023), ditandai dengan perubahan fungsi jaringan jalan, pelapisan struktur ruang antarmoda, serta kemunculan ruang ketiga sebagai ruang interaksi sosial. Proyek-proyek seperti pedestrianisasi Terowongan Kendal, pembangunan MRT dan LRT, serta pembentukan badan pengelola kawasan TOD berperan penting dalam mengubah karakter fisik dan sosial kawasan. Temuan menarik lain adalah terbentuknya ruang publik yang relatif minim parkir kendaraan bermotor, berkat meningkatnya akses terhadap transportasi umum yang terintegrasi dan terjangkau. Studi ini menegaskan pentingnya membaca perubahan morfologi kota melalui kombinasi pendekatan spasial dan kelembagaan, terutama di konteks kota besar Asia Tenggara yang tengah mengalami tekanan modernisasi dan fragmentasi tata kelola. Kata Kunci: morfologi kota, tata kelola perkotaan, Dukuh Atas, ruang ketiga, TOD, Jakarta. ABSTRACT. The Dukuh Atas area in Jakarta has undergone a significant transformation over the past two decades, evolving from a conventional transport node into an integrated transit hub with vibrant public spaces. This article aims to explore the morphological transformation of the area using an urban morphology approach, combining the Conzenian tradition (UK) and the French géographie historique urbaine, alongside an urban governance framework. The research adopts a qualitative-descriptive method, employing historical spatial analysis, field observation, and a review of project and policy documents. Findings indicate that Dukuh Atas has experienced four distinct phases of transformation (2004–2023), marked by changes in street functions, the layering of multimodal structures, and the emergence of third spaces as sites of social interaction. Key interventions such as the pedestrianization of Kendal Underpass, the development of MRT and LRT systems, and the establishment of a dedicated TOD management body have reshaped the area’s spatial and social character. A notable finding is the creation of public spaces that are accompanied with relatively not much parked motorcycles, a rare condition in Jakarta, enabled by the increasing availability of integrated, high-quality, and affordable public transport. This study highlights the importance of reading urban morphological change through a combined spatial and institutional lens, especially in Southeast Asian metropolises undergoing modernization pressures and governance fragmentations. Keywords: urban morphology, urban governance, Dukuh Atas, third space, TOD, Jakarta