cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
“Wayang Kreatif” Performance of Teater Koma and Its Audience Arthur Supardan Nalan
PANGGUNG Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.349 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.273

Abstract

ABSTRAK Teater Koma merupakan teater modern yang berhasil bertahan selama 40 tahun, dari tahun 1977 sampai sekarang. Perjalanan yang cukup panjang, mendudukkan Teater Koma sebagai teater yang mampu menyajikan pelbagai lakon teater, baik yang berasal dari para dramawan dan sastrawan dunia maupun yang hasil ciptaan sendiri oleh Riantiarno, sebagai pendiri utamanya. Salah satu kumpulan lakon ciptaan Riantiarno adalah lakon-lakon wayang yang dikemas dengan sebutan wayang kreatif. Pertunjukan wayang kreatif Teater Koma ini menjadi objek material yang dipilih untuk didekati dengan paradigma sosiologi seni dan komunikasi seni teater. Pendekatan yang digunakan adalah teori sosiologi seni dari Arnold Hauser dan teori komunikasi efektif dari Gudy Kunst. Adapun hasilnya dapat ditemukan bahwa Teater Koma sebagai teater rakyat perkotaan telah memberikan apresiasi seni kepada publiknya dengan menjalin relasi kepada publiknya melalui berbagai cara, termasuk dengan memanfaatkan media sosial, misalnya memesan tiket secara online. Selain itu, publiknya yang berasal dari segala lapisan masyarakat di Jakarta telah pula dihibur melalui humor-humor kritis yang terdapat dalam setiap pertunjukan wayang kreatif tersebut. Tindakan tersebut membawa interaksi yang berlangsung terus menerus dengan publiknya, sehingga membangun publik yang fanatik terhadap Teater Koma. Kata kunci: Teater Koma, teater rakyat perkotaan, wayang kreatif, publikABSTRACT Teater Koma is a modern theatre, which has been existing for 40 years since 1977 until today. The group has successfully performed various plays, both wri! en by the world playwrights and by Riantiarno himself as the main founder, an actor, and a play writer. Some of the Riantiarno’s plays are puppet plays called wayang kreatif (a creative puppet). The wayang kreatif performance of Teater Koma is the material object of this study, which is approached by the paradigm of the sociology of art and the communication of theatre arts, especialy by applying the theory of Arnorld Hauser’s sociology of art and Gudykunst’s effective communication theory. The result shows that Teater Koma as an urban folk theatre has been serving its audience with its variety shows promoted through diff erent media, including by utilizing social media, such as booking the ticket online to reach wider audiences. Moreover, its audiences come from diff erent levels of social classes in Jakarta, and they were entertained by sarcastic humors contained in the wayang kreatif performance. These activities maintain the continous interaction between the group and its audiences, so that the grup builds its loyal audiences. Keywords: Teater Koma, urban folk theatre, wayang kreatif, communication, audiences
Kembalikan Lagu Anak-anak Indonesia: Sebuah Analisis Struktur Musik Ardipal Ardipal Ardipal
PANGGUNG Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.196 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.42

Abstract

ABSTRACTIt appears there are two opposing poles of art music once intertwined within Indonesian society. That is music as art development in certain environments and music as commercial art. In terms of commercial music, almost two decades this song children disappear in the mass media. Was replaced by the song of adults. This certainly influenced the development of psychological, physical, and mental children. Theoretically, this problem this can be seen from the production of music through approach (1) konfik (hegemony) and (2) the interpretation / meaning. This study aimed to compare the musical structure of children's songs and musical structures adults. Data taken from children's songs and pop songs adults. The method of analysis is focused on the features songs based on the structure of the music and effects. Is a key instrument in the researcher's own research and auxiliary instruments in the form of codification guide data. Then describe the elements contained in some of the songs of children and adults. To maintain the validity of the data, performed data triangulation activity. Activity data analysis starts from the stage of selecting and codify the data, analyze the data according to the music features of each, and draw conclusions as well as the verification stage. From the data tracks taken as a sample, it appears that the pattern of rhythmic, melodic, intervals, tempo, tone range is not worthy to be sung by children. Coercion of children to imitate the song can be fatal as damage to the vocal cords, jaw muscle cramps. Finally, it is suggested that participants of art, and also Likewise art network infrastructure, must be able to have the same view and strong in the development of the art of music in Indonesia, especially for a children's song.Keywords: children song, patriotic song, adult song, music structure.ABSTRAKTerlihat ada dua kutub seni musik yang bertentangan sekaligus berjalin di dalam masyarakat Indonesia. Yaitu musik sebagai pengembangan seni di lingkungan tertentu dan musik sebagai seni komersial. Dari sisi musik komersial, hampir dua dekade terakhir ini lagu anak-anak menghilang di media massa. Digantikan oleh lagu orang dewasa. Hal ini tentu mempengaruhi perkembangan psikologis, fisik, dan mental anak-anak. Secara teoritik, masalah ini hal ini dapat ditinjau dari produksi musik melalui pendekatan (1) konfik (hegemoni) dan (2) interpretasi/ makna. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan struktur musik lagu anak-anak dan struktur musik orang dewasa. Data diambil dari lagu anak-anak dan lagu pop orang dewasa. Metoda analisis difokuskan pada fitur lagu berdasarkan struktur musik dan dampaknya. Instrumen kunci dalam penelitian adalah peneliti sendiri dan instrumen pembantu berupa panduan kodifikasi data. Kemudian mendeskripsikan unsur-unsur tersebut yang terdapat dalam beberapa lagu anak-anak dan dewasa. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap memilih dan mengodifikasi data, menganalisis data sesuai dengan fitur musiknya masing-masing, dan tahap menarik kesimpulan serta verifikasi. Dari data lagu yang diambil sebagai sampel penelitian, terlihat bahwa pola ritmis, melodis, interval, tempo, hingga rentang nada belum laik dinyanyikan oleh anak-anak. Pemaksaan anak-anak untuk meniru lagu tersebut dapat berakibat fatal seperti kerusakan pita suara, kram otot rahang. Akhirnya, disarankan agar partisipan seni , dan juga Demikian juga jaringan infrastuktur seni, harus dapat memiliki pandangan yang sama dan kuat dalam pengembangan seni musik di Indonesia, khususnya untuk lagu anak-anak.Kata Kunci: lagu anak-anak, lagu perjuangan, lagu orang dewasa, struktur musik 
Pengembangan Tekstil Berbasis Motif dan Nilai Filosofis Ornamen Tradisional Sumatra Utara Daulat Saragi
PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.482 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i2.445

Abstract

ABSTRACTEthnicity and cultural diversity of North Sumatra is the pride of the communities who contribute to the wealth of cultural heritage. Nowadays, a textile development has been successfully explored with a variety of ornaments and its philosophical values, and it has been brought into fashion trends. The North Sumatra ornamental motifs contribute to the world of fashion today. Fashion designers pay big attention to the advance of the complexity of ethnic motifs in the development of the textile world. The study was conducted by the method of documentation, observation, and interpretation of the meaning of the motifs. Verstehen method (understanding) is used to interpret the symbols of ornamental motifs containing the ideas of community. The result is an alternative of textile motif development of  North Sumatra-based on local patterns. With the richness of textile patterns raised from local ethnic of North Sumatra, make the fashion increasingly popular and in demand, and ultimately contributes to the development of the textile and fashion industry.Keywords: ornamental motifs, philosophical values, textile industry ABSTRAKKeanekaragaman suku dan  budaya Sumatra Utara merupakan kebanggaan masyarakatnya yang berkontribusi kepada kekayaan budaya Nusantara. Perkembangan tekstil dewasa ini berhasil mengeksplorasi aneka motif dan nilai filosofis ornamen tradisi dan mengangkatnya menjadi tren mode. Motif ornamen Sumatra Utara telah berkontribusi pada dunia mode saat ini. Perancang busana  melirik adanya suatu kekuatan corak etnis yang diangkat menjadi corak secara masif dalam perkembangan dunia tekstil. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi dan observasi, interpretasi atau pemaknaan, sekaligus melakukan penafsiran  terhadap data yang terkumpul. Metode verstehen (pemaaman) dilakukan terhadap motif-motif ornamen sebagai simbol yang mengandung ide-ide masyarakatnya. Hasil penelitian menjadi alternatif pengembangan motif tekstil Sumatra Utara yang berbasis corak lokal. Dengan semakin kayanya corak tekstil yang diangkat dari etnis lokal Sumatra Utara akan menjadikan dunia fesyen semakin digemari dan diminati, dan akhirnya berkontribusi terhadap perkembangan industri tekstil dan fashion.Kata kunci:  Motif ornamen, nilai Filosofis, industri tekstil
WUJUD VISUAL GAMBAR - ILUSTRASI PADA NASKAH NASKAH TUA NUSANTARA SEBAGAI REFLEKSI INTELEKTUALITAS LELUHUR BANGSA INDONESIA Nuning Y. Damayanti Adisasmito
PANGGUNG Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.012 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v22i3.79

Abstract

Manuscript is a cultural product belongs to every civilized community that understands letters and words. Visual communication, before script and writing were established, such as ancient drawings, has been used by people since thousands years ago.  The discovery of picture in prehistoric caves is considered as the beginning of drawing tradition towards the modern illustration. The discovery of scripts and writing shifted the tradition of drawing, although the simplest and the most effective communication is still the visual language.   It explains why an illustrative drawing in the old manuscript was used as a communication device which reflects the cultural development and the way of thinking from the society who created it. The tradition of writing and drawing in illustration was found in the Javanese and Balinese old manuscripts. The visual illustration, theme, and media of manuscripts shown similar in diversity, depend on their role in social life. Some parts of those old manuscripts show unique illustrations as well as the local identity of the society. The illustration on manuscript reflects the society culture of thinking and aesthetic achievement of visual art.     Key Words: Illustration, old Indonesian manuscript, visual language. 
Desain Produk Kerajinan dan Ornamen Bangunan Bergaya Etnik Dayak dari Hasil Pengolahan Injeksi Limbah Plastik Suwarto -; Rusda -
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1852.135 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.164

Abstract

ABSTRACT The increase  of plastic  use in Indonesia in general  and in Kalimantan in particular will also increase the amount  of plastic  waste  that will be produced.  By using  plastic  waste heater device which driven by 3 tones  hydraulic,    be able to produce fine  quality  of   handcraft  and building ornament  product, this can be seen  in the test  result  of device so that the recycling process can take place. By heating at the temperature  of 270º - 280ºC on bengkirai  wood mold combined with iron plate, plastic bag ( HDPE), household wastes  can be molded into  Dayak’s motif which then can be used for ornament  building. Processed injection  plastic modul which then can be arranged  into ornament  building.  To be used as the building ornament the modules of plastic injection  are glued on the wooden frame which itended to facilitate  when combined as ornament of building. Key Words:  Plastic, Heater, Mold, Modules, Dayak.  ABSTRAK Dengan meningkatnya penggunaan plastik di Indonesia umumnya dan Kalimantan pada khususnya maka akan meningkatkan juga jumlah limbah plastik yang akan dihasilkan. Dengan menggunakan alat pemanas limbah plastik yang digerakkan dengan hydraulic berkapasitas 3 (tiga) ton mampu menghasilkan produk kerajinan dan orna- ment bangunan yang berkualitas baik, ini terlihat pada hasil uji alat sehingga proses re- cycle dapat berlangsung. Dengan pemanasan pada mesin pencetak menggunakan suhu2700-2800  pada cetakan kayu bengkirai kombinasi plat besi, plastik kresek (HDPE) limbah rumah tangga dapat dicetak menjadi modul bermotif Dayak yang selanjutnya dapat digunakan untuk ornamen bangunan. Dihasilkan modul plastik injeksi yang kemudian dapat dirangkai menjadi ornamen bangunan. Untuk dapat digunakan sebagai ornamen bangunan modul-modul hasil injeksi plastik tadi di rekatkan pada bingkai kayu dimaksudkan agar memudahkan pada saat di gabungkan sebagai ornamen bangunan. Kata kunci : Plastik, Pemanas, Cetakan, modul, Dayak
Sendratari Rara Jonggrang Dalam Perspektif Koreografis dan Pariwisata Hersapandi Hersapandi
PANGGUNG Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.663 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i2.259

Abstract

ABSTRACT "The Rara Jonggrang Ballet" was a dance drama without dialogue that took the story of the legend of Prambanan temple. This choreography tourist art was created as an alternative travel destination renewable tourist performing arts in Yogyakarta. The logic of economic law of supply and demand of the total number of tourists visiting Prambanan temple for 2.992 person/day was a business opportunity creatively to improve the economic viability and competitiveness forces of the nation's comparative advantage and competitive choreography art of travel was believed to be the new icon of the tourist attraction in attractions Prambanan temple. The creative process of creation ballet Rara Jonggrang (cultural creativity) and the creative process in the economy (economic creativity) was a strategic part in building a creative economy based on the values of local wisdom, thus contributing to the strengthening of the economy of traditional arts and community supporters.Keywords: ballet, choreography, art, travel, management, creative economyABSTRAK“Sendratari Rara Jonggrang” adalah drama tari tanpa dialog yang mengambil cerita dari legenda candi Prambanan. Koreografi seni wisata ini dicipta sebagai alternatif destinasi seni pertunjukan wisata terbarukan di Yogyakarta. Logika hukum ekonomi antara permintaan dan penawaran dari jumlah angka kunjungan wisatawan ke candi Prambanan sebesar 2.992 orang/hari merupakan peluang bisnis kreatif untuk meningkatkan kemampuan ekonomi dan kekuatan daya saing bangsa. Keunggulan komparatif dan kompetitif koreografi seni wisata ini diyakini dapat menjadi ikon baru daya tarik wisatawan di objek wisata candi Prambanan. Proses kreatif penciptaan sendratari Rara Jonggrang (kreativitas budaya) dan proses kreatif dalam perekonomian (kreativitas ekonomi) merupakan bagian strategis dalam membangun ekonomi kreatif yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal, sehingga memberi kontribusi bagi penguatan seni tradisi dan ekonomi masyarakat pendukungnya.Kata kunci: sendratari, koreografi, seni wisata, manajemen, ekonomi kreatif 
Visualisasi Iklan Media Cetak KPK sejak Masa Berdiri hingga ‘Serangan Koruptor’ Hendy Yuliansyah
PANGGUNG Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.12 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v22i1.32

Abstract

Corruption is every nation’s problem in all over the world, including Indonesia. Classified as an extraordinary crime, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) were established to eradicate it. In order to implement its tasks, it campaignes in several kind of media including printed advertisement. At first of its establishment, KPK was ambitiously active to prevent and crack corruption to whole com- munity level including the state officials. However, when KPK was criminalized, and lizard against alligator, public opinions stated that it was a counter attack from the corruptors. This condition has affected its printed advertisement, which was designed and produced by itself. The research shows that its visualization has been changed, from its first editions up to the corruptor’s attack phase. The changes included message, color, illustration and typhography. Keywords: visualization, advertisement, mass media, KPK.  
Jejak Karawitan dalam Kakawin Sumanasantaka Hendra Santosa; Dyah Kustiyanti; I Komang Sudirga
PANGGUNG Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.559 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i1.272

Abstract

ABSTRACT Kakawin Sumanasantaka (Death Because Sumanasa Flowers) is one of sources in searching musical terms from about 22 manuscripts in early Old Javanese literature. This article is part of the research entitled "Tracing The Karawitan Trail in an Ancient Java Script: Studies of Its Forms, Functions and Meanings". The study is intended to clarify the forms and functions of musical instruments during the East Java period around the 10th century. This study uses a historical method, following the stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. At the heuristical stage, kakawin Sumanasantaka written by Worsley, P., S. Supomo, M. Fletchert dan T.H. Hunter was found. In 2014, it was also found a work entitled Kakawin Sumanasantaka, Mati Karena Bunga Sumanasa Karya Mpu Monaguna: Kajian Sebuah Puisi Epik Jawa Kuno. A critical analysis of the texts is applied internally through a direct translation and then followed by the historiography process. Forms and functions of musical instruments in Kakawin Sumanasantaka cannot be separated from the functions of musical instruments in the Old Java period, as a means of Javanese ceremonies and accompaniments of secular activities.Keywords: form, function, karawitan, kakawin, Sumanasantaka ABSTRAK Kakawin Sumanasantaka (Mati Karena Bunga Sumanasa) merupakan salah satu sumber penelusuran jejak istilah karawitan dari sekitar 22 naskah kesusastraan berbahasa Jawa Kuno awal. Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang berjudul “Melacak Jejak Karawitan dalam Naskah Jawa Kuno: Kajian Bentuk, fungsi, dan Makna”. Pembahasan ini dimaksudkan untuk memperjelas bentuk dan fungsi instrumen musik pada masa periode Jawa Timur sekitar abad ke-10. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik ditemukan sebuah kakawin Sumanasantaka yaitu karya Worsley, P., S. Supomo, M. Fletchert dan T.H. Hunter. Tahun 2014, ditemukan juga tulisan berjudul Kakawin Sumanasantaka, Mati Karena Bunga Sumanasa Karya Mpu Monaguna: Kajian Sebuah Puisi Epik Jawa Kuno. Kritik dilakukan secara internal melalui terjemahan secara langsung sebagai fakta yang berbicara, dan yang terakhir adalah tahap historiografi. Bentuk dan fungsi instrumen karawitan dalam Kakawin Sumanasantaka  tidak terlepas dari fungsi instrumen musik pada masa Jawa Kuna yaitu sebagai sarana upacara dan sebagai pengiring kegiatan sekuler.Kata kunci: bentuk, fungsi, karawitan, kakawin, Sumanasantaka
Transformasi Tradisi Dalam Teater Piktografik Putu Wijaya Benny Yohanes
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.383 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.70

Abstract

ABSTRACTThis article considers the fundamental premise of realism methodology that theory has a ground in social basic structures. Factual reality, including the artistic form creation, can be seen as referential background for theory formation. Theory draws its coherence from its referent. By using the epistemic mode of realism methodology, which combines religion and myth theory, this article illustrates Putu Wijaya’s theatrical creations through a causal and deep interpretation. The aim of analysis is to know and to reveal what is underneath that exist behind Putu Wijaya’s theatre performance. The result of the research shows that Putu Wijaya’s aesthetic choice that manifested as mental terror theatre is understood as the process of replication. This replication process aims at inventing pictographic representation as a way to transform tradition.Key words : deep interpretation, transformation, pictographic theatre ABSTRAKArtikel ini membahas premis dasar metodologi realisme bahwa teori memiliki dasar dalam struktur dasar sosial. Realitas faktual, termasuk penciptaan bentuk artistik, dapat dilihat sebagai latar belakang referensial untuk pembentukan teori. Teori menarik koherensinya dari rujukan. Dengan menggunakan modus epistemis metodologi realisme, yang menggabungkan agama dengan teori mitos, artikel ini menggambarkan kreasi teater Putu Wijaya melalui interpretasi kausal dan mendalam. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui dan mengungkapkan apa yang ada di balik pertunjukan teater Putu Wijaya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pilihan estetika Putu Wijaya yang dinyatakan sebagai teater teror mental dipahami sebagai proses replikasi. Proses replikasi bertujuan untuk menciptakan representasi piktografik sebagai sebuah cara untuk mengubah tradisi.Kata kunci: interpretasi mendalam, transformasi, teater piktografik
Makna Simbolik Tari Ilau Nagari Sumani, Kabupaten Solok Sumatera Barat Yesriva Nursyam; Supriando Supriando
PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.969 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i4.715

Abstract

AbstractIlau dance is one type of dance in Minangkabau which is performed in traditional customs in Nagari Sumani. The tradition of the Nagari Sumani community in the wedding ceremony has its own uniqueness that is interesting to study. As a cultural product, ilau dance has meanings and symbols, which is manifested in a visual form that gives a certain meaningful content but is communicative for its people. This study aims to find the symbolic meanings of Ilau dance. This study uses a descriptive method with data collection through observation and interviews to get an overview of the subjects and research objects of the ilau dance. The results of the study show that the symbolic meaning of the Ilau dance can be interpreted from the people’s point of view and their understanding of cultural life, both textually and contextually.Keywords: Ilau dance, marriage custom, symbol, Nagari Sumani.AbstrakTari Ilau merupakan salah satu jenis tarian di Minangkabau yang dipertunjukkan dalam adat perkawinan di Nagari Sumani. Tradisi masyarakat Nagari Sumani dalam upacara perkawinan memiliki keunikan tersendiri yang menarik untuk dikaji. Sebagai sebuah produk budaya, tari ilau memiliki makna dan simbol, yang diwujudkan dalam bentuk visual yang memberi muatan makna tertentu, tetapi bersifat komunikatif bagi masyarakatnya.  Penelitian ini bertujuan untuk menjawab makna simbolik yang terdapat pada tari Ilau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan perolehan data melalui observasi dan wawancara untuk mendapatkan gambaran terhadap subyek dan obyek penelitian tari ilau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna simbolis tari Ilau dapat diinterpretasi dari sudut pandang dan pemahaman berkaitan dengan kehidupan masyarakat pemilik kebudayaan, baik secara tekstual maupun kontekstual. Kata kunci: Tari ilau, adat perkawinan, simbol, Nagari Sumani.

Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue