cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
The Cultural Reconstruction Of Taboo Under Mama Uluk’s Leadership In Kampong Dukuh, A Sundanese Traditional Hamlet In Garut Regency West Java Indonesia Ai Juju Rochaeni; Wanda Listiani; Irma Rachmaningsih
PANGGUNG Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.092 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v24i2.115

Abstract

ABSTRAK Kampung Dukuh yang terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut merupa- kan salah satu kampung adat yang ada di Jawa Barat yang memiliki banyak keunikan. Pamali sebagai salah satu sistem pengetahuan masyarakat adat Sunda. Pamali masih dipertahankan dalam kebu- dayaan masyarakat adat Kampung Dukuh. Walaupun tidak ada resiko yang tertulis ketika melaku- kan hal yang melanggar pamali, namun masyarakat kampung adat masih merasa takut durhaka atau dosa jika pamali tidak dilaksanakan dalam keseharian hidupnya. Sekaitan dengan hal ini, penelitian ini bertujuan menggambarkan berbagai larangan atau pamali yang telah direkonstruksi di masa kepemimpinan Mama Uluk di kampung Adat Dukuh Kabupaten Garut. Penelitian ini mengguna- kan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara dan pengamatan langsung. Hasil penelitian ini menjelaskan cara penyampaian larangan pada waktu yang telah ditentukan dan jenis larangan atau pamali atau pamali yang dipelihara dan terus diwariskankan secara turun temurun sampai saat ini dalam kehidupan sehari-hari seperti larangan di Makom Syech Jalil, Hutan Lindung dan bagaimana ketua adat (mama uluk) dalam kepemimpinannya merekonstruksi budaya tersebut dalam kehidupan keseharian mereka di kampung Dukuh kabupaten Garut. Kata kunci: rekonstruksi budaya, mama uluk, kampung Dukuh, masyarakat adat    ABSTRACT Kampong Dukuh located in Ciroyom Village, Cikelet District, Garut Regency is one of traditional hamlets in West Java Province having many unique features. Pamali (taboo pro- hibition) as Sundanese peoples’ body of knowledge is still maintained in the traditions of kampong Dukuh. Although there is no written sanction for someone who violates pamali, members of traditional hamlet community are still afraid of being faithless or sinful if they do not comply with the cultural prohibitions in their daily activities. Thus, this research is aimed at describing some cultural prohibitions or pamali which have been reconstructed under Mama Uluk’s leadership in kampung Dukuh in Garut Regency. This research used qualitative method with interview and observation as data collection techniques. The result shows ways of delivering prohibitions at certain time and categories of prohibition or pa- mali maintained nowadays and has been passed down from generation to generation, such as prohibition of Syech Jalil’s grave and Protected Forest. It also describes how the custom- ary or traditional leader (Mama Uluk) under his leadership reconstructs the traditions of Kampong Dukuh in Garut regency. Keywords: cultural reconstruction, Mama Uluk, kampong Dukuh, traditional hamlet community
Siger Sebagai Wujud Seni Budaya Pada Masyarakat Multietnik di Provinsi Lampung Deri Ciciria
PANGGUNG Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.56 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v25i2.8

Abstract

Artikel ini menitik beratkan pada pembahasan siger sebagai simbol  integrasi masyarakat suku Lampung. Provinsi Lampung terdiri dari dua golongan suku asli yaitu suku Lampung Pepadun dan Saibatin. Keadaan ini sangat rentan akan terjadinya konflik dan perpecahan karena rasa sukuisme yang muncul karena tinggal di wilayah adat berbeda. Makna yang terungkap dalam artikel ini adalah bahwa siger merupakan simbol pemersatu masyarakat Lampung. Bentuk, warna, dan berbagai hiasan aksesorisnya menyiratkan persatuan dan kesatuan suku, sub  suku, dan keturunan masyarakat Lampung Pepadun dan Saibatin. Dengan adanya siger, masyarakat Lampung Pepadun ataupun Saibatin terikat oleh suatu persamaan kebudayaan, silsilah keturunan, kehidupan sosial budaya bahkan rasa senasib sepenanggungan. Siger dijadikan sebagai sarana propaganda mewujudkan integrasi masyarakat suku Lampung. Oleh karena itu siger banyak dimunculkan pada berbagai ornamen bangunan rumah, pasar (baik modern maupun tradisional), gapura, dan simbol pemerintahan sebagai wujud kemajemukan masyarakat Lampung.Kata kunci: Siger, Integrasi Budaya
Konsep Lawang Sewu atau White Box sebagai Fenomena Baru Proses Kreatif Kebertubuhan1 FX Widaryanto; Sri Rustianti Rustianti
PANGGUNG Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.219 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v23i4.147

Abstract

ABSTRACT The concept of dance creation by Sardono W. Kusumo is inspired by air circulation of an old building in Semarang Central Java called ‘Lawang sewu’ which means a building with ‘a thousand of doors’. In fact, the flowing of air action in and out the building has no opportunity to create an establishment of ‘form’. So, the concept of ‘Lawang sewu’ is a ‘guideline’ to explore spatial possibility in term of corporeality. This is considered as a training of sensibility, as it happened at the swarm- ing phenomenon which expresses speed and accurate movements without any collision of each other. This kind of movement itself is also related to the global discourse, recently, in term of the perspective of arts that can be observed either as a reality fiction or a reality of mundane life. The result of this research will explore the possibility of the implementation of Lawang Sewu Concept to the embodi- ment of new creative tradition, especially on contextual approach, those are cross-cultural and cross discipline of arts in Indonesia. Keywords: Lawang Sewu, swarming, cross-cultural, and corporeality    ABSTRAK Konsep penciptaan tari oleh Sardono W. Kusumo terinspirasi dari gerakan sirkulasi udara dari sebuah bangunan tua di kota Semarang Jawa Tengah bernama ‘Lawang Sewu’ yang berarti sebuah bangunan dengan ‘seribu jendela/pintu’. Pada kenyataannya gerak aliran udara masuk dan keluar bangunan tidak memiliki kesempatan untuk menciptakan‘bentuk’ yang mapan. Demikianlah konsep ‘Lawang sewu’ adalah sebuah ‘panduan’ untuk penjelajahan kemungkinan ruang kaitannya dengan korporealitas. Hal ini dipikirkan seba- gai sebuah training kepekaan sebagaimana yang terjadi pada fenomena swarming dengan‘kecerdasan kerumunannya’ yang mengungkapkan kecepatan dan akurasi gerak tanpa ha- rus bertabrakan satu dengan yang lainnya. Akhir-akhir ini, jenis gerak semacam ini juga dikaitkan dengan wacana global, berkaitan dengan perspektif seni yang bisa diamati se- bagai realitas fiksi atau realitas hidup sehari-hari. Hasil penelitian ini untuk menjelajahi kemungkinan implementasi konsep ‘Lawang Sewu’ dalam perwujudan tradisi kreatif yang baru, khususnya pada pendekatan kontekstual, yaitu silang budaya dan silang disiplin seni di Indonesia. Kata kunci: Lawang Sewu, swarming, silang budaya, dan korporealitas
Demonisasi Islam dalam Film ‘Tanda Tanya (?)’ Ritonga, Rajab
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.128 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v23i3.138

Abstract

ABSTRACT â??Tanda Tanya (?)â?? movie has become an Indonesian cinematic work with some controversies complement with it. The controversies lie on how the movie constructed their messages related to the description of Islamic image. The Islamic image which is depicted in this movie contains several sym- bols which created a demonization on the construction of Islam and Moslem. The narrative theory that has been employed focuses on greimas actantial analysis models which emphasizes on how the narrative creates a story and how the story becomes a narrative discourse. The semiotic analysis used on this research is in term of constructivist perspective which aims at constructing the phenomena as a whole answer. The result of the research is that demonization of Islam has been constructed through the narrative sequences of â??Tanda Tanyaâ??. The movie depicted Islam in an image of traditional, un- civilized, terrorism, destructive, and aggressive community. This created a meaning of Islam as a negative and demonic community, religion, and value. Keywords: demonization, Islam, narrative  ABSTRAK Film â??Tanda Tanya (?)â?? merupakan sebuah karya cinema Indonesia yang mengundang banyak kontroversi. Kontroversi terletak pada bagaimana film ini mengkonstruksikan pesan-pesannya terkait penggambaran citra Islam. Citra Islam yang digambarkan dalam film ini mengandung simbol-simbol yang menciptakan sebuah demonisasi pada kon- struksi Islam dan muslim. Dalam penelitian ini teori naratif digunakan sebagai alat un- tuk memberikan gambaran tentang fenomena demonisasi. Teori naratif yang digunakan berfokus pada model analisis aktansial greimas yang menitikberatkan bagaimana naratif menciptakan sebuah cerita dan bagaimana cerita menjadi sebuah wacana naratif. Analisis semiotik yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan penggunaan dalam paradigma konstruktivis yang bertujuan mengkonstruksi fenomena sebagai sebuah jawaban. Temuan penelitian ini ialah demonisasi umat Islam dikonstruksikan melalui sekuen/babakan nara- tif dalam film â??Tanda Tanyaâ??. Film ini menggambarkan Islam dalam sebuah citra masyara- kat yang tradisional, tidak beradab, teroris, merusak, dan agresif. Ini menciptakan suatu pemaknaan Islam sebagai masyarakat, agama, dan nilai yang demonik dan negatif. Kata kunci: demonisasi, Islam, naratif
Silat Pengantin: Seni Pertunjukan Tradisi Melayu di Bentan Penao, Kepulauan Riau Widyanarto Widyanarto; Doni Febri Hendra; Siguti Aprinnostein
PANGGUNG Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.37 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i2.910

Abstract

ABSTRACTThe wedding martial in Riau Islands Province is a traditional Pencak Silat that is part of Malay cultures. The University of Kiambang Putih in Bentan Penao, Bintan regency, martial arts performance presented at traditional Malay wedding is also called Silat flag. The form of presentation is divided into two parts, namely silat flag and silat performance. Silat flag is displayed by two fighters, using the red flag and white color properties. The red and white flag are symbolized to unite two human beings into the family ark. The red flag is interpreted as red blood, which is from the bride. The symbol of the white flag is interpreted as white blood, which is from the groom. The Silat flag performance ends with the unification of both flags. It will be continued with silat performance. The Silat performance is displayed by one fighter who performed in turn. The bridal Silat show is accompanied by musical accompaniment consisting of instruments of two martial arts and gongs. The pattern of playing his musical instruments is played repeatedly, monotonically, and his apparent sanctity.Keywords: Bride Silat, Traditional Art Performances, Malay CustomsABSTRAKSilat pengantin di Provinsi kepulauan Riau merupakan seni pencak silat tradisional yang menjadi bagian budaya Melayu.Perguruan Kiambang Putih di Bentan Penao, kabupaten Bintan, pertunjukan seni silat yang disajikan di acara pernikahan adat melayu ini disebut juga dengan istilah silat bendera.Bentuk penyajiannya terbagi menjadi dua bagian, yaitu silat bendera dan silat persembahan.Silat bendera ditampilkan oleh dua orang pesilat, dengan menggunakan properti bendera warna merah dan warna putih.Simbol bendera berwarna merah dan putih memiliki makna untuk mempersatukan dua insan manusia ke dalam bahtera keluarga.Bendera merah dimaknai sebagai darah merah, dalam hal ini dari mempelai wanita.Simbol bendera putih dimaknai sebagai darah putih, dalam hal ini dari mempelai pria.Persembahan Silat bendera diakhiri dengan menyatunya kedua bendera.Dilanjutkan dengan silat persembahan.Silat persembahan ditampilkan oleh satu orang pesilat yang dilakukan secara bergantian.Pertunjukan silat pengantin diiringi oleh musik pengiring yang terdiri dari instrumen dua buah gendang silat dan gong.Pola memainkan instrumen musiknya dimainkan secara berulang-ulang, monoton, dan tampak kesakralannya.Kata Kunci: Silat Pengantin, Pertunjukan Seni tradisi, Adat Melayu ?
Nirmana Nada Bertautan: Alih Wahana Rupa menjadi Bunyi Siswadi -
PANGGUNG Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.646 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v23i2.96

Abstract

ABSTRACT This musical composition is a medium change of nirmana fine art into sound. Nirmana is a basic composition of fine art which organizing visual language in a form of level, color, line, dot, and tex- ture. Nirmana means something not meaningful or meaningless. This composition work, therefore, does not mean to convey a message or story, but simply to compose the musical elements including rhythm, melody, and harmony. As the expression media, the composition uses Javanese gamelan combined with saxophone, violin, and cello. The gamelan here just acts as a vehicle or medium of expression. The conventional patterns of gamelan music play covering form, scales, and pathet are not used in this composition. Key words: nirmana, medium change  ABSTRAK Komposisi musik ini merupakan alih wahana dari seni rupa nirmana menjadi bunyi. Nir- mana merupakan komposisi dasar seni rupa yang mengorganisasikan bahasa rupa berupa bidang, warna, garis, titik dan tekstur. Nirmana artinya tidak berarti atau tidak bermakna. Dengan demikian karya komposisi ini tidak bermaksud menyampaikan pesan atau cerita, tetapi semata-mata menyusun unsur musik yang meliputi ritme, melodi dan harmoni. Se- bagai media ungkap, komposisi ini menggunakan gamelan Jawa yang digabung saxophone, biola dan cello. Gamelan di sini hanya perperan sebagai wahana atau media ekspresi. Atur- an bermain gamelan secara konvensional yang meliputi bentuk, tangga nada, dan pathet tidak digunakan dalam komposisi ini. Kata kunci: nirmana, alih wahana  
Peran Budaya ‘Mikanyaah Munding’ Dalam Konservasi Seni Tradisi Sunda Gugun Gunardi
PANGGUNG Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.136 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v24i4.129

Abstract

ABSTRACT This writing was an excerpt taken from the research: Conservation of ‘Mikanyaah Munding’ Lo- cal Culture as Basis of Kerbau Village Breeding. On the research, there is a part about cultural role of‘Mikanyaah Munding’ in Sundanese Traditional Arts, which is a knowledge gained from abstraction of active-adaptation experience of unique social life. In Mikanyaah Munding culture, beside it pre-serve the culture of traditional buffalo husbandry, it also pre-serve the traditional ceremonies of calves birth, character educations, and the most interesting part is the preservation of other tradidional culture ele- ments which accompanies the Mikanyaah Munding culture itself.In order to keep so many traditional arts with educational values for its society, it needs an effort to invetory, document, revitalize, develop, and implement the local wisdom. Through the effort, conser- vation of Sundanese traditional arts in Desa Cikeusal Village of Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, can be achieved.The research method used was a qualitative method, with the research model used in this study was a ethnographic research model, namely to describe culture as it is. This model in this research attempts to study the cultural event, which presents a view of life the subject as an object of study. Keywords: culture, mikanyaah munding, conservation, art, tradition  ABSTRAK Tulisan ini ditukil dari salah satu bagian penelitian yang berjudul: Konservasi Budaya Lokal “Mikanyaah Munding” sebagai Landasan Village Breeding Center Kerbau. Di dalam penelitian tersebut juga ternyata terdapat: Peran Budaya “Mikanyaah Munding” Dalam Konservasi Seni Tradisi Sunda, yang merupakan pengetahuan yang diperoleh dari abstraksi pengalaman adap- tasi aktif terhadap kehidupan sosial yang khas. Di dalam budaya “Mikanyaah Munding” selain terdapat pemertahanan adat istiadat memelihara kerbau secara tradisi, upacara adat kelahiran anak kerbau, pendidikan karakter, yang lebih menarik adanya pemertahanan berbagai seni tradisi yang mengiringi tradisi budaya “Mikanyaah Munding”.Demi terjaganya berbagai seni tradisi yang bernilai pendidikan karakter bagi masyarakat pengembangnya, perlu adanya upaya untuk menginventarisasi, mendokumentasi, merevital- isasi, membina, dan selanjutnya melaksanakan pengetahuan kearifan lokal tersebut. Melalui, hal tersebut juga dapat diwujudkan bentuk konservasi seni tradisi Sunda di Desa Cikeusal Ke- camatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model etnografi, yakni penelitian untuk mendeskripsi- kan kebudayaan sebagaimana adanya. Model sebagai hasil penelitian ini berupaya mempela- jari peristiwa kultural, yang menyajikan pandangan hidup subjek sebagai objek studi. Kata kunci: Budaya, Mikanyaah Munding, Konservasi, Seni, Tradisi
Arena Seni Pita Maha: Ruang Sosial dan Estetika Seni Lukis Bali 1930‘an I Wayan ‘Kun’ Adnyana
PANGGUNG Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.885 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v25i3.22

Abstract

Sejak akhir 1920-an di Ubud dan sekitarnya berlangsung praktik seni lukis dalam ruang interaksi dan dialog yang sangat intensif antara pelukis remaja, pelukis senior, patronase puri Ubud dan pelukis Barat. Praktik seni ini kemudian berkembang pesat menjadi arena seni bernama Pita Maha. Pita Maha diumumkan berdiri resmi 29 Januari 1936, mengakomodasi berbagai komponen art world di Bali, di antaranya galeri, kritikus dan kurator. Adapun tujuan dari kajian ini adalah untuk mengidentifikasi arena seni dan estetika Pita. Kajian dilakukan dengan pendekatan sosiologi Bourdieu tentang field (arena), dan hermeneutika mendalam (depth-hermeneutics) Thompson. Kajian ini menemukan berbagai capaian arena seni Pita Maha. Estetika Pita Maha adalah  ‘Spiritualisme’ yang kemudian dilanggengkan sebagai ideologi estetika. Estetika yang secara tegas mengeksplorasi tema dan pandangan subjektif tentang hubungan Tuhan dan manusia dalam artistik dan stilistik seni lukis Bali yang baru.Kata kunci: Arena Seni , Estetika Pita Maha.
Tokoh Bisma dalam Dramatari Amba Bisma Eti Mulyati; Iyus Rusliana
PANGGUNG Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.322 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1145

Abstract

ABSTRACTDramatari Amba Bisma is one of the works of Iyus Ruslianan and Eti Mulyati from the results of researchon the art that was performed at the Sunan Ambu Building, on October 28, 2019. The Dramatari wassourced from the Mahabharata and Bharatayuda plays, from the Mahabharata play that sparked the meetingof Amba and Bisma while still on October 28, 2019. girls and young men who differed in their desiresand purpose in life, while from Bharatayuda’s story told about the death of Bhishma in the Bharatayudawar. This article aims to reveal the figure of Bhishma in Amba Bhishma’s drama, Bhishma is one of thecharacters in puppets who are magic and do not want to be crowned as kings for the Hastinapur family,he chose the way of life as a receipt rather than as a king. Because of his life choices, he was determined notto get married. Not only does Bhishma have a very problematic way of life, but many positive qualitiesdeserve to be emulated. The method used is qualitative with a descriptive analysis approach, namelythrough literature study, interviews, and participatory observation. The results obtained from the analysisof Amba Bisma’s dramatari work can be seen by two positive characters in Bisma, namely; 1) sacrifices.2) More loyal to the knight’s oath than to the family that is most dear. During the Baratayuda Bisma waras warlord on the Kurawa side, he was killed by Srikandi’s arrow.Keywords: Bhishma, Dramatari,Mahabharata,BharatayudaABSTRAKDramatari Amba Bisma merupakan salah satu karya Iyus Ruslianan dan Eti Mulyati dari hasilpenelitian karya seni yang di pertunjukan di Gedung Sunan Ambu, pada tanggal 28 Oktober2019. Dramatari tersebut bersumber dari lakon Mahabharata dan Bharatayuda, dari lakonMahabharata menceritkan pertemuan Amba dan Bisma saat masih gadis dan jejaka yangberbeda keingin dan tujuan hidupnya, sedangkan dari lakon Bharatayuda menceritakan tetanggugurnya Bisma dalam perang Bharatayuda. Artikel ini bertujuan ingin mengungkapkantokoh Bisma dalam dramatari Amba Bisma, yakni Bisma merupakan salah satu tokoh dalampewayangan yang merupakan tokoh sakti dan tidak bersedia dinobatkan sebagai raja demikesatuan keluarga Hastinapura, Bisma memilih jalan hidup sebagai resi ketimbang sebagai raja.Hal ini diperkuat dengan keyakinannya, untuk tidak menikah. Bisma tidak hanya memiliki jalanhidup yang sangat problematik, akan tetapi banyak sifat positif yang pantas untuk diteladani.Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, yaitu melaluistudi pustaka, wawancara, dan observasi partisipasi. Hasil yang diperoleh dari analisis garapandramatari Amba Bisma dapat diketahui dua karakter positif yang ada pada diri Bisma yaitu; 1)suka berkorban. 2) Lebih setia pada sumpah kesatria ketimbang dengan keluarga yang palingdisayangi. Pada perang Baratayuda Bisma sebagai panglima perang di pihak Kurawa menemuiajalnya tertusuk panahnya Srikandi.Kata Kunci: Tokoh Bisma, dramatari, Mahabharata, Bharatayuda
Komik sebagai Media Pembelajaran Konsep English Tenses dan Aspect Irma Rachminingsih; Wildan Hanif
PANGGUNG Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2172.351 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1135

Abstract

ABSTRACTOne of the main difficulties faced by EFL learners in Indonesia is related to grammar, especially theconcept of tense and aspect. Today, as we live in a digital era where people are surrounded by visualstimulation, the concept of tense and aspect in English might be comprehended better by students if it isdelivered through visuals. Regarding this, the research is aimed at teaching the concept of English tensesand aspects through a comic book. It was conducted at ISBI Bandung by using qualitative method. Priorto designing comic, problem and need analysis were done to identify the problem and its solution. Thecomic story is divided into three parts, namely (1) the explanation of English tense and aspect theory; (2)the application of English tense and aspect in college students’ daily life; (3) the application of Englishtense and aspect in a story of an Indonesian heroine: R.A. KartiniKeywords: English tense, aspect, comicsABSTRAKSalah satu kesulitan terbesar yang dihadapi pembelajar bahasa Inggris di Indonesia berkaitandengan tata bahasa, khususnya konsep tense dan aspect. Kesulitan yang dihadapi pelajar bahasaInggris di Indonesia terkait tense dan aspect salah satunya disebabkan perbedaan sistem tenseantara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Saat ini, mengingat kita hidup di era digital dimanamanusia dikelilingi oleh stimulasi visual, konsep tense dan aspect sepertinya akan lebih mudahdipahami oleh siswa apabila konsep ini diajarkan melalui visual. Oleh karena itu, penelitian inibertujuan untuk mengajarkan konsep tense dan aspect di dalam bahasa Inggris melalui sebuahkomik. Studi ini dilakukan di ISBI Bandung dengan menggunakan metode kualitatif. Sebelummerancang komik, analisis masalah dan kebutuhan dilakukan untuk mengidentifikasi masalahdan solusinya. Cerita komik dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu (1) penjelasan teori tense danaspect di dalam bahasa Inggris; (2) penerapan tense dan aspect di dalam kehidupan sehari-harimahasiswa; (3) penerapan tense dan aspect di dalam kisah seorang pahlawan wanita Indonesia:R.A. Kartini.Kata Kunci: : English tense, aspek, komik

Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue