cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
Problematika Film Alih Media: Dari Transformasi Hingga Kontroversi Acep Iwan Saidi; Dyah Gayatri Puspitasari
PANGGUNG Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.108 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.1203

Abstract

ABSTRACTThis article contains a study of film adaptation from a literature media (novel) into audio-visual media(film). This research is a case study of Perempuan Berkalung Sorban film by Hanung Bramantyo, whichwas adapted from a novel with the same title that was written by Abidah el-Khalieqy. By combining a textanalysis method from Thomas Leittch, Mathew T. Jones’ film adaptation theory and the result of interviewto confirm the text analysis, this research produced some interesting findings. The research verified thatthe adaptation’s process does not merely focus on technical issue in media adaptation (from novel tofilm), but also focuses on another aspects that will involve the audience i.e. a fact that text and dialoguebecome references that will be appreciated by audience. As a result, there were excessive distortions anddeviations on the text that were created by the film maker caused a bias interpretation. Audiences nolonger interpreted the film as a visual text objectively. Instead, they would think about certain prejudiceagainst the film maker. In film adaptation, certain tendencies of film maker are easy to be predicted byaudience. This fact has caused film adaptation becomes controversial easily.Keywords: Media Adaptation, Transformation, Opposition, ControversyABSTRAKArtikel ini berisi kajian tentang alih media, yakni dari media verbal sastra (novel) kemedia visualfilm. Kajian ini berupa studi kasus terhadap film Perempuan Berkalung Sorban karya HanungBramantyo, yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama karya Abidah el-Khalieqy.Dengan menggunakan metode gabungan, yakni analisis teks yang berdasar pada teori adaptasifilm dari Thomas Leittch, Mathew T. Jones, dan wawancara tertulis untuk mengkonfirmasianalisis teks tadi, kajian ini menemukan hal menarik, yakni alih media bukan sekedar persoalanteknis pemindahan media, melainkan juga pemindahan yang menimbulkan efek-efek tertentubagi penonton. Apresiasi penonton dilandasi kesadaran bahwa terdapat teks lain yang menjadirujukan film bersangkutan. Akibatnya, distorsi dan deviasi yang terlalu jauh yang dilakukansutradara atas teks sumber berpotensi mengakibatkan bias pemahaman. Penonton tidak lagimemaknai film sebagai teks visual secara objektif, tetapi juga dibarengi praduga-pradugatertentu terhadap sutradara. Pada genre film alih media, tendensi tertentu dari sutradara mudahdibaca penonton. Fakta ini mengakibatkan film sangat rentan menimbulkan kontroversi.Kata Kunci: alih media, transformasi, oposisi, kontroversi
Estetika Tari Réndéng Bojong Karya Gugum Gumbira Lalan Ramlan; Jaja Jaja
PANGGUNG Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.523 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1048

Abstract

ABSTRAKTari Réndéng Bojongyang diciptakan oleh Gugum Gumbira pada tahun 1978 dan sepanjang tahun 1980-an, sangat populer di kalangan masyarakat Sunda.Akan tetapi, sejak pertengahan tahun 1990-an bentuk tarian ini tidak pernah terlihat lagi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara komprehensif mengenai berbagai unsur yang membentuknya.Penelitian kualitatif ini mengggunakan teori estetika instrumental dengan metode deskriptif analisis yang tahapan penggalian datanya dilakukan melalui studi pustaka, observasi, dan studi dokumentasi.Berdasarkan hasil analisis diperoleh simpulan, bahwa tari jaiponganRéndéng Bojong itu wujudnya dibentuk oleh tiga unsur utama, yaitu “bentuk” terdiri dari struktur koreografi, struktur karawitan, dan penataan rias-busana; “bobot” terdiri dari eksistensi senimannya, konsep garap, dan proses garap; “penyajian” yaitu tarian berpasangan yang bernuansa pergaulan.Ketiga unsur tersebut terintegrasi menjadi sebuah kristalisasi estetika tari yang menjadi identitas tari Réndéng Bojong.Kata kunci: Estetika tari, jaipongan, Gugum Gumbira, tari Réndéng Bojong, estetika instrumental. ABSTRACTThe Réndéng Bojong dance, which was created by Gugum Gumbira in 1978 and throughout the 1980s, is prevalent among Sundanese people. However, since the mid-1990s, this dance form has never been seen again. The purpose of this study is to understand various elements forming it. This qualitative research uses the theory of instrumental aesthetics with descriptive analysis methods in which data collection uses several stages: library study, observation, and documentation study. The results of the analysis are the Jaipongan Réndéng Bojong dance was formed by three main elements, namely, first, "form" consisting of a choreographic structure, musical structure, and makeup arrangement. Second, "weight" includes the existence of the artist, the concept of working on, and the working process. Third, "presentation" is a paired dance with a social nuance. The three elements integrated into a dance aesthetic crystallization, which is the identity of Réndéng Bojong dance.Keywords: dance aesthetics, jaipongan, Gugum Gumbira, Réndéng Bojong dance, instrumental aesthetics.
Kreativitas Rd. Tjetje Somantri dalam Tari Puja Ai Mulyani; Riyana Rosilawati
PANGGUNG Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.358 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1144

Abstract

ABSTRACTThe Puja dance is the product of Raden Tjetje Somantri’s creativity, in which there is a touch of SundanesePriyayi culture and Javanese dance. The dance is included in the classic Sundanese dance. This paperintends to examine how creativity Rd. Tjetje Somantri in the Puja dance. The method used is qualitativewith a descriptive analysis approach, namely through observation, in-depth interviews, and parentalobservation. From the analysis it is known that there is a touch of Javanese culture that has been going onfor a long time, and the influence of Javanese culture which is identified with the behavior of ‘alus’ moreinfluences Sundanese style dance Rd. Tjetje Somantri. This alus culture originates from the concept ofprijaji which is symbolized by a gentle behavior called ‘alus’. Some Sundanese dances influenced by ‘alus’culture include the Puja style Rd.Tjetje Somantri style. The result of creativity there is also a pattern ofrelationships that occur from the touch, namely 1) Cooperation that is marked by contact between ethnicJavanese and Sundanese, and competition in terms of creating dance works of art. The results obtainedshow the Puja Gaya Rd.Tjetje dance from the intact choreography aspects of Javanese dance, Sundanesedance techniques and styles.Keywords: Creativity, Puja dance, Rd.Tjetje SomantriABSTRAKTari Puja merupakan hasil kreativitas Rd. Tjetje Somantri, yang di dalamnya terdapat sentuhanbudaya Priyayi Sunda dan Tari Jawa. Tarian tersebut termasuk dalam Tari Sunda Klasik.Tulisan ini bermaksud untuk mengkaji bagaimana kreativitas Rd. Tjetje Somantri dalam tariPuja. Metode yang digunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yaitu melaluipengamatan, wawancara mendalam, dan observasi parsitipan. Dari hasil analisa diketahuiadanya sentuhan budaya Jawa sudah berlangsung lama, dan pengaruh budaya Jawa yangdiidentikkan dengan perilaku alus lebih banyak mempengaruhi tarian sunda gaya Rd. TjetjeSomantri. Budaya alus ini berasal dari konsep priyayi yang disimbolkan dengan perilaku yanglemah lembut yang disebut alus. Beberapa tarian Sunda yang dipengaruhi budaya alus diantaranya Tari Puja gaya Rd.Tjetje Somantri. Hasil dari kreativitas terdapat juga pola hubunganyang terjadi dari sentuhan tersebut, yakni 1) Kerjasama yang ditandai adanya kontak antaraetnis Jawa dan etnis Sunda, dan kompetisi yaitu dalam hal menciptakan karya-karya seni tari.Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan Tari Puja Gaya Rd.Tjetje dari aspek koreografiutuh Tari Jawa, teknik dan gaya Tari Sunda.Kata Kunci: Kreativitas, Tari Puja, Rd.Tjetje Somantri
Kajian Rupabheda: Tokoh-Tokoh Sri Tanjung pada Relief Candi Penataran Wegig Murwonugroho; Miftakhudin Miftakhudin
PANGGUNG Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.003 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.953

Abstract

Relief Sri Tanjung terpampang pada dinding luar pendapa teras ke-dua Candi Panataran, Blitar, Jawa Timur. Masyarakat meyakini, narasi relief tersebut mengangkat cerita legenda Banyuwangi zaman Jawa Pertengahan. Di dalam relief terlihat adanya figur-figur dalam lakon cerita Sri Tanjung berikut penanda pepohonan, hewan, atau bentuk alam lain dalam gaya dekoratif. Beberapa penelitian telah berusaha menafsir relief dari sisi yang lain. Tetapi Rupabheda hadir sebagai teori estetika yang menjadi dasar penafsiran yang baru. Analisis Rupabheda berhasil menelaah pergeseran makna dari beragam tanda yang terdapat pada arca Hindu. Penelitian ini menemukan adanya kebaruan makna dalam identifikasi tokoh-tokoh di dalam relief. Visualisasi relief cerita Sri Tanjung telah menyamarkan ikon budaya Jawa Pertengahan dalam relief arca Hindu. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa relief Sri Tanjung telah memasukkan narasi cerita lokal yang berbeda dengan epik Mahabarata – Ramayana dalam situs bangunan Hindu.Kata kunci: Rupabheda, Relief, Sri Tanjung, Semiotik
Nilai-Nilai Pendidikan Tata Busana dan Rias Srimpi Pandhelori dalam Perspektif Hermeneutik Wenti Nuryani; Suminto A Sayuti; Dwi Siswoyo
PANGGUNG Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.682 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.1206

Abstract

ABSTRACTThis research was a descriptive qualitative research using a hermeneutic approach and was aimed atrevealing the meaning of traditional symbols contained in Yogyakarta-style Srimpi Pandhelori dancecostumes and makeup. The symbols in Srimpi Pandhelori costumes and makeup are the media thattransform noble characters. It is closely related to the character building based on local genious. Therefore,this research is aimed at describing the symbols found in Srimpi Pandhelori dance as an absorptionelement of the noble character values. Every instrument in costumes and makeup represents local wisdomwhich is designed to be a medium of noble character education. The main data collection technique ofthe research was direct observation of Srimpi dance performances strengthened by records. The datawere validated by using credibility techniques by doing 1). observation perseverance, 2). triangulationof methods and sources, 3). peer discussion, and 4). adequacy of references. The data analysis used inthis research was a dialectical hermeneutics approach i.e. the approach where interpretation proceduresto obtain meaning uses elements of analysis from Madisson called a normative method consisting ofcoherence, comprehensiveness, contextuality, penetration, and appropriateness. The results show thateach instrument in costumes and make up of Srimpi Pandhelori dance pattern contains symbols. Thesesymbols contain educational values, namely: the value of self-control education, the value of educationabout accuracy, the value of Godhead education.Keywords: values, Srimpi Pandhelori, hermeneuticABSTRAKPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatanhermeneutik, bertujuan untuk mencari makna dari simbol-simbol tradisi dalam rias dan busanatari srimpi Pandhelori gaya Yogyakarta. Simbol-simbol dalam rias dan busana tari srimpi Pandhelorimerupakan media mentransformasikan budi pekerti luhur. Hal tersebut berkaitan erat denganpembagunan karakter yang didasarkan pada local genious. Oleh sebab itu dalam penelitian inimencoba menguraikan simbol-simbol dalam tari Srimpi Pandhelori sebagai unsur serapan nilainilaibudi pekerti luhur. Setiap insrumen dalam rias busana merupakan representasi kearifanlokal yang dimaksudkna menjadi media pendidikan budi pekerti luhur. Teknik pengumpulandata yang utama adalah pengamatan secara langsung pertunjukan tari Srimpi yang diperkuatdengan rekaman. Untuk keabsahan datanya menggunakan teknik kredibilitas yang dilakukandengan cara: 1). ketekunan pengamatan, 2). trianggulasi metode dan sumber, 3). diskusi sejawat,4). kecukupan referensi. Sementara analisis datanya menggunakan pendekatan hermeneutikadialektis, dimana prosedur penafsiran dalam rangka memperoleh makna menggunakan unsurunsuranalisis dari Madisson yang disebutnya sebagai metode normatif, terdiri dari coherence,comprehensiveness, contextuality, penetration, appropriateness. Hasil penelitian menunjukan setiapinstrumen dalam rias dan busana dalam tari Srimpi Pandhelori merupakan simbol. Dalamsimbol tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan yaitu: nilai pendidikan pengendalian diri,nilai pendidikan tentang kecermatan, nilai pendidikan Ketuhanan.Kata Kunci: Nilai-Nilai Pendidikan, Srimpi Pandhelori, hermeneutik
Ngabandungan Banda Indung Interpretasi Kepercayaan Masyarakat Sunda Rancakalong melalui Seni Visual Rini Maulina; Setiawan Sabana; Nuning Yanti Damayanti; Teddi Muhtadin
PANGGUNG Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.355 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.1204

Abstract

ABSTRACTIndung (mother) in Sundanese culture is not only meaningful as a mother who gives birth, but has a broadmeaning and contains motherhood. Sundanese people have a tradition of appreciating the indung, seenfrom the mention of the indung in Paribasa, Babasan, Carita Pantun, and mythology. The maternal natureof Sunan Ambu, Dayang Sumbi and Nyi Sri Pohaci, was placed in the highest position as a glorificationof the indung. The results of the study showed that the philosophy contained in the traditional ceremonyof Ngalaksa in Rancakalong, Sumedang, contains the meaning of broad indung, interpreted into the formof visual artwork “Ngabandungan Banda Indung”, based on the problem of interpretation the meaningof the mother in visual artwork has been limited to mothers who give birth. Using the Art Based Researchmethod, the creation of research-based artwork. Aimed at interpretation of the wider meaning of the landin the form of the depiction of the banda indung (mother’s wealth) such as rice plants, honje, Kawung,Kalapa, jagong, with the depiction of batik, using glass painting techniques.Keywords: Art Based Research, Banda Indung, Nyi Sri Pohaci, Rancakalong, Visual ArtABSTRAKIndung (ibu) dalam budaya Sunda tidak hanya bermakna sebagai ibu yang melahirkan, tapimemiliki makna yang luas dan mengandung sifat keibuan. Masyarakat Sunda memiliki tradisilebih menghargai indung, terlihat dari penyebutan indung pada paribasa, babasan, carita pantun,dan mitologi. Sifat keibuan terdapat pada Sunan Ambu, Dayang Sumbi, dan Nyi Sri Pohaci,ditempatkan pada posisi tertinggi sebagai pemuliaan indung. Hasil penelitian menunjukkanfalsafah yang terkandung dalam upacara adat Ngalaksa di Rancakalong, Sumedang,mengandung makna indung yang luas, diinterpretasikan ke dalam bentuk karya seni visualNgabandungan Banda Indung, berdasarkan permasalahan interpretasi terhadap makna ibu dalamkarya seni visual selama ini terbatas pada ibu yang melahirkan. Menggunakan metode ArtBased Research, penciptaan karya seni berbasis penelitian. Bertujuan sebagai interpretasi maknaindung yang lebih luas berupa penggambaran banda indung (kekayaan Ibu) seperti tanamanpadi, honje, kawung, kalapa, jagong, dengan penggambaran batik, menggunakan teknik lukiskaca.Kata Kunci: Art Based Research, Banda Indung, Nyi Sri Pohaci, Rancakalong, Seni Visual.
Gastronomi dalam Cerita Rakyat Ainu Jepang Ida Ayu Laksmita Sari; I Nyoman Darma Putra; Ni Luh Kade Yuliani Giri
PANGGUNG Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.553 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.1205

Abstract

ABSTRACTThis article analyzes the gastronomic aspects of the Ainu folklore in Japan. Gastronomic aspects examinedinclude how Ainu folklore narrates how they collect and cook food materials, how they consume, andwhat cultural values are attached to both the process of food production and consumption. The studyapplied library research and the object of analysis were selectively chosen from Ainu Mukashi Banashi’sbook: Hitotsubu no Satchiporo (2012), an anthology of Ainu folklore edited by Kayano Shigeru. Thestories chosen analyzed by the literary anthropology theory. The results show that the Ainu folklorecontains narratives about how people collect food, cook, and consume them. The study of the gastronomicnarratives of Ainu folklore presents a novelty that folklore not only contains a moral message for characterformation but is also a medium for preserving and continuing food and culinary culture across time andgenerations.Keywords: Ainu folktale, literary gastronomy, traditional food of Ainu JapanABSTRAKArtikel ini menganalisis aspek gastronomi dari cerita rakyat Ainu Jepang. Aspek gastronomiyang dikaji meliputi bagaimana cerita rakyat Ainu menceritakan cara mereka mengumpulkandan memasak bahan makanan, bagaimana mereka mengonsumsi, dan nilai-nilai budaya apayang melekat pada proses produksi dan konsumsi makanan. Penelitian dilakukan dengan risetperpustakaan dan objek kajian dipilih secara selektif dari buku Ainu Mukashi Banashi: Hitotsubuno Satchiporo (2012), sebuah antologi cerita rakyat Ainu dengan editor Kayano Shigeru. Datadianalisis dengan teori antropologi sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyatAinu mengandung narasi tentang cara masyarakat mengumpulkan bahan makanan, memasak,dan mengkonsumsinya. Studi tentang narasi gastronomi cerita rakyat Ainu menyajikan halbaru bahwa cerita rakyat tidak saja mengandung pesan moral untuk pembentukan karaktertetapi juga menjadi media untuk melestarikan dan meneruskan budaya makanan dan kulinerlintas waktu dan generasi.Kata Kunci: cerita rakyat Ainu, gastronomi sastra, makanan tradisional Ainu Jepang
Fungsi dan Makna Desain Karakter Wayang Potehi Lakon Shi Jhin Kwie Teguh Hartono Patriantoro
PANGGUNG Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.206 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.728

Abstract

The object of this research is to analyze the functions and meanings of the characters of Wayang Potehi or Potehi puppet by taking the play of Shi Jin Kwie. The play is a popular fiction story which was later adapted into the story of Prabu Lisanpuro in Javanese theater (ketoprak). The results of the research found the organology structure of Wayang Potehi. It consists of 2, namely (1) parts of the body; head, hand, feet, and (2) clothing; along with ornaments and additional accessories such as swords and hats. The head section can be identified as the interpretation of the puppet character. For instance, an antagonist character depicted as if he was using a Balinese leak mask with his mouth open and angry. The clothes could be the interpretation of social status. For example, the villagers wear plain clothes without ornaments, while the nobles use yellow, red clothing with a dragon/ phoenix pattern. There are 4 types of character design in this show, specifically (1) the firm/ wise character, (2) the entertaining character, (3) the functionaries/ officials/ priyayi character, (4) the antagonist character. Especially for entertaining characters, it has a dual function; to return the underlying causes of the story and become the spy of the enemy. The methods used in this research are personality theory and functional theory approaches. Keywords: potehi character design, Shi Jin Kwie, Function of potehi
Reduplikasi Upacara Adat Bapelas Sebagai Simbol Kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara Emmy Sundari; Reiza D Dienaputra; Awaludin Nugraha; Susi Yuliawati
PANGGUNG Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.195 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i3.1679

Abstract

Subjek penelitian ini adalah upacara adat Bapelas. Objek pembahasannya tentang pembacaansimbol-simbol kekuasaan di upacara adat Bapelas. Pembacaan simbol dilakukan dalam bentukreduplikasi dan pengamatan langsung struktur pelaksanaan upacara adat Bapelas. Pengkajianini dilakukan melalui pengumpulan data-data secara empiris, bersifat induktif, menggunakanmetode kualitatif dan analisis interpretatif. Reduplikasi upacara adat Bapelas merupakanpengulangan upacara ritual-sakral warisan leluhur secara turun-temurun dari tahun ke tahun.Upacara adat Bapelas menyimpan banyak simbol-simbol yang mencerminkan kekuasaansultan sebagai pemegang kekuasaan di Kerajaan Kutai. Namun sultan sendiri tidak memegangkekuasaan dan wewenang di masa pemerintahan Republik Indonesia. Kekuasaan dalampenelitian ini, hanya sebatas kekuasaan sultan sebagai pemegang kekuasaan adat di kerajaan.Kekuasaan dan wewenang hanya sebagai simbol legitimasi atau pengakuan bahwa KerajaanKutai Kartanegara sampai saat ini masih berdiri. Pemerintah Indonesia menjadikan Kerajaanini sebagai warisan budaya (kearifan lokal) dan pariwisata bagi kemajuan ekonomi, sosial, danpolitik Kutai Kartanegara .Kata Kunci: Bapelas, simbol, kekuasaan.
Makna Visual dalam Ilustrasi Naskah Sajarah Banten Savitri Putri Ramadina
PANGGUNG Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.922 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i3.1161

Abstract

Sajarah Banten merujuk pada kumpulan naskah tentang Kesultanan Banten yang dibuat sekitar abad ke-17 hingga abad ke-19. Dari total 29 naskah yang bertahan dan sudah diteliti, hanya ada satu naskah yang memiliki ilustrasi. Visualisasinya tidak menyertakan gambaran mahluk hidup dan hanya terdiri dari benda mati seperti kapal, furniture, bangunan, dan bendera. Meskipun demikian, komposisi obyek-obyek tersebut menandakan peristiwa dan aktivitas tertentu yang ada dalam narasi naskah.Penelitian ini bermaksud untuk menelaah bagaimana visualisasi dan komposisi obyek tanpa penggambaran karakter digunakan untuk mengilustrasikan cerita dalam naskah Sajarah Banten. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan semiotika visual C.S. Peirce untuk memahami bagaimana makna visual pada obyek digunakan untuk menandai aktivitas tertentu.   Kata kunci: Banten, ilustrasi, naskah, semiotika, visual.

Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue