cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : 10.26742/panggung
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 913 Documents
Estetika Lagu Rincik-rincik dalam Pertunjukan Ronggeng Tayub Ocoh Suherti; Tarjo Sudarsono
PANGGUNG Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.581 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1050

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini menjelaskan estetika musikal dalam pertunjukan Ronggeng Tayub, khususnya lagu Rincik-rincik yang dalam sajiannya terdapat perpaduan garap musikal karawitan Sunda dan karawitan Jawa (Banyumasan). Ronggeng Tayub merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat di Kabupaten Ciamis dan sekitarnya. Penelaahan dilakukan melalui kajian teknik tabuhan, repertoar lagu, syair lagu, serta menelaah relasi masyarakat dengan seni karawitan dalam kaitannya dengan pertunjukan Ronggeng Tayub di wilayah perbatasan Ciamis-Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode deskriptif analisis kualitatif. Teknik mengumpulkan data dilakukan melalui observasi lapangan yang didukung dengan wawancara dan perekaman kejadian guna mendapatkan validitas data yang lebih utuh dan menyeluruh. Sajian gending dalam lagu ini menghadirkan kesan kesedarhanaan yang mencerminkan konsep hidup masyarakat pendukungnya. Ronggeng Tayub memiliki bentuk pertunjukan yang sangat merakyat, menyatu, dan komunikatif dengan penontonnya. Lagu Rincik-rincik termasuk pada lagu “pesanan” dari penonton, sajian gendingnya khas, unik, dan dinamis dengan iringan instrumen gamelan salendro yang relatif sederhana.Kata Kunci: estetika musikal, rincik-rincik, ronggeng tayub, kesenian rakyat AbstractThe purpose of this study is to explain the musical aesthetic of the Ronggeng Tayub performance, especially the Rincik-rincik song, which combines Sundanese and Java musical instruments (Banyumasan). Ronggeng Tayub is folk art in District Ciamis and surrounding. The study of Rincik-rincik song includes percussion techniques, song repertoire, song poetry, and the relationship between the community and the Ronggeng Tayub. This study uses a qualitative descriptive-analytical method. The techniques used in this study are observation, interview, and recording in order to obtain a more complete and comprehensive data validity. The performance of gending in Ronggeng Tayub presents the impression of simplicity, reflecting the concept of the life of the people. Ronggeng Tayub has a simple form of performance, blending, and communicative with the audience. Rincik-rincik is one of “special request” song from its audience, by which its gending is unique and dynamic, accompanied by a simple gamelan slendro.Keywords: aesthetic, rincik-rincik, ronggeng tayub, artfolks 
Estetika Adegan Bondres Wayang Tantri oleh Dalang I Wayan Wija I Dewa Ketut Wicaksandita; I Ketut Sariada; Hendra Santosa
PANGGUNG Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1201.838 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1146

Abstract

ABSTRACTBebondresan is a scene that is raised in order to entertain the audience. The scene of the bonding on theTantri puppet play Bhagawan Kundala Nangun Yadnya by Dalang Wija was brought up with a varietyof creativity that no other Dalang had ever done. This gave rise to appreciation in the form of applausefrom the audience who indicated the fulfillment of the wonderful taste of the aesthetic values that emerged.The main purpose of this research is to find out the aesthetics of the bebondresan scene. The researchmethod in the form of observation, interviews and documentation is the source of data acquisition by theauthor, which is then reduced and analyzed using instrumental aesthetic theory and aesthetic theoriesof aesthetics. The results of this study later found that the form of the bondres scene was formed visuallyin the form of three puppet Bondres namely, men holding drums, sexy women and agile old women,the structure consisted of three two-dimensional leather puppets, a drum and tambourine combinedthrough puppet play patterns, musical instruments and vocal wayang dialogues. The aesthetics of theBondres scene lies in, (1) ‘interrelations’, namely wholeness which is seen from the interrelationship,integration and harmony in the elements forming the scene; (2) ‘complexity’ that is interwoven betweenthe elements in the structure that are staged through complex playing patterns; (3) ‘prominence’ whichis the presentation of the results of the achievement of creativity by Dalang Wija which is seen from thecharacteristics of the artwork, the background of the mastermind’s abilities and his motivation.Keywords: Bondres Scene, Wayang Tantri, I Wayan WijaABSTRAKAdegan bondres merupakan sebuah adegan yang dimunculkan dengan tujuan untukmenghibur penonton. Adegan bondres pada wayang Tantri lakon Bhagawan Kundala NangunYadnya oleh Dalang Wija dimunculkan dengan beragam kreativitas yang tidak pernahdilakuakn Dalang lain. Hal ini memunculkan apresiasi berupa tepuk tangan dari penoton yangmengindikasikan terpenuhinya rasa nikmat indah atas nilai estetis yang muncul. Tujuan utamapenelitian ini ialah untuk mengetahui estetika dari adegan bebondresan. Metode penelitianberupa observasi, wawancara dan dokumentasi menjadi sumber perolehan data oleh penulisyang selanjunya direduksi dan dianlisis menggunakan teori estetika instrumental dan teoriestetika sifat estetis. Hasil penelitian ini selajutnya menemukan bahwa wujud adegan bondresini terbentuk secara visual berupa tiga wayang bondres yaitu, pria memegang kendang, wanitasexy dan wanita tua lincah, strukturnya terdiri atas tiga buah wayang kulit dua dimensi, sebuahkendang dan tamborin yang dikombinasi melalui pola bermain wayang, alat musik dan vokaldialog wayang. Estetika adegan bondres ini terletak pada, (1) ‘keterkaitan’ yaitu keutuhan yangdilihat dari keterkaitan, keterpaduan dan harmoni pada elemen-elemen pembentuk adegan;(2) ‘kerumitan’ yang terjalin di antara elemen-elemen pada struktur yang dipentaskan melaluipola bermain yang kompleks; (3) ‘penonjolan’ yaitu presentasi hasil pencapaian kreativitasoleh Dalang Wija yang dilihat dari ciri-ciri karya seni, latar belakang kemampuan dalang danmotivasinya.Kata Kunci: Adegan Bondres, Wayang Tantri, I Wayan Wija
Seni Lukis Modern Bernafaskan Islam di Bandung 1970-2000an Agus Cahyana; Reiza D Dienaputra; Setiawan Sabana; Awaludin Nugraha
PANGGUNG Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2421.146 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1136

Abstract

ABSTRACTWriting the history of the development of modern Indonesian painting from thematic point of viewstill refers to importance events that compose the mainstream of contemporary art trends in Indonesiainfluenced by the West. While events that are no less important relating to the emergence of aesthetictendencies related to religion have been marginalized, especially in modern art with Islamic breath becomeimportant part in the history of the development of modern Indonesian painting, aesthetic approach toanalyze the visual elements present in the painting. The result of this study the development of modernIslamic art in Bandung shows that there are 4 period of development, the 70s, the 80s, the 90s, and 2000s.This division of time is based on thematic tendencies that emerge and became the main tendencies at eachtime.Keywords: Painting, modern, Islam, BandungABSTRAKPenulisan sejarah perkembangan seni lukis modern Indonesia dari sudut pandang tematik hinggasaat ini masih mengacu pada peristiwa penting yang menggubah arus utama kecenderunganseni rupa kontemporer di Indonesia yang dipengaruhi Barat. Sementara peristiwa yang tidakkalah penting berkaitan dengan munculnya kecenderungan estetik yang berkaitan denganagama menjadi terpinggirkan, khususnya dalam seni lukis modern bernafaskan Islam. Halitu yang menjadi latar belakang penelitian ini dilakukan dengan tujuan agar perkembanganseni lukis modern bernafaskan Islam menjadi bagian penting dalam sejarah perkembanganseni lukis modern Indonesia khususnya di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metodesejarah visual yang tentu melibatkan pendekatan estetik untuk menganalisis unsur-unsurrupa yang hadir dalam lukisan. Hasil dari penelitian ini perkembangan seni lukis modernbernafaskan Islam di kota Bandung secara tematik menunjukkan bahwa terdapat 4 periodeperkembangan, yaitu masa tahun 70-an, masa perkembangan di tahun 80-an, di tahun 90-andan tahun 2000-an. Pembagian masa ini berdasarkan kecenderungan tematik yang muncul danmenjadi kecenderungan utama pada tiap masa.Kata Kunci: Seni lukis, modern, Islam, Bandung
Inovasi pada Morfologi Motif Parang Batik Tradisional Jawa Guntur Guntur
PANGGUNG Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.695 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1051

Abstract

ABSTRACTThis article discusses art innovation, especially the parang motive of traditional Javanese batik. Parang motive innovation seeks to identify changes and developments related to the main motives, inside motives (Javanese: isen), and supporting motives. Parang motif innovations also attempt to identify structural aspects or patterns of composing the primary motives, isen, and supporting motives, and colour-setting patterns. The approach used is comparative morphological parang motifs. Aspects of visual and structural forms of parang motives are compared with one another. The data sources used are the two primary literatures on traditional Javanese batik, which discusses parang motifs. The research results showed that the parang motives of traditional Javanese batik showed changes and developments or innovations. Parang motive innovations occur in the main motive elements, isen motives, and supporting motives. The parang motif innovation also occurs in the processing of parang forms and colouring patterns on fabrics.Keywords: art innovation, morphology, parang motif, Javanese traditional batikABSTRAKArtikel ini membahas tentang inovasi seni, khususnya motif parang batik tradisional Jawa. Inovasi motif parang berupaya mengidentifikasi perubahan dan perkembangan terkait motif utama, motif isian (Jawa: isen), dan motif pendukung. Inovasi motif parang juga berupaya mengidentifikasi aspek struktural atau pola penyusunan motif utama, isen, dan pendukung serta pola penyusunan warna. Pendekatan yang digunakan adalah komparatif morfologis motif parang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan sampel sebanyak duabelas motif parang. Aspek bentuk visual dan struktural motif parang diperbandingkan satu dengan yang lain. Sumber data yang digunakan adalah dua pustaka utama batik tradisional Jawa yang membahas tentang motif parang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif parang batik tradisional Jawa mengalami perubahan dan perkembangan atau inovasi. Inovasi motif parang terjadi pada elemen motif utama, motif isen, dan motif pendukung. Inovasi motif parang juga terjadi pada pengolahan bidang parang dan pola pewarnaan pada kain.Kata kunci: inovasi seni, morfologi, motif parang, batik tradisional Jawa
Implikatur Ekspresi Tindak Tutur Verdiktif Srimpi Anglir Mendhung Maryono Maryono
PANGGUNG Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.739 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1049

Abstract

ABSTRACTUnderstanding of art will be complete if it can express a particular value. One source of values in art is the pleasure of its objectivity, which encompasses intrinsic and extrinsic values with aesthetical visualization. The values of implicature in the Srimpi Anglir Mendhung can be found by referring to the expression of verdictive speech acts in its verbal and nonverbal components. In order to study the implicature values contained in Srimpi Anglir Mendhung, the researcher uses a qualitative research methodology based on the theory of pragmatics and theory of performing arts. The strategies used for collecting data are a library study, a study of visual recordings, a study of audio recordings, and interviews. The technique of analysis is interactive and involves the triangulation of data, methodology, and theory. The results of the discussion show that the implicature in the expression of verdictive speech acts in Srimpi Anglir Mendhung is a form of adulation and homage to the noble king, Sultan Agung Hanyakra Kusuma from the Mataram Kingdom. The values of heroism and virtue contained in Srimpi Anglir Mendhung are a reflection of the values of life, which should be emulated and appreciated by the audience and general public.Keywords: implicature, expression of verdictive speech acts, and Srimpi Anglir Mendhung dance. ABSTRAKPemahaman tentang seni terjadi secara lengkap apabila mampu untuk mengungkapkan suatu nilai. Satu sumber nilai seni adalah kenikmatan yang diberikan oleh objektifitas terhadap nilai-nilai instrinsik dan ekstrinsik dengan visualisasi estetis. Merujuk pada ekspresi tindak tutur verdiktif pada komponen verbal dan nonverbal, Tari Srimpi Anglir Mendhung dapat ditarik implikatur nilainya. Untuk mengkaji implikatur nilai yang terkandung dalam Tari Srimpi Anglir Mendhung, peneliti menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan berlandaskan teori pragmatik dan teori seni pertunjukan. Strategi pengumpulan data berupa studi pustaka, studi rekaman visual, studi rekaman audio, dan wawancara. Teknik analisisnya bersifat interaktif dengan mentrianggulasikan data, metodologis, dan teori. Hasil pembahasan ditemukan bahwa implikatur ekspresi tindak tutur verdiktif Srimpi Anglir Mendhung merupakan bentuk sanjungan dan penghormatan terhadap raja yang dimuliakan yaitu Sultan Agung Hanyakra Kusuma dari Kerajaan Mataram. Nilai-nilai keprajuritan dan kebajikan yang terkandung dalam Srimpi Anglir Mendhung merupakan cerminan nilai-nilai kehidupan, layak diteladani dan diapresiasi oleh audiens maupun masyarakat luas.Kata kunci: ekspresi, implikatur, Tari Srimpi Anglir Mendhung, tindak tutur verdiktif
Industri Kreatif Unggulan Produk Kriya Pandan Mendukung Kawasan Ekowisata Pangandaran, Jawa Barat Husen Hendriyana; I Nyoman Darma Putra; Yan Yan Sunarya
PANGGUNG Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3405.086 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.1202

Abstract

ABSTRACTPangandaran is known as one of many famous tourist destinations in West Java Province that possesspotential beautiful natural marine resources. This coastal area which streches 91 km and has sloping steeprocky beaches. Grows overabundant pandan (pandanus tectorius) plants, however conditions are verydamaged and there is no concern for good governance from the local government. This research aims toproduce eminent products of craft in supporting tourism by increasing the natural resources potentialand the local craftsmen resources from the surrounding areal environment. This article is result of appliedresearch in a type of practice-led research with a focus on the creative industries of craft products thatsupport tourism through the eco-design and eco-tourism approach. This research uses design-thinkingmethod, with Participation Action Research (PAR) approach and the Hexa Helix system. The result is aeminent product prototypes and start up business of craft art creative industries that support eco-designand eco-tourism park.Keywords: Creative Industry, Pangandaran Area, Pandan-based Craft, EcotourismABSTRAKPangandaran dikenal sebagai salah satu destinasi wisata di Provinsi Jawa Barat yang memilikipotensi alam laut yang indah. Wilayah pantai membentang sepanjang 91 km terdiri dari kawasanpantai pasir yang landai dan pantai berbatu curam. Di wilayah Pangandaran banyak ditumbuhitanaman pandan (pandanus tectorius), namun kondisinya sangat rusak dan tidak ada kepeduliaantata kelola yang baik dari pemerintah setempat. Penelitian ini bertujuan menghasilkan produkprodukseni kriya unggulan daerah untuk menunjang pariwisata dengan mengangkat potensisumber daya alam dan sumber daya perajin dari lingkungan masyarakat setempat. Artikel inimerupakan salah satu hasil penelitian terapan jenis practice-led research dengan fokus industrikreatif produk seni kriya yang mendukung pariwisata melalui pendekatan eco-design dan ecotourism.Penelitian ini menggunakan metode design thinking, dengan pendekatan ParticipationAction Research (PAR) dan sistem Hexa Helix. Hasil dari penelitaian ini berupa prototipe produkunggulan dan terwujudnya start up-start up bisnis industri kreatif seni kriya pendukungekowisata berbasis kawasan.Kata Kunci: Industi Kreatif, Kawasan Pangandaran, Kriya Pandan, Ekowisata
Inovasi Dolalak Lentera Jawa II karya Melania Sinaring Putri Putri Rachmawati; Nanik Sri Prihatini
PANGGUNG Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.976 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1047

Abstract

ABSTRACTLentera Jawa II Dolalak Dance is a new dance composed by Melania Sinaring Putri in 2014. It was created to represent Indonesia at the festival in Malaysia on 12-15 November 2014. The creation is impressive because there are innovations made by the choreographer. The theory presented in the creation process is the theory of Alma M. Hawkins, which includes exploration, improvisation, and composition. The method used in this research is a qualitative method with ethnochroeology approach. The research findings conclude the forming of a new composition. The form of the performance produced looks masculine but coquettish because of the existence of the more energetic dance movements, large-volumed, and faster movement tempo. The level playing, the line in the floor formation, and energetic dancer’s strength is a result of innovation in this work. The choreography elements are compacted, so they only performed in 8 minutes long.Keywords: Lentera Jawa II Dolalak, creation process, innovation, choreographyABSTRAKTari Dolalak Lentera Jawa II merupakan sebuah karya tari baru yang disusun oleh Melania Sinaring Putri tahun 2014. Karya ini diciptakan untuk mewakili Indonesia pada Festival di Malaysia pada tanggal 12-15 November 2014. Garapan ini menarik karena terdapat inovasi yang dilakukan koreografer. Teori yang dijadikan sebagai pisau bedah proses penciptaan menggunakan teori Alma M. Hawkins, yaitu eksplorasi, improvisasi dan komposisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan etnokoreologi. Hasil penelitian ini menyimpulkan terbentuknya komposisi baru, bentuk sajian yang dihasilkan terkesan berkarakter gagah namun centil karena gerak tari yang dihasilkan lebih energik, bervolume besar dan adanya tempo gerak yang lebih cepat. Permainan level, garis pada formasi lantai, dan kekuatan pada penari yang energik merupakan hasil dari inovasi pada karya ini. Elemen-elemen koreografi yang dipadatkan menghasilkan pertunjukan yang berdurasi 8 menit.Kata Kunci: Dolalak Lentera Jawa II, proses penciptaan, inovasi, koreografi
Reinterpretasi Monumen Bagindo Aziz Chan Karya Arby Samah dalam Ikonografi Erwin Panofsky Rica Rian; Suryanti Suryanti
PANGGUNG Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1445.223 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1140

Abstract

ABSTRACTResearch was entered to trace the Bagindo Aziz Chan monument by Arby Samah trough the iconographicapproach put forward by Erwin Panofsky, as well as to uncover the reason for the contruction of themonument. The research uses qualitative methods of observation interviews and document.The figure Arby Samah described in the “Bagindo Aziz Chan Monument” is indeed a Bagindo figure,which was made using cement plaster technique, making the work began in 1973 by Arby Samah. Reliefsmade in the foundation of the statue tells the sequence of event killed Bagindo Aziz Chan. The use ofthe realist style found by the author on the Bagindo Aziz Chan monument although the cultivation ofthe statue still looks tough, but the delivery of the sign on the statue is the hope and ideals of BagindoAziz Chan during his leadership as mayor of Padang is clearly depicted. The making of the statue uses acement plaster which is a technique commonly technique. Used by sculpture artists in the 1970s. In 2005Bagindo Aziz Chan was awarded as a national hero from west Sumatera by the central government, andalso on July 19 the people of Padang commemorated the day of death of Bagindo Aziz Chan which was atribute to the leader of Padang. And also the name Bagindo Aziz Chan has been enshrined as the name ofa street and a building in the city of Padang.Keywords: Bagindo Aziz Chan Monument, Iconographic, Erwin Panofsky.ABSTRAKPenelitian dimaksudkan untuk menelusuri monumen Bagindo Aziz Chan karya Arby Samahmelalui pendekatan ikonografi yang dikemukakan oleh Erwin Panofsky, serta mengungkapalasan dibangunnya monumen tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitupengamatan, wawancara dan dokumen.Tokoh yang digambarkan Arby Samah pada karya “Monumen Bagindo Aziz Chan” ini memangsosok Bagindo Aziz Chan, yang dibuat memakai teknik plaster semen, pembuatan karya tersebutselesai mulai dilakukan pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1973 yang dibuat oleh ArbySamah. Relief yang dibuat pada landasan patung menceritakan urutan peristiwa terbunuhnyaBagindo Aziz Chan. Pemakaian gaya realis yang didapati penulis pada monumen BagindoAziz Chan walaupun penggarapan patung tersebut masih terlihat kasar, namun penyampaiantanda pada patung tersebut merupakan harapan dan cita-cita Bagindo Aziz Chan selamakepemimpinannya sebagai wali kota Padang tergambarkan dengan jelas. Pembuatan patungtersebut menggunakan teknik plaster semen yang merupakan teknik yang umum dipakai olehseniman patung pada tahun 1970-an. Pada tahun 2005 Bagindo Aziz Chan dianugrahi sebagaipahlawan nasional asal Sumatera Barat oleh pemerintah pusat, dan juga pada tanggal 19 Julimasyarakat kota Padang memperingati hari wafatnya Bagindo Aziz Chan yang merupakanpenghormatan kepada pemimpin kota Padang yang tegas dan berani tersebut. Dan juga namaBagindo Aziz Chan sudah diabadikan sebagai nama jalan dan gedung di kota Padang.Kata Kunci: Monumen Bagindo Aziz Chan, Ikonografi Erwin Panofsky
Kearifan Lokal Hajat Laut Budaya Maritim Pangandaran Yanti Heriyawati; Een Herdiani; Ipit Saefidier Dimyati
PANGGUNG Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.421 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.1169

Abstract

ABSTRACTHajat Laut (sea celebration) as a tradition of Pangandaran coastal community has been changing as thechanging of the people’s social structure. Pangandaran, a regency which is famous of sea tourism object,still maintains the ritual of Hajat Laut containing local wisdom. This writing is aimed at analyzinghow Hajat Laut as a primordial cultural heritage of nautical community adapts with the social economydevelopment of the people. Mircea Eliade’s view is applied to trace the old views containing local wisdom.Meanwhile, Thomas Kuhn’s proposition bridges the discussion on paradigm dynamics toward theevents of Hajat Laut. in addition to literature study, the data are obtained through observation basedon characteristics of qualitative research. The result shows that Hajat Laut as the heritage of primordialsociety passes through an interpretation process from each of the generations. The anomaly existingin the process of paradigm debates place Hajat Laut in the presence and position adjusting to the livedevelopment need of Pangandaran society as a tourism city. At the same time, the economic, social, andreligious needs are fulfilled by keep maintaining the local wisdom of the culture.Keywords: local wisdom, hajat laut, coastal, PangandaranABSTRAKHajat Laut sebagai tradisi masyarakat pesisir Pangandaran telah mengalami perubahandengan perubahan struktur sosial masyarakatnya. Pangandaran sebagai kabupaten yangterkenal dengan objek wisata laut ini masih menyimpan ritual Hajat Laut yang bermuatankearifan lokal. Tulisan ini bertujuan mengkaji bagaimana Hajat Laut sebagai warisan budayaprimordial masyarakat laut mengalami proses adaptasi dengan perkembangan sosial ekonomimasyarakatnya. Pemikiran Mircea Eliade digunakan untuk menelusuri jejak-jejak pemikiranlama yang bermuatan kearifan lokal. Sementara pandangan Thomas Kuhn menjembatani dalampembahasan dinamika paradigma terhadap peristiwa Hajat Laut. Selain studi pustaka, datadatapenelitian dikumpulkan melalui observasi berdasarkan karakteristik penelitian kualitatif.Hasil kajian menunjukkan bahwa, Hajat Laut sebagai warisan masyarakat primordial melewatiproses interpretasi dari setiap generasinya. Anomali yang terjadi dalam proses perdebatanparadigma menempatkan Hajat Laut kini hadir dan mengalir sesuai dengan perkembangankebutuhan hidup masyarakat Pangandaran, sebagai kota wisata. Secara bersamaan pemenuhankebutuhan ekonomi, sosial, dan religi terpenuhi dengan tetap mempertahankan nilai-nilaikearifan lokal budayanya.Kata Kunci: kearifan lokal, hajat laut, pesisir, Pangandaran
Struktur Pola Tabuh Rampak Bedug pada Sanggar Bale Seni Ciwasiat Kabupaten Pandeglang Syamsul Rizal
PANGGUNG Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.732 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v29i4.1053

Abstract

ABSTRACTRampak Bedug Ciwasiat is a musical art form in Pandeglang Regency, Banten Province. The music presents a unique percussion pattern which produced different sounds in its performance. This study employs a qualitative approach with an ethnographic method. Data collection technique used participant observation, in-depth interviews, and documentation. Analysis of the data uses the structuralism theory of Levi-Strauss that focused on syntagmatic, paradigmatic, and binary oppositions. The results of the study show that the structure of Rampak Bedug Ciwasiat percussion patterns consists of Rurudatan, Dulag, Selang Dog, Kalapa Samanggar, Gembrung, solawatan, Sela Gunung, and Turumbu. All those percussion patterns become a complete work called Rampak Bedug Ciwasiat.the structure of the percussion pattern becomes a complete work called Rampak Bedug Ciwasiat.Keywords: Levi-Strauss structuralism theory, percussion patterns, rampak bedug Ciwasiat ABSTRAKRampak Bedug Ciwasiat adalah salah satu kesenian yang ada di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten yang memiliki pola tabuh yang unik. Pola tabuh tersebut memiliki perbedaan bunyi yang dihasilkan dalam setiap pertunjukannya. Dengan demikian, kesenian ini mempunyai keunikan dalam pola tabuh yang dimainkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan strukturalisme Levi-Strauss yang memokuskan pada sintagmatik, paradigmatik, dan oposisi biner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur pola tabuh Rampak Bedug Ciwasiat terdiri dari pola tabuh Rurudatan, Dulag, Selang Dog, Kalapa Samanggar, Gembrung, Sholawatan, Sela Gunung, dan Turumbu. Struktur pola tabuh tersebut menjadi suatu karya utuh yang dinamakan Rampak Bedug Ciwasiat.Kata kunci: strukturalisme Levi-Strauss, pola tabuh, rampak bedug Ciwasiat

Filter by Year

2004 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 4 (2025): Transformasi, Simbolisme, dan Kreativitas dalam Ekspresi Budaya Nusantara: Studi Vol 35 No 3 (2025): Estetika, Identitas, dan Digitalisasi: Praktik Seni dan Budaya Nusantara dalam P Vol 35 No 2 (2025): Representasi, Transformasi, dan Negosiasi Budaya dalam Media, Seni, dan Ruang So Vol 35 No 1 (2025): Wacana Seni dalam Identitas, Simbol, Pendidikan Karakter, Moral Spiritual dan Pr Vol 34 No 4 (2024): Dekonstruksi dan Rekonstruksi Identitas Budaya Vol 34 No 3 (2024): Kreativitas, Seni Kontemporer, dan Pariwisata Berkelanjutan Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 34, No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik Vol 33 No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33, No 4 (2023): Eksistensi Tradisi dalam Narasi Seni Modern Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati Vol 33, No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33 No 2 (2023): Ideologi, Identitas, dan Kontekstualitas Seni Budaya Media Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi Vol 32, No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif Vol 32, No 2 (2022): Ragam Fenomena Budaya dan Konsep Seni Vol 32 No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 32, No 1 (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31 No 4 (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31 No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 31, No 1 (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30 No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol 30, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29 No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29 No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue