cover
Contact Name
Jamil Suprihatiningrum
Contact Email
inklusi@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-515856
Journal Mail Official
inklusi@uin-suka.ac.id
Editorial Address
https://ejournal.uin-suka.ac.id/pusat/inklusi/ET
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Inklusi Journal of Disability Studies
ISSN : 23558954     EISSN : 25809814     DOI : https://doi.org/10.14421/ijds
Core Subject : Social,
INKLUSI accepts submission of manusciprts on disability issues from any discipline. We are promoting an interdisciplinary approach to work on disability rights and social inclusion of the people with disabilities.
Articles 183 Documents
RESPON TUNARUNGU TERHADAP PENGGUNAAN SISTEM BAHASA ISYARAT INDONESA (SIBI) DAN BAHASA ISYARAT INDONESIA (BISINDO) DALAM KOMUNIKASI Mursita, Rohmah Ageng
INKLUSI Vol. 2 No. 2 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.85 KB) | DOI: 10.14421/ijds.2202

Abstract

This study aims to examine and find out the information about deaf response towards the use of Indonesian signal language (BISINDO) and Indonesian Signal Language System (SIBI) on communication. Research method being implemented was quantitative approach in which supported by qualitative data. Subject on this study was 100 respondents of adult and teenagers with hearing impairments (aged 16­50) who live in Indonesia especially at Java and Bali. Data collection technique on this study was questionnaire and interview. Based on data analysis seen from answer categorization of 100 respondents with hearing impairment, less of them are supporting SIBI on communication because of its concept cause difficulties for communicating. Whereas, most of them supporting the use of BISINDO on communication. Thus, it could be concluded that through the questionnaire result and interview of 100 respondent with hearing impairment on teenagers and adult categorization (aged 16­59) in various places, its proven that 91% majority of deaf are using BISINDO for communicate with others.
Peraga Mikrometer Sekrup Braille untuk Siswa Tunanetra Iradaty, Fithri
INKLUSI Vol. 4 No. 1 (2017)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.305 KB) | DOI: 10.14421/ijds.040104

Abstract

This research was conducted with Four D Models research design with a limited test involving three blind students at MAN Maguwoharjo, a physics teacher ath the school, and several students majoring in physics education FMIPA UNY. The result of the limited test shows that the props that have been developed can be applied as a screw micrometre model and the Braille-labeled LKS can also be used as a guide in a practicum implementation. The results of the assessment of the feasibility of the developed product are reviewed regarding several aspects which are the requirements of the measuring instrument that is validity (reliable), reliable, can be used internationally, is easy to produce, and safe. In general, Braille scarp micrometre displays are suitable for blind students. Besides, blind students strongly support the existence of braille screw micrometre displays equipped with this braille LKS as it will help them more easily understand micrometre screw gauges which in general this tool is still produced only for the non-blind.[Penelitian ini menggunakan desain Four D Models, dengan uji coba terbatas melibatkan tiga orang siswa tunanetra MAN Maguwoharjo, seorang guru fisika MAN Maguwoharjo, dan beberapa mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Hasil uji coba terbatas menunjukkan bahwa produk peraga yang telah dikembangkan dapat diterapkan sebagai peraga mikrometer sekrup dan LKS berhuruf Braille juga dapat dimanfaatkan sebagai pedoman dalam pelaksanaan praktikum. Hasil penilaian kelayakan produk peraga yang dikembangkan ditinjau dari beberapa aspek yang menjadi syarat alat ukur, yaitu valid (dapat dipercaya), reliable, dapat digunakan secara internasional, mudah diproduksi, dan aman. Secara umum, peraga mikrometer sekrup Braille layak digunakan bagi siswa tunanetra. Selain itu siswa tunanetra sangat mendukung keberadaan peraga mikrometer sekrup braille yang dilengkapi dengan LKS braille ini karena akan membantu mereka lebih mudah memahami alat ukur mikrometer sekrup yang pada umumnya alat ini masih diproduksi hanya untuk orang awas.]
Meningkatkan Rentang Perhatian Anak Autis dalam Pembelajaran Pengenalan Huruf Ballerina, Titisa
INKLUSI Vol. 3 No. 2 (2016)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.882 KB) | DOI: 10.14421/ijds.030205

Abstract

One characteristic of an autistic child is having obstacles in attention span, which affects their learning process. Children with autism need appropriate learning methods to help them engaging the learning process. This study is aimed at figuring out an appropriate learning method for the subject in recognizing letters. The main question of this study is how to improve the subject’s attention span in learning letter recognition. This case study was conducted through five processes, i.e.: (1) accessing the subject; (2) analyzing the problem; (3) preparing interventions for the subject; (4) implementing interventions; (5) evaluating the effects of interventions. The study found that the learning method of movement and song can enhance the autistic child’s attention span. Therefore, children with autism need appropriate learning methods based on their interests.[Salah satu karakteristik anak autis adalah memiliki hambatan dalam rentang perhatian, yang berdampak pada proses pembelajaran. Anak autis memerlukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristiknya,  agar dapat membantu proses belajarnya. Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui metode belajar yang sesuai untuk subjek dalam mengenal huruf. Pertanyaan utama pada penelitian ini adalah bagaimana cara meningkatkan rentang perhatian subjek dalam pembelajaran pengenalan huruf. Proses yang telah dilakukan yaitu: (1) mengases subjek; (2) menganalisis permasalahan; (3) menyusun intervensi untuk subjek; (4) menerapkan intervensi; (5) mengevaluasi efek intervensi. Kesimpulan dari studi ini adalah terdapat peningkatan rentang perhatian pada subjek, setelah menggunakan metode belajar gerakan dan lagu. Anak autis memerlukan metode belajar yang sesuai dengan minatnya.]
Sastra dan Difabel: Menilik Citra Difabel dalam Novel Biola Tak Berdawai dari Sudut Pandang Sosiologi Sastra Ian Watt Yusuf, Mukhanif Yasin
INKLUSI Vol. 2 No. 1 (2015)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.379 KB) | DOI: 10.14421/ijds.020102

Abstract

As a human product, a work of literatureis influenced by various factors. It is not anautonomous, independent entity, immune from the social and political context in which the work is situated. Social factors surrounding an author have a significant role in shaping the author’s characterwhich, in turn is reflected in his/ her writing. Having said that, research on works of literature should pay careful attention to those external factors.Based on Seno Gumira Ajidarma’s work, Biola Tak Berdawai, this research seeks to demonstrate that literature portraysdisabled people as a minority and socially at-risk group. Using Ian Watt’s approach on literary realism this article argues that BiolaTak Berdawai resembles Seno Gumbira’s other works that are characterized by his extraordinary and critical insightsinto the social realities of Indonesia. Through this novel, Gumbira captures the negative stigma that is powerfully attached to people with disabilities. This novel reflects the realities of people with disabilities in Indonesia who continue to experience remarkable discrimination and stigma; being seen as incompetent, as God’s punishment, or a source of family disgrace and shame. Through the main character of this novel, Aku, anexcellent violin player, Seno Gumbira challenges this negative stigma.[Sebagai sebuah karya, karya sastra tidak terelakkan lagi untuk keluar dari situasi dan kondisi nyata produksinya. Karya sastra tidak dapat berdiri absolut sebagai kesatuan yang otonom, selalu ada faktor dari luar yang ikut mempengaruhinya. Faktor-faktor sosial yang ada di sekitar pengarang memiliki peran untuk memberikan karakteristik dalam karya sastranya, disamping mempengaruhi pengarang. Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk memberi khasanah baru dalam khasanah disiplin keilmuan terkait isu difabel agar tidak stagnan pada bidang ilmu eksak dan ilmu sosial, tetapi juga seni dan sastra.Oleh karena itu, penelitian suatu karya sastra menempatkan pula faktor di luar karya sastra. Dalam penelitian ini digunakan novel Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidarma yang dikembangkan dari skenario film berjudul sama karya Sekar Ayu Asmara. Pemilihan objek penelitian ini didasari oleh faktor tokoh utama yang seorang difabel dan peneliti ingin memberikan khasanah baru dalam penelitian karya sastra yang fokus melihat dari sudut pandang difabel yang masih minim perhatian. Posisi difabel dalam masyarakat khususnya di Indonesia, masih dalam kedudukan rentan sosial dan minoritas menjadi daya tarik peneliti untuk melihat bagaimana fenomena ini digambarkan dalam karya Sastra.Dengan menggunakan pendekatan teori sosiologi sastra Ian Watt, Biola Tak Berdawai tidak jauh berbeda dengan karya-karya Seno lainnya yang melemparkan gagasan kritis terhadap realitas sosial. Latar belakang sosial Seno yang sekaligus sebagai wartawan melemparkan gagasan kritisnya terkait kondisi difabel yang masih mendapat stigma negatif dari masyarakat. Cerminan sosial dalam novel tidak jauh berbeda dengan realitas yang terjadi di Indonesia, dimana ideologi kenormalan menyumbangkan berbagai bentuk ketidakadilan terhadap difabel. Difabel masih dianggap sebagai individu yang cacat, sebagai kutukan Tuhan, dan sebagai sumber aib bagi keluarga. Pendobrakan terhadap realitas yang ada, dilakukan pengarang lewat tokoh utama “Aku” yang difabel dengan menyajikan fakta bahwa difabel memiliki kemampuan yang berbeda, tetapi masyarakat masih belum memahaminya karena sudah terlanjur terjebak pada stigma negatif terhadap difabel.]
Konstruksi Alat Ukur Interaksi Guru-Siswa di Sekolah Dasar Inklusif Kurniawati, Farida
INKLUSI Vol. 5 No. 1 (2018)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.116 KB) | DOI: 10.14421/ijds.050101

Abstract

Teacher effectiveness is reflected, among other things, on how they interact with students. This study was aimed at developing a reliable and valid teacher-student interaction scale to be used in inclusive primary schools. Collection of items (item pool) was conducted through literature study and focus group discussion, followed by content validity analysis. Factorial validity and internal consistency were examined by administering the scale to 101 teachers working in various inclusive primary schools in Jakarta. Factor analysis yielded three domains on teacher-student interaction with α = 0. 93. The three domains were emotional support (p = 0.11, RMSEA = 0.05, GFI = 0.91), classroom management (p = 0.13, RMSEA = 0.05, GFI = 0.90), and instructional support (p = 0.05, RMSEA = 0.06, GFI = 0.90). Convergence validity testing is recommended in subsequent research. Increased external validity can be achieved by involving teachers with a variety of demographic factors.[Efektivitas guru dalam mengajar tercermin antara lain dalam bagaimana guru berinteraksi dengan siswa. Studi ini bertujuan untuk menyusun alat ukur interaksi guru–siswa yang reliabel dan valid untuk digunakan dalam konteks pendidikan inklusif di tingkat sekolah dasar. Pengumpulan aitem (item pool) dilakukan berdasarkan studi literatur dan diskusi kelompok terfokus, lalu dilakukan pengujian validasi konten. Validitas faktorial dan konsistensi internal dilakukan dengan melibatkan 101 guru yang mengajar di berbagai sekolah dasar inklusif di Jakarta. Analisa faktor menghasilkan tiga ranah (domain) interaksi guru-siswa dengan α = 0. 93. Ketiga ranah tersebut adalah dukungan emosional (p = 0.11, RMSEA = 0.05, GFI = 0.91), manajemen kelas (p = 0.13, RMSEA = 0.05, GFI = 0.90), dan dukungan instruksional (p = 0.05, RMSEA = 0.06, GFI = 0.90). Pengujian validitas konvergen direkomendasikan dalam penelitian selanjutnya. Peningkatan validitas eksternal dapat dilakukan dengan melibatkan guru dengan beragam faktor demografis.]
Educational Partners’ Perception Towards Inclusive Education Iryayo, Martin; Anggriyani, Devi; Herawati, Lucky
INKLUSI Vol. 5 No. 1 (2018)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.651 KB) | DOI: 10.14421/ijds.050102

Abstract

This study aims at investigating the perceptions of educational partners towards managing and implementing inclusive education, ensuring whether special need students can be wholly admitted and facilitated, and probing on the integration and management of students with physical, moral, and mental problems. The strategy used is centered on a case study with qualitative approach. The researchers applied a semi-structured interview and analyzed the data using content analysis with descriptive-interpretation-pattern coding model. For choosing the participants, quota sampling technique was applied whereby four participants were chosen from every school to represent the sections. The population is made up of all students, teachers, staff, and parents from SMA Yogyakarta, SMA Wates, and SMK Imogiri. Based on the interviews, all the subjects confirmed that inclusive education in the respective schools is critical. Besides, the perceptions of all subjects towards management and implementation of inclusive education does not prove its satisfactory level.[Penelitian bertujuan melihat persepsi orang tua, siswa, guru, dan staf terhadap pengelolaan dan penerapan pendidikan inklusif, memastikan apakah siswa berkebutuhan khusus dapat diterima dan difasilitasi oleh sekolah, dan meyakinkan cara untuk mengintegrasikan dan mengelola siswa dengan masalah fisik, moral, dan mental. Penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan wawancara semi-struktural dan menganalisis data dengan analisis konten. Untuk memilih peserta, teknik kuota sampling diterapkan di mana empat peserta dipilih dari setiap sekolah untuk mewakili yang lain. Populasi terdiri dari semua siswa, guru, staf, dan orang tua dari SMA Yogyakarta, SMA Wates, dan SMK Imogiri. Berdasarkan wawancara, semua subjek menegaskan bahwa pendidikan inklusif di sekolah masing-masing masih belum mapan. Selain itu, persepsi semua yang diwawancarai terhadap manajemen dan pelaksanaan pendidikan inklusif tidak benar-benar mengkonfirmasi tingkat pendidikan inklusif yang memuaskan.]
Program Terapi Sensori Integrasi bagi Anak Tunagrahita di Yayasan Miftahul Qulub Komariah, Fitri
INKLUSI Vol. 5 No. 1 (2018)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.963 KB) | DOI: 10.14421/ijds.050103

Abstract

Children with intellectual disability have limitations in some aspects of personal developments. Yayasan Miftahul Qulub Cipondoh helped the children improve their motoric and sensory skills through the use of integrative sensory therapy. This paper aims to answer how successful the program run by Yayasan Miftahul Qulub Cipondoh, Tangerang city, its inhibiting and supportive factors. This is qualitative research using an evaluation study with CIPP (Context Input Process Product) evaluation model. The study found that integrative sensory therapy in Yayasan Miftahul Qulub has helped the children develop their independence on personal aspects, social cognitive, language skills, motor and sensory. In addition to the efforts of the school, the success of its therapy is supported by the involvement of the parents.[Anak tunagrahita memiliki keterbatasan di beberapa aspek yaitu perkembangan personal, sosial kognitif, keterampilan berbahasa, serta motorik dan sensorik. Hal ini dapat diamati melalui ketidakmatangan dalam perilaku sosialnya. Salah satunya terapi sensori integrasi yang dilakukan oleh Yayasan Miftahul Qulub Cipondoh membantu anak meningkatkan keterampilan motorik dan sensoriknya terutama kepada anak tunagrahita dalam bentuk permainan dan kegiatan sehari-hari. Pertanyaan penelitian bagaimana hasil dari terapi sensori integrasi bagi anak tunagrahita di Yayasan Miftahul Qulub Cipondoh Kota Tangerang serta faktor penghambat dan pendukungnya? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Jenis penelitian adalah penelitian evaluasi dengan model evaluasi CIPP, dikhususkan pada evaluasi hasil. Hasil penelitian bahwa terapi sensori integrasi di Yayasan Miftahul Qulub yang terlihat memiliki perubahan perkembangan kemandirian anak tunagrahita pada aspek personal, sosial kognitif, keterampilan berbahasa, serta motorik dan sensorik. Kesuksesan terapi ini  didukung keadaan lingkungan dan keterlibatan orang tua dalam proses pelaksanaannya.]
Kecenderungan Putus Sekolah Difabel Usia Pendidikan Dasar di Jember Miftakhuddin, Miftakhuddin
INKLUSI Vol. 5 No. 1 (2018)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.874 KB) | DOI: 10.14421/ijds.050105

Abstract

This study examines the aspirations of children with disabilities in attending school and their tendency to drop out of school. This study answers the question of how disabilities influence aspirations to attend school in relation to the tendency to drop out of school. Data were collected through interviews and observations of three children with disabilities who dropped out of school and three children with disabilities who do not. Data were analysed using the techniques of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the aspirations of attending school were influenced by three considerations: targets, results of risk factor analysis, and social responses. The social response shows the most dominant attention because it is often manifested by support (friendship) or obstacles (intimidation and discrimination). If the social response is positive, then the aspirations of going to school will increase, which affects the sustainability of children in school.[Penelitian ini mengkaji aspirasi anak difabel untuk bersekolah dan kecenderungannya untuk putus sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi kepada tiga anak difabel yang putus sekolah, dan tiga anak difabel yang (masih) bersekolah. Data dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspirasi bersekolah dipengaruhi oleh tiga pertimbangan, yaitu: tujuan atau target pembelajaran, hasil analisis faktor risiko, dan respon sosial. Respon sosial menjadi faktor paling dominan karena sering diwujudkan dengan dukungan (ikatan pertemanan) maupun hambatan (intimidasi dan diskriminasi). Jika respon sosial bersifat positif, maka aspirasi bersekolah akan meningkat, yang berdampak pada keberlanjutan anak dalam bersekolah.]
Koping Religius-Spiritual pada Ibu sebagai Caregiver Utama Down Syndrome Kurnia, Fina Tri
INKLUSI Vol. 5 No. 1 (2018)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.472 KB) | DOI: 10.14421/ijds.050106

Abstract

This study aims at understanding the religious spiritual coping experienced by mothers as the main caregiver of down syndrome children. In particular, this study sought for factors influencing the religious spiritual coping and how it was implemented. Subjects in this study were three mothers of children who all had an offspring with down syndrome. Factors affecting their spiritual-religious coping are both internal (e.g. openness, resigned, acceptance, self-efficacy, appreciation of religion) and external (e.g. social support in the community). The implementation of spiritual coping includes a belief that the child is entrusted, an idea that parenting is an effort to gain redemption, gratitude, perseverence, a hope to receive rewards from God. The three informants underwent a perceived change in their views that their financial burden was lifted up, they had the privillege of being close to God, and they surrendered to the control of God, and they had a new perspective of what it means to be happy and strong.[Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui koping religius spiritual yang dialami seorang ibu sebagai caregiver utama anak down syndrome. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi koping religius-spiritual dan bagaimana implementasinya.  Subjek dalam penelitian ini terdiri dari tiga orang ibu dengan variasi usia anak dengan down syndrome yang diasuhnya, yaitu anak-anak, remaja, dan dewasa. Faktor yang mempengaruhi koping religius-spiritual pada ketiga informan berasal dari faktor internal (terbuka, pasrah, menerima, efikasi diri dan penghayatan agama) dan eksternal (dukungan sosial di lingkungan masyarakat). Implementasi koping religius yakni ritual agama islam (salat, puasa, berdoa) dan hubungan sosial. Sedangkan implementasi koping spiritual yakni keyakinan anak adalah titipan, pengasuhan adalah bagian dari peleburan dosa, kebersyukuran, kesabaran, pengharapan akan pahala dari Tuhan. Mereka mengalami perubahan yang dirasakan berupa pandangan bahwa rizki yang dilancarkan, kenyamanan dekat dengan Tuhan, dan penyerahan kontrol kepada Tuhan, dan transformasi perasaan bahagia dan kuat.]
Parental Acceptance terhadap Anak dengan Disleksia dalam Film Wonderful Life Amin, Barkatullah
INKLUSI Vol. 5 No. 1 (2018)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.033 KB) | DOI: 10.14421/ijds.050107

Abstract

This paper elaborates the acceptance process of a single parent who has a dyslexic child in the movie "Wonderful Life". The film showed a widower who has grown with her inspiring father. The value of life from her father influenced the way she educates her child. This research used a qualitative approach, inspired by Peirce semiotic and supported by the theory of five stages of grief. The paper concluded that, firstly, the parent's acceptance of the dyslexic child gave a positive effect for herself and her child. Second, misperception in understanding the condition of the child has slackened the ability of the child. Third, the understanding of parent gave significant impact in choosing the appropriate education for her child. Fourth, that the depression happened to the mother was affected by not only child condition, but also the pressures from the family.[Makalah ini bertujuan melihat proses penerimaan orang tua atas kondisi anaknya yang memiliki disleksia dalam film Wonderful Life. Menggunakan pendekatan kualitatif dan didukung dengan teori the Five Stages of Grief, penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, peneriman orang tua terhadap kondisi anaknya memberikan dampak positif bagi dirinya dan anaknya. Kedua, kesalahpahaman dalam memahami kondisi anak dapat menghambat kemampuan pada diri anak. Ketiga, pemahaman orang tua memberikan dampak signifikan dalam pengambilan keputusan pendidikan bagi anaknya, Keempat, depresi yang terjadi pada ibu tidak hanya diakibatkan oleh kondisi anaknya, tetapi juga tekanan dari keluarga.]

Page 7 of 19 | Total Record : 183