cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
JURNAL WALENNAE
ISSN : 14110571     EISSN : 2580121X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Walennae’s name was taken from the oldest river, archaeologically, which had flowed most of ancient life even today in South Sulawesi. Walennae Journal is published by Balai Arkeologi Sulawesi Selatan as a way of publication and information on research results in the archaeology and related sciences. This journal is intended for the development of science as a reference that can be accessed by researchers, students, and the general public.
Arjuna Subject : -
Articles 252 Documents
TIPE BUDAYA MESOLITIK DI SULAWESI SELATAN Muhammad Nur
WalennaE Vol 3 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2028.943 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i1.79

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah sumbangan konseptual untuk memahami tipe budaya mesolitik yang ada di Sulawesi Selatan. Beberapa penjelasan tentang tipe budaya mesolitik di Indonesia yang sebelumnya dikemukakan oleh para ahli, cenderung berfokus pada kajian teknologis artefak litik yang dihasilkan dari periode tersebut. Tulisan ini menawarkan sebuah perspektif yang berbeda, dalam melihat tipe-tipe budaya mesolitik yang ada di Sulawesi Selatan. Dengan bertitik tolak dari kondisi ekologi situs-situs mesolitik di sulawesi selatan. Maka penulis menyimpulakan bahwa terdapat tiga tipe budaya mesolitik yang berkembang di sulawesi selatan yaitu tipe Sungai, tipe Padang dan tipe Gua.
ARKEOLOGI PEMUKIMAN SITUS PONGKA, KABUPATEN BONE, SULAWESI SELATAN Yohanis Kasmin
WalennaE Vol 15 No 1 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2150.766 KB) | DOI: 10.24832/wln.v15i1.3

Abstract

Pongka secara administratif adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattingge Kabupaten Bone. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bentuk penataan ruang dan faktor-faktor yang mendukung terbentuknya wilayah pemukiman di situs Pongka. Dari survei dengan teknik systematic random sampling, berhasil dikumpulkan jenis temuan meliputi temuan non-fragmental dan temuan fragmental. Kemudian analisis spesifik, kontekstual, lingkungan, fungsional serta analisis keruangan menghasilkan setidaknya dua katagori ruang di Situs Pongka yaitu ruang sakral dan profan. Kesimpulannya adalah faktor yang berpengaruh terhadap terbentuknya wilayah pemukiman di Situs Pongka adalah faktor politik, yang erat kaitannya dengan keamanan lokasi.
PERBANDINGAN PENGUBURAN KERANDA KAYU DI TANA TORAJA DENGAN KERANDA KAYU DI SABAH (BORNEO)-KALIMANTAN Akin Duli; Stephen Chia Ming Soon; Muhammad Husni
WalennaE Vol 13 No 1 (2011)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3925.592 KB) | DOI: 10.24832/wln.v13i1.248

Abstract

Asal-usul tentang budaya keranda kayu di kawasan Tana Toraja belum diketahui dengan pasti. Namun berdasarkan studi perbandingan dengan kawasan lainnya di Asia Tenggara seperti kawasan Sabah di Borneo-Kalimantan, dapat memberikan gambaran tentang adanya persamaan bentuk dan bahkan asal-usul dari keranda kayu Toraja. Dengan menggunakan metode deskripsi dan perbandingan tipologi, dapat diketahui adanya persamaan bentuk maupun tata letak, sehingga dapat diasumsikan bahwa keranda kayu di kedua kawasan tersebut, berasal dari satu asal-usul budaya yang sama, atau kemungkinan besar keranda kayu Toraja berasal dari kawasan Sabah (Borneo)-Kalimantan pada masa lampau. The origins of culture in the wood coffins in Tana Toraja region is not known with certainty. However, based on comparative studies with other regions in Southeast Asia as the region of Sabah on Borneo-Kalimantan, can provide a snapshot of the similarities of form and even the origin of the wooden coffin Toraja. By using the method of description and comparison of typology, typology can be known the equation as well as the layout, so it can be assumed that the wooden coffin in both regions, derived from a single origin of the same culture, or is likely to Toraja wood coffin comes from the region Sabah (Borneo)-Kalimantan in the past.
PERSPEKTIF GEOLOGI RUANG-RUANG DI KOMPLEKS SITUS GUA MAROS M. Fadhlan S. Intan
WalennaE Vol 4 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3482.864 KB) | DOI: 10.24832/wln.v4i2.130

Abstract

Cave was the medium for prehistorically human to sheltered and to avoided from the difficulties, which were caused by the nature. The establishment of the caves in Maros limestone area was started since the carbonate was sedimentatedin submarine. Based on the geological structure, Maros limestone cave is di­vided into two, i.e. tightpole (kekar tiang) cave and tightpage (kekar lembaran) cave with its own room characteristics. The geological structure of the cave room is very influence the conservation of the archaeo­logical inheritance and the amount of the cave that-present can be shown.
KAITAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 1997 DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1992 Muhammad Nur
WalennaE Vol 11 No 2 (2009)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2030.431 KB) | DOI: 10.24832/wln.v11i2.216

Abstract

Within Act number 23 Year 1997 regarding the living environment management, Act number 5 year 1992 have not considered, whereas these two Acts were closely related. It will easier to understand, then, that in the description of regulation under Act number 23 Year 1992, cultural heritage material issue have an insufficiency accommodation.Dalam UU nomor 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, UU nomor 5 tahun 1992 belum mempertimbangkan, sedangkan kedua UU ini saling terkait erat. Maka akan lebih mudah untuk memahami bahwa dalam uraian peraturan berdasarkan Undang-undang nomor 23 Tahun 1992, masalah materi warisan budaya memiliki akomodasi yang tidak mencukupi.
ANALISIS TEKNOLOGI LABORATORIS TEMBIKAR DARI SITUS GUA BULU SUMI, KABUPATEN PANGKEP, PROVINSI SULAWESI SELATAN M. Fadhlan S. Intan
WalennaE Vol 15 No 1 (2017)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1342.364 KB) | DOI: 10.24832/wln.v15i1.11

Abstract

Tembikar di Indonesia merupakan salah satu benda yang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat dari masa prasejarah hingga masa kini. Tembikar merupakan salah satu sisa benda budaya yang paling sering ditemukan dalam penelitian arkeologi, terbuat dari tanah liat dan dibakar. Analisis teknologi laboratoris tembikar bertujuan memperoleh data yang akurat tentang fungsi dan kualitas dari suatu tembikar. Metode yang digunakan adalah analisis fisik dan analisis kimia (gravimetri). Berdasarkan hasil analisis teknologi laboratoris tersebut, tembikar-tembikar dari Situs Gua Bulu Sumi termasuk dalam kategori peralatan sehari-hari yang berfungsi untuk menampung air, mengolah makanan, penyajian makanan dan minuman. Dari segi kualitas, tembikar-tembikar tersebut, termasuk dalam tingkat kualitas sedang hingga baik, dengan tingkat pembakaran mencapai 500°-600° Celcius serta dibakar pada udara terbuka (open air baked). 
STRUKTUR GEOLOGI KAWASAN HUU DALAM KAITANNYA DENGAN PEMILIHAN LOKASI SITUS MEGALITIK M. Fadhlan S. Intan
WalennaE Vol 14 No 1 (2016)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4764.382 KB) | DOI: 10.24832/wln.v14i1.36

Abstract

Lokasi penelitian berada di Kawasan Huu, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Permasalahan dalam penelitian adalah bagaimana kondisi geologi Kawasan Huu, dengan tujuan untukmengetahui kondisi lingkungan geologi, dan lebih khusus adalah pengaruh struktur geologiterhadappemilihan lokasi situs megalitik yang berada di Kawasan Huu dan sekitarnya, serta metode yangdigunakan adalah survei, analisis, dan interpretasi peta. Kegiatan tektonik di Kawasan Huu menghasilkanstruktur geologi, yang mempengaruhi pembentukan bentang alam, hidrologi, dan mineralisasi.Berdasarkan integrasi struktur geologi terhadap situs di Kawasan Huu, maka dihasilkan data mengenaipemilihan lokasi situs megalitik yang terletak pada bagian yang turun dari suatu sesar normal.
SITUS BACUKIKI DI KOTA PARE-PARE: PELUANG PEMANFAATAN SEBAGAI OBJEK WISATA BUDAYA nfn Muhaeminah
WalennaE Vol 12 No 2 (2010)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3672.386 KB) | DOI: 10.24832/wln.v12i2.239

Abstract

The history revealed that The Kingdom of Bacukiki, Parepare (now is a part of South Sulawesi was visited by Portuguese ships around XVI century in the same period with Suppa, Alitta, Sidenreng and Siang Kingdom. Nowadays, the ex-river harbour called "Soreang padangkange" not far from the ex-market "lontange" still can be seen. According to locale's information, the "Lontange" market was the place to manages goods from abroad. Based on the research conducted by Balai Arkeologi Makassar, the maket site "Lontange" had been used as a trading activities and a number of ancient coin from XVI till XVIII century also found there. Another archaeological remains found are the Bacukiki Kingdom Burial Site and also an ancient mosque. Besides, there also found a sacred ceremonial place where "Tolotang" beliefers celebrate an annual ceremony which located at Buluroang, the top of mount Bacukiki. The precence of Bacukiki site, hoped can be developed as one of the cultural tourism object.Sejarah mengungkapkan bahwa Kerajaan Bacukiki, Parepare dikunjungi oleh kapal-kapal Portugis sekitar abad XVI pada periode yang sama dengan Kerajaan Suppa, Alitta, Sidenreng dan Siang). Saat ini, pelabuhan bekas sungai bernama "Soreang padangkange "tidak jauh dari bekas pasar" lontange "masih dapat dilihat. Menurut informasi lokal, pasar" Lontange "adalah tempat untuk mengelola barang dari luar negeri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Makassar, situs pembuat" Lontange "telah digunakan sebagai kegiatan perdagangan dan sejumlah koin kuno dari abad XVI hingga XVIII juga ditemukan di sana. Sisa-sisa arkeologis lain yang ditemukan adalah Situs Pemakaman Kerajaan Bacukiki dan juga sebuah masjid kuno. Selain itu, juga terdapat tempat upacara sakral di mana Para penganut agama "Tolotang" merayakan upacara tahunan yang berlokasi di Buluroang, puncak gunung Bacukiki, yang menjadi lokasi sebelum situs Bacukiki, diharapkan dapat dikembangkan sebagai salah satu objek wisata budaya.
MANFAAT PELESTARIAN WARISAN BUDAYA “HIDUP” DI SEWO, SOPPENG Danang Wahju Utomo
WalennaE Vol 4 No 1 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2637.096 KB) | DOI: 10.24832/wln.v4i1.121

Abstract

Soppeng rich with megalithic tradition remains, probably similar with Toraja. Unfortunately, archaeologi­cal interests and development sectors are not design within multi-sectors planning blueprint. Archaeological remains and ceremonial activities, for instance Sewo site, is lack with appropriate management which can be sell to support Soppeng's local income increase of tourism sector. In fact, an integrated Sewo site exploita­tion and management may brings a new concept which has its implication widely, even with social and economical measurements as well.
NASIONALISME DAN PELESTARIAN BUDAYA Moh. Ali Fadillah
WalennaE Vol 3 No 2 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3869.602 KB) | DOI: 10.24832/wln.v3i2.104

Abstract

Tulisan ini memberikan gambaran tentang kondisi Arkeologi di Indonesia, dimana arkeologi Indonesia berada dalam keadaan yang sehat untuk mengalami berbagai perubahan, meskipun terus menghadapi berbagai tantangan dan aneka kepentingan. Pemerintah benar-benar mengerti bahwa tinggalan arkeologi di hargai wisatawan, menjadi sumber pendapatan Negara, tinggalan-tinggalan yang di angkat, dirawat dan di restorasi semakin banyak dilakukan di negeri in. mahasiswa juga terus menuntut ilmu, mengkader diri, mempersiapkan diri untuk menggantikan generasi arkeolog sekarang, dan dan media masa yang selalu tertarik menyampaikan temuan-temuan signifikan. Dengan begini, arkeologi menjadi bagian penting dari kebudayaan Indonesia itu sendiri.

Page 3 of 26 | Total Record : 252