cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2337621X     EISSN : 25810294     DOI : -
Journal of Fisheries and Marine Research (JFMR) is dedicated to published highest quality of research papers on all aspects of : Aquatic Resources, Aquaculture, Fisheries Resources Technology and Management, Fish Technology and Processing, Fisheries and Marine Social Economic and Marine Science. This journal is jointly published by Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University Malang Indonesia and Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani). JFMR is a new journal but related to the past journal of Faculty of Fisheries and Marine Science that is Jurnal Penelitian Perikanan (JPP) with ISSN: 2337-621X (print version) and website link of www.jpp.ub.ac.id
Arjuna Subject : -
Articles 640 Documents
Pemetaan Distribusi Kualitas Air Untuk Mendukung Budidaya Perikanan Menggunakan Sistem Informasi Geografis, Kasus Di Sungai Brantas, Kecamatan Bumiaji Arief Darmawan; Irfan Aziz Yoviandianto; Mohammad Mahmudi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 3 (2019): JFMR VOL 3 No. 3
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.603 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.03.13

Abstract

SungaiBrantasmerupakanyang terpanjang di Propinsi JawaTimur.Air sungai ini salah satunya dimanfaatkan sebagai sumberdaya untuk kegiatan perikanan budidaya di Punten.Disisi lainberbagai aktivitasmasyarakatsekitarSungai Brantas didugaberkontribusi pada penurunankualitas air. Oleh karena itu studi ilmiah yang sistematis perlu dilakukan untuk menjawabnya. Pada bagian awal, diambil Sungai Brantas di Kecamatan Bumiaji yang termasuk dalam bagian hulu sebagai studi kasus. Dari studiini bertujuan untukmengetahuikualitasairdiSub-DASBrantastersebut menggunakananalisis STORET, kemudian untuk mengetahuipengaruhtatagunalahan(landuse) terhadap kualitas air dengan analisis spasial menggunakan perangkat lunak SIG.Hasil analisis STORET menunjukkan bahwa mutuairpadaseluruhstasiunpengamatantergolong cemarsedangdenganparameteryangmelebihibakumutuyaituTSS, amoniadantotalfosfat.Kemudian analisis SIG menghasilkanpetadistribusikualitasairdan diketahui bahwa tatagunalahanberpengaruh terhadapkualitasair.Peta distribusikualitasairini berfungsiuntukmengetahuidaerahyangterjadipenurunankualitas airdan dapat digunakan untuk menyusun rekomendasikegiatan manajemen sumberdaya perairan untuk budidaya perikanan yang berkelanjutan.
Penggunaan Kappa Caragenan Sebagai Bahan Pengenkapsulasi Lactobacillus acidophilus Terhadap Viabilitas dan “Shelflife” Dwi Setijawati
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 2 (2019): JFMR VOL 3 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.132 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.02.16

Abstract

The aim of the study was to find out the effect of using kappa caragenan as an Lactobacillus acidophilus encapsulating material on viability and “shelflife”. The research method was an experimental laboratory design with Completely Randomized Design (CRD), ANOVA, followed by the Fisher test, to test for differences. Data analysis using Minitab 16 software. The research treatment was the concentration of kappa caragenan with sub-treatment as follows: A1 (2%); A2 (2.5%); A3 (3.0%); A4 (3.5%); A5 (4.0%); A6 (4.5%) The results showed that the use of different concentrations of kappa caragenan as an encapsulation material for Lactobacillus acidophilus had a very significant  difference effect on the viability of Lactobacillus acidophilus and encapsulation yield. Viability increases with increasing concentration of kappa caragenan used. The highest viability of 8.71 log CFu / mL was obtained using a 4.5% kappa caragenan concentration with a “Shelflife” calculation of 65.73 years of storage at 5oC. The research suggestion was testing 4.5% Lactobacillus acidophilus microcapsules encapsulated by kappa carrageenan in GI Tract simulation solution. Keywords: Eucheuma cottonii, Microencapsulation, Emulsification
PENINGKATAN KEAMANAN PANGAN DAN KUALITAS ORGANOLEPTIK IKAN ASAP KHAS DESA KARANGSARI TUBAN MELALUI INDUKSI PENGEMAS VAKUM Nurdiani, Rahmi; Jaziri, Abdul Aziz; Jatmiko, Yoga Dwi
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.5

Abstract

Produksi ikan asap di Kabupaten Tuban tumbuh secara signifikan karena lokasi penjualannya dekat lokasi wisata.Salah satu kawasan penghasil ikan asap ini beradadi Desa Karangsari, Tuban. Permasalahan keamanan pangan masih belum diperhatikan oleh para produsen ikan asap yang terlihat dari tampilan produk dalam keranjang secara terbuka dan pengemasan yang seadanya.Hal ini memengaruhi daya simpan produk yang hanya bertahan 1-2 hari. Oleh karena itu, kegiatan Doktor Mengabdi Universitas Brawijayabertujuan untuk meningkatkan kualitas produk ikan asap (mikrobiologi dan organoleptik) melalui induksi teknologi pengemasan vakum pada kelompok usaha pengasapan ikan. Metode pelaksanaan program ini adalah penyediaan teknologi pengemasan vakum, penyuluhan dan pelatihan pada mitra, serta pendampingan dan pengawasan. Adanya peningkatan status keamanan pangan produk ikan asap melalui penerapan teknologi pengemasan vakum yang disimpan dalam tiga kondisi (suhu ruang, dingin dan beku) ini dievaluasi melalui uji kualitasbaik secara mikrobiologimaupun organoleptik. Hasil uji total bakteri dan organoleptik menunjukkan pengemasan vakum dapat mempertahankan kualitas produk menjadi lebih baik dan lebih diterima konsumen. Kombinasi antara pengemasan vakum dan penyimpanan pada suhu dingin danbeku dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara optimal. Teknologi pengemasan vakum untuk produk ikan asap dapat meningkatkan keamanan pangan dannilai jual.
Strategi Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Merauke Dalam Rangka Mendukung Program Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Srialdoko, Jonet
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 2 (2019): JFMR VOL 3 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.02.11

Abstract

Dalam rangka pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan di Wilayah Timur Indonesia atau Kabupaten Merauke Propinsi Papua, dan pelaksanaan program SKPT, dilakukan kajian pengembangan PPN Merauke.  Kajian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan fasilitas dan sarana yang dimiliki pelabuhan, dan strategi yang harus dilaksanakan oleh pengelola pelabuhan dalam rangka pengembangan dan optimalisasi pemanfaatannya.  Untuk mendapatkan data yang komprehensif, kajian dilakukan berdasarkan data yang dikumpulkan dari periode Januari sampai dengan Desember 2017.  Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan metode deskriptif dan data yang didapatkan baik sekunder dan primer dianalisa dengan metode analisis tingkat pemanfaatan.  Untuk mendapatkan strategi yang harus dilaksanakan oleh pengambil kebijakan, digunakan analisis SWOT.  Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan fasilitas pokok PPN Merauke seperti lahan, dermaga, kolam pelabuhan, dan lainnya masih sangat rendah.  Sementara untuk fasilitas fungsional yang belum tersedia seperti BBM, Es, docking dan lainya masih diperlukan pengadaannya.  Analisis SWOT menunjukkan PPN Merauke memiliki kekuatan untuk dikembangkan dengan menerapkan strategi yang terdapat pada elemen kekuatan dan peluang (strategi SO), diantaranya sosialisasi keberadaan pelabuhan, peningkatan produksi, sistem rantai pemasaran, dan lainnya.  Pengelola pelabuhan disarankan untuk mengeliminir kelemahan dan ancaman yang dimilikinya seperti optimalisasi fasilitas dan sarana, mendorong kapal perikanan lokal dan yang memiliki pelabuhan swasta/tangkahan melakukan aktivitas di PPN Merauke.
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN SINTASAN IKAN KELI LOKAL (CLARIAS NIEUHOFII) ASAL PULAU BANGKA YANG DIPELIHARA PADA SUMBER AIR BERBEDA DI TAHAP AWAL DOMESTIKASI Ahmad Fahrul Syarif; Andi Gustomi; Achmad Sigid Purnomo Aji
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.196 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.10

Abstract

Ikan Keli Lokal (Clarias nieuhofii) memiliki nilai ekonomis yang tinggi khususnya di Kepulauan Bangka Belitung. Ikan ini berpotensi dikembangkan sebagai suatu komoditas ikan khas Bangka Belitung. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pemeliharaan ikan Keli Lokal pada sumber air yang berbeda. Penelitian ini dilaksankan pada bulan Agustus-November 2019 di Laboratorium Budidaya Perairan, Universitas Bangka Belitung dengan lama pemeliharaan 60 hari. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbedaan sumber air yang berasal dari air sumur (air bening), air alami dan campuran keduanya dilakukan sebagai perlakuan dengan masing-masing ulangan sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati adalah keragaan pertumbuhan meliputi (panjang dan bobot) mutlak, laju pertumbuhan spesifik dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan Keli Lokal merespon baik pada setiap sumber air yang berbeda dengan pertumbuhan bobot dan panjang mutlak yang tidak berbeda nyata (P>0,5), pada laju pertumbuhan spesifik ikan Keli Lokal merespon baik pada sumber air berasal dari air bening dan air alami, sintasan terbaik pada penelitian ini terlihat pada perlakuan air alami yaitu sebesar 67%, secara umum ikan Keli Lokal merespon positif di wadah budidaya pada tahap awal domestikasi.The Walking Slander Catfish (Clarias nieuhofii) had a hgh economic value especially on Bangka Belitung Island. This fish was potential to be developed for local comodity from Bangka Belitung. This research aimed to evaluate a Walking Slander Catfish cultured on different sources of water. This research conducted on August-November 2019 in Laboratory of Aquaculture, University of Bangka Beiltung. This research arranged by Compeletely Randomzed Design (CRD) with the different water sources as the teratments from well (clear water), natural water and mixed of (clear water x natural water). The parameter which was to observed are growth performance (weight and length) absolute, specific growth rate and surival rates. The result showed the Walking Slander Catfish had a positively response for different water sources in growth of absolute weight and length with had no significantly different (P>0,5), for specific growth rate the Walking Slander Catfish had better response on clear and natural water as the source, a good survival rate showed on natural water with value 67%, naturally the Walking Slender Catfish had a positively response cultured on early stage of domestication.
STATUS TROPIK DAN ISI LAMBUNG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DARI WADUK WONOREJO, TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR Diana Arfiati; Asthervina Widyastami Puspitasari; Diana Putri Renitasari; Irawati Mei Widiastuti
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 2 (2019): JFMR VOL 3 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.336 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.02.6

Abstract

Plankton merupakan salah satu jenis pakan alami yang berperan penting untuk pertumbuhan organisme akuatik terutama ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis plankton beserta kelimpahannya di perairan dan di lambung ikan nila yang tertangkap di Waduk Wonorejo, beserta aktivitas enzimatis lambung ikan nila tersebut. Penelitian ini bertempat di Waduk Wonorejo, Tulungagung, Jawa Timur dengan metode survei. Sampel diambil dari 2 stasiun, yaitu stasiun pertama di daerah wisata Waduk Wonorejo, sedangkan stasiun 2 berada di wilayah pemancingan umum Waduk Wonorejo. Plankton di perairan Waduk Wonorejo ditemukan 17 genus fitoplankton, dan 5 genus zooplankton, sedangkan di lambung ikan nila ditemukan 30 genus fitoplankton dan 2 genus zooplankton. Genus Spirogyra sp. merupakan genus yang paling tinggi kehadirannya baik di lambung maupun perairan Waduk Wonorejo. Kelimpahan plankton di perairan waduk dapat digolongkan oligotrofik dengan nilai kelimpahan plankton sebesar 1487 ind/ml di stasiun 1 dengan keanekaragaman tinggi dan 746 ind/ml di stasiun 2 dengan keanekaragaman sedang, serta tidak ada jenis plankton tertentu yang mendominasi di kedua stasiun tersebut. Analisis aktivitas enzim lambung ikan nila menunjukkan aktivitas enzim protease sebesar 0,84 ± 0,02 µmol tirosin/g enzim menit; enzim amilase 14,59 ± 1,07 µmol glukosa/g enzim menit; enzim lipase 17,83 ± 0,14 µmol asam lemak/g enzim menit. Kualitas air di Waduk Wonorejo tergolong baik dengan suhu berkisar 26,3-27,3 oC, pH 7, DO 7,1-8,4 mg/L, Kecerahan 110-154 cm, TOM 19-30,3 mg/L. Maka dari itu upaya untuk mempertahankan kondisi Waduk Wonorejo agar tetap oligotrofik perlu dilakukan.
SINTASAN DAN PERKEMBANGAN COCCON LINTAH LAUT (Zeylanicobdella arugamensis) PADA SUHU YANG BERBEDA Ketut Mahardika; Indah Mastuti; Mr. Zafran
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.539 KB) | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.15

Abstract

Lintah laut (Zeylanicobdella arugamensis) merupakan ektoparasit yang sering menginfeksi ikan kerapu di keramba jaring apung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu inkubasi terhadap sintasan lintah laut dan perkembangan coccon (telur). Lintah laut dikoleksi dari ikan kerapu hibrida cantang (panjang total 5-7 cm) dan menempatkannya pada cawan petri. Sebanyak 108-232 ekor lintah laut hidup ditempatkan dalam setiap satu cawan petri yang telah diisi air laut dengan salinitas 32 ppt (total 16 cawan petri). Masing-masing 4 cawan petri di inkubasi dalam inkubator suhu 37, 30 dan 25 °C, dan suhu ruang 20-23 °C. Lintah laut dan coccon yang dihasilkan diinkubasi selama 18 hari, Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lintah laut dapat bertahan hidup selama: 3 hari pada suhu 36-37 °C, 10 hari pada suhu 29-30 °C, 13 hari pada suhu 20-23 °C, dan 15 hari pada suhu 25-26 °C. Akan tetapi, jumlah lintah laut yang bertahan hidup menurun seiring pertambahan waktu inkubasi. Rata-rata jumlah coccon yang berkembang pada suhu inkubasi 25-26 °C lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan suhu inkubasi lainnya. Coccon yang menetas menjadi larva lintah laut menunjukkan jumlah tertinggi (38,71±7,90% b) pada suhu inkubasi 25-26 °C dan berbeda nyata dibandingkan dengan jumlah coccon yang menetas pada suhu inkubasi 29-30 °C (3,86±2,95% a).  Sedangkan coccon pada suhu 36-37 °C dan 20-23 °C tidak ada yang menetas (0 a). Hasil tersebut menunjukkan bahwa lintah laut dan coccon mampu bertahan hidup lebih lama dan menetas lebih banyak pada suhu 25-26 °C.
PERBEDAAN WAKTU AWAL PEMBERIAN LARVA IKAN SEBAGAI PAKAN DALAM PEMELIHARAAN LARVA IKAN TUNA SIRIP KUNING Thunnus albacares Mr. Gunawan; Jhon Harianto Hutapea
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.20

Abstract

ABSTRAKSalah satu penyebab kematian larva ikan tuna pada stadia awal adalah sifat larva ikan tuna yang beralih dari sifat planktivorus ke piscivorus dalam stadia larva, dimana untuk mempertahankan hidup dan pertumbuhannya harus terdapat larva ikan sebagai ransum pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu yang tepat untuk memulai pemberian pakan berupa larva ikan yang baru menetas pada pemeliharaan larva ikan tuna sirip kuning. Penelitian dilaksanakan di hatcheri ikan tuna dan laboratorium Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP), Gondol. Telur ikan tuna ditebar dalam bak beton ukuran 3x2x1 m (volume 6 m3) dengan kepadatan 100.000 butir/bak. Perlakuan yang diujicobakan adalah waktu awal pemberian larva ikan tuna yang baru menetas sebagai pakan untuk larva ikan tuna sirip kuning dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan : A. Mulai umur tujuh hari;  B. Mulai umur sembilan hari, dan C. Mulai umur sebelas hari. Pengambilan gambar larva dengan menggunakan program ACT-1 dan analisa data dengan ANOVA. Dari ketiga perlakuan dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa perlakuan A menghasilkan pertumbuhan dan sintasan benih yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan B dan C. Tetapi dari analisa statistik menunjukan tidak beda nyata dari semua perlakuan. Pemberian pakan larva tuna yang baru menetas pada perlakuan A dapat mengurangi kematian larva yang terjadi pada larva stadia awal, tetapi tidak dapat mengurangi kematian larva setelah umur limabelas hari sampai menjadi juvenil.
HEALTH RISK ASSESSMENTS OF HEAVY METALS OF PERNA VIRIDIS FROM BANYUURIP WATERS IN UJUNG PANGKAH, GRESIK Muhammad Fathur Rayyan; Defri Yona; Syarifah Hikmah Julinda Sari
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 3, No 2 (2019): JFMR VOL 3 NO 2
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.02.2

Abstract

Banyuurip is one of villages in Ujung Pangkah District, Gresik with high aquaculture activities of Perna viridis. Green mussels are highly produced in that area, however Banyuurip waters also has potential risk of heavy metals pollution. Therefore, this research was conducted to understand the concentrations of Fe and Zn in the sediments and in the Green Mussels. The heavy metals concentration will be used to analyze Bio Concentration Factor (BCF) and Human Health Risk Assessments (HHRA). A total about 45 P. viridis populations were collected from 3 sites in Banyuurip waters. In order to obtain a representative sample at each site, 15 populations of Green Mussels with similar shell lengths and bottom sediment were collected. Mussel’s tissue and bottom sediment were analyzed using AAS (AAnalyst700) to determine the concentrations of Fe and Zn. The concentrations of Fe were found almost similar with the concentrations of Zn in P. viridis within the range of Fe = 3.10 – 5.25 mg.kg-1 and Zn = 3.91 - 4.67 mg.kg-1. BCF (o-s) of Fe in P. viridis is lower than the BCF (o-s) of Zn, because the concentrations of Fe in the mussels were less than the concentrations in the sediments. According to the Target Hazard Quotients (THQ) values (THQ < 1), both heavy metals are not likely causing negative health effects for human during lifetime. However, Estimated Daily Intakes (EDI) values are above Provisional Tolerable Daily Intakes (PTDI) standard means it can cause negative effects due to daily consumption (EDI > PTDI).
PENETAPAN UKURAN MATA JARING LANGLI UNTUK PENANGKAPAN BILIH (Mystacoleucus padangensis) DI DANAU SINGKARAK Andri Warsa; Andika Luki Setiyo Hendrawan; Mr. Krismono
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 4, No 1 (2020): JFMR VOL 4 NO 1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2020.004.01.25

Abstract

Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) yang spesies merupakan endemik di Danau Singkarak dan mempunyai nilai ekonomis penting dan dominan tertangkap oleh nelayan dengan menggunakan alat tangkap langli. Namun saat ini populasinya telah mengindikasikan penurunan sebagai akibat penggunaan alat tangkap yang tidak selektif. Oleh karena itu perlu adanya suatu penelitian mengenai selektivitas alat tangkap langli sebagai upaya pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan ukuran mata jaring langli yang dapat digunakan serta panjang total ikan bilih yang boleh ditangkap. Penelitian dilakukan pada bulan Juli dan September 2019 dengan percobaan penangkapan menggunakan jaring langli dengan ukuran mata jaring 5/8; ¾; 1,0 dan 11/4 inci di Sumpur dan Aripan. Panjang total ikan bilih betina dan jantan yang tertangkap selama penelitian masing-masing berkisar 5,0-10,9 cm dan 5,0-9,9 cm. Penggunaan mata jaring 5/8 dan ¾ inci akan mengakan ikan bilih pada ukuran lebih kecil dari Lm. Adanya tekanan penangkapan yang ditandai oleh penurunan ukuran ikan yang tertangkap serta ukuran pertama kali matang gonad. Oleh karena itu perlu adanya penetapan ukuran mata jaring dan ukuran ikan bilih yang boleh dieksploitasi. Jaring langli yang boleh digunakan untuk penangkapan harus memiliki ukuran mata jaring ≥ 1,0 inci dengan ukuran panjang total ikan bilih > 10 cm. Ukuran panjang total tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan ukuran pertama kali matang gonad serta memberikan hasil optimal.

Page 6 of 64 | Total Record : 640