cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Filsafat
ISSN : 08531870     EISSN : 25286811     DOI : -
Jurnal Filsafat is a scientific journal that first published in 1990, as a forum for scientific communication, development of thinking and research in philosophy. Jurnal Filsafat is published twice a year, in February and August with p-ISSN: 0853-1870, and e-ISSN: 2528-6811 The Editorial Team of Jurnal Filsafat accepts manuscript in the field of philosophy which has never been published in other media. Editorial Team has the right to edit the manuscript as far as not changing the substance of its contents.
Arjuna Subject : -
Articles 580 Documents
[JF] Indeks Volume 31 Tahun 2021 Redaksi Jurnal Filsafat
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 31, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.69149

Abstract

Pandangan Gabriel Marcel tentang Manusia dalam Konteks Peristiwa Bencana Alam Septiana Dwiputri Maharani
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 22, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.3076

Abstract

Saat ini banyak sekali bencana menimpa dan memakan banyak korban. Korban tidak pernah merupakan suatu pilihan objek, bahkan korban sendiri tidak pernah memilih. Realitas sosial yang menggambarkan kehidupan bersama menuntut hubungan yang baik dalam cara pandang dan interaksi intersubjektivitas. Konsep Gabriel Marcel tentang hakikat diri dan hubungan intersubjektif merupakan konsep yang bisa digunakan untuk menemukan sejauhmana konsep tentang cinta kasih dan harapan dalam setiap umat manusia. Konsep ini diharapkan dapat dihubungkan dengan persoalan empati terhadap persoalan bencana saat ini.                Menurut Marcel, eksistensi manusia tidak dapat diobjektivikasi, namun sebagai wujud konkret diri. Marcel menghargai relasi sebagai wujud dinamika manusia mencapai taraf ‘menjadi’ dan sifat ketergantungan manusia.  Kemudian relasi intersubjektif ditandai dengan kehadiran yang harus dipenuhi dengan cinta kasih, empati, dan kesetiaan, sehingga tercipta empati terhadap sesama, sehingga dalam melihat korban bencana bukan sebagai objek yang dikasihani. Pentingnya harapan bagi korban bencana yang dapat membuat manusia tenang dan tidak takut terhadap kematian, juga menumbuhkan kepercayaan. Keputusasaan diakibatkan oleh hilangnya harapan, kepercayaan, dan cinta kasih. Cinta kasih merupakan jalan tengah bagi mereka yang senantiasa melihat sesuatu secara parsial dan ekstrem. Cinta menghilangkan kebencian, seperti harapan yang menghilangkan ketakutan, keterputusasaan bagi korban bencana.Kata kunci: subjek-objek, relasi, bencana, cinta kasih, empati.
Metafisika Simbol Keris Jawa Nurhadi Siswanto
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 22, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.3104

Abstract

Persoalan esensial dalam pengkajian metafisika simbol didasarkan pada dua pertanyaan pokok yaitu: (1) apakah simbol imanen dalam kemanusiaan saja (hanya berakar dan terbatas dalam roh manusia saja) ataukah simbol juga berakar kepada yang transenden (yang mengatasi manusia dan kehidupannya)?; dan (2)  apakah simbol hanya berdimensi horizontal saja ataukah berdimensi vertikal juga?Penciptaan keris merupakan perpaduan dari keinginan, harapan, tujuan, dan manfaat yang diinginkan dari sang pemesan keris dengan olah rasa, karsa, dan cipta sang empu yang terwujud dalam simbol-simbol pada luk, dhapur, dan pamor keris. Sang empu dalam proses tersebut, masuk dalam dimensi simbol-simbol umum yang berlaku dalam masyarakat Jawa. Keris Jawa bila dianalisis dari sudut metafisika simbol, maka terlihat simbolisasi keris Jawa pada golongan awam (masyarakat umum) lebih bersifat vertikal-transendental; pada golongan khusus (kaum intelek) simbolisasi keris Jawa berdimensi ganda yaitu vertikal-transendental, sekaligus horizontal-imanen; sedangkan pada golongan baru (yang menganggap keris adalah benda seni), simbolisasi keris Jawa lebih berdimensi horizontal-imanen.Kata kunci: keris, simbol, metafisika
FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DAN SUMBANGANNYA BAGI PENDIDIKAN INDONESIA Henricus Suparlan
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 25, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.7914

Abstract

Globalisasi yang dipengaruhi oleh kepentingan pasar telah mengakibatkan pendidikan tidak sepenuhnya dipandang sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan proses pemerdekaan manusia, tetapi mulai bergeser menuju pendidikan sebagai komoditas. Untuk menangkal model pendidikan sebagai komoditas maka konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ditawarkan sebagai solusi terhadap distorsi-distorsi pelaksanaan pendidikan di Indonesia dewasa ini.Menurut Ki Hadjar Dewantara, hakikat pendidikan adalah sebagai usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya ke dalam diri anak, sehingga anak menjadi manusia yang utuh baik jiwa dan rohaninya. Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara disebut dengan filsafat pendidikan among yang di dalamnya merupakan konvergensi dari filsafat progresivisme tentang kemampuan kodrati anak untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dengan memberikan kebebasan berpikir seluas-luasnya, dipadukan dengan pemikiran esensialisme yang memegang teguh kebudayaan yang sudah teruji selama ini. Dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara menggunakan kebudayaan asli Indonesia sedangkan nilai-nilai dari Barat diambil secara selektif adaptatif sesuai dengan teori trikon (kontinyuitas, konvergen dan konsentris).Tiga kontribusi filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan Indonesia adalah penerapan trilogi kepemimpinan dalam pendidikan, tri pusat pendidikan dan sistem paguron.Kata kunci : progresivisme, esensialisme, among.
RELASI ANTARMANUSIA DALAM NILAI-NILAI BUDAYA BUGIS: PERSPEKTIF FILSAFAT DIALOGIS MARTIN BUBER Muhammad Hadis Badewi
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 25, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.12581

Abstract

Artikel ini ingin mengungkap fenomena kearifan lokal tentang relasi antarmanusia pada masyarakat Bugis yang terdapat dalam kitab La Galigo. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan konsep relasi antarmanusia yang terdapat dalam nilai-nilai budaya Bugis dan relevansinya dengan pembangunan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Filsafat dialogis Martin Buber, yang menguraikan tentang relasi antarmanusia, digunakan sebagai sebuah perspektif dalam artikel ini. Ada tiga bentuk relasi yang terdapat dalam pemikiran Buber, I – It, I – Thou, dan I – Eternal Thou. Berbicara tentang relasi antarmanusia, dalam kearifan lokal masyarakat Bugis, nilai-nilai semacam itu telah lama dimiliki dan dipahami dalam bentuk konsepsi budaya. Konsep relasi sipakasiri' dipahami sebagai konsep relasi yang tabu, konsep relasi sipassiriki dianggap sebagai konsep ideal dalam membangun relasi antarmanusia, yang kemudian memuncak pada konsep mappesona ri dewata seuwwae. Berdasarkan konsep-konsep tersebut, bisa dikatakan bahwa kajian relasi antarmanusia yang terdapat dalam nilai-nilai budaya Bugis, memiliki relevansi yang kuat dengan upaya pembangunan Hak Asasi Manusia di Indonesia.
CHARACTER BUILDING DALAM KONSEP PENDIDIKAN IMAM ZARKASYI DITINJAU DARI FILSAFAT MORAL IBNU MISKAWAIH Najwaa Mu'minah
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 25, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.12582

Abstract

Pudarnya nilai-nilai moralitas dalam kehidupan masyarakat, terlebih dalam birokrasi politik dan pemerintahan, ditunjukkan oleh berbagai anomali dan immoralitas, seperti korupsi, sudah menjadi norma dan budaya yang sulit dikendalikan. Kondisi spirit dan moralitas bangsa yang sedemikian ini menunjukkan urgensi pengembangan kembali model pendidikan karakter sebagai upaya national healing. Imam Zarkasyi,pendiri Pondok Pesantren Modern Gontor, menerapkan character building dalam pendidikan modernnya. Ditinjau dari filsafat akhlak Miskawaih, Imam Zarkasyi mengajarkan keutamaan akhlak dengan mentransformasi livingvalues dari Panca Jiwa dan Motto Kemodernan. Upaya pembaharuan sistem, metode, dan kurikulum pendidikan dilakukan dalam rangka pembangunan karakter, dengan menerapkan prinsip jalan tengah (the Golden Mean) Ibnu Miskawaih, tetapi ia dudukkan dalam konteks modernisme pendidikan Islam. Beberapa aspek pendidikan karakter Imam Zarkasy yang sangat mendukung bagiprogram pendidikan karakter dan menemukan relevasinya adalah: pertama, keunggulan wawasan kepemimpinan dalam model pesantrennya; kedua, konsepsi teleologis tentang akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan karakter; ketiga, pengembangan metodis melalui lingkungan pendidikan bermodel pondok pesantren agar pendidikan lebih optimal dan efisien; keempat, sumbangan praksis berupa kurikulum yang integral dan komprehensif. Di dalam konsep dan gerakan pembaharuan pendidikan yang ia lakukan, terkandung konsep pendidikan karakter yang cukup matang dan teruji sehingga patut digali manfaatnya oleh bangsa ini.
MAKNA KEJAHATAN STRUKTURAL KORUPSI DALAM PERSPEKTIF TEORI STRUKTURASI ANTHONY GIDDENS Imadah Thoyibbah
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 25, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.12583

Abstract

Korupsi adalah realitas kejahatan yang tidak lepas dari struktur dan agensi manusia. Perspektif teori strukturasi menekankan adanya relasi dualitas antara agen dan struktur. Struktur meliputi aturan-aturan dan sumberdaya-sumberdaya, serta sistem sosial yang dimobilisasi dalam ruang-waktu oleh agenagen sosial. Korupsi sebagai kejahatan struktural melibatkan struktur mikro dan struktur makro. Pertama, korupsi merupakan kejahatan yang terjadi akibat banalitas (pembiaran/pembiasaan) yang motifnya adalah keserakahan, ketidakjujuran, kesombongan, kepicikan, kedangkalan berpikir dan kepuasan yang sifatnya subjektif. Motif-motif ini terbungkus dalam sistem produksi dan reproduksi aktivitas sosial yang bersifat dialektik. Kedua, korupsi ditopang oleh kondisi modernitas yang mengglobal akibat peristiwa; perentangan ruangwaktu, perkembangan mekanisme pencabutan/ketaktersimpanan lokalitas konteks, dan perkembangan refleksivitas pengetahuan. Agen-agennya adalah mereka yang memiliki nilai intervensi (efek) terhadap suatu tindakan yang korup. Berbagai upaya pembenaran terhadap tindakan korupsi merupakan bentuk rasionalisasi tindakan oleh agen manusia sebagai makhluk kreatif dan refleksif. Motifnya adalah untuk menghindari tanggung jawab moral dan hukum sosial. Perubahan sosial yang bisa dilakukan adalah dengan 'derutinisasi' struktur atau mengambil jarak dengan pengawasan refleksif dari struktur yang mengekang sekaligus memberdayakan benih-benih korupsi yang melibatkan struktur signifikasi, dominasi, dan legitimasi dalam konstitusi-konstitusi sosial.
SISTEM KEKERABATAN DALAM KEBUDAYAAN MINANGKABAU: PERSPEKTIF ALIRAN FILSAFAT STRUKTURALISME JEAN CLAUDE LEVI-STRAUSS Misnal Munir
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 25, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.12584

Abstract

Kebudayaan Minangkabau adalah satu kebudayaan yang masih menganut sistem kekerabatan yang berdasarkan pada asas matrilineal hingga saat ini. Artikel ini bertujuan untuk memahami hubungan kekerabatan dalam kebudayaan Minangkabau berdasarkan teori Strukturalisme antropologis Levi-Strauss. Sistem kekerabatan dalam kebudayaan Minangkabau, menurut perspektif Strukturalisme Levi-Strauss, menempatkan laki-laki sebagai sarana komunikasi antarklen atau suku. Kebudayaan Minangkabau yang menganut sistem matrilineal menempatkan perempuan sebagai pihak yang menetap, sedangkan laki-laki sebagai pihak yang mendatangi rumah perempuan. Sistem kekerabatan matrilineal ini menempatkan perempuan sebagai pewaris harta kekayaan, dan laki-laki sebagai pihak yang berpindah ke rumah perempuan.
NILAI FILOSOFIS BUDAYA MATRILINEAL DI MINANGKABAU (RELEVANSINYA BAGI PENGEMBANGAN HAK-HAK PEREMPUAN DI INDONESIA) Iva Ariani
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 25, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.12585

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif untuk menemukan esensi budaya matrilineal adat Minangkabau menurut Filsafat Feminisme. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan membagi daerah penelitian di Sumatera Barat ke dalam dua kelompok besar yaitu Minang Pesisir dan Minang Bukit. Selanjutnya peneliti mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi langsung ke daerah tersebut untuk mendapatkan bukti dan data tentang sistem matrilineal di Sumatera Barat. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan metode interpretasi dan hermeneutika yang selanjutnya dijabarkan ke dalam suatu konsep yang dapat dipakai sebagai bahan masukan bagi perkembangan proses penegakan hak-hak perempuan di Indonesia. Penelitian ini bermanfaat bagi perkembangan gerakan- gerakan wanita dan undang-undang tentang kewanitaan di Indonesia dari sisi yang lebih sesuai dengan kepribadian dan budaya masyarakat Indonesia sendiri karena diangkat dari kearifan lokal dan budaya lokal masyarakat Indonesia sehingga diharapkan akan lebih sesuai dalam rangka menawarkan nilainilai feminis yang sesuai untuk masyarakat Indonesia.
FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DAN SUMBANGANNYA BAGI PENDIDIKAN INDONESIA Henricus Suparlan
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 25, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jf.12586

Abstract

Globalisasi yang dipengaruhi oleh kepentingan pasar telah mengakibatkan pendidikan tidak sepenuhnya dipandang sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan proses pemerdekaan manusia, tetapi mulai bergeser menuju pendidikan sebagai komoditas. Untuk menangkal model pendidikan sebagai komoditas maka konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ditawarkan sebagai solusi terhadap distorsi-distorsi pelaksanaan pendidikan di Indonesia dewasa ini. Menurut Ki Hadjar Dewantara, hakikat pendidikan adalah sebagai usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya ke dalam diri anak, sehingga anak menjadi manusia yang utuh baik jiwa dan rohaninya. Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara disebut dengan filsafat pendidikan among yang di dalamnya merupakan konvergensi dari filsafat progresivisme tentang kemampuan kodrati anak untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dengan memberikan kebebasan berpikir seluas-luasnya, dipadukan dengan pemikiran esensialisme yang memegang teguh kebudayaan yang sudah teruji selama ini. Dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara menggunakan kebudayaan asli Indonesia sedangkan nilai-nilai dari Barat diambil secara selektif adaptatif sesuai dengan teori trikon (kontinyuitas, konvergen dan konsentris). Tiga kontribusi filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan Indonesia adalah penerapan trilogi kepemimpinan dalam pendidikan, tri pusat pendidikan dan sistem paguron.

Filter by Year

1990 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 36, No 1 (2026): (Article in Press) Vol 35, No 1-2 (2025): Special Issue 2025: Law and Politics Vol 35, No 2 (2025): (Article in Press) Vol 35, No 1 (2025) Vol 34, No 2 (2024) Vol 34, No 1 (2024) Vol 33, No 2 (2023) Vol 33, No 1 (2023) Vol 32, No 2 (2022) Vol 32, No 1 (2022) Vol 31, No 2 (2021) Vol 31, No 1 (2021) Vol 30, No 2 (2020) Vol 30, No 1 (2020) Vol 29, No 2 (2019) Vol 29, No 1 (2019) Vol 28, No 2 (2018) Vol 28, No 1 (2018) Vol 27, No 2 (2017) Vol 27, No 1 (2017) Vol 26, No 2 (2016) Vol 26, No 1 (2016) Vol 25, No 2 (2015) Vol 25, No 1 (2015) Vol 24, No 2 (2014) Vol 24, No 1 (2014) Vol 23, No 3 (2013) Vol 23, No 2 (2013) Vol 23, No 1 (2013) Vol 22, No 3 (2012) Vol 22, No 2 (2012) Vol 22, No 1 (2012) Vol 21, No 3 (2011) Vol 21, No 2 (2011) Vol 21, No 1 (2011) Vol 20, No 3 (2010) Vol 20, No 2 (2010) Vol 20, No 1 (2010) Vol 19, No 3 (2009) Vol 19, No 2 (2009) Vol 19, No 1 (2009) Vol 18, No 3 (2008) Vol 18, No 2 (2008) Vol 18, No 1 (2008) Vol 17, No 3 (2007) Vol 17, No 2 (2007) Vol 17, No 1 (2007) Vol 16, No 3 (2006) Vol 16, No 2 (2006) Vol 16, No 1 (2006) Vol 14, No 3 (2004) Vol 14, No 2 (2004) Vol 14, No 1 (2004) Vol 13, No 3 (2003) Vol 13, No 2 (2003) Vol 13, No 1 (2003) Vol 10, No 2 (2000) Jurnal Filsafat Seri 30 Oktober 1999 Jurnal Filsafat Seri 29 Juni 1999 Jurnal Filsafat Seri 28 Juli 1997 Jurnal Filsafat Seri 27 Maret 1997 Jurnal Filsafat Edisi Khusus Agustus 1997 Jurnal Filsafat Seri 26 Desember 1996 Jurnal Filsafat Seri 25 Mei 1996 Jurnal Filsafat Seri 24 Februari 1996 Jurnal Filsafat Seri 23 November 1995 Jurnal Filsafat Seri 22 Agustus 1995 Jurnal Filsafat Seri 21 Mei 1995 Jurnal Filsafat Seri 20 Desember 1994 Jurnal Filsafat Seri 19 Agustus 1994 Jurnal Filsafat Seri 18 Mei 1994 Jurnal Filsafat Seri 17 Februari 1994 Jurnal Filsafat Seri 16 November 1993 Jurnal Filsafat Seri 15 Agustus 1993 Jurnal Filsafat Seri 14 Mei 1993 Jurnal Filsafat Seri 13 Februari 1993 Jurnal Filsafat Seri 12 November 1992 Jurnal Filsafat Seri 11 Agustus 1992 Jurnal Filsafat Seri 10 Mei 1992 Jurnal Filsafat Seri 9 Februari 1992 Jurnal Filsafat Seri 8 November 1991 Jurnal Filsafat Seri 7 Agustus 1991 Jurnal Filsafat Seri 6 Mei 1991 Jurnal Filsafat Seri 5 Februari 1991 Jurnal Filsafat Seri 4 November 1990 Jurnal Filsafat Seri 3 1990 Jurnal Filsafat Seri 1 1990 More Issue