cover
Contact Name
Zaini Tamin AR
Contact Email
zainitamim@gmail.com
Phone
+6285732024211
Journal Mail Official
zainitamim@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wedoro PP No. 66, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, 61253
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam
ISSN : 20874820     EISSN : 25798995     DOI : https://doi.org/10.54180/elbanat
Core Subject : Religion, Education,
FOCUS The focus of this paper is an attempt to actualize a better understanding of the science of islam and Islamic thought, both locally and internationally through the publication of articles, research reports, and book reviews. SCOPE This journal Contains Islamic studies included education , legal, political , economic , social and cultural
Articles 142 Documents
Islam dan Kapitalisme; Sebuah Oposisi Biner antar Peradaban Edi Kuswadi
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.414 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.21-41

Abstract

Tidak diragukan lagi bahwa Kapitalisme merupakan salah satu sistem perekonomian yang dominan saat ini, telah menjelma menjadi ideologi baru. Jika awal hanya berkisar pada pasar bebas, kepemilikan pribadi yang tak terbatas, maka kini ia lebih merupakan sebuah budaya, gaya hidup bahkan peradaban baru. Yang mendikte segala aspek kehidupan manusia. Sebagai sebuah peradaban Kapitalisme mendapatkan perlawanan dari Islam. Islam yang biasanya dilihat hanya sebatas agama, ternyata sejatinya lebih dari hanya sebatas agama, namun telah mencakup elemen-elemen dasar dari sebuah peradaban. Jika Kapitalisme membangun suatu peradaban dengan poin khasnya mengenai teori pertumbuhan sosial-ekonomi, maka Islam tidak melihatnya menjadi pondasi dasar. Puncaknya dalam Islam, kehidupan dunia selalu terkait erat dengan konsep kehidupan akhirat. Sedangkan kapitalisme memisahkan moralitas dari teologi. Selanjutnya Islam tidak menafikan perlunya rasionalitas untuk menyelesaikan masalah kehidupan dunia, tapi konsep rasional dalam Islam tidak hanya terbatas pada logika matematis, ia melibatkan pula dimensi spiritual.
Problematika Pembaharuan Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia Imron Mustofa
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.861 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.43-65

Abstract

Diskusi tentang pemikiran Islam di Indonesi selalu saja menjadi rangkaian proses berkesinambungan yang tiada habisnya. Alasannya simple, yaitu guna menjaga dan memelihara universalisme Islam dari penyelewengan yang mungkin terjadi. Dalam perkembangannya rangkain ini, mengalami tarik ulur pemaknaan, ada yang tetap kekeh pada kesatuan antara Islam dan pemikiran keIslaman, namun ada juga yang ingin membaginya kedalam dua entitas yang berbeda. Artikel ini hadir guna menyuguhkan jawaban tegas, atas permasalahan ini, sembari mencoba memaparkan beberapa konseuensi yang mungkin dari perselisihan ide tersebut. Dari pembacaan, tajdīd mengalami tarik ulur pengertian. Ada yang mendefinisikannya sebagai suatu proses mengekstrak nilai-nilai yang sejati melalui pemahaman yang benar, berdasar teks, tanpa mengkultuskan konteks perubahan zaman sebagai causa prima. Di lain pihak, pihak penantang ide tersebut mencoba menempatkan gagasan-gagasan pembaharuan yang berkisar; pentingnya konstektualisasi ijtihād; rasionalitas dalam pembaruan; pro pluralisme sosial dan agama; serta eliminasi agama dari sosio-politik. Konsekuensi logis dari gagasan yang disebut terakhir adalah lahirnya pandangan bahwa Islam perlu diperbaharui, agar lebih bersahabat terhadap konsep-konsep pluralisme agama, relativisme dan dekonstruksi metode pengambilan hukum, bahkan juga haru berani menyatakan bahwa produk pemikiran cendekiawan terdahulu sudah tidak lagi valid, dan perlu reformulasi ulang agar sesuai konteks kekinian.
Trilogi Masyarakat, Agama dan Ilmu sebagai Bangunan Pendidikan dalam Islam Agus Darmawan
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.72 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.66-81

Abstract

Sebagai pemeran utama dalam perubahan, perkembangan dan kemejuan, masyarakat, agama dan ilmu pengetahuan harus mampu bertahan dari segala hal yang membingungkan. Hal-hal yang mencampuradukkan antara kebenaran dan kepalsuan, kenyataan dan ilusi serta tawaran-tawaran cara pandang ambigu, yang akhirnya akan menyandera diri mereka dalam batasan wilayah tertentu. Batasan-batasan ini akan mampu dirobohkan jika memiliki cara pandang yang baik, benar dan tepat, yaitu cara pandang yang berlandas pada agama dengan diperuncing oleh tingkat keilmuan yang mumpuni serta ditopang oleh sebuah sistem organisasi yang tertata rapi. Dengan pemimpinnya sebagai public figure yang kompeten. Seorang figur yang dapat menunjukkan pilihan yang terbaik, relevan serta sesuai kebutuhan dengan cara yang sangat hati-hati, namun tetap berada dalam koridor normative yang baik, yaitu agama.
Gerakan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Naquib al-Attas Anita Mauliyah
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 6 No. 1 (2016): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.527 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2016.6.1.111-121

Abstract

Syed Muhammad Naquib al-Attas, merupakan sosok yang telah menorehkan tinta emasnya dalam pergolakan pemikiran di dunia ilmu pengetahuan Islam. Berbagai pemikiran yang telah diketengahkannya di dalam realitas dunia keilmuwan telah mampu menggugah nuansa berfkir bagi kaum intelek, pelajar dan masyarakat luas. Salah satu bentuk pemikiran yang menggelitik dunia keilmuwan adalah pandangan beliau tentang islamisasi ilmu. Dari berbagai buku yang ditulisnya, beliau memberikan ulasan yang luas dan mendalam serta mendudukkan keberadaan ilmu dan Islam demi menjawab permasalahan selama ini. Sebagaimana dalam dunia keilmuwan bahwa terkesan adanya pemisahan antara ilmu dan agama.
Al-Ghazali di Mata Orientalis Riduwan Riduwan
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.523 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.82-95

Abstract

Artikel ini merupakan review article dari buku Al-Ghazali's Philosophical Theology karya Frank Griffel, khususnya bab ketiga dan keempat dengan judul “al-Ghazālī on the Role of falsafa in Islam” dan “The Reconciliation of Reason and Revelation through the “Rule of Interpretation” (Qānūn al-ta`wīl)”. Melalui telaah buku ini, peneliti mendapati bahwa; pertama Griffel menilai bahwa dalam kontemplasi ilmiahnya, al-Ghazali menggunakan beberapa terminology ash’ariyah hanya untuk menghadapi orang awam, namun dalam pemikiran dan ide-idenya ia sangat mengagumi Ibn Sina. Kedua, dalam permasalahan sufisme penulis teridentifikasi ingin menempatkan tokoh tersebut sebagai seorang panteis. Pernyataannya jelas “fanā` adalah “all being is God, all that exists (al-wujūd) is He”. Ketiga, terlepas dari kecenderungan penulis, yang menarik adalah Griffel ingin mengusung ide “baru” tentang penanggalan bagi tahun kelahiran al-Ghazali, yaitu 1056, bukan 1058 seperti yang diyakini historiografi tradisional.
Geliat Teori Sistem dalam Membaca Fenomena Pendidikan Mohammad Zaini
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.695 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.96-115

Abstract

Artikel ini berbicara mengenai dunia pendidikan khususnya pesantren dalam bingkai teori sistem. Melihat dunia pendidikan sebagai satu struktur masyarakat, tulisan ini bertujuan membaca aktifitas manusia sebagai rangkaian fungsi-fungsi yang berperan dan bernilai. Dalam perspektif teori sistem pesantren merupakan satu contoh sebuah sistem terbuka. Artinya segala aspek yang berhubungan dengan proses pendidikan di dalamnya, secara terus menerus telah memicu pertukaran informasi. Ia juga terbentuk karena adanya komitmen; consensus; solidaritas; kerja sama; selain itu sistem sosial cenderung untuk bertahan dan berintegrasi. Oleh karena itu, dalam sistem sosial selalu dibutuhkan adanya otoritas dan legitimasi. Sehingga dunia pendidikan dapat dikatakan telah melakukan proses asimilasi bahkan Islamisasi sumber daya dari dan untuk lingkungan. Proses ini berlangsung secara kontinyu dan berulang-ulang.
Telaah Komparasi Sunni-Shī’ah atas Hadith Imamah dari Quraysh Mochamad Taukit
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.325 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.116-127

Abstract

Tarik ulur sunni-shī’ah seakan tidak pernah ada habisnya, terutama masalah imamah. Shī’ah tidak segan mengklaim bahwa sebagai penerus para Nabi, Imam haruslah memiliki kelebihan; yaitu derajat ketuhanan seperti kenabian yang dipilih langsung oleh Tuhan. Sebaliknya Sunni secara prinsipil memandang berbeda. Perbedaan keduanya memuncak manakala shī’ah menggunakan hadith dalam kitab hadith otoritatif milik sunni, yaitu shahih Bukhari dan Muslim. Dari penelitian tampak jelas, bahwa tidak didapati bukti yang menunjukkan bahwa dalam shahih Muslim terdapat penyebutan ke-12 nama imam yang diyakini mereka. Para ulama’ terlihat cenderung menilai bahwa keadaan umat akan bersatu-padu mendukung khalifah mereka, seakan-akan ditutup-tutupi guna menjastifikasi dakwaan Shī’ah isna ‘asyariyah atas imam-imam mereka. Karena, keadaan umat dalam sejarah Shī’ah tidak didapati berada dalam satu pandangan, bahkan cenderung berselisih satu sama lain.
Menimbang Sejarah sebagai Landasan Kajian Ilmiah; Sebuah Wacana Pemikiran dalam Metode Ilmiah Fatchor Rahman
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.566 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.128-150

Abstract

Sepertihalnya puzzle yang berserakan, sejarah perlu dikodifikasi dalam sebuah bingkai ilmiah supaya dapat menyumbangkankan informasi bagi generasi masa depan. Artikel ini hadir untuk menjawab permasalahan tersebut. Sejarah tidak mungkin bisa terlepas dari aspek masyarakat, asumsi yang berkembang, difinisi yang dipahami, fakta, kebudayaan, bahasa dan pelbagai hal lainnya. Oleh karena itu, ia harus disusun dalam satu bangunan yang memuat segala macam ilmu, mulai dari bahasa, philology, dokumen, ekonomi, kebudayaan bahkan dunia perpolitikan. Sehingga, sejarah sebagai suatu disiplin keilmuan telah melahirkan pelbagai macam disiplin lain yang diturunkan darinya, tentunya dengan fokus yang bermacam-macam, meskipun tetap dalam satu payung besar yang bernama perubahan era. Dalam prosesnya, sejarah tidak dapat terlepas dari elemen-elemen seperti; pandangan hidup, kepercayaan, bias personal, kejujuran, keterpihakan dan prasangka kelompok. Namun jika hal ini dapat dilalui maka bukan tidak mungkin ia akan mampu mencapai tujuan sebenarnya dari belajar dari masa lalu.
Pembaruan Pendidikan Agama Islam di Madrasah Toha Machsun
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.332 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.151-165

Abstract

Pendidikan Agama Islam di madrasah hingga kini masih cenderung dinomorduakan oleh Muslim di Indonesia. Implikasi wacana tersebut berdampak pada pengembangan sumber daya manusia yang belum efektif dan efesien, sehingga Pendidikan Agama Islam di dalamnya tidak berkembang secara profesional. Akan tetapi, secara institusi, madrasah tetap optimistis dalam memberikan terobosan baru untuk merumuskan nalar kritisisme pendidikan agama Islam, baik visi-misi, materi kurikulum, metode dan sarana-prasarana pendidikan, sehingga Pendidikan Agama Islam tetap eksis di hadapan masyarakat dengan cara menguasai kualitas pendidikan dan memperbarui sistem pendidikan secara menyeluruh.
Pendidikan Kebahasaan dalam Penafsiran al-Qur`an Model al-Farā’ Moch. Kalam Mollah
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2017): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.712 KB) | DOI: 10.54180/elbanat.2017.7.1.166-181

Abstract

Konsentrasi prioritas pada aspek gramatikal dalam memahami ayat al-Qur`an tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab pemahaman al-Qur`an, melalui interpretasi, mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju-mundurnya umat. Karenanya, al-Farrā` seorang tokoh dengan kekhasan intelektual kebahasaan mencoba menggeluti bidang kajian tersebut. Ia mencoba mengekstrak pesan yang terkandung dalam ayat-ayat itu secara holistik, melalui pintu paling dasar, yaitu bahasa. Metode yang al-Farrā` kenalkan tampaknya berusaha memadukan beberapa aspek penafsiran bi al-ma’thūr dengan bi al-ra`yi. Ini dapat dilihat dalam kitabnya ma‘ānīy al-Qur`ān. Dalam kitab tersebut, setidaknya ada beberapa karakteristik penting yang mewarnai model penafsiran yang ia ajukan, di antaranya: adanya integrasi berbagai keilmuan dalam membaca suatu ayat; perkataan orang Arab, dalam bentuk prosa maupun syair memiliki peran penting sebagai rujukan dalam menjelaskan lafal ayat; serta penghormatan atas otoritas keilmuan para pendahulu.

Page 3 of 15 | Total Record : 142